[EXOFFI FREELANCE] Lucky or Not? (Chapter 1)

1477058039291

 

Lucky or Not?

 

Author: Lible Lander

Length: Chapter

Genre: Romance, Horor

Rate: M (for language!)

Cast: Park Chanyeol (EXO)-Jung Hee Suk (OC)

“’Aku sangat membenci keadaanku yang sekarang. Memang, berkat ini aku bisa mengenalmu. Tapi, berkat ini juga aku harus melihat banyak hal yang tidak kusukai. Aku senang tapi aku juga kecewa. Sialan, sekarang apa yang harus kulakukan?!’-Jung Hee Suk.

‘Awalnya, aku hanya ingin membantu karena kita sama. Kau tau betul itu. Tapi, kenapa rasanya aku membelok, ya?’-Park Chanyeol.”

EXO belongs to SM, but this story and OC is MINE!

A/N: Fanfic kedua saya setelah Headphone. Dibuat saat emosi saya naik turun, jadi semoga ceritanya nggak hancur-hancur banget.

Happy reading.

.

.

.

Heesuk mengerutkan alis, lalu membuka kelopak matanya. Cahaya lampu tepat mengenai matanya, membuat gadis itu mengerang pelan dan reflek menyipitkan mata. Heesuk mendudukkan dirinya, mengabaikan rasa nyeri di beberapa bagian tubuhnya.

Apa yang terjadi? Pikirnya heran. Heesuk kembali mengerjap lalu mengedarkan pandangan.

Kenapa aku bisa disini? Pikirnya lagi.

“Ah, kau sudah sadar?”

Heesuk mengalihkan pandangannya ke pintu yang terbuka.

“Ya ampun, harusnya kau belum boleh duduk! Ya sudahlah. Aku akan memeriksa kondisimu, jadi diam dulu, ya?” wanita itu tersenyum, lalu mulai sibuk dengan stetoskop dan senternya. Heesuk terus memperhatikannya.

“Detak jantung normal, tekanan darahnya normal. Apa kau merasa pusing?”

Gadis itu menggeleng. “Syukurlah. Kau masih lemah, jadi tidur yang banyak, ya. Ini makan siangmu. Oh, ya. Jangan lupa minum obatmu setelah makan.”

“Suster?” Heesuk memanggilnya ragu. “Apa yang terjadi?”

“Kau dilarikan kesini dua hari yang lalu. Kau terguling di tangga dan kepalamu berdarah. Beberapa bagian tubuhmu juga memar. Tapi untungnya kau tidak mengalami pendarahan hebat” suster itu tersenyum. “Aku akan menelepon walimu. Permisi.”

Heesuk mengerutkan kening. “Apa aku.. pingsan dua hari?”

Gadis itu mencoba mengingat-ingat kejadian sebelum ia kehilangan kesadaran. Seingatnya, ia berada di kamar mandi untuk mencuci muka. Lalu berpapasan dengan adik kelas dan menyapanya kemudian menuruni tangga. Tak berapa lama, rasanya ada dorongan yang kuat dari belakang tubuhnya hingga pegangannya pada tangga terlepas dan semuanya jadi hitam.

“Ya, tentu saja…” Heesuk mendengus. “Sebenci itukah mereka padaku? Hhhh… ya sudahlah. Toh, aku masih hidup. Terima kasih Tuhan.” Ucap gadis itu lalu menyatukan kedua telapak tangannya dengan mata terpejam.

***

“Kau yakin sudah mau sekolah? Seharusnya kau tidur saja seharian!”

“Tidak apa-apa, bibi” sahut Heesuk sambil memakai sepatunya. “Aku tidak mau di rumah sepanjang hari. Bosan. Aku juga sudah tidak apa-apa.”

“Kau serius? Apa kau yakin?” bibi terus bertanya dengan rasa khawatir. Wanita berusia pertengahan empat puluhan itu meremas celemeknya resah.

“Yakin sekali. Kalau aku merasa sakit, aku janji akan pulang lebih cepat. Aku berangkat!” serunya, lalu menutup pintu.

Bibi memandang kesal pintu didepannya. “Anak itu… Ah, sudahlah.”

Heesuk menyusuri jalanan yang masih lengang. Gadis itu mengeluarkan earphone dan memakainya. Alunan melodi yang mengalun tanpa sadar membuatnya ikut bersenandung. Saat berbelok dari gang, seorang pria tua yang duduk di trotoar mengagetkannya.

Sepertinya aku punya koin.. batinnya, namun terus berjalan sambil merogoh saku roknya. Ia tersenyum saat jarinya menyentuh logam bulat itu. Heesuk berbalik, lalu menghampiri pria tua tadi.

“Paman, aku hanya punya ini. Panjang umur, ya!” katanya sambil memasukkan koin ke dalam botol. Namun, pria tua itu tak bergeming.

“Ehm, paman?” Heesuk mengerutkan alis. “Paman, kau mendengarku?” gadis itu berjongkok, lalu berbisik di telinganya.

Mendadak, pria tua itu memalingkan wajahnya, menampilkan kedua bola matanya yang putih. Jejak darah yang mengering tampak menghiasi sudut bibirnya.

Heesuk memekik, reflek berdiri. Jantungnya berpacu cepat dan kedua tangannya tanpa sadar membungkam mulutnya sendiri.

“Kenapa, nak? Ada yang jatuh, ya?” seseorang menepuk bahunya, membuat Heesuk kembali memekik. “Bi-bibi! Aku.. Baru memberi k-koin, ta-tapi..” telunjuknya terarah ke bawah. Namun betapa kagetnya ia. Pria tua tadi tak ada disana.

“Ada apa? Kau tampak kebingungan. Apa yang terjadi, nak?” wanita paruh baya itu memegang bahunya.

Heesuk yang masih merasa shock tanpa sadar menepis tangan di bahunya. “Tak apa-apa.. a-aku permisi.”

Gadis itu melangkahkan kakinya kembali. Jantungnya masih berpacu cepat.

Apa itu tadi?

***

Heesuk mendorong pintu di depannya dan memasuki kelasnya. Beberapa orang menatapnya, sementara yang lain berbisik-bisik. Gadis itu mengacuhkannya, lalu bertopang dagu dan memalingkan wajah ke jendela.

“Heesuk! Udah sembuh?” panggil seseorang. Heesuk menoleh, lalu mengangguk kecil. “Lumayan.”

“Udah mau mati masih saja sombong” celetuk yang lain. “Hei, Nambong! Apa aku perlu memukul wajah sombongmu itu?!”

Nambong memajukan bibirnya. “Ih.. Kamu nggak boleh bilang gitu, cantik!” lalu mengibaskan tangannya gemulai. Orang-orang mulai tertawa.

Heesuk memandang pemuda itu dengan jijik, lalu kembali memalingkan wajah. Dalam hati ia menerka-nerka, siapa diantara mereka yang mendorongnya tempo hari. Apakah Nambong? Pemuda melambai yang gila perhatian itu? Rasanya tidak. Dia terlalu pengecut.

Lalu siapa?

Heesuk menghela nafas. Ia mengeluarkan buku saat bel berbunyi dan memilih fokus belajar.

Tapi, meski sudah menyibukkan diri dengan soal didepannya, Heesuk masih tidak lepas dari pertanyaannya. Bahkan saat ia berjalan ke perpustakaan, gadis itu masih terus berpikir.

Heesuk mendorong pintu kaca di depannya dan melangkah masuk. Ia memutari lorong berisi rak-rak buku yang menjulang. Lumayan, banyak orang disana hari ini. Gadis itu mengambil sebuah buku dan mengedarkan pandangan.

Sebenarnya ada banyak kursi yang belum ditempati, namun Heesuk memilih untuk memutari lorong dan mencari tempat lain karena tempat tadi kebanyakan diisi oleh teman-teman sekelasnya.

Aku muak. Heesuk mendecih.

Ya, kelasnya memang diisi oleh orang-orang yang seperti tong kosong. Bicara tanpa berpikir dan tertawa seenak jidat. Gadis itu benar-benar muak hingga tak sadar kalau raut wajahnya berubah.

Heesuk menemukan kursi kosong dan langsung mendudukinya. Ia membolak-balik beberapa halaman, namun tetap tak bisa fokus dengan bukunya. Kesal, gadis itu berdiri dan mengambil buku lain. Saat berbalik, seseorang menabraknya.

“Maaf, maaf!” serunya sambil membungkuk. Heesuk mengerjap. Beberapa orang melihat ke arahnya, termasuk gadis didepannya. Ia hanya mengangguk dan berjongkok untuk mengambil bukunya.

Ah, untung tidak ro-

Heesuk terbelalak. Kursi di depannya kosong. Tak ada tanda-tanda diduduki seseorang sebelumnya. Heesuk menelan ludah. Pelan, ia berdiri dan menegakkan tubuhnya.

Astaga.. Gadis itu ada didepannya! Masih memegang buku dan fokus membaca! Heesuk merasa tercekat. Terlebih saat gadis itu merasa Heesuk memandanginya, ia menurunkan bukunya perlahan… menampilkan wajahnya yang seputih kertas dan menyeringai.

Ya Tuhan.. kakinya tidak ada!

Heesuk terpaku pada gadis didepannya. Diantara keramaian orang, sadarkah mereka bahwa ada sesuatu yang ganjil? Mereka berlalu lalang tanpa merasakan apapun. Heesuk tanpa sadar menahan nafasnya, sementara gadis itu masih di posisinya semula. Menyeringai lebar.

“Hei, bisa bicara sebentar?”

Heesuk terperanjat. Ia menoleh, mendapati pemuda bertubuh tinggi tengah berdiri di sebelahnya. Heesuk kembali memalingkan wajah, namun ia tak melihat apa-apa. Gadis itu menghilang.

“A-ah..” Heesuk merasa kehilangan kata-katanya.

“Oke.”

***

“APA?!”

“Tidak usah kaget begitu. Santai saja.”

“Santai katamu?!” Heesuk memandang pemuda didepannya tak percaya. “Aku mendadak bisa melihat mereka dan aku harus santai?! Kau ini punya otak atau tidak, sih?!”

“Wow.. wow.. Tahan, tahan..” Chanyeol itu mengangkat tangannya. “Kau tak perlu takut. Bukankah sudah kubilang kalau kita sama? Perempuan tadi kau juga melihatnya, kan?”

“I-iya, sih..”

“Nah, kalau begitu, mulai sekarang kau harus terbiasa” pemuda itu menyesap kopinya pelan. “Aku hanya ingin membantu.”

“Ta-tapi, masa hanya karena aku terguling dan pingsan dua hari langsung bisa melihat hantu? Apa semua orang yang jatuh dari tangga juga begitu?” Heesuk mencoba membantah.

“Who knows?” Chanyeol mengangkat bahunya. “Tapi kita termasuk beruntung. Tidak semua orang bisa melihat mereka, tau.”

“Hhh… aku bisa gila..” Heesuk memijit keningnya.

Tadi, Chanyeol bilang ingin bicara dengannya sepulang sekolah. Dan disinilah dia, duduk di kedai kopi dan mendengar kenyataan yang bahkan tak pernah terpikir olehnya.

“Tapi, biar bagaimanapun, aku tetap berterima kasih” Heesuk menegakkan tubuhnya. “Tadi pagi aku juga melihat pria tua di gang.”

“Nah!” Chanyeol menjentikkan jarinya. “Kau harus membiasakan diri. Lama-lama, kau pasti tidak akan takut lagi. Kalau sudah tidak takut, aku akan mengajarimu cara menolong mereka.”

“Menolong?”

“Yah.. beberapa diantaranya adalah arwah yang tidak bisa kembali ke nirwana, mirip-mirip hantu gentayangan seperti di film, lah. Kita bisa menolong mereka.”

“Caranya?”

Chanyeol hanya tersenyum. Heesuk memandangnya bingung. Tak berapa lama, ia merasa helaian rambutnya mulai beterbangan.

“Ch-chanyeol?”

“Lihatlah.”

Chanyeol menengadahkan tangannya di atas meja. Di tengah-tengah telapak tangannya, ada sebuah cahaya kuning yang berpendar. Semakin besar cahaya itu, Heesuk merasa angin di sekelilingnya semakin kencang.

“Di mata orang biasa, ini hanya angin” Chanyeol melipat tangannya. “Tapi untuk arwah, ini seperti kesempatan untuk terlahir kembali.”

“Wow..” Heesuk membulatkan mata tak percaya. Berarti kemampuan barunya untuk melihat setan tidak buruk juga.

“Yang penting kau harus terbiasa. Kalau kau ragu,” Chanyeol menyadari tatapan curiga Heesuk, “Kau bisa mengingatku.”

“Mengingatmu?” Heesuk memandangnya heran. Sejurus kemudian ia tersenyum geli.

“Kenapa tersenyum? Kau bisa lihat aku baik-baik saja sampai sekarang, kan? Aku melihat mereka dari aku kecil dan aku masih bernafas dengan baik. Masa kau yang baru satu hari sudah mau mati?”

“Masuk akal” Heesuk mengangguk. “Baiklah. Aku sangat berterima kasih. Rasanya lega, sedikit.”

“Sama-sama. Aku hanya ingin membantu.”

Chanyeol tersenyum, menatap lurus Heesuk didepanya.

***

Keesokan harinya, Heesuk tampak berjalan gontai menuju sekolah. Sesekali, gadis itu menguap lebar. Kantung matanya tercetak dengan jelas.

“Selamat pagi!”

Heesuk merasa tubuhnya terdorong ke depan diikuti beban berat di pundaknya. “Mm.. Pagi..”

“Ada apa? Lesu seka-whoa! Kenapa dengan wajahmu?” Chanyeol menganga.

Gadis itu menatapnya dengan pandangan membunuh. “Aku tidak bisa tidur. Sesuatu bergerak di atasku dan aku berteriak. Bibiku mendobrak pintu dan memutuskan untuk tidur bersamaku. Lalu aku terjaga sampai pagi.”

“Memangnya apa yang kau lihat?”

“Anak kecil” Heesuk mendengus. “Sangat cantik, tapi pisau menancap di dadanya.”

Chanyeol menarik sudut bibirnya. “Menarik. Kalau aku ada disitu, mungkin aku sudah tertawa melihat wajah takutmu dan mengambil gam-AKH!”

“Sialan. Kau pikir ini lucu, hah?!” Heesuk kembali menendang kaki pemuda disampingnya.

Chanyeol berhenti mengaduh. Matanya membulat dan menatap lurus Heesuk. Atau, sesuatu di belakang gadis itu.

“Kenapa, hah? Kau mau minta maaf sekarang?” Chanyeol tak bergeming. Merasa suasana semakin tak mengenakkan, Heesuk menelan ludahnya, lalu berbalik dengan perlahan.

Kosong.

Tak ada apapun.

“Apa yang-” Heesuk kembali berbalik, namun Chanyeol sudah berlari menjauh sambil tertawa keras-keras.

Gadis itu terbelalak. Barusan, dia dikerjai.

“PARK CHANYEOL!!”

Heesuk mengutuk pemuda itu sepanjang hari. Dia tak menemukan pemuda itu dimanapun. Sengaja menghindari amukan mungkin. Bahkan saat jam istirahat seperti ini, Chanyeol sama sekali tak menunjukkan batang hidungnya.

“Jung Hee Suk?”

Heesuk yang merasa namanya dipanggil, menoleh. “Ah, ada apa, pak?”

“Aku baru saja dari gudang megambil bola tapi aku menjatuhkan kuncinya disana. Bisa tolong kau carikan?”

“Tentu saja. Permisi.”

Heesuk berbalik lalu berlari kecil ke arah gudang peralatan. Ia menyalakan lampu, lalu mengernyit. Disini pengap. Debu dimana-mana.

“Pertanyaannya, dimana dia menjatuhkan kuncinya?” Heesuk bertanya pada dirinya sendiri. Ia melihat lubang kunci, namun besi itu tak tergantung disana. Ia menelusuri rak dan lemari, namun nihil.

Saat berbalik, kakinya mengenai sesuatu. Heesuk yang merasa ujung sepatunya agak naik langsung menunduk. Senyumannya mengembang. Ia berjongkok untuk memungut kunci, namun benda itu mendadak tertarik ke bawah keranjang bola. Heesuk mengerjap-ngerjap.

Apa aku salah lihat?

Tak mau ambil pusing, ia segera menunduk lebih dalam dan mengulurkan tangan untuk meraih kunci itu.

Dalam sekejap, Heesuk membeku. Pupilnya mengecil dan nafasnya tertahan.

Seorang wanita, dengan mata merah menyala tengah menatap lurus dirinya.

“Ah..” Heesuk merasa tenggorokannya tercekat. Mau bergerak tapi tubuhnya seperti mati rasa.

Nak… tolong aku…”

“AAAKH!” Heesuk berteriak histeris. Gadis itu cepat-cepat berdiri dan mundur selangkah.

“Tolong… kakiku…”

Makhluk itu merangkak mendekati Heesuk. Ia menyeret tubuhnya yang berlumuran darah dan tanpa kaki.

“Jangan mendekat.. JANGAN MENDEKAT!” jerit Heesuk.

Seringaian lebarnya membuat Heesuk kembali berteriak. Tangannya terulur memegang pergelangan kaki gadis itu.

“LEPAS! LEPAAASS!” Heesuk meronta. Cengkraman di kakinya benar-benar terasa nyata. Heesuk terus meronta, dan saat pegangannya terlepas, ia langsung mundur sejauh mungkin. Tawanya bergema, dan makhluk itu kembali merangkak mendekati Heesuk.

Ia hampir melempar bola di belakangnya saat sebuah telapak tangan mendadak menutupi matanya. Heesuk berteriak keras dan meronta.

“Ssst… Ini aku”

Gadis itu terdiam. Ia kenal suara ini.

“Tidak usah takut. Aku disini” Chanyeol berbisik di telinganya. Heesuk mengangguk pelan.           Tangan kiri Chanyeol yang menutupi matanya menariknya ke belakang, lalu memutar tubuhnya.

“Tetap pejamkan matamu. Semuanya akan baik-baik saja.” Pemuda itu mendekapnya erat saat merasa Heesuk mengangguk.

Rasa aman memenuhi hatinya. Ia mencengkram erat lengan Chanyeol saat merasakan suasana yang semakin sunyi. Untuk beberapa saat mereka tetap diam, hingga gerakan Chanyeol mengagetkannya. Pemuda itu melempar sesuatu diikuti jeritan yang melengking.

Heesuk memejamkan matanya erat. Suara wanita itu begitu memilukan namun mengerikan di saat yang bersamaan. Ia merasa Chanyeol menghembuskan nafas dan membawanya keluar.

“Apa… sudah selesai?” Heesuk menjauhkan dirinya dan membuka matanya perlahan.

Chanyeol tampak mengangguk. “Untung saja aku lewat. Kalau tidak, kau pasti sudah pingsan.”

“Brengsek..” Heesuk menggertakkan giginya. “Aku ketakutan setengah mati dan kau masih bisa bilang begitu?! Aku hampir mati tau!”

Pemuda itu tertawa. “Seharusnya kau lihat bagaimana wajahmu tadi! Astaga, lain kali aku benar-benar harus mengambil fotomu.”

“Padahal, aku benar-benar takut..” Heesuk menekuk wajahnya. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Dia memegang kakiku, bahkan menyeringai padaku..”

“Err.. Heesuk?” Chanyeol berhenti tertawa merasakan perubahan pada gadis didepannya.

“Aku pikir di-dia mau memakanku… a-atau membunuhku…”

“Huhuhu.. Bah-bahkan, a-aku tidak bisa… tidak bisa bergerak…”

Chanyeol mulai panik. “He-hei, sudahlah.. Wanita itu sudah tidak-”

“Aku gemetaran.. Uhuhu.. bibi..”

Chanyeol menggaruk tengkuknya kikuk. Ia menarik pelan Heesuk yang terisak dan memeluknya. “Sudahlah.. sudah..”

Bukannya berhenti, isakannya semakin keras. Heesuk mencengkram lengan Chanyeol kuat. “A-aku takut..”

“Tidak apa-apa.. tidak apa-apa..” pemuda itu berbisik. Tangan kirinya terangkat, membelai kepala gadis yang masih terisak di pelukannya.

Chanyeol tersenyum tipis. “Aku disini, Heesuk. Aku disini.”

Heesuk tak bergeming, masih terus menangis.

***

“Sudah tenang?”

Heesuk memanyunkan bibirnya, namun mengangguk.

Chanyeol menyodorkan sekaleng soda. “Yah.. aku tidak kaget melihat reaksimu. Dulu waktu aku kecil, aku juga menangis. Aku tidak suka melihat mereka. Namun lama-kelamaan aku mulai terbiasa.”

“Benarkah?”

Pemuda itu mengangguk. “Aku keturunan. Ibuku juga.”

Heesuk mengangguk dan menyeruput sodanya. “Lalu? Apa ibumu tidak kaget ketika tau kau bisa melihat?”

“Tentu saja dia kaget” Chanyeol mendengus geli. “Kakakku tak merasakan apapun, jadi ibuku pikir hal yang sama terjadi padaku. Tapi nyatanya tidak. Jadi, begitu dia tau, dia langsung tertawa dan memelukku.”

“Berarti kau persis ibumu. Tidak heran, sih” Heesuk menyipitkan matanya saat menatap Chanyeol. Pemuda itu kembali mendengus dan tawanya meledak.

“Saat itu, aku hampir setiap hari menangis. Tapi, lama-lama aku terbiasa. Ibuku bahkan mengajariku bagaimana cara menolong mereka, jadi aku merasa sangat ringan.”

“Untukmu-” Chanyeol meneguk sodanya, “-mungkin akan sedikit sulit. Karena ini terjadi secara tiba-tiba.”

“Tentu saja. Untuk orang yang sudah mendorongku dari tangga, aku sangat berterima kasih” sinisnya.

“Ya, kau memang harus berterima kasih padanya. Nah, sekarang, aku ingin bertanya. Apa yang kau rasakan?”

Heesuk tampak berpikir. “Aku.. merasa takut, tapi di saat yang sama aku merasa sedih.. aku ingin sekali membantu mereka, tapi aku tak mengerti. Anak yang di rumahku juga.. tapi, bahkan aku selalu berteriak saat bertemu mereka.”

“Takut itu wajar, tapi kau pasti bisa mengatasinya. Kalau sedih, mungkin akibat pengaruh energi yang mereka timbulkan. Terkadang, makhluk seperti mereka memendam kesedihan yang sangat besar, hingga orang-orang seperti kita bisa merasakannya.”

“Ada yang berbahaya, ada juga yang tidak. Karena itu, kau harus secepatnya terbiasa.” Heesuk mendengarkan dengan baik.

“Ah, satu hal yang harus kau ingat” Chanyeol menjentikkan jarinya. “Kapanpun, dimanapun kau bertemu, kau tidak boleh panik. Ingatlah, tak ada yang namanya kebencian. Hanya ada cinta dan kasih sayang.”

Heesuk menatapnya bingung. “Benci? Cinta? Kau ini bicara apa, sih?”

Pemuda itu mengerutkan kening. “Kau mungkin tidak mengerti sekarang, tapi nanti kau pasti akan mengerti. Itu yang dikatakan ibuku padaku dan sekarang aku mengatakannya padamu.”

“Iya, iya, iya.. Lalu bagaimana caranya agar aku cepat terbiasa?”

“Itu dia yang kutunggu” Chanyeol mengembangkan senyumannya. “Malam Sabtu, kita akan pergi ke taman kota.”

Heesuk mengerjapkan matanya. “Taman kota? Apa kau ingin aku bermain perosotan disana?”

“Ya, itu termasuk” Chanyeol meringis. “Yang penting, malam Sabtu. Oh, iya. Cobalah untuk bersahabat dengan mereka.”

“Tadi menyuruhku bermain perosotan dan sekarang menyuruhku bersahabat? Kau tidak sedang sakit, kan?”

“Tentu saja tidak. Beberapa dapat berbicara, dan mungkin anak perempuan di rumahmu juga. Kau bisa mengajak mereka bicara untuk mengurangi rasa takutmu.”

Heesuk memandangi Chanyeol. Ia baru mengenal pemuda ini kemarin dan dia sudah sangat membantunya. Ada rasa tak percaya, namun Heesuk merasa aman saat bersamanya.

“Chanyeol..” yang dipanggil menoleh.

“Terima kasih.”

Angin berhembus pelan, dan keduanya tersenyum.

.

.

.

To Be Continue

A/N:

Annyeong. Saya kembali dengan ff baru setelah debut saya dengan Headphone. Tadinya, saya berencana untuk comeback lebih cepet, tapi ternyata sekolah saya ngadain UTS dan baru aja berakhir beberapa hari yang lalu (sialan).

Ff ini sebenernya bergenre hurt/comfort dan angst. Saya bikinnya bukan tanpa alasan, saya muak dengan orang-orang dan keadaan di sekeliling saya. Isi cerita yang udah dikonsep bahkan nggak beda jauh dengan kehidupan asli saya. Penuh dengan orang-orang yang… saya nggak tega ngomongnya. Tadinya udah jadi 4 lembar, cuma saya beneran males buat nguraikan ulah mereka satu persatu. Ditambah lagi, saya merasa nggak penting banget buat nulis tentang hal itu sekalipun hanya terinspirasi buat dijadiin cerita.

Dan jadilah, saya ngerombak isi cerita habis-habisan, termasuk judul, konsep dan kerangkanya. Ngambil langkah yang terkesan berbahaya buat ngebenturin dua genre yang jauh berbeda, Romance dan Horor.  Ditambah lagi, saya bener-bener lagi mood swing. Bener-bener ngerasain yang namanya emosi naik turun kayak yang saya cantumin di a/n yang di atas. Dibanding terinspirasi sama ketakutan orang sama setan, cerita ini lebih ke arah ‘dibuat atas kekecewaan’ saya di real life.

Yaudahlah.

Saya juga gabisa nyalahin orang seenaknya.

Bahkan kata ‘saya’ di a/n yang pertama diketik tanpa sadar saking emosinya saya saat itu. Tapi, saya nggak berniat buat ngegantinya. Selain karena males, capek juga harus kerja dua kali😀 Jadi, saya mohon maaf kalo rasanya ff kedua saya ini ngelantur, rada nggak jelas atau muter-muter nggak karuan. Saya usahakan biar bisa lebih baik untuk kedepannya.

BTW, makasih banyak atas apresiasi di karya saya sebelumnya. Saya bener-bener nggak nyangka ada yang bakalan ngebaca apalagi sampai comment. Udah dipublish aja sebenernya saya udah seneng *terharu. Terus untuk beberapa orang di balik layar, sekalipun kalian ngucapinnya cuma sekali, tapi itu berarti banget buat saya. Dukungan moral yang kalian sampaikan ditengah kekacauan yang saya alami bener-bener membantu. Love u all *hug and kiss.

Balik lagi soal ff, kali ini saya make si tuan Park *azek. Tadinya saya bener-bener bingung mau make Chanyeol atau Baekhyun, tapi ternyata image cowok indigo yang lembut tuh lebih ngarah ke Chanyeol. Proyek kali ini akan dibuat sepanjang empat atau lima chapter dan akan update setiap minggu (ehm, buat yang ini nggak janji tapi saya akan usahakan).

Sebenernya, saya ini orangnya penakut. Jujur, waktu ngetik scene pas setannya keluar, saya juga ikut deg-degan. Juga pas adegan setannya keluar, saya ngetik pas ada orang di kamar saya. Orangnya keluar? Saya langsung mencet save *nyengir tujuh senti. Tapi, saya berani-beraniin diri saya karena saya mau nyoba semua genre cerita. Dan ini salah satunya.

Oke, pas liat lagi ke atas ternyata a/n udah lebih selembar sendiri, jadi kalo ada kritik, saran, atau masukan yang lain akan saya terima dengan tangan terbuka. Makasih udah ngeluangin waktu kalian buat baca.

See you next week ^^/

 

6 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Lucky or Not? (Chapter 1)

  1. Pas baca ini waktu scan hantu langsung tengok kanan kiri deh. Keren nih ceritanya horor gitu di satuin sama romance tambah lengkap dah. Ditunggu next chap ka

  2. Bikin deg2an sekaligus melting😂 lanjutkannnnn ceritanya bagus thor👍 sebenernya beruntung juga sih gegara liat hantu jadi bisa deket sama park chanyeol wkwkwkk

  3. Aigoo.,
    Aku suka deh sama ceritanya^^
    Aku mah udah biasa(?)..wkwkwk
    Walau masih agak takut sih..hehe
    Tadi Di punggungnya Heesuk ada yg gendong kah??..kkkk
    Mau dong ada namja bneran yg kek chanyeol di ff ini., kan enak tuhh😂😂😂

    Next kak ditunggu loh klanjutanya^^
    Fighting!! And Salam Kenal kak^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s