[EXOFFI FREELANCE] DRAFT – Chapter 22

newposterdrafttt

 

Tittle: DRAFT
by Tyar
Chapter | School life, Friendship, Romance | T
Cast
Sehun – Irene – Kai – Seulgi – With SM Artists.
Disclaimer: Cerita ini murni terlahir dari otak tyar yang rada geser.
#Beberapa plot terinspirasi dari potongan-potongan drama korea dan anime.
Find my another story – [https://nakashinaka.wordpress.com/]
Enjoy^
List: [Prolog | Chapter 1 – Chapter 21]

-22-

Satu menit saja seperti berjam-jam bagi Seulgi. Dia sadar geng busuk itu sudah pergi darinya tanpa rasa bersalah sedikitpun. Tubuhnya tiba-tiba begitu lemas, terlalu berat untuk menyeimbangkan diri kembali. Matanya terutup rapat, batinnya masih berharap seseorang akan segera datang. Siapapun, meski yang ada dibenaknya saat ini hanya wajah Kai.
“Astaga, Seulgi-ah!” secara sadar dan tidak sadar, Seulgi mendengar seruan seseorang. Detik pertama ia masih berharap itu Kai. Tapi ketika orang itu terjun ke dalam kolam, dan berusaha mengangkatnya. Seulgi sadar itu bukanlah orang yang diharapkannya. Kali ini, Kai tak ada disana untuknya. Dunia pun semakin buyar. Seulgi akhirnya benar-benar tak sadarkan diri.
“Ah, jinjja. Kenapa kau bisa tenggelam seperti ini.” Dengan nafas terbata-bata sekaligus panik, Wendy menggerutu di dalam kolam, berusaha mengangkat tubuh Seulgi ke pinggiran. Namun dia tidak cukup pandai untuk melakukannya.“Aish! Siapapun di luar sana, tolong kami!”
Beruntung, teriakan Wendy cukup terdengar untuk mengundang seseorang berlari memasuki aula kolam renang. Ketika gadis itu menoleh, Kai sudah berlari dengan wajah panik bukan main.
“Seulgi!” serunya cemas. Kai segera turun ke dalam air, membantu Wendy untuk mengangkat Seulgi dan membaringkannya di pinggir kolam.
“Seulgi!” serunya lagi seraya mengguncang kedua pipi gadis itu. “Seulgi-ah!” dengan pelan, Kai kemudian menepuk-nepuk pipi Seulgi. Dia semakin panik dan cemas. Begitu juga dengan Wendy.
Tanpa pikir panjang, tanpa pedulikan apapun lagi. Kai menekan kedua lubang hidung Seulgi, mendekatkan wajahnya kemudian memberi nafas buatan beberapa detik. Lalu menekan dada gadis itu, berusaha mengeluarkan semua air yang masuk ke dalam tubuhnya. Kemudian kembali memberi nafas buatan, dan menekan dadanya lagi dengan hati-hati. Wendy yang terduduk di samping Seulgi nyaris melotot terkejut. Melihat pemandangan barusan dengan tiba-tiba. Namun siapa sangka? Pertolongan pertama yang Kai lakukan pun membuahkan hasil.
“Uhuk!” sedikit semburat air keluar dari mulut Seulgi, gadis itu segera mengangkat tubuhnya, terduduk dengan keadaan sesak.
“Seulgi¬-ah, gwaenchana?!” seru Kai lagi masih dengan cemas yang tersisa.
Wendy segera merapat, menopang tubuh Seulgi yang lemas. Gadis itu menepuk-nepuk dadanya sendiri, nafasnya memburu terengah-engah. Lalu dia menoleh, baru menyadari bahwa yang berada di dekatnya bukan hanya Wendy.
“Su-sunbae?”
“Hah. Nyaris saja.” Desah Wendy mulai merasa lebih tenang.
“Kau tidak mungkin tenggelam tanpa sengaja. Seseorang pasti sudah –“
“Sunbae, aku rasa kita harus membawanya dulu ke UKS.” Potong Wendy, ketika melihat mata Seulgi yang sayu. Setidaknya, dia harus mencegah Kai untuk bertanya ini-itu. Urusan apa penyebab Seulgi tenggelam itu urusan mudah.
Kai menghela nafas, kemudian mengangguk dan menggendong tubuh kurus itu meninggalkan kolam.
Dengan sayu dan pandangannya yang pudar, Seulgi memandangi wajah Kai yang masih tampak cemas tengah menggendongnya ke UKS. Sesuatu seperti membuat dirinya merasa lebih lega. Pada awalnya ia kira, kali ini Kai takkan ada di sana. Namun itu ternyata memang terlalu ajaib. Setiap sesuatu terjadi pada dirinya, sunbaenya itu selalu muncul tepat waktu. Dengan setengah sadar, Seulgi menikmati dekapan Kai. Sampai ia berbaring di atas tempat tidur UKS.
Tanpa harus diberitau, Kai segera keluar ruangan. Membiarkan Wendy memberikan baju olahraganya untuk mengganti pakaian bebas Seulgi yang basah. Gadis itu membantunya mengeringkan rambut, juga tubuhnya.
“Gomawo, Wendy-ah.” Gumam Seulgi seadanya.

Lawan bicaranya menghembuskan nafas.
“Aku sangat ketakutan tadi, kau tau. Pantas saja kau lama sekali. Beruntung aku menyusulmu, dan yang lebih beruntung lagi Kai sunbae datang dan membantuku mengeluarkanmu dari air, lalu –“ Wendy menggantung kalimatnya dengan ragu.
“Lalu?”
“Lalu…” gadis itu memiringkan kepalanya, “dia memberi nafas buatan untukmu.”
“Apa?!” Spontan tangan Seulgi terangkat, membungkam bibirnya dengan mata membulat.

“Dia memberi –apa kau bilang?!”
Wendy tak membalas, selain memberi cengiran kaku padanya. Lalu tangannya melambai, “sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Pertolongan pertama memang sangat penting. Itulah sebabnya kau bisa sadar seperti ini.”
Seulgi diam menekuk wajahnya. Wendy lalu keluar UKS, memberitau Kai bahwa mereka sudah selesai.
Sementara dia membuatkan secangkir teh hangat untuk Seulgi di ujung ruangan, lelaki itu kini sudah duduk di samping ranjang, menatap Seulgi kasihan. Gadis itu menunduk, memandangi jemarinya yang bergerak tak karuan. Sesekali ujung matanya melirik Kai, kemudian melirik lagi kearah lain.
“Go- gomawo, sunbae.”
Kai menghembuskan nafas, “Aku mungkin tidak akan berlari ke sana, jika Wendy tidak berteriak sekencang itu.”
“Hm. Kau benar.”
“Jadi Seulgi-ah. Kenapa kau bisa tenggelam? Kupikir seluruh murid di sekolah ini wajib bisa berenang. Pasti ada seseorang yang sengaja membuatmu tenggelam. Benar?”
Sebelum memberi jawaban, Seulgi meraih cangkir yang disuguhkan Wendy untuknya. Lalu meneguknya perlahan. Membuat tenggorokannya lebih hangat. “Yang penting aku sudah baik-baik saja sekarang.”
Ruangan bernuansa putih berpadu biru muda itu lengang sejenak. Kai melirik Wendy, menatapnya penuh arti. Tanpa waktu banyak, gadis itu memutar bola matanya, mengerti dengan isyarat Kai.
“Baiklaah.” Dengan malas, Wendy pun melangkah keluar UKS. Membuat tempat itu kembali hening.
Masih dengan ragu, kali ini Seulgi membalas tatapan Kai beberapa detik. Lalu kembali menatap isi cangkir di dalam genggamannya.
“Kau tidak mau mengatakannya padaku? Siapa orang kurang ajar itu?” lelaki itu mendesak.
“Sudah kubilang, sunbae. Aku bukan seorang pengadu.” Seulgi menghala nafas, melirik Kai lagi. “Lagipula, kau tau betul apa penyebabnya. Iya, kan?”
“Na? Aku penyebabnya. Jadi secara tidak langsung aku sendiri yang membahayakanmu?”
Seulgi memiringkan kepalanya, lalu tersenyum tipis. “Tidak juga. Rasanya seperti keajaiban karna kau selalu tiba-tiba datang.”
Jantung Kai tersentak sedikit, mendengar kalimat Seulgi barusan. Dengan lamat-lamat dia memperhatikan gadis di hadapannya, membuat gadis itu mulai gugup melirik kesana-kemari dengan tak jelas.
“Kau –“ lelaki itu semakin menatap Seulgi menggoda, “menyukai itu?”
“Oh?” tawa Seulgi segera meledak setelah itu, “t-tidak juga. Tapi kuakui pertolonganmu kali ini memang sangat membantu.” Gadis itu mendekatkan bibir cangkir ke mulutnya lalu meneguk isinya lagi sedikit.
“Kau berhutang banyak padaku, Kang Seulgi.” Gurau Kai.
“Heol. Kau pamrih sekali, sunbae.”
XxxxX

Beberapa minggu kemudian, Sehun sudah harus menyiapkan diri untuk kembali ke sekolah. Untuk mengikuti jadwal UAS. Berharap akan mendapat nilai paling sempurna demi menyelamatkan karir pendidikan SMAnya. Berkat guru privat yang disewakan ayah Kai, bisa dipastikan tak akan ada semateri pun yang tertinggal.
Sehun kini berdiri di hadapan lemari bajunya, menatap setelan seragamnya yang rapih tergantung di gagang kecil pintu lemari. Beberapa menit lalu, dia mengirim satu pesan pada Irene, “Besok aku kembali ke sekolah untuk UAS. Aku harap semua berjalan dengan baik. Begitupun juga denganmu, aku harap semua berjalan dengan baik.”
Seharian setelah itu, sampai pukul 10 malam, Sehun terus memantapkan materi. Belajar bersama Kai yang konsentrasinya selalu tiba-tiba terpecah gegara obrolan mengenai Seulgi yang akhir-akhir ini tampak kembali canggung didekatnya.
“Pabo-ya! Mungkin dia memang masih malu karna kau memberinya nafas buatan waktu itu.” Timpal Sehun tanpa mengalihkan pandangannya dari buku.
“Tapi aku yakin dia tidak mengingatnya sama sekali.”
“Heol. Lihat, dia tidak mengingatnya saja sudah gugup padamu. Bagaimana kalau kau benar-benar menciumnya?”
Kai tersenyum aneh, “Kenapa jadi aku yang malu mengingatnya?”
“Aish. Dasar menggelikan!” delik Sehun sebal. Kemudian tak menghiraukan Kai yang kini tertawa sendiri.
“Menurutmu, apa dia mulai menyukaiku?”
Kali ini dia menatap Kai lalu menghembuskan nafas. “Ya! Besok ujian dan bisa-bisanya kau masih memikirkan soal itu?”
Kai menyengir, “Ne.. Ne.. Maaf.”
XxxX

Pagi itu sekolah begitu riuh ketika semua orang mendapati Kai berjalan bersama Sehun. Masih sama seperti sebelumnya, Sehun hanya berjalan dengan santai. Wajahnya datar dan tatapannya dingin. Pura-pura bersikap bahwa semua baik-baik saja.
Bukan hal yang aneh jika orang-orang saling berbisik. Mengingat kembali berita tempo lalu. Kemunculan Sehun, sepertinya malah membuat berita lama itu kembali menghangat. Namun Kai dan Sehun hanya menyusuri koridor dengan acuh, seolah tempat itu adalah milik mereka.
Sampai keduanya berhadapan dengan Junmyeon. Lelaki itu tersenyum miring ke arah Sehun yang hanya membalas dengan mata dingin –seperti biasa.
“Sepertinya ujian kali ini tidak akan mudah, bukan begitu, Oh Sehun?”
“Tidak akan mudah bagimu, karna aku akan segera merebut posisiku yang seharusnya.”
Junmyeon tertawa kecut, “Jangan besar kepala dulu. Lawanmu bukan cuma aku.”
“Aku tidak sedang melawan siapapun. Aku hanya menganggap kalian semua tidak penting. Karna prestasiku memang yang terbaik.” Satu alis Sehun terangkat menantang. Membuat Kai tertsenyum mencibir. Lalu keduanya melewati Junmyeon, meninggalkannya yang mulai memanas karna kalimat Sehun.
Hari-hari selanjutnya penghuni sekolah sudah mulai terbiasa dengan kembalinya Sehun selama Ujian Akhir Semester. Konsentrasi mereka yang terus terkuras demi hasil ujian terbaik, membuat kebanyakn siswa tak lagi mengingat apa masalah Sehun.Tak lagi mencibir, atau berbisik-bisik membicarakannya. Meskipun, Junmyeon dan siswa-siswa semacam itu, juga para anggota osis yang ambisius, masih memandang Sehun sebagai kutu yang sulit disingkirkan, menganggapnya sebagai musuh paling tangguh. Sementara Sehun hanya bersikap santai, seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa orang-orang seperti itu hanyalah angin lalu baginya, sama sekali tidak penting.
Hari-hari ujian berlalu dengan seperti biasa. Sehun merasa beruntung karna ia tak menemukan kesulitan sampai hari terakhir ujian. Berbeda dengan Kai yang selalu pasrah, tidak ambil pusing dengan hasil seperti apa yang akan didapatakannya.
“Aku senang kau bisa kembali meraih posisi itu. Kali ini, kau harus bertahan apapun yang terjadi.” Puji Kai sembari merangkul pundak Sehun dan tersenyum bangga.
Hasil memanglah tidak akan pernah menghianati usaha. Sehun berhasil naik kelas dengan nilai sempurna, di posisi pertama se-sekolah. Dia kembali menjadi Sehun yang sebelumnya, Sehun si peringkat 1.
“Aku juga senang melihat peringkatmu bisa naik lagi.”
“Aaah, cuma naik 2 peringkat. Tidak terlalu spesial.” Elak Kai merendah.
Dan lihat bagaimana reaksi para pesaing berat Sehun. Mereka semua menggerutu dalam hati, terutama Junmyeon yang kembali turun ke peringkat 2.
“Apa aku terlihat seambisius orang-orang itu?” bisik Sehun pelan, ketika keduanya berjalan menjauhi papan peringkat.
“Tidak juga. Prestasimu memang murni, menurutku. Anggap saja itu hobimu, Sehun.”
“Hm. Itu memang hobiku.” Balas Sehun dengan nada gurauan.
“Ya. Tidakkah kau tertarik memberiku senyum, oh?” protes Kai tiba-tiba.
“Lupakan saja. Itu tidak akan berhasil.” Sehun melambaikan tangan, mempercepat langkah meninggalkan Kai.
XxxX

Irene menatap hasil semester di sekolah barunya dengan tersenyum tipis. Itu lumayan juga, tidak terlalu bagus tapi tidak buruk. Namun tetap saja, Irene tidak merasa begitu senang. Nilai-nilai itu seakan hanya spontanitas, seperti ketika Sehun meraih prestasi gemilang di sekolah dengan berturut-turut. Memangnya apalagi yang bisa dilakukannya di tempat itu selain belajar? Dan mengikuti semua kegiatan. Meskipun, beberapa pelanggaran masih dia lakukan. Mungkin, jika dia menjadi siswi teladan, nilainya akan jauh lebih baik dari itu.
Seperti yang dikatakan ayahnya sebelumnya, Irene tidak bisa pulang liburan semester ini. Tapi bukan berarti cuma dia sendiri yang tidak pulang. Ada beberapa siswi yang tetap tinggal di asrama selama liburan semester karna faktor tempat tinggal yang terlalu jauh.
Kini Irene dengan gontai, menyapu halaman juga jalanan setapak yang membentang antara sekolah dengan gedung asrama. Kerja bakti bersama beberapa siswi lainnya.
“Ya.” Sahut Irene di sela-sela aktivitasnya. Gadis yang menyapu tak jauh dari Irene bergumam memberi jawaban. “Kau tau pelanggaran apa yang paling fatal akibatnya di sekolah ini?”
Gadis itu menoleh memandangi Irene beberapa detik,

“Untuk apa kau tanyakan itu?”
“Aku hanya ingin Kepala Sekolah mengusirku dari sini dan mengembalikanku ke sekolah yang lama.” Bisik Irene gemas.
“Heol. Daebak.” Lawan bicara Irene tertawa kemudian melanjutkan aktivitasnya. “Aku tidak tau hal apa yang akan berakibat fatal.Tapi kupikir, kau kabur dari sini saja sudah akan cukup membuat Kepala Sekolah mengamuk.”
“Kabur?” Irene berhenti, tampak berpikir sejenak. “Kurasa kabur adalah hal tersulit ditempat ini.” Keluhnya tak yakin.
“Memang.”
“Kau pernah mencobanya?”
“Tidak. Jika pernah, mungkin aku sudah ditendang dari sini. Lagipula, aku ini anak baik-baik, asal kau tau.” Cibirnya membuat Irene hanya mendelik gemas dan melanjutkan aktivitasnya.
Jam makan siang, Irene kembali ke asrama. Karna itu liburan semester, tidak akan ada yang memasak. Jadi Irene hanya membuat semangkuk ramen untuk dirinya sendiri dan menikmatinya sendirian di salah satu meja makan lesehan asrama.
Sambil menyumpit ramen, sesekali perhatiannya terpaku pada layar ponsel yang kali ini akan ada di dalam genggamannya selama liburan. Sehun belum mengiriminya pesan sama sekali beberapa hari ini. Padahal dia sudah banyak mengabari lelaki itu. Jadi yang dilakukannya hanyalah membaca kembali semua percakapan terakhir mereka sambil tersenyum sesekali.
Setelah itu, Irene tiba-tiba berpikir untuk mengambil selfie. Dia pun mengarahkan kamera depan tepat di depan wajahnya, Irene membuka mulutnya dan mengarahkan sesumpit ramen ke depan mulut. Ckrek. Sebuah foto manis berhasil ia ambil. Kemudian dia mengirimkannya pada Sehun.
“Merindukan ramen buatanku?”
Gadis itu lalu meletakkan ponselnya dan kembali mengunyah mie dengan nikmat. Tiba-tiba saja ponselnya bergetar beberapa kali. Sebuah panggilan masuk. Irene nyaris saja berjingkrak ketika mendapati nama Sehun di layar.
“Sehun-aaaah.” Sapa Irene dengan gemas.
“Ya. Kau tidak berniat membagi ramenmu itu padaku, oh?”
Irene tertawa, “Kau masak saja sendiri. Aku kelaparan, tau. Tak ada yang memasak disini.”
“Aku serius, Irene. Kau bisa saja memasakkan satu lagi untukku. Aku juga lapar setelah menempuh perjalanan berjam-jam ke sini.”
“Oh?” Irene mengedipkan matanya beberapa kali. “Kau? Sedang pergi kemana memangnya?”
Sehun tak menjawab beberapa detik.
“Ya!” sahut gadis itu meminta jawaban.
“Sekolahmu, bodoh. Aku sudah berdiri beberapa meter dari pagar sekolahmu saat ini.”
Kali ini Irene yang diam, mencoba mencerna kalimat Sehun dengan seksama. Kemudian membuka mata lebar-lebar. “Mwooo?!”
“Ck. Sekolahmu jauh sekali, rupanya. Aku bisa saja menghabiskan seperempat tabunganku demi sampai kesini, jika aku tidak menggunakan salah satu mobil milik keluarga Kai. Jadi cepatlah keluar dari sana sekarang juga, Bae Irene.”
“Apa kau bilang?! Seenaknya saja kau menyuruhku keluar. Jika keluar dari sini tidak sulit, aku sudah pergi dari kapan hari, bodoh!” gerutu Irene. Sifat aslinya mulai keluar.
Lawan bicaranya diam lagi disebrang telepon. Kemudian terdengar sebuah tawa renyah dari sana.
“K-kau tertawa?”
Sehun segera berhenti ketika dia baru menyadarinya sendiri. Dirinya baru saja tertawa tanpa sadar. Lelaki itu kemudian berdehem.
“Bukankah kabur adalah keahlianmu? Aku yakin kau pasti bisa. Aku akan menunggu sampai kau bisa keluar dari sana.”
“Ya. Bagaimana kalau sampai besok pagi pun aku masih tidak tau caranya lari dari sini?”
“Aku tidak peduli. Aku akan tetap disini sampai kau menemuiku.”
“T-tapi –“
Telepon ditutup.
“Aish! Kenapa dia jadi lebih sinting dariku seperti ini, sih?”
Gadis itu menyimpan ponselnya ke dalam saku. Kemudian segera menghabiskan sisa ramen di mangkuknya, seraya berpikir keras.
XxxX

Irene ingat, ketika dia dihukum membereskan gudang asrama yang terletak di paling belakang kawasan sekolah, di sekitarnya selalu tampak lebih sepi dari semua tempat. Setelah mencoba menghindari semua penjaga dengan susah payah, juga mencoba mengakali cara agar bisa memanjati tembok tinggi yang mengelilingi sekolah. Akhirnya Irene berhasil keluar.
Sialnya, dia harus mengorbankan telapak tangannya tergores untuk bisa mendarat dari ujung tembok. Kemudian butuh waktu 7 menit baginya memutari seluruh tembok yang membentengi kawasan sekolah dengan kokoh. Sampai dia tiba di jalan besar yang melewati gerbang terdepan sekolah. Dia harus memakai kupluknya dan pura-pura seakan dia adalah warga sekitar yang sedang lari sore ketika melintasi gerbangnya.
Setelah merasa cukup. Irene pun kembali berjalan dengan pelan, menyebar pandangannya ke segala arah untuk mencari sosok Sehun. Di sepanjang pinggir jalan itu, berjejer pohon-pohon besar yang rindang meneduhi lingkungan itu. Irene menghirup udara, merasa lebih bebas dari sebelumnya. Dia kemudian menghela nafas, tak menemukan Sehun dimanapun.
“Aku harus meneleponnya. Dasar merepotkan.” Gerutunya sambil meraih ponsel dari saku celana. Namun tiba-tiba saja seseorang menarik lengannya dari balik salah satu pohon yang dilewatinya.
Beberapa detik itu terasa sekejap bagi Irene. Sehun menariknya dengan cepat kemudian memeluk tubuhnya dibalik pohon. Mata gadis itu membulat, sekujur tubuhnya kaku. Kini kepalanya dengan hangat didekap dalam dada Sehun.
“Benar kan, apa yang kubilang? Kabur itu memang keahlianmu, Bae Irene.” Bisik Sehun.
Butuh beberapa detik sampai Irene bisa menyadarkan dirinya kembali, kemudian membalas pelukan Sehun dengan erat. “Aku merindukanmu, Sehun-ah.”
“Aku tau.” Balas lelaki itu santai.
Setelah selesai menikmati rindu, Sehun melepaskan pelukannya, lalu menatap Irene. Gadis itu tersenyum lebar. Matanya tampak sangat cerah memandangnya. Beberapa detik kemudian, akhirnya Sehun tersenyum. Membuat jantung Irene berdebur hebat. Itu sungguh senyum yang sangat dirindukannya.
Tangan Sehun kini turun, meraih tangan Irene. Namun lelaki itu segera mengalihkan pandangan dengan cepat ketika indra perabanya merasakan telapak tangan Irene yang kasar. Lelaki itu tak berkata apapun, hanya menghela nafas sambil mengusap kelupas kemerahan kulit telapak tangan gadis itu.
“Dasar ceroboh.” Cibirnya. “Apakah sakit?”
“Tidak, setelah aku bertemu denganmu.” Jawabnya dengan ekspresi jenaka, gadis itu kemudian tertawa.
XxxX

Sehun kemudian membawa Irene ke taman di sekitar sana yang sempat ia lewati saat menuju lokasi sekolah baru Irene. Keduanya duduk di salah satu bangku taman dengan santai. Hampir setengah jam Irene terus berbicara panjang lebar, menceritakan hal ini dan itu, mengomel menggerutu merengek, semua Irene keluarkan dalam satu momen bersama Sehun. Sementara lelaki itu hanya memperhatikan Irene tanpa menoleh ke arah lain sedikitpun, sesekali ia hanya tersenyum. Atau membalas seperlunya. Kemudian tersenyum lagi.
Bisa melihat kembali Irene cerewet seperti nenek-nenek adalah momen yang menyenangkan. Melihat senyum Irene lagi secara langsung adalah momen paling berharga dalam liburan semesternya kali ini.
Sehun tau, Irene memanglah obat paling mujarab baginya. Tak ada yang bisa melakukannya sebaik Irene.
XxxX

Sisa liburan akhir semester berjalan biasa saja bagi Sehun dan Kai. Hari itu sepulang dari kota tempat berdirinya sekolah baru Irene, dia khawatir jika Irene akan tertangkap basah lalu dihukum dengan berat. Tapi beruntunglah, gadis itu segera menghubunginya lagi dan mengatakan bahwa ia berhasil lolos dan baik-baik saja. Andaikan Irene menghabiskan liburan di Seoul, mereka bersama Kai mungkin sudah berkeliling kota menjelajah banyak tempat menyenangkan untuk di kunjungi. Tapi sayang sekali itu hanya angan belaka.
Matahari sudah tenggelam satu jam lalu. Kini Sehun berdiri dipinggiran salah satu jembatan yang membentang melewati sungai Han. Matanya tak bosan memperhatikan suasana malam Seoul yang mulai mendingin. Juga gemerlap lampu beberapa gedung sejauh mata memandang. Dia menghembuskan nafas, untuk yang kesekian kalinya. Entah kenapa, merasa berat akan sesuatu yang tidak ia ketahui.
Tiba-tiba saja, Kai bergabung di sampingnya. Berdiri berlawanan arah membelakangi pemandangan yang masih mengunci perhatian Sehun. Sahabat karibnya itu pun sama-sama menghembuskan nafas.
“Kau siap untuk besok?” tanya Kai pelan.
“Siap? Untuk kembali menjadi pelajar di sekolah itu? Untuk menghadapi satu tahun kelas 3 tanpa Irene? Atau untuk menjalani masa terakhir sekolah sebelum menjadi mahasiswa?” Sehun balik bertanya dengan suara malas.
Kai berdecak, “Untuk semuanya. Kau siap?”
“Aku tidak bisa berkata tidak. Semuanya sudah didepan mata. Untuk satu tahun kedepan, kita akan kembali seperti Kai dan Sehun setahun lalu ketika Irene bukanlah teman kita.”
“Hm. Kau benar. Meskipun sejujurnya, masa bersama Irene mungkin akan menjadi yang paling menyenangkan selama masa SMA.”
Suasana lengang beberapa saat. Hanya ada suara-suara deru mesin kendaraan yang berlalu lalang di jalan raya jembatan. Beradu dengan suara-suara khas malam hari.
“Ya Kim Kai.”
“Hm?”
“Maaf karna tidak bisa menjadi teman yang menyenangkan.”
“Cih. Kau tidak perlu merasa bersalah dengan hal semacam itu, bodoh.”
XxxX

“Baiklah. Kumpulkan semua kertas hasil kuis siang ini pada Kim Kai. Dan Kai, simpan di atas mejaku seperti biasa.” Pinta seorang wanita paruh baya di hadapan podium kelas, ketika bel jam terakhir baru saja berbunyi nyaring.
Siswa yang dipanggil Kai itu memberi senyum ramahnya kemudian mengangguk sopan sebelum gurunya itu berlalu meninggalkan kelas. Tanpa menunggu, dia pun segera berdiri dari kursinya lalu menghampiri podium kelas.
“Ya! Kuberi kalian waktu 10 detik untuk mengumpulkannya padaku, atau tidak sama sekali.” Sahutnya sambil melirik jam di pergelangan tangan.
Seisi kelas itu mengeluh, mendesah panik. Mulai menoleh kesana kemari untuk saling berbagi jawaban. Hanya 3 siswa yang dengan segera berdiri dan mengumpulkan kertas mereka pada Kai. Sehun, Krystal, dan Junmyeon.
“5,” Kai mulai menghitung.
“Asih jinjja. Ketua kelas tidak pengertian!” gerutu salah seorang.
Kai tak menghiraukan, selain mengipas-ngipaskan lembaran kertas ditangannya ke wajah. “4,”
Tepat dalam hitungan ketiga, semua penghuni kelas itu berdiri, mengumpulkan kertas mereka dengan pasrah.
“Kajja.” Sahut Kai pada Sehun, ketika semua lembaran kertas sudah berada ditangannya.
Tahun ini, Sehun dan Kai mendapat kelas yang sama. Begitu juga dengan Junmyeon, juga Krystal. Dengan tidak beruntung, Kai lah yang terpilih menjadi ketua kelas saat ini. Dan keberadaan Junmyeon adalah satu-satunya yang membuat kelas kadang-kadang berubah menjadi panas.
Tahun ajaran baru sudah berjalan pada minggu ketiga. Semua berjalan lancar sejauh ini. Hambatan terberat bagi Kai adalah bertanggung jawab menjadi ketua kelas, juga menyerap seluruh materi kelas 12 untuk ujian kelulusan. Dan hambatan terberat bagi Sehun masih sama; tidak ada Irene.
Setelah melakukan tugasnya untuk menyimpan semua lembaran kertas di atas meja gurunya, Kai dan Sehun kini berjalan menuju lobi terdepan dan pulang bersama seperti biasa. Bukankah rasanya agak lebih damai? Ketika mereka benar-benar kembali seperti pada awalnya. Hanya saja, kali ini popularitas Sehun dan Kai sedikit menurun, dan mulai tersaingi oleh siswa baru dari kelas 10 yang bernama Taeyong.
Itu hanya soal senioritas saja. Antara senior tertampan dan junior tertampan. Namun Sehun berharap, semua perhatian sekolah itu benar-benar beralih untuk Taeyong si anak baru itu.
“Jangan begitu, kuakui aku masih menikmati masa-masa popularitas seperti ini, Sehun.” Timpal Kai sekenanya.
“Yah, tunggu saja sampai Seulgi lagi-lagi menjadi siswi yang mendapat banyak nyinyiran.”
“Ck. Dia akan baik-baik saja.” Balas Kai santai sambil melambaikan tangannya.
“Kalian masih saja berteman? Kenapa tidak pacaran saja sana, sih.”
Kai tertawa renyah mendengar celoteh Sehun, “Itu sama seperti pertanyaanku untukmu dan Irene, kalian masih berteman saja? Kenapa tidak pacaran saja sana?” cibirnya kemudian tertawa terbahak-bahak. Sehun tak membalas, dia hanya berdecih sambil mendelik masa bodo.
XxxX

Irene merapihkan dasi pita seragamnya di hadapan cermin, setelah selesai mengikat rambutnya di belakang dengan rapih. Senyumnya secerah langit pagi ini. Matanya sehangat mentari pagi ini. Dia kemudian mengikat tali sneakers putih cemerlangnya, lalu segera berjalan menuruni tangga.
Suasana ruang tengah, juga ruang tamu sudah sepi seperti biasa. Tak ada yang berubah. Irene pun meninggalkan kediamannya dengan riang.
Tak sampai satu jam, sedan silver yang ditumpanginya berhenti tepat di depan gerbang sekolah dengan mantap. Tanpa meminta supirnya untuk membukakan pintu, Irene segera turun dari sana. Dengan tatapan santai, sambil mengunyah sebuah permen karet di dalam mulutnya, juga sepasang headseat terpasang di kedua telinganya.
Seketika seluruh atensi orang-orang kini hanya terpaku padanya. Bagi siswa kelas 10, Irene mungkin tampak asing. Tapi kebanyakan siswa yang melihatnya kini saling terkejut memperhatikannya. Mulai berdesas-desus dan mempertanyakan ini-itu. Tapi Irene bersikap begitu santai, melangkah dengan mantap seolah tak ada yang pernah terjadi padanya.
Hal serupa terjadi ketika dia memasuki lobi gedung sekolah.
“Astaga bukankah itu Irene?!”
“Irene sunbae? Kenapa dia ada di sini lagi?”
Tepat ketika dia berbelok ke koridor sebelah kanan, seorang pria berparas sinis berjalan didepannya. Kemudian dengan otomatis, keduanya berhenti saling berhadapan.
Irene melepas kedua benda yang menempel dari telinganya lalu tersenyum miring, masih dengan kunyahan permen karet dalam mulutnya. “Hai, Kim Junmyeon. Merindukanku?” satu tangannya terangkat melambai.
Lelaki itu mungkin memang terkejut ketika mendapati Irene tiba-tiba berdiri di depannya saat ini. Namun kemudian dia hanya membalas dengan senyum kecut.
“Daebak. Masih berani juga kau kembali kesini.”
“Cih. Coba kita lihat, apakah kau masih berani berurusan denganku kali ini?” senyum Irene tak kalah kecut. Alisnya terangkat. Sebelum lelaki dihadapannya membalas dengan kalimat pedas lainnya, Irene mendelik seraya melangkah meninggalkan Junmyeon.
“Heol. Kenapa pula orang pertama yang kutemui harus dia. Kemana Sehun dan Kai?” gumamnya menggerutu.
Panjang umur. Ketika langkahnya menuju kantor kepala sekolah, dia berhenti tepat di depan pintu perpustakaan. Dia disana. Oh Sehun. Keluar lalu berbelok tepat di hadapannya. Kini keduanya saling bertatapan. Mata Sehun membulat.
“Ya! Kenapa kau ada disini?” sahut Sehun.
“Senang bisa kembali ke sekolah ini.” Balas Irene. Dia kemudian mengeluarkan permen karet dari dalam mulutnya, membuat Sehun mengernyit. Lalu membuangnya ke tempat sampah yang berada disamping kakinya. Setelah itu Irene tersenyum dengan lebar.
“K-kau? Jinjja? Kau benar-benar akan kembali ada di sekolah ini?” Sehun masih tampak tak percaya.
“Kau tidak lihat seragamku ini, oh?”
Benar. Jelas-jelas seragam yang membalut di tubuh Irene adalah seragam sekolah mereka. Sehun menatap Irene lamat-lamat. Dengan setengah sadar, tangannya terangkat, kakinya melangkah maju sedikit. Hendak memeluk Irene. Namun gadis itu mundur dan mengangkat tangannya.
“Apa yang akan kau lakukan?” timpalnya sembari melirik ke sekitar mereka. Lorong itu bukanlah tempat yang sepi. Banyak para siswa berlalu lalang pagi ini, terutama dengan keberadaan Irene, keduanya jadi pusat perhatian beberapa orang saat ini.
Sehun mengedipkan matanya dengan tampang tak berdosa, lalu menggaruk lehernya dengan canggung. “A-ah, mian.”
“Senang melihatmu kembali disini.” Lanjut Sehun akhirnya. Beberapa detik kemudian garis bibirnya nyaris melengkung, Sehun hampir saja tersenyum jika saja Irene tidak membungkam mulut lelaki itu dengan telapak tangannya.
“Astaga, kontrol dirimu, Sehun-ah. Senyummu eksklusif hanya untuk dilihat olehku.” Bisik gadis itu gemas.
“Mwo?!” Sehun melepaskan tangan Irene dari bibirnya. Alisnya bertautan.
Namun kemudian gadis itu tertawa, “Becanda.” lalu berlari kecil menuju kantor kepala sekolah, meninggalkan Sehun terpaku memperhatikannya.
Dia kembali.

 
<to be continued>
Lagi-lagi (gak) penting:
TJUY kalo sundanese nya mah; ‘uyuhan’ si irene gak baper punya temen macem sehun astogeh. HUAHAHAHAHAHAHH. Tinggal jadian doang susah amat kenapa sih. /plak/abaikan/. Thanks a lot yeorobun. Silahkan tinggalkan jejak, aku mah setia kok orangnya, selalu baca semua komen kalian dan dibalesin satu-satu. Muah ;3;

32 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] DRAFT – Chapter 22

  1. Asssikkk mereka satu sekolah lagii aslii aku senang banget bacanya terharuu baru ini deh sifat sehun yang uda gak malu malu kucing lagi buat nunjukin senyumannya ke irene dan juga uda berani meluk irene ih senaaaang >< sekarang tinggal nunggu moment romantis kai sm seulgi ah ditunggu kak kelanjutannya ^^

  2. Ahhhh makin cinta sama ni ff^^
    Thor kenapa Irene bisa kembali ke sekolah itu?
    Trus buat Sehunnya cemburu dong><
    Penasaran sama kelanjutannya^^

  3. Chap kemaren ngak komen kak lupa aku buru2 hehe. Tapi ini menyenangkan sekali akhhh pengen teriak ngak helas wkk. Aku tunggu lanjutannya loh kak. Fighting

  4. Ahhhh Irene balikk! Oh my… Ga sabar nunggu lanjutannyaaa
    Gimana tahun terakhirnya diSMA?! Sukaaaa bgt ceritanyaa, tiap hari nunggu tauu

  5. Wah update nya udah lumayan cepet yah. Hihihi
    Paling suka kalimat dimana Kai pusing jd ketua kelas dan ngadepin pelajaran kelas 12 sedangkan Sehun malah hampa gitu ga ada Irene. Ada2 aja. Kalo akj diposisi mereka, mungkin aku kayak Kai yg pusing mikirin pelajaran secara otak pas2an ga kayak Sehun yg pinter ga udah pikirin pelajaran cukup pikirin Irene yg pindah sekolah aja udah cukup pusing. Hahaha

    Oh ya masih bingung kenapa Irene bisa balik lagi ke sekolah yg dulu ya/? Apa waktu ketemu Sehun itu ketauan dan hukuman nya harus keluar dari sekolah asrama/? Atau Irene merengek minta balikan lagi ke sekolah yg lama/? Atau nanti ada penjelasan nya di chapter selanjut nya/? Kalo gitu jgn lama2 ya, Author kalo bisa kayak gini aja, seminggu kurang lebih. *maksa*

    • Iyah ga nyangka kaka adminnya nge post sebelum hari jumat ane terhura wkwkwk
      Enak bener yak jdi sehun cuma mikirin irene doang 😂😂
      Kenapa coba kenapaaa kekekekekk tunggu aja di next chap, tapi bukan minggu ini wkwkwkwkwkk /evil laugh/ thanks yaa 💕

  6. hmm, gue pingin teriak histeris karna lu update, tapi gue gak bisa karna ini malem.
    untuk ke seian kalinya gue mau bilang kalo ‘gue suka banget sama cerita lu’
    dan gue suka chapter ini. ada adegan pelukan itu maniiiiiss banget. seulgi yang udah mulai berharap sma kai, dan yang terpenting irene udah balik kesekolah.
    gue harap chapter depan gak ada flashback gmana irene kmbli sekolah, eh gpp sih gue juga pnasaran. tapi jangan pnjang2, karena gue gak sabar nunggu moment hunrene yang bakal lu buat waktu irene kmbali sekolah.
    fighting thor! gue akan selalu nunggu lu

    • Wkwkwk ane terhuraaa tjuy adoh makasih yaah kita lihat nanti di next chap pasti ada flashbacknya laaah kekekek /spoiler/ keep reading ea fighting 😆💕

  7. haduhh ada” aja lho irene itu…
    “Astaga, kontrol dirimu, Sehun-ah. Senyummu eksklusif hanya untuk dilihat olehku.” hahahahahahah gemes aku sama kedekatan mereka, gk mau dibilang pacaran tapi tiap ketemu pake peluk” segala, sejak kapan kalian seperti itu dibelakangku???//ehhhh

    trus sekarang kris kemana.. kok gk ada lagi atensinya…

  8. Duhh ga ngerti lagi deh ama epep ini, daebak bngt pokoknya! Kau dabest tyarrr!!!
    Aku suka bahasa yg digunakan sama ff ini. Aku juga suka bngt sama ff yg penulisannya udh bener.
    Fighting ya tyarr!!!
    Next next next!

  9. Wahhh debakkk !!!! Sehun so sweet banget Sampe dateng ke sekolah irene …… Irene kembaliiiii !!!!! Yeeee Makin seru aja ini ff …… Semangat thor buat chap selanjutnya kalo bisa update nya jangan kelamaan yeee hehe …… Fighting

  10. Aaaaakkkk!!! Setelah sekian lama aku menunggu unttuk kedatanganmu.. Kak tyar… / nyanyi dikit/ Omo! Omo! Omo! Aaaaaaaaaaakkkkk…!!!!!! Akhirnya… Akhirnya.. Ahirnya..~ draft kembali….~ /nyanyi dikit(lagi) boleh/ ya ampun… Cuma pas sama irene doang sehun senyum, terus tadi ketawa lagi.. Aigoo….. Irene kembali.. Waaaa daebak!! Tapi kok bisa? Apa jangan-jangan ketahuan pas gara-gara kabur itu? Oh my God!!!! akhirnya Sehun-Irene kembali kkkkk~

    • Aaaaaaaakkkkk akhirnya aku kembali /apaini/ wkwkwkkk aku ga tegaan sih orangnya gamo misahin org lama lama /apalagi ini/ wkwkwkwkk thanks yaaaaa 😆💕

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s