[EXOFFI FREELANCE] When The Season is Rain – (Oneshot)

13903288_1229172373774127_4962930594725826207_n.jpg

When The Season Is Rain

When The Season Is Rain | Sooeyes | Do Kyung Soo – Ahn Byul Ra | Romance,Fantasy,Sad | Oneshot | PG-15

Disclaimer             : This story is mine. Don’t plagiat. Please respect my story. Thank’s~

Twitter: @anja_anjoy13

Facebook: Andzani Harbiyakti

Wattpad: @anzzzh_12

Poster By LYEORINART

 

HAPPY READING ~~

.

.

.

.

.

Start now(-)

.

.

.

Wanita itu berjalan di tengah derasnya hujan. Tubuhnya bergetar. Ia sudah mulai kedinginan. Tak ada niatan untuknya berteduh. Tubuh mungilnya hanya terlapisi oleh baju tipis yang ia kenakan sekarang.

Kaki jenjangnya menuntun dirinya ke sebuah trotoar – tepat di pinggir jalan. Sangat miris. Bila saat ini ada seseorang yang melihatnya,pasti seseorang yang melihat dirinya juga akan berkata seperti itu.

“bodoh,aku memang bodoh”

Suaranya bergetar antara kedinginan dan…menangis.

Bukannya makin mereda tetapi hujan itu makin deras. Meredamkan suara tangis wanita itu.

 

-oOo-

Tap…Tap…Tap…

Wanita itu mendengar derap langkah kaki mendekat kearahnya. Suara langkah kaki yang berpadu dengan genangan air dan suara hujan.

Ia tak menghiraukan seseorang itu. ia hanya beranggapan bahwa itu,hanya seseorang yang sekedar lewat saja. Ia kembali memeluk tubuhnya di tengah derasnya hujan dan dinginnya malam.

“permisi,nona…”

Suara itu cukup membuat wanita itu terkejut.

“kau…kau siapa?”

Wanita itu sedikit menjauh dari pria yang berada dihadapannya. Jarak mereka berdua bisa dibilang begitu dekat. Jadi wanita itu sedikit menjauh,takut kalau pria yang sedang menatapnya adalah ‘orang jahat’.

“nona tenang dulu. Aku bukan orang jahat. Aku hanya ingin lewat,tapi mataku menangkap nona tengah duduk kedinginan disini”

Pria itu memayungi wanita tersebut dengan payung yang dibawanya.

Pria itu berjalan mendekati wanita tersebut yang sedang menunduk dengan berjongkok.

“kau menangis?”

Wanita itu hanya menggeleng. Tapi pria itu tahu bahwa wanita itu berbohong padanya.

“mau kuantar pulang?”

“tidak. Jangan. Jangan mengantarku pulang”

Ia terus menggeleng-gelengkan kepalanya. Pria itu tidak mengerti apa maksudnya,tapi ia tahu kalau wanita ini sedang ada masalah. Bukan masalah yang biasa. Buktinya saja ia sampai kabur dari rumahnya.

GREP

Tangan kekar milik pria itu terulur meraih bahu mungil si wanita tersebut. Wanita itu juga tak menolak perlakuan dari pria tersebut. Ia sudah mulai bisa menerima keberadaan pria yang belum dikenalnya.

Pria itu tidak perduli lagi dengan pakaiannya yang sudah basah karena ia melepaskan payungnya dan lebih memilih ikut basah kuyub seperti wanita itu. wanita itu menangis lagi. Air matanya hanya sedikit yang keluar. Suaranya pun sudah mulai parau. Pria itu hanya mengusap surai coklat milik wanita itu. Wanita ini memiliki surai coklat dengan panjang sebahu.

“apa kau tidak merasa dingin? Lebih baik kau ikut aku ke apartement ku. Letaknya tidak jauh dari sini. Apa…kau mau?”

Seketika itu,wanita itu hanya menatap pria itu. Tapi wanita itu sudah berhenti menangis.

DEG

Kini pria itu berhasil menatap langsung wajah wanita itu. jantung pria itu berpacu dengan cepat.

‘Tuhan,bolehkah aku memaggilnya bidadari’ batin si pria itu.

Ia tak berkedip sama sekali saat beradu pandang dengan wanita yang disebutnya bidadari tersebut.

“tuan”

Suara itu menyadarkan lamunan pria itu

“ah maaf. Lebih baik sekarang kau ke apartement ku. Kau sudah mulai kedinginan. Aku tak mau kau sakit”

Wanita itu mengangguk seraya pria itu berdiri dan mengambil payungnya.

“aku tak yakin hujan ini akan berhenti”

Pria itu malah bermonolog dengan dirinya sendiri.

Ia melihat ke sekitarnya. Benar-benar sepi. Sama sekali tidak ada kendaraan yang melintasi jalan ini. Pria itu tidak bisa membayangkan bagaimana nasib wanita itu kalau ia tidak melewati jalan ini. Pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya,mengusir pikiran-pikiran itu dari kepalanya.

Pria itu mengulurkan tangannya membantu wanita itu berdiri. Menuntun tubuh mungil tersebut,dibawah derasnya hujan yang dilandaskan oleh sebuah payung.

-oOo-

Mereka telah sampai di depan pintu di sebuah apartement. Di pintu itu terdapat tulisan beberapa angka ‘1288’. Pria itu mempersilahkan wanita yang sudah kedinginan itu untuk masuk kedalam apartementnya.

Keadaan wanita itu benar-benar kacau. Pria itu tidak tega melihatnya. Ia juga terlihat kebingungan harus bagaimana. Sejujurnya pria ini tidak terlalu mengerti dengan wanita.

“sebaiknya kau mandi dulu. Nanti bajunya kusiapkan. Oh ya kalau kau sudah selesai ku tunggu di ruang makan. Dan kamar mandinya ada disana”

Pria itu menunjukkan letak kamar mandi pada wanita itu.

*~*~*

Keheningan tercipta saat mereka mekan di satu meja yang sama. Saling berhadapan satu sama lain. Tak ada yang berinisiatif untuk membuka mulutnya lebih dulu. Mereka hanya beradu pandang.

Pria itu diam-diam memandangi wajah wanita tersebut. Tapi ia sangat terkejut saat menemukan wajah sang bidadari itu,pucat.

“nona,kau baik-baik saja?”

Air wajah pria itu berubah saat melihat wajah wanita itu.

“ya. Aku baik-baik saja. Emmm…”

“oh iya,kita kan belum berkenalan. Namaku Do Kyungsoo. Kau bisa memanggilku Kyungsoo”

Pria itu tersenyum pada wanita itu. Wanita itu baru menyadari kalau pria yang bernama Kyungsoo ini mempunyai senyuman yang manis. Bila dia tersenyum bibirnya akan membentuk hati.

‘Sungguh menawan’ wanita ini berbicara dalam hatinya. Memuji ketampanan Kyungsoo.

“nona kau-“

“ah maaf. Namaku Ahn Byul Ra. Panggil aku Byul saja”

Kyungsoo tersenyum bahagia. Ia merasa bahwa dirinya sangat beruntung,bisa bertemu wanita ini dan mengetahui namanya pula.

“sudah malam,sebaiknya kau istirahat saja. Kau terlihat begitu lelah”

Kyungsoo mulai merapikan piring-piring sehabis mereka makan. Merasa belum ada respon sedikit pun. Kyungsooo menoleh kembali ke belakang. Benar saja Byul masih terduduk manis memandangi Kyungsoo yang kini tengah menatapnya dengan tatapan seakan bertanya ‘kenapa kau masih disini?’

“Kyungsoo-sshi,aku harus tidur dimana?”

Tanyanya hati-hati. Suaranya pun bisa dibilang lirih. Tapi Kyungsoo masih bisa mendengarnya.

“ah maafkan aku. Aku lupa memberi tahumu. Kau pakai saja kamarku”

“lalu,kau-“

“aku bisa tidur di sofa”

Sempat terlihat kekhawatiran di wajah Byul. Bagaimana pun juga tempat ini bukan tempat tinggalnya. Akhirnya,Kyungsoo meyakinkan Byul kalau dirinya tidak apa-apa tidur di sofa.

Byul berjalan memasuki kamar Kyungsoo. Tapi sebelum ia benar-benar membuka pintu itu.

“Kyungsoo-sshi”

“ya?”

Kyungsoo yang sednag mencuci piring menghentikan kegiatannya dan berbalik menghadap Byul yang berada di depan pintu kamarnya.

“terimakasih”

Sebuah senyuman terukir manis di bibir mereka berdua. Byul merasa dia adalah seseorang yang beruntung bisa bertemu dengan pria itu. Masalah yang sedang dihadapinya pun tidak dipikirkannya.

“Besok adalah hari terakhirmu di bumi. Ingat,kau tidak boleh jatuh cinta pada pria itu”

*~*~*

Kyungsoo belum tertidur. Ia tak bisa menutup matanya. Ia memang mengidap Insomnia. Insomnianya akan kambuh bila ia terlalu lelah bekerja,tapi ini berbeda. Insomnianya kambuh karena wanita itu-Ahn Byul Ra. Ia tak bisa tidur karena terus menerus memikirkan Byul.

DEG

Ia merasakan detak jantungnya bekerja tak seperti biasanya. Pipinya memanas saat membayangkan wajah Byul yang menurutnya seperti bidadari.

 

Entah kenapa dan mengapa,Kyungsoo sudah berada di depan pintu kamarnya. Ia membuka perlahan-lahan kenop pintu kamarnya. Takut membangunkan seseorang yang sedang tertidur nyenyak di dalam sana.

KREEK

Pintu sudah terbuka. Kyungsoo melangkah memasuki ruangan tersebut. Ditutupnya kembali pintu itu dengan sangat pelan agar tak menimbulkan bunyi sekalipun

Kyungsoo tersenyum saat mendapati wanita itu dengan tenangnya dibalik selimut tebal milik Kyungsoo. Ia berjalan mendekati Byul yang sedang tertidur.

Kyungsoo sedikit terkejut saat melihat tubuh mungil Byul mengeluarkan keringat dingin. Tangan kanannya bergerak memegang kening Byul.

“astaga Byul! Badanmu panas sekali. Kau demam!”

Tubuhnya sedikit bergetar. Ia menggigil. Tanpa menunggu lama,Kyungsoo berlari ke luar kamar mengambil air hangat dan handuk kecil untuk mengompres Byul. Kyungsoo juga mengambil beberapa obat-obatan.

Dengan sabarnya Kyungsoo mengompres tubuh Byul yang panas. Suhu tubuhnya sangat tinggi. Sebelumnya Kyungsoo sudah memerikanya,suhu tubuhnya 39 C. Setelah Kyungsoo selesai mengompres Byul,ia tak berniat kembali ke ruang tengah untuk tidur,tapi ia ingin mengobati Byul. Bagaimana pun juga Byul adalah tanggung jawabnya sekarang.

Kedua tangannya berada di pinggir kasur,dijadikan layaknya bantal. Kyungsoo terus memandangi wajah Byul yang masih pucat.

“cepatlah sembuh bidadari”

Itulah kalimat terakhir yang Kyungsoo ucapkan sebelum akhirnya ia benar-benar terlelap di samping Byul. Menjaga wanita yang baru dikenalnya beberapa jam yang lalu.

“Sepertinya pria itu benar-benar mencintai Byul,Tetua”

“Ya kau benar. Tapi tetap saja seorang bidadari tidak boleh mencintai manusia”

-oOo-

Sang mentari mulai menampakkan sinarnya. Sinarnya masuk melalui celah-celah jendela kamar Kyungsoo. Menyinari kedua insan yang masih bergelut dengan mimpi masing-masing.

Wanita bertubuh mungil itu mulai sedikit risih dengan sinar matahari yang menyorot langsung ke wajah cantiknya.

“eoh,apa ini?”

Byul mengambil handuk kecil berwarnya putih itu dari keningnya. Ia merasa bahwa lengan kirinya sedikit berat,seperti ada yang tertidur diatas lengannya. Byul penasaran. Ia pun terbangun dengan perlahan. Dugaannya benar,ada seseorang yang tertidur di lengannya. Byul hanya memandangi Kyungsoo yang masih tertidur manis di lengannya.

Pergerakan Kyungsoo menghentikan kegiatan Byul yang sedang memandangi Kyungsoo. Byul mengalihkan pandangannya ke sembarang tempat. Ia tak mau menatap mata bulat Kyungsoo.

“kau sudah bangun. Bagaimana keadaanmu?”

Byul seketika menatap Kyungsoo. Alisnya bertautan terlihat dari wajahnya kalau Byul sedang bingung.

Tiba-tiba tangan kekar Kyungsoo sudah berada di kening Byul. Merasakan suhu tubuh Byul,sudah turun atau belum.

“panasmu sudah turun,Byul”

Masih dengan posisi dan ekspresi yang sama,Byul tidak merespon Kyungsoo.

“aku sakit?”

Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir cherry milik Byul. Kini Kyungsoo menautkan alisnya.

“sudahlah,kita sarapan saja”

Baru Kyungsoo melangkahkan kakinya keluar kamar. Tiba-tiba…

GREP

Sebuah tangan menggenggam manis lengan kanan Kyungsoo. Kyungsoo memberhentikan langkahnya,berbalik menatap Byul yang tengah menatapnya. Tangannya belum terlepas dari lengan kanan Kyungsoo.

“ada apa?”

Suara Kyungsoo seakan menggema di ruangan ini.

“temani aku”

“a…apa?”

Kyungsoo terdiam sesaat mendengar penuturan Byul. Kyungsoo berjalan berbalik,duduk di samping Byul.

“bisakah kau temani aku satu hari penuh? Aku merasa sedikit bosan”

Kyungsoo hanya memandang Byul dalam diam. Ia masih mencerna kata demi kata yang Byul ucapkan padanya tadi. Merasa Kyungsoo tak meresponnya,akhirnya Byul memutuskan bila Kyungsoo tidak perlu menemaninya hari ini.

“kalau kau keberatan tidak apa-apa. Kau tidak perlu menemaniku”

Sudut-sudut bibir cherry Byul tertarik keatas membentuk sebuah senyuman. Biasanya Kyungsoo sangat senang bila Byul memperlihatkan senyuman manisnya,tapi kali ini sepertinya Kyungsoo berbeda. Kyungsoo tahu,pasti Byul marah padanya.

“hei,kau marah?”

Kyungsoo menyikut pelan lengan Byul. Kyungsoo tertawa pelan melihat ekspresi Byul. Menurutnya,Byul sangat lucu bila sedang marah.

“ti…tidak. Aku tidak marah. Lagipula kau kan ada urusan lain yang lebih penting daripada harus menemaniku”

Kali ini Byul tersenyum untuk meyakinkan Kyungsoo. Sebenarnya dia ingin sekali Kyungsoo menemaninya,untuk hari ini saja. Sebelum akhirnya ia benar-benar pergi.

“tidak. Aku akan menemanimu hari ini. Tapi sepertinya cuaca sedang tidak bersahabat. Bagaimana kalau kau temani aku membuat kue saja”

Byul langsung mengangguk. Menandakan bahwa ia setuju dengan pendapat Kyungsoo.

Kyungsoo tersenyum melihat tingkah laku Byul. Beberapa kali ia memuji Byul di dalam hatinya. Ia mulai menyukai Byul.

-oOo-

Hari ini cuaca memang tidak bersahabat. Mungkin sebentar lagi kota Seoul ini akan segera diguyur oleh hujan yang akan turun dengan deras. Seharusnya hari ini cuaca dikatakan akan cerah,tapi cuaca secara tiba-tiba berubah. Membuat siapa pun yang ingin beraktifitas menjadi memilih bersama selimut tebal mereka.

*~*~*

Saat ini Kyungsoo dan Byul tengah berada di ruang makan. Mereka duduk berhadapan,memakan roti yang menjadi menu sarapan mereka.

“Kyungsoo-sshi”

Suara merdu Byul memanggil Kyungsoo yang masih berkutik dengan sarapannya.

“hmmm”

Hanya bergumam.

“terimakasih”

Kyungsoo mengangkat kepalanya,memandang lurus tepat kearah Byul. Bertatapan langsung pada manik mata masing-masing.

“untuk?”

“kau telah menolongku. Maaf aku telah merepotkanmu”

“kau tidak merepotkanku. Aku merasa senang bisa bertemu dengan mu. Dan,kau tak perlu bicara se-formal itu padaku”

Byul tertawa mendengar penuturan Kyungsoo. Ia akui,ia sangat nyaman berada di dekat Kyungsoo. Kepergiannya tinggal menghitung jam.

Akhirnya hujan pun turun. Awan hitam datang menghiasi langit kota Seoul. Suara-suara gemuruh mulai terdengar.

*~*~*

Saat ini Kyungsoo dan Byul sedang berada di dapur. Kyungsoo mempersiapkan semua alat dan bahan. Seperti yang Kyungsoo katakan sebelumnya,hari ini mereka akan membuat kue. Inilah kebiasaan Kyungsoo bila ia merasa bosan. Ia sangat mahir dalam hal memasak.

Byul membantu Kyungsoo memasukkan semua bahan ke dalam sebuah loyang. Byul mengikuti semua perintah Kyungsoo. Ia merasa saat ini seperti berada di tempat kursus memasak.

Kyungsoo menuangkan tepung ka dalam loyang tersebut,tapi pikiran jahilnya tiba-tiba muncul. Kyungsoo mencolek pipi Byul dengan tepung. Byul terkejut dengan apa yang Kyungsoo lakukan barusan.

“haha…kau lucu”

Byul hanya memandangi Kyungsoo yang tertawa. Seketika pikiran jahil Kyungsoo seakan pindah ke diri Byul. Byul menampakkan ‘smirk’ nya sebelum meraih tepung yang berada tepat di depannya ke pipi Kyungsoo.

Suara tawa Kyungsoo pun berhenti berganti dengan tatapan yang mungkin tak Byul mengerti.

“pfftt…haha”

Tawa Byul pecah. Menggantikan keheningan yang tadi sempat melanda. Byul tak henti-hentinya tertawa. Menurutnya ekspresi Kyungsoo sangat lucu. Mata bulat Kyungsoo terlihat sungguh menggemaskan bagi Byul.

“ah,aku sudah tidak kuat lagi. Ya! Kau lucu sekali”

Byul berkata disela-sela tawanya yang mulai mereda. Kyungsoo tersenyum mendengar ucapan Byul. Bentuk hati di bibirnya tampak sangat jelas.

“kuenya. Kita lanjutkan membuat kuenya”

Byul mengangguk setuju dengan Kyungsoo.

*~*~*

“wah kuenya sudah jadi. Kelihatannya enak”

Byul memandangi kue yang dibuat olehnya dan Kyungsoo dari setiap sudutnya.

“sudah pasti. Kau ingin mencobanya?”

Byul menganggu mantap.

“sepertinya kalau kita duduk di balkon dan mamandang langit ide bagus”

Byul hanya mengangguk dengan kata-kata yang Kyungsoo ucapkan. Ia akan setuju dengan pendapat-pendapat yang Kyungsoo ucapkan mengenai kue itu. Sekarang ini hanya satu yang berada dipikirannya,kapan ia secepatnya bisa memakan kue itu.

*~*~*

Semilir angin berlalu lalang,mengibaskan rambut pendek berwarna coklat milik Byul. Duduk menghadap langit yang dipenuhi oleh bintang-bintang yang berkelap-kelip. Dinginnya angin hujan masih terasa. Teh hangat dan kue-hasil buatan mereka menjadi teman mengobrol antara si pria dan si wanita.

Byul sudah tidak sabar ingin segera mencoba kue buatannya dengan Kyungsoo. Ini adalah pertama kalinya ia memasak. Ia bersumpah,kalau kue ini rasanya sangat enak,ia akan merasa sangat senang dan bangga karena ini adalah kue pertamanya. Walaupun tak sepenuhnya ia yang membuatnya sendiri.

“bagaimana?”

Kyungsoo memandang lekat wajah Byul yang sedang memakan kuenya. Byul melirik Kyungsoo dulu yang berada di sampingnya sebelum ia menjawab.

“kau hebat,Kyungsoo. Kuenya sangat enak”

Wajah Byul terlihat sangat bahagia saat memakan kue itu.

“apa kau menyukainya?’

“tentu saja”

Jawab Byul mantap. Kyungsoo tertawa kecil mendengar jawaban Byul.

*~*~*

“Byul,kau tahu bintang-bintang itu sangat cantik. Persis seperti namamu”

Kyungsoo tak mengalihkan. Masih terpaku pada bintang-bintang itu. Kyungsoo terus menikmati semilir angin yang berhembus. Walau angin ini terasa sangat dingin di kulit putihnya,tapi menurutnya ini sangat hangat karena kehadiran Byul disampingnya.

“Byul”

Kyungsoo memanggil nama Byul dengan suara lembutnya. Byul tidak menjawab. Kyungsoo menengok kearah Byul yang berada di sampingnya.

“arrrgghh”

Byul mengerang kesakitan. Ia memegangi dadanya. Kyungsoo sangat terkejut. Ia benar-benar panik saat ini. Ia menghampiri Byul dan berjongkok di hadapan Byul.

“ka…kau kenapa? Byul?”

Kyungsoo memegangi pipi Byul. Wajahnya makin memucat.

“Kyungsoo”

Byul mengucapkan nama itu di tengah rasa sakitnya. Pandangan mereka bertemu. Byul tersenyum saat melihat Kyungsoo.

“hei,kenapa kau menangis?”

Tangan mungil Byul memegangi pipi Kyungsoo. Ia tersenyum saat melihat bahwa Kyungsoo menangis.

Kyungsoo memeluk Byul. Erat sangat erat. Byul bisa merasakan kehangatan dari tubuh Kyungsoo. Sebaliknya dengan Kyungsoo.

“Kyungsoo,maafkan aku. Aku harus pergi”

Byul melepaskan pelukan Kyungsoo. Byul akhirnya menangis. Ia sudah tak bisa menahannya lagi.

SREETT

Kyungsoo mundur beberapa langkah. Menjauh dari Byul. Matanya tak berkedip sedikitpun. Ia tak percaya ini akan terjadi.

Byul berdiri menghampiri Kyungsoo. Tak henti-hentinya ia tersenyum. Ia pikir kalau ia terus tersenyum seperti ini Kyungsoo tak akan menangisi kepergiannya. Tapi ternyata semua itu salah. Senyuman itu semakin menambah kesedihan bagi Kyungsoo.

Kyungsoo mulai menghampiri Byul. Ia terus meyakini dirinya sendiri,bahwa semua ini bukan mimpi. Byul berubah. Dress putih selutut menghiasi tubuhnya. Terdapat sebuah kalung bintang di lehernya. Jangan lupakan sepasang sayap putih di belakang tubuhnya. Kembali ke wujud awalnya. Seorang bidadari.

“Byul,benarkah ini kau?”

Suara lirih Kyungsoo menggema di dinginnya malam. Suara itu seperti terbawa angin,tapi Byul masih dapat mendengarnya.

“maaf,aku membuat mu takut. Aku harus pergi”

CHU~

Ciuman hangat yang Kyungsoo berikan pada Byul. Ciuman pertama dan terakhir mereka. Kyungsoo bisa merasakan,perlahan-lahan tubuh Byul mulai menghilang.

“aku mencintaimu. Tunggulah aku di reinkarnasiku berikutnya”

Suara itu. Sungguh memilukan. Suara itu semakin menghilang seiring perginya sosok Byul.

“kembalilah. Kembalilah untukku Byul. Aku mencintaimu”

Tubuh Kyungsoo kaku. Ia hanya bisa menangis. Ia masih tidak percaya dengan kejadian ini. ia jatuh cinta pada seorang bidadari.

-oOo-

“Kau tahu,aku tidak percaya dengan semua itu. Tapi semua itu sangat nyata di mataku. Kembalilah”

Tak ada yang dilakukan oleh pria ini. Hanya duduk memandangi hujan. Semuanya terjadi begitu cepat. Bahkan bisa dibilang sangat singkat.

Sudah berhari-hari Kyungsoo menunggu Byul. Tapi semua itu sia-sia saja. Byul tak kembali. Kyungsoo berjalan kearah pagar pembatas yang ada di balkonnya. Merasakan tetes demi tetes air hujan yang mulai membasahi wajahnya.

Memori indah bersama Byul mulai bermunculan di kepalanya. Ia kembali terisak. Kakinya terasa begitu lemas. Ia terjatuh. Tangannya berpegangan erat pada pagar pembatas.

“hei,kenapa kau menangis?”

Suara itu. kyungsoo mencari kesana kemari. Tapi nihil,Byul memang tak ada.

“Kyungsoo”

Suara itu muncul kembali. Byul pasti disini. Dia kembali.

“Byul,kau kah itu? Kau dimana?”

Kyungsoo terus mencari asal suara itu. ia terus meneriaki nama Byul.

‘Kau kembali? Benarkah? Tapi,kau dimana? Aku tak bisa melihatmu’

“Kyungsoo,aku menunggumu”

Kyungsoo mendengarnya. Ia sangat yakin kalau itu benar suara Byul. Ia terus mengulang kalimat tersebut. Berfikir dimana ia bisa menemui Byul.

*~*~*

Pikirannya jatuh pada satu tempat. Di tempat itu. tempat pertama kali ia dan Byul bertemu.

‘Byul,tunggu aku’

Ia menyimpan kata-kata itu di dalam hatinya. Ia berharap kalau Byul bisa mendengarnya.

-oOo-

Hujan turun semakin deras. Seakan-akan langit juga merasakan apa yang Kyungsoo rasakan sekarang.

Air mata Kyungsoo turun bersama derasnya air hujan. Ia yakin bahwa Byul akan kembali. Ia tak peduli dengan derasnya air hujan yang mengguyur seluruh tubuhnya. Ia rela sakit demi bertemu Byul. Apapun yang menyangkut tentang Byul akan ia lakukan,sekalipun semua itu berhubungan dengan nyawanya.

Ia berlari menuju tempat itu. Menembus satu persatu air hujan. Mulutnya tidak diam. Ia terus bergumam,menyebut nama Byul di setiap langkahnya.

*~*~*

Ia terhenti tepat di tempat itu. Nafasnya terengah-engah. Matanya menatap lurus kearah trotoar itu.

DEG

Jantungnya kembali berdetak. Persis seperti saat ia pertama kali bertemu dengan Byul. Kedua sudut bibir tebalnya tertarik membentuk sebuah senyuman.

Sesosok wanita bertubuh mungil dengan rambut pendek sebahu berwarna coklat,tengah duduk di trotoar. Wanita itu memeluk dirinya dan menenggelamkan wajahnya di kedua lututnya. Tubuhnya bergetar. Sepertinya wanita itu menangis.

‘Byul kau kembali’

 

 

 

-END-

 

Halo~ maafkan kalo ff ini absurd bngt ya ^^   Kalo banyak typo nya maklumin aja ya,gk perlu diambil hati heheh.. I hope u like it about this story ~~~~

Tinggalkan komentar kalian dibawah ini

.

.

.

.

Terimakasih sudah membuang waktu anda untuk membaca cerita ini. dibutuhkan saran dan kritik agar aku dpt memperbaiki lagi ff ku selanjutnya ^^

_sooeyes_

 

 

One thought on “[EXOFFI FREELANCE] When The Season is Rain – (Oneshot)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s