Dating After Marriage [Chapter 6] – Just A Mall

Dating After Marriage Poster

Dating After Marriage [Chapter 6] – Just A Mall

A chaptered story by nokaav3896 ׀ Starring [EXO’s] Sehun and [Red Velvet’s] Irene ׀ It’s a marriage life and labeled as PG17 ׀ OCs and plot are mine. Members belong to you!

 Previous Chapter: [1][2][3][4][5]

©nokaav3896 – 2016

 

“Mengadopsi Kim Hyunwoo?” Irene berbalik demi menatap Sehun yang baru saja mengucapkan hal paling tak masuk akal menurutnya. “Kau sudah … kurang waras?”

“Jahat sekali mengataiku kurang waras,” Sehun tertawa. Mengulurkan tangannya demi mengusap surai gelap Irene dengan lembut. “Bocah itu kelihatannya menyukaimu, kurasa tidak salah kalau aku berniat mengadopsinya.”

“Kau tidak memikirkan perasaanku ya?” Irene menahan lengan Sehun dan menghempaskannya sedikit kasar. “Anak itu mengingatkanku pada Myoui Sola.”

“Dan?”

“Hyunwoo adalah putra Junmyeon dan Sola, Oh Sehun. Myoui Sola adalah perempuan yang sudah menghancurkan rencana pernikahanku dengan Junmyeon. Perempuan yang membuatku hidup dalam keterpurukan sampai aku bertemu denganmu. Mengadopsi Hyunwoo hanya akan–“

“–membuka luka lama?” Sehun memotong. Masih mengulas senyum, Sehun berbalik, melangkah menuju meja tempat tidur, meninggalkan Irene yang berdiri diam mengamati Seoul malam hari melalui balkon apartemennya. “Kau masih merasa sakit tiap kali mendengar nama Junmyeon? Kau masih sayang ya?”

“Sehun, jangan mulai.” Irene membalikkan tubuhnya dan menemukan Sehun sudah bergelung di dalam selimut biru pastel yang baru ia ganti pagi tadi. “Kita baru saja berdamai setelah bertengkar dengan topik yang sama.”

“Tak pernah berniat menginisiasi pertengkaran, Sayang.”

“Kalau begitu ayo hidup bahagia dan jangan pernah membahas orang-orang itu,” Irene berjalan mendekat. “Junmyeon, Sola, Hyunwoo. Jangan sebut nama mereka lagi di bawah atap rumah tangga kita, kumohon?”

 “Setuju, asalkan kau mau berjalan mendekat dan tidur di sampingku,” jawab Sehun dari balik selimut. “Aku tidur sendirian selama di Jepang dan aku benar-benar rindu pelukanmu.”

Irene melompat ke atas tempat tidur dan memeluk tubuh Sehun dengan erat. “Dengan senang hati.”

Irene sedang mencontek resep masakan dari smartphone-nya saat Sehun mendadak muncul dan duduk di balik mini bar. Laki-laki itu mengulurkan tangan untuk menyesap cokelat panas sebelum berdeham untuk menarik perhatian sang istri.

“Aku baru saja mendapat telepon dari Ayah, Sayang,” ujarnya dengan suara khas bangun tidur. Matanya kini menatap layar handphone dan Irene bergantian. “Dia mengirimkan sesuatu untuk kita.”

“Hmm,” gumam Irene tanpa mengalihkan perhatiannya sedikitpun dari penggorengan. “Sesuatu seperti apa?”

“Paket liburan.”

“Kau serius?” Tanya Irene tanpa tahu Sehun tengah mengedikkan kepalanya sembari tersenyum tipis. “Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali pergi berlibur.”

“Paket honeymoon sebenarnya.”

Prang.

Irene menoleh, mengacungkan spatula di tangan kirinya pada Sehun yang tertawa menatapnya. “Jangan gugup, toh kita sudah menikah dan mereka mulai menginginkan cucu.” Laki-laki itu meletakkan smartphone-nya dan berjalan mendekat, melingkarkan lengannya di perut istrinya dan meletakkan kepalanya dengan nyaman di bahu kanan Irene, berbisik pelan. “Tiketnya dipesan untuk akhir pekan ini.”

“Sehun, lepaskan,” ujar Irene sembari mencoba melepaskan diri dari pelukan erat Sehun. Perempuan itu mulai kehilangan konsentrasi dan tak bisa mengingat bahan apa yang harus ditambahkan setelah daging cincangnya berubah warna kecokelatan. “Kau tidak mau makan makanan gosong kan?”

“Matikan kompornya,” bisik Sehun pelan. Tangan kanannya dengan gesit mematikan kompor dan membalik tubuh Irene. “Aku tidak ingin makan daging sekarang.”

Irene menahan tubuh Sehun dengan sikunya. “Sehun, kita masih punya banyak waktu. Ayolah, aku lapar.”

Sehun diam. Sorot matanya sedikit kecewa namun kemudian mundur perlahan. “Okay, selesaikan eksperimenmu, aku masih bisa menunggu.”

“Sebentar lagi selesai,” jawab Irene. Sebuah kecupan singkat mendarat di bibir Sehun tepat sebelum Irene berbalik. “Kelihatannya mandi pagi adalah ide yang bagus, Sehun. Pergilah.”

“Kau mengusirku?”

“Hanya menyarankan, toh aku lebih suka laki-laki yang wangi sepanjang hari,” ujar Irene sembari mengulas senyum tipis. “Pergilah mandi sementara aku menyelesaikan masakan ya? Kau juga bisa mulai memikirkan berapa jumlah–“

“–jumlah ronde yang akan kita lalui selama di berlibur? Okay, akan kupikirkan. See you, Honey.”

Sehun dan Irene memutuskan untuk pergi berkencan di mall–satu yang belum pernah mereka lewatkan lantaran selama ini terfokus pada destinasi wisata di Korea Selatan. Selain membeli perlengkapan untuk pergi berlibur (yah, sebenarnya ini adalah inisiatif Sehun melihat tak ada satupun pakaian ‘layak bawa untuk bulan madu’ di dalam lemari) Irene bilang ingin pergi menonton bioskop seperti pasangan kebanyakan. Alhasil, keduanya tengah duduk di salah satu bangku, menunggu jadwal tayang film Me Before You–dua puluh menit lagi.

“Sehun, popcorn-ku sudah habis,” ujar Irene seraya mengulurkan boks popcorn-nya yang sudah kosong. Perempuan itu mengerucutkan bibir–merajuk. “Aku boleh beli waffle?

“Kau yakin masih lapar?”

Irene mengangguk. “Kau tahu ‘kan aku tidak sempat menghabiskan sarapanku?”

“Kau tidak sedang hamil ‘kan?”

Irene memutar bola matanya menahan tawa. “Memangnya kau sudah melakukan apa sampai aku sedang hamil? Aku tidak pernah membaca berita seorang perempuan bisa hamil hanya karena berciuman. Mereka seharusnya–okay–seharusnya kita tidak membicarakan hal ini di tempat ramai.”

Sehun tersenyum, mengulurkan tangannya untuk mengusap puncak kepala Irene. “Tunggu disini, biar aku yang beli waffle untuk–sebentar.”

Mendadak–laki-laki itu berdiri, senyumnya hilang berganti tatapan heran. Irene yang menyadari hal ini mengikuti arah tatapan Sehun dan sedetik kemudian–bola matanya melebar.

Kim Hyunwoo tengah berlari kecil di dekat area bermain anak-anak. Bocah itu tampak senang, mendapati permen kapas di tangannya sementara dua orang pengasuh berseragam mengawasi dari jarak satu meter. Irene memindai wilayah sekeliling bocah itu, tak mendapati keberadaan Junmyeon dimanapun dan rasanya melegakan. Paling tidak, ia dan Sehun tidak akan bertengkar lagi karena Junmyeon.

“Rene, aku boleh menghampiri Hyunwoo?”

“Eh?” Irene mengerutkan dahi, heran dengan tingkah Sehun yang mendadak ingin menghampiri Kim Hyunwoo. Perempuan itu masih belum melupakan niat Sehun beberapa hari lalu untuk mengadopsi bocah itu dan kini–

“Irene?”

“Sebenarnya apa yang kauinginkan?”

“Aku kasihan,” jawab Sehun sembari tersenyum kecil. “Kim Hyunwoo masih sangat muda untuk paham keadaan orangtuanya. Dia tidak akan mengerti Ayah dan Ibunya sudah berpisah, aku bahkan ragu dia mengenal ibunya. Dan lihat,” Sehun menunjuk sekitar. “Sementara anak-anak lain pergi ke arena bermain dengan kedua orangtuanya, dia hanya didampingi oleh dua orang asing. Aku juga tidak melihat Kim Junmyeon disini.”

Irene menatap Sehun sebentar. Sama sekali tidak bisa mencerna isi kepala suaminya. Bukankah mereka pernah bertengkar gara-gara bocah ini? Bukankah Irene pernah bilang tak ingin menyebut nama tiga orang itu di bawah atap rumah tangga mereka? Lalu mengapa sekarang…

“Rene?”

“Pergilah.” Irene mengedikkan kepalanya memberi persetujuan. Dia tak ingin ikut lantaran kemiripan wajah Hyunwoo dengan perempuan yang pernah menggagalkan pernikahannya dulu sangat banyak. Irene hanya memandangi Sehun yang kian dekat dengan Kim Hyunwoo.

Dua orang pengasuh yang sedari tadi mengawasi Hyunwoo langsung bergerak saat Sehun mendekati Hyunwoo. Irene tak bisa mendengar percakapan mereka, tapi perempuan itu tahu Sehun dapat memberikan penjelasan yang masuk akal. Terbukti dengan mundurnya dua pengasuh itu dan Kim Hyunwoo yang saat ini tengah berada dalam gendongan Sehun. Suaminya itu, tampaknya tengah menggoda Hyunwoo hingga bocah itu tertawa riang.

Melihat pemandangan itu, entah mengapa hati Irene menghangat. Sehun kelihatannya menyukai bayi–dan tawa Hyunwoo…astaga. Meskipun bocah itu memiliki fisik yang cukup mirip dengan ibunya, entah mengapa cara tertawanya mengingatkan Irene pada Junmyeon. Perempuan itu tak dapat mengelak bahwa bagaimanapun–apapun alasannya–Junmyeon memang pernah memiliki tempat di hatinya yang tak dapat dihapuskan begitu saja.

“Rene!”

Lamunannya buyar kala Sehun sudah berbalik menghadapnya. Laki-laki itu melambaikan tangan–mengajarkan Hyunwoo untuk melambaikan tangan pada Irene tepatnya. Hyunwoo tertawa kecil–tampaknya dia masih mengingat Irene. Mau tak mau, Irene menyandang tasnya dan berjalan menghampiri keduanya.

“Halo, Hyunwoo. Lama tidak bertemu,” ujarnya sembari menggapai tangan mungil bocah itu. “Kau tidak bersama ayahmu?”

Sehun tertawa. “Kenapa kau menanyakan ayahnya? Kau rindu ayahnya ya?”

“Kau sendiri yang bilang kasihan dia karena kemari bukan bersama orangtuanya, Sehun.” Irene melempar tatapan galak pada Sehun yang masih tersenyum. Perempuan itu kemudian mengangguk sebentar pada dua pengasuh Hyunwoo yang–entah mengapa–seolah mengenalnya. Apa mungkin mereka pernah bertemu saat Irene masih tunangan Junmyeon? Irene jelas tidak mungkin menghapal seluruh pegawai di rumah Junmyeon yang berjumlah entah berapa puluh orang.

“Rene, apa kita bisa membawa Hyunwoo jalan-jalan hari ini?”

“Sehun?”

“Aku yang akan menelepon Junmyeon untuk meminta izin,” jawab Sehun dengan tatapan memohon. “Hari ini adalah ulang tahunnya, dan Junmyeon sedang berada di luar kota untuk urusan bisnis. Kau tentu paham bagaimana rasanya kalau jadi Hyunwoo?”

Irene menelan ludah. Antara sedikit kesal lantaran kencan edisi bioskop mereka terancam gagal, namun juga tersentuh melihat perhatian Sehun pada bocah kecil itu. Sejatinya, sesuatu terasa menusuk hati Irene beberapa saat lalu ketika mendenar bahwa hari ini adalah ulang tahun Hyunwoo dan menyadari bahwa orangtuanya tak berada disana untuk ikut merayakan.

“Ya, terserah kau saja.”

Sehun harus menelepon Junmyeon menggunakan handphone dari pengasuh Hyunwoo dan menyetelnya dalam volume penuh loudspeaker agar dua orang itu percaya bahwa ia dan Irene bukanlah penculik yang berniat meminta tebusan milyaran pada Kim Junmyeon. Sebagai tambahan, business card Sehun yang menyatakan bahwa dirinya adalah kepala perusahaan Ostech Corporation cabang smartphone, turut dikeluarkan.

“Aku dan istriku akan mengantarnya ke rumah setelah selesai. Tenang saja, kami bertiga akan merayakan ulang tahun Hyunwoo dengan semestinya. Kalian berdua tidak perlu khawatir.”

Dua pengasuh Hyunwoo tadi membungkukkan badannya sebelum berbalik dan pamit pulang ke kediaman keluarga Junmyeon. Sementara itu, Hyunwoo kini berada dalam gendongan Irene, tengah asyik memainkan rambut cokelat perempuan itu.

“Dia sangat menyukaimu,” ujar Sehun sembari tersenyum pada Irene. “Aku bisa melihatnya sejak pertemuan pertama kita dengannya. Entahlah, tapi kurasa dia mungkin merindukan sosok ibu.”

Irene tersenyum tipis dan menyerahkan Hyunwoo pada Sehun. “Kau yang memintanya, kau yang gendong.”

Sehun tertawa. “Dia sudah bisa jalan, Sayang. Aku akan menggandengnya ketimbang menggendongnya. Aku menggandeng tangan kanannya, kau mau gandeng tangan kirinya? Ah, orang-orang akan berpikir kita adalah keluarga kecil yang bahagia.”

“Tangan kirinya memegang permen kapas,” jawab Irene. “Aku akan berjalan saja di sampingnya. Kita kemana?”

“Hmm.” Sehun melihat sekeliling. “Dia baru saja selesai dari area bermain jadi kurasa tidak akan kesana. Bagaimana dengan masuk ke area supermarket? Foodcourt? Toko pakaian? Haruskah kita mulai dengan makan atau membelikannya hadiah?”

“Makan? Aku juga lapar.”

Okay, makan!” Sehun menunduk, kemudian membawa Hyunwoo dalam gendongannya. “Begini akan lebih cepat. Kau lapar ‘kan, Woo-ya?

“’Woo-ya’?

Hyunwoo mengangguk antusias. Sepanjang pengetahun Irene, bocah itu memang tak begitu banyak bicara. Namun entah mengapa hari ini jauh lebih pendiam dari biasanya. Apakah dia tahu bahwa ini adalah hari ulang tahunnya dan merasa sedih karena orangtuanya tak ada disana? Apakah bocah berusia dua tahun bisa merasakan emosi semacam ini?

Setelah makan, membelikan hadiah untuk Hyunwoo (Sehun membelikan bocah itu lima pasang kemeja warna-warni dan celana pendek untuk bepergian serta satu set hot wheels dan lego, omong-omong) Sehun dan Irene mengantar bocah itu pulang. Untunglah Junmyeon belum kembali, sehingga Irene bisa menggendong Hyunwoo yang selama perjalanan pulang tidur dalam pangkuannya hingga ke dalam kamar dengan aman. Dua pengasuh yang tadi ditemuinya mengucapkan terima kasih berkali-kali hingga sepasang suami istri itu pergi meninggalkan kediaman Junmyeon.

“Kau masih ingat denah dalam rumah Junmyeon ya?” tanya Sehun saat keduanya dalam perjalanan menuju apartemen. Irene yang bersandar pada kaca mobil dan setengah mengantuk, menoleh untuk menatap Sehun malas-malasan.

“Aku keluar masuk rumah itu setiap hari selama nyaris dua bulan selama mempersiapkan pernikahan,” jawab Irene lirih. “Kamar itu, adalah kamar yang direncanakan untuk anak kami tadinya.”

Tak mengantisipasi sama sekali, Sehun tampak terkejut dengan jawaban jujur Irene. Bukan terkejut karena cemburu; laki-laki itu terkejut karena Irene bisa bersikap setenang tadi bila rumah itu memang mengingatkannya pada masa-masa pahit.

“Maafkan aku karena memaksa untuk membawa Hyunwoo jalan-jalan,” ujar Sehun pelan. “Aku tidak berpikir ke arah sana. Aku, lagi-lagi sudah menyakitimu ya?”

Irene mengulas senyum. Tangan kirinya bergerak mengusap punggung tangan kanan Sehun yang berada di atas persneling. “Aku tidak merasa tersakiti. Justru aku benar-benar bahagia karena memilikimu. Aku baru tahu kau punya sisi lain yang selembut itu. Aku baru tahu kau menyukai anak-anak.”

“Aku sebenarnya tidak terlalu menyukai anak-anak.”

Kali ini, Irene yang tampak terkejut. “Tapi kau sangat menyukai Hyunwoo, Sehun.”

“Hyunwoo adalah kasus spesial. Dia adalah anak dari mantan calon suamimu–dan dia ‘tidak punya’ ibu. Aku ‘terlihat menyayanginya’ karena dia sangat malang. Seharusnya dia punya hidup yang bahagia karena lahir dari keluarga kaya. Tapi merayakan ulang tahun yang kedua saja hanya bersama pengasuhnya. Kau tidak merasakan hal yang sama?”

“Aku…merasakannya.”

“Kalau begitu, berjanjilah padaku.”

“Ya?” Irene mengerutkan dahi melihat Sehun tersenyum dan menarik tangan kanannya–mengacungkan jari kelingking.

“Kita akan berangkat bulan madu akhir pekan ini. Kalau semuanya lancar, aku memperkirakan kita akan segera punya anak dalam waktu satu tahun. Berjanjilah untuk menyayangi anak kita nanti apapun keadaannya. Seandainya kau tidak lagi mencintaiku di masa depan–”

“Sehun!”

“–berjanjilah kau akan mencoba bertahan sampai akhir demi anak kita. Okay?

Irene terdiam, matanya menatap jari kelingking Sehun. Perempuan itu menelan ludah sebentar sebelum menautkan jari mungilnya. “Tentu saja aku berjanji, untuk keduanya. Menyayangi anak kita nanti dan bertahan sampai akhir bersamamu. Aku sudah bilang, aku mulai mencintaimu.”

…tbc.

Guys! Long time no see!

Astaga akhirnya aku bisa ngepost Dating After Marriage. Astaga astaga astaga. Maafkan aku buat yang udah menunggu dari bulan April (edan lama banget ya emang). Ini buat kalian wkwkw Masih mencoba mendapatkan feel yang tepat setelah super long hiatus. Semoga sukaaa dan semoga dilancarkan sampai chapter terakhir.

Anw, ada saran? ;;) Karena ini model fanfic stripping (bukan pre-produksi) wkwkw jadi masih open request maunya gimana hahaha

Well, see you soon guys! Semoga sangat soon ya hahaha😀

Regards, nokaaaaaav.

 

23 thoughts on “Dating After Marriage [Chapter 6] – Just A Mall

  1. Ya ampuuunn thooorr akhir ny di post juga, tua saya nungguin ny 😩😩 tpi cerita ny tetep kereeeennn suka banget sama sehun nd irene.. 😍😍 keep writing, tpi jgn lama² ya ngepost ny

  2. wah udah update nihh,smpe lupa jalan ceritanya.. akhirnya mereka mau honeymoon!! yuhuuu! yg bahagia yaa. ditunggu kelanjutannya authornim ^^ fighting

  3. sebentar…kenapa sehun ngomong kek gitu??? apa dia merasa suatu saat nanti irene bakal gk cinta lg ke dia??? atau irene bakal pergi dari dia???
    ahhhhh… kayanya sehun nih perfecsionist banget yaa..sampe punya anak aja udah direncanain..hahaha aku jadi irene udah speechless aja tuh…
    semoga mereka bahagia lah gk ada campur” junmyeon lg…
    dan kenapa sehun pengen adopsi hyun woo kalo dia pengen anak dari irene???
    gk jelas sama pemikiran sehun…pemikiran authornya sih sebenarnya, soalnya yg buat cerita author-nim..hehehe
    NEXT…jan lama lg dong updatenya…

  4. Kya kya kyaaaaaa akhirnya update astogeeehh 💕😭 masih semanis biasanya, bagian jumlah ronde jumlah ronde itu bikin ketawa sendiri wkwk seketika pikiranku sudah tidak polos lagi /plak/ 😂 requestku cuma 1 ka jan lama lama lagi wkwkwk gak deeng aku tunggu nextnya semoga lancar sampe tamat 💕

    • Haiiiii wkwwkk aamiin semoga ga lama 😂 makin tua sih semesternya tapi semoga aja lancar tetepan disamping tugas akhir yang mulai bergelimpangan hahaha thankyouuu anw 😍

  5. wah,annyeing,aku juga read baru di ff in,maaf baru nemu juga ff in,awalx juga dr iseng buka wordpress EXOFFI,🙂😀 aku dan bca dr part 1 ampe part in,feelx saoet banget aku suka,

    bingung mau ngomong ap,hati sehun itu sebenerx terbuat dr apaan si kok baik bwanget sama anak dr MANTAN PACAR istrinya,kalo namja lain pasti udah marah2 cemburu buta🙂

    keep writing author

    • Sehun is definitely son of angel wkwk 😍 Kebetulan karakternya easy-going, sempet cemburu juga koook tp mungkin dia tau sesuatu yang Irene ngga tau (?) Hahaha
      Well, thankyou syudah mampir kesini yaaaap 😄

  6. ahhhhh akhirnya update lagi setelah sekian lama menunggu wkwkwkkw,aku suka ceritanyaa tapi kurang adegan bahagia sehun irene heheh semoga update selanjutnya lebih banyak adegan bahagia+romantisnyaaa semangat authornimmm^^

  7. Halloooo..
    New reader, nova dsni..
    Salam kenal dan mari berteman kita..

    Bru tdbmlm sbnernya iseng searcing nyarien ff hunrene selain diwatty, eh keaeret kesini. Aku baca dr series awal loh, dn bener2 jatuh cinta sm story yg km buat. Duuh, mereka manis banget. Interaksi2 mereka yg kdg awkward tp manis ngerasa mereka sdh pnya hbgn yg lama sblm mnkah. Pkoknya manis lah..
    Eniwey, semangat terus ya buat karya2nya. Ditunggu dating after marriage special honeymoon mereka. Fightiiing..!!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s