[EXOFFI FREELANCE] FREAKING JONGIN!! (Ficlet)

tumblr_nl7syllmru1ra5wo5o1_500

FREAKING JONGIN!!

 

Dinopeach

Oh Sehun. Kim Jongin. Lilian Kang. Byun Baekhyun. Jessy Choi.

Romance

Teen

Sekitar duaribu kata

Selamat menikmati, dan hargai karya penulis ya.

Fanfic ini juga pernah dipost di sini bersama dengan fanfic-fanfic saya yang lain J

.

.

.

.

.

.

Lilian sedang memasukkan peralatan rias ke dalam tas saat jam tangannya menunjukkan pukul satu dini hari, waktu yang kelewat larut untuk pulang. Menatap sepanjang meja, mengecek kalau ada barang yang ia lupakan. Tepat saat Jessy menepuk bahunya dari samping. Lilian menoleh pada gadis rambut coklat yang tersenyum padanya itu.

“Kau tidak pulang?” Jessy meletakkan setumpuk naskah di atas meja.

“Aku baru saja berkemas, kau sendiri?”

Jessy nampak mendengus mendengar ucapan Lilian. Gadis itu mengacak rambutnya sebelum menjawab.

“Aku sibuk, Lian” sambil menunjuk ke luar dari pintu ruang rias, gadis itu berucap. Lilian hanya menyahut lalu menepuk bahu sahabatnya itu. Tentu Lilian tau seberat apa pekerjaan Jessy sebagai asisten ketua pelaksana di drama musikal sekolahnya ini, hilir mudik kesana kemari.

“Apa butuh ku bantu?” Lilian menawarkan setelah berfikir panjang antara bersantai di rumah yang hangat atau membantu Jessy yang jelas terlihat sangat berantakan. Setidaknya ia harus balas budi pada Jessy yang sudah terlalu sering membantunya.

Ya, kalau Jessy mau dibantu saat ini. Lilian ragu itu. Jessy selalu menolak bantuanya. Merepoti katanya, padahal tidak sedikitpun.

Jessy memandang Lilian dengan sayu, lalu menggeleng “Tidak, kau pulang saja, ibumu sudah menunggu di rumah”

Pernyataan Jessy mengiyakan pikiran Lilian beberapa waktu yang lalu.

“Kau yakin?”

“Hm, pulanglah–”

“Jes!” suara Baekhyun memenuhi ruangan, lelaki manis itu berdiri dekat pintu. Membawa kotak kardus ukuran sedang yang Lilian yakini berisi properti drama, terlihat dari topeng kepala naga menyembul dari sana.

“Ya, Baek?”

“Ketua memintamu untuk mengecek daftar hadir tamu, dia menunggu di dekat panggung” berucap secepat kilat, Baekhyun segera melangkah pergi. Sepertinya lelaki itu sangat sibuk, Lilian pikir.

Jessy meraih ponselnya dalam saku, mengetik sejenak di layarnya, lalu menatap Lilian.

“Kenapa kau tak langsung ke sana, tunggu apa lagi?” Lilian hanya bertanya ketika tatapan Jessy terlihat aneh olehnya.

“Aku kasihan pada ketua” Jessy mengangkat ponselnya, memperlihatkan pada Lilian percakapan singkat gadis itu dengan ketua yang dimaksud. Disana hanya ada gelembung bertuliskan ‘Sebentar, aku di toilet’ yang dikirim Jessy pada ketua. Jessy berbohong agar mengulur waktunya untuk besantai sejenak.

Lilian tak kunjung menjawab, hanya menatap Jessy yang tertunduk lemas, ia terlihat sangat letih.

“Ketua sangat bersemangat hari ini, terlalu bekerja keras. Sangat menuntut kegiatan ini berlangsung dengan lancar, aku sempat melihatnya terhuyung saat berjalan di backstage tadi. Wajahnya pucat, sesekali ia mendatangi unit kesehatan untuk meminta vitamin.” Selanjutnya Jessy terdiam sejenak.

“Lian, katakan padanya untuk banyak istirahat setelah ini” Jessy melangkah menuju pintu.

“Kenapa aku?”

“Kau kan suka padanya, aku pergi dulu. Hati-hati di jalan”

Belum sempat memprotes ucapan Jessy, Lilian lebih dulu melihat gadis itu berlari menjauh, menyisakan Lilian dengan pikirannya sendiri.

Gadis unit kostum itu mengiyakan kalimat Jessy.

.

Lima belas menit Lilian duduk sendirian di kursi halte depan sekolah. Matanya memandang kiri kanan memastikan kalau ada kendaraan umum yang  mau mengantarnya pulang. Sepi, hanya itu yang Lilian dapati sedari tadi.

“Lilian Kang?” sebuah suara menyeruak dalam dinginnya malam akhirnya memasuki pendengaran Lilian. Lilian menengok pada sumber suara. Seorang lelaki semampai yang sangat dikenalinya berjalan ke  arahnya.

“K-ketua?” entah kenapa gadis itu berucap gelagapan saat lelaki itu mengambil duduk di sampinya. Tas bahan jeans yang berada dipangkuannya berhasil mendapat rematan kuat dari pemiliknya.

Lelaki itu terkekeh, “Kegiatan sudah selesai, tak usah memanggilku begitu”

“Ah, Jongin” kerasukan apa, yang jelas Lilian sudah beberapa kali mengusap pipinya yang menghangat. Tanpa Lilian sadari, Jongin berhasil mendapati tingkah Lilian.

“Kau kedinginan?” Jongin menengok pada Lilian, dan tingkah aneh Lilian makin kentara, gadis itu sedikit melonjak.

“T-tidak”

“Lalu kenapa? Bicaramu gagap, kau juga mengusap-usap wajahmu. Kau sakit?”

.

.

Dia memperhatikanku?

.

.

Lilian cepat-cepat menggeleng, sebagai jawaban atas pertanyaan Jongin, juga untuk mengusir pemikiran pemikiran tinggi yang Lilian yakini tak akan pernah terjadi.

“Tidak, aku baik-baik saja kok” gadis itu berlagak sok normal dengan sangat baik. Lilian berfikir ia harus mendaftar sebagai anggota klub teater besok.

“Ah, baiklah.” Jongin berucap singkat, merogoh ponsel lalu mendengus menatap layar ponselnya.

“Jam dua,” Jongin menggumam. Lilian menoleh ke arahnya.

“Dan tak ada bus lewat satu pun” lanjut Jongin lemas.

“Lima menit lagi” Lilian berucap, tatapannya kembali ke arah jalan sepi. Mencoba sebisanya menjauhi tatapn Jongin yang membuatnya terlihat seperti orang kedinginan di mata Jongin.

Ha?” Jongin membeo tak berhasil memahami ucapan Lilian.

“Lima menit lagi busnya datang” Lilian mengcek jam tangannya, takut salah berucap. Syukurlah, tidak. Dari samping Lilian dapat melihat kepala Jongin yang mengangguk-angguk.

Hening setelahnya, sepuluh menit, dan antara Jongin maupun Lilian tak ada yang berniat untuk memecah keheningan. Lebih memilih diam dan berkutat pada pikiran masing-masing. Jongin yang berpikir entah apa dan Lilian yang berpikir bagaimana caranya menyembunyikan diri dalam tanah.

Menit ke duabelas, tepat saat Jongin tiba-tiba meletakkan jaket abu-abunya menyelimuti bahu Lilian. Gadis itu menoleh pada Jongin, serta bersyukur pada malam yang menyembunyikan rona wajahnya.

“Kau kedinginan” Jongin berucap santai, sama sekali tak mengindahkan badai kupu-kupu dalam perut Lilian.

“T-tidak, ini” Lilian melepas jaket itu dari tubuhnya “Aku tidak kedinginan” Lilian menyodorkannya pada Jongin. Gadis itu terbelalak saat Jongin menarik kasar jaketnya dan kembali menyibak benda hangat itu pada bahu Lilian.

“Jangan menolak” nadanya sedikit tinggi, Lilian tak berani membantah, “Bibirmu pucat, kau kedinginan”

Dia benar-benar memperhatikanku!

Lilian membiarkan mulutnya terbuka untuk menyahuti ucapan Jongin, bus yang tadi mereka bicarakan akhirnya datang.

Jongin bergegas bangkit dan berjalan ke arah pintu bus, tiba-tiba lelaki itu terhenti, memandang Lilian yang nampak kesulitan dengan tiga tas ukuran sedang di tangan. Tanpa bicara, lelaki kulit sedikit gelap itu lekas kembali dan merebut dua tas yang berada di pelukan Lilian. Gadis itu kembali tergagap.

“J-Jongin,”

“Sudah, cepat naik” mematuhi perintah Jongin, Lilian melangkah menuju bis, diikuti Jongin di belakang. Gadis itu memilih kursi bis bagian tengah dan memutuskan untuk duduk dekat jendela. Sedangkan Jongin, duduk di kursi belakangnya setelah menaruh kedua tas Lilian di kolong yang disediakan di atas tiap kursi.

Suasana di dalam bus sangat sepi. Hanya ada Lilian, Jongin, supir bus, dan dua orang pria yang duduk di kursi paling belakang.

Lima menit berlalu, dua orang pria yang duduk paling belakang tiba-tiba mengubah posisi duduk di kursi seberang Lilian. Lilian harus akui ia sedikit gemetar sekarang, dua pria itu berpakaian layaknya preman. Lilian hanya mengacuhkan dan menatap ke luar lewat jendela bus ketika telinganya mendengar seorang pria bersiul padanya.

Demi kerang rebus Sehun, Lilian benar-benar ketakutan. Sungguh, Lilian benar-benar penasaran dengan apa yang dilakukan Jongin sekarang, apa lelaki itu tak melihat dan tak ingin menolongnya? Hanya Jongin yang Lilian kenali di bus ini.

Dari samping Lilian bisa melihat salah seorang pria bangkit dan berniat memindah pantatnya di kursi samping Lilian yang kosong. Seseorang berhasil duduk di sana, oke, sekarang Lilian berkeringat dingin.

“Kau baik-baik saja?” bukan siulan atau suara menggoda yang Lilian dengar, malah suara khas Jongin yang menanyakan keadaannya. Bukan pria preman yang duduk di sampingnya, itu Jongin.

Lelaki itu bukannya acuh atau apa, Jongin sedari tadi mengawasi gerak-gerik dua pria itu sejak ia dan Lilian memasuki bus. Saat dua pria itu berpindah duduk di seberang Lilian, Jongin hampir saja berjingkat dan segera mengambil duduk di samping Lilian guna menjaga gadis itu. Lalu lelaki itu mengurungkannya, dan baru terjadi saat Jongin melihat seorang pria jahat berniat duduk di samping Lilian, dengan cepat Jongin melangkah maju, merebut kursi di samping Lilian.

Jongin bisa mendengar pria jahat di sampingnya mengguman tak jelas, sekilas umpatan terdengar oleh Jongin.

“Lian, kau baik-baik saja?” Jongin kembali mengulang pertanyaanya ketika Lilian hanya diam memandangnya. Gadis itu masih tak percaya.

“Uh, aku baik-baik saja” Lilian berucap kikuk, entah mengapa darahnya berdesir hangat saat Jongin menatapnya tadi. Gadis itu berdeham sejenak lalu membuang pandangan pada jalanan luar.

Jarang-jarang sekali situasi seperti ini ia dapatkan. Duduk bersampingan di bis yang sama.

Tunggu dulu, bis?

Bukannya Jongin berangkat dengan motor merahnya? Kenapa pulang naik bis?

“Eum, Jongin.” Lilian memberanikan diri untuk bertanya. Matanya memandang Jongin yang sibuk mengutak-atik ponselnya, Lilian tak peduli itu. Setidaknya ia berhasil memecah keheningan. Lilian akui ia merasa canggung.

Jongin menoleh, lelaki itu cepat-cepat memasukkan ponselnya ke dalam saku celana “Y-ya?”

“Itu, itu, kenapa kau tidak pulang motor?” kendati menjawab, Jongin malah menunjukkan raut terkejut. Entah apa yang Jongin pikirkan, ekspresinya seperti seorang maling yang baru saja ketahuan mencuri sandal.

“Ku kira kau bawa motor saat berangkat tadi–” tak sempat Lilian mengakhiri kalimatnya, gadis itu sudah lebih dulu dikagetkan dengan Jongin yang tiba-tiba merebahkan kepalanya pada bahu Lilian. Seketika gadis itu membeku dalam duduknya.

“Ah, lelahnya” Jongin memejamkan matanya. Mencoba terlihat ia benar-benar lelah. Lelaki itu hanya berusaha mengalihkan peembicaraan tentang naik motor atau bis. Yang jelas lelaki itu tak ingin membahasnya sekarang. Cukup dengan Lilian itu lebih baik.

“…” Lilian masih membeku saat Jongin menggeliat, mencari posisi nyaman. Lelaki itu menyilangkan kaki serta melipat tangan di depan dada. Lilian bisa tau kalau Jongin kedinginan. Siapa suruh memberikan jaketnya pada Lilian, tuh kan dingin.

“Uh oh,” Jongin mengangkat kepalanya, matanya memandang Lilian, “Aku lupa, aku belum minta izin untuk tidur di bahumu bukan?” Jongin berkata santai, mengabaikan ekspresi beku Lilian. Seakan baru saja memergoki gajah terbang.

Melihat Lilian hanya diam tak merespon, Jongin kembali berucap, “Apa aku boleh tidur di bahumu? Tidak ada sandaran lain, kursi ini bisa membuatku jatuh–”

“Ah, boleh” Lilian menjawab singkat, wajahnya ia arahkan ke depan. Sebisanya menyembunyikan raut wajah kemerahan dari penglihatan Jongin.

“Benarkah? Kau tidak keberatan?”

“Tentu saja tidak, kau baru saja melakukannya dan aku biasa saja” Lilian berucap gamplang menatap Jongin, gadis itu menyibak surainya ke depan, masih berusaha menutupi wajahnyayang memerah. Walau sebenarnya Jongin sudah tau itu sejak tadi.

Ketersediaan Lilian membuat Jongin bersorak dalam hati.

Perlahan Jongin kembali menaruh kepalanya pada bahu Lilian, kali ini tidak dengan kepura-puraan. Jongin benar-benar lelah, ia ingin sekali cepat-cepat sampai rumah dan tidur nyenyak di kasur empuknya yang hangat.

Jongin perlahan mulai merasa kantuk menjalar di tubuhnya, dan akhirnya lelaki itu benar-benar tertidur pulas. Dari samping Lilian bisa mendengar deru nafas Jongin yang teratur meniup helai rambutnya, sedikit geli sebenarnya.

Takut membuat Jongin terbangun, Lilian menyibak surainya kebelakang telinga, lalu menatap wajah tenang Jongin yang sedang tertidur.

“Lelah sekali, ya?” entah dorongan dari mana, Lilian mengusap rambut Jongin yang berantakan. Lilian bisa melihat lingkarang hitam yang muncul samar di bawah mata Jongin, sedikit mengotori wajah tampannya. Wajahnya juga lumayan pucat, kenapa Lilian baru menyadarinya ya? Ah, gadis itu terlalu sibuk dengan kehebohan hatinya sendiri.

Dalam hati Lilian amat bersyukur atas kejadian ini.

.

.

.

.

Jongin sialan!

Ada apa, Hun?

Kenapa kau tidak bilang tangki bensin motormu sekarat!

Kau sendiri tidak tanya

Kim jongin!

Tau begini aku tak akan mau diminta membawa motormu!

Kau benar-benar sialan, Jong!

Tiba-tiba Lilian memanggilnya. Jongin menoleh, lelaki itu cepat-cepat memasukkan ponselnya ke dalam saku celana “Y-ya?”

.

.

.

.

.

END

Tinggalkan komentar yaa, sebagai apresiasi kalian serta penilaian tersendiri bagi penulis. Komen kalian sangat berharga loh, beneran ._.v

Kalo ada kesalahan entah typo(s) atau lainnya, mohon koreksinya semuaaa.

Sekian, terima kasih.

-Dinopeach-

5 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] FREAKING JONGIN!! (Ficlet)

  1. Nah loh! Aku kira Jongin sengaja ninggalin motornya demi berdua an dg Lilian, kesannya kan ada perjuangannya gitu….eh tenyata karna bensinnya habis..hahah😀😀😊😊😄

    Bagus thor, semangat nulis yg lebih keren lagi thor, like you

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s