[EXOFFI FREELANCE] I’m not a Superman, But… (Sehun Ver. Oneshot)

20161015185220.jpg

AILANA’s Present

I’m Not A Superman, But… (Sehun Version)

Sehun, OC’s || Romence, Fluff, School! || Oneshoot || PG-13

 

Don’t Try to Plagiat! This Fanfic pure from my mind, dude.

 

 

— AILANA—

 

 

Ingatkan sehun untuk bernafas.

 

Sekarang juga.

 

Well, ini bukan pertama kalinya ia melihat seorang malaikat. Hampir setiap hari ia melihat malaikat cantik bersayap putih dan memakai gaun indah dari sutra putih menghampirinya, walau hanya dalam mimpi. Ya, semua itu memang mimpi. Tantang malaikat dan sayap putih serta gaun sutra putih itu memang hanya mimpi. Tapi yang ada didepan sehun sekarang bukanlah mimpi, pria itu bisa menjaminnya beribu ribu persen.

 

Dia; si malaikat itu, berdiri didekat rak buku buku sastra perpustakaan bersama orang yang ia kenali sebagai temannya di tim basket. Jarak mereka cukup jauh, tapi pria itu bisa melihat kerutan bahagia terpancar dari wajah malaikat didepannya. Sungguh indah, meski disaat bersamaan ia harus menerima fakta bahwa malaikatnya itu tengah tertawa bersama orang lain. Tapi sehun cukup tahu diri untuk tidak merasa kesal, toh gadis itu bukan siapa siapanya. Ya, gadis itu memang bukan siapa siapanya. Tapi kedekatan gadis itu dengan si teman sehun yang bernama Xi Luhan cukup menyita perhatian sehun.

 

TUK!

 

Lamunan pria itu tentang malaikat berpakaian sutra dan malam yang penuh senyum bahagia dibawah sinar bulan segera sirna sesaat setelah sehun mendapati sebuah gumpalan kertas tak berarti menabrak sisi wajahnya disebelah kanan. Itu pekerjaan teman dekatnya, Kim Jongin.

 

Jongin cukup bisa mengenali mana orang yang tengah melamun karna berpikir jernih dengan yang tidak. Dan yang pasti ia sungguh tahu bahwa sehun sekarang tengah memikirkan hal yang cukup menyimpang dari tujuan awal mereka datang kesini, yaitu untuk menyalin materi debat minggu depan. Itu terbukti dari wajah beku sehun yang terlihat konyol disaat bersamaan, itu juga terlihat mengerikan karna sejak tadi jongin mendapati temannya hanya memandang kearah titik yang sama. Jongin cukup tahu juga bahwa ada sesuatu menarik yang tengah diperhatikan sehun, mungkin saja temannya itu diam diam memiliki kemampuan indera keenam dan dapat melihat mahluk tak kasat mata disudut sana.

 

“Aku akan pindah ketempat lain.” Ucap jongin sembari membereskan bukunya diatas meja, sehun lanta segera menahan lengan kiri pria itu.

 

“Dia sungguh indah, bukan?” Tanya sehun sembari menunjuk sudut yang diperhatikannya sejak tadi dengan pena.

 

Jongin tentu saja ragu untuk mengikuti arahan sehun, bisa saja apa yang dimaksudkan ‘Dia’ oleh sehun adalah sesuatu yang mengerikan.

 

Kadang jongin meresa sehun itu tidak normal, dibeberapa momen.

 

“Ah! Maksudmu adik sepupu minseok hyung? Ck, kau menyerah saja, lagipula dia terlihat sangat dekat dengan luhan gege.” Ucap jongin sesaat setelah ia melihat kearah yang ditunjuk sehun sejak tadi.

 

“Apa maksudmu dengan sangat dekat? Mereka sudah memiliki hubungan spesial, begitu?” Tanya sehun penasaran.

 

“Mana aku tahu.”

 

Dan sehun langsung melayangkan beberapa kata umpatan untuk jongin dan memukul tubuh temannya itu beberapa kali sebagai pelampiasan rasa kesal.

 

“Oke, baiklah. Kau pernah mendengar kata ‘Selagi janji pernikahan belum diikrarkan, kemungkinan untuk menikung itu tidak pernah hilang’, kan?” tanya jongin sembari menaik turunkan alisnya.

 

“Tidak.” Jawab sehun datar, kembali pada kegiatan asalnya.

 

“Aku tahu kau tahu maksudku. Aku berniat memberimu saran, tapi kalau kau tidak berminat sebenarnya tidak apa apa.”

 

“Yyak! Aku hanya bercanda, kau sentimentil sekali.” Dan akhirnya sehun menghentikan pergerakan jongin yang berniat pergi untuk kesekian kalinya.

 

Jongin tersenyum, haruskah ia mengerjai temannya itu? Ah tidak, itu jahat. Nanti dia malah dapat karma. Tapi hei apa salahnya mengerjai sehun sekali kali.

 

 

**

 

 

Kau harus menjauhkan kutu penggangu itu lebih dulu sebelum mendekati sasaranmu, sehun.

 

Tapi ingat, jauhkan dia dengan cara halus. Buat dia ada dipihakmu tanpa sadar.

 

Sehun kembali memasukkan bola basket ditangannya kedalam ring basket. Ia sengaja datang ke gymnasium satu jam lebih cepat karna ia tahu targetnya hari ini selalu datang lebih dulu dari anggota lain, luhan. Pria keturunan china itu selalu datang lebih dulu untuk melakukan pemanasan.

 

Sembari menyenandungkan beberapa bait lagu dari girlgrup yang ia lupa apa nama dan judul lagunya pria itu terus memasukkan bola kedalam ring tanpa kesulitan sama sekali. Tanpa ia sadari pintu gymnasium berderit terbuka dan menampakkan sesosok pria bertubuh cukup kecil untuk jejeran para anggota tim baket sekolah, walau sebenarnya masih ada anggota yang lebih pendek di tim basket melebihi pria itu. ketua tim mereka mungkin masuk kedalam kategori.

 

Sehun menoleh. Tanpa sadar ia tersenyum samar, sebentar lagi ia akan menjalankan saran dari jongin.

 

“Tidak biasanya kau datang lebih awal, apa mobilmu sudah diganti dengan yang lebih waras?”

 

Pria china itu berjalan lurus melewati sehun tanpa menoleh sama sekali kemudian menaruh ta ransel yang ia bawa di tempat penonton. Sehun diam memperhatikan pria itu membuka kaos putih kesayangannya dan mengganti benda itu dengan sebuah baju yang di khususkan untuk dipakai tim saat latihan, kadang sehun bingung kenapa joonmyeon selaku ketua harus berlaku serumit ini. Apa salahnya dengan kaos baju biasa? Toh, itu tidak akan membuat kulitmu alergi. Dan tentu hal itu tidak akan menambah tumpukan baju kotor dikeranjang baju.

 

“Apa kau selalu meminum itu sebelum latihan? Ck, kupikir kau orang yang lebih menyukai minuman sekelas wine.” Sehun benar benar mengucapkannya saat melihat luhan menenggak sekaleng bir yang ia ambil dari dalam ransel miliknya.

 

Luhan hanya mengangkat bahu acuh, mengambil satu lagi kaleng terakhir dalam ranselnya dan melemparkan itu pada sehun yang berdiri dijarak sekitar lima meter darinya.

 

Ponsel disaku celana kiri luhan bergetar, pria itu segera mengeluarkan benda persegi tersebut dari tempat asalnya. Menjawab panggilan dari nomor tak dikenal alias tanpa nama namun sangat familiar baginya.

 

“Tentu, aku baru datang.”

 

‘…..’

 

“Aku bisa menunjukkan tempat itu padamu setelah latihan selesai, tapi itu akan tetap memakan waktu.”

 

‘……’

 

“Hm, sampai nanti.”

 

Sehun memperhatikan gerak gerik luhan dalm diam sembari melakukn gerakan meminum minuman ditangan kirinya, belagak tak mendengar apapun.

 

“Kekasihmu?” tanya sehun.

 

“Bukan urusanmu.” Jawab luhan datar.

 

Luhan merebut bola ditangan kanan sehun semudah merebut permen dari anak umur lima tahun. Sehun menyerukan protes namun luhan hanya mengangkat bahunya tak peduli dan terus memantulkan bola kelantai dengan gerakan yang sama untuk waktu yang lama.

 

“Jadi siapa gadis beruntung ini?” Tanya sehun tak menyerah.

 

“Tenang, dia hanya namjae.” Balas luhan.

 

Sehun terdiam lagi, dia sungguh tidak tahu definisi sebenarnya dari kata ‘Hanya’ yang diucapkan oleh luhan barusan.

 

Hampir sepuluh menit lebih mereka hanya melakukan pemanasan tak berarti hingga pintu gymnasium yang dibuka secara tiba tiba dan disusul oleh suara riuh cempreng khas para gadis. Padahal saat itu sehun sudah siap untuk merebut bola dari tangan luhan, parahnya kaki sehun malah tersandung kaki luhan sehingga tabrakan itu tak bisa dihindari lagi. Lebih parah dari apapun, saat ini sehun terjatuh tepat didekat luhan dengan posisi seperti tengah menahan tubuh pria yang lebih kecil itu.

 

Bertepatan dengan semua itu, ada namjae dan jiae yang berdiri diambang pintu masuk gymnasium dengan tampang bingung plus sedikit takjub. Bahkan suara kedua gadis itu sudah ilang tak terdengar lagi bagai ditelan sesuatu.

 

“Kurasa kita sudah merusak waktu pribadi mereka.”

 

Entah itu sengaja atau tidak tapi sehun dan luhan bisa mendengar bisikan jiae pada namjae, padahal jarak mereka cukup jauh. Dan kemudian kedua gadis itu terkikik sendiri sembari menghambur menuju luhan dan sehun yang masih bengong ditengah lapangan dengan posisi yang tak juga berubah.

 

“Butuh bantuan?” Tanya kedua gadis itu.

 

Sehun tergagap sendiri dan mulai menjauhkan tangan kanannya dari tubuh luhan dan meraih uluran tangan namjae yang terarah padanya. Demi apa, tangan sehun sampai dingin dan bergetar diwaktu yang sama karna rasa malu. Sedikit rasa senang terselip disana saat ia merasakan kulit lembut gadis itu menyapu permukaan kulitnya, semua terasa seperti mimpi bagi sehun.

 

“Aku pikir aku akan mendapatkan hal yang lebih dari adegan picisan di film romence barusan.” Ucap jiae yang sedang membantu luhan untuk berdiri dari posisi jatuh telentangnya.

 

“Diam, kau!”

 

Dengan pipi merahnya luhan mengacak acak kesal puncak kepala jiaeyang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri. Lagipula untuk apa luhan bersemu seperti gadis yang tengah jatuh cinta hanya karna ucapan jiae?

 

“Terimakasih.”

 

Suasana menjadi canggung setelah sehun mengucapkan kalimat barusan namun tak kunjung melepas tautan tangan mereka, lebih tepatnya sehun tak sadar bahwa ia harus melepas tangan yang bukan miliknya itu sekarang juga.

 

Ya, tangan itu memang bukan milik sehun. Atau hanya belum.

 

“Maaf.”

 

Dengan gerakan kaku namjae melepaskan tangannya dari sehun, meski begitu ia tetap berusaha untuk memberi pria itu sebuah senyum.

 

 

**

 

 

“Aku perlu ketoilet.”

 

“Aku ikut.”

 

Namjae berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mengekor jiae dibelakang, mereka berjalan bersama menuju toilet yang berada diarea gymnasium. Lagipula namjae tidak berniat untuk melihat para pria disekitarnya itu mengganti baju mereka tanpa memperdulikan adanya keberadaan dua mahluk beda gender didekat mereka, walau ini surga dunia tapi ia tidak boleh melihatnya. Toh, ia juga akan diusir oleh minseok untuk mengungsi kemanapun selama para pria itu mengganti baju mereka.

 

Toilet itu berada cukup jauh disudut kanan gymnasium dan berada tepat disamping gudang penyimpanan alat alat olahraga yang biasa dipakai untuk mata pelajaran olahraga ataupun kegiatan olah tubuh lainnya.

 

Tepat saat berada didepan gudang penyimpanan, jiae menghentikan langkahnya dan membuat namjae juga ikut berhenti karna refleks. Hampir saja namjae mengeluarkan kata protes namun jiae segera menutup mulutnya dengan telapak tangan, kebiasaan.

 

Namjae menangkap sahabatnya itu membuat sebuah isyarat untuk diam dengan jari telunjuk, sekaligus melihat sekitar sekiranya mungkin saja ada yag melihat gelagat aneh mereka sekarang.

 

“Aku mendengar sesuatu, sebuah suara.” Bisik jiae super pelan.

 

“Ayo menguping.” Balas namjae dengan nada yang sama.

 

Tingkat rasa penasaran mereka memang lebih tinggi dari manusia lain.

 

Dengan gerakan yan lambat mereka mulai menempelkan daun telinga pada daun pintu, mencoba menguping sekiranya siapa gerangan yang berada didalam sana. Mungkin saja yang didalam sana bukanlah manusia sehingga jiae akan mengambil ponselnya dan merekam kejadian aneh disana, sedangkan namjae akan bertugas mendobrak pintu didepan mereka itu disaat genting. sekilas pikiran kedua gadis itu hampir sama.

 

Sebal. Mereka mulai berani membuka sedikit pintu itu karna tidak bisa mendengar dengan jelas siapa yang tengah bicara dengan siapa dan apa yang sedang dibicarakan.

 

Ngomong ngomong, mereka berdua memang sering melakukan hal ini. Menguping pembicaraan orang lain, walau orang asing sekalipun. Meskipun yang didibicarakan adalah masalah  pribadi dan bersifat sangat tertutup sekalipun. Pernah sekali mereka tak sengaja lewat didepan ruang wakil kepala sekolah, dan yeah, mereka mendengar rencana si wanita licik itu dengan jelas. Entah si wanita itu tengah bicara dengan siapa, tapi yang pasti mereka merencakan sebuah tindakan untuk menyabotase sebagian uang dari para donatur tetap sekolah. Kedua gadis itu tentu sangat mengerti pada situasi apa mereka saat itu, dan juga, kedua ayah mereka adalah salah satu dari donatur yang masuk dalam daftar jejeran para donatur tetap terbesar disekolah itu. mereka tentu sangat tidak suka saat mendengar rencana itu sehingga dengan nyali sebesar biji kacang akhirnya mereka menaruh sebuah surat kaleng pada si tua botak atau yang lebih dikenal sebagai kepala sekolah Haeguk Senior High School, yang mengatakan bahwa seseorang tengah mencoba untuk menyabotase sebagian uang donatur.

 

Walaupun menyebalkan, si tua botak itu lebih bisa dipercaya dari pada si wanita licik bertitelkan wakil kepala sekolah. Dan akhirnya dengan berbagai pertimbangan macam macam dan memakan cukup banyak waktu, uang dari para donatur akan langsung disetor ke penyimpanan khusus tanpa melalui perbendaharaan sekolah serta wakil kepala sekolah.

 

Padahal saat itu nyali mereka hanya sebesar biji kacang, BIJI KACANG.

 

Kembali ketopik awal. Kedua gadis itu mengintip dari celah kecil yang tercipta, melihat ada dua tubuh pria didalam sana. Yang satu bersandar didinding sembari memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana. Sedang yang satu lagi tengah berdiri tepat didepan pria yang pertama, posisi mereka cukup dekat sepengetahuan kedua gadis itu.

 

“Kau tahu, kurasa rencana awal tidak berhasil.”

 

“Yang benar saja? Aku sudah memperhitungkan hal itu dengan teliti, dan pasti berhasil!”

 

“Aku sudah menyangka bahwa hubungan ini tidak akan pernah menjadi nyata.”

 

“Aku ada disini, aku selalu bersamamu. Lalu kau anggap aku ini apa?”

 

Namjae segera menarik jiae menjauh, menggeret gadis itu menuju toilet. Mengunci pintu toilet agar tidak ada siapapun yang bisa memasukinya untuk sementara waktu. Wajah gadis itu memerah, antara malu dan bingung bercampur aduk. Berbagai pemikiran liar sudah berkeliaran bebas dikepalanya sejak tadi. Tak jauh beda, jiae juga begitu. Bedanya hanyalah jiae lebih mirip seperti orang yang menahan tawa hingga kedua pipinya memerah.

 

“Apa yang kau pikirkan?” Tanya namjae.

 

Jiae menghembuskan nafas singkat sebelum ia membuka mulut.

 

“Aku pikir dia hanya menyukai Do Kyungsoo, tapi ternyata dia juga menyukai Oh Sehun?” Ucap jiae tak percaya.

 

“Lebih buruk, Ji. Kurasa hubungannya dengan sehun sudah serius, kau dengar apa yang mereka bicarakan tadi?” ucap namjae sembari menggigiti bibirnya, telihat gelisah.

 

“Habislah sudah kesempatanmu. Kau bahkan disalip oleh lawan yang sulit bahkan sebelum kau mulai mengejarnya.” Desah jiae, ikut gelisah.

 

“Pria tampan dan sempurna tapi belum memiliki kekasih. Hanya ada dua kemungkinan, dia sok jual mahal dan pemilih atau tidak normal.”

 

Disaat seperti ini namjae berusaha untuk tertawa renyah, ia mencuci kedua tangannya diwestafel.

 

“Pertama luhan, kedua Jongin. Lalu siapa lagi nanti?” Tanya jiae tak habis pikir.

 

 

**

 

 

Namjae menyadari bahwa ia sudah sendirian dikelas, semua murid termasuk gadis sialan bercap sebagai sahabat kentalnya sudah pulang. Seharusnya ia menyalahkan hal ini pada jiae, gadis itulah yang telah menghilangkan semua makalah fisika mengesalkan yang telah ia kerjakan selama hampir sebulan penuh. Hal itu tentu membuat guru fisika mereka marah besar karna tenggat waktu terakhir pengumpulan makalah adalah hari ini, dan itu membuat guru fisika berkumis tebal tersebut memberinya sebuah tugas tambahan.

 

Bukan takut atau apa, namjae hanya tidak mau pulang paling akhir karna tahu nanti petugas kebersihan yang biasa mengunci kelas kelas akan menyuruhnya untuk mengunci kelas sendiri. Padahal semua orang tahu bahwa kunci itu sangat sulit untuk dioperasikan. Selain karna terlalu tua dan berkarat, lubang kuncinya juga sangat sulit untuk diputar dan butuh tenaga ekstra untuk memutarnya hingga terkunci. Semua akan menjadi seperti De javu jika namjae sampai melakukan hal itu lagi kali ini, pokoknya ia harus selesai sebelum jam empat sore.

 

Tok! Tok! Tok!

 

Dengan gerakan terkejut namjae segera menolehkan kepalanya kearah pintu masuk kelas dan semakin terkejut ketika mendapati siapa yang berdiri disana, dia Oh Sehun. Yang akhir akhir ini selalu membuat namjae merasa aneh dengan tingkahnya.

 

Baru saja ingin bicara si sehun sehun itu sudah berjalan kearah tempat duduknya dengan menodongkan sebuah buku bersampul biru muda padanya. Namjae membuka mulutnya sebentar karna terkejut untuk kedua kalinya dan segera menyambar benda itu dari tangan sehun bahkan sebelum sehun sempat untuk bicara.

 

“Bagaimana ini bisa ada padamu? Makalahku…”

 

Namjae hampir saja menangis sembari memeluk makalahnya erat erat, tapi ia menunda kegiataannya itu ketika sadar sehun masih ada disini dan memperhatikannya.

 

“Kemarin jiae tak sengaja meninggalkannya didekat meja temanku saat dia mendatangi ketua English Club.” Jelas sehun.

 

Oh. Ok. Jiae mencari gara gara pada namjae.

 

“Oh, hehe. Terimakasih, sudah mengantarkannya.” Jawab namje canggung.

 

Sehun melirik sekilas pada meja namjae. Mendapati gadis itu tengah memutar sebuah lagu dari girls Generation dari ponselnya, dan juga, gadis itu sedang mengerjakan sebuah soal fisika. Menurut sehun hanya ada sebagian jenis manusia yang bisa mengerjakan soal fisika disaat semua orang telah pulang seperti sekarang. Orang itu benar benar rajin dan menyukai fisika seperti sehun, atau malah mendapat hukuman untuk mengerjakan soal soal rumit itu meski jam pulang sudah berlalu. Well, sehun juga tertarik sedikit mengetahui bahwa namjae ternyata menyukai Girls Generation.

 

“Kau sedang mendengarkan Romantic St.?” Tanya sehun setelah berpikir cukup lama.

 

“Ah! Ya, aku menyukai lagu itu dan juga Taeyeon.” Jawab namjae dengan polosnya, dia kelepasan.

 

“Tentang soal diatas mejamu. Apa kau butuh bantuan?”

 

Saat itu juga namjae mulai ingat bahwa sehun ini tidak bisa dianggap remeh soal fisika dan tetek bengeknya ynag mengesalkan, anak itu pernah mengikuti olimpiade fisika intenasional saat kelas 9. Ah, baiklah, yang penting soal itu cepat selesai apapun akan dilakukan namjae meskipun harus menghasut sehun untuk mengerjakan semuanya. Toh, dia yang menawari lebih dulu.

 

Salah satu prinsip namjae, Jangan pernah menyia nyiakan kesempatan. Terlebih untuk urusan genting seperti sekarang, yang memang ia sendiri sudah hampir angkat tangan pasrah.

 

“Kau ingin membantu, atau membantuku?” Tanya namjae kemudian.

 

Sehun terkikik pelan, sebenarnya tidak mengerti namjae tengah bicara apa.

 

“Aku akan membantumu, dan mengerjakan semua soal itu. Dengan satu syarat.” Ucap sehun, dia sungguh tidak tahu darimana telah belajar kata hasutan seperti barusan. Pasti terdengar seperti rayuan picisan ditelinga namjae.

 

Namjae memutar matanya kurang ajar sebelum menatap kearah sehun dengan penuh arti.

 

“Oke, aku setuju. Apa syaratnya?” akhirnya namjae memutuskan setelah berpikir tidak terlalu lama.

 

“Temani aku belanja setelah ini, juga…” Jawab sehun singkat sembari mengambil buku tugas milik namjae dan mulai menarik sebuah kursi untuk duduk, dia masih setia menggantungkan kalimatnya tanpa ada niatan untuk melanjutkan. Membuat namjae merasakan firasat buruk serta sensasi aneh disaat bersamaan, bagaimana cara bicara seperti itu bisa membuat sehun terlihat…. Misterius?

 

“Kau bilang hanya satu syarat.” Protes namjae.

 

“Permintaan ini sepaket, tahu. Aku akan melanjutkannya disaat aku ingin. Dan itu bisa kapan saja, jadi siapkan saja dirimu.” Balas sehun acuh, mulai acuh pada namjae karna ia sudah telalu fokus pada buku dihadapannya.

 

“Haha, sepaket.” Namjae tertawa terpaksa, sedikit menyesal.

 

“Ah, kau memang pria yang licik, huh? Andai tidak ada soal fisika itu aku tidak akan mungkin mau menuruti permintaanmu. Kau beruntung karna aku sedikit banyak juga suka berbelanja.” Sindir namjae terang terangan.

 

Dan sehun hanya tersenyum samar. Lihat saja, setelah ini mungkin gadis itu tidak akan menganggapnya licik lagi. Mungkin lebih parah dari licik? Ah, sehun mulai menyukai rencana B ini.

 

 

**

 

 

Awalnya namjae kira sehun akan membawanya kesebuah swalayan ataupun mini market untuk berbelanja, tapi tenyata arti berbelanja dari sehun memang persis seperti pikiran tersembunyi namjae.

 

Bocah itu Fashion King. Dia membawa namjae berkeliling disekitar pusat perbelanjaan besar didaerah Myeong-Dong, mereka bahkan sudah berkeliling lebih dari lima kali dan memasuki berbagai butik khusus pakaian kaum adam namun sehun belum juga menemukan kemeja yang menurutnya cocok. Padahal kalau boleh jujur dari lubuk hati yang paling dalam, namjae bisa memberikan berlimpah pujian bahwa sehun itu cocok menggunakan apa saja dengan tubuh nyaris sempurnanya itu. Tapi sayangnya gadis itu sudah terlalu banyak makan gengsi, serta rasa malu disaat bersamaan. Jadilah sekarang berbagai pujian itu hanya bisa ia kulum dalam dalam diujung mulutnya saat sehun lagi lagi menggoda dirinya dengan menanyakan berbagai pertanyaan pasaran namun membius setengah dari kewarasan namjae, gadis itu sebal sendiri saat membayangkan sehun hanya memakai piyama tidur berwarna pink yang sayangnya juga cocok sekali dengan tubuh pria itu. Padahal itu menjijikkan bagi namjae, seorang pria dengan tubuh nyaris sempurna mengenakan piyama berwarna pink?

 

Andai sepasang kaki namjae bisa bicara mereka pasti akan berteriak sebal saat ini, mereka lelah terus dipaksa untuk mengikuti sepasang tungkai panjang milik sehun.

 

“Ini cocok?” Tanya sehun dengan pertanyaan sama seperti beberapa detik lalu.

 

Gadis itu melirik dengan tatapan tidak minat terbaik miliknya, padahal dalam hati ia tengah berpikir keras. Pujian apa yang harus ia ucapkan?

 

Sehun dengan kemeja hitam terlihat berbeda, namun terlihat masih ada yang kurang dimata namjae.

 

“Kau terlihat sangat polos dengan kemeja itu, polos dalam artian sesungguhnya. Aku tidak sedang memujimu, kau benar benar terlihat seperti orang yang bersiap untuk pergi kesebuah pemakaman dan hanya memerlukan kacamata sebagai pelengkap.”

 

Namjae berjanji pada sepasang kakinya bahwa ini yang terakhir, dia ingin pulang secepatnya dan berendam lama didalam bath up. Gadis itu berjalan kesudut lain toko tanpa memperdulikan sehun yang mulai mengikuti garak geriknya.

 

“Memangnya kemeja ini untuk acara apa?” tanya namjae sembari melihat lihat kemeja berjejer rapi dari mulai warna cerah hingga gelap didepannya.

 

“Kencan.” Ungkap sehun tanpa dosa.

 

“Menarik. Kencan pertamamu?”

 

Namjae bisa membayangkan siapa yang akan berkencan dengan sehun hingga pria itu menjadi panik sendiri hanya karna urusan pakaian.

 

“Hm, begitulah. Aku berniat mengungkapkan perasaanku padanya dikencan itu.”

 

Namjae terdiam sebentar, memikirkan apa yang selama ini hanya ada dialam bawah sadarnya.

 

Lupakan semuanya. Lupakan tentang rencananya untuk mendekati sehun, sejak awal ia memang sudah terlihat tidak cocok dengan pria itu dari sudut manapun. Ah, mungkin dengan cara ini ia bisa dengan mudah berubah pikiran dan mencari pelarian lain. Lagipula masih ada berlusin lusin pria disekolah yang masuk kriteria ideal namjae, yeah, walau semuanya tentu tak akan sama dan senyaris sempurna seperti sehun. Sebenarnya akhir akhir ini namje memang berniat untuk melupakan rasa sukanya, jadi tidak apa apa jika sehun berkencan dengan orang selain dirinya.

 

“Ini sepertinya cocok.” Namjae mengambil sebuah kemeja berwarna putih gading dan menujukkannya pada sehun.

 

“Kupikir ini akan cocok jika kau mengenakan sebuah jas berwarna biru muda dan celana kain hitam, kau akan terlihat dewasa dan juga bekarisma disaat bersamaan.” Lanjut namjae.

 

“Baiklah, aku ambil yang ini.” Ucap sehun tanpa banyak pikir.

 

Mereka berjalan menuju kasir bersama sama dan sehun mulai bertingkah lagi dengan menghentikan langkah namjae untuk kesekian kalinya hari ini. Dari arah pandangannya, sehun terlihat jelas tengah mengamati bagian lain dari toko itu yang menjual pakaian perempuan.

 

“Apa lagi sekarang?!” geram namjae saat sehun dengan semena mena menggeret tubuhnya.

 

Sehun langsung berhenti tepat didepan sebuah manekin yang mengenakan sebuah mini dress berwarna biru muda agak keunguan dari satin. Potongannya cukup sederhana dengan tambahan sebuah ikat pinggang kecil berwarna coklat karamel berbahan kulit, bagian bahu yang sengaja dibuat terbuka memberikan kesan anggun yang aneh dimata namjae.

 

“Aku akan ambil dress ini sebagai hadiah untuknya.” Gumam sehun.

 

Saat itu juga, namjae bagai tersadar akan sesuatu. Ia memang memilih opsi yang tepat dengan melupakan rencana pendekatannya pada Oh Sehun saat melihat bagaimana ekspresi bahagia terpancar sempurna dari wajah sehun saat mengamati dress dihadapan mereka.

 

Namjae harap siapapun gadis beruntung yang mengenakan dress itu nantinya, dia harus bisa lebih baik dari namjae.

 

Ah, sejak kapan namje mulai semelankolis ini? Lupakan, ia hanya perlu ikut tersenyum sembari mengikuti langkah sehun kearah kasir.

 

 

**

 

 

Hari itu hari jum’at, jam empat sore dimana namjae baru saja selesai dengan kegiatan tidur siangnya. Dia baru saja berniat untuk berkunjung kekamar minseok yang berada tepat disamping kamarnya dan mengacaukan permainan game yang tengah dimainkan oleh kakak sepupunya itu, bahkan suara heboh minseok sampai terdengar hingga kemimpi indah namjae tentang kuda terbang yang mengambilkannya sebuah gaun keluaran Christian Dior yang bahkan belum diliris tahun ini.

 

“Ada paket untukmu.” Ucap minseok seperti tahu bahwa namjae ada diambang pintu dan bersiap untuk mengacaukan konsentrasinya, minseok bahkan tidak benar benar melihat kearah namjae.

 

“dari siapa?” gadis dengan balutan sweater putih gading itu bertanya malas sembari menguap lebar, tak terlihat anggun sama sekali.

 

“Mana aku tahu. Buka saja, siapa tahu isinya bom.” Ucap pria itu acuh.

 

Dengan langkah malas gadis itu mulai berjalan kearah kasur minseok dimana terdapat sebuah kotak besar berwarna biru muda dengan pita pink sebagai penghiasnya. Lucu sekali jika sampai minseok mengerjainya lagi kali ini.

 

Gadis itu mulai membuka kotak tersebut dengan gerakan tak sabaran. Bunyi dering ponsel minseok yang berada tak jauh dari tempatnya duduk sekarang sempat mencuri perhatiannya. Tapi ia segera teralih lagi saat permukaan kulit tangannya menyentuh sesuatu bertekstrur lembut dan mirip seperti sebuah kain mahal, namjae seperti familiar dengan tekstur itu namun kelambanan otaknya membuat namjae sulit untuk mengingat kapan dan dimana ia pernah merasakan tekstur itu.

 

“Eh! Dress ini indah sekali.” Gumam namjae setelah mengeluarkan benda itu dari kotaknya.

 

Ketika ia membentangkan dress cantik itu, sebuah note berwarna biru jatuh tepat didekat kaki namjae.

 

‘Juga… berkencanlah denganku besok, 19.00 PM aku akan menjemputmu. Dari, orang yang kau sebut licik. Ps : Aku sepertinya memang licik.’

 

“Apa ini lelucon? Aih, kenapa harus aku? Aku sudah memiliki prinsip. Eh, tapi. Ini Oh Sehun, kan?” Namjae jelas tengah bicara sendiri saat minseok mulai menghampirinya.

 

“Kau pergi satu langkah saja dari pintu rumah besok malam, aku bersumpah akan mencincang Oh Sehun.” Minseok langsung menodong namjae menggunakan ponselnya.

 

Oh, jadi minseok sudah mengangkat panggilan tadi. Yang ternyata dari sehun, namjae bingung kebetulan macam apa ini?

 

“Tentu saja aku tidak berminat untuk berkencan sekarang.” Ucap namje sembari tersenyum.

 

“Tapi sepertinya dengan Oh Sehun masih bisa dipertimbangkan.” Lanjut namjae sembari menjulurkan lidahnya kearah minseok, mengejek.

 

-FIN-

 

AILANA’s Note.

 

So, gimana? Saya gak terlalu jago ngebayangin sehun jadi cowo playboy atau semacamnya jadi sampai segini aja udah syukur bisa selesai dengan otak yang mungkin sudah mulai mengeluarkan asap. Sekali lagi, Fluff bukan suatu yang mudah bagi saya. Jadi ya saya pasrah aja deh. But, don’t forget to give me your comment, Ok?

 

Ps : OCnya masih minjem punya temen, hehe.

 

3 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] I’m not a Superman, But… (Sehun Ver. Oneshot)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s