Rendezvous Again [Chapter 5] Christy Wu

kak-christy

Rendezvous Again

Original Story By Christy Wu

Original Poster By Lee ShinHyo Art

Main Cast :

Oh Sehun ( EXO) as Sehun Rouler| Kim Jong In (EXO) as Kai Ozera | Krystal Jung ( Fx) as Krystal Wu | Tzuyu (Twice) as Anna Vandersmith | Park Chanyeol (EXO) as Chanyeol Vandersmith| Wu yifan ( Ex – EXO) as Kris Wu | Jesica Jung ( Ex – SNSD ) as Jesica Wu.

Genre : Fantasy, Romance, Dark| Rating : PG – 17 | Lenght : Chaptered

Desclaimer :

FF ini murni hasil pemikiran Christy dan hanya dipublish di  WP pribadi. tolong jangan memplagiati. bedakan antara menginspirasi dan plagiat terima kasih.

CHAPTER 5

 Back Song – For You Ost. Moonlovers (Baekhyun, Chen, Xiumin)

Kai mungkin sudah kelewat frustasi hingga tanpa berfikir dua  kali mobilnya berhenti di parkiran salah satu universitas terkenal di Korea. Kyunghee University. Lamborgini Veneto yang ia kendarai terlihat mencolok dari deretan mobil lain. Ia mengusap surai hitamnya untuk yang kesekian kali karena tak bisa menahan rindu ingin bertemu dengan Anna, gadis yang sudah berhasil memenuhi isi otak Kai.

“Astaga sekarang aku harus mencarinya dimana? Kenapa aku tidak pernah tanya Anna masuk kelas apa.” Kai mengetukan jarinya pada setir mobil berusaha mengingat percakapannya dengan Anna tiap kali bertemu. “Ah aku tanya bagian informasi sajalah.” Putusnya kemudian.

Masih dengan baju formal yang membuat aura ketampanannya semakin meluap Kai menyusuri lorong kampus.  Pandangan kagum semua kaum hawa tidaklah terlalu membuatnya terkejut karena ia sudah terbiasa yang ia fikirkan hanya Anna dan bagaimana bisa menuntaskan rindunya pada gadis bersurai hitam itu.

Belum sempat sampai di ruang informasi, netranya menangkap tubuh mungil Anna yang sedang berdesakan menerobos pejalan kaki lain di lorong sebrang,  Anna berjalan cepat sambil membawa beberapa buku di tangannya seperti biasa. Rambut hitamnya terurai dengan polesan make-up tipis dan bibir mungil merahnya yang amat Kai sukai beberapa kali melempar senyum pada beberapa orang. Kai masih terpaku di tempatnya dengan senyum bodoh yang keluar begitu saja. Ia tersadar saat Anna mulai menghilang ditikungan lorong, matanya mengerjap dan dengan sedikit berlari ia mengikuti kemana langkah Anna pergi.

Tak begitu sulit jika kau punya kaki yang panjang seperti Kai, Anna terkejar. Gadis cantik itu menuju taman belakang kampusnya, kembali lagi Kai terhenti saat akan memanggil gadis yang membuatnya hampir gila saat Anna memeluk laki – laki yang menunggunya di bawah pohon dengan senyum mengembang cantik. Mereka berpelukan dan laki – laki itu mengecup kedua pipi Anna dengan gemas membuat tawa Anna terdengar renyah. Dan saat itu juga Kai merasakan yang namanya patah hati. Dengan langkah berat ia meninggalkan kampus bersama retakan hatinya yang ternganga. Ini adalah kesalahan, jika ia tak datang kekampus Anna pasti ia tak akan melihat pemandangan yang begitu membuat hatinya sesak. Cinta adalah sakit. Seharusnya Kai sudah menyadari itu sejak awal.

o0o

Krystal berdiri didepan apartemen Anna hampir 30 menit, menunggu si gadis bersurai hitam itu pulang dari kampus. Ia membuang nafasnya berat merutuki kesalahannya yang tak memberi kabar terlebih dahulu jika akan berkunjung. Tapi itu juga bukan kesalahan Krystal sepenuhnya karena jadwal meeting yang selesai lebih awal karena bosan di kantor ia memilih mengunjungi sepupunya yang paling cerewet. Yah, padahal intensitas mereka bertemu hampir setiap hari walau hanya satu atau dua jam. Krystal sudah menghubungi ponsel Anna tapi sepertinya gadis vampire berpipi bakpao itu meninggalkannya di apartemen. Yah besok – besok kalau mereka bertemu Krystal pastikan akan mengomel pada Anna perihal ponsel yang tertinggal.

Padahal ia sedang tidak dalam pengawasan Xiumin kali ini, seharusnya mereka bisa sedikit bersenang – senang. Wajahnya yang memang sudah terlihat dingin semakin menakutkan saat jenuh membuat orang yang lewat ketakutan menatap wajah cantiknya yang tak bersahabat sama sekali. Siapa yang tak heran melihat seorang gadis cantik yang bersetelan kerja mahal dengan ukiran wajah bak malaikat pencabut nyawa berdiri didepan pintu apartement kelas rendahan. Dalam sekali pandang semua orang dapat memuji dan menjauh begitu saja melihat Krystal yang mengeluarkan aura tak bersahabat.

Masih belum beranjak dari tempatnya berdiri ponselnya berbunyi. Ia hanya memutar bola matanya malas saat nama ayahnya yang tertera disana. Kemungkinan besar pria yang punya wajah mirip dengannya itu akan mengomel karena ia pergi tanpa pengawasan Xiumin.

“Ya Dad kenapa?” sambil mendengus ia menjawab panggilan itu namun hanya kekehan yang ia dengan dari Kris disebrang sana.

“Ada apa dengan suaramu itu sweat, tidak bertemu dengan Anna hhmm.” Tebak Kris dan 100%  memang benar, entahlah Krystal tak habis fikir bagaimana caranya ia punya orang tua yang serba tahu seperti Kris. Oh ya Krystal sepertinya memang lupa kalau orang tuanya memang bukan orang tua biasa, orang tuanya adalah Vampire yang kedudukannya sangat terhormat di wilayah benua biru sana.

“Sepertinya Dad sudah tahu sebelum aku cerita, baiklah ada apa sampai menelfonku? Demi rambut mangkok Chanyeol aku tidak akan kabur kemana – mana walau sekarang tidak dengan Xiumin.” Kembali Kris terkekeh mendengar celotehan anaknya yang selalu menampakkan wajah seperti patung es namun aslinya Krystal adalah anak yang begitu manja jika bersama orang – orang terdekatnya tanpa ia sadari.

“Hentikan itu Sweat Chanyeol tak akan senang jika kau menyinggung rambut mangkoknya zaman dahulu kala walau ia tetaplah tampan dengan potongan rambut apapun. Kau tahu sendiri gen dari keluarga Vandersmith tidak mengecewakan sama sekali.” – Kris.

“Astaga aku tak percaya, Dad menelfonku apa hanya untuk memuji Chanyeol? Kalau iya aku tutup saja telfonnya.” Kesal Krystal sambil memasang mimik wajah jijik tanpa Kris ketahui.

“Tidak, Dad menelfonmu untuk minta bantuan. Tolong jemput Mommy di rumah sakit karena mobil yang akan menjemput Mom sedang mogok di jalan. Apa kau bisa Sweat?” kalau sudah begini Krystal tentu saja akan menjawab ‘iya’.

“Baiklah, aku akan berangkat. Kirimkan alamatnya lewat sms kalau bisa sekalian petanya.” Jawab Krystal setengah kesal karena pada akhirnya ia tak bisa menikmati waktu bebasnya dengan lepas tanpa pantauan.

“Astaga kau tidak buta arah kan sweat, di mobilmu sudah ada GPS jadi untuk apa Dad mengirimkan peta segala.” Goda Kris yang memang sudah tahu Krystal sedang kesal.

“Sudah sebaiknya Dad kerja saja sana, Dad sangat menyebalkan.” Setelah itu Krystal benar – benar menutup telfonnya hingga ia tak tahu kalau Kris ditempatnya sedang tertawa renyah dengan Chanyeol merayakan keberhasilan menggoda Krystal.

Krystal keluar dari apartement Anna, dengan langkah santai ia menuju ke tempat ia memarkirkan mobil. Namun belum sampai tujuannya ia mendengar seseorang menjerit. Bukan jeritan yang keras memang namun telinganya terlampau sensitif dengan suara sekecil apapun. Tanpa pikir panjang ia mengubah arah menuju sumber suara dan benar saja di sudut gang sempit dekat apartemen Anna ada gadis yang masih memakai pakaian sekolahnya sedang dipojokkan oleh dua orang laki – laki, yang dapat Krystal pahami sebagai preman.

Satu laki – laki mengunci kedua tangan gadis itu kebelakang sedangkan yang satu lagi mengobrak – abrik tas si gadis. Krystal melipat kedua tangannya di dada masih tak habis fikir masih ada yang namanya pemalakan anakan sekolah.

“Apa yang kalian lakukan?” desisnya dingin, Krystal melangkah dengan angkuhnya ke arah dua preman dan anak sekolah yang memandangnya minta pertolongan.

“Wah sepertinya kau tersesat manis.” Ujar salah seorang preman dengan smirk menjengkelkan. Gadis itu masih meringis mendapat tarikan kuat di rambutnya sebelum terjerembap ke genangan air karena didorong dengan kasar. Fokus kedua preman itu hanya pada Krystal paras ayu Krystal dan kemolekan tubuhnya yang tak bisa disanggah siapa pun. Pada kesempatan itu Krystal mengisyaratkan pada gadis berseragam itu untuk pergi dengan kepalanya. Dengan terseok gadis itu pergi, salah satu dari preman itu berniat mencekalnya namun Krystal segera menendang tulang keringnya hingga patah.

“Kurang ajar, kau minta di habisi huh?” bentak preman yang terdapat goresan melintang di mata sebelah kanannya. Ia terlihat geram karena melihat temannya yang kesakitan karena satu kali tendangan dari seorang gadis yang tubuhnya kecil seperti lidi yang elok.

Preman itu berdiri mengambil pecahan botol kaca berniat melukai Krystal dengan menggunakan benda itu. Perlahan mata Krystal berubah menjadi semerah ruby. “Bersujud.” Ujar Krystal dan preman itu langsung bersimpuh tak bisa menggerakan tubuhnya.

“A – apa yang ter – jadi? Kenapa tubuhku tak bisa di gerakkan?” kedua preman itu gelagapan karena seluruh anggota tubuhnya tak dapat digerakan. Keringat mereka semakin mengucur deras saat melihat manik Krystal yang berubah menjadi merah.

“Si – siapa kau?”

“Makhluk a – apa dirimu?”

Krystal mencebik. “Masih bisa bicara rupanya, orang seperti kalian tak ku izinkan untuk menghirup udara dengan bebas lagi.” Setelah Krystal mengatakannya kedua preman itu langsung memegangi lehernya dengan mata melotot. Mereka memukul – mukul dada, mulut mereka membuka dan menutup seperti ikan koi. Mereka berusaha bernafas namun tak dapat melakukannya karena kekuatan Krystal adalah mengendali fikiran. Ia bisa membuat orang melakukan perintahnya, mengirimkan rasa sakit sampai menghentikan jantung dan menghancurkan bagian – bagian vital lain dengan kendali fikirannya. Kemampuan yang sangat langka dan menguntungkan dalam peperangan.

Kemampuannya hampir sama dengan Chanyeol namun kekuatan Chanyeol hanya bisa membaca fikiran, menambahkan dan menghapus memori seseorang. Sangat berguna sebagai pembaca strategi dalam peperangan tapi buruk dalam pertahanan. Namun setiap Vampire tidak hanya punya satu kekuatan dalam dirinya. Kekuatan fisik, IQ tinggi, kaya dan kerupawanan paras adalah bonus. Itulah mengapa Krytal begitu iri dengan kemampuan Chanyeol, ia begitu menginginkan kemampuan itu agar semua orang tak bisa menyimpan rahasia lagi darinya.

“Dasar sampah masyarakat.” Krystal meninggalkan gang begitu melihat kedua preman itu sudah terkapar tanpa nyawa. Mungkin mayat mereka akan ditemukan beberapa hari kemudian namun tak akan ada yang tahu penyebab kematian mereka. Kalaupun di otopsipun kemungkinan mereka akan didiagnosa gagal jantung. Krystal tak peduli, yang ia fikirkan kini harus sampai rumah sakit sebelum ponselnya berdering karena terlambat menjemput.

Punya Daddy yang bawel itu menjengkelkan tapi Krystal sangat menyayanginya.

o0o

Hari ini terasa dingin, langitpun kian menghitam. Gumpalan awan berkelut pertanda membawa hujan. Sehun tau cuaca sedang tidak bersahabat untuknya dengan keadaan setengah sekarat namun sejak kapan cuaca bersahabat dengan manusia. Ia biarkan tubuh renta yang masih memajang wajah pucat memikat itu menantang sekitar. Menantang dokter, semua perawat dan sekarang alam. Anggap sehun gila, karena kewarasannya memang dipertanyakan disini. Mana ada orang yang akan sembuh tanpa ada asupan makanan yang masuk kedalam perutnya, jangan pernah mengandalkan obat – obatan dan cairan yang masuk melalui selang infus. Demi apapun itu hanya penunjang kesembuhan.

“Tuan Sehun saya mohon makanlah sedikit bubur ini.” Seorang perawat tak henti membujuknya makan sejak satu jam yang lalu namun tak membuahkan hasil apapun untuk membuat porsi bubur ditangannya berkurang barang sesendokpun. Sehun hanya terdiam dan mengatupkan bibirnya rapat sejak ia meminta dibawa ke taman rumah sakit.

Namun si perawat tak menyerah berusaha menyuapkan bubur  dengan sopan ke Sehun yang sudah seperti mayat hidup. Matanya yang tajam kosong, wajahnya yang datar terlihat pucat, ia bagai boneka yang rusak. Hanya ada kehampaan dibalik sosok angkuh dan lidah tajam yang kerap di tunjukkan.

“Tuan –“ Sehun menampik sendok yang ditujukan untuknya hingga membuat baju si perawat yang sejak tadi sabar membujuknya kotor. Si perawat tidaklah marah namun juga tidak menyembunyikan kekesalannya dengan mendengus dan menatap Sehun dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Kalau begitu saya permisi untuk membersihakan kekacauan barusan.” Pamitnya dengan penekanan di kata ‘kekacauan’. Sehun tak peduli pada ketidak sopanan perawat yang sejak tadi membujuknya makan, ia juga tak peduli pada kondisi tubuhnya yang setengah lumpuh, ia tak perduli pada apapun. Memang sudah sejak lama Sehun jadi manusia yang membuang rasa pedulinya. Ia benci menjadi lemah namun jika ditilik lagi, apa yang bisa membuatnya menjadi kuat dan memiliki keinginan untuk hidup daripada mati. Setidaknya ia tidak boleh mati sekarang, tapi kenapa sulit sekali untuk bertahan hidup. Sehun bodoh. Tentu. Karena ia yang menjadikan hidupnya menjadi sulit bak labirin yang tak berujung. Namun sejak awal hidupnya memang sudah sulit kan, bahkan orang tuanya saja bisa menyulitkannya dan menyiksanya seperti hewan. Ia memang sudah menjadi produk cacat yang tak di harap.

o0o

In Sehun Eyes

Mereka tak akan pernah tahu betapa pahitnya hidupku dan memudarnya semua perasaan. Dimataku terang dan gelap adalah sama yang ada hanya abu – abu, tak ada gambaran jelas akan masa depan untukku. Bagaimana bisa aku melanjutkan hidup jika dunia saja sengah hati menerimaku. Aku akan mati tapi tidak sekarang. Berenang melawan arus memang sangat melelahkan, aku takut tujuanku tak pernah menemukan ujung. Atau bagaimana kalau memang tak berujung? Haruskah aku kembali?. Tapi harus kemana aku kembali. Aku hanya bisa tersenyum masam dan menggelengkan kepala seperti orang bodoh, menatap dunia dengan sudut pandang orang sakit mental seperti diriku memang sangatlah sulit.

Seperti hujan yang membawa segalanya, tak hanya membasahkan debu dan rerantingan hujan juga membawa air mata dan semua kenangan. Kenangan. Kata itu menggelitik batinku yang tak pernah orang tahu. Kucoba menggerakkan kakiku yang kurasa seperti jelly beberapa hari terakhir ini. Aku menapakkan kakiku di rerumputan yang mulai basah karena gerimis mulai turun. Terasa dingin dan basah dengan pelan kugerakkan jemari kakiku menggesek permukaan rumput yang terasa nyaman. Aku mencoba berdiri dengan berpegangan pada pinggiran kursi roda dengan perlahan, namun sial ternyata aku terlalu lemah untuk bangkit dan harus merasakan jatuh tersungkur. Untungnya rerumputan ini terasa empuk tak sekeras lantai marmer dikamar tempo hari. Kembali aku mengumpat saat ternyata selang infusku lepas dari tempatnya, kini darah mengalir seperti anak sungai kecil menetes dari sela jemariku. Sial, aku benci untuk ditusuk benda itu lagi.

Kubuang tatapan kelangit yang sudah menurunkan hujan yang mencercaku lewat bahasa alam. Rintik kecil yang menggelitik permukaan kulitku yang kian lama membuat bajuku basah dan tubuhku menggigil lagi. Dingin, hanya itu yang kurasa entah sejak kapan hujan dan dingin sudah menjadi bagian dalam hidupku. Saat hujan mulai mengisi lubang di jalanan, hujan itu tidak akan pernah mengisi lubang di hati seseorang. Tetesan hujan ini membasahi pipiku yang mulai mengalir menuju hati namun hanya bisa menciptakan riak. Aku berharap hujan turun dengan derasnya hingga menelan semua seperti aliran sungai yang berlumpur.

Aku merasa kesadaranku mulai menghilang hingga aroma yang menggoda menggelitik indraku untuk berusaha membuka mata.

“Dasar bodoh.” Aku mendengar suara itu, sepertinya aku memang sudah tidak waras.

o0o

In Author Eyes

Bau obat dan darah bercampur menjadi satu saat Krystal menginjakan kakinya di rumah sakit. Jelas baunya sangat menyengat hidung Krystal karena banyak orang terpasang infus, beberapa ruangan bedah dan persalinan pastinya sedang melakukan tindakan yang berhubungan dengan keluarnya darah dalam jumblah besar. Tenggorokannya terasa terbakar dan air liurnya serasa berlomba – lomba keluar namun itu sama sekali tidak mengganggu karena ia sudah sangat terlatih untuk mengendalikan nalurinya menghisap darah. Krystal melilitkan syal abu – abu dilehernya, bukan karena udara dingin namun karena ia ingin terlihat normal seperti manusia kebanyakan yang memberi respon demikian di cuaca yang tidak baik ini. Walau nyatanya Krystal sangat menyukai hujan hingga ia memilih memandangi air yang mulai turun dari langit. Karena saat hujan turun baginya aroma darah tak sewangi cumbuan hujan pada rerumputan dan ranting yang basah.

Chanyeol pernah mengatainya vampire aneh karena menyerukan pendapatnya tentang hujan yang lebih menggoda dari pada darah. Krystal juga tidak tahu kenapa ia sangat menyukai hujan lebih dari asupan yang menjadi penopang hidupnya.

Saat ia menatap taman, ia melihat Sehun yang sedang menampik sendok yang perawat sodorkan padanya.

“Ah si angkuh itu sepertinya sakit, cih walau begitu dia tetap saja sombong.” Decaknya yang melihat tingkah Sehun semaunya sendiri. Krystal masih berdiri disana melihat Sehun yang kini duduk sendirian setelah perawat tadi pergi. Hujan sudah mulai turun dengan deras namun lelaki itu masih disana seperti tak ada niatan untuk pergi. Tatapan matanya yang kosong membawa tanya dihati Krystal. Ada sesuatu yang aneh merambat di hatinya mengingat tatapan mata Sehun terakhir kali mereka bertemu.

Rapuh

Keyakinan dari mana yang membawa Krystal mengayunkan kakinya, berjalan dibawah hujan yang kian deras mendekati Sehun yang sudah menutup matanya diambang kesadaran. Wajah pucat, baju hampir basah, selang infus yang lepas dengan darah yang menetes – netes. Benar – benar keadaan yang sangat kacau. Bagaimana bisa Daddy – nya mau bekerja sama dengan orang seperti ini. Kondisinya saja sudah seperti mayat hidup, kalau dibiarkan terus orang yang ada dihadapan Krystal ini dipastikan akan mati. Menyusahkan.

“Dasar bodoh.” Decaknya kesal melepas syal hitam yang melilit leher putihnya. Ia berjongkok disebelah Sehun yang berusaha membuka matanya perlahan yang Krystal yakini pasti sulit. Ia ikatkan syalnya pada bekas infus yang tercabut agar darahnya tidak terus mengalir, beruntung sekarang sedang hujan jadi aroma darah tak sekuat bau rerumputan yang basah. Krystal menepuk pipi Sehun pelan mengabaikan tubuhnya yang mulai basah, dalam hati ia mengutuki perawat yang meninggalkan Sehun, kenapa meninggalkan orang yang sekarat sendirian di taman dalam kondisi hujan. Tapi jika diingat lagi lelaki didepannya ini memang menyebalkan jadi tak heran kalau sedikit memberikan pelajaran. Tapi ini sungguh sangat keterlaluan. Sekarang apa yang Krystal harus lakukan, orang ini kondisinya sedang tidak stabil, kalau si brengsek Rouler ini sampai mati perusahaan bisa rugi besar. Perjanjian yang ia buat dengan Kris adalah meningkatkan penghasilan perusahaan tahun ini dengan menggaet Imagine Corporation. Kalau sampai rencana Krystal berantakan gara – gara Sehun mati, ia tak sanggup lagi harus mendekam di dalam istanah keluarga Wu sepanjang hari atau akan dikirim ke pedalaman benua biru sana.

Batinnya berkecambuk, apakah ia harus melakukannya. Apakah ia harus menggunakan kemampuan Healingnya pada orang ini. Apakah orang ini pantas untuk hidup sedikit lebih lama padahal kelakukannya tak lebih baik dari binatang yang mempertahankan diri di alam bebas.

Sehun terlalu tamak, egois, arogan, licik tapi dia rapuh. Pondasi hidupnya tak sekokoh yang orang lihat.

“Ya sudahlah, biarkan aku menyesalinya nanti saja.” Ujarnya lalu mengigit sedikit ujung jarinya hingga mengeluarkan darah lalu meneteskannya ke bibir Sehun. Berharap dengan kesadaran yang menipis masih bisa menelan darahnya.

“Hei apa susahnya sih tinggal menelan, aku ini sedang baik memberikan sedikit darahku untuk menyembuhkanmu.” Gerutunya samar – samar sambil mengerucutkan bibir. Ia menusuk pipi Sehun dengan ujung kukunya hingga tergores dan membuat dirinya sendiri memekik panik.

“Astaga maaf aku memang punya kuku yang tajam, tapi sedikit goresan diwajahmu tidak apa – apakan. Toh kau akan tetap terlihat tampan. Tapi ketampananmu itu tidak berguna jika kau tidak hidup jadi cepat telan darah di mulutmu itu.” Sekarang Krystal seperti orang bodoh yang terus berceloteh sendiri, ini bukan lagi gerimis kecil melainkan sudah berubah menjadi hujan. Ia suka hujan namun ia tidak mau basah sekarang dan membuat ibunya khawatir. Krystal membawa kepala Sehun kepangkuannya entah dorongan dari mana lalu ia kecup pipi Sehun yang tergores kuku agar lukanya mengering namun Krystal sengaja sedikit meninggalkan bekas samar disana.

“Kuberikan luka ini agar kau ingat kalau wajahmu tidak lagi semulus sebelumnya jadi jangan banyak bertingkah.” Krystal menarik tubuh Sehun hingga terduduk, ia memindahkan tubuh Sehun ke kuri roda untuk dibawa kembali keruangan. Dengan perlahan ia meletakkan kaki Sehun pada penyangga di kursi roda. Kemudian Sehun terbatuk. Oh sepertinya darah Krystal sudah bereaksi.

Mata mereka bertemu, Sehun menatapnya penuh keterkejutan seperti terakhir kali mereka bertemu. ada sirat kerinduan dan kepedihan menjadi satu di obsidian tajam orang sering Krystal umpati dengan sebutan brengsek.

“Nara” Panggil Sehun dengan bibir yang sudah biru bergetar melawan dingin yang menyergap sampai ke tulang. Netra safirnya terlihat kelam bersama kesedihan yang hanya dirinya sendiri yang tahu.

“Kau kedinginan, akan ku antar ke ruanganmu dan kumohon jangan banyak bertingkah. Karena aku bukan bawahanmu yang bisa diperintah begitu saja.” Tak mengindahkan panggilan Sehun yang di tujukan kepadanya, Krystal mendorong kursi roda Sehun memasuki ruangan rawat inap menurut gelang pasien yang Sehun kenakan di tangan kiri.

Pemandangan yang Krystal lihat saat sampai di Nurse Station adalam perawat – perawat yang sedang bergosip, seperti melupakan kondisi pasiennya yang ditinggalkan diluar sendirian. Jelas itu membuat Krystal berang karena mereka tak melakukan kewajiban seperti dalam sumpah. Harusnya lisensi sebagai mereka dicabut saja dan menjadi pembawa berita gosip di TV jika kerjaannya hanya membicarakan orang lain.

“Pasien yang bernama Sehun itu sok sekali, apa kau tau dia menolak makan dan bersikap seenaknya.”

“Ah benar, padahal kondisinya sudah sangat memprihatinkan tapi dia sangat keras kepala.”

“Sejak ia masuk ruang rawat inap, keadaan menjadi heboh. Beberapa kali harus ganti infus, menolak makan, menolak terapi, jatuh dari tempat tidur. Wajahnya yang tampan tak bisa mengurangi badanku yang lelah karena harus mengurus pasien sepertinya.” Dengan tenang Krystal mendengarkan perawat yang sedang mengobrol membelakanginya. Perlahan ia mendekat setelah mengunci kursi roda yang Sehun duduki.

“Kalau merasa lelah kenapa tidak keluar saja, kurasa setelah masalah ini lisensi kalian sebagai perawat akan dicabut dan kalian bisa istirahat sepuasnya.” Desis Krystal dingin bersamaan dengan kedua perawat yang menatapnya penuh keterkejutan. Belum lagi melihat kondisi Sehun yang bajunya basah dan mengigil di kursi roda.

“Ah – i. . tu, kami – “

“Alasan apa yang ingin kalian buat hhmm ? sudah jelas kalian melalaikan kewajiban. Aku akan segera melapor pada atasan kalian agar segera ditindak lanjuti.” Ancam Krystal membuat mimik wajah keduanya makin pucat, sepucat wajah Sehun saat ini. Mereka tak berani bertatapan dengan mata Krystal yang tajam dan mengintimidasi.

Salah satu dari mereka yang bernama Hyejo memegang tangan Krystal. “Aku mohon jangan laporkan kami pada atasan, kami akan memperbaiki kelakuan kami.” Mohonnya.

“Kau mudah mengatakannya, lalu kalau sampai pasienmu mati dengan apa kau akan memperbaiki, apa nyawa seseorang bisa kau bongkar pasang seperti batrai senter. Gunakan otakmu kalau akan bertindak. Kau dibayar bukan untuk duduk dan memakan gaji buta.” – Krystal menghempaskan tangan Hyejo, nadanya yang tajam mamin membuat nyali semua orang ciut.

“Nona ku mohon maafkan kami.” Mohon mereka serempak dengan mata berkaca – kaca namun tak mengubah tatapan tajam Krystal menjadi hangat.

“Ada apa ini?” dari ruangan tengan dr. Ravi keluar tampak kaget dengan apa yang sedang terjadi. Kedua perawatnya menangis didepan seorang gadis yang punya wajah bak manekin hidup dan pasien kesayangannya yang basah kuyup duduk di kursi roda dengan selang infus copot dan darah yang mengering didela jari.

“Tanyakan saja pada perawat – perawatmu ini dokter.” Krystal melenggang pergi begitu saja sambil membawa Sehun memasuki kamar rawatnya setelah melihat papan daftar nama pasien yang berada di Nurse Station. Tak memperdulikan dr. Ravi yang sedang memasang wajah gahar butuh penjelasan.

Dengan cekatan Krystal merapikan tempat tidur, tanpa menyadari Sehun yang sejak tadi tak lepas memperhatikan setiap pergerakannya yang berjalan kesana kemari menyingkirkan kursi dan barang – barang yang berserakan. Krystal menarik lengan Sehun lalu mengalungkan kelehernya, ia memapah Sehun perlahan – lahan sampai ke tempat tidur membuat jarak mereka kian dekat dengan aroma mawar yang menari – nari semakin membuat Sehun tak bisa lepas menatap paras Krystal yang sangat sempurna.

Sehun pandangi lamat – lamat wajah dengan proporsi sempurna seperti boneka, rambut kecoklatannya terlihat berkilau tanpa embel – embel cahaya matahari seperti di iklan shampo. Bibirnya terlihat merah merekah. Semua pada diri Krystal benar – benar membuat Sehun rindu pada sosok Nara. Seseorang yang begitu berarti dimasa lalunya.

“Nara.” Gumam Sehun saat mereka telah sampai di pinggir tempat tidur, membuat kerutan samar dikening Krystal saat Sehun menatapnya dengan begitu dalam. Ada kerinduan, kepedihan dan setitik semangat hidup yang terlihat dari obsidian biru safir itu. Krystal terpaku saat tangan dingin Sehun mengusap pipinya lembut, reflek ia memejamkan mata menikmati sentuhan yang tiba – tiba. Tubuhnya mendadak beku seperti terhipnotis.

“Nara.” Ujar Sehun lagi kali ini sangat jelas hingga membuat mata Krystal yang awalnya terpejam terbuka, pemandangan yang ia lihat pertama kali adalah air mata Sehun yang menetes dan jatuh tepat dipipinya karena tubuh Sehun yang lebih tinggi.

“Kenapa kau menangis?” Krystal mengusap air mata Sehun yang jatuh dipipinya lalu menatap lelaki dihadapannya bingung.

Sehun hanya bungkam, lalu meraup kedua pipi Krystal dengan tangannya yang masih gemetar dan menyatukan dahi mereka. “Maaf.”

Satu kata itu membuat Krystal terpaku, hanya satu kata sederhana tapi entah kenapa menggetarkan hati. Ada perasaan aneh yang membuatnya merasa aneh, otaknya mendadak kosong dan air matanya mengalir. Tangannya terangkat hampir menyentuh tangan Sehun yang bertengger dipipinya jika suara pintu yang terbuka tak mengagetkannya dan membuat Krystal mendorong Sehun begitu saja hingga terjungkal ke tempat tidur. Krystal menatap ke arah pintu yang terbuka terlihat dr. Ravi dan seorang perawat laki – laki yang mengekor dibelakangnya. Sepertinya dua perawat perempuan yang tadi sedang disidang disuatu tempat.

“Eeenng.” Lenguh Sehun memegangi kepalanya yang berdenyut, matanya terpejam meredam rasa nyeri yang mendera. Terhempas lagi pada kenyataan akan kesakitan dan kesendirian.

Krystal tergugu, menatap prihatin kearah Sehun yang kesakitan di ranjang. Ia merasa bersalah karena menghempaskan Sehun begitu saja. Tenaga yang ia keluarkan bukanlah tenaga manusia biasa, ia sangat memaklumi kalau Sehun mengeluh badannya sakit sebentar lagi. Ia bingung dengan keadaan yang ia alami beberapa saat yang lalu, ia heran pada tubuhnya yang hanya diam saat Sehun menyentuhnya seperti itu. Krystal sadar namun ia hanya diam. Tidak. Tubuhnya seakan menikmati setiap sentuhan yang Sehun berikan padanya.

“Sehun apa apa yang kau rasakan sekarang? apa kepalamu sakit?” tanya dr. Ravi dengan wajah panik melihat Sehun memegangi kepalanya. Perawat yang mengekor dibelakangnya tampak keluar dan datang dengan membawa infus set yang baru dan baju rumah sakit yang kering. Krystal masih diam disana melihat apa yang terjadi dengan berdiri disisi ranjang.

Tak ada jawaban yang Sehun berikan, ia hanya meringis sambil memegangi kepalanya. Tatapan dr. Ravi beralih pada gadis cantik yang berdiri disisi Sehun dengan pandangan mata kosong. Dr. Ravi berdiri membiarkan perawat lain melakukan tugasnya. Ia berjalan mendekati Krystal.

“Terima kasih sudah membawa Sehun kembali keruangan, ini memang kesalahan pegawai kami. Sesegera mungkin kami akan menindak lanjuti kedua perawat yang lalai menjaganya.” ujar dr. Ravi menjelaskan, sekaligus menerka mungkin gadis dihadapannya ini salah satu koleksi Sehun. Memecahkan lamunan Krystal.

“Aku tidak peduli sama sekali mengenai hal itu, yang terpenting adalah buat orang ini hidup dan jangan sampai mati. Aku hanya tidak mau kalau perusahaanku mendapat rugi gara – gara patner bisnisku yang mati saat menjalin kerja sama.” desis Krystal dingin dengan wajah datar matanya menatap dr. Ravi dengan tajam membuatnya gelagapan dan berdehem beberapa kali.

“Maaf aku hanya merasa perlu menjelaskannya.” – dr. Ravi.

“Jelaskan saja pada anggota keluarga atau pacar – pacarnya, aku tidak peduli sama sekali yang penting perusahaanku tidak rugi. Kalau begitu aku permisi.” Krystal melenggang pergi tanpa mengetahui kalau Sehun memperhatikannya.

Pintu terbuka begitu saja sebelum Krystal memutar gagangnya, membuat orang yang membukanya dari luar memasang wajah kaget seperti bertemu dengan hantu. Krystal meraba wajah dan bibirnya takut taringnya terlihat tanpa sadar karena suasana hatinya yang sedang aneh, namun semua normal.

“Na – nara.”

“Huh?” Krystal mengangkat sebelah alisnya menatap dua orang pria dihadapannya bingung saat salah satu diantara mereka memanggilnya dengan nama lain. Sebuah nama yang tidak asing dipendengarannya. Sebuah nama?.

Nara

Nara

Nara

Ah, bukankah Krystal pernah bertemu dengan pria bermata kucing yang berdiri dibelakang pria berkulit tan itu. Seingatnya dulu pria itu juga memanggilnya dengan nama Nara, dan tadi Sehun juga memanggilnya dengan nama yang sama dan sekarang ada pria yang tidak dikenalnya memanggilnya dengan nama yang sama. Sepertinya ada sesuatu dibalik ini semua tapi ia Krystal bukan Nara. Krystal tidak suka disamakan dengan orang lain.

Krystal meniup poninya kesal. “Ck aku jengah dengan ini semua, berhenti membuat drama seperti di tv.” Krystal mengacungkan telunjuknya pada Baekhyun dan Kai. “Aku tidak mau tau dan tidak peduli siapa itu Nara, tapi namaku adalah Krystal Wu dan aku tidak suka disamakan dengan orang lain. Apa lagi kalian dengan seenaknya memanggilku dengan nama orang lain yang tidak ku tahu kepribadiannya seperti apa. Jadi ingat dan jangan sampai salah memanggil namaku lagi.” Krystal berbalik kearah ranjang Sehun.

Ia mendekat dan sedikit membungkuk agar tatapan keduanya bertemu, membuat Sehun merasan lagi aroma mawar yang menari dipenciumannya. “Kau dengarkan Tuan Rouler, namaku Krystal. Krystal Wu penerus Wu Corporation dan jangan sampai salah memanggilku lagi oke.” Diakhir penekanan namanya Krystal memberikan senyum manis pada Sehun sebelum berbalik ke arah pintu dan melewati Kai yang masih terpaku dengan Baekhyun.

“Cerewet.” Gumam Sehun lalu menutup matanya dengan tangan yang bebas, kepalanya mendadak penuh dengan berbagai hal mengenai apa baru saja terjadi. Berusaha bersikap masa bodoh padahal penasaran setengah mati.

“Dia perempuan yang tempo hari kuceritakan, bukankah wajah mereka mirip.” Baekhyun menyenggol lengan Kai yang masih diam melihat punggung Krystal yang kian menjauh, lalu menatap Sehun yang menutupi wajahnya dengan tangan menghadap keluar jendela.

“Hari ini aku merasa gila.” Gerutu Kai sambil menggelengkan kepalanya.

TBC

18 thoughts on “Rendezvous Again [Chapter 5] Christy Wu

  1. Aigoo geregetan bacanya christy😀 kamu sibuk yah jadi lama banget hiatusnya T.T you and I juga belum update lagi. Oke di tunggu karyanya

  2. wkwkwk geli sendirii waktu sehun ngomong “cerewet” lucu ajaa kk.. tau sendirikan karakter sehun disini kek gmnaa, hihihiii..
    .si krystal ihhh.. ngegemesinn hehe
    buat kaiii.. sbenernya sih aku kasian sm nasib kamu disini, tapii nikmatin ajaa yaa.. haha

  3. Yg di lakukan ketika melihat update ff dari Christy Wu itu rasanya mau teriak. Bahkan belum di baca aja udah komen.
    Aku kangen sama Sehun Krystal. Hehehe…

    Ka update nya jangan lama² dong. Ya ya ya….

    Semangat!!!!

  4. WAH GILA AKHIRNYA UPDATE WEHEEY kenapa gak sekalian aja sehunnya di lempar sampe jatoh dari kasur HAHAHA gemes tapi abis sehunnya mendadak lucuu gituu heeuu aku sukaaa di tunggu banget eon next update nyaa💜💜

  5. woahhhh…akhirnya ini ff muncul jg…hahahaha..
    kesian ya sehun kejamnya hilang..diganti penderitaan batin yg gk diketahui siapapun…huhhh
    dan akhirnya ketemu krystal jg…aku berharap chap selanjutnya makin banyak moment mreka berdua.. dan krystal kerumah sakit itu trmasuk rencana kris bkn??? kok ngepas bngt. .

  6. akhirnya updat juga.. lama nunggu ini ff,
    yg sama anna siapa???
    agak lupa terakhir kemaren gimana,, krystal di katain crewet :v justru yang crewet mala bikin penasaran hun hahaha

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s