[EXOFFI FREELANCE] Proposal Married – (Chapter 06)

proposal-merried

PROPOSALMARRIED
Chapter 6

Author                        : Rhifaery

Main Cast       : Sehun EXO and Irene Red Velved

Genre              : Romance, Comedy, After married!^^

Rate                : NC 17

Warning           : Please join to my blog Rhifaeryworld.wordpress.com

Desclimer        : All of the story based on my imagine ^^

 


Irene POV

Pagi datang terlambat. Saat aku mulai terbangun dengan mengerjap mata beberapa kali karena terpaan sinar mentari yang begitu terang. Satu hal yang langsung kusadari, Sehun rupanya sudah tidak ada di sisiku. Curang. Dia bahkan mematikan alarm yang sengaja aku setting pukul 05.00. Padahal aku ingin sekali menyiapkan dia makanan sebelum keberangkatannya menuju Jepang.

Satu tangkai mawar merah diletakkan di laci samping tempat tidur dengan sebuah notes, I Love You. Membuatku tersenyum, dengan perbuatannya yang akhir-akhir ini begitu romantis. Membuatku menjadi wanita paling beruntung di muka bumi ini.

Dreett..Dreett… Hanphoneku bergetar. Baru saja kupikirkan, rupanya dia sudah merindukanku. “Sudah bangun?” Tanyanya.

Dasar bodoh. Tidak mungkin aku masih tidur jika tidak mengangkat teleponnya, “Kau sudah sampai?” Tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“Ya, aku sudah sampai di bandara Jepang sekarang.” Perjalanan yang cepat. Tentu saja dia melakukan penerbangan VIP sehingga jarak Seoul dan Tokyo bisa ditempuh dalam waktu satu jam setengah. “Kau sudah menerima bunga dariku bukan?”

“Hemm… kenapa kau menyetel alarmku, padahal aku ingin sekali melihat wajahmu untuk terakhir kalinya?”

Dia tertawa renyah mendengar gurauanku, “Aku kan tidak pergi wamil, lagi pula aku akan kembali dengan kondisi yang sama nantinya.”

“Sama-sama bodoh.”

“Bukan, sama-sama tampan.” Ganti aku yang tertawa mendengar komentar bodohnya. Ya semoga saja, dia tetap menjadi Oh Sehun yang kupunya.

“Katakan padaku, apa kegiatanmu setelah ini?”

“Karena jadwal Red Velved belum dimulai, mungkin aku akan menghabiskan waktu seharian di rumah. Belajar memasak juga dance.”

“Jika kau bosan, kau boleh keluar untuk berjalan-jalan. Aku sudah mengizinkanmu.” Katanya tiba-tiba.

“Memangnya siapa yang butuh izinmu, hari ini aku memang malas keluar?” Jawabku sejujurnya. Lagi pula siapa yang akan menemaniku keluar? Member Red Velved sibuk dengan urusan pribadi masing-masing.

“Benarkah, padahal aku sudah mengundang Hyemi datang ke rumah unttuk mengajakmu jalan-jalan.”

“Hyemi??? Maksudmu Kang Hyemi?” Kataku terpekik. Jangan bilang dia berbicara mengenai sepupuku Kang Hyemi yang selama ini tinggal di Jeju. Ya, kami memang tak pernah bertemu setelah hari pernikahan kita.

“Ya. Dia sudah sampai dari tadi. Mungkin saat ini dia masih menunggumu di luar?” Katanya seenak jidat.

“Mwo, diluar? Kau benar-benar raja tega yah? Akan kutemui dia dulu, pasti dia sudah kesal karena perbuatanmu itu!!!” Kututup teleponnya dengan paksa sebelum aku mengambil piyama kemudian keluar dari tempat tidur secepat kilat.

Pada teras depan, kulihat seorang wanita berpakaian tebal yang meringkuk diantara pot-pot bunga. Semilir angin musim gugur rupanya membawa hawa dingin walaupun hari sudah beranjak siang.

“Kang Hyemiiii????” Teriakku begitu kudapati bahwa wanita itu benar-benar Kang Hyemi sepupu terbaikku dari Jeju. Bukannya memelukku gadis yang biasa kusapa Hyemi itu malah mengacuhkanku lalu terburu-buru beranjak masuk ke dalam rumah.

“Kau tahu, Oh Sehun suami bodohmu itu sama sekali tak mengizinkanku masuk ke dalam. Katanya aku akan menganggu tidurmu jika aku masuk sekarang. Padahal kau tahu, aku sudah datang kemari sejam jam 05.00 pagi tadi. Dia menyuruhku menunggu keluar tak peduli dengan penderitaanku yang berdiri disin berjam-jam, tertimpah asap, polusi….- Dan begitulah pembicaraan selanjutnya. Hyemi yang sudah terkenal dengan aksi mulut brutalnya tidak akan berhenti sebelum kujejalkan lima voucher belanja yang kudapatkan langsung dari sponsor.

Benar saja, Hyemi akhirnya berhenti dan langsung merebut semua voucher itu, “Apa ini semua untukku?”

“Itu ganti rugi atas kelakuan suami bodohku itu padamu.” Kataku mengarah pada Sehun dan semua perbuatan yang ia ceritakan padaku.

“Aniyo, jika ganti ruginya seperti ini, aku rela menunggu di depan rumahmu berjam-jam, berhari-hari atau berbulan-bulan.” Sekarang ganti dia yang berlebihan.

“Boleh saja, nanti kukatakan pada Sehun jika kita membutuhkan anjing penjaga?”

“Heeeiii!!!” Serunya tak terima. Lantas kita tertawa bersamaan.

***

Setelah menunggu sekitar lima belas menit, aku dan Hyemi akhirnya sepakat mengunjungi departemen store pagi ini. Barangkali itulah satu-satu tempat hiburan bagi kita yang berguna untuk menjernihkan diri dari semua kepenatan akibat pekerjaan. Kubiarkan langkah kaki ini mengikuti kemana Hyemi pergi. Melihat barang-barang bagus tapi pada akhirnya menyerah karena harga barangnya terlalu mahal atau kualitasnya tidak baik. Jika sudah begitu, mungkin akulah yang paling pengertian, memberikan kartu kredit secara cuma-cuma tanpa tahu berapa nominal yang dihabiskannya.

“Gomawo Nyonya Oh, kau benar-benar baik hari ini.” Ucapnya begitu sebuah baju telah beralih ke tangannya.

“Hentikan bicaramu bodoh, kau bisa membuat skandal!” Koreksiku cepat. Membuat dia buru-buru menutup mulutnya, mulai sadar bahwa dia tidak boleh sembarangan membuka mulut.

“Kau sudah membelikanku sesuatu, tidakkah kau kepikiran memberikan sesuatu juga pada tuan Ohsome?”

“Ohsome… siapa?”

“Tentu saja Oh Sehun Handsome. Aku sengaja menyingkatnya agar pembicaraan kita tidak diketahui orang.” Katanya yang lantas membuatku tertawa.Pemikiran yang bagus dari mulut Hyemi. Tapi mana sudi aku menyebutnya begitu. Aku yakin dia pasti akan menertawakanku mati-matian. Panggilan Ongly lebih baik, yang berarti Oh Sehun ugly.

“Ehm… bagaimana jika kau memberikannya sweeter?”

Aku menggeleng keras. “Lemari kita sudah banyak didominasi bajunya. Aku tidak mau jika dia sampai merebut wilayah penyimpanan bajuku.”

Hyemi berpikir lagi, pandangan tertuju pada kumpulan boneka yang sengaja dipajang untuk menarik minat pembeli.

“Tidak, aku bukan fansnya. Jangan kira aku akan membelikan itu untuknya.” Sahutku sebelum sempat Hyemi menyuarakan padaku.

“Haruskah kita membelikan barang mahal?” Sekarang tangannya tertuju pada salah satu outlet jam tangan termewah sekaligus termahal di Korea. Salah satu brand yang sangat disukai Sehun.  Alih-alih membelikannya barang tersebut, aku melah merangkul pundak Hyemi dan mengajaknya segera berlalu dari tempat itu.

“Kau tahu Hyemi-yah, sekali-kali kita harus membelikannya barang murah supaya dia bisa menjadi idol yang sederhana.” Hyemi menyikutku pelan, lantas tertawa bersamaku. Bukankah benar jika sifat perhitunganku mulai tumbuh. Sudah syukur aku mau membelikan Sehun sesuatu. Masalah harga harusnya dipikir belakang.

“Hey lihat, rainbow cake!!!” Hyemi tiba-tiba berseru keras lantas berlari ke sebuah outlet kue yang sepertinya sangat familiar bagiku. Napasku memburu takkala menyadari bahwa itu adalah tempat yang sama. Kenangan yang tiba-tiba hadir, kembali melesat tak terarah. Membuat jantungku berpacu lebih cepat. Begitu jelas namun transparan untuk aku raba.

“Kau bisa membelikan Sehun rainbow cake, dia pasti menyukainya dan yang terpenting itu sangat-sangat murah!”

“Tidak!” Ucapku tegas. Rasanya sangat ingin berlari sejauh mungkin untuk menghindar. Namun apa yang terjadi, seluruh ototku mati rasa.

“Tidak? Kalau begitu belikan aku saja. Kau kan sudah janji akan mentraktirku.”

“Tidak dengan yang ini.”

“Irene-yah, kau sangat menyukainya kan, aku tahu kau sangat menyukainya, untuk itulah kita harus…-

“KUBILANG TIDAK KANG HYEMI!!!” Teriakku yang nampaknya terlalu keras hingga membuat orang yang berjalan berhenti untuk menatapku. Beruntungnya aku memakai masker untuk mencegah seseorang menganali wajahku sekalipun tidak berguna untuk mencegah air mata yang perlahan-lahan mengalir menetes di wajahku.

Hyemi tampaknya cukup paham dengan posisiku sekarang.Dia tahu apa yang terjadi. Untuk itulah dia perlahan-lahan merangkulku sekaligus mengajakku meneruskan perjalanan. “Ayo kita lanjutkan perjalanan kita.” Katanya berusaha membuatku tersenyum.

“Kau tahu, aku sudah membeli koper baru untuk perjalanan pulang nanti, sudah menjadi tugasmu untuk bertanggung jawab pada isinya.”

“Kau pikir aku siapa, mintalah sendiri pada kekasihmu?” Elakku.

“Ya, tapi kau tahu kan, kita belum menikah. Bukan haknya untuk memberiku nafkah.”

“Lalu apa kau pikir Seh, maksudku Tuan Ohsome eh Ongly memberiku nafkah. Dia hanya menyimpan uangnya sendiri.” Balasku tidak karuan.

“Sehun memberimu nafkah batin, apa bedanya?”

“Ya, Kang Hyemi!!!”

Begitulah Kang Hyemi, dengan seribu cara dia selalu bisa menggodaku dan membuat wajahku memerah. Tingkah konyolnya selalu bisa membuatku tertawa. Apa jadinya jika tidak ada Hyemi, mungkin aku tidak bisa menjalani kehidupan normal seperti ini. Dia yang menemaniku pada masa-masa sulit, saat aku tak punya alasan bagaimana caraku untukku hidup. Mungkin jika Sehun adalah satu-satunya orang yang kuinginkan saat ini, Hyemi bisa mendapat predikat orang yang aku butuhkan.

“KYAA Lihat!” Pekiknya tiba-tiba. Sesaat kita memilih sebuah restoran dan menunggu makanannya datang, “Irene-yah, katakan padaku. Apa ini benar-benar Sehun?” Dia lalu menyerahkan ponselnya dan menunjukkan sebuah gambar padaku. Seorang laki-laki yang berperawakan tinggidengan rahang tegas yang sangat aku kenal sedang bersama seorang gadis. Mereka sedang berbicara sesuatu secara diam-diam sekalipun tidak kutemukan adanya kontak fisik diantara mereka.

“Ini benar Sehun, dan kau mengenal wanita ini?” Aku mengangguk. Jika kulihat dari tingginya, sudah tentu jika itu Naomi. Rupanya dia benar-benar membuktikan ucapannya kemarin, hanya saja aku tidak sadar akan secepat ini.

Oh Sehun benar-benar sialan. Bagaimana mungkin dia terperangkap dengannya begitu mudah. Tidak tahukah bahwa aku sangat-sangat membencinya?”

“Apa beritanya sudah menyebar luas?”

“YA! Sebelum beritanya menyebar apa sulitnya memberitahuku siapa gadis ini?” Katanya keras. Aku rasa Hyemi mulai emosi jiwa menghadapiku. Namun apa masalahnya, aku sangat-sangat malas membahasnya. Kukatakan padanya bahwa dia Naomi gadis yang mempunyai tekat tinggi untuk memiliki Sehun seutuhnya. Bahkan sebelum melaksanakan tekatnya, dia memintah izin dulu padaku, benar-benar lucu bukan?

“Lucu? Kau pikir ini lucu. Irene-yah, kau harus menjaga Sehun seketat mungkin. Jangan sampai dia tererangkap dalam jebakannya?”

Lucu! Bukan Naomi yang lucu kali ini melainkan reaksi Hyemi yang berlebihan mendengarkan ceritaku. Apa dia pikir Sehun anak TK yang patut dijaga, dia sudah dewasa.

“Kau tahu siapa yang mengirim foto ini, dia adalah sasaeng fans Sehun. Dia bahkan sudah mengetahui bahwa kau dan Sehun sebenarnya sudah menikah. Beruntungnya aku berhasil mencegahnya sebelum dia menyebar luaskan bukti itu. Sampai akhirnya dia sepakat untuk tutup mulut tentang pernikahanmu itu. Bukan berarti setelah menikah dia berhenti mengikutimu, dia malah semakin gila mengawasi kehidupan kalian berdua. Liatlah belum apa-apa saja dia sudah mengancamku, katanya ingin tahu siapa wanita yang ditemui Sehun diam-diam, jika tidak dia akan membocorkan semuanya.”

Giliran aku yang mengerjap tak percaya mendengar penjelasan Hyemi. Benarkah ada fans semaniak itu. Pantas saja jika selama ini aku merasa tidak nyaman saat bersama Sehun. Rasa seolah ada seseorang yang mengikuti layaknya malaikat maut. Dan, Oh god! Hyemi bilang sasaeng fans itu selalu mengawasi aktivitasku dan Sehun. Apa termasuk juga aktivitas dalam… Aisshh!!

“Irene-yah, kau mendengarku tidak!” Suara Hyemi menembus telinga dalam seolah memecahkan gendang telingahku.

“Apa? Apa yang kau bicarakan?”

“Kau harus menanyakan pada Sehun apa yang dibicarakan dengan gadis itu, jika tidak semuanya akan musnah!” Katanya yang sungguh berlebihan.

“Aniyo, aku mengerti!”

“Mengerti?”

“Ya, aku mengerti.”

“Jika mengerti cepat telepon dia sekarang!!!” Teriaknya yang semakin semakin gentar. Tak ada cara lain, aku langsung mengambil ponsel dari dalam saku dan segera kuhubungi nomer Sehun.

Melihatnya sepanik ini, aku menjadi curiga, jangan-jangan sasaeng fans itu Hyemi sendiri.

***

 

Sehun POV

“Sehun-ah, kemana saja kau, PD-nim mencarimu.” Ujar Jongin tanpa aku gubris. Sebelum aku sempat merebahkan tubuhku di kursi aku merasakan ketidakberesan dengan diriku sendiri. Tentu ini pengaruh sebelum dan sesudah aku bertemu dengan Naomi. Walaupun aku yakin, tidak ada satupun orang yang mengetahui aku menemuinya tadi.

Namun bukan itulah masalahnya.

Apa yang dikatakannya padaku adalah hal yang tidak benar-benar aku percaya. Sebuah mimpi buruk. Bahkan dalam tidur pun aku tak pernah bermimpi seburuk itu.

“Hyakk Sehun-ah…!” Tiba-tiba saja Chanyeol Hyung menghantamku dengan gulungan surat kabar tepat di kepala.

“Apa?”

“Kau tidak dengar, leader EXO menanyaimu, kau habis dari mana?” Sambunya berteriak. Kutatap Suho Hyung dengan pertanyaannya yang sedikit tidak pantas. Aku sudah besar, tentu tak ada urusannya jika dia menanyai keberadaanku.

“Hyung, apa jadwal kita setelah ini?” Tanyaku mengalihkan.

“Setelah ini kita akan melakukan fansign juga sedikit wawancara dengan radio Jepang. Barulah tadi pagi kita bisa pulang ke Korea.”

“Bolehkan jika aku pulang sekarang?” Tanyaku spontan yang langsung mendapat sorotan mata tajam dari para hyung-hyungku. Salah satu member, Baekhyun tiba-tiba berjalan kehadapanku sambil berdalih.

“Boleh jika kau seorang raja dan kami semua adalah pelayanmu. Tapi tahukah kau, tidak ada satupun diantara kita yang menjadi raja. Para fans EXO-L yang setia membeli album kita, menonton konser kita, mendukung kita, merekalah raja yang layak untuk kita. Kita yang sebenarnya adalah seorang budak. Kita memakan uang mereka, menyakiti mereka, membuat….-

“Baiklah hyung, tolong sampaikan salamku pada PD-nim.” Sahutku cepat. Mengambil masker dan juga masker yang tergeletak di kursi, aku pun langsung berlari keluar. Presetan dengan semua teori Baekhyun Hyung tentang raja atau budak. Bagiku aku lebih memilih menjadi budak yang bahagia dibanding raja yang diperbudak oleh perasaannya sendiri.

Untungnya tak perlu menunggu lama, helikopter milik keluargaku sudah tiba di landasan. Tentu aku tidak mau menghabiskan waktu dibandara untuk menunggu pesawat atau meladeni para fans-fansku yang kelewat jeli mengenaliku walau aku memakai masker. Lagi pula perjalanan dari Jepang ke Korea tidak terlampau jauh.

Dengan cepat aku segera naik ke atasnya, duduk disamping Paman Hong, pilot pribadi keluargaku. Keadaan langit sudah agak gelap sekarang. Ditambah suasana hari yang ramai dengan aktifitas orang-orang yang pulang kerja. Begitu lepas landas, aku langsung berlari keluar, memacu mobilku dengan cepat untuk sampai ke tujuan utama, rumah.

Kubuka paksa pintu rumah yang tadinya tertutup rapat. Tidak dikunci. Disana, kulihat Irene sudah tertidur berselonjor di atas sofa. Kutatap wajahnya dalam-dalam. Wajah seseorang yang begitu kucintai. Begitu cantik dan membuatku menjadi pria beruntung di seluruh dunia. Memandangnya seperti ini kadang membuatku berpikir, benarkah dia milikku? Benarkah dia mencintaiku? Kepastian itulah yang ingin kupastikan nanti.

Karena satu yang harus dia tahu, aku miliknya seperti dia memiliki dirinya sendiri. Dan akupun mencintainya lebih dari diriku sendiri.

“Sehun, apa ini kau?” Katanya sambil mengerjapkan mata. Kupaksakan diri untuk tersenyum, mengangguk sekilas juga membelai puncak kepalanya seperti biasa. “Kau bilang akan kembali besok?”

“Waeyo, kau tidak senang melihatku kembali sekarang?”

“Ani, bukan seperti itu…- Katanya tersenyum lantas memelukku erat. Pelukan tiba-tiba yang selalu saja membuat jantungku berdetak dua kali lipat dari biasanya.

“Apa ini? Aku tidak tahu kau memiliki benda semacam ini.” Tanyaku begitu melihat boneka anak anjing yang tadi dipeluknya sebagai teman tidur. Irene bukanlan sosok pecinta boneka. Setiap boneka yang diterima dari penggemar selalu ditaruh di ruangan khusus yang tak pernah ia sentuh.

“Bukan apa-apa.” Sedikit gugup dia merampas boneka yang sudah kupegang. “Lagi pula ini bukan milikku.”

Benar. Dia menyadarinya jika ini bukan miliknya. Begitupun aku yang sudah tahu namun berpura tak tahu tentang itu.

“Sehun-ah, lihatlah aku bersama Hyemi tadi membuat pasta. Kau harus mencicipinya yah?” Katanya menuju dapur bahwa yang sebenarnya dia ingin mengalihkan diri.

“Benarkah, kemana dia sekarang?”

“Dia sedang keluar. Kekasihnya menelpon ternyata dia juga ada di Seoul. Kau harus minta maaf padanya nanti. Kalau saja kau tahu bagaimana dia memarahiku kemarin. Menyuruhnya datang tapi tidak menyuruhnya masuk. Kau pikir itu lucu Hey… Sehun apa yang kau lakukan?” Katanya bergidik saat aku tiba-tiba merangkul tubuhnya dari belakang. Kuhirup aromanya dalam-dalam sekalipun dia agak kurang nyaman.

“Aku mencintaimu….” Kataku lirih. Tak ada jawaban. Hanya senyuman lembut yang ia tunjukan padaku.

Selamanya, ini membuatku sadar bahwa aku tak bisa berharap lebih padanya.

***

Irene POV

Ada yang aneh dalam diri Sehun. Walaupun keanehan itu tidak dapat aku definisikan namun naluriku menyadari adanya perubahan itu. Sehun yang ku kenal adalah sosok yang ceria. Selalu menggodaku dengan kata-kata lucu atau sekedar bermanja-manja ingin selalu bersamaku. Namun Sehun yang sekarang, telah menjelma sebagai sosok yang super sibuk. Hanya untuk meluangkan waktu untukku saja dia jarang apalagi berbicara panjang seperti dulu. Satu-satunya yang dia ucapkan hanyalah selamat pagi, yang ia ucapkan sebelum berangkat ke dorm. Pulangnya entah kapan, aku sering ketiduran menungguinya.

Aku tahu kesibukan dengan member EXO mungkin yang menjadi alasan. Bahkan tak masalah saja buatku jika aku di nomor duakan untuk EXO. Namun tidak demikian dengan kata hatiku. Tetap ada yang berbeda. Ada yang berubah.

“Tidakkah kau melihat, ada yang aneh dari diri Sehun.” Curhatku pagi ini kepada Hyemi. Sehun baru saja mengucap selamat pagi padaku dan pamit menuju dorm. Tanpa kata-kata lain. Hanya dengan senyum yang kurasa- dipaksakan.

“Ya.”

“Apa kau juga merasakan perubahannya?” Tanyaku.

“Tentu saja, karena semakin hari dia semakin tampan. Aku bahkan selalu berdoa jika suatu hari nanti aku mempunyai suami seperti dia.” Kata-katanya yang menjijikkan mendorongku untuk memukul kepalanya dengan sendok.

“Appo. Kenapa memukulku?” Pekiknya.

“Kau tahu, tidak seharusnya kau memuji suami orang di depan istrinya sendiri?” Protesku.

“Setidaknya aku terang-terangan memuji, bukan terang-terangan merebut suami orang seperti wanita Jepang yang pernah kau ceritakan padaku itu. Siapa namanya, Nao… Nao… Naobita yah, aku lupa.”Ucapannya yang salah membuatku tak bisa lagi menahan tawa. Benar. Si Naobita versi wanita itu tidak seharusnya dia merebut Sehunku secara terang-terangan.

“Kau sudah menanyakan pada Sehun tentang masalah kemarin?” Tanya Hyemi tiba-tiba. Membicarakan Naomi rupanya membuatnya ingat tentang masalah yang sempat aku lupakan itu.

“Ani. Aku tidak sempat.”

“Kenapa tidak kau tanyakan saja langsung. Kau tahu, sasaeng fans ini terus memburuku supaya cepat memberikan penjelasan. Jika tidak dia akan menyebar foto itu ke media masa. Termasuk juga berita tentang pernikahanmu.”

Yayaya… Hyemi mulai lagi. Masa bodoh tentang sasaeng fans itu, management SM pasti bisa mengatasinya.

“Kau bilang tadi ada yang berbeda dalam dirinya, apa mungkin itu karena keberadaanku disini?” Ujarnya begitu tiba-tiba.

“Aniyo, bukan itu maksudku.” Sahutku cepat. Sama sekali tak terbesit pikiran seperti itu dalam benakku. Dia adalah sepupu yang sudah kuanggap seperti saudara.

“Tenanglah Irene-yah, aku seorang yang sangat pengertian kok. Nanti malam, kekasihku akan menjemputku. Jadi untuk dua hari ke depan aku mungkin akan tinggal bersamanya di hotel.” Dia tersenyum centil. Seperti membayangkan apa saja yang akan dilakukan bersama kekasihnya nanti. Aku sendiri pun belum mengenal jelas siapa kekasih barunya kali ini karena alasan yang tak logis, “Jika aku mengenalkannya padamu tentu kekasihku itu akan naksir padamu.” Begitulah katanya.

“Hey, kalau kau tak disini, siapa lagi yang jadi temanku?”

“Kau tahu, akan bahaya jika kau terlalu mempercayaiku. Aku ini tipe teman yang bisa makan teman!” Aku tertawa mendengarnya. Meskipun harus kuyakini juga bahwa Hyemi bisa saja menjadi seorang yang seperti itu. Lalu tanpa kusadari handphone berdering. Sebuah panggilan dari Sehun.

“Lihat teleponmu berbunyi, mana Sehunmu yang kau katakan telah berubah itu?” Sindirnya sebelum aku menjauh ke tempat agak aman untuk menjawab teleponnya.

“Sudah merindukanku rupanya?” Kataku mengawali. Jika selama ini dirinya terbiasa menggodaku, apa salahnya jika aku yang menggodanya lebih dulu.

“Irene-yah, apa kau di rumah, kukira berkasku ketinggalan di meja makan tadi.Bisa tolong kau carikan?” Tanyanya jauh dari prespektifku. Benar bukan, Sehun sekarang berubah. Dulu dia selalu menyempatkan membalas ucapanku dengan sama romantisnya sebelum sempat menannyakan ke bagian inti.

“Ya, aku melihatnya. Kau mau aku mengantarkannya untukmu?” Tawarku.

“Tidak. Aku hanya ingin memastikan saja. Aku akan pulang dan mengambilnya sendiri.”

“Mengapa begitu, kau sudah sampai bukan? Biarlah aku yang mengantarkannya sendiri untukmu. Lagi pula jarak ke dorm tidak terlalu jauh.”

“Irene-yah, aku sama sekali tak mau merepotkanmu.”

“Sama sekali tidak Oh Sehun!” Ujarku sedikit penekanan. Kuambil setengah napas dan mencoba mengendalikan suasana. “Tunggulah disana, aku akan mengantarnya.”

Kututup telepon itu kemudian beralih ke meja makan untuk mengambil amplop kertas yang Sehun minta. Seperti kataku, aku akan mengantarkannya ke dorm sekalipun dia menolak.

“Tunggulah disini, aku akan ke dorm EXO sebentar.” Kataku pada Hyemi. Begitu sampai di depan pintu, tiba-tiba timbullah rasa kecurigaanku pada berkas yang kubawa. Apa isinya sampai-sampai Sehun bersikeras untuk mengambilnya sendiri. Seolah bahwa berkas ini tak boleh disentuh siapun selain dirinya. Mungkinkah ini berisi jadwal atau kontrak kerja EXO. Lalu untuk apa dia menyimpannya, statusnya hanyalah maknae di grup, bukan manajer ataupun leader.

Ah sudahlah…. Apa salahnya jika aku membukanya dahulu. Aku kan istrinya. Namun, jauh dari dugaan, dalam berkas itu hanyalah berisi secarik kertas dengan judul di atasnya, “INVESTIGASI KEMATIAN OH JAEHYUN”

Bukan karena aku tak tahu siapa Oh Jaehyun. Dia yang tak lain adalah kakak Sehun yang meninggal dua tahun yang lalu akibat kecelakaan mobil yang dikendarainya. Seketika lututku terasa lemas dan semua tubuhku gemetar. Ini sudah berlalu sejak lama, tapi mengapa dia ingin menyeledikinya kembali. Seolah membuka kembali luka yang terbungkus rapi.

“Irene, ada apa?” Sebuah suara tiba-tiba mengagetkanku. Sehun yang sudah berdiri di ambang pintu, melihatku tertunduk seperti orang yang sedang ketakutan.

“Sudah kubilang, aku yang akan mengambilnya sendiri, kau tak perlu repot-repot mengantarnya.” Sambungnya sambil merebut berkas yang kubuka. Kembali memasukkannya ke dalam amplop.

“Ma-ma-maaf, aku membukanya.” Kataku. Sekalipun kutahu Sehun tak akan marah mengenai hal itu.

“Gwanchana, kau kan istriku, tidak seharusnya aku menyembunyikan sesuatu darimu bukan?” Sehun tersenyum.Menuntunku untuk kembali ke dalam rumah. Bersamaan itu Hyemi yang rupanya kaget akan kehadiran Sehun memutuskan untuk berlalu ke dalam. Membiarkan aku dan Sehun hanya berdua.

“Kau sakit?” Tanyanya mengambilkan segelas air untuk kuminum. Benarkah aku terlihat pucat. Tidak, aku tidak boleh sepucat ini di depannya. Belum waktunya untuk memberitahu dia tentang sesuatu.

“Irene-yah….” Dia bertanya lagi.

“Hemmb…?”

“Apa ada yang ingin kau katakan padaku?”

Aku menggeleng, “Tidak ada?” Padahal aku ingin bertanya mengapa Sehun membutuhkan berkas itu. Apa yang ingin dilakukannya dan apa pula yang ada dipikrannya saat ini.

“Jika tidak, kuantar kau ke kamar. Kelihatannya kau agak kurang sehat.” Aku mengangguk. Kubiarkan Sehun untuk menggendongku ke kamar. Mungkin dengan sedikit istirahat bisa menormalkan kondisi badanku.

***

“Sehun-ah, tumben kau kesini?” Sapa Yesung Hyung begitu melihatku masuk bersama Donghae Hyung juga Jongin pada cafe Mouse n Rabbit miliknya yang sudah mulai tutup.

“Aku hanya ingin mampir Hyung.” Jawabku ringan. Bergegas duduk pada bangku pojok yang menjadi langgananku jika aku kemari, Jongin segera membuka-buka menu pada daftar makanan.

“Tolong siapkan makanan paling enak disini karena hari ini Sehun yang akan menraktir.” Ucapnya yang seketika mataku melotot.

“Aku hanya mengajakmu, bukan mentraktirmu.”

“Bukankah itu dua hal yang saling berkaitan. Kau mengajakku, sudah tentu kau yang bertanggung jawab atas situasi perutku.”

“Aisshh… sudalah hari ini kalian tidak usah bayar.” Sahut Yesung Hyung. Membuat antara aku dan Jongin saling berpandangan tak percaya, “Benarkah?”

“Tunggu, kau tidak menyuruh mencuci piring sendiri kan?”

“Tentu saja tidak.”

“Kalau begitu cepat, aku sudah lapar sekarang Hyung!” Perintah Jongin. Terbanyang olehnya sajian ttaeboki lezat dibalut sause keju. Padahal yang kutahu dia baru saja makan tadi.

“Sebentar, hanya saja, kalian harus menunggu pelanggan itu selesai dulu, nanti akan kuhidangkan kalian sisanya.”

Yesung Hyung langsung tertawa meninggalkan kita yang bertatap muka menyadari ketololan yang baru saja terjadi. Harusnya dari awal aku sudah menyadari itu tidak akan terjadi. Yesung Hyung adalah tipe orang yang maaf, -pelit. Mungkin kelak aku akan menyuruh Suho Hyung membangun cafe agar aku bisa kesana dengan gratis.

“Pergi selarut ini, apa Irene tidak mencarimu?” Tanya Donghae Hyung memecah keheningan.

“Entahlah, aku sedang suntuk di rumah dan ingin jalan-jalan sebentar dengan kalian.” Jawabku seperlunya. Mungkin jika dihitung ini adalah kesekian kalinya aku pulang larut. Padahal jadwal EXO tidak seberapa sibuk.

“Suntuk? Bukankah kau mendapat pelayanan spesial setiap malam darinya?” Jongin menimpali.

“Sudahlah aku tak ingin membahas itu sekarang.” Rasanya malas jika membahas hal-hal seperti itu pada situasi sekarang. Entalah aku juga tak mengerti mengapa Jongin semakin hari semakin menjijikkan.

Prookk! Satu pukulan kecil dari gulungan surat kabar mendarat di kepalaku, “Kau tak memanggilku Hyung lagi?”

“Hyung yang kukenal tidak pernah memberi pengaruh buruk bagi dongsaengnya, lagi pula kau hanya tiga bulan lebih tua dariku.”

“Sudahlah, memang susah berdebat denganmu.” Ucapnya menyerah. Kembali fokus pada handphonenya sekaligus menunggu makanan datang.

“Sehun-ah, jika aku boleh memberimu saran, kau harus pulang ke rumah. Tak baik meninggalkan wanita sendirian.” Timpal Donghae Hyung.

“Hanya sebentar Hyung, lagi pula ini takkan lama.” Donghae Hyung menggeleng tanpa berucap apapun. Pertanda bahwa srannya ini benar-benar serius dan tak boleh kulanggar. Bagaimanapun aku sudah menganggap Donghae Hyung sebagai saudaraku sendiri melebihi saudara kandungku.

“Hei, apa kau khawatir dengan makanan sisanya, kau bisa menyuruh Yesung Hyung membungkuskannya untukmu.” Kuputar bola mata jengah. Kim Jongin yang kukenal ternyata bisa juga berkelakuan nista seperti ini. Beruntung Krystal tidak disini.

“Baiklah, aku akan pulang sekarang?” Ucapku segera. Kuraih mantelku dan memakainya lantas melangkahkan kakiku menuju pintu keluar. Sebelumnya kudengar bisikan Donghae Hyung yang mengatakan bahwa kita bisa kemari lagi pada waktu yang tepat.

Sekitar pukul 02.00 mobiku sudah berada di perantara rumah. Lampu masih terang benderang pertanda sang pemilik rumah masih terjaga. Tidak peduli atas apa yang dilakukannya malam-malam begini sehingga belum tidur. Dua buah tangan sontak menutup kedua mataku dan tentulah aku sangat tahu siapa pelakunya.

“Beri aku password.” Ucapnya tiba-tiba. Kukira aku bisa memahami permainan barunya.

“EXO We are One?”

“Ckk, kau sudah seharian ini bersama EXO apa itu masih kurang? Pasword salah!”

“Baiklah, Irene? Bae Joo? Red Velved? Irene yang cantik? Irene yang baik? Irene sexy…-

“Sudah-sudah hentikan, semua paswordmu salah semua.” Ujarnya kesal tapi belum mau melepaskan tangannya. “Beri aku tiga kata, sesuatu yang romantis.”

i love you.”

Perlahan, tangan itu terlepas dari wajahku hingga aku melihat sebuah senyum sumringah dari wajahnya. Dia kemudian mengarahkan tubuhku pada meja makan. Berbagai jenis makanan yang sudah tertata rapi dengan sebuah lilin di tengah-tengahnya. Sebuah moment yang bisa dikatakan jarang untuk kami berdua. Irene tidak mungkin memasak sebanyak ini jika tidak dalam rangka merayakan sesuatu.

“Aku sengaja, menyiapkan semua ini untukmu, makanlah!” Katanya lantas menyiapkan piring untukku. Menghidangkan gogigui makanan yang jelas-jelas menjadi kesukaanku.

“Sebenarnya dalam rangka apa kau memasak sebanyak ini?” Tanyaku.

“Aku tidak memasaknya, aku membelinya.” Jawabnya tepat seperti dugaanku. Kami pun melanjutkan makan meskipun makanannya agak dingin. Kutebak dia pasti menunggu terlalu lama untuk kepulanganku.

“Sehun-ah, boleh aku mengatakan sesuatu?”

Aku mengangguk, “Katakanlah.”

“Mungkin aku sadar selama ini aku tidak berbuat banyak hal untukmu. Ditengah kesibukan kita yang semakin padat aku sadar bahwa kita mulai jarang menikmati waktu luang bersama. Jadi untuk kali ini, aku ingin berbuat sesuatu untukmu sekalipun itu tidak banyak. Aku hanya ingin menikmati waktu lebih lama bersamamu, kau tahu.”

Itu adalah kalimat terpanjang yang pernah dia ucapkan padaku. Pada setiap katanya, aku menyadari adanya ketulusan juga kesedian karena tak bisa berbuat banyak. Keadaan yang sekarang sudah berubah, tak mungkin semuanya harus dipertahankan.

“Maafkan aku.” Ucapku lirih.

“Untuk apa?”

“Untuk usahamu yang meluangkan waktu untukku dan aku tidak!”

Irene tersenyum, “Aku bisa memakluminya, bukankah EXO lebih terkenal dibanding Red Velvet?” Dlam situasi yang seperti ini dia masih menyempatkan untuk tertawa.

“Kau boleh memilih waktu untuk kita agar bisa berjalan-jalan seharian.”

“Benarkah?” Matanya bersinar. Seolah bahwa ini puncak keinginannya yang dipendamnya sejal lama.

“Aku akan meminta uzun pada manajer Hyung, kurasa dia bisa memakluminya.”

“Bagaimana jika besok, aku akan meminta izin pada manajer untuk meliburkanku juga?” Ucapnya berapi-api.

“Kenapa besok?”

“Karena besok adalah hari pertama saat aku melihatmu.”

“Oh jinjja?” Tukasku tak percaya. Aku benar-benar lupa hari itu.

“Tentu, aku selalu mengingat hal sekecil apapun dari kita. Bagaimana denganmu, kau pasti tak ingat kapan pertama kali kita berjumpa selain di Gedung SM?”

“Aku hanya ingat pertama kali jatuh cinta padamu.”

“Sehun… kau mulai lagi.” Ucapnya manja lalu melanjutkan makannya.

***

Paginya, aku masih menunggu di dalam mobil. Melihat wajah Irene yang tampak sumringah membuatku tak tega untuk melakukannya lebih. Memang sudah lama kita tidak menghabiskan waktu berjalan-jalan berdua, Sebelum kesibukan yang semakin padat sudah tentu jika ini adalah moment yang pantas dinantikan.

Tapi, bagaimana jika ini tak berjalan dengan semestinya?

Jika kukatakan suatu hal lainnya, bisakah aku melihatnya lagi dalam keadaan berbeda? Aku kawatir jika semakin lama aku menyembunyikannya membuat dia semakin melupakan.

“Kau siap?” Tanyaku begitu Irene menutup pintu mobil dan duduk disampingku. Dia memakai pakaian warna kuning cerah, dengan topi bulat yang menutupi kepala.

“Aku sudah menantikan ini sejak lama, chagi?” Jawabnya tersenyum lebar. Ia sodorkan sebuah kertas kepadaku, membuatku bertanya-tanya, “Apa ini?”

“Daftar tempat yang aku kunjungi. Yan jelas, aku ingin ke pantai, makan haejangguk bersamamu juga ke pasar. Oh iya, pastikan kita akan pulang sebelum malam karena manajerku bilang ada sesuatu yang penting dan harus di bahas nanti.”

Sesaat, bibirku membentuk kurva tipis yang kutujukan padanya. Aku rasa akhir-akhir ini dia semakin cerewet. Bukannya aku tak menyukainya, hanya saja mengunjungi tempat sebanyak ini dalam waktu sehari, itu tidaklah cukup.

“Apa itu terlalu banyak?” Tanyanya menyadari kesalahannya sendiri.

“Aku pikir begitu. Kita hanya punya waktu sehari dan akupun berencana mengajakmu ke suatu tempat.”

“Benarkah, kalau begitu kenapa tidap kau ajak saja aku kesana?”

Kuarahkan pandangan menatapnya sebelum mesin mobil menyalah. Sekedar merapikan untaian rambut Irene yang jatuh menutupi wajahnya, “Kita kunjungi sebagian tempat dari daftarmu dulu, baru kita kunjungi tempat itu, arraseo?”

Irene mengangguk. Lantas memeluk lenganku dan menyandarkan kepala di pundak. Saat itu pula, deru mesin mobil sudah menyalah dan memaksaku memacu ke jalanan. Suasana jalan yang sedikit ramai memaksaku untuk tetap berkonsentrasi. Sekalipun Irene dengan mesranya memaparkan cerita-cerita lucu agar membuatku tertawa.

Sekitar 45 menit, mobil akhirnya memasuki area reservasi pantai. Irene langsung menghambur diantara pasir-pasir putih dan lautan biru. Sesekali mengejar ombak yang perlahan datang dan pergi. Lekas kuambil lensa kameraku, mengabadikan moment spesial yang mungkin akan jarang aku lihat lagi. Bahkan tidak mungkin.

“Sehunnah, kemariii..!!” Teriaknya keras. Tanpa menunggu, Irene langsung menarik bajuku, menarikku di bibir pantai. Bersamaan itu ombak telah datang dan membuatku seketika basah kuyup.

Saat itu, kulihat tawanya semakin lepas. Tersadar bahwa inilah pertama kali aku membuatnya tertawa. Setelah sekian lama berada dalam ketidak pastian akan dirinya juga semua hal yang tidak semstinya aku dapatkan. Cukup hanya melihatnya seperti ini membuatku tersadar, aku tak bisa memilikinya selamanya.

“Kau bahagia?” Kugenggam erat tangannya, kepalanya mengangguk pelan. Dengan gerakan cepat, kuangkat tubuh mungil itu dan berpura-pura melemparnya ke lautan lepas.

“Sehun… lepaskan aku, apa yang kau lakukan?”

“Katakan kau mencintaiku?”

“Tidak mau, kau yang harus mengatakannya dulu.”

“Benar tidak mau mengatakannya?” Dia tetap menggeleng. Tidak mengerti bahwa ini bukanlah permainan yang dia kira. Tiga kata menyakitkan justru keluar dari mulut kecilnya itu, “Sehun, i hate you.”

BYUURRR!!!

Tubuh itu terlepas begitu saja dari tanganku. Membuatnya sedikit terkejut lantas tertawa dengan sendirinya. Lalu dengan langkah cepat, aku membalikkan tubuhku. Berjalan menjauhinya sebelum dia berteriak keras padaku, “Sehunnn… I love you!!!”

Terlambat. Sebuah pernyataan yang sia-sia. Harusnya dia mengatakannya sebelum aku mengetahui semuanya. Dengan begitu mungkin kebencian tak akan mencekikku dengan keras

***

“Apa kau akan mengajakku ke tempat itu sekarang?” Tanyanya begitu kita dalam perjalanan setelah bersenang-senang di pantai tadi. Seperti rencanaku aku akan mengajaknya ke suatu tempat yang mungkin tidak akan dia kira. “Aku penasaran dimana tempat itu?”

“Keluarlah, sudah sampai.” Ujarku menghentikan laju mobil di sebuah tempat yang sudah berjajar banyak mobil pula.

Sedikit bingung, Irene memandangku tak mengerti. Sebuah tempat yang jauh dari kata menyenangkan ataupun menakjubkan. Pada saat langkah kaki itu pertama keluar dari mobil, kukira dia sudah menyadari bahwa tempat ini, tempat pertama kali kita bertemu.

Pemakaman….

“Sehun-ah, kenapa kau membawaku kesini?” Ucapnya sedikit takut.

“Hari dan tempat pertama kali kita bertemu, bukan?” Ucapku sinis, “Pemakaman kakakku.”

Flashback

            “Jadi kenapa kau memanggilku kemari?” Tanyaku pada Naomi. Bukannya menjawab, gadis itu langsung memelukku erat.

            “Aku merindukanmu, tidak bisakah aku memelukmu sebentar?”

            “Lepaskan!” Elakku. Sungguh aku merasa risih dengan perbuatannya itu. Bukan karena dia melakukannya di tempat terbuka namun dia memeluk seseorang yang seharusnya tidak pantas. “Tolong jangan main-main, aku sungguh tidak punya waktu luang.” Sahutku jujur. Mengingat pesan singkat yang dikirimnya padaku benar-benar membuatku penasaran. Jika dia memanggilku hanya untuk bermain-main sudah tentu aku akan meninggalkannya bukan? Bahkan hanya untuk menemuinya saja aku harus pergi diam-diam tanpa sepengetahuan member lain. Dan Irene pastilah akan marah jika mengetahui perbuatanku ini.

            “Baiklah, jika kau memaksa….” Gadis itu tersenyum merogohkan salah satu tangannya pada saku mantelnya. Sejenak dia mengeluarkan selembar foto lantas diserahkannya padaku. Foto sepasang kekasih. Dua orang yang benar-benar membuatku terlonjak.

            “Dari mana kau mendapatkannya?” Tanyaku tak percaya.

            “Kau tak perlu tahu Oppa, Cuma wajah dua orang itu tentu sangat familiar denganmu bukan? Irene istrimu dan Oh Taejun, kakakmu.”

            Segera kupalingkan wajahku darinya. Menatap foto itu sekali lagi pada foto yang kupegang. Entah mengapa tanganku tiba-tiba bergetar memegangnya. Tidak. Ini tidak mungkin. Kakakku sudah meninggal tujuh tahun yang lalu. Dan aku pun baru mengenalnya empat tahun silam. Jika memang mereka menjalin kasih, tentu ini sebuah kebohongan.

            “Dulu mendiang kakakmu dan Irene adalah sepasang kekasih. Mereka berkenalan saat kakakmu berada di Daegu dan menjalin hubungan kurang lebih tiga tahun. Hubungan mereka berjalan baik sekalipun mereka berbeda tempat. Sampai akhirnya, ya… seperti yang kau ketahui, Irene menjadi seorang trainne kemudian pindah ke Seoul.” Ujarnya. Ya aku mengetahuinya. Kakakmu memang pernah tinggal di Daegu untuk menjalankan bisnis keluarga. Hanya saja dia tidak pernah cerita bahwa dia memiliki kekasih atau belum.

            “Kau tahu apa selanjutnya yang terjadi Sehun. Kau sudah tentu mengetahuinya, eommamu menyuruhnya cepat-cepat menikah dengan menjodohkan dia dengan wanita lain. Kakakmu menolak dan meminta Irene yang menikah dengannya. Tapi Irene menolak, dia lebih mementingkan predikat trainne-nya dibanding kakakmu itu.” Katanya yang sontak membuatku diam menunggu penjelasan selanjutnya.

            “Malam itu, kakakmu frustasi. Dia mengancam Irene dengan hubungan mereka yang harus berakhir. Tapi Irene seolah tak peduli dan memilih mengakhirinya. Kakakmu pergi ke club dan minum banyak sekali, dia pulang dalam keadaan mabuk hingga akhirnya mengalami kecelakaan. Kau tentu sudah tahu itu kan Sehun.” Dia mengakhiri ceritanya, menatapku yang masih setia memegang foto kecil itu. Masih belum percaya akan cerita itu benar ada adanya sekalipun penjelasannya begitu runtut di otakku.

            “Kau harus percaya padaku Sehun, dari awal aku sudah menduga dia tidak baik bagimu. Untuknya aku rela menyewa detektif hebat untuk menyelidiki masa lalunya. Bahkan kalau kau mau aku bisa memberikan bukti yang lebih kuat lagi.” Kata Naomi seolah-olah menuntut kepercayaan dariku.

            “Berikan padaku!” Tukasku cepat. Memastikan bahwa dia benar-benar memilikinya. Lantas dia pun mengeluarkan beberapa lembar foto lagi. Begitu banyak foto tentang kebersamaan mereka. Foto di hari kelulusan Irene, saat valentine, saat mereka berada di Seoul. Begitu banyak foto hingga membuat mataku semakin merebak. Bodohnya aku yang tidak mengetahui semua ini sejak awal.

            “Sehun, ini ada bracelet yang kakakmu berikan saat hadiah kelulusannya, aku menemukannya di rumah lama Irene. Berikan padanya dan lihatlah bagaimana reaksinya. Dan kalung ini…- Dia menunjuk kalung di lehernya sendiri – Aku sudah tahu jika ini dari kakakmu. Jadi tolong percayalah padaku, aku tdak mungkin membohongimu.”

            Tak kusangkah Naomi mengatakannya hampir menangis. Bahkan akupun tak mengerti apa alasan dia menangis. Seharusnya akulah yang menangis disini. Merasa terhianati, tersakiti. Sekalipun setengah mati aku berusaha menentangnya, bukti foto-foto itu sudah cukup kuat untukku.

            “Seandainya dia menerima pinangan kakakmu, tentu hal ini tidak akan terjadi bukan?” Katanya terisak, mengingat saat-saat yang terlewatkan yang dulu sempat dia rasakan pula bersama kakakku.

            “Dia bukan hanya penyebab dari musibah itu Sehun, tapi dia seorang pembunuh. Bagaimana bisa kau menikah dengan pembunuh itu Sehun. Kau seharusnya tidak membiarkannya berada di dekatmu, mengapa kau lakukan ini???”

            Flashback end

“Pembunuh….” Ucapku parau. Dia sedikit tersentak dengan kata yang kuungkapkan barusan lantas mendekat padaku dengan tatapan yang benar-benar kosong.

“Coba katakan lagi, kau menyebutku apa barusan?” Ujarnya tak kalah parau. Air mata semakin deras takkala dia menatapku. Dulu aku yang sempat berjanji pada diriku sendiri untuk tak membiarkan air mata itu menetes lagi. Tapi apa yang kulakukan sekarang? Justru aku adalah alasan mengapa air mata itu keluar.

“Kau membunuh kakakku….” Kataku mengulang. Kupalingkan muka ke arah lain karena tak sanggup membuatnya seperti ini.

“Kau benar… aku yang membunuhnya.” Ujarnya yang seketika membuatku terlonjak. Apa ucapannya itu dia tunjukan sebagai pengakuannya? Kutarik bahunya dengan paksa. Mendekatnya benar-benar ke arahku.

“Lalu mengapa kau melakukannya? Apa kau tahu kesulitan apa yang kuhadapi setelah kepergiannya? Eomma bahkan harus dirawat di rumah sakit karena depresi dan appa-ku terpaksa harus mengurus sendiri urusan bisnisnya. Semua orang bahkan bersedih karenanya tapi kau malah…- Rasanya aku tak sanggup meneruskan perkataanku. Aku bahkan tak sadar bahwa dia sangat kesakitan atas perlakuanku barusan.

“Tujuh tahun…. Kau tahu, tujuh tahun aku berpisah dengannya. Aku selalu berpikir dia orang bodoh yang mengemudi dalam keadaan mabuk. Tapi setelah aku mengetahuinya ternyata akulah orang yang lebih bodoh darinya….” Satu tetes air mata terjatuh dari pelupuk mataku. Kurasakan air mataku benar-benar mulai merebak. Tuhan… apa rasanya sesakit ini. Apa yang dia lakukan padaku justru tak sebanding dengan kebahagiaan yang telah berakhir itu.

“Sekarang aku tahu alasanmu menerima pernikahan ini.” Kataku berpaling.

“Tidak Sehun, kumohon jangan katakan itu.” Dia menarik tanganku.

“Lalu apa? Kita sama-sama tak saling mengenal bukan, kau datang tiba-tiba dan menyetujui pernikahan ini. Bahkan sebelum aku mengenalmu dengan mataku sendiri kau sudah mengatakan ya untuk pernikahan ini bukan?”

“Kumohon jangan bertanya itu lagi, itu kulakukan karena aku mencintaimu….” Katanya menggigit bibir. Benar-benar alasan basi.

“Cinta? Bagaimana dengan kakakku, mengapa kau tak menikah dengannya sekalipun kau mencitainya. Kau menyia-nyiakannya bukan. Lebih memilih mimpimu yang berharga itu tak peduli bahwa keselamatan jiwanya lebih… Brukk!” Suara tubuh gadis itu yang tiba-tiba ambruk di depanku. “Irene… Irene-yah, apa yang terjadi. Bangunlah?”

***

 

Anneyong, sebelumnya maaf nunggunya kelamaan yah? Sesuai janji, konflik hadir pada chapter ini. Jadi buat para Hunrene siap-siap galau yah? Untuk part selanjutnya, janji deh gak bakal lama lagi. Mumpung kouta mood aku lagi lancaaarrrr… hehehe

Buat yang udah baca dimohon nyempetin diri buat komen. So. Komenan anda sangat membantu dalam kepenulisan saya ke depan. Atau yang nggak sempet, silahkan tinggalkan like trus komenannya di akhir chapter hehehe. See you J

22 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Proposal Married – (Chapter 06)

  1. Sehun kejam ya, masa iya nyuruh hyemi nunggu lama gitu wkwk
    Kayaknya sehun emang sengaja ninggalin berkas itu, huh kepercayaaan diantara mereka mulai rusak
    Wkwk masalah sebenarnya belum tentu tapi udah marahan kayak gitu
    Semangat thor nulisnya

  2. Eonni, kenapa bersambungnya disitu sih, ahhh.. aku gak bisa nunggu lama lama nih, ceritanya seru banget, hampir mewek gue 😣

  3. Sejujurnya aku inget2 lupa sm jalan ceritanya thor😂 karena dirimu lama sekali tidak muncul dgn ff ini😄 dann uhhhhh, aku udh mau mewek eh malah tbc-_- kumohon jgn lama2 thor, aku bnr2 nunggu kelanjutannya😄 dan ga sabar kelanjutan konfliknyaa. Pinginnya sih konfliknya panjang gitu thor wkwk. Karena aku termasuk suka ff yg banyak konflik wkwk. Okelaah, ku tunggu lanjutannya thor, semangattt😙😙

    • hohoho… nungguin ff ini udah kayak nunggu jodoh yah??? udah dilanjut kok say, cuma nunggu adminnya ngepost aja.
      Nggak tega, bikin konflik panjang2. ini malah, rencananya bakal aku tamatin di chapter 8 thanks for red..:)

  4. jadi gitu? satu sisi aku ikut ngrsa dikhianati tapi disisi lain aku juga ikut ngrsain gimana jadi irene. sbnrnya naomi itu mau apa sih? jan ganggu kehidupan org lainlah! pliss mereka jan sampe berantem apalagi… gak! gakbisa bayangin.😥😥 huhuhu. next chapter authornim! fighting^^

  5. ya ampun kenyataan sungguh menyakitkan…kenapa jadi begini…ahhh pikiran bumpet ini…
    kasian semuanya..gk tau siapa yg musti aku salahin…authornya mungkin, karna dia yg bikin cerita…huaaaaaaaaaa /nangis kepelukan sehun///

    okeee …jngn lama dong updatenya…mumpung lg seru”nya loh ini

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s