[EXOFFI FREELANCE] HATER X FAN (Chapter 8)

hxf

Tittle : HATER X FAN

Author : Choco(L)ate

Main Cast : Krystal Jung | Kim Jongin (Kai) | Park Chanyeol | Bae Irene

Genre : Drama, Sad, Romance, AU

Rating : PG 15+

Length : Chaptered

Disclaimer : This is my story. Don’t be Plagiarism!

Really nice poster Art by Kak IRISH @ Poster Channel

[Previous Chapter]

#Chapter 8

-ooo-

Manager Shim menyilangkan kedua tangannya di depan dada seraya terus menatap  skeptis Kai yang tengah sibuk dengan ponselnya di atas sofa, yang entah mengapa senyum yang terlukis di wajah pria tan itu menurutnya nampak idiot. Dengan rasa penasaran akhirnya ia ikut bergabung disana, tepat di sofa yang bersebrangan dengan Kai.

Menyadari dirinya terus diperhatikan, Kai menoleh.

“Kau menonton film dewasa?” Ujar manager Shim tiba-tiba, membuat Kai terdiam untuk beberapa saat. Tapi kemudian ia tersenyum miring.

Kai mencondongkan tubuhnya, menggerakan jari agar managernya ikut mendekat. “Ini bahkan lebih panas.” Ujarnya setengah berbisik, membuat manager Shim tertawa canggung sebelum menarik tubuhnya agar kembali tegak. “Aigoo.. kau sudah dewasa ternyata. Kalau begitu aku harus bergab–“

Andwaeyo” Dengan cepat Kai mendorong tubuh managernya yang hendak bangkit dari tempatnya. Ia tertawa hambar dengan ekspresi tak percaya. “Aku tidak sepertimu.Dasar mesum.” Kai kembali mengalihkan pandangannya pada ponsel.

“Tck! Kau hanya tidak mau mengakuinya. Semua pria sama saja.” Ejeknya.

Hening beberapa saat. Kai kembali sibuk dengan ponsel dan senyum bodohnya, membuat manager Shim benar-benar penasaran. “Kau sudah berbaikan dengan Irene?”

Seketika ekspresi Kai berubah datar. Ya, benar, apa dia sudah berbaikan dengan Irene setelah hari itu? Hari dimana ia berbicara sangat keras padanya. Dirinya bahkan hampir lupa.

“Tidak usah dijawab. Ekspresimu itu jujur sekali.” Ujarnya kembali dengan nada mengejek. Lagipula apa yang tak ia ketahui tentang Kai dan Irene? Pria merana yang cintanya bertepuk sebelah tangan. Malang sekali, batinnya.

“Kau bertemu dengannya?” lirih Kai.

“Yaa, sepertinya dia terlalu bekerja keras. Bahkan tadi ia bilang semalam ia menginap di kantor.” Jawabnya acuh.

Matanya memang tertuju pada ponsel, berbeda dengan pikirannya yang tengah tertuju pada gadis itu. ‘Apa akhir-akhir ini dia tidur larut lagi?’ ‘Apa ia melewatkan sarapan dan makan malamnya?’ ‘Apa dia meminum vitaminnya?’. Kai benar-benar khawatir sekarang.

“Oh tidak, bukan hanya Irene. Sepertinya semua orang di JStal telah bekerja sangat keras karna ulah seseorang.” Manager Shim meralat kalimatnya saat teringat akan sesuatu.

“Kau kesana?” Kai nampak sedikit terkejut.

“Ya, kenapa? Apa hanya kau yang boleh kesana?” nada bicara manager Shim nampak berubah kesal. Tapi seketika ekspresinya berubah saat ia teringat sesuatu. “Oh! Aku bertemu dengan putri presdir Jung. Ternyata dia sangat cantik. Dan juga, bahkan dari kejauhan aku bisa merasakan wibawanya. Bukankah aura seorang presdir begitu terasa pada dirinya?” ia berbicara seolah meminta pendapat Kai. “Krystal.. hmm, aku pikir wajahnya seperti orang Korea. Bagaimana menurutmu?”

Kai hanya diam. Entah mengapa hatinya tergelitik mendengar nama itu disebut. Ada gejolak aneh yang membuatnya ingin tertawa mengingat bagaimana sikap ketus gadis itu pada dirinya.

“Sss.. tapi anehnya, dia memasang wajah seperti ingin memakanku hidup-hidup. Padahal aku sudah memasang senyum terbaikku.” Kembali Ujar manager Shim.

Kai tersenyum miring. “Kau beruntung ia tak benar-benar mencekikmu.” Ia menatap managernya yang nampak bingung. “Tidak usah di pikirkan. Ngomong-ngomong ada apa kau kesini?”

“Yaa! Lihatlah gaya bicara anak ini. Aku ini hyungmu.” Gerutu Manager Shim sebelum akhirnya meletakan sebuah map cokelat ke atas meja dengan sedikit kasar. Ia juga bahkan hampir lupa niat awalnya datang ke apartemen Kai.

Kai hanya tersenyum miring menanggapi reaksi managernya itu. “Tck! Mengapa akhir-akhir ini kau sangat sensitif, hyung? Seperti wanita saja.” Ledeknya setelah meraih map cokelat itu.

“Kau bertanya seperti orang bodoh. Sensitif?!” Suaranya sedikit melengking. “Ya Tuhan, kau harusnya mencatat apa saja masalah yang kau perbuat belakangan ini. Para Wartawan terus membuat ponselku berdering, belum lagi teguran CEO Lee setiap kali aku ke agensi, membuatku malu setengah mati dan ingin membunuhmu saja.” Gerutunya dengan penuh penekanan. Tapi sayangnya keluhan yang ia lontarkan selalu berakhir sia-sia. Hening. Kim Kai hanya sibuk dengan kertas-kertas bacaan itu seolah tak mendengar apapun.

Manager Shim mendesis keras, membuat gerakan tangan seolah akan menghajar Kai saat itu juga. Kai yang melihat managernya benar-benar kesal hanya tertawa nyaring. Namun fokusnya kembali pada kertas-kertas itu.

“Jadi, totalnya 1,2 miliar Won?” Ujar Kai santai setelah mengembalikan isi map cokelat itu ke tempatnya. Lalu menatap manager Shim seolah meminta jawaban tentang jumlah fantastis yang harus ia keluarkan itu.

“600 juta Won untuk Hakim Seo. Lalu ia kembali meminta 100 juta. Dia bilang ini kasus terakhirnya sebelum pensiun. Dan,” Manager Shim menekan kata-katanya sebelum melanjutkan. “Beruntungnya si tua itu, kau juga menawarkan kerjasama menggiurkan. Sisanya untuk Jaksa dan penyidik.” Jelas manager Shim.

Kai mendengus lalu kembali meraih ponselnya malas. “Lintah. Mereka pasti mengira aku ini sangat kaya.” Ujarnya tanpa menatap orang dihadapannya.

“Paling tidak itu setara dengan hidupmu yang nyaman ini. Menutupi kasus Pembunuhan berencana dengan uang? sungguh menakjubkan. Presiden Korea pasti setuju untuk memenggal kepalamu jika hal ini sampai terungkap ke publik.” Ujar manager Shim dengan nada mengejek.

“Kalau begitu Presiden Korea akan lebih setuju untuk memenggalmu terlebih dahulu karna telah membiarkan, bahkan membantuku dalam hal ini.” Balas kai dengan ekspresi mengejeknya yang terlihat sangat menjengkelkan. Membuat ia mendapat tatapan ‘wah’ dari managernya.

“YA!” Suara kesal itu benar-benar nyaring, dan ia mendapat gelak tawa sebagai balasan. “Ya Tuhan aku benar-benar butuh air!” Manager Shim menghela nafas kasar sebelum akhirnya beranjak menuju konter dapur dengan langkah kesal.

“Anak itu benar-benar harus aku hajar!” desisnya sebelum akhirnya menyambar satu botol air dingin di dalam lemari es dan menghabiskannya secepat kilat. Ia kembali menoleh kesal ke arah Kai namun lagi-lagi yang ia dapatkan adalah anak itu tengah tersenyum menggelikan. Lalu ia kembali ke sofa dihadapan Kai. “Berhenti lakukan itu. Kau benar-benar seperti idiot.” Ejeknya.

Kai menolehkan kepalanya, menatap manager Shim yang tengah menatapnya penasaran. Seakan mengerti, dengan santai Kai melemparkan ponselnya yang otomatis berpindah tangan.

“Kau selalu tahu apa yang aku pikirkan.” Manager Shim menyengir lebar. “Jadi, apa yang membuatmu tersenyum seperti id–“ seketika matanya membola, jari-jarinya terus bergerak ke atas ke bawah di permukaan layar ponsel milik Kai. “Ja-jangan bilang ini.. y-ya.. Kim Kai.. in-ini..” Manager Shim mengangkat kepalanya perlahan, menatap Kai dengan tatapan tak percaya yang justru membuatnya seperti orang bodoh. Tapi tiba-tiba ekspresinya berubah keras seperti terkena kejang otot. “Dating?! Kau bercanda?!!“

Dan seperti biasanya, Kai hanya menyunggingkan senyum liciknya. Ia lalu bangkit dari tempatnya dan langsung menyambar kunci mobilnya. “Aku akan menemui Irene.”

“YA!!!”

-ooo-

Krystal sedikit memutar-mutarkan kursi kerjanya, mengetuk-ngetuk pena ke keningnya saat matanya menatap kosong pada tumpukan berkas di atas mejanya. Ia menghela nafas kasar sebelum akhirnya mengambil satu yang paling atas dan mulai membaca isinya. Namun pintu ruangannya tiba-tiba terbuka, menampakkan Luhan yang setengah berlari dengan nafas terengah-engah.

Luhan segera mendekat pada Krystal lalu menatapnya serius. “Pergilah ke Amerika.”

Krytsal yang sama sekali tidak mengerti menatap Luhan bingung. “Apa?!”

“Untuk sementara waktu, tinggal lah di Amerika. Ini demi kebaikanmu.” Luhan berkata dengan nada setengah memohon.

“Katakan sesuatu agar aku mengerti. Apa yang terjadi?!” Krystal sedikit meninggikan suaranya.

“Kau belum lihat berita pagi ini?” Kini giliran Luhan menatap Krystal bingung. Tapi diamnya gadis itu sudah cukup menjawab pertanyaan Luhan. “Rumor dating. Kau tidak tahu? Dispatch membeberkan fotomu dan Kai dan beredar gosip tentang hubungan asmara kalian.”

Mendengar itu dengan reflex ia berdiri dari tempatnya. Tapi rasanya seperti kepalanya dihantam batu besar. Dating? Berita gila macam apa ini?

“Banyak artikel yang menyatakan jika pihak kita dengan sengaja membiarkan Kai menang dalam sidang kasus karna dia kekasihmu. Dan juga artikel yang menyatakan jika kau sama sekali tidak keberatan tentang kecelakaan itu karna kau ingin jabatan.” Jelas Luhan.

Lagi, rasanya seperti bangunan perusahaan runtuh dan menimpa kepalanya. “Apa mereka gila?! Mengapa aku harus melakukan itu?! Dan–dating? Astaga.. Dispatch? Lagipula kapan aku bertemu dengan si sialan it–“ kalimatnya terhenti saat ia mengingat sesuatu. Ia lalu menatap Luhan terkejut. “Malam itu.. saat..” Krystal jatuh ke kursinya. Ia ingat, ini pasti gara-gara malam itu.

“Kalau begitu, ayo kita berkencan!”

“Kau benar-benar ingin mati?”

“Makan atau berkencan?”

“Tck! Baiklah, hanya makan.”

Krystal ingat malam itu ia memang menraktir Kai makan, tapi mereka tidak berdua. Ada Luhan. Tapi memang bodohnya, ia membiarkan Luhan pulang terlebih dahulu. Tapi seingatnya tidak ada yang terjadi selain makan.

Ia bahkan masih ingat seberapa kesalnya ia hari itu. Hari dimana secara kebetulan mereka menggunakan aksesori yang sama. Kacamata, topi, dan baju kasual berwarna gelap.

Krystal buru-buru membuka ponselnya, dan benar saja, saat ia melihat jendela berita, namanya dan nama pria itu menjadi topik utama. Ia membuka salah satu artikel tentang rumor datingnya. Dan seperti dugaannya. Itu adalah foto dimana ia terakhir bertemu dengan Kai. Ia menghela nafas pasrah. Tapi ia kembali teringat sesuatu.

“Wah, ada apa dengan pakaian kita hari ini? Sepertinya aku kan dapat Jackpot.”

Krystal ingat bagaimana perubahan sikap Kai yang menjadi baik malam itu. Mengantarnya sampai tempat parkir dan terus bersikap manis. Oh, ternyata itu hanya tipuan? Jadi ia tidak salah saat merasa ada seseorang yang terus mengikutinya? Jadi ia tidak salah saat merasa ada yang mengarahkan kamera padanya? Jadi.. ini jebakan? Krystal tertawa miris.

“Bajingan itu benar-benar licik!” Setelahnya Krystal bangkit dan menyambar blazernya. Ia segera berlari keluar tanpa memperdulikan Luhan yang terus menyerukan namanya. Yang ada dipikirannya hanyalah untuk menemui pria itu dan segera menghajarnya.

Krystal berlari menuju pintu keluar tetapi betapa terkejutnya ia saat mendapati banyak wartawan telah mengitari mobilnya. Ia terpaku di tempatnya. Wartawan yang telah menyadari keberadaan Krystal segera berhamburan menghampirinya. Oh, apa yang harus ia lakukan? Jangankan berbalik dan berlari pergi, untuk sekedar bergerak saja rasanya sulit.

“Nona, apa hubungan anda dengan idol Kim Kai benar adanya?”

“Nona, apa benar kau membiarkan Kai menang dalam persidangan karna ia kekasihmu?”

“Nona Krystal, kudengar kau jarang mengujungi ayah anda di rumah sakit. Apa itu benar?”

Mengapa berisik sekali?

“Apa karna ingin menjadi Presdir anda terlihat begitu tenang dengan kondisi tuan Jung?”

Kepalaku sakit. Tidak bisakah mereka berhenti?

“Nona, tolong jawab pertanyaan kami”

Kepalaku benar-benar sakit. Ayah.. Ibu..

Entahlah, semua terasa berputar-putar sekarang. Kepalanya terasa begitu sakit. Suara semua orang berdengung begitu keras di kepalanya. Krystal menutup kedua telinganya.

“Nona, kau tidak apa-apa?”

“Nona?”

Suara berisik itu membuat kepalanya benar-benar sakit. Pandangannya mengabur. Tubuhnya terasa tak bertenaga. Tapi ia masih bisa merasakan seseorang menangkap tubuhnya. Syukurlah, apa itu Luhan?

“Krystal! Hey! Krys..” Dan.. semuanya jadi gelap.

-ooo-

Krystal terbangun dengan keadaan yang benar-benar asing. Langit-langit dan dindingnya bercat putih. Bau khas tempat ini juga dapat ia kenali. Ia mendengar suara percakapan seseorang disana. Kepalanya masih terasa sedikit sakit. Ia juga sadar jika lengan kirinya tersambung selang infus. Ia menoleh ke kiri dan mendapati Luhan, Victoria dan Dokter Sena yang duduk saling berhadapan di sofa.

“Besok adalah acara launching dan acara ulang tahunnya. Disana akan diadakan pers untuk menampik rumor-rumor buruk yang tersebar. Tentu saja dia harus ada. Itu juga dilakukan demi kebaikannya.” Luhan terlihat tak setuju dengan yang telah dikatakan dokter Sena.

“tapi dia mengalami stress ringan karna situasi yang berubah tiba-tiba. Dia juga telah banyak bekerja keras di perusahaan. Pola makan dan tidurnya tidak teratur, dia benar-benar kelelahan, dan juga dia tidak pernah menemuiku untuk terapi. Biarkan dia berada disini untuk beberapa saat dan jangan membantah perkataanku lagi karna aku dokternya.” Suara dokter Sena terdengar sedikit kasar.

Krystal dapat menebak ‘dia’ yang dimaksud dalam percakapan itu adalah dirinya. Ia lantas bangkit dan dengan paksa menarik jarum infusnya dengan sedikit ringisan yang menyadarkan tiga orang disana jika ia sudah sadar.

“Oh, Hey! Apa yang kau lakukan?!” Itu suara dokter Sena.

“Krys!” Dan Victoria yang berlari menghampirinya.

Krystal segera beranjak dari kasurnya melangkah menuju pintu keluar. Tapi nyatanya ia tak kalah cepat dari dokter Sena yang terlebih dahulu menghalangi jalannya.

“Kau tidak bisa kemana-mana. Jangan harap kau bisa pergi.” Ujar dokter Sena seraya merentangkan kedua tangannya.

“Benar, kau sebaiknya beristirahat dulu Krys. Jangan pikirkan apapun.” Victoria menambahkan.

Luhan yang melihat bagaimana pucatnya wajah gadis itu akhirnya menyerah juga. Ia menghela nafas pasrah. “Istirahatlah. Aku yang akan mengurus semuanya. Kau tidak perlu khawatir.”

Krystal terdiam lalu menatap mereka secara bergantian. “Aku hanya ingin ke ruangan ayah.”

-ooo-

Alunan musik Jazz terdengar di seluruh penjuru kafe itu. Dua orang yang berada di sekat ruangan paling belakang terduduk berhadapan tanpa suara. Kai hanya memandangi Irene yang memainkan Latte-nya menggunakan sendok.

Kai menghela nafas sebelum akhirnya membuka suara.

“Aku minta maaf untuk yang waktu itu.” Lirihnya, dan kalimat itu berhasil membuat Irene menegakkan kepalanya menatap Kai. “Aku benar-benar minta maaf. Aku berbicara begitu keras padamu. Aku tidak ada maksud untuk–“

“Bukan itu.” Potong Irene. Ia menatap Kai serius, membuatnya bingung. “Bukan karna kau meneriaki-ku atau karna amarahmu.” Lanjutnya.

“Lalu?” Kai menatap tepat di mata gadis itu. Berharap menemukan sebuah jawaban.

“Aku sudah bilang berkali-kali. Berhentilah, Kim Jongin. Aku tahu itu sulit, tapi hidup dalam dendam akan mempersulit semuanya.” Irene berkata begitu lirih.

Kai tertawa lewat hidungnya. Ia menatap Irene dalam. “Kau tidak mengerti.”

“Aku menyuruhmu berhenti karna aku mengerti Kim Jongin. Aku peduli padamu. Jangan hidup dengan hati penuh dendam dan amarah. Lupakan saja semua masa lalu buruk dan hiduplah dengan baik mulai sekarang.” Irene kembali berujar lirih.

“kau selalu memintaku berhenti bahkan saat kau tidak mengerti keadaanku sama sekali.” Suara namja itu terdengar lirih, matanya menatap Irene sayu dengan air mata yang menggenang. “Kau tidak mengerti sakitnya saat kedua orang tuamu tidak ada. Kau tidak mengerti saat kau kehilangan ibumu karna orang lain. Kau–“

“Aku mengerti Jongin. Kau tidak lupa kan jika aku juga seorang yatim piatu? Aku mengerti..” kini giliran Irene, suaranya bergetar dan matanya memerah. “jangan takut sendiri. Kau punya manager Shim, dia selalu membelamu apapun yang terjadi. Kau punya aku, Jongin.” Irene menggenggam kedua tangan Kai dengan tangannya. Air matanya lolos.

Sungguh, Irene ingin menghentikan Kai. Karna ia telah menganggap Kai seperti adiknya sendiri, tentu saja ia peduli. Kakak mana yang akan membiarkan adiknya terus berbuat onar secara tidak langsung? Tentu ia tahu bagaimana terpuruknya Kai saat ia kehilangan ibunya. Tapi terus hidup dalam dendam dan amarah, bukankah itu tidak benar? Ia hanya ingin Kai menjalani hidupnya dengan normal dan bahagia. Bukan seperti sekarang.

“Kau hanya berpura-pura.” Kaliamat yang Kai lontarkan kali ini benar-benar membuat Irene terkejut. “Kau hanya berpura-pura seolah kau mengerti keadaanku padahal kenyataannya tidak sama sekali. Kau.. hanya kasihan.” Kai tertawa miris. Air matanya lolos begitu saja.

Irene menggenggam tangan Kai lebih erat. “Apa yang harus aku lakukan agar kau percaya jika aku memang peduli padamu?” lagi, air mata gadis itu lolos.

“Menikahlah denganku.” Lirih Kai datar. Dan hal itu sontak saja membuat genggaman tangan Irene melonggar. Kai menatap tangan Irene yang bergetar dan menatap gadis itu tajam. “Tidak bisa, kan? Jadi berhentilah berpura-pura peduli padaku.” Kai tersenyum miring sebelum akhirnya bangkit dan beranjak dari tempatnya.

Irene yang masih duduk di tempatnya kembali meloloskan air matanya. Namun kali ini ia tersenyum. “Menikah? Dia bahkan tidak sadar jika dia hanya sedang menguji hatinya. Kau sudah jatuh cinta pada gadis lain. Dasar bodoh.”

-TBC-

Finally!

Yuhuuuuuu~ ada yang nungguin chapter ini? Duh maapkeun aku karna ini sangat lama *deep bow*

Yang pengen lanjut boleh ninggalin komentar~

Makasih udah baca^^

Kisseu :*

26 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] HATER X FAN (Chapter 8)

  1. Ping-balik: [EXOFFI FREELANCE] HATER X FAN (Chapter 9) | EXO FanFiction Indonesia

  2. Aduuuu ff nya seru… lanjutkan eonni ! fighting !
    maapkeun baru bisa komen di chapter ini karna aku bacanya skaligus 8 chapter😀 #jadiCurcol :’3

    Hwaitinggggg (y)

  3. kayaknya seru ff.nya…
    aku reader baru disini salam kenal ya..
    oh iya,, aku izin baca dri chapter 1 ya… cz baca chapter ini gak paham ceritanya dari awal kekeke…

  4. Kamu nungguin? Yaampun sampe jamuran gitu :’) untung aja gak sampe jadi tape😄 hahahaa
    Aku lagi belibet(?) Sama tugas, jadi mau ngirim chapter nya aja sampe lupa😄 whahaaa /disiram/

    Hahahahahahahahahaha /ketawa jahat ceritanya/ untuk kali ini saja, biarkan aku membuat hidupnya menderita :v /lalu disambit/
    Dan kamu menyadarkan aku kalau si kamjong itu bener-bener kurang kerjaan😄 hahahaaa
    Btw itu ‘tepar di keroyok paparazi’ warr byazah sekaliiiiiii hahahaaa /ketawa sampe guling2/ malah tadinya mau di keroyok masa😄 wkwkwk

    Njaaaaayyyy seminggu 7x mah langsung ending aja udah😄 wkwkwk
    Yaudah tungguin aja yaa, hehe. Entar juga aku bakal nungguin komentarmu yang selalu bikin aku ngakak soooo so hard😄 hahahaa
    Makasih semangatnya dear, *peluk erat* /lalu di sambit/😄

    Dasar anak nakal😄 haha
    Makasih juga udah balik lagi buat nyampah, kamu membuatku semangat #eaaa
    See you next chapter frey!

  5. Chanyeol kapan munculnya?? Jdi nggk sabar pas dia muncul. Pas baca part akhir, kok aku jdi penasaran masa lalunya kai ya?😶😶😶Nggk ada flashback nya kai kah? Kalo nggk ya udahlah, yg penting ff ini harus. Fighting!!💪💪💪

    • Nanti juga Chanyeol muncul kok😀 hehe, sabar yaa
      Flashback? Itu juga nanti, semua sudah aku atur. Ditunggu aja chapter2 depan😄 hawhawhaw
      Okay, thanks dear😉

  6. Setiap baca aq nunggu in chanyeol kpn munculnya.cepat munculin chanyeol ya .makasih👍 aq selalu nunggu ff ini .semangat terus 💐

  7. Akhirnya muncul juga chap ini…. ku tunggu sampe berjamur kak 😂😂😂

    Astagaaaa… nggak kuat aku jadi kamu krys. Kak chocho semakin kejam sama hidupmu /dicekek kak chocho 😜
    Kai semakin ngaco. Kurang kerjaan banget yaa, gangguin hidupnya krys sampe segitunya. Kan kesian krys sampe tepar gegara di keroyok paparazi.

    Tapi ceritanya makin seru kak, makin penasaran gimana hubungan mereka kedepan. Cepetan lanjut deh. Updatenya seminggu 7x kek biar maraton aku bacanya 😁😁😁
    Semangat ya kak… 💪

    Psss….. sebenernya aku bacanya sudah semalam, tapi belum sempat kasih jejak. Tapi sekarang aku balik lagi, karena rasa rasanya nggak afdol kalo belum nyampah disini wkwkwk 😛😜😝

    • Kalo buka wordpress di hp emang suka jadi error gini :’D

      Kamu nungguin? Yaampun sampe jamuran gitu :’) untung aja gak sampe jadi tape hahahaa
      Aku lagi belibet(?) Sama tugas, jadi mau ngirim chapter nya aja sampe lupa whahaaa /disiram/

      Hahahahahahahahahaha /ketawa jahat ceritanya/ untuk kali ini saja, biarkan aku membuat hidupnya menderita :v /lalu disambit/
      Dan kamu menyadarkan aku kalau si kamjong itu bener-bener kurang kerjaan hahahaaa
      Btw itu ‘tepar di keroyok paparazi’ warr byazah sekaliiiiiii hahahaaa /ketawa sampe guling2/ malah tadinya mau di keroyok masa wkwkwk

      Njaaaaayyyy seminggu 7x mah langsung ending aja udah wkwkwk
      Yaudah tungguin aja yaa, hehe. Entar juga aku bakal nungguin komentarmu yang selalu bikin aku ngakak soooo so hard hahahaa
      Makasih semangatnya dear, *peluk erat* / lalu di sambit/

      Dasar anak nakal haha
      Makasih juga udah balik lagi buat
      nyampah, kamu membuatku semangat
      #eaaa
      See you next chapter frey!

  8. Si Kai emg kamvreeet! Bikin ulah mulu
    Tapi gw setuju sama apa yg Irene bilang, si Kai tuh sbnrnya udah mulai suka sama si Krystal tanpa sadar #soktau
    Next chapter jangan kelamaan thor.. Fighting :))

    • Salahkan saja akuuuu~ dududu~ /lah jadi nyanyi/
      Kamu engga sok tau kok, Jadi kamu dapet nangkep itu? Kamu merasakan feel itu? Aku sendiri gak bisaa :’) duuhhh
      Oke, ditunggu yaa😉

    • Iyanih jadi flashback jaman baru potek karna Dispatch :3 whahaa
      Artikel? Duh gapernah update tentang hubungan mereka :3 /karna sebenernya aku bukan Kaistal shipper. Hahahahahahahahaa/ *lalu disambit Dee
      Makasih udah mampir😉

  9. Akhirnya up juga..😀
    Kok masalahnya kyk makin rumit ya? Kasian Krystal😦
    Author, Canyol nya kapan muncul? Hehehehe
    Di tunggu next chap! Semangat!

    • Hehee, iyanih barus sempet😀 /so sibuk/
      Iyakan udah mau end *ups
      Sabar yaa, di chapter selanjutnya mungkin?😀
      Oke, makasih😉

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s