Diary of Childhood Memories – Sick #8 – HyeKim

docmsick

Diary of Childhood Memories – Sick #8

-©2016 HyeKim’s Fanfiction Story-

Starring With : Luhan as Luhan || Hyerim (OC) as Kim Hyerim

Genre : Romance, Comedy, Marriage Life, Childhood ||  Lenght : Vignette-Series || Rating : PG-13

Summary :

Series yang menceritakan sepasang suami-istri yang memiliki jarak umur 7 tahun, memiliki kenangan masa kecil bersama. Apa saja kenangan keduanya tersebut? Marilah baca seriesnya

Disclaimer :

This is just work of fiction, the cast(s) are belong to their parents, agency, and God. The same of plot, character, location are just accidentally. This is not meaning for aggravate one of character. I just owner of the plot. If you don’t like it, don’t read/bash. Read this fiction, leave your comment/like. Don’t be plagiat and copy-paste without premission.

Note :

Ini adalah sebuah FF berseri yang bakal langsung habis tapi akan ada kelanjutan cerita yang lain dalam tema berbeda. Blod-italic  menandakan flashback!


“Luhan lah yang sakit sekarang.” 


PREVIOUS SERIES :

The First Kiss?!#1 || Traumatic of Lift#2 || Rose in Valantine Day #3 || Lullaby for Hyerim#4 || Test Pack#5 || Jealous #6 || April Mop #7

HAPPY READING

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Hari ini Luhan tidak bekerja sama sekali. Ya Luhan libur, lebih tepatnya meliburkan diri. Bila saja acara tidak bekerja ini diisi dengan liburannya bersama istrinya, mungkin akan lebih menyenangkan. Akan tetapi, bermimpilah tentang sebuah liburan yang menyenangkan itu lantaran Luhan sekarang sedang dihadapi oleh situasi Hyerim─istrinya, yang sakit. Dan sungguh, Hyerim yang sedang sakit itu layaknya wanita PMS. Oh mungkin harus diingatkan kembali bahwa Luhan memiliki istri yang sangat kelewat seperti bocah karena rentan usia keduanya yang sampai tujuh tahun.

“Luhan!” mata Luhan langsung terpejam sebentar karena frustasi saat pekikan Hyerim terdengar. “LUHAN!” kali ini bukan sekedar pekikan namun teriakan.

Dengan langkah beratnya, Luhan menuju kamarnya bersama istri yang memiliki jarak umur tujuh tahun dengannya. Ketika pintu kamar terbuka, terlihat Hyerim sedang duduk di ranjang sambil menyeder di headboard dengan tangan dilipat didepan dada serta bibir dimajukan. Perlahan Luhan mendekatinya.

“Ada apa sayang?” tanya lelaki berusia dua puluh enam tahun tersebut sambil menampilkan senyumannya. Tapi raut cemberut Hyerim masih terlihat.

“Aku lapar.” Hyerim menjawab dengan nada ketus. Lalu dirinya menatap Luhan. “Buatkan aku makanan, cepat!” seru Hyerim membuat Luhan terlonjak.

Gadis ini apa sedang menjadikan Luhan seorang pembantu? Walau dalam hati Luhan menggerutu sebal tapi dirinya tetap menyiapkan makanan untuk istrinya yang sedang demam tinggi itu namun masih terlihat galak. Watak asli memang tidak bisa luntur. Beberapa menit setelahnya, Luhan kembali dengan nampan berisi semangkuk bubur lalu dirinya mendudukan diri di sisi samping ranjang.

Dengan seuntas senyumnya, Luhan mulai mengaduk buburnya kemudian menyendokannya kedepan mulut Hyerim. “Aaa… buka mulutmu,” titah Luhan tapi yang dilakukan Hyerim malah mengunci rapat mulutnya sambil menatap tak suka bubur yang ada disendok yang Luhan sodorkan.

Hyerim menatap Luhan dengan kesal lagi lalu berucap tegas. “Aku tidak suka bubur!” Luhan menghela napasnya lalu mulai menarik kembali sendok berisi bubur itu, kemudian Hyerim merengek. “Walau aku sakit, aku ingin makan sosis goreng, uhuk.” dan rengekannya diakhiri oleh sebuah batukan lalu gadis itu pun batuk beberapa kali membuat Luhan jadi khawatir.

Kan lihat, kondisimu memprihatinkan sekali. Jadi makan bubur saja ya?” bujuk Luhan tapi bujukannya malah direspon wajah memelas Hyerim. “Ayolah, bubur adalah makanan yang sehat.” Luhan kembali membujuk.

“Tidak mau! Kalau sehat, kamu saja yang makan!” lagi-lagi Hyerim berseru dengan penolakannya. “Aku ingin sosis goreng, tidak mau tahu!” kukuhnya.

Pada akhirnya Luhan lah yang mengalah kemudian memakan habis buburnya. Hyerim tersenyum-senyum tidak jelas dibalik wajah pucatnya itu. Setelah bubur tersebut habis, Luhan kembali ke dapur dan selang beberapa sekon kembali lagi dengan sosis goreng sesuai permintaan istrinya. Hyerim tampak sumringah sekali akan hal tersebut. Luhan hanya mendengus melihatnya lalu mulai menyuapkan sosis tersebut.

“Buku mulutmu,” dengan senang tiasa Hyerim membuka mulutnya dan mulai mengunyah sosis tersebut. Namun raut wajah Hyerim malah berubah tak nyaman dengan dahi berkerut membuat Luhan bertanya-tanya dalam hati.

“Kenapa sosisnya rasanya tidak enak?!” Hyerim kembali menyemprot Luhan yang langsung lemas seketika dengan wajah lesu.

“Itu karena kamu sedang sakit makanya sosisnya rasanya jadi aneh dilidahmu.” Luhan menjawab dalam hati.

“Pasti kamu memasaknya tidak benar!” tuduh Hyerim dengan wajah memberengut kesal. Luhan hanya diam menerima amukan istrinya lagi. “Ini, kamu makan saja, makan. Rasanya aneh.” Hyerim pun mengambil satu sosis lalu membuka mulut Luhan paksa kemudian menjejalkan sosis tersebut kedalam mulut suaminya.

“Uhuk, ya Tuhan. Kim Hyerim!” pekik Luhan karena tersedak tapi melihat wajah sakit istrinya yang menyebalkan itu membuat Luhan mengurungkan niat untuk marah. Luhan merasa sedang mengurus wanita hamil bukannya wanita sakit demam tinggi.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Malam tiba diantara kedua suami-istri itu. Demam Hyerim sedikit menurun walau mau sakit atau tidak, tingkah gadis berumur sembilan belas tahun itu tetap sama; galak dan tukang ngomel. Luhan hanya bisa pasrah, apa ini kesalahannya menjadi pedofil yang menikahi gadis yang berbeda tujuh tahun dengannya? Detik ini, Luhan melangkahkan kaki mendekati ranjang yang sudah diisi Hyerim yang memposisikan badan menyamping. Luhan pun mulai merebahkan diri di sebelah Hyerim yang memunggunginya lalu masuk keselimut yang sama dengan istrinya. Mata Luhan mulai terpejam dan menjelajahi alam mimpi. Namun belum ada lima menit, suara Hyerim terdengar.

“Lu, aku kepanasan,”

Luhan kembali membuka mata mendengarnya. Helaan napas Luhan terdengar lalu dirinya menyingkirkan selimut yang membaluti tubuhnya dan tubuh Hyerim. Kembali Luhan memejamkan mata untuk tidur dengan nyenyak. Namun tidur nyenyak itu hanyalah harapan ketika Hyerim membangunkannya lagi.

“Lu, sepertinya karena ada kamu aku kegerahan,” ujar Hyerim lalu melirk Luhan dan langsung saja pria itu membuka mata serta menatap Hyerim bingung.

“Jadi aku harus apa?” tanya Luhan.

Hyerim tampak berpikir dengan menerawang ke arah atas, lalu dirinya menjawab ketika berhasil menemukan jawabannya. “Kamu tidur di bawah,” Hyerim mengucapkan hal tersebut dengan santai dan sukses membuat Luhan melongo.

“Hah?”

“Tidur di lantai,” Hyerim memperjelas namun belum sempat Luhan mengelak, Hyerim menendang pria itu sampai tersungkur ke lantai. “Tidur yang nyenyak.” dengan tanpa dosa Hyerim mengatakannya sementara Luhan sedang mengaduh-ngaduh kesakitan.

Dengan tatapan jengkel bercampur kesakitannya, Luhan menatap punggung Hyerim tajam lalu menggerutu. “Dia ini sakit atau tidak sih sebenarnya?”

Well, sepertinya Luhan harus tidur di lantai malam ini karena istrinya yang sedang sakit.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Besoknya, Luhan kembali memeriksa temparatur Hyerim yang malah kembali naik. Detik ini Luhan sedang mengompres istrinya itu. Terlihat wajah Hyerim sangat lesu tanpa muka galaknya tapi itu malah membuat Luhan tidak nyaman dibanding wajah galak istrinya. Didudukanlah oleh Luhan bokongnya di sisi tempat tidur sambil memandangi wajah Hyerim lalu mengelus pipi istrinya itu.

“Aku bosan,” Hyerim mulai mengeluh dengan wajah ditekuk. Luhan pun tak menyahuti keluhannya karena bingung harus bagaimana dengan istrinya yang sedang sakit dan ia pun masih setia mengelus pipi kiri Hyerim. “Luhan…” Hyerim mulai merengek dengan bibir mengerucut.

“Hmm?” Luhan bergumam untuk sahutan rengekan itu.

“Aku ingin melakukan sesuatu.”

Luhan menggeleng langsung tanda tak boleh. “Tidak, kamu harus beristirahat di ranjang dan tetap di kamar.” tegas Luhan dan Hyerim tampak mempoutkan bibirnya. Tapi sekita wajah Hyerim kembali berbinar ketika mendapatkan sebuah ide.

“Baiklah, tapi aku ingin melakukan sesuatu denganmu di sini,” ucap Hyerim dengan senyum jahil. Luhan pun menatap gadis itu heran. Melakukan sesuatu di kamar dengan Luhan? Kenapa jadi ambigu?

Tapi detik yang akan datang, Luhan ingin sekali menenggelamkan kepalanya lantaran sempat berpikiran mesum karena ucapan Hyerim. Karena yang dilakukan oleh Hyerim padanya sangat-sangatlah memalukan. Gadis itu kini sedang duduk di sisi tepi ranjang dengan kaki menggantung di atas lantai dan Luhan yang berlutut di hadapannya. Sekarang Hyerim sedang memberikan wajah Luhan dengan polesan make up yang tebal.

“Hye, apa tidak ketebalan?” tanya Luhan karena merasa eye shadow, eyeliner, dan lipstick yang dipoleskan Hyerim sangat kebanyakan.

Dan memang wajah Luhan sudah sebelas banding dua belas dengan badut dan Hyerim mati-matian menahan tawa melihat lipstick merah menyala dibibir suaminya sampai berantakan ke mana-mana alias tidak rata karena ulahnya juga eyeliner yang tebal layaknya mata nenek lampir, tidak dilupakan eye shadow pink yang kebanyakan. Hyerim terkekeh pelan dan menggeleng.

“Aku belum beres tahu,” ucap Hyerim dengan gaya acuhnya. Luhan hanya mendesah pasrah dalam hati daripada kena amukan istrinya. Hyerim tampak mengambil sesuatu di laci naskas lalu setelah mendapatnya, Hyerim menatap Luhan dengan senyun penuh arti. “Ta-da!”

Hyerim menunjukan clip juga sebuah ikat rambut dan dirinya mulai menarik-narik rambut Luhan kemudian mulai menatanya menjadi gaya apple hair serta dihiasi clip rambut dimana-mana. Luhan sudah pasrah bila sekarang penampilannya sudah menyerupai badut sungguhan.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Sore hari seperti ini biasanya Hyerim─Si Bocah tujuh tahun yang merupakan tetangga Luhan, sudah menggedor-gedor pintu rumah Luhan untuk bermain. Namun sore ini sosok bocah lucu itu tidak ada. Luhan pun jadi keheranan dan memutuskan untuk mengunjungi rumah Hyerim.

‘Tok! Tok!’

Ketukan dilakukan Luhan pada pintu rumah Hyerim, beberapa menit kemudian terbukalah pintu itu dan menampilkan sosok Ibu Hyerim yang tersenyum ramah pada anak lelaki empat belas tahun di hadapannya.

“Pasti mencari Hyerim ya?” tebak Ibu Hyerim tepat sasaran. Tanpa ragu pun Luhan mengangguk dengan senyumannya.

“Iya, omoni. Hyerimnya mana?” Luhan melongok-longokan kepala ke dalam rumah keluarga Kim.

“Hyerim sedang sakit,” ucap Nyonya Kim dengan nada disedih-sedihkan, Luhan pun menatapnya terkejut. “Ingin menjenguknya?” tawar Nyonya Kim dengan senyumannya.

“Tapi omoni aku tidak bawa apa-apa,” jawab Luhan sambil menggaruk belakang kepala dan meringis malu.

“Tidak apa, Hyerim sudah cukup senang melihatmu kok,”

Akhirnya Luhan dipersilahkan masuk dan tanpa dipandupun, Luhan sudah tahu di mana letak kamar Hyerim dan langsung saja melangkah ke sana. Ketika berada di depan pintu berwarna cream dengan banyaknya sticker tinkerbell, Luhan meraih gagang pintu tersebut dan membukanya perlahan. Pandangan mata Luhan langsung menelisik ke dalam.

“Oppa!” seruan Hyerim terdengar dari atas ranjang berwarna pink tersebut. Luhan tersenyum lebar melihatnya walau wajah Hyerim sekarang terlihat pucat karena sedang sakit flu.

“Hyerimku,” sapa Luhan dengan senyumannya kemudian melangkah mendekat ke Hyerim dan duduk di sisi ranjang gadis kecil tersebut yang langsung menghambur ke Luhan.

“Oppa, aku bosan!” Hyerim mulai merengek dengan tangan melingkar dileher Luhan serta bibir mengerucut. Luhan gemas melihat tingkah gadis kecil dalam dekapannya ini.

“Baiklah, oppa akan menemanimu seharian ini,”

Mata Hyerim langsung berbinar mendengarnya kemudian dirinya bertanya untuk meyakinkan Luhan. “Janji?”

Luhan mengangguk dan menjawab. “Janji,” kemudian dirinya menggeret tubuhnya ke tengah ranjang lalu merebahkan tubuh mungil Hyerim dan duduk di sebelah gadis tujuh tahun tersebut sambil merangkul bahunya.

Wajah Hyerim tampak gembira sekali karena Luhan akan menemaninya seharian ini. Luhan pun tersenyum kemudian mencubit sebentar pipi kanan Hyerim yang mana langsung menoleh padanya. “Oppa,” Hyerim memanggil dan Luhan menyahutinya dengan gumaman. “Aku ingin jimat agar sembuh,” ucap Hyerim dengan puppy eyesnya.

Luhan terkekeh melihatnya lantas mengangguk. “Oke, jimatnya datang,” ucap Luhan lalu memberikan kecupan sayang dikening Hyerim setelah itu menatap gemas Hyerim yang tampak kegirangan dengan wajah berseri. “Cukup jimatnya?” tanya Luhan dan jawabannya adalah gelengan Hyerim.

“Belum, pipiku masih panas karena sakit,” Hyerim memelas dengan raut wajah lucu. Luhan ingin sekali terbahak melihat tingkah anak perempuan tersebut.

Kepala Luhan mengangguk-angguk lalu berujar. “Baiklah, jimat kedua datang,” dan langsung saja Luhan mengecup bergantian pipi cubby Hyerim setelah itu mengelus-elus kepala anak perempaun tersebut. Tampak Hyerim tersenyum-senyum lalu tanpa diduga mencium pipi kiri Luhan.

“Itu jimat untuk oppa,” ucapnya polos membuat Luhan tertawa pelan. Tapi siapa sangka, keesokan harinya ketika Hyerim sembuh, Luhan malahan jatuh sakit.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

“Dulu saat ia kecil dan sakit itu sangat menggemaskan. Sekarang malah membuat kesabaran terkuras,” gerutu Luhan ketika dirinya membanding-bandingkan Hyerim kecil sakit dan Hyerim dewasa sakit.

Bila dulu Hyerim tetap menggemaskan saat sakit tapi sekarang Hyerim malah lebih menyeramkan ketika sakit. Luhan hanya mencibirkan bibirnya kemudian membetulkan posisi bingkai foto Hyerim yang beurumur tujuh tahun yang sedang duduk dipangkuannya yang berusia empat belas tahun. Siapa sangka anak perempuan mungil yang merupakan tetangganya dulu bisa menjadi istrinya sekarang. Sungguh Luhan selalu ingin tertawa bila mengingatnya.

“LUHAN!” teriakan Hyerim menggema lagi dan tampak Luhan mendesah malas.

Dengan malas, Luhan menuju kamarnya dan Hyerim sedang duduk di tepi ranjang seperti saat mendandaninya tiga jam yang lalu dengan kepala memegang jidatnya sambil menutup mata. Luhan langsung menghampiri Hyerim ketika melihat wajah gadis itu menahan kesakitan.

Disertai wajah khawatir bercampur panik, Luhan bertanya. “Hye, kamu tak apa?”

Hyerim menghela napas lalu mengangguk disertai kelopak mata mulai terbuka lantas memandang Luhan lesu. “Sedikit pusing,” jawabnya dan Luhan langsung meletakan punggung tangannya didahi istrinya itu. Masih panas, itulah yang Luhan rasakan. “Lu, aku ingin menonton televisi,” ucap Hyerim tatkala Luhan menyingkirkan tangannya dari dahinya.

“Oke, akan kupapah dirimu,” ucap Luhan yang mulai meraih tangan Hyerim untuk ia rangkul namun gadis itu malah menepis tangannya membuat Luhan heran.

Dengan cengirannya, Hyerim berkata. “Aku ingin digendong ke ruang keluarga,” dan Luhan langsung melongo mendengarnya.

“Apa? Kamu ini hanya demam bukan lumpuh.” tolak Luhan dengan wajah tak terima. Hyerim langsung menarik tangannya dan megoyang-goyangkannya dilengkapi bibir mengerucut.

“Ayolah, aku ingin digendong…” Hyerim kembali merengek membuat Luhan menghela napas frustasi.

“Kamu bukan bayi!” Luhan bersikukuh tidak mau.

“Tapi kamu dulu sering menggendongku,” balas Hyerim tak mau kalah.

“Itu kan dulu saat kamu masih ringan dan tubuhmu mungil,”

“Jadi sekarang aku ini berat dan bertubuh gendut begitu?!” pekik Hyerim dengan tatapan marah. Luhan langsung menelan ludah gugup karena sangat tahu bahwa istrinya sangat sensitif bila disinggung masalah berat badan. “Gendong aku, tidak mau tahu!”

Lagi, Luhan mengalah dan menggendong Hyerim secara bridal menuju ruang tengah. Wajah gadis itu tampak senang sekali membuat Luhan akhirnya tersenyum meskipun tipis. Dengan perlahan Luhan menurunkan tubuh Hyerim di sofa ruang tengah lalu duduk di sebelah gadis itu sambil menyender di punggung sofa dengan lelahnya. Hyerim tampak mulai mengambil remot televisi dan menyalakannya.

“Whoa! Scarlet heart! Lee Junki tampan sekali,” ujar Hyerim yang mulai menggila melihat paras menawan Lee Junki di televisi.

Luhan hanya memandang Hyerim dari ujung matanya yang mulai mengabur karena bersiap untuk tidur lantaran mengantuk juga lelah. Sementara Hyerim sudah membekap mulut dengan kedua tangan disertai wajah terpesona apalagi ketika sosok Kang Haneul turut muncul membuatnya menjerit-jerit.

“Lu, lihat! Kang Haneul dan Lee Junki, mereka berdua kekasih dan suamiku lho!” pekik Hyerim sambil memukul-mukul bahu Luhan tapi tidak ada sahutan dari suaminya yang asli itu membuat Hyerim heran lalu melirik ke tempat Luhan dan mendapati Luhan sudah tertidur kemudian menjatuhkan diri dipaha Hyerim.

“Ah suamiku yang asli pasti lelah,” gumam Hyerim lalu mengelus rambut Luhan namun setelah itu terdengar suara batuk beberapa kali dari Luhan dalam tidurnya menyebabkan Hyerim berjengit kaget. “Apa kamu sakit?” Hyerim bergumam kembali lalu meletakan punggung tangan didahi Luhan dan punggung tangan yang satunya lagi didahinya.

Wajah Hyerim tampak terkejut dengan mata melebar dan mulut terbuka. “Eh? Demamku sudah hilang tapi…” kemudian Hyerim menjatuhkan pandangan pada Luhan yang tubuhnya menggigil seketika. “Luhan lah yang sakit sekarang.”  Hyerim menggeleng-geleng prihatin akan hal itu, seakan déjà vu layaknya masa lalu.

-Finish-


Um, well adakah yang kangen couple dan FF series ini? Bukan, bukan. Adakah yang inget FF series ini? /gakkk/

Ya udah lama sih gak nulis ini series LOLOLOL. Dan karena pas itu mau daftar jadi admin di blog EXOFFI tercinta ini /uhuk/  kebetulan lagi agak writer block (sepertinya melihat series yang ini gak banget -_- ) jadi ya buat ini mumpung ada ide walau absurd .___.

Dan ini LOL sekali, Hyerim kamu PMS atau sakit sih? Ya sabar aja ya Luhan tahu aja istrimu emang begono😄😄 btw komen kalian sangat dibutuhkan :3 /kedip-kedip mata/

-Salam ketjup berlendir, HyeKim-

http://www.hyekim16world.wordpress.com 

2 thoughts on “Diary of Childhood Memories – Sick #8 – HyeKim

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s