[EXOFFI LINE@] Spring’s Gobaek (Ficlet)

myhome_6

[EXOFFI ADDERS] Spring’s Gobaek

gobaek also known as confession.
by ace-z
cast: Kim Junmyeon, Oh Hyebin (OC)
romance, friendship / G / ficlet / desclaimer: for mas holkay a.k.a suho-nya author tersaiang. tengs udah jadi ub (di exo) yang paling bermakna dan dengan tulus mengajarkan apa itu arti dari kehidupan, yaitu kita tak bisa hidup tanpa money /eh. JEBAL NO copycat, plagiarism, dan semacamnya. tulung aktif ya di komen plus like kalo bisa *ngemis* ckck kamsahamnidaaa!

Happy reading (/ㅠ ㅅ ㅠ)/

***

“Junmyeon-ah, ppali kajja!”

“Arasseo— arasseoyo!”

***

“DAEBAAAAK!!”

Aku berteriak disela-sela nafasku yang tak beraturan ini. Daebak, benar-benar daebak.

Di hari Minggu ini, Junmyeon, sahabat dekatku sejak kami duduk di bangku sekolah dasar yang sama— mengajakku lari pagi. Awalnya sih kami hanya berniat untuk sekedar lari pagi dan mencari udara segar di sekitar Ulsan. Tapi dengan tak sengaja, kami malah melantur jauh melewati Gyeongju.

“Ah, kau ini payah sekali Junmyeon-ah”, cibir Hyebin kesal setelah Ia sadar dan mengetahui bahwa semua ini adalah kesalahan Junmyeon yang membawa mereka berdua tersesat sejauh ini.

“YA! Oh-ssi, jangan menyalahkanku begitu saja. Salahkan GPS-ku ini”, kini Junmyeon membela dirinya dengan cara membantah semua tuduhan Hyebin. Mereka berdebat saling membela diri mereka masing-masing, sekitar sepuluh menit lamanya. Perdebatan selama sepuluh menit itu hanya sia-sia. Buktinya perdebatan itu sendiri tak memiliki ujung dan hasil. Mereka hanya terduduk diam di bangku yang berada di taman kecil, tepat bersebelahan dengan jalan besar. Kesunyian mengisi suasana, terkecuali beberapa suara kendaraan yang lalu lalang di pagi hari. Junmyeon dan Hyebin sama-sama berpikir apa yang harus mereka lakukan. Saat ini keadaannya benar-benar canggung.

Akhirnya, namja bermarga Kim itu memutuskan untuk mengalah. “Mian”, Ia terdiam sesaat dan kembali berpikir. Sedangkan Hyebin— yeoja yang duduk di sampingnya itu hanya terkejut mendengar kalimat yang dilontarkan lawan bicaranya sendiri dengan tiba-tiba. “Untuk menebus kesalahanku yang tadi, aku akan mengajakmu pergi kesuatu tempat yang indah di sini. Bersiaplah, Hyebin-ah”, lanjut Junmyeon yang mengundang rasa penasaran perempuan itu. “Oh? J—Jeongmalo?”. Benar seperti dugaan Junmyeon, jika pasti sebentar lagi Ia akan melihat reaksi terkejut milik Hyebin. Ya, sejak dulu Junmyeon paling menyukai ekspresi itu. Dimana mata Hyebin akan membelalak terkejut dan dimana rahangnya akan terbuka lebar. Reaksi itu merupakan tontonan yang paling berkesan baginya seumur hidup.

Tanpa menghiraukan pertanyaan Hyebin, Junmyeon kembali berlari dengan semangat. Ia paling suka menggoda Hyebin dengan aksi jahilnya. “Aish namja satu ini benar-benar ingin membuatku penasaran. YA! TUNGGU DULU MYEON!”, yeoja berambut sebahu itu berteriak seru meminta Junmyeon untuk berhenti dan menunggunya. Bukannya menurut seperti biasanya, namja yang tingginya lima cm lebih dari Hyebin tersebut malah menambah kecepatan larinya, bermaksud untuk meminta dikejar.

***

Setelah berlari sekitar lima menit, Junmyeon tiba-tiba berhenti di suatu tempat. Hyebin yang masih tertinggal jauh di belakangnya berusaha untuk menghampirinya.

“Aku ini capek ta— WAAAAAAH! DAEBAAAAK!!”

“Masih marahnya? Sudah memaafkanku belum?”

“Bagaimana bisa tidak!? Tempat ini sangat-sangatlah indah!!!”

Tempat yang mereka kunjungi saat ini adalah Bomun Pavilion, letaknya pun tak jauh dari pusat Gyeongju. Pemandangan di sini sangat luar biasa! Apalagi saat musim semi. Kalian bisa menikmati pemandangan alami yang diciptakan oleh pepohonan sakura, cuaca yang amat bagus, danau kecil yang menyejukkan mata, serta sebuah gazebo ditengah-tengah danau yang bisa kalian kunjungi. Bisa dibayangkan, bukan? Juga betapa indahnya jika ditemani oleh keluarga, teman, dan kekasih.

“Baguslah. Aku lega jika kau menyukainya. Tapi, dibandingkan ini aku lebih suka…—”, kalimat Junmyeon terputus. Ia sadar bahwa Hyebin sama sekali tak menghiraukan satu kata pun dari Junmyeon sedari tadi. Yeoja itu malah asyik sendiri menikmati pemandangan indah di sekitarnya tanpa menghiraukan Junmyeon.

“YA! Hyebin-ah!”

“N—Ne? Maaf. Habisnya pemandangan ini lebih indah dari wajahmu, Junmyeon~ya”, goda Hyebin mengejek Junmyeon. Ia hanya meninggalkan percakapan itu dan kembali menikmati pemandangan di sekitarnya begitu saja. Terukir seutas senyum yang menggambarkan perasaannya di wajah Junmyeon saat ini. Hyebin tak memperhatikan itu, Ia tetap saja asyik berinteraksi dengan pemandangan sekitar. Ia bahkan sedang berlari mengelilingi danau saat ini. Entah mengapa, mungkin Ia benar-benar sangat gembira sampai-sampai Ia lupa bahwa baru saja Ia berlari jauh dari pusat Gyeongju sampai Bomun Pavilion hanya untuk mengikuti kemauan Junmyeon. Junmyeon hanya mengamati punggung yeoja itu dari jauh, tepatnya Ia mengamati gadis itu dari bawah pohon sakura sambil duduk dengan santai.

“—…Ekspresimu”, lanjut Junmyeon meneruskan perkataannya yang Ia potong sebelumnya. Perasaan cemas menyelimuti dirinya. Sebenarnya, hari ini Ia berencana untuk menyatakan perasaannya kepada Hyebin. Ia sudah menyukai Hyebin sejak pertama mereka bertemu. Namun sebaliknya, Ia tak tahu apa perasaan yang dimiliki oleh Hyebin kepadanya. Ia takut jika Ia akan dijauhi oleh orang yang disukainya sekaligus sahabat dekat selama tujuh tahunnya ini. Ia…. Benar-benar takut dan cemas. Masalah mereka tersesat saat ini juga merupakan salah satu dari rencananya. Ia sengaja mengajak Hyebin berlari dari Ulsan ke Gyeongju dengan alasan tersesat. Mereka berdua sama-sama menyukai pemandangan indah dan olahraga pagi, Junmyeon tahu itu. Itulah mengapa semua kejadian pagi ini sudah Ia rencanakan dan untungnya berjalan dengan lancar.

“Hyebin-ah! Sini kemari”

“Mwo? Ada apa?”, Hyebin menghampiri Junmyeon dari jauh. Sesampai disana, Junmyeon menepuk-nepuk permukaan tanah rumput di sebelahnya, mengisyaratkan Hyebin untuk duduk di sampingnya. Dan Hyebin paham akan isyarat tersebut, Ia mengangguk.

“Ada apa?”

“A—Aku hanya ingin mengatakan sesuatu”

“Apa itu?”

Junmyeon merunduk. Ia takut akan dua hal; Ditolak dan dijauhi.

“Hm… Aku tak bisa”, Ia kembali merunduk. Ia benci dan menyesal akan hal ini. Kenapa bisa terjadi?

“A—Arasseoyo. Aku tahu alasan mengapa kau merunduk seperti itu. Perasaan itu..”, mereka berdua terdiam sejenak. Hyebin menggantung perkataannya dan Junmyeon tak keberatan akan hal itu.

“..semacamnya… Oh! Dugaanku benar selama ini”, batin Hyebin.

Tak memakan waktu lama, Hyebin dengan segera melanjutkan perkataannya, “Aku sudah curiga sejak dulu, Junmyeon-ah”

“A—Apa yang kau ketahui dariku?”

“Apa mungkin… Kau… Me—nyu—kaiku?”, tanya Hyebin terbata.

“Eo—Eotteohke? Bagaimana kau, uhm, anu.. Bisa mengetaui hal ini? Ah.. Aku takut kau akan menolakku dan pergi menjauh.. Sudah kupendam semua ini sejak dulu”

“Hey, Kim Ahjussi. Kau ini lamban sekali ya. Atau apa?”, Hyebin berdiri— beranjak dari tanah rumput yang merupakan tempat yang Ia duduki sedari tadi.

“Eh? Apanya yang apa?”

“Kalau aku tak menyukaimu dan tak tertarik sedikitpun denganmu, untuk apa aku mengikutimu sejauh ini?”

Junmyeon terkejut. Ia hanya mengangkat wajahnya dan memasang raut bingungnya, “Oh? J—Ja…di? Jika kau diajak kencan dengan cara yang berbeda dari yang lain— secara konyol dan aneh oleh seorang namja yang sudah dekat denganmu selama tujuh tahun, apa kau akan tetap menerimanya?”

Sudah pasti…

Jawabannya…

“Tentu saja”

#EXOFFI #SUHO #KIMJOONMYEON #KIMJUNMYEON

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s