WINGS – PROLOGUE I — IRISH’s Story

altairish-wings-prologue-1

—  WINGS —

storyline by ALTAIR and IRISH; our winter collaboration project

action; adventure; fantasy; romance; school life

PG-17; chapterred

standart disclaimer applied

2016 © EXO Fanfiction Indonesia

[ Previous: Coming Soon IComing Soon II ]  —  [ Clicked: Prologue I ]

Bumi. Manusia menyebutnya seperti itu. Sebuah planet yang berjarak sembilan puluh dua mil dari matahari, yang mereka anggap sebagai sumber kehidupan paling utama. Adalah Bumi, yang menjadi persinggahan manusia untuk menyokong kelangsungan kehidupan mereka dahulu dan sekarang tak lebih dari sekedar tempat menghabiskan usia.

PROLOGUE I

Bumi. Manusia menyebutnya seperti itu. Sebuah planet yang berjarak sembilan puluh dua mil dari matahari, yang mereka anggap sebagai sumber kehidupan paling utama. Adalah Bumi, yang menjadi persinggahan manusia untuk menyokong kelangsungan kehidupan mereka dahulu dan sekarang tak lebih dari sekedar tempat menghabiskan usia.

Mungkin, manusia tidak pernah tahu perang apa yang tak bisa mereka lihat sementara mereka terus melanjutkan kehidupan. Ya, manusia hanya menanggap bahwa bagian mereka saja yang tiap harinya bersedih karena kematian, atau bersenang-senang karena kelahiran.

Manusia tidak pernah tahu, perang tak kasat mata apa yang sebenarnya setiap hari terjadi di sekitar mereka. Merenggut kehidupan orang-orang yang tak lain adalah pelindung mereka hingga manusia masih bisa hidup dengan normal, mengabaikan kematian para Ezalor yang sudah berkorban untuk mereka.

Ah, Ezalor. Sebuah kata yang tidak berarti banyak bagi manusia, tidak pula diartikan sebagai sesuatu yang penting bagi mereka. Jangan katakan, kalau kalian juga tidak tahu tentang Ezalor?

Lalu apa yang mereka ketahui ketika kata Ezalor tercetus? Sebuah cerita masa kecil, tentang kelompok pahlawan yang melindungi Bumi dari monster; sebagian besar manusia mungkin akan berkata seperti ini. Kemudian apa lagi? Ezalor adalah orang-orang terpilih, manusia-manusia berbeda yang telah terpilih untuk melindungi manusia di setiap generasi kehidupan.

Lantas, apa Ezalor hanya sekedar mitos? Tidak, tentu saja tidak. Oh, apa aku belum memperkenalkan diri? Namaku adalah Kai, dan aku adalah seorang Ezalor. Kalian tidak mempercayainya? Oh, jangan bercanda.

Memangnya kalian pikir manusia satu-satunya yang hidup di Bumi?

~

Angin malam musim gugur berhembus, menyapu dedaunan kering yang berjatuhan di jalanan, menciptakan nada khas yang hanya bisa didengar saat musim gugur tiba, menebar aroma lembut yang menjadi candu di malam hari.

Seoul memang bukan kota yang bisa dikatakan tidur saat malam tiba, tapi agaknya, pukul dua dini hari adalah puncak kelelahan kota Seoul, sehingga di jam-jam ini tidak banyak kehidupan akan terlihat. Well, jangan hitung keluarga kecil yang sekarang tengah berdiri di halte ini sebagai bagian dari lelahnya kota Seoul, tentunya.

“Kau yakin akan baik-baik saja?” tangan seorang wanita paruh baya tengah sibuk merapikan pakaian anak gadisnya, sementara gadis tersebut menyibukkan diri dengan melongokkan kepalanya ke kiri dan kanan, menanti sesuatu tentunya.

“Ibu sudah merapikan pakaianku empat kali.” ujarnya menyadari tindakan wanita yang tak lain adalah Ibunya tersebut. Menyadari bagaimana putri semata wayangnya kini tengah merasa risih karena tindakannya, wanita itu akhirnya terhenti.

“Ibu hanya mengkhawatirkanmu, Joohyun-ah.” tuturnya lembut.

“Irene, Ibu. Kenapa Ibu terus memanggilku Joohyun?” tanya si gadis, mengerucutkan bibirnya dan berpura-pura memasang wajah kesal pada sang Ibu. Sementara di samping wanita tersebut, seorang pria paruh baya hanya menatap diam kegiatan dua wanita yang menjadi bagian dari hidupnya tersebut.

“Sudah, sayang. Irene sudah cukup dewasa untuk bepergian seperti ini.” ucap pria tersebut akhirnya. Si anak gadis—Irene—mengangguk-angguk setuju.

“Ayah benar. Ibu tidak perlu mengkhawatirkanku. Bukankah dulu kalian berdua juga bertemu di tempat yang aku tuju sekarang?” tanya Irene kemudian.

Baru saja bibir sang Ibu terbuka membentuk kata, sebuah bus bercat kelabu tua sudah merapat ke halte tempat mereka sedari tadi menunggu.

“Jaga dirimu baik-baik, Irene. Pulanglah jika liburan tiba.” pesan sang Ayah, seolah enggan menunjukkan bagaimana beratnya bagi ia untuk melepas kepergian Irene.

“Ayah sudah berpesan seperti itu saat kita di rumah.” ucap Irene, berangsur-angsur si gadis melangkah mendekati trotoar, senyumnya mengembang kala menangkap bus tersebut tengah memelankan kecepatannya.

Lekas Irene berbalik, menatap kedua orang tuanya dengan senyum menenangkan sementara tangannya bergerak meraih pegangan koper.

“Biar Ayah yang membawakan kopermu, Irene.” ujar sang Ayah, meraih koper tersebut sebelum Irene melakukannya.

Halo! Pasangan Healer kebanggan Claris! Lama tidak bertemu kalian!” sebuah teriakan tiba-tiba saja menyambut Irene saat gadis itu akan memberi sebuah pelukan perpisahan pada sang Ibu.

“Kulihat kau tidak bertambah tua, Evan.” Ayah Irene menyahut, sebuah tawa ia berikan sebagai sapaan.

Diam-diam, Irene memperhatikan kelakar pria yang disebut Ayahnya sebagai Evan itu. Dari caranya bicara, ia jelas sudah lama mengenal Ayah dan Ibu Irene, tapi Irene sekarang bahkan berpikir jika Evan mungkin seusiaan dengannya.

“Oh, aku tidak seusiaan denganmu, Nona Bae. Omong-omong, apa aku sudah memberi pujian padamu?” Evan berucap pada Irene, cukup mengejutkan si gadis karena Evan bisa begitu saja bisa menyahuti pikirannya.

“Pujian?” ucap Irene tidak mengerti.

“Ya,” Evan mengangguk-angguk, disandarkannya tubuh di badan bus sementara ia biarkan Ayah Irene memindahkan beberapa tas kecil milik anak gadisnya ke dalam bagasi bus. “Aku tidak tahu apa yang Ayah dan Ibumu lakukan di malam pertama sehingga bisa melahirkan gadis sepertimu. Kau harus berterima kasih pada Ibumu karena sudah melahirkanmu persis sepertinya, mulai dari mata, hidung, mulut… Woah, kau benar-benar seperti replika Ibumu hanya saja kau lebih cantik. Kalau saja kau punya wajah seperti Ayahmu ah… aku tidak bisa bayangkan.” Evan melanjutkan, ekspresinya sekarang terlihat seperti seorang pemeran film yang tengah terluka karena ditinggal kekasih.

“Memangnya kenapa dengan Ayah?” ucap Irene tidak mengerti. Di mata Irene, sang Ayah tentu saja pria paling tampan di dunia, buktinya saja, Ibunya bisa mencintai pria Bae itu selama bertahun-tahun.

“Kuberitahu, ya. Saat di Claris dulu… tidak ada wanita yang ingin berkencan dengan Ayahmu. Bahkan Ayahmu sampai menghindari pesta menari di malam Bulan Pertama karena tak mempunyai pasangan.” Evan berbisik cukup keras, ya, ia memang berpura-pura berbisik pada Irene tapi nyatanya ia bicara cukup keras untuk bisa didengar kedua orang tua Irene.

Tidak merespon dengan ucapan, Irene malah menoleh ke belakang, menatap sang Ibu dengan ekspresi yang jelas menanyakan kebenaran ucapan Evan sekarang. Sementara Ayah Irene hanya memberikan sebuah tawa.

“Evan sudah terlalu lama hidup, sayang. Jadi dia tidak bisa ingat wajah semua orang dengan benar. Beberapa tahun lagi, dia mungkin bilang kalau saat ini kau tidak cantik.” ujar Ibu Irene cukup telak. Ya, cukup telak hingga membuat Irene menahan tawa.

Evan, hanya tersenyum kecil. Sebuah isyarat darinya tentu menandakan bahwa ia memang benar-benar ingat wajah semua orang, tapi sepertinya pria itu ingat benar bagaimana sifat Ibu Irene yang tidak berubah.

“Aku hanya menyelipkan pujian dalam kalimat tersirat, Nyonya Bae.” ucap Evan, tangannya bergerak menutup pintu bagasi sebelum akhirnya ia kembali memandang Irene.

“Namamu Irene, benar?” tanyanya membuat Irene mengerjap cepat, terkejut.

“Bagaimana kau tahu?”

“Memangnya apa yang aku tidak tahu? Sesuai dengan namamu, kau benar-benar cantik. Oh, kau bisa pegang ucapanku ini, tahun ini kau pasti jadi pelajar paling cantik di Claris, Nona.”

Tanpa bisa berbohong, wajah Irene memerah juga. Memang, ia sering mendengar pujian tentang wajahnya, tapi Irene tak pernah berpikir jika ia secantik yang dikatakan orang-orang. Irene bahkan sering berpikir wanita lain jauh lebih cantik daripada dirinya, tapi ya… pujian yang diterima Irene agaknya sudah begitu banyak.

“Siap untuk berangkat?” tanya Evan saat Irene masih bergeming di tempatnya. Well, rencana awal Irene untuk memberikan pelukan perpisahan pada sang Ibu sudah lenyap sekarang.

Jadilah, dengan cepat ia merangkul dan mengecup pipi kedua orang tuanya bergiliran, mengatakan bahwa ia akan baik-baik saja jadi mereka tidak perlu mengkhawatirkan Irene, sebelum akhirnya gadis Bae tersebut berbalik, menatap Evan dengan sebuah senyum.

“Apa kau akan mengantarku ke der Eilzug?” tanya Irene membuat Evan terkekeh. “Kau? Aku akan mengantar kalian semua.” Evan mengedikkan dagunya ke arah busnya.

Oh, kemana saja kesadaran Irene sedari tadi hingga ia tidak sadar jika di dalam bus sudah ada belasan orang? Tunggu. Irene yakin tadi ia tidak melihat orang-orang di dalam bus tersebut. Lagi-lagi, Irene menaruh rasa penasaran sekarang. Selain rasa penasarannya tentang bagaimana Evan bisa tetap terlihat seusiaan dengan dirinya, tentu saja.

“Kalau begitu ayo kita berangkat, Nona.” Evan mengulurkan tangannya, entah sejak kapan ia sudah berdiri di pintu bus, mengulurkan tangannya pada Irene seolah Irene adalah seorang puteri yang hendak menaiki kuda putinya.

Sekali lagi Irene tersenyum pada kedua orang tuanya, melambai kecil sebelum akhirnya si gadis melangkah ke arah Evan dan meraih uluran tangan pria tersebut.

“Ah, ada yang lupa kuucapkan, Irene,” Evan tersenyum, mengedipkan sebelah matanya pada Irene dan melanjutkan, “selamat datang di Claris.”

~

Satu jam yang Irene habiskan di bus agaknya tidak berbuah apapun bagi si gadis. Ya, selain tatapan terkesima beberapa orang—yang Irene yakini jika ia kenal dekat pasti akan menyuarakan pujian serupa dengan Evan tadi—dan duduk menyendiri di kursi belakang, Irene tidak berbuat apapun, bahkan tidak berhasil bicara pada siapapun di dalam bus.

Dan sekarang, bus sudah berhenti di sebuah ladang kosong dengan satu rel kereta api di depannya. Lagi-lagi, Irene seorang diri. Bisa dilihatnya beberapa orang membentuk kelompok kecil, pikir Irene, mereka pasti sudah saling mengenal di bus, tapi ya, Irene sendirian.

Sekarang ia menyesal karena memilih duduk di kursi belakang dan bukannya memilih salah satu kursi lain di bus yang memungkinkannya untuk mencari teman bicara.

“Kudengar, jika kita tidak lekas mendapatkan tempat duduk di der Eilzug, kita akan jadi orang terbuang di Claris.” Irene menyernyit kala konversasi kecil itu masuk ke dalam rungunya.

Menjadi orang terbuang hanya karena tempat duduk? Memangnya mereka murid sekolah dasar? Jangan bercanda. Irene lekas menggeleng kuat-kuat, menghapus bayangan dirinya berdiri sendirian yang tadi sempat terbesit dalam benaknya.

“Iya, aku juga dengar berita itu dari beberapa orang Ezalor yang pulang ke Incheon. Mereka katakan, ada beberapa orang yang tidak mendapat tempat duduk di der Eilzug dan berakhir menjadi orang buangan, murid bermasalah, seperti itu.”

Kali ini Irene tanpa sadar mencengkram ujung mantelnya kuat-kuat. Lagi-lagi ia berusaha menghapus bayangan mengerikan yang muncul karena ucapan beberapa orang tersebut.

Irene juga tidak bisa mendengar lebih jauh lagi, lantaran mendengar sebuah bunyi nyaring berfrekuensi tinggi yang nyaris saja membuat jantungnya melompat dari persinggahan.

Berangsur-angsur, sebuah kereta panjang melintas dalam kecepatan rendah di rel yang ada di sana, debu mengepulnya sudah membuyarkan konsentrasi Irene—yang tadinya berencana untuk lari dan mendapatkan tempat pertama di kereta—hingga saat Irene sadar, ia sudah ada di barisan belakang!

Demi Tuhan, Irene bersumpah ia tidak terbatuk-batuk menyedihkan karena debu selama lebih dari tiga puluh detik dan semua orang yang ada di dekatnya sudah menghilang. Tidak, mereka tidak menghilang. Hanya saja, Irene sudah ditinggalkan.

Akibatnya, Irene dengan sekuat tenaga berusaha mengangkat koper besarnya dan melangkah ke arah pintu kereta yang memamerkan nyala jingga lampu koridornya. Tidak seperti di stasiun yang Irene kenal—dimana seorang penjaga akan ada di dekat pintu untuk membantu penumpang—tidak ada seorang pun di dekat kereta.

Dengan bersusah-payah Irene berusaha menaikkan kopernya ke atas kereta. Ia baru saja menghembuskan nafas lega karena sudah sampai di atas kereta, sebuah suara lantang—yang entah berasal darimana—sudah mengejutkannya.

Untuk semua calon Ezalor, diharapkan duduk untuk duduk di tempat yang sudah disediakan. Kereta akan berjalan dalam waktu enam puluh detik.

Irene membelalakkan matanya sekarang. Enam puluh detik dan dirinya bahkan masih berdiri diantara dua buah pintu menuju gerbong? Jangan bercanda. Lekas Irene memutar otak, netranya bergerak panik menatap ke arah pintu berwarna keemasan di hadapannya, mencari cara untuk membuka pintu kereta tersebut.

“Sial, bagaimana cara membukanya? Apa pintu ini memakai sidik jari atau pemindaian iris?” ucapnya kesal, dengan bodoh Irene melongok-longokkan kepalanya di dekat pintu, berharap cara itu berhasil karena kondisinya sekarang tidak memungkinkan Irene untuk melepas salah satu barang bawaannya. Ia khawatir salah satu tasnya mungkin akan jatuh di tengah-tengah usahanya, tentu saja.

Untuk semua calon Ezalor, diharapkan duduk untuk duduk di tempat yang sudah disediakan. Kereta akan berjalan dalam waktu empat puluh detik.

“Yang benar saja!” Irene merutuk kesal.

SRAK!

Bahu Irene melejit kaget saat didengarnya sebuah suara dari punggungnya. Belum sempat Irene berbalik untuk tahu apa yang sedang terjadi, sebuah suara sudah mendahuluinya.

“Kau menutupi jalan.”

“Oh, maaf.” refleks Irene menyahut, tubuh gadis itu bahkan dengan patuh bergeser sedikit. Tatapan Irene membulat kala mendapati seorang pemuda melewatinya, entah bagaimana caranya, pemuda itu membuka pintu di hadapan Irene.

“Ah, terima kasih sudah—hey!”

SRAK!

Irene sudah berpikir pemuda itu berbaik hati membukakan pintu kereta untuknya ketika sekon kemudian pintu tersebut menutup di depan matanya. Demi Tuhan, satu detik yang lalu pintu tersebut terbuka!

Kali ini Irene melongokkan kepalanya lagi, melalui jendela kaca yang ada di pintu, dilihatnya pemuda tersebut duduk di kursi nomor dua dari pintu, menghadap ke arah Irene tapi tidak melihatnya.

Ekspresi dingin pemuda itu membuat Irene berpikir seolah si pemuda begitu enggan untuk ada di dalam kereta ini sekarang. Tapi tolong, Irene ingin ada di sini. Setidaknya pemuda itu tahu Irene ada di sini, bukan? Tidakkah ia berpikir untuk membukakan pintu?

Untuk semua calon Ezalor, diharapkan duduk untuk duduk di tempat yang sudah disediakan. Kereta akan berjalan dalam waktu tiga puluh detik.

Dengan sedikit usaha berlebihan, Irene melongok-longokkan kepalanya, ke kiri, ke kanan, berharap pemuda itu menyadari eksistensinya di sana, masih terkurung di luar gerbong, tapi nihil. Pemuda itu malah mengalihkan pandangan ke luar kereta.

Hey! Kau! Hey!” Irene mencoba bersuara, sambil masih melakukan tindakannya yang sekarang lebih terlihat mirip seperti boneka mainan yang biasa ada di dasbor mobil, tapi lagi-lagi, usahanya tidak membuahkan hasil.

Pemuda itu masih tidak menyadari keberadaan Irene.

Sebuah decakan kesal akhirnya lolos dari bibir Irene. Sementara ia lagi-lagi memutar otak dan memikirkan sebuah cara untuk setidaknya membuat seseorang di dalam gerbong tersebut menyadari keberadaannya.

DUK!

Auw…” Irene merintih kecil saat merasakan sakit di dahinya, ia baru saja dengan sengaja membenturkan kepalanya ke kaca, tapi ya, setidaknya sebuah suara muncul dari usahanya.

Untuk semua calon Ezalor, diharapkan duduk untuk duduk di tempat yang sudah disediakan. Kereta akan berjalan dalam waktu dua puluh detik.

DUK! DUK!

Lagi-lagi Irene mengulang usahanya, dan kali ini agaknya Dewi Fortuna berpihak pada usaha gadis itu. Terbukti dengan bagaimana pemuda—yang sedari tadi Irene hadiahi death glare—di dalam gerbong, menoleh, melihat ke arah Irene dengan dahi berkerut bingung.

Tentu saja Irene makin antusias saat sadar bahwa seseorang tahu ia masih terkunci di luar gerbong.

Ugh, ayolah. Apa dia bodoh hingga tidak sadar aku tidak bisa membuka pintunya?” rutuk Irene saat pemuda itu masih memandangnya dalam diam.

DUK!

Lagi-lagi Irene membenturkan dahinya ke jendela. Sementara tatapannya tertuju pada pemuda yang masih memasang ekspresi sama di dalam sana.

Untuk semua calon Ezalor, diharapkan duduk untuk duduk di tempat yang sudah disediakan. Kereta akan berjalan dalam waktu sepuluh detik.

“Sial. Dia rupanya benar-benar bodoh.” ucap Irene kesal. Ia sudah bersiap-siap akan membenturkan dahinya ke jendela lagi ketika tiba-tiba saja bayangan pemuda itu terlihat di depan jendela.

SRAK!

“Terima kasih!” sontak Irene berucap ketika pintu tersebut membuka.

“Apa kau begitu benci pada dahimu?”

“Apa?” Irene menyernyit bingung, tapi sekon kemudian ia sadar jika pemuda ini membuka pintu bukan karena melihat bagaimana Irene telah berusaha meminta pertolongan dengan cara membenturkan dahinya melainkan karena Irene adalah seorang yang membenci dahinya.

“Aku berusaha meminta bantuan.” ucap Irene menjelaskan.

Pemuda yang kini berdiri di hadapan Irene tidak lantas menyahut, tangannya menahan di pintu, membuat Irene sadar jika pintu kereta ini pasti membuka secara otomatis hingga pemuda itu terus berdiri di sana.

Dengan usaha cukup keras, Irene mengangkat kopernya dan melangkah satu-satu ke dalam gerbong. Ia kini bisa bernafas lega, karena setidaknya sudah berhasil masuk ke dalam gerbong. Tapi tunggu, pemuda itu masih berdiri di tempat yang sama padahal pintu di belakang Irene sudah menutup.

 “Kau tidak ingin membantuku?” tanya Irene, mencoba mencari kemungkinan lain yang menjadi alasan pemuda itu masih berdiri di tempat yang sama, sementara tatapannya tertuju pada pemuda tersebut.

Hembusan nafas kesal didapatkan Irene sebagai jawaban. Dan agaknya, dugaan Irene benar. Terbukti dengan bagaimana pemuda itu sekarang mengulurkan tangannya ke arah koper yang ada di tangan Irene dan—

“Ah…” Irene menggumam. Ya, pemuda itu baru saja melakukan sebuah pertolongan yang sangat besar pada Irene: menunjukkan pada Irene kalau kopernya punya sebuah gagang penarik yang membuat Irene tidak harus mengangkat koper itu.

Awalnya, Irene ingin mengatakan pemuda itu sebagai seorang yang bodoh karena tidak sadar jika Irene membenturkan dahi karena meminta pertolongan, tapi kali ini tindakan pemuda itu membuat Irene terlihat begitu bodoh dan—tunggu. Berapa banyak waktu tersisa?

Irene menatap sekitarnya dengan panik saat peluit panjang kereta terdengar. Sungguh, ia mungkin bisa mencari tempat lain yang kosong, tapi saat ini keadaannya begitu terdesak.

Sebegitu terdesaknya Irene sampai ia rela melepaskan semua tasnya—termasuk koper yang tadi susah payah ia angkat—dan melangkah dengan begitu cepat untuk menyelipkan diri dan duduk di sebelah pemuda tersebut.

Hey! Apa yang kau—”

“Diam. Kau tidak tahu kalau orang yang tidak mendapatkan tempat duduk di kereta ini akan menjadi orang buangan?” Irene memotong ucapan pemuda itu, bahkan mengabaikan bagaimana pemuda itu sekarang berusaha menjauh dari Irene—dengan cara menyelipkan diri ke pojok tempat duduk mereka.

“Tapi setidaknya kau harus bereskan barang-barangmu terlebih dahulu, Nona.” ucap pemuda di sebelah Irene sarat akan nada sarkatis.

Well, jangan salahkan Irene, salahkan saja gosip yang secara tidak sengaja sudah gadis itu dengar tadi di luar kereta. Sehingga membuatnya bahkan tidak memikirkan barang-barangnya yang teronggok di tengah koridor gerbong kereta.

Irene bisa menghembuskan nafas lega ketika didengarnya deru halus kereta yang ia naiki, diiringi dengan getaran yang terasa di gerbong, pertanda bahwa kereta tersebut sudah melaju.

“Menjauhlah sedikit.” pemuda di sebelah Irene lagi-lagi berucap. Masa bodoh bagi si gadis Bae, ia sudah begitu terbiasa duduk berhimpitan di bus, untuk apa bergeser sekarang? Walaupun memang, keputusannya untuk duduk di kursi yang diperuntukkan satu orang adalah sebuah hal yang aneh.

SRAK!

Irene menatap ke arah pintu saat seorang pria berpakaian rapi berdiri di sana dan menatap ke arahnya dengan mata membulat.

“Nona, mengapa kau memilih duduk di kursi milik orang lain sementara di seberangmu ada sebuah kursi kosong?” tanya pria itu membuat Irene menoleh ke sebelah kirinya.

Demi Tuhan, mengapa Irene tidak sadar jika kursi di sana tidak berpenghuni? Mengapa ia malah memilih mempermalukan diri dengan duduk berhimpitan dengan pemuda di sebelahnya?

Lihat, sekarang bahkan seisi gerbong memilih untuk melongokkan kepala untuk melihat oknum mana yang baru saja bertindak begitu konyol.

“Aku… tidak terbiasa duduk sendirian.” ucap Irene berkilah, sebuah senyum kecil ia berikan sebagai tanda bahwa ia memang dengan suka rela duduk berhimpit dengan pemuda tersebut.

Jika saja ia tadi tidak mendengar gosip aneh di luar sana, Irene pasti bisa melihat dengan jelas kursi mana yang kosong dan pantas ia duduki, bukan?

Seolah enggan mempertanyakan alasan bodoh Irene, pria tersebut hanya menghela nafas. Pemandangan yang kemudian mengganggunya adalah tumpukan barang yang ada di dekat kakinya.

Oops. Sepertinya Irene—

“Dan siapa yang dengan sembrono menaruh barang-barang mereka di tengah koridor? Apa ruangan yang ada di slot kursi mereka saja tidak cukup untuk menampung barang yang dibawa?”

—lagi-lagi harus mengakui kesalahannya.

Malu-malu, Irene mengangkat tangan kanannya, memberikan jurus andalan—yaitu tersenyum semanis mungkin—pada pria tersebut sebelum ia berucap.

Umm, itu… barang-barangku.”

Demi Tuhan Irene bisa mendengar jika pemuda yang ada di sebelahnya mendengus, ingin rasanya Irene menampar dan memusnahkan pemuda yang ada di sebelahnya ini. Tapi—

“Kalau begitu segera masukkan barang-barangmu ini sebelum aku lempar kembali keluar, Nona.”

—ucapan pria berseragam itu terlebih dahulu keluar dan dengan terpaksa Irene menggerakkan kepalanya memberi tanda jika ia mengerti dan segera mengambil barang yang ia geletakkan di sana.

Setelah raganya berhasil memasukkan kopernya ke dalam ruangan yang—berisi pemuda tak tahu diri­—menjadi tempat duduknya sekarang, ia menghadapi masalah lain. Kopernya terlalu besar dan berat untuk di simpan di atas dan ia tidak cukup kuat untuk mengangkatnya, Irene mengerucutkan bibirnya, ia sangat lelah dan segera ingin beristirahat sekarang.

Masa bodoh lah, itulah kalimat yang ada di kepala Bae Irene, dan ia mulai mengangkat kopernya dan menaruhnya di slot untuk barang, dan bagaimanapun rasa lelah Irene terlalu besar dan sudah menjalar ke seluruh tubuhnya dan koper yang sudah ada di atas kepalanya belum tersimpan dengan baik.

GRAK!

Argh!”

Hal terakhir yang Irene ingat adalah koper itu pasti akan jatuh tadi tapi jemari dan lengannya mulai meraba kepalanya, aman. Lekas ia mulai membuka perlahan sepasang matanya dan menangkap bahwa pemuda—yang tidak memperdulikan keberadaannya sama sekali—sudah menahan koper itu sebelum membentur kepala Irene, dan menyimpannya dengan benar dan kembali duduk di kursinya, menatap keluar kembali.

Irene mengerjapkan kedua matanya dan memperhatikan pemuda itu dengan kedua matanya. “Tidak usah menatapku seperti itu.”

“Ah!”

Irene segera mengalihkan pandangannya ke arah yang lain, menutupi rasa malunya karena tertangkap memperhatikan pemuda itu. Irene berjalan ke tempat duduknya dan menempatkan tubuhnya di kursi itu, “Terima kasih.”

Ucapnya yang juga mengikuti kegiatan pemuda itu memandangi malam dari dalam kereta, sedangkan pemuda itu hanya menatap Irene. Cukup lama pemuda itu memandangi wajah Irene, yang membuat pemiliknya menyadari bahwa ia sedang ditatapi.

“Ada apa, Tuan?” ucap Irene dengan senyuman khasnya yang terukir di wajah lelahnya sekarang.

“Tidak ada.” balas sang pemuda.

Irene pun mengangguk, enggan untuk berdebat karena ia sudah sangat lelah. Ia sudah mencoba berbagai cara agar bisa tertidur akan tetapi tidak membuahkan hasil sedikitpun. “Ah!”

Wajah cantiknya kembali tersenyum, disertai dengan terukirnya senyum di wajah Irene dan ia biarkan bibir plumnya membuka, seakan ia mengingat sesuatu yang sangat menarik sehingga sukses membuatnya berseri. Ia merogoh saku mantelnya dan mengambil beberapa permen karet yang ada di sakunya, ia membukanya dan melahapnya. Dan seketika wajahnya menjadi cerah kembali.

“Kau mau satu?” tanya Irene, ia hampir melupakan keberadaan pemuda yang ada di depannya, mungkin saja ia bosan dan ingin permen karet juga?

“Kau memakan makanan menjijikan itu?” Irene mengerutkan dahinya, menjijikan?

“Apa maksudmu? Permen karet itu enak dan bisa memperbaik keadaan mood. Kau mau satu?” ucap Irene dengan gembira dan menyodorkan sebutir permen karet ke hadapan lawan bicaranya.

“Tidak, terima kasih.”

Pemuda itu kembali menatap ke luar jendela, memperhatikan pekatnya malam, membuat Irene mendengus pelan dan memasukkan kembali permen karetnya itu ke asalnya. Dan suasana kembali menjadi hening dan sepertinya Irene tidak tahan dengan suasana ini, ingatannya memutar kembali apa yang ia dengar dari percakapan anak-anak yang lain.

Anak Bermasalah’

Anak Buangan’

Irene segera menggeleng dan menghilangkan ingatan itu juga. Tidak, ia tidak datang ke Claris hanya untuk menjadi ‘Anak Buangan’. Ayolah kau harus berpikir Bae Irene, jangan sampai kau jadi anak buangan. Bicaralah pada orang aneh di depanmu ini, begitu pikir Irene. Irene menatap pemuda itu dan untuk yang kedua kalinya, matanya bertatap dengan mata pemuda itu.

~

Ugh!”

Irene menghentakkan kakinya pelan, mencoba untuk memusnahkan rasa tegangnya dan mulai mencoba untuk berbicara beberapa patah kata dengan pemuda di depannya ini.

“Bo-Bolehkah aku bertanya sesuatu?”

Irene akhirnya memecah keheningan dengan pertanyaan itu dan sukses membuat pemuda itu mengalihkan perhatiannya menjadi kepadanya. Pemuda itu mengangguk pelan sebagai jawaban.

“Apa… kau tidak gila karena terus diam seperti itu sejak kita berangkat?” dan untuk yang kedua kalinya, Irene sukses membuat pemuda itu membelalakan matanya.

“Maksudmu?”

“Aku tidak hanya mengerti kenapa kau bisa betah untuk tidak bergerak seperti itu tanpa ekspresi.” pemuda itu memandangi Irene dengan tatapan aneh.

“Apakah ini mengganggu pemandanganmu? Aku menyukainya.” sahut si pemuda membuat Irene membulatkan mulutnya.

“Bukan itu maksudku… Hanya saja aku tidak bisa melihat seseorang diam seperti itu dalam waktu yang sangat lama.” Irene lagi-lagi berucap, seolah tidak ingin mati kutu akibat ucapan si pemuda yang anehnya terkesan selalu bisa mengakhiri konversasi.

Pemuda itu terkekeh pelan, dan lagi, ia memutuskan untuk menatap malam, seolah malam menjadi pemandangan favoritnya, tidak peduli jika tindakannya membuat gadis di sebelahnya akhirnya menunjukkan aksi pemberontakan dengan mengembungkan pipinya kesal. Tapi bukan Irene namanya jika ia kehabisan akal.

“Ah ya, aku belum memperkenalkan diriku. Namaku Irene dan sekali lagi terima kasih untuk menolongku tadi, Tuan…” Irene menaikkan alisnya, menatap sang pemuda, tatapannya menunggu.

“Apa?” balas si pemuda acuh.

“Tidak etis rasanya jika kita sudah saling berbicara namun belum mengetahui masing-masing nama.” Irene tersenyum kembali seolah secara halus berusaha membujuk pemuda itu untuk memberitahukan namanya.

Lelaki itu menatap Irene untuk beberapa saat, seolah mencari maksud dari ucapan si gadis yang diam-diam membuat Irene berpikir, apa pemuda ini tengah mengira Irene seorang teroris atau sejenisnya? Dan ya, rupanya pemuda itu hanya mempertanyakan maksud ucapan Irene. Akhirnya, gadis Bae itu menghela nafas panjang, menyerah. Dan menyerahnya gadis itu agaknya sudah menggerakkan si pemuda.

“Kai, kau bisa memanggilku Kai.” ucapnya.

Irene tersentak. Dipandanginya pemuda tersebut dengan mengulum senyum manis. “Nama yang bagus, aku menyukainya. Senang bertemu denganmu, Kai” ucap Irene dengan mata yang berbinar, yang membuat Kai memberikan seringai kecil sebagai balasan sebelum pemuda itu mengalihkan pandangan lagi, menyandarkan tubuhnya dengan nyaman di kursi dan akhirnya memejamkan matanya.

Irene tersenyum lebar sekarang, setidaknya ia mempunyai teman di Claris ini dan ia tidak sendirian. Dengan kedua jemari lentiknya, Irene menarik kedua ujung bibirnya sehingga membentuk senyum, dan kembali, senyum itu berarti bahwa ia sudah menemukan sesuatu di kepalanya.

“Kai, bolehkah aku bertanya lagi?” Kai sontak membuka matanya dan menatap wajah gadis di depannya ini.

“Tanyakan saja.”

“Baiklah. Umm, Kai, boleh aku tahu rumahmu? Dan bagaimana rumahmu? Apa makanan kesukaanmu? Apa warna kesukaanmu? Dan juga apa olahr—“

“Wow wow, tunggu dulu, Nona.” Kai mendekatkan tubuhnya ke arah meja yang ada disana dan menatap kedua manik mata Irene. Disandarkannya siku ke meja, sementara netranya meneliti Irene dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.

“Hmm? Ada apa?”

“Kau pikir setelah kau tahu namaku kau bisa bertanya sesukamu. Kau ini bukan wartawan kan?”, tanya Kai membuat Irene mengerjap cepat.

“Mengapa kau berkata begitu? Kita teman buk—”

“Teman? Kata siapa kita berteman?”, potong Kai cepat.

Irene membulatkan matanya. “Kau tahu namaku, aku tahu namamu. Kita bicara dan duduk bersama. Kita akan pergi ke tempat yang sama. Bukankah itu artinya kita berteman?”, tanya Irene berhasil mengundang dengusan lainnya dari Kai.

“Kau tidak bisa menyebut pertemanan hanya karena hal sepele seperti itu. Dengar, bagiku, kau orang asing. Meski kita pergi ke tempat yang sama, kau tetap orang asing. Jadi, kuharap kau mengerti dan tidak perlu bicara seolah kita akrab.”, tutur Kai menjelaskan.

Irene menggigit bibir bawahnya, pasalnya, penolakan pemuda itu terdengar cukup lucu dalam pendengarannya. Memangnya mereka bukan teman padahal mereka akan berada di akademi yang sama?

“Kalau begitu… aku hanya akan bertanya satu hal lagi.”, ucap Irene akhirnya.

“Apa? Kau mau menanyakan olahraga kesukaanku?”, tanya Kai dengan nada menyindir yang sarat dalam suaranya.

Irene menggeleng pelan. “Pertanyaan seakrab itu hanya bisa diucapkan di antara teman. Tapi pertanyaan ini aku ucapkan sebagai orang asing.”, ucap Irene membuat Kai menghembuskan nafas panjang.

Senyum kecil tanpa sadar terukir di wajahnya, menyadari jika gadis di hadapannya baru saja memberikan sindiran balasan.

“Baiklah, apa itu?”, tanya Kai.

“Mengapa kau pergi ke Claris?”, sontak, tidak ada lagi raut bersahabat yang tadi sempat mampir di wajah Kai. Rahang pemuda itu segera terkatup sempurna, seiring dengan dialihkannya pandangan dari Irene, tindakan yang membuat gadis itu mengerutkan dahinya bingung.

“Kai?”

“Apapun alasanku, tidak jadi urusanmu bukan?”

tbc

FINGERNOTES

by Altair:

Sebenernya, ane bingung mau ketik apa soalnya Kak Irish bilang dia lebih pengen ane membuka diri, wkwk. Al mau curcol aja, sebenernya Al lagi bingung mau nulis plot apa buat KaiRene tapi berhubung Kak Irish udah ngomel2 kayak emak-emak ketinggalan arisan, jadi ane bikin KaiRene itu straight couple. Dan gabakal kalah greget dan bikin baper daripada cinta segitiga. Iti aja untuk notes sekarang. Bye bye^^

by Irish:

MEMBUKA DIRI. PFT. Katanya ente aset negara Al, gaboleh dikoar-koar, kata ane. Sekarang ente mau membuka diri, ane jadi pengen nari tor-tor. PFT. PFT. Kalo buat masalah pairing, emang sih diriku yang paling bawel pengen bikin straight, HAHAHA. Karena kisah cinta berliku-liku sudah terlalu mainstream (kata Al: cerita ane juga rata-rata kisah cinta berliku-liku, ziyal). Sejujurnya diriku berangsur-angsur jadi sedikit lebih kalem ya di author’s note? :”)

BTW, BISAKAH KALIAN TEMUKAN BATAS PENULISAN ANTARA DIRIKU DAN AL? :v

Berhubung masih di post yang ane posting sendiri, jadi ngiklan di akhir masih halal hukumnya, LOLOL.

.

.

.

BANTU AKU MENEMUKAN CINTA DI SINI → HELP! I NEED YOUR VOTE [3]

.

| MY SHOW |

| Instagram | Line | Twitter | Wattpad | WordPress |

73 thoughts on “WINGS – PROLOGUE I — IRISH’s Story

  1. Liat komen diatas yg tgl 6 ama 11 bilang dirinya paling telat bacaa.. lalu, apa kabar dengan saya yg tgl segenweh baru sempat baca???

    Yaudahlah.. aku bingung mau komen apa, baca ff asli kak irish aja udah keren ini malah di tambah si al yg juga keren.. jadi kerennya dobel 😊😊
    Saya lanjut prolog ke 2 duluu..

    • 😄 apa kabar yang tanggal 23 ya😄 wkwkwk gapapa aku juga baru balesin komennya, thanks to Al karena selama ane absen dari kolom komentar dia rajin balesin😄 wkwkwkwwkwkkwk

  2. karena kebanyakan prolog ampe lupa sama cerita ini /maapkan dd ya bun/

    karena lagi, bunda tak mengijinkan njel jadi nazi di sini, jadi sepertinya tak ada yang perlu dikomentari perihal kebahasaan.

    irene identik dengan personality as wanita anggun di ff, tapi di sini bisa jadi seabsurd itu merupakan gaya baru. walau jujur aja, njel malah kebayang seulgi atau joy yang jelas lebih pecicilan dan sengklek (in good way) /njel netral ga pairingin siapapun so ini pure objektif/ tapi inti di sini kan pembawaan kalian dalam membentuk karakter, cast hanya sebagai selingan imaji aja, supaya pembaca lebih bisa mendalami karakter dengan backingan karakter yang telah ada (ya namanya juga fiksi penggemar). jadi it’s okay kan ya kalo njel mau bayangin siapa aja selama baca cerita ini? bisa jadi yang kebayang bule london ketemu kembang desa ajaib macem di sinetron, who knows.

    untuk kai … my baby jongin itu whai selalu identik dengan image seksi dan ganteng ala-ala prince, padahal dia super lucu kayak anak anjing. faktor muka sih, ga bisa disalahin juga wkwk. karakter di sini like other writers write his personality in general, jadi mudah dipahami kalo kai orangnya kulkas-kulkas memesona gimana gitu.

    untuk latar, karena udah dibilang sebelumnya kalo kalian terinspirasi film-novel-anime jadi ya njel ga heran kalo ada beberapa kesamaan, dan ga mau berkoar juga ‘eh, ini kan di film ini!’ atau ‘eh, kayak pernah tau kejadiannya…’ bikos apa yang sudah ada emang selalu bisa membuat cerita lebih hidup ketimbang membangun lingkup baru yang belum tentu orang ngerti.

    udah deh, masih ada dua prolog lagi yang belum dibaca wkwk.

    with love, angel.

    • Buakakakak lupakan aja njel mendingan, ane aja lagi mantengin ceritanya mbades yang jadiin MasMunteh anggota kriminalitas wkwkwk😄 sebenernya ane ijinin aja jadi nazi grammar tapi jangan salahin ane kalo komenan nazi grammarnya terabaikan, gitu aja😄 terkadang ada kalanya ane itu muales ngebaca komen njel😄 ato kalo engga pas mau balesin itu ane udah salfok sama yang lain😄
      Soal cast, ane engga pengen berkomentar apa-apa karena penilaiannya masing-masing orang beda aja sih. Ane bisa kok ngebayangin Mark ensiti jadi seorang gigolo walaupun dia masih kecil so… mungkin kita memandang langit yang berbeda njel😄
      SEK TA, ANJIR ANE SALFOK BULE LONDEN KETEMU KEMBANG DESO. KAN ANE BAYANGINNYA INI EPEP JUDULNYA JADI ‘CINTAKU KEPENTOK BULU KETEK BULE’ NJEL. ANJIR TUENAN. CIYUSLI.
      Fyi, Kai itu sebenernya ngeselin di pandangan aku. Dia suka lirik-lirik mesum jadi engga demen. DAN DIA BELUM TERBUKTI SEBAGAI GUDKISSER JADI ANE GASUKA. TITIK. ANE CUMA SUKA SAMA PARA GUDKISSER DAN BAEKHYUN TERMASUK. TITIK.
      EH I LOVE THIS ONE “bikos apa yang sudah ada emang selalu bisa membuat cerita lebih hidup ketimbang membangun lingkup baru yang belum tentu orang ngerti.” LOOOOOOOOOL

      • KYAAAAAAAAAAAAA AYAH JADI PELAKU KRIMINALITAS❤❤❤❤❤

        bun dd mark masih kecil bun plis… OH IYA DUND BULE LONDON YANG TETIBA MENEMUKAN DD LAGI NYUCI TAPLAK BEKAS HAJATAN DI SUNGAI WGWG. whai harus bulu ketek whai… kan jadi kek tante ber sama om jon xD

        KAI KIYOWO BUN CIYUSLI DIA TUH CEM PUPPY MINTA DIPELUK😦 BUN GABOLE GENITIN BAEKHYUN-______-

        wih yoi dund siapa dulu yang bikin kalimatnya🙂

  3. Baca komenan yg paling atas, aku langsung batin, bukan kamuuu, tapi aku. Reader yg paling telat baca. Maklum kak, kelas 12 banayak banget tugasnya, ini lah itu lah, huaahh capek ya jadi kelas 12. So, i am sorry for this late.

    Walaa curhat :0

    Btw, aku penasaran sama ceritanya, what happen after that?

    • 😄 buakakakakak sesama kaum terlambat sudah jangan saling menyebut😄 wkwkwkwkwk aku paham kehidupan kelas 12 meski dijaman kelas 12 diriku engga rajin sama sekali😄 wkwkwkwkwk thanks ya ` semoga bisa ngikutin ceritanyaa ~

  4. halooww, ini sepertinya aku jadi reader paling telat deh “-_- tak pa ya, hihi
    itu jaraknya matahari sama bumi cuma 92 mil ya? itu pertanyaan pertama yg muncul di otak waktu baca cerita di awal,
    aku emang gak ngikuti semua ff irish, hihi mian
    tapi di sini memang gaya bahasanya dan gaya berceritanya syudah beda, cuma aku gak tau mana bagian yg ditulis sama irish dan mana yg ditulis altair, hihi

    • Buakakaka😄 lebih baik terlambat daripada enggak sama sekali kan?😄 hahahahahhaa eh iya… itu maaf typo dan kesalahannya ada di aku😄 maafkan daku ~ nanti aku perbaiki typonya😄 thanks udah meralat ;** kecup dulu😄 wkwkwkwkwkwkwk

  5. DOSA GAK SIH GUE BARU NYASARNYA SEKARANG SEDANGKAN LIAT KOMENAN YANG LAIN ITU UDAH OKTOBER WKWKWK
    Kai mah gitu ya sok ga pedulian hih gue bayangin udah muka bangzadhnya dia keluar wkwk
    Irene sifatnya anjir dah berasa bego banget dia tapi unyukk wkwk oiya, salam kenal al^^

  6. Ping-balik: WINGS – PROLOGUE II — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  7. Aku ngakak pas baca fingernotes sama komenan, perutku rasanya geli. Soal WINGS ini, jujur aja, masih belum nangkep seperti apa dan siapa si Kai + Irene ini, butuh kelanjutan ini mah. Tapi, misterinya Kai tuh dapet sangat. Buat Al dan kak rish yang produksi ff ini semangat terus, kutunggu aja lanjutannya>.<

  8. wew. emejing. warbyazyaaah. aku! aku! aku bisa nemuin dimana pembatasnya. awal-awal itu ka altair kan? trus pas udh adaa, well, aku tau itu ka irish. /satau. sori untuk typo ku. kutungguu kelanjutannya.

  9. Aku kok lebih penasaran sm tujuannya kai dateng ke claris. Mungkin faktor dianya misterius disini. Tapi aku juga penasaran sm tujuannya irene juga kok. Ngakak pas liat tingkah irene jedotin jidat di kereta. Kasihan sumpah*poor airin.
    Kak irish n kak altair fighting!!

  10. Aku kok lebih penasaran sm tujuannya kai dateng ke claris. Mungkin faktor dianya misterius disini. Tapi aku juga penasaran sm tujuannya irene juga kok. Ngakak pas liat tingkah irene jedotin jidat di kereta. Kasihan sumpah*poor airin.
    Kak irish n kak altair fighting!!!

  11. Entah kenapah daku ngebayangin claris itu hogwarts, azalor itu penyihir dan pas adegan kereta pun keinget hary potter*maafkan daku yang menyamakan dengan hary potter.
    Gak bermaksud kayak gitu kok, dirikuh juga tau pasti ini konsep hanya kebetulan serupa aja, jadi jangan kmplanv daku ya….
    Dan untuk ngebedain gaya penulisan, kayaknya aku bisa. Kak irish itu biasanya pake pov pemeran dan ceweknya selalu kalem, walaupun hipper aktif. Sementara kalo di cerita ini aku ngakak abis ama tingkahnya si irene.
    Ok, kita coba coba nebak petunjuk.
    Pertama, kok aku lebih penasaran sama tujuan si irene masuk claris dari pada si kai? Emangnya kalo ke claris itu beda beda tujuan ya? Bukannya mereka sama sama buat jadi ezalor?
    Kedua, kenapa emaknya airin panggil dia joohyun? Dan kenapa si airin kayaknya gak suka banget di panggil joohyun?
    Ketiga, kenapa si airin kok ngegemsin banget?
    Keempat, kenavah si kai sifatnya dingin kayak es cendol?
    Kelima, kenapah aku banyak nanya?
    Keenam, karena aku kepo.
    Ketujuh, cukup sekian.
    Keep writing and fighting kak itish and dek altair!!!

    • Wkwk, gapapa kok. Pasti itu muncul semua anggapan macam harpot 😂. Ya, emang semua murid itu beda tujuannya, kalo harpot kan semua muridnya emang mau jadi penyihir. Kalo Claris, beda-beda, ada yang karena urusan pribadi, disuruh orang tua, di undang sama clarisnya. Jadi kaya sekolah asli gitu. Dan kalo harpot itu masih di dunia yang sama cuma beda tempat aja wkwk. Oh, kamu harus liat prolog selanjutnya karena prolog ini baru 25% dari prolog yang sebenarnya 😂😂😂

  12. DEMI KOLEKSI EPEP IRISH YG ASTRAL BIN AJAIB,, INI NTUH BIKIN PENASARAN RISH…LU MAU COBA GAGALIN FOKUS GW YAKKK.. INI BARU PROLOG UDAH BIKIN DEG”AN.. CAST JUGA MENGEJUTKAN.. UDAH COBAK NEBAK” AJA SAPA TUH COWO

    LU EMANG BENER” IRISH DAHH POKOKNYA…
    BUAT PARTNER IRISH JG DAEBAK… AKU PANGGIL APA NIH.. AL?? BANG AL?? DEK AL?? TUAAN AKU PASTI //SYEDIHH//

  13. ciee colab udah kaya nyanyi aja..
    seru seru !! ga nyangka dan kepikiran cowoknya itu kai aku kira kalo udh penggambaran karakter dingin dsb itu pasti sehun oh but… tp ini yg justru bikin mood pengin lanjut baca jadi menambah feel baru untuk pairing baru KaiRene ga jelek ko dan percaya deh irene cocok sm siapa aja *bela bias*hehee

  14. Aku pikir ya dengan adanya Al cerita Irish jadi tidak terlalu serius…
    Ini menurut aku sih kalau cerita yang ditulis Irish itu bawaannya serius gak ada gaya-gaya kocak nya apalagi wktu bunuh-bunuhan si psycho Kyung-soo hasil khayalan yixing, kalau pun ada humor itu pun rasanya gak bikin geli, tapi disini aku geli sendiri ngebaca sikap bodoh Irene. Beneran it’s not irish style..style irish tu serius layaknya penulis novel ..atau gaya novel terjemahan semacam harrpot, karena ada Al aku berasa baca karya penulis teenlit easy tp serius. Semacam Lexie xiu lah….easy tp crtnya soal psycho …serius plus easy to read..
    Ini gk ada maksud jelek…hanya pandangan aku aja…tapi aku suka kok ya setidaknya permulaannya udh cukup bkn aku kepo, soalnya aku emg gk suka ama Kai…wlw begitu banyak Exo l menyukai dia, tetep aja tak mengubah persepsi ku. Ya dgn gaya crt seperti ini mungkin aku bisa mengenyampingkan ke tidaksukaan aku kpd Kai dan mengutamakan kesukaan aku sama Irene dan gaya cerita baru hasil kolaborasi alrish (kyknya itu nama yg bagus dr pada dijabarin namanya panjang 2..izin ya klo aku komen di wings maybe pake Nana baru itu). fighting!!!

    • Biasanya cerita aku ga ada lawaknya…. Lawaknya selalu failed…. Selalu cenderung jadi thriller…. Selalu bikin readers galau karena ceritanya gantung dan membingungkan…. Aku mah udah biasa begini….😄😄😄 wkwkwkwk gaya novel apaan ._. gaya seabnormal itu disamain sama mahakarya rasanya begitu engga masuk di akal sehat serius wkwkwkwkwk
      Mungkin karena efek Al jiwa remaja sedangkan aku jiwa emak-emak jadi bisa terkontaminasi cerita bernuansa remaja gitu dikit-dikit WKWKWKWKWKWK anjir bahasa apa lagi ini….
      EH TAU ENGGA KALO DULU AKU JUGA ENGGA DEMEN KAIIII ~ BARU DEMEN KAI SEJAK DIA KELIATAN PUTIHAN DIKIT GITU, JADI AGAK BENING-BENING GIMANA GITU, NGEGODAIN IMAN PERAWAN TING TING WKWKWKWKWKWKWK tapi pas nulis Wings ini dalam posisi demen Kai (dan melupakan cabe sejenak karena ane sudah berubah haluan jadi Baek-Hera shipper, hiks apa-apaan jiwa labil ini) jadi insya Allah bisa lancar ~ insya Allah.
      Ini apaan nama bisa disingkat jadi begitu .–. Ane aja engga ada kepikiran buat menyingkat nama wkwkwkwkwkwk😄 thanks yaaa ~~

  15. Udah baca konsepnya kemaren, dan prolognya aja udah bikin penasaran kayak gini. Dan yah, Irene emang pas banget buat karakter yang easy-going plus supel sekali. Aku pengen tahu visualisasi orang tuanya Irene siapa kira kira ya😀
    P.s (ngga penting) pas bayangin scene di dalem kereta entah kenapa keinget train to busan😄
    Keep writing!

    • 😄 buakakakakakakakakakakaka ini prolog masih panjang perjuangannya btw😄 wkwkwkwkwkwk
      visualisasi orang tua irene di kepala ane belum ada.. (pas bayanginnya blur aja gitu, ngeri ya?) tapi gatau kalo di Al wkwkwk

  16. waaaaa… project colab ya… genrenya pst bkl seru nih… hay,, aq readers baru…
    tumbn ada exo-l cwo… hahaha slm knl altair…
    kayanya kai dsini dingin banget nya,, irene ampe sgtu bawelny kgk dgubris… ck ck ck.. smoga aja next bkl sdkit luluh *azekk…

    • 😄 buakakakakaka bismillah aja kalo soal cerita yang selanjutnya😄 wkwkwkwkwkwk NOH AL DIAJAKIN KENALAN!
      nah iya tumben :v dulu awal2 juga diriku sempet suudzon :v (bagian suudzon ini gapernah kujelaskan ke Al btw)

  17. Rishhh… Kusuka kusuka…
    Suka Irene nya..😄😄😄😄😄hihi
    Prolognya bkin pnsran atuhh😃😃
    Trus buat Al.. Ak gak trlalu tau..
    Slam kenall Altair!!😘😘😘😘😘
    Ceritanya itu lohhh.. Debat debat mulu..
    Yg bkin jga debat kali ya???,@(@(@(@😚😚😚

    • Buakakakakakakk demen Irenenya doang masa😄 Kai engga demen?😄 wkwkwkwkwkwkwk
      SOAL DEBAT KEKNYA IYA… eh tapi pas bikin ga debat sih, pas pilih2 cameo aja baru debat😄

  18. Aku biasanya akan menunda diri klo nemu ff kak irish yg menarik tapi belum tamat apalagi bru mulai /plak/ 😂 terima kasih pada foreword nya yang bikin speechless🏻aku ga nyangka altair altair ini seorang anak cowo exo-l pula nak osis pula 😆 Udah gitu yg paling speechless nya adalah ketika forewordnya menampar diriku sebagai hunrene hard shipper yg lagi mabok maboknya sama hunrene dan mantan kaiseul hard shipper yg karam /gananya/. Tapi aku jatuh cinta sama prolognya, bomat lah soal pairing, altair bener diriku harus move on disini wkwk. Salut aja sama kalian berani pake pairing yg anti mainstream 😆 ih aku ko banyak ngomong sih pokonya fighting buat kolaborasinya kak irish dan altair kalian keren 💪👍

    • Thank you so much. Ya kita harus move on, kkk. Kalau boleh jujur, Al juga HunRene shipper tapi ya kita menunjukkan sesuatu yang berbeda. Jangan salahkan Al jika nanti dikau ingin melempar KaiRene ke KUA setempat setelah baca beberapa prolog ke depan. Kenapa? Karena Ka Irish pernah melakukan hal yang sama😂

  19. Kolaborasi yg sempurna… sepertinya kak Irish dpt teman yg saplok, bawaannya debat mulu😂 keren,critanya ane like(ketularan engglis kak Al) Hwaiting deh buat kk Irish n ka Al..😂💪

  20. (1) Azelor… ini pasti ide kak Altair ya? /gak biasa panggil bang/ Azelor – The Keeper of the light, ada di Dota 2 :v
    (2) Kirain Irene mau nanyakan maksud anak buangan/anak bermasalah 😒
    NB : Kapan kalian berhenti debat mulut, kak? 😂😂

  21. GREGET YAH😄
    CINTA BERLIKA-LIKU TERLALU MAINSTREAM (*KOK JLEBB YAH? Apa gegara diriku ini membuat cinta berlikaliku di epepnya?/PLAKK/ABAIKAN AJA KAK RISH/ XD)
    EKI SUKA, LAGI-LAGI EKI SUKA SAMA EPEP KAK IRISH. HEHEH,TAPI EKI GAK BISA BEDAIIN BATAS PENULISANNYA KAK IRISH DAN ALTAIR. (EKHMM, inii dipanggil apa yah? Bang Al? /plakk/ XD). Menurut sudut pandang Eki, pasti Kak Irish yang ngedit terakhirnya, wkwkw/plakk/😄
    SEBENERNYA EKI UDAH BACA SEMUA DARI COMINGSOON ITU KAK, FOREWORD YANG HEBOH ITU JUGA, CUMAN KUOTA EKI SEKARAT, JADI KOMENNYA DISINI AJA YAH KAK IRISH SAYANG/PLAKK/😄
    Hehehe, HWAITING KAK RISH DAN bg(?) AL..XD

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s