GIDARYEO – 1st Page — IRISH’s Story

irish-gidaryeo-2

|  GIDARYEO  |

| Kajima`s 2nd Story |

|  EXO Members |

| OC`s Lee Injung — Kim Ahri — Yoo Anna — Maaya Halley — Byun Injung — Lee Jangmi |

|  AU — Crime — Dark — Family — Fantasy — Hurt-Comfort — Melodrama — Romance — Supranatural — Thriller  |

|  Chapterred  |  Rated R for violence and gore, language including sexual references, and some harsh words and/or action   |

Disclaim: this is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life and every fake ones belong to their fake appearance. Any similarity incidents, location, identification, name, character, or history of any person, product, or entity potrayed herein are fictious, coincidental, and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art and/or story without permission are totally restricted.

2016 © IRISH Art & Story all rights reserved

Show List:

Teaser Pt. 1Teaser Pt. 2Teaser Pt. 3Teaser Pt. 4

♫ ♪ ♫ ♪

In Anna’s Eyes…

Kyaaaaa!”

Aku tersentak. Seketika langkahku terhenti mendengar jeritan yang beberapa detik lalu memecah keheningan.

Akh!”

Suara lain. Lebih rendah dan dalam dari suara pertama. Kasus kriminal lagi? Dan terjadi di dekatku. Bagus. Akan jadi berita yang sangat bagus.

Aku melangkah berusaha menemukan sumber suara. Dan insting membawaku ke sebuah pemukiman kumuh yang ditinggalkan karena kebakaran enam bulan yang lalu. Aku berhenti saat mendengar suara langkah ringan. Seperti langkah perempuan saat mengenakan heels.

Aku menunggu, dan terkesiap saat melihat seorang wanita berlari ke arahku. Lengannya terluka robek dan berdarah.

Pergi! Pergi dari sini! Dia ada disini! Shadow of The Dark ada disini!”

“A-Apa?”

“Pergi… Sebelum dia membunuhmu!”

Wanita itu berlari, timbul niatku untuk menolongnya, tapi tubuh ini enggan beranjak. Ada hal lain di jalanan gelap itu yang membuatku lebih penasaran.

Shadow of The Dark.

Siapa dia?

Aku melangkah menyusuri jalanan kosong itu. Berusaha menemukan sosok yang wanita itu sebutkan. Nihil. Ia tidak ada di manapun. Jalanan ini kosong.

BRUGK.

Aku terkesiap saat mendengar suara gedebum pelan di dekat jalanan tempatku berdiri sekarang. Langkahku dengan cepat membawaku ke jalanan itu dan—aku melihatnya.

Sosok yang hanya tampak bayangannya saja, berrgerak pelan. Tampak… kesakitan. Tanpa sadar aku melangkah mendekati sosok itu, berhati-hati agar tidak menimbulkan suara apapun. Aku tidak ingin mengejutkannya, atau membuat diriku terkejut karenanya.

“Kau… baik-baik saja?”

Aku berucap pelan, membuat sosok itu menatapku. Walaupun aku tidak bisa melihat wajahnya, aku yakin ia memandangku. Rasanya… seperti itu. Seperti saat ada seseorang yang memandang ke arahmu.

Ugh!” sosok itu merintih pelan, sangat samar. Tapi entah kenapa aku yakin ia benar-benar kesakitan. “Apa kau baik-baik saja?” tanyaku sambil melangkah mendekatinya

SRAAT!

Akh…”

Tepat saat aku menyentuh lengannya, sesuatu yang tajam menggores lenganku. Begitu cepat. Aku bahkan tidak sadar bagaimana ia melakukannya. Aku menyentuh lenganku, sesuatu yang lembap dan basah ada disana. Darah? Kurasa.

“Aku… Aku tidak akan melukaimu…” ucapku pelan. Entah sejak kapan, ia sudah berdiri tegap di hadapanku. Tanpa sadar, jantungku berdegup kencang.  Tanpa sadar aku merasa sesuatu yang buruk akan terjadi. Lenganku terluka. Dan tempat lukanya hampir sama dengan wanita tadi.

Tidak. Apa ia memang sengaja berpura-pura lemah dan membuatku ingin menolongnya sehingga ia bisa menyabetku dengan pisau yang dibawanya?

Aku segera terhuyung mundur. Tapi sosok itu mengikutiku. Walaupun ia mengikutiku dalam diam, aku merasa setiap langkah yang dibuatnya begitu menakutkan, seperti sebuah teror. Aku tidak pernah tahu siapa dia. Mendengarnya saja baru kali ini. Dan sekarang, apa aku akan menjadi salah satu korban kriminal?

Aku melangkah mundur ke jalan raya di dekat sana, berharap ada seseorang yang bisa menolongku. Tapi sosok itu bergerak lebih cepat dariku. Ia menarik lenganku, dan aku jelas bisa melihat benda berkilat di tangan kanannya, siap menghujam ke arahku saat—

TIIIIIINNN!!

Aku sontak menutup mata, sudah pasrah dengan semua yang mungkin terjadi padaku. Entah terbunuh oleh sosok ini, atau terbunuh oleh tabrakan—mengingat bahwa aku lah yang berdiri di pinggir jalan dan bukannya sosok ini.

Satu detik. Dua detik. Tidak terjadi apapun.

Dengan ragu aku membuka mataku. Sosok itu masih berdiri di hadapanku. Tapi pisau sudah tidak ada di tangannya. Cahaya menyilaukan sekarang menyorot ke arah kami.

Ragu, aku melemparkan pandang ke arah sumber cahaya, terpaku saat melihat benda tajam yang tadi ada di tangannya sekarang sudah bersarang di tubuh pengemudi mobil itu. Sementara mobil itu sendiri terhenti.

Apa mungkin pengemudinya tadi sudah menginjak rem tapi secara tidak beruntung ia terbunuh karena hampir menabrak sosok ini? Tunggu, Anna. Ingatlah dengan siapa kau sekarang berhadapan.

Aku kembali pada kenyataan bahwa nyawaku masih terancam karena satu hal yang sekarang tengah berdiri di hadapanku dan—tunggu! Sejak kapan tanganku mencengkarm lengannya?

Sontak, aku melepaskan peganganku.

TEK!

Suara yang sangat samar. Tapi kurasa ada bagian di mantel gelap yang ia kenakan terlepas karena ulahku. Belum sempat aku berpikir untuk mengembalikan kancing gelap yang ada di tanganku, aku sudah kembali mematung saat tangan kanan sosok itu bergerak dan lagi-lagi membuatku refleks menutup mata.

Aku terdiam saat merasakan tangan sosok itu berada di puncak kepalaku. Dan jemarinya secara bergiliran mengetuk lembut puncak kepalaku dalam satu gerakan langsung. Perlahan, aku membuka mataku, memberanikan diri menatapnya, hal yang kemudian membuatnya mengalihkan tangan dari puncak kepalaku dan dengan berbalik, melangkah pergi.

“Tunggu!”

Sosok itu berhenti. Tanpa berbalik memandangku.

“Siapa kau? Kenapa kau tidak membunuhku?”

Beberapa detik, keheningan tercipta. Tapi tanpa menjawab pertanyaanku, sosok itu melanjutkan langkahnya. Sungguh. Ia tidak menjawabku. Dan jawaban itu… harus kudapatkan.  Aku memandang telapak tangan kananku, kancing kecil ada disana lalu memandang ke arah perginya sosok itu.

“Aku harus tahu tentangmu… Shadow of The Dark…

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

Venezuela tidak pernah tidur. Bahkan saat suhu turun hingga hampir menyentuh angka nol derajat celcius, masih terlihat aktivitas kecil di kota tersebut. Well, Oktober memang tidak masuk ke dalam musim dingin, belum. Tapi setahun di Venezuela mungkin didominasi kebekuan. Matahari saja enggan untuk singgah di kota kecil itu. Membuat Venezuela tampak seperti sebuah kota beku yang mencekam. Terutama, karena hal mengerikan yang jadi mimpi buruk selama beberapa bulan terakhir.

“Wah, lama tidak bertemu.”

Sebuah kalimat bernada dingin lolos dari bibir seorang pemuda berpakaian serba gelap yang tengah duduk di kursi jalanan. Sebuah koran terentang di depan wajahnya, sementara tarikan dan hembusan nafasnya terdengar tidak sabar.

“Siapa sangka kita akan ada di dalam halaman depan surat kabar di waktu bersamaan?” ia bicara pada diri sendiri, tapi tawa kasar kini mengekor di ujung ucapannya, terdengar nada sedih yang sarat dalam tawa kasarnya yang mungkin terkesan menyeramkan.

“Tidakkah tindakanmu sekarang sangat lucu, setelah meninggalkan seseorang hingga ia menghadapi kehancuran, kau malah memulai kehidupan romantis bersama seorang journalist.”

Jemari pemuda itu kini bergerak menyentuh judul salah satu berita di koran yang ada dalam genggamannya, berhenti di kata ‘journalist’ yang diam-diam membuatnya merasa terusik, pemuda itu akhirnya mendesah pelan. Pandangannya kini terarah pada satu berita lain yang tercetak lebih besar.

“Mereka bahkan menemukan gambar yang bagus untuk menggantikan wajahku. Sungguh lucu.” gumamnya, tersenyum tanpa sadar ketika mengingat bahwa ia adalah seorang yang tidak terlihat, sekarang.

Shadow of The Dark. Aku suka nama yang penulis berita ini berikan padaku. Haruskah aku berterima kasih padanya?” tawa pelan kini lolos, sementara kurva sempurna masih terpasang di paras sang pemuda.

Dinginnya suhu siang hari yang menusuk permukaan kulit setiap orang bahkan tidak mengusiknya. Ia tidak termasuk dalam kategori orang-orang tersebut, omong-omong. Dan tidak seorang pun mengenalnya.

“Anne.” gumamannya lagi-lagi terdengar. “Dimana aku bisa menemukan gadis ini… Dia mungkin mengenal gadis yang kau kencani, Tuan Alexander Hugo. Aku juga harus berterima kasih padanya karena sudah membuat kita ada di halaman depan surat kabar.”

Sudut bibir pemuda itu lantas terangkat membentuk senyum sarkatis, sebelum ia meletakkan koran tersebut di ruang kosong yang ada di sebelahnya dan menatap gedung kecil yang berdiri di seberang tempatnya duduk sekarang.

Masih tidak bergeming, pemuda itu kini mengawasi langkah seorang gadis yang tengah merengkuh tubuhnya, tidak tahan juga karena suhu dingin yang menggigit kulitnya.

Senyum sarkatis yang tadi sempat terpasang di wajah si pemuda kini lenyap, berganti dengan ekspresi kaku mendominasi.

“Dia, lagi. Setelah kejadian malam itu, rupanya kami ditakdirkan untuk bertemu kembali. Wah, nasib tidak beruntung apa yang gadis itu miliki?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Anna’s Eyes…

Hidup sebagai seorang Journalist. Dan seorang penerjemah. Itulah keadaanku sekarang. Setidaknya pekerjaan ini sangat membantu hidupku selama empat tahun di pelosok kota Venezuela.

Apa aku menyukai hidupku yang sekarang?

Tentu.

Hidup yang lebih tenang. Seharusnya. Tapi pekerjaan menjadi seorang news finder—istilah lain untuk seorang reporter—tidak bisa membiarkanku hidup dengan tenang. Memang sudah jadi resiko bukan?

Setiap hari aku bangun sekitar jam tiga pagi, saat keadaan kota masih gelap seperti tengah malam. Aku memulai aktifitasku dengan mereview berita yang akan aku serahkan tepat jam empat pagi di Venezuela News, tempatku bekerja sebagai seorang Journalist.

Boss tidak pernah suka jika staffnya terlambat—walaupun dalam hitungan detik. Ah, sungguh, dia bahkan menghitung keterlambatan detik. Dan aku tidak merasa keberatan akan hal itu mengingat bahwa aku sudah berada di sini cukup lama.

Jadi, pagi ini, seperti biasa, setelah aku mereview ulang berita yang akan aku serahkan, aku membereskan lembar-lembar kerjaku, memasukkannya ke dalam tas ransel yang selalu kupakai kemana pun aku pergi—setidaknya dalam keadaan pekerjaan seperti ini.

Setelah itu aku bergegas keluar dari apertemen kecil tempatku tinggal. Dengan menaiki bus pagi aku berangkat ke tempat kerjaku.

Untuk sekedar informasi, aku bekerja di Staff Office of Criminality di Venezuela’s News. Dan seperti kota lainnya, Venezuela juga menyimpan banyak berita kriminal yang harus kuliput. Siang dan malam. Tidak peduli dimana dan apa yang sedang aku lakukan. Aku harus siap siaga menunggu jika ada tindakan kriminal yang terjadi.

Morning Boss,”

“Kau terlambat 1 menit 25 detik.” ucap Boss saat aku masuk ke ruang kerjanya.

Aku hanya menanggapi dengan senyum samar. Lalu meletakkan disk kecil di atas mejanya. “Shadow of The Dark. Mereka suka berita itu.” ucapku memulai. Boss segera memasukkan disk itu ke dalam komputernya, lalu memulai membaca beritaku.

“Menarik. Kurasa terus meliput berita ini akan menaikkan ratingmu.” ucap Boss, tersenyum simpul ke arahku, lalu melemparkan diskku kembali. “Aku akan pikirkan itu, tergantung seberapa banyak kenaikan yang akan aku dapatkan.” ucapku sembari memasukkan disk itu ke dalam tas.

“43 dollar tambahan per hari jika kau menyerahkan beritanya setiap pagi.”

Aku menghentikan aktivitasku yang tadinya sibuk merapikan isi tas, dan akhirnya mendongak, memandang Boss.

Deal?” ucapku.

“Tapi kau harus mendapatkan semua tindak kejahatan yang ia lakukan.” ucap Boss, kuanggap itu sebagai persetujuan.

Deal.”

Baru saja aku akan mengutarakan tujuanku lebih lanjut, sebuah dering telepon menginterupsi. Segera aku meraih ponsel yang ada di saku mantelku, tatapanku membulat melihat nama yang tertera di sana.

Boss, aku akan dapatkan berita eksklusif!” aku berseru, tanpa menunggu jawaban dari Boss, aku melangkah keluar dari ruangannya, menekan tombol hijau di ponselku dan menunggu suara dari seberang.

“Dimana kau?” tanya si penelepon.

“Apa ada berita baru?” aku balik bertanya.

Well, favoritmu, kurasa.”

“Benarkah?” langkahku terhenti, tanpa sadar jantungku bekerja dengan cara berlebihan karena menduga-duga kejadian macam apa yang sekarang menunggu untuk kuliput.

“Hartwringten Apertment, lantai 3. Segeralah kemari sebelum aku memutuskan untuk menghubungi wartawan lain.” ia tertawa kecil sembari berucap. “Sialan kau, Alex.” aku terkekeh saat mendengar ancaman tidak bergunanya, oh, jangan lupa dengan siapa aku sekarang bicara, Alexander Hugo, sahabatku.

Ingatkan aku lain kali untuk meminta izin dari Boss saat aku akan meliput berita. Tapi sebenarnya aku sudah sangat terbiasa menghilang untuk meliput berita, dan kurasa Boss sudah sangat memahaminya. Setidaknya aku kembali dengan membawa berita yang ia inginkan, bukan?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

“Anne Yoo!”

Seruan cukup keras terdengar, membuat bahu seorang gadis bertubuh mungil dengan rambut panjang bergelung yang tengah sibuk memperhatikan sebuah TKP—Tempat Kejadian Perkara—kini menoleh.

Hey! Jangan terus memanggilku seperti itu.”

“Bukankah namamu memang Anne?” pemuda yang tadi menyerukan namanya, kini melangkah mendekati.

Bibir gadis itu segera mengerucut, sementara jemarinya masih sibuk bergerak di atas notes yang berada di genggamannya.

“Namaku bukan Anne, kau tahu itu.” gerutunya, sementara kepalan kecil tangannya sekarang bergerak menyarangkan tinju kecil di lengan kekar sang pemuda yang terbalut setelan jas senada berwarna navy blue yang dipadukan dengan kemeja berwarna biru muda.

“Baiklah, Anna Yoo, apa bedanya? Kau hanya mengganti satu huruf pada namamu saja.” sang pemuda menyahut acuh, sebuah senyum ia pamerkan sebagai tanda kemenangan.

Menyerah, sang gadis, Anna, akhirnya hanya menggeleng pasrah.

“Terserah kau saja, Tuan Hugo.” sindirnya, lagi-lagi netranya berfokus pada bekas darah mengering yang ada di sana.

Tak lama, seorang opsir polisi masuk ke dalam ruangan tersebut, berdiri tepat di sebelah Anna yang masih menatap serius tiap titik dengan label nomor di atasnya.

“Bagaimana menurutmu, nona reporter?” atensi Anna sekarang beralih, pada sosok opsir yang sudah berdiri di sebelahnya, memperhatikan gerak-geriknya sedari tadi.

“Kali ini siapa pelakunya, Mark?” tanya Anna tanpa basa-basi.

Pemuda yang disebut Mark itu hanya mengangkat bahu. Sementara tatapan jahilnya masih tertuju pada Anna. “Menurutmu?” tanyanya membuat Anna terdiam sejenak.

“Mungkinkah… dia?” ujar Anna terkejut.

Well, siapa?” pancing Mark berhasil menciptakan ekspresi serius di wajah kekanakkan Anna.

Shadow of The Dark.” ia berucap pasti.

Mark Hallan, opsir polisi tersebut, mengangguk lemas.

“Tak ada bukti, tak ada sidik jari, tidak ada rekaman CCTV, tidak ada petunjuk apapun. Blind case, lagi. Kurasa dugaanmu benar, mungkin serial killer favorite-mu adalah pelakunya.”

Bahu Anna berjengit mendengar penuturan Mark. Segera, sebuah senyum terpasang di wajah sang gadis, sementara atensinya sekarang beralih pada Alexander Hugo yang berdiri di sisi lainnya.

“Kau dengar itu, Alex? Benar-benar dia.” ujar Anna bersemangat.

Sang pemuda hanya mengedikkan bahu dan menatap Mark penuh arti.

“Kau tahu, aku tak pernah menemui gadis yang sangat suka pada pembunuh, seperti Anna.” ujarnya asal, tapi segera disahuti Mark dengan tawa terbahak.

“Ya, mungkin juga sosok ini sengaja mencari perhatian Anna.” sahutnya.

Jangan ditanya bagaimana Anna sekarang, ia sudah sibuk dengan kamera digital mungilnya yang selalu melingkar di leher, dengan notes dan bolpoin di saku jaketnya. Bahkan tidak sadar jika seseorang kini tengah mengawasinya dari sebuah titik tidak terlihat.

Well, ternyata kau dan Alexander Hugo punya hubungan lebih dekat daripada yang kuduga, Anna. Haruskah aku memberimu undangan secara pribadi?”

Anna mungkin tidak sadar, jika pembunuhan yang kali ini terjadi bukanlah sebuah blind case atau pembunuhan bermotif sama dengan yang lain. Sosok pembunuh yang sedari tadi mereka bicarakan, telah dengan sengaja memilih korban acak, hanya untuk mengundang perhatian si gadis yang tanpa sadar telah berpindah ke dalam genggamannya.

Ya. Tidak ada yang bisa menduga apa yang mungkin akan terjadi pada Anna setelah ini, bukan?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Anna pulang larut hari ini. Setelah menolak ajakan Alexander untuk makan malam, dan menolak tawaran Mark yang ingin mengantarnya pulang. Ada alasan yang membuat Anna enggan melakukan apapun, ia ingin menyelesaikan laporannya.

Karena ia adalah salah satu pembuat berita yang mendapatkan laporan eksklusif tentang pembunuhan yang terjadi sore tadi, Anna tentu tak ingin membuang waktu untuk sekedar makan malam bersama.

Anna sampai di apertemen mungilnya saat jam sudah menunjuk angka sebelas lebih. Gadis itu baru saja menapakkan kakinya di anak tangga terakhir menuju lantai tiga—tempat apertemennya berada—saat atensinya terenggut oleh sebuah boks yang ada di depan pintu.

“Aku rasa aku tidak membeli paket online apapun…” Anna menggumam, segera dirajutnya langkah panjang dan diraihnya boks yang tergeletak di depan pintu apertemennya.

Tak membuang waktu, Anna masuk ke dalam apertemennya dengan membawa boks tersebut, meletakkan benda mungil itu di atas meja sementara ia sibuk melepaskan beberapa lapis jaket tebal yang ia kenakan.

Anna sudah berniat untuk membasuh wajahnya di kamar mandi saat rasa penasarannya tak lagi bisa ia bendung. Tanpa menunggu lagi, Anna duduk di kursi yang ada di dekat meja, meraih sebuah gunting untuk membuka plester yang menutupi boks tersebut dan membukanya.

“Ya Tuhan!”

Nafas Anna tercekat kala ditemukannya sebuah pisau dapur berlumur darah di dalam sana, dengan bau anyir menyengat yang Anna kenali sebagai darah mengering. Sebuah sticky notes ada di gagang pisau tersebut, dengan sederet kalimat yang berhasil memicu kinerja jantung Anna.

Sebuah catatan ada di sana, tertulis dengan tulisan tangan luar biasa rapi dan menyertakan nama pengirim yang tak pernah Anna duga.

Hai, Anna.

Kukirimkan sebuah hadiah untukmu.

Kita akan sering bertemu bukan?

Dan juga, terima kasih untuk nama cantik yang kau ciptakan untuk memanggilku.

Shadow of The Dark

Lekas Anna memutar pandang, sejemang rasa takut mendominasi gadis itu kala didapatinya jendela apertemen yang ia tinggali terbuka. Demi Tuhan, Anna ingat ia mengunci rapat semua jendela dan juga pintu apertemennya.

Tapi apa yang sekarang menyambutnya?

Anna akhirnya melangkah ke arah kamar, dengan berhati-hati ia menatap tiap sudut yang ada di ruang kecil tersebut, sekedar memastikan tidak ada seseorang yang bersembunyi di dalam ruangannya untuk kemudian tiba-tiba muncul dan mengejutkannya.

Tidak. Sungguh Anna tidak sedang bercanda sekarang, mungkin terdengar konyol saat ia merasa takut dikejutkan seseorang, tapi daripada menduga-duga si pengirim paket itu muncul dan membunuhnya, Anna lebih mengira jika sosok itu hanya akan muncul untuk memicu adrenalinnya.

Pandang Anna terhenti saat mendapati sebuah ponsel flap kecil ada di atas tempat tidurnya. Anna tahu ia tidak pernah punya ponsel seperti itu, bahkan, seingatnya produsen ponsel sejenis itu sudah tidak lagi mengeluarkan produk serupa.

Lagipula, di zaman seperti ini yang masih menggunakan ponsel flap?

Tak ayal, rasa penasaran lagi-lagi menggelitik Anna, membuatnya memberanikan diri melangkah mendekati tempat tidur dan meraih ponsel itu kemudian membuka flapnya.

Sebuah foto kecil langsung menyambut netra Anna, foto gadis berlumur darah di dalam bathtub, dimana sebuah jendela serupa dengan apertemennya tampak di belakang bathtub, menampakkan langit kelam malam yang membuat Anna berspekulasi jika foto itu baru saja diambil.

Ya, Anna yakin itu. Saat jemarinya bergerak untuk memperbesar gambar tersebut, Anna bisa melihat jam raksasa yang sama persis dengan yang ada di pusat kota Venezuela. Menunjuk angka delapan.

Tatapan Anna segera beralih pada jam yang ada di meja kerjanya. Baru tiga jam berlalu dan—tunggu. Anna sekarang melihat sticky notes serupa ada di sebelah jam tersebut.

Ragu-ragu Anna melangkah mendekati mejanya, berusaha membaca tulisan yang ada di atas sticky notes tersebut sebelum gadis itu terhuyung mundur, gemetar ketakutan lantaran menyadari apa yang sekarang tengah ia hadapi.

Temukan kami sebelum 24 jam

Atau kau akan terjebak dalam situasi yang menyulitkanmu

Bukankah kau ingin bertemu denganku, Anna?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Anna’s Eyes…

Aku masih duduk diam di meja kerjaku. Menatap kotak berisi pisau berlumur darah yang tadi kuterima, dan ponsel yang sekarang ada di tanganku. Jam sudah menunjukkan angka tiga diri hari, tapi aku masih tidak merasakan kantuk.

Pikiranku dipenuhi oleh satu nama. Shadow of The Dark.

Apa yang sekarang sedang aku hadapi?

Aku ingat jelas, pertama kali aku bertemu dengannya adalah di satu malam ketika aku sudah begitu putus asa mencari bahan berita. Kurasa sejak kejadian itu juga, aku terobsesi oleh sosok Shadow of The Dark ini. Dia terlalu misterius. Dan tidak tersentuh. Bahkan saat aku menyebut namanya di antara rekan kerjaku, mereka sama sekali tidak menyangka jika aku nekad untuk mengupas masalah ini.

“Aku tidak berani mengambil resiko dengan berburu berita tentangnya…”

“Kurasa bukan ide bagus tentang hal ini… Keadaan disini sudah cukup menakutkan tanpa ada yang membahas Shadow of The Dark…”

“Kau yakin? Dia adalah pembunuh paling misterius di kota ini…”

“Banyak orang takut pada keberadaannya. Dia bukan seseorang yang harus kau ketahui dan kau ungkap…”

“Aku tidak menanggung resiko apapun. Dan aku tidak mau menjadi crew gambarmu. Aku masih ingin hidup tanpa ancaman.”

“Aku tidak yakin masyarakat akan suka berita ini…”

Terlalu banyak ucapan dari rekan-rekanku yang tidak mendukung. Tapi aku? Tidak ada kata menyerah bagiku jika aku sudah memutuskan.

Dan sejak malam itu aku selalu melakukan hal monoton yang sama setiap harinya, mencari berita yang ada sangkut pautnya dengan Shadow of The Dark. Menghabiskan jam kerjaku dengan memburu berita tentangnya, berusaha mengungkap keberadaannya.

Dan sekarang, saat ia dengan kentara memberiku sebuah undangan untuk menemuinya, mengapa aku justru merasa ketakutan? Karena ia mungkin akan membunuhku? Tidak, aku tidak berpikir jika ia berniat untuk membunuhku.

Lalu mengapa ia mengirimkan hal-hal aneh ini padaku?

Ya. Aku harus bertanya padanya, bukan? Itu artinya, aku harus menemuinya. Aku harus menemukan keberadaan mayat wanita ini, menemuinya, menanyakan padanya tentang apa yang ia inginkan.

Dengan begitu aku akan mendapatkan jawaban yang kuinginkan. Benar, Anna. Kau harus menemukannya. Shadow of The Dark mungkin tidak ingin membunuhku, karena jika ia ingin membunuhku, ia tidak akan berterima kasih.

Lantas, apa yang Shadow of The Dark inginkan dariku sebenarnya?

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

.

.

.

IRISH’s Fingernotes:

Ah ~ finally. Diriku sungguh bersujud syukur pada Tuhan YME karena akhirnya Gidaryeo bisa mengudara juga setelah empat buah teaser yang kupamerkan beberapa bulan lalu.

Aku enggak sempet buat berforeword ria karena sesungguhnya kalian mungkin (semoga saja) masih ingat sama teasernya (kalau enggak ingat tolong baca ulang aja teasernya, ya) dan masih juga ingat (amin) sama cerita senior dari Gidaryeo yaitu: Kajima.

Sooooooooooooooo ~ diriku enggak perlu bikin foreword kan? Semua cast juga sudah kalian kenal, kan? Sedikit tambahan aja dariku, kalau beberapa chapter kalian mungkin enggak bertemu sama Sehun ataupun Luhan, AH AKU TAU KALIAN KANGEN SAMA HUN-HAN YANG JADI SAINGAN DI SINI, KAN? Dan juga belum ketemu bertemu sama Injung, atau Ahri.

Awal-awal cerita ini aku kenalin kalian ke Anna sama Maaya dulu (jangan lupa si Shadow, aw aw, wkwk). Seperti yang pernah aku bilang dulu, kalau Gidaryeo bukan cerita berkesinambungan sama Kajima. Tapi Gidaryeo punya alur sendiri, punya masalah sendiri, dia cerita individu yang secara enggak langsung akan menyenggol Kajima dan beberapa misterinya akan mengingatkan kalian pada Kajima. Sekian dariku, thanks a lot! Salam, Irish.

.

.

.

BANTU AKU MENEMUKAN CINTA DI SINI → HELP! I NEED YOUR VOTE [3]

.

| MY SHOW |

| Instagram | Line | Twitter | Wattpad | WordPress |

58 thoughts on “GIDARYEO – 1st Page — IRISH’s Story

  1. kak irish maaf baru sempet baca😦
    tadi malah aku kira belum update kak ehh ternyata udah 2 chapter aja
    aku ketinggalan hiks hiks tapi ceritanya bagus banget walaupun awal-awal harus inget-inget ama teaser sihhh hehehehehe

  2. WKWKWK AKU BARU BACA INI SETALAH 2 CHAP SUDAH DIRILIS WKWKWK
    AKU BENER BENER PENASARAN SAMA DI SHADOW KEKNYA BENER BENER MISTERIUS
    DAN IRISH JANGAN BERHARAP AKU INGAT 4 TEASERNYA KARNA JUJUR INGATAN AKU SUNGGUH LEMAH HUHUHU ~~
    TAPI HARUSKAH KUBACA ULANG?

  3. Emang dari teaser juga berasa ‘pikiran baru’ eonn X3
    Jadi 1st pagenya agak asing menurut aku. Tp tetep interest kok eonn.
    Penasaran bgt dari jaman teaser, shadow itu siapaaaa :’D
    Apalagi dipart ini kayanya shadow mau deketin anna :>

  4. Ping-balik: GIDARYEO – 2nd Page — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  5. Gidaryeooo, aku memang gidaryeo nih ff, haha
    Akhirnyaa, rilis juga, tapi keknya kalo nyenggol ma kajima ngga tau ya bakal inget pa ndak :p

  6. Rish, belum dapet feelnya, mungkin karena baru chapter 1, tapi saya mah percaya, irish bakal bikin cerita kece, hahaha, mangatzzzzz

  7. uwooo, akhirnya rilis juga ff nya🙂
    btw adakah cast member exo di sini? seingetku dulu karakter alexander hugo itu castnya chanyeol, bener gak sih “-_-
    well, ini juga bingung kenapa di cast namanya park anna tapi di cerita jadi yoon anna,

  8. Apakah mungkin shadow of the dark itu kris? *meneketehelah…
    Daku agak bingung sama castnya, terlalu banyak T.T kirain si anna itu injung dan maaya itu ahri, ternyata bukan.
    Cemungud kak!!!

  9. wah akhirnya chap1. yuhuuu!!! aku malah gak tau loh kak rish kalo ada teasernya*what,gak tau?!* hehe. jadi ya aku baca kilat itu tadii. ehh,iyaa loh aku kangen loh ama pasangan sehun-luhan-injung-ahri. kapan muncul tuh kak? jan lama2 kek terbitnya part1 ini ya??*ceritanya maksa* heheh. keknya aku suka deh ama karakter anna disini*duh kan injung dilupain* tetep suka injung juga kok,tapi disini anna kayak sukaa banget gitu ama misteri kan jadinya gereget kalo ga difave’in,
    belum ntar ketemu maaya yg visualnya irene eonni.😀😀 // udah aah kebanyakan komen guaa. chap2 jan lama² juga ya kak rishh. fighting^^

    • BUakakakakakakkakakaka itu ada teasernya, jaman baheula saking lamanya😄 wkwkwkwk sape lumutan teasernya itu😄 wkwk injung nanti akan menggemparkan lagi kok tenang aja😄 wkwkwkwkw

  10. finally, 1st chapter rilisssssss…..horeeeeee //prrrookkkprrooookkkkkkprokkkkk//

    aaaahh… akhirnya muncul jg ke permukaan… setelah ber teaser” ria…
    .
    .
    buagusssssss dan bikin deg” mampet rish..sumvah!!!
    iya gk papa cast lain lu umpetin dulu… ini aja udah bikin jrengjrenggg gitu
    T O P dehh irishh

  11. Omegaddd!!!! Gidaryeo update juga😊😊
    Kusuka kusuka…
    Entar Alex jadi cameo ajah ya rish????
    Atou Mark nya yang jadi cameo????
    Wakkksss… Kubingung …
    Lanjut terus Rishhhh…
    Kusuka Anna😄😄😄

    (Kangen Sehun)😅😅😅

  12. kak irish…. akhirnya km lanjutin, jg ini ff… kukira kamu melupakanya :3
    oh ya… karakter komedi kalo bisa jg dimasukkin y kak? biar grehet hehe

  13. Awalnya gak ngerti sama jalan ceritanya. Tapi makin kebawah bacanya cerita nya makin seru sama buat penasaran. Fighting terus nulis nya eonni.

  14. Kak Irish annyeong^^
    Masih inget sama aku kahh??..hehehe

    Akhirnya ffnya di Up juga^^
    Kok tadi aku bacanya deg degan kak.
    Alexander Hugo..kkkk aku suka deh sama namanya., Hugo..hehe abang Chanyeol keren juga..hihi

    Kakk maaf sebelumnya., aku nggak ngelanjutin bca ff kakk yg switch itu loh., aku juga gx tau kenapa 😂😂😂
    Mianhae*bow90°

    Huft.. Jadi bagaimanakah kelanjutan dari cerita kak Irish yg selalu di buat penasaran ini?. Kita tunggu klanjutan ceritanya.
    Aku bingung mau ngomong apa lagi kak..hehehe

    Semangat buat kak Irish ^^
    Fighting!!

    • Masih dek diriku masih mengingatmu di dalam hatiku😄 wkwkwkwk akhirnya ya, setelah berbulan-bulan, diriku sanggup ngelanjutin cerita ini juga😄 wkwkwkwkwk gapapa santai aja, switch emang membutuhkan pemikiran ekstra😄 wkwkwkwkwkwkwkwkwk tunggu aja lanjutannya😄 entah kapan😄

  15. FINALLY, HUAAAA.. AKHIRNYA GIDARYEO UPDATE MAKKK…😭😭😭😭😭
    GAK SIA” CURI KESEMPATAN BUKA EXOFFI DITENGAH TUGAS NGEBUKA HAK DPR DISURUH GURU PKN BUAT DISKUSI KERJA KELOMPOK, KEKEKKE…😂😂😂
    KAK RISH, AKU KUDU OTTOKHE? KENAPA CERITA INI BEGITU MENGGIURKAN KAK RISH/PLAKK/😂
    DITUNGGU NEXT CHAPNYA KAK RISH, MAKIN CINTA DEH SAMA KAK RISH. 😆😍
    KEEP WRITING KAK, HWAITING!!😆

    • HEEEHH DURHAKA INI NGAPS PAKE KEPSLOK SEMUA? DASAR YHA. WKWKWKWKWK DIRIMU KENAPA BUKA BLOG SAAT HARUSNYA NGERJAIN TUGAS? AWAS AJA HAPE KENA SITA. WKWKWKWKWK INI BAKAL ASTRAL LOK EKI, SERIUS😄😄😄 JANGAN DIBACA MENDINGAN

      • MAAP KAK RISH, EKI KHILAP GEGARA LIAT BANG ICING YG BIASANYA OGEK TETIBA TOPLESS/PLAKK/😂
        TANGAN EKI SUKA GATEL NEKAN KATA EXOFFI DI GUGLE KAK, UDAH PENYAKIT AKUT/PLAKK/😂
        DISITA? YA SITA LAGI/PLAKKKKK/INI APAAN COBA?😂😂
        EMANG EKI SELALU ASTRAL KAK RISH, EKI KUDU OTTOKEH?😂
        ASTRAL? WKWKWK, EKI SUKA YG ASTRAL KOK, SUKA BANGET MALAH, APALAGI KALO ITU KEASTRALAN KAK IRISH,HEHEHEH..😍😍😍😛

      • OGEK NJIR. WKWK. GITU2 SI ICING NGAJAKIN ENTE MASUK BATHTUB LOH EKI, JANGAN KEGODA, ICING ANAK SETAN DASAR. HIKS.
        KITA KAN KELUARGA ASTRAL YA. ASTRAL GAPAPA ASAL GAK ASPAL.

      • MAMPUS EKI, KILAP LAGI KAN KAK? NTAR KALO EKI KEGODA TERUS BABANG CHANYEOL TAU KAN GAWAT/PLAKK/OPEN YOUR EYES EKI!!😂
        DASAR SATANXING,WKWKWK..😂😂😂😂
        IYAPS, ASAL JANGAN ASPAL KAK, NTAR KITA DIGELES-GILES /PAAN INI?😂😂😂

      • KAYAKNYA SIH NGGAK KAK, SOALNYA TOMBOL KEPSLOK SELALU KETEKAN KALO BALAS KOMENANNYA KAK IRISH/PLAKKK/😄
        AIMAKK, JANGAN DIBUNUH LAH SUAMI EKI KAK, NTAR EKI MEWEK CEMMANA /PLAKK/ OPEN YOUR EYES EKI!!😀😄

  16. Yattta!!!
    Akhirnya gidaryeo ini muncul juga irish aq udah nunggu nunggu dari lama cerita ini dan memang shadow of the dark misterius banget haha gak sabar pingin tahu siapa shadow of the dark ini

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s