[EXOFFI FREELANCE] Di Ujung Tembok Besar China – (Oneshot)

images-28.jpeg

Title : Di Ujung Tembok Besar China

Author : Whitecreamy

Cast : Park Chanyeol, Park Jung Ran (OC), Kim Junmyeon ( mentioned )

Genre : AU,Romance

Rating : G

Length : Oneshot

Disclaimer : i only own the story.

“ Adakah ujung dari perasaan ini?”

Park Jung Ran tengah menikmati pemandangan laut lepas yang tersaji di hadapannya. Sesekali angin laut yang berhembus menerpa wajahnya dan membawa beberapa anak rambutnya seolah ikut terbang bersama angin. Ia tersenyum, sedikit tidak percaya bahwa dia sekarang ada di China, tepatnya di salah satu ujung tembok besar China yang terkenal dengan sebutan Old Dragon’s Head. Orang – orang mengatakan bentuknya mirip dengan kepala naga yang terbenam di lautan. Itulah mengapa namanya Old Dragon’s Head.

Ran membalikkan tubuhnya, mencari sosok Chanyeol yang juga belum terlihat. Chanyeol, dia merupakan sahabat Ran sejak SMA. Sahabat yang selalu mengerti tentang dirinya. Sahabat yang tidak pernah bertanya apa atau mengapa. Hanya menemani dan menunggu Ran untuk menceritakan setiap masalahnya. Kemudian menghiburnya dengan candaan yang konyol dan terkadang tidak masuk akal. Ran bahagia bersamanya. Happy virus, begitulah arti Chanyeol baginya.

Sahabatnya itu kini telah meraih salah satu mimpinya. Menjadi staff duta besar Korea Selatan untuk China. Ran bahagia dengan mimpi sahabatnya yang telah terwujud itu. Namun, di sisi lain Ia juga tidka suka dengan kenyataan itu. Karena sejak Chanyeol pergi ke China, Ran mulai menyadari perasaannya pada Chanyeol telah berubah. Rasa suka itu tak lagi sama. Bukan rasa suka kepada sahabat tapi rasa suka dari seorang perempuan kepada laki-laki. Ran jatuh cinta pada sahabatnya itu. Dan itu adalah cinta pertama Ran. Cinta pertama yang tak mampu Ia ungkapkan kepada Chanyeol karena posisinya sebagai perempuan.

Sebuah tepukan halus di pundaknya menyadarkan Ran dari lamunannya.

“Maaf, membuatmu menunggu lama.” Itu suara Chanyeol dengan senyum lebar terbaiknya,”Mau kopi?”

Chanyeol menyodorkan segelas kopi pada Ran yang lagsung diterima begitu saja oleh gadis itu.

“Darimana kau mendapatkan kopi ini? Setauku tidak ada penjual kopi tadi…” Ran menyesap kopi itu sambil memperhatikan wajah Chanyeol.

“Coba saja kau tebak darimana aku mendapatkan kopi ini?”

Ran tampak berpikir sejenak, kemudian dengan ekspresi yang sangat yakin Ia pun menjawab,”Dari lubang hidung mu atau dari lubang telinga mu yang lebar itu.”

Chanyeol tertawa kemudian mengacak-acak rambut Ran dengan gemas. Membuat gadis itu mendengus tak suka karena Chanyeol merusak tatanan rambutnya.

“Selera bercandamu naik pesat nona Park. Aku bangga…”

“Aish…jangan mengacak rambut ku lagi, Chan!” Ran menepis tangan Chanyeol yang bergerak kearah rambutnya. Lagi-lagi Chanyeol hanya tertawa.

“jadi kau benar-benar akan kembali ke Korea besok?”

“Hem. Aku sudah memesan tiket.”

“Kau yakin rindumu padaku sudah terobati?”

“Ya. Rinduku padamu sudah terobati alias sudah sembuh Tuan Park. Jangan terlalu percaya diri seperti itu.”

Chanyeol terkekeh kemudian menyesap kopinya lagi. Mereka diam. Tak ada yang membuka percakapan lagi. Ran ikut menyesap kopinya juga, kemudian mengalihkan pandangannya ke wajah Chanyeol. Ran tersenyum. Menyadari bahwa Chanyeol kini terlihat jauh lebih tampan dan dewasa.

“Apa aku setampan itu sampai-sampai kau tidak berkedip Nona Park?” Chanyeol ternyata menyadari bahwa Ran memandanginya sedari tadi.

“Aku hanya heran bagaimana bias kau memiliki telinga selebar dan runcing itu. Terlihat seperti Legolas si Peri Tampan dari Mirkwood di film The Lord of The Rings.”

“Asal kau tahu ya…Park Chanyeol jauh lebih tampan dari Legolas.”

“Ck..percaya diri sekali.”

“Hei, ini fakta. Legolas hanya ada di cerita fiksi karangan JRR Tolken, sedangkan aku adalah peri tampan yang memang nyata ada di dunia ini. Dan bahkan aku adalah peri pelindungmu saat masih sekolah dulu Nona Park, apa kau lupa?”

Bukan hanya kadar ketampanan sahabatnya saja yang bertambah, tapi juga kadar narsisme nya yang sudah tidak ketulungan. Sampai-sampai membuat Ran ingin muntah sekaligus tertawa. Tapi justru itulah yang membuat Ran jatuh cinta pada Chanyeol. Laki-laki itu begitu ringan saat bercanda dan terkadang candaannya terdengar sedikit cheesy.

“Tapi,Chan…”

“Tapi apa?”

“Ada yang ingin aku tanyakan padamu.”

“Tanyakan saja, aku akan menjawabnya. Tapi jangan memberi pertanyaan yang sulit kujawab ya. Kau tahu kan kapasitas otakku ini…”

Ran tertawa,”Kalau kapasitas otak mu itu kecil maka sekarang kau tidak akan menjadi staff duta besar, Chan…”

“Jadi apa pertanyaanmu?”

Ran menegakkan tubuhnya. Menatap Chanyeol tepat di manik matanya. Ran mengambil nafas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan seluruh keberanian yang ada pada dirinya.

“Aku menyukaimu, Chan. Dan rasa suka itu bukanlah rasa suka persahabatan, melainkan rasa suka Park Jung Ran, seorang perempuan kepada laki-laki bernama Park Chanyeol.”

Chanyeol membeku di tempatnya. Ia tertegun dengan pernyataan Ran. Tidak menyangka sama sekali bahwa Ran akan menyatakan perasaan padanya. Chanyeol menundukkan wajahnya. Tak memandang wajah Ran sama sekali. Ia mengalihkan arah pandangannya ke laut. Chanyeol gusar. Ini bernar-benar di luar dugaan dan Chanyeol tidak tahu harus mengatakan apa.

“Chan…” suara lembut Ran memecahkan kegusaran Chanyeol. Membuat laki-laki tinggi itu mengembalikan focus nya pada Ran.

“Hem?”

“Apa kau juga memiliki perasaan yang sama denganku?”

Ugh…Chanyeol benar-benar clueless. Seolah semua kata-kata telah ditelan oleh ombak lautan di hadapannya.

“Apa pertanyaan ku sangat sulit untuk kau jawab?”

Chanyeol masih bungkam.

“Chan…?”

“Ya…sangat sulit, Ran. Ini jauh lebih sulit dari soal perkalian…” jawab Chanyeol disertai hembusan nafas yang terdengar kasar. Nampak frustasi.

“Kau hanya perlu menjawabnya,Chan.”

Ya memang benar. Yang perlu dilakukan oleh Chanyeol hanyalah menjawaba pertanyaan Ran. Tapi masalahnya, itu bukan pertanyaan pilihan ganda yang bila Chanyeol benar-benar tidak tahu dia bias memilih jawaban secara asal. Bukan pula soal essay yang bisa jawaba dengan mengarang bebas. Ini soal perasaan. Hati manusia. Dan sedikit saja salah, bisa hancur segalanya.

“Sejak kapan, Ran? Sejak kapan kau mulai menyukaiku?”

Ran tersenyum. Ia menyesap habis kopinya. ia mengingat kapan tepatnya Ia mulai jatuh cinta pada Chanyeol. Kemudian memorinya membawa ke masa saat ia masih SMA. Ran tersenyum mengingat kejadian itu.

♥♥♥

Saat itu Ran merupakan siswi pindahan dari Daegu. Ran bukanlah gadis yang mudah beradaptasi dengan lingkungan baru. Ia cenderung pendiam dan sedikit tertutup. Itulah yang membuatnya tidak memiliki cukup banyak teman di sekolah barunya.

Hingga suatu hari saat mata pelajaran olahraga, Guru Ahn yaitu guru mata pelajaran olahraga mereka mengadakan ujian praktek bulanan untuk lompat jauh. Ran benar-benar gugup saat itu. Seluruh teman sekelasnya memperhatikannya, seolah olah ia adalah terdakwa kasus pencurian dompet yang terjadi disekolahnya beberapa waktu yang lalu.

Alhasil, Ia gagal melakukan lompatan itu. Dan hari itu adalah hari pertama ia menjadi bahan tertawaan teman-temannya. Padahal bukan hanya dia yang gagal melalakukan lompatan itu, tapi mengapa hanya dia yang ditertawakan? Air mata nya tak mau berhenti mengalir bahkan ketika sesosok anak laki-laki bertubuh tinggi yang juga merupakan teman sekelasnya, Park Chanyeol memasuki ruang kesehatan. Ia memergoki Ran yang sedang menangis. Ran cepat-cepat menghapus air matanya. Takut kalau-kalau Park Chanyeol akan membullynya. Tapi apa yang terjadi jauh dari dugaan Ran.

Laki-laki itu hanya duduk di pinggir ranjang sebelah kiri ranjang yang dia tempati. Ia melihat Ran dengan saksama. Membuat Ran merasa gugup, canggung, dan akhirnya malah mengangis lagi. Ran kira, Chanyeol akan mengolok-olok nya saat dia menangis tadi. Tapi yang dilakukan pria itu justru hanya duduk diam tanpa melakukan apapun. Ia juga tidak bertanya apapun pada Ran. Juga pula tidak beranjak sedikitpun dari tempat duduk nya. Ia menemani, menunggui, Ran hingga tangisan itu mereda.

Hari telah senja saat Ran telah berhenti menangis, perasaannya sudah sedikit ringan. Ia ingin pulang, namun Ia tertegun saat melihat Chanyeol masih berada di tempat nya tadi. Laki-laki itu benar-benar…

“Aah…kau sudah selesai menangis ya?” Tanya Chanyeol dengan mata berbinar dan senyuman yang lebar. Tampak lucu dan tulus di saat yang sama.

“Setelah menangis seharian, kau pasti lapar kan? Bagaimana kalau aku traktir makan jajangmyeon di kedai bibi Jung depan sekolah kita. Rasanya enak sekali. Bagaimana, hm?”

Ran memandang Chanyeol, ragu tentu saja menyelimuti hatinya. Pasalnya, meski satu kelas ia tidak cukup akrab dengan laki-laki itu. Belum sempat Ran memikirkan lebih lanjut dengan tawaran itu, Chanyeol mengambil tangannya, menggenggam tangannya, dan menariknya keluar ruangan. Saat itulah Ran tahu, Ia baru saja mendapatkan seorang teman.

Chanyeol memiliki sifat yang jauh berbeda dengan Ran. Ia begitu terbuka, suka berbicara, dan memiliki selera humor yang tinggi. Ia konyol sekali. Begitulah menurut Ran. Chanyeol juga member semangat untuk Ran agar tidak menyerah menghadapi teman-teman sekelas nya yang kadang memang suka memperlakukan nya melebii batas. Anggap saja mereka adalah orang-orang menyedihkan yang iri denga kepintaran yang dia miliki. Chanyeol juga mengatakan,

“Teruslah tersenyum seperti orang idiot dalam keadaan susah sekalipun. Tapi, kalau kau ingin menangis ya menangsi saja. Keluakan semua beban di hatimu. Dan yang penting jadilah dirimu sendiri.” Ucap Chanyeol lalu tertawa geli. Gelli karena menganggap dirinya sendiri sudah mirip seperti motiator saja. Hahaha…

Chanyeol juga mengajaknya bergabung dengan English Speaking Club. Chanyeol tahu Ran punye bakat di bidang itu. Bahasa Inggris nya bagus. Lalu bersama Chaneyol, Ran menemukan bakatnya. Bergabung dengan club itu dan menjadi wakitl dari sekolah mereka di ajang English Debate Contest. Ran bahagia. Ia menemukan dirinya dengan bantuan Chanyeol dan sejak saat itulah perasaan suka itu muncul. Ran menyukai Park Chanyeol, sahabatnya sendriri.

♥♥♥

“Ran…”

“Hmm…”

“Maaf.” Lirih Chanyeol.

“Untuk tak bisa membalas perasaan ku?” tebak Ran dan entah mengapa tebakan Ran berhasil memukul dada nya begitu keras hingga terasa sesak dan sakit.

“Kalau saja kau mengatakannya sejak awal…mungkin aku bisa membalas perasaanmu.” Ran tersenyum menganggapi pernyataan Chanyeol tersebut.

“Aku ini perempuan, Chan. Aku membuang harga diriku ke latu hanya untuk mengatakan ini semua.”

“Ya, kau benar. Kau perempuan dan aku laki-laki. Seharusnya akulah yang mengatakan perasaanku. Bukan kau.”

Ada jeda yang cukup lama hingga tiba-tiba Chanyeol memegang kedua pundak Ran. Membuat gadis itu berhadapan dengannya. Chanyeol menatap Ran begitu dalam, raut wajahnya berubah sendu

“Aku juga menyukaimu, Ran.” Park Jung Ran membelalakkan matanya. Tidak percaya dengan perkataan Chanyeol itu.

“Benarkah?” Tanya Ran dengan suara yang hamper tidak bisa didengar.

“Ya, aku benar menyukaimu. Tapi itu dulu.”

Normalnya Ran akan merasa sedih karena perasaanya saat ini tidak terbalaskan. Karena rasa itu ada disaat dulu. Tapi Ran justru tersenyum. Ia memandang Chanyeol. Menunggu kalimat selanjutnya.

“Kau tahu,Ran…dulu setiap kali kita mengahasbiskan waktu bersama, entah belajar, bermain, ataupun bercanda, setiap kali aku melihatmu, aku ingin menyatakan perasaan ku padamu. Tapi aku tidak cukup berani untuk mengatakannya. Itu karena kau bodoh dan pengecut. Juga egois. Karena setiap kali ingin mengatakannya ada pikiran lain yang datang di saat yang sama. Yaitu, bahwa jalankua masih panjang dan ada banyak mimpi yang ingin aku wujudkan. Dan aku memilih mimpiku…”

Ran menurunkan kedua tangan Chanyeol,”Kau tidak bodoh dan juga bukan pengecut ataupun egois. Kau melakukan hal yang benar. Mimpi mu jauh lebih pentin dari perasaan mu padaku.”

“Mungkn kalau dulu aku mengatakannya, kita sudah bersama sekarang.”

“Dan itu hanyalah mungkin, Chan. Karena kenyataannya kita tidak bersama sebagai pasangan. Itu karena waktu terus berjalan, banyak hal yang terjadi yang kemudian membuat orang-orang berubah. Termasuk perasaan dan juga pertemuan-pertemuan lain yang kemudian juga menimbulkan perasaan lain.”

Chanyeol mengangguk membenarkan kalimat Ran.

“ Dan kau pastinya telah bertemu banyak orang diluar sana. Yaitu orang-orang luar biasa dan mengagumkan. Termasuk perempuan yang jauh lebih cantik, baik, dan cerdas. Itulah mengapa kau mengatakan dulu.

Sekali lagi Chanyeol mengangguk membenarkan,”I’m really sorry.”

“Jangan meminta maaf, Chan. Kau tidak bersalah. Aku hanya menanyakan tentang perasaanku dan kau hanya perlu menjawab nya. Dan jawabanmu adalah tidak. Aku bahagia hanya dengan mendengar jawaban mu itu. Aku tidak menuntut balasan atas perasaanku.”

Mereka berdua sama-sama kembali menatap laut. Dimana ombak menggulung, berlarian, berkejaran dan akhirnya pecah di ujung pantai.

“Apa selama 5 tahun ini, Kau menungguku,Ran?”

Ran berdecak sebal. Pria yang telah bersahabat lama dengannya itu memang memiliki rasa kepercayaan diri yang tinggi.

“Percaya diri sekali kau, Park Chanyeol ! Asal kau tahu,ya..Aku sama sekali tidak menunggumu !”

Chanyeol tertawa. Menertawai dirinya sendiri yang begitu bodoh, karena seharusnya pertanyaan itu tidak keluar dari mulutnya kan? Selanjutnya pria berpostur tinggi itu lebih memilih untuk diam.

“Hanya saja rasa yang belum ada jawabannya ini begitu menyiksaku. Membuatku terkadang bimbang dan ragu. Keraguan itu mengusikku dan aku harus segera menyingkirkannya. Karena aku tidak ingin ragu untuk berjalan ke masa depan.”

Ran lalu membuka tas nya. Mencari sesuatu dari dalam tas nya. Dan setelah menemukannya, Ia menyerahkan benda itu kepada Chanyeol. Laki-laki itu menerima benda itu dari Ran. Sebuah benda berbentuk persegi berwarna merah marun yang disimpl dengan pita berwarna broken white. Wedding invitation. Tanpa menatap Ran, Chanyeol membuka simpul pita itu. Ia membaca nya sekilas. Dua nama tertera disana.

“Kim Junmyeon. Aku akan menikah dengan laki-laki itu…”

Ran menyenderkan tubuhnya ke tembok. Ia menatap langit yang tampak biru dengan gumpalan-gumpalan awan yang putih bersih. Ia tersenyum. Teringat kembali pertemuan pertamanya dengan laki-laki itu.

“Kami pertama kali bertemu saat mengikuti kegiatan sosial di salah satu panti asuhan. Saat itu dia tidak sengaja menumpahkan jus jeruk di baju ku. Dia panik sekali saat itu dan berulang kali minta maaf padaku. Akhirnya dia meminjamkan sweater abu-abu nya untuk menutupi noda jus jeruk di baju ku. Pertemuan kedua terjadi saat aku berbelanja ke supermarket. Entah bagaimana persisnya peristiwa itu, tapi tas belanjaan kami tertukar. Akibatnya kami harus sama-sama kembali ke supermarket untuk mengkonfirmasi.” Ran tertawa mengingat kejadian lucu itu.”Dan setelah itu, seolah takdir selalu mempertemukan kami. Dan yah…kau bisa menebak bagaimana akhirnya.”

“Apa dia seorang pria yang baik?”

“Sangaaaat baik.”

“Kau nyaman bersamanya?”

“Aku suka sekali dengan bahu dan dada bidangnya..itu tempat ternyaman di dunia setelah pelukan ibuku.”

“Apa kau juga bisa tertawa lepas saat bersamanya?”

“Ya..aku tertawa lepas bersamanya atau lebih tepatnya menertawakannya dengan lepas. Sangat lepas.”

“Wae…”

“Selera humor nya sangat payah. Dia tidak punya bakat melawak sepertimu, Chan. Karena itulah aku seting menertawakan gurauannya yang garing itu.”

“Lalu, apa yang dilakukannya saat kau menangis?”

“Dia akan melakukan apapun agar aku tidak menangis. Termasuk memberikan seluruh bahu nya sebagai tempat ku menumpahkan air mata , sebuah pelukan hangat dan juga kadang ditambahi dengan manis nya sebuah ciuman.”

Ran menyunggingkan sebuah senyuma yang teramat manis menurut Chanyeol. Sebuah senyuman yang tampak sangat tulus dan tanpa beban. Selama berasahabat dengan Ran dia belum pernah meliha gadis itu tersenyum seperti itu. Dia benar-benar bahagia rupanya.

“Apa kau mencintainya?”

“Dia mencintaiku, Chan. Dan tidak ada yang lebih indah bagi perempuan selain dicintai dengan tulus oleh seorang pria. It’s more than love.”

Chanyeol mengakhiri sesi tanya jawab nya. Ia kemudian merengkuh Ran dalam dekapannya. Pelukan seorang sahabat. Entah mengapa perasaan Chanyeol begitu tenang. Ia bahagia. Sangat. Karena sekarang sahabatnya ini telah menemukan malaikat penjaganya. Chanyeol tidak perlu mengkhawatirkan Ran lagi kan? Ia tidak perlu cemas lagi kan?

“Kau tahu Chan? Saat aku menatap mataya aku melihat masa depan ku bersamanya. Itulah mengapa aku memberikan seluruh hatiku kepadanya. Aku mencintainya, Chan. Sangat.”

Chanyeol mempererat pelukannya.

“Berbahagialah bersamanya, Ran.”bisik Chanyeol,”Kalau dia berani menyakitimu, kau hanya perlu mengadu padaku dan aku kan membunuhnya saat itu juga.”

Ran tertawa lalu melepas pelukan Chanyeol,”Kau tidak akan pernah bisa membunuhnya, Chan. Karena dia tidak akan menyakitiku. Aku pasti bahagia dengannya. Percayalah.”

Chanyeol menangkup kedua pipi Ran. Menatapnya. Tertawa. Mengacak rambutnya. Kemudian tertawa bersama. Tertawa karena kedua orang itu kini telah sama-sama lega. Karena perasaan yang lama mengganjal di hati telah sirna. Telah terungkapkan semua.

“Kau akan datang ke pernikahan ku, kan?” tanya Ran.

“Aku pasti datang.”

“Kita tetap sahabat kan, Chan?”

“Tentu saja. Sahabat selamanya.” Jawab Chanyeol sembari mengacak-acak rambut Ran. Dan kali ini Ia tidak protes dengan hal tersebut.

Dulu, setiap kali melihat Tembok Besar China, Ran selalu bertanya-tanya. Dimanakah ujung dari Tembok Besar China yang panjang keseluruhannya mencapai 8.850 km ini? Dan kini Ia tahu bahwa Old Dragon’s Head lah ujung nya…

Dulu, setiap kali Ia melihat Chanyeol, Ia juga selalu bertanya-tanya dimanakah ujung dari perasaan yang belum terjawab itu. Dan kini Ia tahu bahwa “Sahabat” adalah ujung yang indah untuk tetap menigikat Ran dan Chanyeol agar tetap bersama.

♥END♥

 

 

 

 

10 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Di Ujung Tembok Besar China – (Oneshot)

  1. Bagus..tp bsok lebih teliti ag ya
    Dan mungkin critanya bisa d bikin nyesek tp ttp happy ending ag
    Mungkin pembaca lbh makin nyes nyes🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s