I’M JUST DIFFERENT

im-just-different

I’M JUST DIFFERENT

LUHAN/SEHUN

FICLET/GENERAL

BROTHERSHIP (ABSURD), COMEDY (MYBE)

Note : ceritanya Luhan-Sehun kembar identik ya.

 

Mataku masih setengah terbuka ketika jam weker berbunyi nyaring. Tanganku terulur untuk meraih benda kecil yang berisik itu. Pandanganku sedikit kabur, namun ku masih bisa melihat angka yang ditunjukkan jarum jam itu. Jam 7 pagi, waktunya membenahi diri. Lalu pergi ke sekolah.

 

“Luhan, kau bangun kan adikmu juga!” Teriak eomma dari dapur. Eomma satu-satunya orang yang memiliki suara paling keras dirumah ini. Kau dapat bayangkan sekeras apa suaranya itu, mengingat jarak dapur dan kamarku sangat jauh. Bisa dibilang dari ujung ke ujung lagi. “Yeee eomma.” Responku dengan suara seadanya karena Nyawaku belum sepenuhnya menyatu.

 

“PR sekali aku membangunkan bocah itu.” Aku melirik Sehun-kembaranku yang masih tertidur pulas dengan selimut tebal yang masih membungkusnya. “iaaa Sehun, bangunlah!” Kataku seraya menarik-narik ujung selimutnya. “Emh…nanti saja, sebentar lagi. Aku masih sangat ngantuk.” Balas Sehun dengan suara malasnya, lalu menarik selimutnya sampai menutupi kepala.ck, aku hafal betul dengan jawaban seperti itu. Rasanya sudah kehabisan akal untuk membangunkannya dipagi hari. Menjengkelkan. Kami boleh saja terlahir kembar, tapik sifat kami sangat berbanding terbalik.

 

Kunyalakan jam weker, lalu kulempar benda itu ke bantal Sehun. Rasakan itu. Apakah kau masih bisa tidur nyenyak.

***

“eomma, aku berangkat ya.” Sehun pamit setelah meneguk habis susu vanillanya.

“Habiskan dulu sarapanmu.” Sela eomma yang melihat piring anak bungsunya belum bersih.

“Aku sudah kenyang. Oia, kunci motorku dimana?”

“Kau tidak pernah kapok ya, sudah berkali-kali jatuh dari motor. Benjolan di kepalamu saja belum sembuh. Masih saja kau ingin mengendarainya. Mulai sekarang, kau berangkat naik mobil dengan kakakmu.” eomma mulai mengomel.

“Ahk tidak mau, cara menyetir hyung seperti keong keberatan cangkang. Lambat. Aku mau naik motor saja.” Sehun tetap bersi kukuh, dan aku tersinggung ketika dia bilang ‘keong’. Jika tidak ada eomma dihadapan kami, aku pastikan benjolan dikepala bocah itu bertambah lagi.

“Eomma heran, tidak ada satupun sifat  kalian yang sama, kecuali wajah.” Eomma terus saja menggerutu. Dan pada akhirnya eomma memberikan kunci motor itu kepada Sehun. Mau bagaimana lagi, bocah licik itu mengancam tidak mau berangkat ke sekolah. Ya, terselahlah.

 

Sebelah alis ku terangkat ketika mendapati sepatu futsal ku hanya ada sebelah. Kuambil selembar kertas kecil yang terselip di sepatu yang kehilangan pasangannya itu. ‘cari yang benar. Jangan selalu lihat kebawah, cobalah lihat ke atas.’ begitulah isi tulisan tangan Sehun. Ck, bocah itu benar-benar tukang buat onar. Tidak disekolah tidak dirumah, sama saja. Aku akan terlambat kalo begini caranya. Dimana dia menyembunyikannya?

***

 

Terik sinar matahari memeras keringat tubuhku yang terus menguap. Latihan futsal baru saja usai beberapa menit yang lalu. Aku merebahkan tubuhku dibangku pinggir lapangan. Pandanganku menyisir sekitar lapangan. Berusaha menemukan bocah itu. Karena sejak pagi tadi sampai jam pulang sekolah, aku tidak melihatnya, barang ujung hidungnya. Tidak ada. Aku masih kesal dengan sikap jail nya tadi pagi, menyangkutkan sebelah sepatuku di pohon mangga depan rumah. Sehingga aku harus bersusah payah naik untuk mengambilnya. Sampai tetangga baru didepan rumah meneriakiku maling. Mana ada tuan rumah yang mencuri manggahnya sendiri? Keterlaluan.

 

“Hai, Luhan…ayo pulang.”

“Kau duluan saja! Oia Lay, apakah kau melihat Sehun?”

“Terakhir kulihat dia, dia sedang latihan basket. Ada apa mencarinya? Jarang sekali, kalian seperti anjing-kucing jika bertemu.”

“Oh begitu. Aku pergi kesana dulu ya, ada urusan yang belum terselesaikan dengannya. Dahh.”

 

Aku meraih tasku, lalu beranjak pergi dari lapangan futsal sebelum namja berkebangsaan cina itu membuka mulut untuk bertanya lebih jauh.

***

 

“iaaa, Sehun-ah…kemari kau!” kakiku melangkah lebar menuju ke arah Sehun yang tengah mendribel bola di tengah lapangan. Hanya ada bocah itu disana.

“Hai hyung, tidak biasanya kau kemari. Kau merindukanku ya, ayo temani aku main basket.” Balas Sehun dengan memasang wajah tanpa dosanya. Apakah satu tinju bisa membuat hidungnya berdarah? Jika iya, aku akan melakukannya dan jika tidak aku tetap akan melakukannya, tapi dua kali tinju. Lalu aku akan mengatakan pada eomma jika Sehun jatuh lagi dari motor dan hidungnya berdarah. Hahahahahahah.

 

“Tangkap ini.” Dia melempar bola ke arahku. Kuterima bola itu lalu ku lempar sembarang. “Aduh, aku sakit perut, sepertinya aku harus ke toilet. Bye hyung.” Lanjut Sehun lalu melesat pergi. Ck, kerjanya hanya menghindar.

 

“iaaa, Sehun…kembalikan bola-bola itu ke keranjang ruang alat-alat olahraga.” Suara Ryu seonsaengnim menggagalkan langkahku untuk mengejar Sehun.

“Maaf seonsaengnim, tapi aku bukan…”

“Alah,,,kau ingin bilang kalau kau itu adalah Luhan. Aku tau kalian kembar. Tapi kali ini aku tidak percaya. Jangan jadikan itu alasanmu untuk menghindar dari kewajibanmu.” Potong guru olahraga itu.

“Aku tidak bohong, aku benar-benar Luhan.”

“Aku tidak akan tertipu lagi oleh ulahmu, Sehun. Atau kau ingin aku mengirimkan surat peringatan ke rumahmu?”

“Andwaeee!” Balasku spontan. Hal itu tidak boleh terjadi. Bukan hanya Sehun yang akan dapat masalah tapi aku juga akan kena omel habis-habisan oleh eomma terutama omelan appa, appa bia saja mengacungkan sengapan nya ke arah kami berdua.

“Kalau begitu, cepat bereskan.”

“Nee.” Balasku dengan nada yang melemah. Dari mana aku harus memulainya? Banyak sekali yang harus dibereskan. Aku kan tidak merasa menggunakan alat-alat ini. Kenapa aku yang merapihkannya? Saat itu aku masih terlalu polos untuk menolak satu sekolah denga bocah itu. hah, beginilah endingny, terlibat dengan semua keonaran yang Sehun buat. Sial. Lihat saja nanti, habis kau, Sehun.

***

 

Dering ponsel Sehun terus berkoar-koar. Tapi si pemilik belum juga menyentuh ponselnya. Bocah itu masih sibuk dikamar mandi, ditambah dengan nyanyian tak jelas yang terdengar dari dalam. Aku yang sangat terganggu dengan bunyi ponsel itu, lalu meraih ponsel itu. Yoo Se Mi Sayang, nama itu yang muncul di layar ponsel. Saat itu juga sebuah ide jahat melintas isi kepalaku. Hahahahahahha. Kukirimkan sebuah foto ke ponsel Sehun. Kemudian ku kirim foto itu kepada pacar Sehun via Line. Aku yakin, mereka akan bertengkar hebat. Lalu putus.

“Tadi ponselmu berbunyi.” Kataku ketika Sehun baru saja keluar dari kamar mandi.

“oia?” Gumamnya seraya mengambil ponsel di atas ranjangnya.

“Hah, kau mengirim foto ini ke pada Se Mi.” Pekik Sehun dengan bola mata yang hampir melompat.

 

Aku tertawa jahat dalam hati. Aku tahu Sehun dan Min ah tidak memiliki hubungan yang sepesial, tapi mereka berdua terlihat sangat dekat dalam foto itu. Mungkin karena angel-nya yang tepat. Itu cukup untuk membuat pacar Sehun salah paham. Tidak sia-sia aku mengambil foto itu kemarin siang ketika mereka sedang di kantin.

“oia hari ini aku ada les, aku pergi dulu. Bye.” Aku segera melesat meninggalkan kamar.

1…2…3…perang dimulai.

“iaaaaaa….Luhan hyung!”

 

~FIN~

2 thoughts on “I’M JUST DIFFERENT

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s