[EXOFFI FREELANCE] Secret Wife (Chapter 4)

poster-secret-wife

 

Tittle                  : SECRET WIFE

Author              : Dwi Lestari

Genre                : Romance, Friendship, Marriage Life

Length              : Chaptered

Rating               : PG 17+

Main Cast :
Park Chan Yeol (Chanyeol), Kim Jung Hae (Junghae)

Support Cast :

Kim Jung Ra (Jungra), Oh Se Hun (Mickle Oh/Sehun), Kim Jong In (Kai), Kim Jong Dae (Chen), Cho Young Rin (Youngrin), and other cast. Cast dapat bertambah atau menghilang seiring berjalannya cerita.

 

Summary:

Junghae adalah putri terakhir dari pemilik Jeguk Group. Karena dijebak oleh seseorang, terpaksa dia harus menikah secara diam-diam dengan sesorang yang baru dikenalnya.

 

Disclaimer                    : Cerita ini murni buatan saya, jika ada kesamaan nama, tokoh, dan lainnya itu adalah unsur ketidak sengajaan.

Author’s note               : Mian jika alurnya gj. No kopas, no plagiat. Jangan lupa komennya. Gomawoyo. Sorry for Typo. Happy reading.

 

 

 

 

Chapter 4 (Meet Again)

 

 

 

Long time no see, Jungra”.

Namja itu tersenyum. Senyum khas yang sudah tak dilihat selama tiga tahun ini oleh Jungra. Dia bahkan masih tak percaya jika kini Sehun berada di hadapannya.

“Hei, apa aku terlihat begitu tampan sampai kau tak berkedip melihatku”.

Suara Sehun menyadarkan Jungra. “PD sekali”, jawab Jungra singkat. Dia ingin sekali memukul Sehun sekeras-kerasnya, namun niatnya ia urungkan hingga menjadi pukulan kecil dibahunya. “Kemana saja kau selama ini?”, Jungra akhirnya bertanya pada Sehun.

Well, seharusnya kau sudah tahu dari Alice”, Sehun melirik ke arah Junghae.

“Alice!”, Jungra mengulang nama yang disebutkan Sehun.

Yes, Alice. Your small sister”.

“Berhenti memanggilku dengan nama itu, aku tidak suka”, Junghae menyela pembicaraan mereka.

“Tapi aku menyukainya, Alice”, Sehun tetap bersikeras dengan pendapatnya.

Up to you. Percuma saja membantahmu, dasar keras kepala”, Junghae menyerah pada akhirnya. Dia sangat tahu bagaimana sifat keras kepalanya seorang Oh Sehun.

Sementara nyonya Kim yang melihat tingkah mereka tertawa, “Sudah, sudah. Kalian kenapa jadi ribut sendiri”, kata nyonya Kim.

“Owh, hello Kim ahjumma. Ahjumma semakin cantik saja. Bagaimana kabar anda?”, tanya Sehun dengan nada sedikit merayu. Entah sejak kapan dia jadi tertular sifat Baekhyun.

Nyonya Kim tersenyum saat Sehun mengatakan jika dia semakin cantik. “Aku baik-baik saja. Kau sendiri?”, nyonya Kim kembali bertanya.

“Aku juga baik. Karena Alice selalu menyemangatiku selama aku di Amerika”.

“Jadi selama ini kau menyusul ayahmu ke Amerika?”.

“Iya ahjumma. Ini karena putri anda yang satu ini begitu marah padaku saat itu”, Sehun mencubit kedia pipi Jungra.

“Hei lepaskan!”, Jungra protes dengan tingkah Sehun. Dia berusaha melepaskan tangan Sehun dari pipinya.

Sehun akhirnya melepaskan tangannya, “Kau masih marah padaku?”, Sehun kembali memberi pertanyaan pada Jungra.

Jungra menggeleng. Betapa leganya Sehun melihatnya, beban berat yang selama tiga tahun ia pendam akhirnya terlepas. Junghae juga ikut tersenyum melihatnya. “Thank you very very much. Kau terlihat semakin cantik saja”, Sehun kembali mencubit pipi Jungra. Namun sebelum Jungra protes dia sudah melepaskannya.

“Sejak kapan kau tertular sifat Baekhyun”, Jungra merasakannya, sifat perayu yang dimiliki Baekhyun kini menular pada Sehun.

“Hei, apa kalian sedang membicarakanku?”, terdengar suara dari arah lain. Mereka segera menoleh ke sumber suara yang sebenarnya sudah mereka ketahui siapa pemiliknya. Dan benar saja, Baekhyun datang dan bergabung dengan mereka. Dia bahkan disambut pelukan hangat dari Sehun.

Hello, Baekhyun hyung. Lama tak bertemu, bagaimana kabarmu?”, kata Sehun.

Baekhyun membalas pelukan Sehun. “Aku selalu baik, seperti yang kau lihat. Kau sendiri, bagaimana kabarmu?”, jawab Baekhyun. Dia melepaskan pelukan Sehun.

“Aku juga baik selama sepupumu yang satu ini bersamaku. Tapi kau tahu sendirikan, sekarang dia kembali ke Korea dan meninggalkanku sendirian di sana”, Sehun berkata dengan mengedipkan sebelah matanya pada Junghae. Junghae yang paham ucapan Sehun hanya memutar bola matanya tak percaya. Oh Sehun benar-benar tertular sifat Baekhyun.

Baekhyun tersenyum, dia paham siapa yang dimaksud oleh Sehun. “Apa kalian benar-benar berkencan?”, Baekhyun memberi pertanyaan yang mengejutkan mereka semua.

Malgo andwe”, jawab Jungra asal. Namun mereka berdua hanya diam dan saling memandang. Begitu juga dengan Jungra, dia melihat Sehun dan Junghae terdiam hingga membuatnya curiga jika yang dikatakan Baekhyun itu benar.

Junghae melihat ekspresi wajah Jungra yang seolah mempercayai perkataan Baekhyun. Dia lalu menjelaskannya, “Hei, kau percaya dengan ucapan Baekhyun oppa, eonni? Mereka itu sama saja, suka membual”.

“Kalian memang terlihat cocok saat bersama”, kata nyonya Park. Entah sejak kapan dia dan juga putranya sudah berada disekitar mereka. Dan itu membuat mereka semua menoleh ke arah nyonya Park.

Omonim”, Sehun segera menghampiri nyonya Park, bahkan kini dia memeluknya dengan erat karena dia tak bertemu selama tiga tahun. Ya, Sehun adalah keponakan nyonya Park, karena ayahnya merupakan adik kandung dari nyonya Park. Sehun dirawat oleh nyonya Park setelah ibunya meninggal dunia pasca melahirkannya. Sehun sudah menganggap nyonya Park sebagai ibunya.

“Ini tempat pesta Sehun. Berhentilah bertindak seperti anak kecil”, protes nyonya Park. Dia berusaha melepaskan pelukan Sehun. Namun nihil, Sehun justru mengeratkan pelukannya.

“Ini karena aku merindukanmu omonim”, bantah Sehun.

“Salahmu sendiri tak pernah mengunjungiku”, nyonya Park hanya bisa pasrah dengan kelakuan keponakannya yang tak lain sudah ia anggap sebagai putranya.

Hyung bilang jika omonim sakit, benarkah?”, Sehun melepas pelukannya dan menatap lekat wajah bibinya.

“Sekarang sudah lebih baik”, sahut Chanyeol yang ada disebelah nyonya Park. Sehun otomatis menoleh ke arah Chanyeol. Dia tak menyadari jika sedari tadi sepupunya itu sudah berdiri disamping bibinya. “Dan bagaimana mungkin kau kembali ke Korea tanpa mengunjungi eomma terlebih dulu”, lanjut Chanyeol.

“Karena aku begitu bahagia saat Alice bilang jika Jungra sudah memaafkanku”, jawab Sehun.

“Jadi kau kembali ke Korea hanya karena Ra-ya”, Chanyeol kembali bertanya.

“Tentu saja tidak hyung. Ini juga karena aku merindukanmu, hyung”, Sehun kini beralih memeluk sepupunya yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri.

Cukup lama mereka saling bertukar kabar dan saling bergurau layaknya keluarga, hingga tiba saatnya untuk upacara pernikahan Jongdae. Upacara berlangsung khidmat. Suara tepuk tangan dari tamu undangan juga terdengar setelah pengantin pria mencium istrinya. Semua merasa bahagia dengan bersatunya keluarga Kim dan keluarga Lee.

 

***

 

Sebuah mobil Ferrari hitam berhenti tepat di halaman rumah bergaya tradisional modern. Seorang namja keluar dari mobil dengan mengenakan setelan jas berwarna abu-abu yang tampak pas di badannya. Dengan meneteng tas kerjanya dia berjalan memasuki rumahnya. jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Namja itu berhenti di depan pintu karena terheran mengapa lampu rumahnya sudah menyala. Seingatnya tak ada satu orangpun di rumahnya. Apa mungkin itu ahjumma yang ia sewa untuk membersihkan rumahnya? Tidak, ahjumma itu bahkan baru kemarin datang ke rumahnya. Ahjumma itu hanya akan datang 3 hari sekali. Lalu siapa? Namja itu terus bertanya dalam hatinya. Mungkinkah eomma? Tidak, dia tak akan repot-repot datang kemari. Apa mungkin pencuri? Itu adalah pemikiran terakhir namja tersebut.

Setelah menekan kombinasi password pintu rumahnya, dia membuka pintu dan memasukinya. Dengan langkah hati-hati dia berjalan mencari siapa gerangan yang telah memasuki rumahnya. Bau harum dari masakanlah yang dia cium pertama saat memasuki rumahnya. Siapa yang tengah memasak, pikirnya. Segera saja dia memasuki dapur. Namja itu berhenti tepat di depan pintu dapur. Dia melihat seorang namja tengah memotong sayur dan seorang yeoja yang sedang menggoreng sesuatu. Dia tersenyum saat mengenali kedua orang itu. “Apa yang sedang kalian lakukan?”, tanya namja itu sambil berjalan ke arah mereka.

Namja yang tengah sibuk memotong kentang itu menoleh, dia tersenyum pada namja yang tengah bicara padanya. “Hyung wasseo?”, kata namja yang memotong kentang tadi. Yeoja itu juga menoleh, “Oppa wasseoyo?”, kata yeoja itu.

“Bagaimana bisa kalian masuk rumahku? Aku pikir tadi ada pencuri”, namja itu memilih duduk di kursi.

“Aku hanya ingin memberi kejutan untukmu, hyung. Sayangnya kau sudah pulang. Dan lagi kau tak mengubah sandi rumahmu, jadi dengan mudahnya kami bisa masuk”, jawab namja yang telah selesai memotong kentangnya. “Mandilah! Makanannya akan siap sebentar lagi”, lanjut namja itu.

Arraseo”, namja itu segera meninggalkan dapur dan beralih menuju kamarnya.

Namja yang tadi memotong kentang beralih mendekati yeoja yang tengah sibuk memasak. Namja itu juga memberikan kentangnya pada sang yeoja. Yeoja itu segera memasukkan kentangnya ke panci yang ada di depannya. Namja tadi beralih menata peralatan makan di meja. Mereka terlihat sangat kompak mempersiapkan makan malam.

Cha, selesai”, kata yeoja itu sambil mematikan api kompornya. Dia segera mengangkat pancinya dan meletakkannya di meja yang sudah penuh dengan masakan lain yang telah dia buat.

“Kelihatannya lezat”, kata namja yang membantu yeoja itu.

“Entahlah, aku hanya mencoba resep baru yang Wendy berikan padaku”, kata yeoja itu.

“Wendy?”, tanya namja itu memastikan. Yeoja itupun mengangguk.

“Siapa dia?”.

“Temanku dari kelas memasak”.

“Apa dia cantik?”.

Molla”.

Yak, Alice”, namja itu sedikit kesal dengan yeoja yang tadi dipanggil Alice olehnya.

“Cantik itu relatif oppa. Tergantung siapa yang menilainya. Dan berhentilah memangilku dengan nama itu. Aku tidak suka”,

“Lalu bagaimana pendapatmu tentangnya? Dan aku sangat suka memanggilmu dengan nama itu”.

“Tapi aku tidak suka Sehun oppa. Dan untuk apa kau bertanya tentangnya? Apa kau mau mencari kekasih baru?”, tanya yeoja itu menyelidik. Dia heran sejak kapa namja yang dipanggil Sehun itu tertarik dengan temannya. Pasalnya namja itu selalu cuek dengan teman-temannya. Tapi setelah dia meninggalkan namja itu pulang ke Korea, namja itu berubah.

“Mungkin sudah saatnya aku mencari kekasih sungguhan, Alice”.

“Kekasih sungguhan! Jadi selama ini kau memiliki kekasih pura-pura?”. Terdengar suara dari arah lain yang tak lain milik namja yang dipanggil hyung oleh Sehun. Namja itu sudah terlihat segar dengan balutan kaos pendek dan celana jeans hitamnya.

“Ya, bisa dibilang seperti itu hyung”, jawab Sehun dengan entengnya.

“Lalu siapa kekasih pura-puramu itu?”, namja itu berjalan mendekat ke arah Sehun dan duduk di sebelahnya.

“Alice”.

“Alice?”, namja itu sedikit asing dengan nama itu. “Junghae maksudmu?”, itu adalah nama yang terlintas difikirannya.

Sehun mengangguk setuju. Namun namja itu justru menggerutkan alisnya sebagai respon. Dia sedikit terkejut mendengarnya. Istrinya memiliki seorang kekasih? Kenapa dia tak pernah berfikir sampai sejauh itu. Dan hal yang paling ia takutkan jika ternyata kekasih istrinya adalah sepupunya yang tak lain sudah ia anggap sebagai adik kandungnya.

“Hanya pura-pura Chanyeol hyung”, kata Sehun kemudian. Namja itu sedikit lega mendengarnya. Setidaknya apa yang dia takutkan tak terjadi, meski pada akhirnya dia tetap tak tahu apakah istrinya memiliki kekasih atau tidak.

“Makanan sudah siap”, kata gadis yang dipanggil Alice oleh Sehun dan dipanggil Junghae oleh Chanyeol. Dan hal itu membuat Chanyeol segera menggambil tempat duduk di sebelah Sehun. Merekapun menikmati makanannya.

 

***

 

“Kau benar-benar akan kembali ke Amerika?”, kata Chanyeol yang berdiri di ambang pintu kamar Sehun. Ya, Sehun memilih tinggal di rumah Chanyeol selama dia berada di Korea. Sehun yang tengah sibuk membereskan pakainnya ke dalam koper akhirnya menoleh ke sumber suara.

“Tentu saja. Ini sudah seminggu sejak aku kembali ke sini, pekerjaanku pasti sudah menumpuk hyung”, kata Sehun.

Chanyeol hanya mengangguk paham mendengar penuturan Sehun. “Jangan lupa memberitahu eomma”.

“Tentu saja. Kau mau mengantarku?”, tawar Sehun.

Mianhae, aku tak bisa. Aku harus berangkat ke Busan”.

Arra, arra. Hyungku yang satu ini memang super sibuk”, Sehun berkata sambil mengagguk-anggukan kepalanya. Dia kembali memasukan pakaiannya ke dalam koper. Chanyeol memilih pergi, namun belum sampai tiga langkah dia harus berhenti mendengar perkataan Sehun.

“Kau baik-baik saja hyung?”, tanya Sehun. Dia kini sudah selesai membereskan semua pakaiannya, dan berjalan mendekati Chanyeol.

“Kenapa kau bertanya seperti itu?”, tanya Chanyeol heran. Dia tidak mengerti dengan pertanyaan Sehun.

“Baekhyun hyung sudah menceritakan semuanya padaku”.

“Memangnya apa yang diceritakannya?”, Chanyeol kembali bertanya.

“Hubunganmu yang tak direstui oleh ommonim”, jawab Sehun langsung pada intinya. Chanyeol memilih diam, dia tak berniat menjawab. “Kenapa kau tak menikah diam-diam saja dengannya, dan bagaimana mungkin kau malah memilih putus dengannya?”, kata Sehun sedikit geram. Dia tak mengerti dengan jalan pikiran sepupunya yang sudah ia anggap sebagai kakak kandungnya.

Chanyeol menggela nafas pasrah. “Itu tak semudah yang kau bayangkan Sehun”, Chanyeol kembali menghela nafas. “Kau tahu betapa terlukanya aku saat melihatnya terbaring lemas di rumah sakit. Aku bahkan tak bisa membayangkan seandainya dia benar-benar meninggalkanku”, Chanyeol diam sesaat. “Aku bahkan belum memberi kebahagiaan untuknya”, lanjut Chanyeol.

Sebuah senyum tulus tercetak di wajah tampan Sehun. Dia tak menyangka betapa tegarnya, kakaknya itu. “Kau membuatku kagum hyung”, kata Sehun sambil menepuk-nepuk punggung Chanyeol.

“Aku mengatakan itu bukan untuk membuatmu kagum”, kata Chanyeol. “Dan bagaimana mungkin kau memberiku saran sama seperti Baekhyun. Menikah diam-diam. Apa kau pikir itu menyenangkan?”, lanjut Chanyeol dengan nada sedikit kesal.

“Entahlah! Aku belum pernah melakukannya jadi mana mungkin aku tahu itu menyenangkan atau tidak”, jawab Sehun dengan polosnya.

‘Itu tak menyenangkan Sehun, karena itulah yang aku alami sekarang’, Chanyeol hanya bisa berkata dalam hatinya. Dan itu membuatnya terlihat diam dimata Sehun.

“Apa mau aku kenalkan dengan teman-temanku?”, Sehun berkata dengan nada jahilnya.

“Aku bukan Baekhyun yang mudah jatuh cinta pada gadis yang baru sekali bertemu”, Chanyeol melangkah pergi meninggalkan Sehun.

“Atau kau bisa meminta tolong Alice untuk memperkenalkan temannya. Teman-temannya banyak yang cantik”, kata Sehun lagi.

Chanyeol menghentikan langkahnya, “Akan ku pikirkan nanti. Aku pergi dulu, aku sudah terlambat”, kata Chanyeol. Dia kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.

“Hati-hati di jalan, hyung” teriak Sehun, karena Chanyeol telah menuruni anak tangga. “Eoh”, jawab Chanyeol singkat.

“Aku sudah menikah Sehun, jadi untuk apa aku meminta kenalan seorang gadis”, kata Chanyeol yang kini sudah sampai di depan rumah. Dan tentu itu tak dia dengar oleh Sehun

 

***

 

Chanyeol kini tengah berdiri di depan area pemakaman tempat abu ayahnya disimpan. Entah apa yang membuatnya ingin sekali mengunjungi ayahnya. Dia menggela nafas sejenak sebelum memasuki area pemakaman itu. Dia juga membawa sebuket bunga mawar putih, bunga yang sangat disukai ayahnya. Dengan langkah sedang dia berjalan menuju tempat ayahnya. Dia menghentikan langkahnya bahkan sebelum benar-benar sampai di tempat abu ayahnya.

Seorang gadis dengan balutan kemeja polos berwarna biru tua yang dimasukan ke dalam rok selutut berwarna hitam tengah berdiri di depan tempat abu ayahnya diletakkan. Gadis itu tampak anggun dengan rambut sebahu yang dibiarkan terurai. Gadis itu tak menyadari kehadiran Chanyeol yang kini telah mematung di belakangnya.

Ya, Chanyeol sangat mengenali siapa gadis yang tengah berdiri di hadapannya, bahkan hanya dengan melihat postur tubuh gadis itu. Apalagi dia dapat mencium parfume khas milik gadis itu. Gadis yang sudah memarnai hidupnya selama tiga tahun terakhir. Gadis yang sudah mengajarkannya apa arti cinta yang sesungguhnya. Namun hubungannya harus berakhir karena tak dapat restu dari ibunya.

Chanyeol hanya bisa menggenggam kuat buket bunga yang ia bawa. Ingin sekali rasanya ia memeluk gadis itu, menyalurkan semua rasa rindunya. Namun apa dikata, takdir berkata lain. Dia hanya dapat memejamkan matanya menahan semua rasa rindu yang tengah menimpanya. Dia membuang nafas pasrah. Dia bahkan tak bergerak sedikitpun dari tempatnya berdiri. Dan yang dapat dilakukannya sekarang hanya mengamati setiap gerak gadis itu.

Tak lama setelahnya gadis itu menoleh. Gadis itu sempat kaget melihat kehadiran Chanyeol. Sebuah senyum tulus menghiasi wajah gadis itu. “Lama tak bertemu Park Chanyeol”, kata gadis itu. Dia memilih hanya memanggil namanya, ingin sekali gadis itu memanggil panggilan sayangnya. Namun harus ia tahan, mengingat namja itu bukanlah miliknya lagi.

Chanyeol kini tengah duduk di sebuah cafe. Ya, dia memutuskan mengajak gadis itu berbicara, setelah mengunjungi ayahnya. Gadis itu duduk berhadapan dengannya. Suana canggung menyelimuti mereka. Ini kali pertamanya mereka bertemu kembali setelah memilih mengakhiri hubungannya. Seorang pelayan datang membawa pesanan mereka. Pelayan itu meletakkan dua buah cangkir dihadapan mereka. Setelahnya pelayan itu meninggalkan mereka.

“Bagaimana kabarmu Youngrin?”, tanya Chanyeol membuka pembicaraan, setelahnya ia meneguk latte pesanannya. Dia kembali meletakkan cangkirnya di meja.

“Tidak sebaik saat bersamamu”, gadis itu berkata cukup lirih, namun masih dapat didengar oleh Chanyeol. Chanyeol juga merasakan hal yang sama seperti gadis itu. Mereka kembali terdiam, tak ada yang memeulai pembicaraan lagi. Mereka seperti sibuk dengan pikiran masing-masing. Dan yang mereka lakukan hanya saling memandang seolah mereka berbicara lewat pandangan itu sambil menikmati secangkir minuman yang mereka pesan.

Chanyeol berdiri setelah menaruh cangkirnya di atas meja. “Ayo kita pergi?”, ajak Chanyeol pada gadis itu.

“Kemana?”, tanya gadis itu penasaran.

“Kau akan tahu nanti”, jawab Chanyeol. Gadis itu segera bangkit dari duduknya, dan mengikuti kemanapun Chanyeol membawanya.

 

***

 

Matahari telah menghilang di ufuk barat. Langit yang semula berwarna jingga kini telah berubah menjadi gelap. Angin berhembus cukup kencang malam itu. Ini sudah memasuki bulan akhir musim gugur. Gadis itu merapatkan mantelnya karena merasa udara disekitarnya sudah mulai dingin. Entah sudah berapa lama dia menunggu di depan sebuah rumah bergaya tradisional modern. Dia tahu jika pemilik rumah belum datang. Dia berkali-kali menghubungi seseorang, namun tak berhasil. Dia sudah merasa pegal karena telah berdiri cukup lama. Ditambah lagi dia membawa dua kantung plastik di tangan kirinya.

“Kemana namja itu pergi? Dia menyuruhku datang kesini, tapi dimana dia sekarang? Apa dia mengerjaiku?”, keluh gadis itu. Dia kembali menghubungi orang yang dia maksud, “Oppa ayo angkat?”, namun tetap tak berhasil. Tak lama setelah itu sebuah mobil Ferrari hitam memasuki halaman rumah tersebut. Dan saat itulah ponsel gadis itu berdering. Dia segera menganggkat panggilan tersebut.

Oppa, kau ada dimana? Kau tahu sudah berapa lama aku menunggu?”, protes gadis itu pada si penelfon.

“Maaf sudah membuatmu menunggu. Apa hyung sudah pulang?”, tanya si penelfon. Dari arah lain datanglah seorang namja yang tadi mengendarai mobil tersebut.

“Emmh, dia baru saja sampai”, jawab sang gadis.

“Sebenarnya aku sudah di Amerika sekarang”.

Mwo?”, kata gadis itu kaget. “Lalu untuk apa kau menyuruhku datang kemari?”, gadis itu kembali protes.

“Kurasa hyungku sedang dalam suasana hati yang kurang baik. Kau tahu kenapa omonim masuk rumah sakit belum lama ini?”.

“Kenapa memangnya?”.

“Hyung berniat menikahi kekasihnya. Namun omonim tak menyukai gadis itu. Omonim terkena serangan jantung saat hyung bersi keras dengan keputusannya. Jadi aku memitamu untuk menemaninya minum malam ini. Kau juga bisa memperkenalkan salah satu temanmu padanya. Jebal!”.

Arra, arra. Tapi ingat kau harus membayar untuk ini”.

“Apapun yang kau minta Alice”.

Really! Baiklah akan kukatakan nanti”.

“Akan ku tunggu. Bye”.

“Emmh”, gadis itu menutup sambungan telfonnya.

Namja itu kini telah sampai di depan gadia itu. “Junghae? Kau sudah lama?”, tanya namja itu.

“Belum, baru sekitar 10 menit”, kata gadis itu. Bohong, itulah yang dia lakukannya. Dia tak ingin membuat namja yang ada dihadapannya khawatir.

“Apa yang kau bawa itu?”, tanya namja itu lagi.

“Ayam dan soju”, jawab gadis itu sambil mengangkat kantong plastik yang dibawanya.

“Masuklah!”. Namja itu menekan kombinasi password rumahnya. Dia membuka pintu dan  menyuruh gadis itu masuk. Gadis itu mengikuti sang namja memasuki rumah.

“Duduklah dulu, aku akan ke kamar sebentar”, kata sang namja.

Ne”. Gadis itu memilih menuju dapur untuk mengambil gelas. Dia sudah tak asing lagi dengan rumah tersebut karena sebelumnya dia pernah mengunjungi rumah tersebut. Tak lama setelahnya namja itu datang dan bergabung dengannya.

“Sebenarnya ada apa sampai kau repot membawa soju dan ayam?”, tanya namja itu.

“Aku akan menemanimu minum oppa”. Gadis itu segera menuangka soju pada gelas yang diambilnya tadi. Dan memberikannya pada namja tersebut.

Gomapta”, namja itu segerea menghabiskannya hanya dengan sekali teguk. Namja itu meletakkan kembali gelasnya di meja. Gadis itu segera menuang kembali sojunya. Namja itu kembali meneguk sojunya. Gadis itu hanya tersenyum menatap namja yang ada di depannya.

“Kau tidak minum?”, tanya namja itu karena dia hanya melihat gadis itu menuangkan soju untuknya.

“Sebenarnya aku belum pernah minum soju”, kata gadis itu dengan polosnya.

Ne”, kata namja itu kaget. Dia bahkan tak jadi meminum sojunya mendengar pernyataan lucu gadis itu. “Jeongmalyo?”, tanya memastikan.

“Ya, begitulah!”.

“Ah, itu karena kau sejak kecil tinggal di Amerika. Cha, cobalah ini”, namja itu memberikan segelas soju pada gadis itu.

Gomapta, Chanyeol oppa”.

Mereka menikmati kebersamaannya. Minum soju dan juga makan ayam. Entah sudah berapa botol yang mereka habiskan. Namja yang dipanggil Chanyeol oleh gadis itu sudah terlihat sangat mabuk. Namun berbeda dengan gadis itu, dia masih belum mabuk sepenuhnya. Dia merebut gelas terakhir dari Chanyeol.

“Cukup oppa, kau sudah mabuk”, kata gadis itu.

“Tapi aku masih ingin minum Junghae”.

“Sojunya sudah habis”.

Chanyeol akan ambruk ke lantai jika Junghae tak menangkapnya. Junghae segera membawa Chanyeol ke kamarnya. Dia cukup kesulitan menggingat tubuhnya lebih kecil dibanding Chanyeol. Dengan hati-hati dia membaringkan Chanyeol ke tempat tidurnya. Setelah membenarkan posisi tubuh Chanyeol, Junghae menutupnya dengan selimut. Dia memperhatikan wajah damai Chanyeol saat tertidur.

Jaljayo oppa”.

Saat akan pergi, Chanyeol menarik lengan kanan Junghae. Dan itu berhasil menghentikan langkah Junghae. Dia segera berbalik. Dia mendengar Chanyeol menggumamkan sesuatu, namun masih dengan mata yang tertutup.

“Youngrin-ah. Mianhae, aku tak bisa menepati janjiku”.

“Jadi dia bernama Youngrin?” tanya Junghae, meski dia tahu Chanyeol tak akan mendengarnya. “Tapi aku buka Youngrin oppa. Aku Junghae. Kim Junghae”. Junghae berusaha melepaskan genggaman Chanyeol, namun tak berhasil. Justru Chanyeol semakin menariknya hingga dia jatuh tepat di atas tubuh Chanyeol. Dan bahkan bibir mereka bertemu. Entah apa yang terjadi setelahnya, hanya mereka dan Tuhanlah yang tahu.

 

***

 

Sinar matahari masuk melalui celah gorden yang setengah terbuka. Dan itu membuat Chanyeol harus menutup wajahnya karena menyilaukan matanya. Dia berusaha menyesuikan cahaya di sekitarnya. Dia juga menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengusir rasa pusing akibat mabuk semalam. “Ini pasti karena aku terlalu banyak minum soju semalam. Dimana aku sekarang?”, tanya entah pada siapa. Dia mengedarkan pandangan kesekelilingnya. Dia bernafas lega karena mengenali tempat yang ia tempati sekarang. Ya, dia berada di kamarnya sendiri.

“Aku bersama Junghae semalam. Apa dia sudah pulang?”, dia kembali bertanya entah pada siapa. Dia kembali menggeleng-gelengkan kepala yang masih sedikit pusing. “Pasti dia sudah pulang”, pikirnya. Dia segera beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi.

Selama sekitar 15 menit Chanyeol keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk kimono untuk menutupi tubuhnya. Dia juga memakai handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya. Dia melihat tempat tidurnya begitu berantakan. Segera saja dia membersihkannya. Terdengar suara ponsel berdering, Chanyeol mencari sumber suara yang ternyata ada di bawah bantal ranjangnya. Chanyeol segera menggeser layar berwarna hijau untuk mengangkatnya, tanpa memeriksa siapa yang menghubunginya.

Yak, gadis tengik kau ada dimana?”, terdengar suara dari seberang dengan nada yang sedikit membentak. Chanyeol bahkan menjauhkan ponselnya karena menyakiti telinganya. “Bisakah kau tidak berteriak”, jawab Chanyeol sedikit kesal.

“Kau siapa? Dimana Junghae?”.

‘Junghae?’, pikir Chanyeol. Dia segera memeriksa ponsel tersebut yang ternyata bukan miliknya. Dan tertulis Byun Baekhyun di layar ponsel tersebut. “Dia belum pulang?”, bukannya menjawab Chanyeol justru balik bertanya.

Eoh. Dari semalam dia tidak pulang. Tunggu, sepertinya aku mengenali suaramu”, penelfon itu diam sebentar, mungkin mengingat-ingat siapa pemilik suara yang didengarnya. “Chanyeol, kau Park Chanyeol kan?”, tanyanya kembali.

“Iya, ini aku”, jawab Chanyeol.

“Bagaimana mungkin ponselnya ada padamu? Apa kau bersamanya sekarang?”.

“Tidak. Semalam dia mengunjungiku, dan dia meninggalkan ponselnya”.

“Kemana gadis itu pergi? Ya, sudah aku akan mencarinya”, Baekhyun memutuskan sambungan telfonnya.

“Dia belum pulang? Apa mungkin dia masih disini?”. Chanyeol memutuskan untuk berganti pakaian dan segera mencari keberadaan Junghae. Saat melewati dapur, langkahnya terhenti kala mendengar bunyi orang memasak disana. Dia kemudian masuk, dan benar saja seorang gadis tengah memasak disana. Dengan memakai kemeja kebesaran yang hanya menutupi sebagian pahanya serta lengan kemeja yang dilipat hingga sesiku. Rambut panjangnya di biarkan terurai. Gadis itu tengah sibuk memasukan sesuatu ke dalam panci.

Segera saja Chanyeol mendekati gadis itu. “Junghae”, kata itu yang tiba-tiba keluar dari mulutnya. Gadis itu menoleh dan tersenyum. “Oppa kau sudah bangun?”, jawab gadis itu.

“Sedang apa kau?”, tanya Chanyeol kembali.

“Seperti yang kau lihat oppa, aku sedang memasak. Ah, aku juga membuat sup penghilang mabuk untukmu. Kau terlalu banyak minum soju semalam. Duduklah, sebentar lagi matang”, kata gadis itu. Bukannya duduk Chanyeol justru mendekati Junghae. Dan itu membuat Junghae heran, “Waeyo?”, tanya Junghae.

Chanyeol hanya diam. Dia menyingkirkan rambut sebelah kanan Junghae ke belakang, dia bahkan menarik kerah kemeja Junghae untuk memeriksa leher Junghae. Dia melihat banyak kissmark disana, begitu juga sisi kiri leher Junghae. “Apa aku yang melakukannya?”, tanya Chanyeol kemudian.

Ne~”, kata Junghae sedikit terkejut. “Gwenchanayo”, lanjut Junghae kemudian. Dia segera menutupi lehernya kembali dengan rambutnya. Dia segera berbalik untuk memeriksa supnya.

“Apa aku juga melakukannya?”, Chanyeol kembali bertanya. Junghae memilih diam, dia kembali mengaduk supnya yang mulai mendidih. “Jadi benar aku melakukannya”, Chanyeol membuang nafas beratnya. “Mianhae”, lanjut Chanyeol. Junghae kemudian berbalik, menatap lekat Chanyeol dengan raut wajah yang begitu menyesal, “Tak seharusnya aku mel..”, belum sempat Chanyeol melanjutkan kata-katanya Junghae sudah terlebih dulu mengunci bibir Chanyeol dengan bibirnya. Hanya sekilas namun cukup untuk menghentikan perkataan Chanyeol.

“Kenapa harus minta maaf. Bukankah aku istrimu”, jawab Junghae setelah melepaskan tautan bibir mereka. Chanyeol tersenyum kemudian. Dia menarik pinggang Junghae dan memeluknya. Junghae memebalas pelukan itu dengan menyandarkan kepalanya di dada bidang Chanyeol. Chanyel bahkan mengusap lembut rambut Junghae. “Gomawo”, kata Chanyeol.

Junghae yang kaget mendengarnya melepaskan pelukan Chanyeol. “Untuk apa?”, tanya Junghae. “Untuk semuanya”, kata Chanyeol. Dia kemudian mencium kening Junghae. Junghae hanya bisa memejamkan mata menikmatinya. Chanyeol tersenyum tulus setelahnya.

 

 

*** TBC ***

 

Hello semuanya, Chapter 4 is up. Setelah sekian lama baru dapat mengirim lagi. Maaf karena lama, akhir-akhir ini tugas kuliah sangat menumpuk. Terima kasih untuk yang sudah memberikan like dan komentarnya. Semoga masih suka dengan ff ini. Jangan lupa like dan komennya.

Salam hangat: DWI LESTARI

16 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Secret Wife (Chapter 4)

  1. part yg terakhir bikin greget wehh.. hahaha pertanyaan chanyeol kaya orang yg nggk punya dosa.. udah jelas dia yg buat tanda itu pake nanyak lagi

  2. ahh sweet….
    bentar!! tiap kali junghae ilang kok selalu baekhyun yg nyari dan telfon pagi” …kan junghae punya kakak, 3 lagi..kok ya gk ada yg nyariin..heran aku..
    hahahaha

  3. Woah junghae secepat itu sudah menerima chanyeol suaminya. Hoho sweet dah.
    Ditunggu next chap thor suka deh ama ff ini. Fast update ya. Heheh3

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s