[EXOFFI FREELANCE] I’m not a Superman, but… (Kai Version)

AILANA’s Present

I’m Not A Superman, But… (Kai Version)

Kai, OC’s || Romence, Fluff, School! || Oneshoot || PG-13

Don’t Try to Plagiat! This Fanfic pure from my mind, dude.

Backsound [One Call Away – Charlie Puth]

–AILANA—

Sekali lagi jongin menghabiskan jus jeruk ditangan kanannya dengan beberapa kali teguk tanpa jeda, itu sudah jusnya yang ketiga. Entah kenapa hari ini ia sangat kehausan.

 

Dia dan sehun sama sama tengah kesal pada dua orangnya sama, yang bahkan masih terlihat biasa saja seakan tidak terjadi apapun dan masih bisa mengejek mereka berdua seperti hari biasa. Dan hari ini hari sabtu, jam tiga sore dimana biasanya tim basket sekolah melakukan latihan mingguan bersama dilapangan Haeguk Senior High School. Satu lagi yang paling menjadi favorit kedua pria seumuran itu, ada dua gadis yang sering menjadi penonton setia tim basket berlatih. Bukan apa apa, kedua gadis itu adalah adik ketua tim basket mereka dan juga sepupu dari anggota tertua mereka.

 

Itu salah satu pemandangan paling menarik bagi beberapa pria yang tengah berlatih ditengah lapangan sana. Kedua gadis itu sebenarnya biasa saja, mereka selalu sibuk sendiri dengan ponsel mereka ditempat penonton sana tanpa ada minat untuk melirik kearah para pemain. Jongin tahu hal ini dari sehun, bahwa kedua gadis itu menjadi penonton setia latihan tim basket karna mereka akan pergi jalan jalan bersama kakak kakak mereka setelah latihan usai.

 

BRUK!

 

Seseorang menubruk atau lebih tepatnya tertubruk tubuh jongin yang berada ditengah tengah lapangan, membuat pria itu jatuh tersungkur dengan wajah anehnya. Orang itu adalah Kris. Pria tiang itu segera membantu jongin berdiri kembali karna dari kelihatannya jongin sama sekali tidak berniat untuk berdiri sendiri. Ini terpaksa, andai wajah jongin tidak pucat saat itu mungkin kris akan langsung pergi karna tidak ingin berlama lama berurusan dengan anak ini. Kris tahu benar keanehan jongin luar dalam, dan pria tiang itu bersumpah akan segera pergi jika jongin sampai bersikap aneh lagi padanya setelah ini.

 

“Halo, kau yang masih disana waras?” Kris mengayun ayunkan telapak tangan kanannya didepan wajah jongin yang terlihat kosong tanpa ekspresi berarti, takut anak itu kesurupan atau apa. Aksen bicara Kris masih aneh, dia menggunakan logat china dan kanada disaat bersamaan. Mirip alien dimata jongin.

 

Tanpa banyak kata jongin meninggalkan kris begitu saja. Dan tentu saja itu membuat kris bingung dengan tingkah jongin yang tidak biasanya. Tapi kris segera melirik kearah kanannya melihat jauh ke kursi penonton dimana ia melihat Jiae, adik Joonmyeon tengah berbincang akrab dengan luhan bersama adik sepupu Minseok juga yang terlihat tengah duduk bersama. Kris membuat sebuah huruf O kecil pada mulutnya, mulai mengerti sedikit pada situasi sekarang. Jadi benar, ya? Yang joonmyeon katakan tentang jongin yang meminta restu padanya beberapa minggu lalu.

 

Pria tiang itu hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya tak habis pikir, ingin tertawa juga disaat bersamaan namun ia tahan karna tidak mau disangka orang gila. Ia langsung berlari cepat menuju area parkiran dimana jongin masih bersiap siap untuk menyalakan mesin motor sport hitamnya, sebuah ide konyol tiba tiba muncul di otaknya yang cantik itu.

 

“Hei tunggu, ada sesuatu yang ingin aku katakan.” Tegur kris sembari menepuk nepuk punggung jongin yang berlapis jaket hitam itu.

 

Jongin hanya menggembuskan nafasnya jengah dan tidak niat sama sekali untuk meladeni ucapan kris selanjutnya.

 

“Apa?” sahutnya pria itu pelan sembari melepas helm hitamnya.

 

“Aku tahu kau sedang cemburu.” Ucap kris.

 

Jongin memutar matanya kesal, beruntung ia masih cukup sabar untuk tidak melayangkan helm ditangannya ke kepala pria tinggi itu. Apa kentara sekali jika ia sedang cemburu? Bahkan sampai kris, si pria paling tidak peka didunia itu bisa mengetahui gelagat cemburunya.

 

“Sampai jumpa hari senin.” Ucap jongin, namun kris segera menarik jaket jongin untuk menahan kepergian pria itu lagi.

 

“Mau aku bantu? Kurasa aku cukup berpengalaman soal gadis.” Tawar kris sembari menaik turunkan alisnya.

 

Jongin berpikir sebentar, lebih tepatnya menimang nimang tak jelas.

 

“Apa?” Tanya jongin mulai tertarik.

 

Ini sungguh bukan ide yang bagus, selamanya. Kris beruntung jongin tidak tahu bahwa, yeah… begitulah.

 

Dan sepertinya jongin akan mengetahuinya setelah semua ini.

 

Bahwa Kris sebenarnya hanya mengarang soal pengalaman itu.

 

**

 

Senin pagi, dimana jiae tengah panik sendiri dengan tugas rumah sejarahnya yang belum ia kerjakan sama sekali padahal ada lima puluh nomor yang yang harus dijawab. Tapi semua orang tahu bahwa jiae itu orang yang cukup aneh, dia akan terlihat biasa saja walau dalam hati ia sangat panik sama seperti yang lain. Bagi gadis itu ‘Imej lebih penting dari apapun, stay cool!’ dan itu berasal dari joonmyeon.

 

Yang lain tengah sibuk menyalin milik teman masing masing sedangkan gadis bersurai coklat itu hanya diam sembari menyumpal telinganya dengan earpiece dan sesekali mulutnya akan menggumamkan beberapa bait lirik dari lagu yang tengah ia dengarkan, terlihat tak terusik sama sekali dengan buku tugasnya yang kosong melompong. Ia melirik kearah namjae disampingnya yang bersikap tak jauh beda dari dirinya, tapi bedanya hanyalah namjae sudah selesai mengerjakan semua tugas terkutuk itu.

 

Saat namjae lengah gadis itu segera menarik buku tugas namjae dan mengamankannya disamping tubuh. Namjae lantas berucap tak terima dan hampir saja merampas kembali bukunya dari tangan jiae.

 

“Ayolah, kali ini saja. Aku janji setelah ini akan meneraktirmu makan dikantin.” Ucap gadis itu pada namjae dengan aegyo yang seadanya, dia tidak bisa bersikap menggemaskan pada dasarnya.

 

“Tapi hanya sampai nomor tiga puluh. Aku ingatkan, Ini sudah keseribu kalinya tahun ini kau menyontek padaku.” Balas namjae kesal.

 

“Siap bos! hehehe.” walau nyatanya ia akan meneruskan nomor itu hingga nomor lima puluh, toh namjae tidak akan memeriksanya.

 

Setengah jam kemudian, jiae mulai merasa aneh karna guru sejarah belum juga masuk sedangkan ia sudah menyelesaikan semua nomor yang harus ia jawab. Beberapa gadis dibelakang tempat duduknya dan namjae menggosip sepeeti biasa, untuk kali ini ia sedikit tertarik menguping pembicaraan gadis gadis itu.

 

‘Aku lihat pagi pagi sekali Kim Jongin si anak basket dari kelas 10-2 itu datang kesini, saat aku tanya ada perlu apa dia hanya tersenyum. Sungguh aneh!’

 

‘Tapi walau begitu dia tetap tampan.’

 

‘Iya, benar juga.’

 

Sekilas hanya itu yang didengar oleh telinga jiae, tidak menarik sama sekali ternyata. Ia pikir akan ada berita seperti kepala sekolah mereka yang menikah lagi untuk ketiga kalinya atau guru bahasa inggris mereka yang akhirnya melepas lajang diumur tiga puluh lima tahun, tapi ternyata tidak-

 

“Hei, apa itu yang dibawah kakimu.”

 

-Ada.

 

“Apa?”

 

Tanya jiae bingung pada namjae yang tiba tiba menghancurkan lamunannya yang indah tentang pernikahan kepala sekolah mereka yang agak tua dan botak itu.

 

“Maksudku surat ini.” Namjae mengulurkan lengannya kebawah kaki jiae, mengambil sebuah amplop berwarna pink pucat yang cantik.

 

“To. Jiae. Woah! Kau punya penggemar rahasia!” seru namjae heboh setelah mengeja kalimat yang tertera diamplop.

 

Jiae segera menyumpal mulut namjae dengan tangannya agar gadis gadis dan penghuni kelas yang lain tidak mendengarnya, kalau para gadis lain dikelas itu tahu ia memiliki penggemar rahasia bisa bahaya.

 

“Ayo kita baca.”

 

Namjae memulai sesi pembacaan pertama dengan wajah yang mulai memerah, padahal setiap kata yang terangkai disana bukan ditujukan untuk dirinya melainkan sahabat yang duduk disamping kanannya. Gadis itu benar benar berisik. Dan berikutnya jiae bisa mendengar namjae cekikikan sendiri sembari membaca surat itu, tapi setidaknya namjae tidak berteriak bagai orang gila. Jiae harus bersyukur atas hal itu.

 

“Ini manis sekali, dia bahkan memujimu sebagai gadis tercantik didunia. Dia memiliki selera humor yang bagus.” Ucap namjae sambil tersenyum senyum, itu terlihat aneh dimata jiae.

 

“Aku harus pergi.”

 

Surat ditangan namjae segera dirampas oleh jiae, gadis itu menutupi mulut dan hidungnya menggunkan tangan. Seperti tengah menyembunyikan sesuatu.

 

Namjae melihat setetes darah jatuh ke rok sekolah jiae.

 

Dan saat itu juga namjae langsung sadar bahwa sahabatnya itu tengah mimisan dan berusaha menyembunyikannya.

 

“Kurasa kau harus segera pergi keruang kesehatan, perlu bantuanku?”

 

Gadis bersurai coklat itu hanya menggeleng gelengkan kepalanya sembari mengambil uluran tisu dari sahabatnya, segera menyumbat kedua hidungnya yang terus mengeluarkan cairan berwarna merah yang terlihat mengerikan. Jujur saja, seumur hidupnya ini pertama kali namjae melihat orang mimisan secara langsung. Bukan jijik melainkan ngeri membayangkan apakah mimisan itu sakit, buktinya hidung jiae sampai meneluarkan darah begitu.

 

“Apa itu sakit?” Tanya namjae penasaran.

 

“Apa ini waktu yang tepat? Kalau sakit maka aku akan berteriak kesakitan.”

 

Dengan perasaan dongkol gadis itu segera meninggalkan kelas tanpa banyak kata, anak anak lain menatap kepergiannya dengan pandangan yang sangat penasaran. Ya, mereka pernah melihat jiae keluar kelas tanpa banyak bicara seperti tadi dan sepuluh menit kemudian mereka mendapati gadis itu datang bersama guru bahasa inggris yang siap untuk memulai sesi pelajaran. Gadis itu sungguh tidak terduga dan setelahnya mereka langsung menghampiri namjae, menimpali gadis cantik itu dengan berbagai pertanyaan yang memusingkan. Ini sudah biasa, dan namjae hanya memutar matanya malas tak merespon apapun kemudian memasang earpiece ketelinganya.

 

**

 

Kaki pendek gadis itu melangkah melewati beberapa koridor menuju ruang kesehatan yang mulai kelihatan pintunya dari kejauhan, mungkin karna jam pelajaran koridor sekolah menjadi sepi senyap seperti baru saja diserang wabah sunyi. Sembari terus menerus menghembuskan darah keluar dari hidungnya gadis itu melihat sekeliling, bisa saja disana ia bertemu joonmyeon dan pria itu akan panik sendiri melihat keadaannya.

 

Sesekali jemarinya meremas kertas berwarna pink ditangannya untuk melampiaskan emosi yang entah kenapa terasa campur aduk dan tak bisa ia jelaskan secara rinci, semua terasa sangat membingungkan dan abstrak dikepalanya hingga untuk mengungkapkannya dengan kata kata terlalu susah. Ia tidak suka surat itu, juga pengirimnya. Siapapun itu, jiae tidak menyukainya. Tapi biar bagaimanapun isi surat itu mampu mengaduk aduk isi perut jiae hingga ia merasa mual dan aneh disaat bersamaan. Hell, siapa orang yang bisa menulis kalimat semanis itu untuknya? Tidak tahukah orang itu bahwa se kaku apapun jiae, ia tetaplah seorang gadis yang bisa meleleh oleh kata kata manis yang ditujukan langsung untuknya. Bukankah semua gadis seperti itu?

 

Tanpa sadar ia sudah sampai didepan ruang kesehatan,untung jiae tidak tersandung atau terantuk apapun selama ia berjalan sambil melamun beberapa saat lalu. Dengan mantap ia memutar kenop pintu didepannya, ia sudah terlalu terbiasa memasuki ruangan itu. bukan karna ia sering sakit, melainkan untuk bolos dari mata pelajaran matematika dan olahraga. Dia sungguh benci kedua pelajaran itu, mungkin pada fisika dan kimia juga tapi kedua bidang itu masih bisa ditoleransi oleh otak jiae yang terlampau malas untuk berpikir singkron dan logis. Dia lebih suka bertindak sesuai keinginan dan moodnya.

 

Dilihatnya ruangan bernuansa serba putih itu sangat rapi dan juga sepi, hanya ada suara dari seorang pria yang tengah bermain game dari ponsel miliknya. Dalam hati gadis itu tertawa sendiri, ternyata ada juga manusia yang kelakuannya hampir sama dengan dirinya. Tanpa menghiraukan keadaan gadis itu melenggang masuk dan langsung menuju lemari besar berisi obat obatan disana, ia mengambil sekotak tisu dari sana dan langsung duduk diatas meja konsultasi dengan tampang tak berdosa. Menghembuskan lagi darah yang banyak keluar dari hidungnya. sekiranya ada setumpuk tisu penuh darah disamping gadis itu sekarang, jiae sungguh tidak tahu harus melakukan apa pada hidungnya yang lose control itu sekarang. Toh ia memang tidak pernah mimisan sebelum ini.

 

Mungkin karna suara berisik yang dihasilkan oleh kegiatan jiae, pria yang duduk membelakangi gadis itu menolehkan kepalanya. Ia tidak tahu bahwa ada orang selain dirinya diruangan itu, jadi ia sempat mengira bahwa suara misterius yang muncul diruangan itu adalah ulah dari mahluk astral. Dan nafas pria itu sempat tercekat beberapa detik, lebih buruk dari mahluk astral ia bahkan tidak menyangka gadis itu bisa ada diruang kesehatan bersamanya. Ya, pria itu jongin.

 

“Jiae, itu kau?” Tanya jongin tak yakin. Seseorang harus mengingatkan jongin untuk bernafas saat itu juga, karna sepertinya ada sesuatu yang telah mencuri udara dari paru paru jongin.

 

Ia takut dirinya hanya berhalusinasi karna terlalu mendambakan saat saat seperti ini bersama gadis pujaannya, hanya berdua seperti sekarang.

 

“Hm, ya.” Jawab jiae tanpa melirik sedikitpun pada jongin, sibuk dengan ponsel ditangan kiri dan tisu ditangan kanannya.

 

Tentu saja jiae kenal siapa pria yang duduk disana dengan ekspresi anehnya itu. Dia kenal semua teman kakaknya di tim basket sekolah, tak terkecuali jongin. Seingat jiae joonmyeon pernah memberikan jiae sebuah peringatan untuk tidak mendekati jongin ataupun bergaul terlalu akrab dengan pria itu, mungkin sekitar tiga hari yang lalu. Tapi ia sama sekali tidak berniat untuk mengacuhkan seseorang seperti yang dititahkan kakaknya, tapi sekarang ia sungguh malas untuk merespon siapapun karna moodnya yang tiba tiba turun. Ia lebih tertarik dengan ponsel dan percakapannya dengan namjae yang mengatakan bahwa ia sungguh beruntung bisa kabur lagi dari pelajaran yang kini sudah berganti jam menjadi pelajaran matematika.

 

“Kau baik baik saja?” tanya jongin khawatir.

 

Jiae mendengus kesal.

 

“Bohong jika aku mengatakan baik baik saja, apa darah yang keluar dari hidungku tidak menjelaskan apapun untukmu?” Tanya gadis itu dengan nada ketus, darah masih banyak keluar dari hidungnya.

 

“Oke, sekarang apa yang bisa aku lakukan?” tanya jongin lagi.

 

Jiae menatap lelah kearah jongin sebelum ia membuka suara lagi.

 

“Tidak ada.” Jawab gadis itu datar beberapa saat kemudian.

 

Mereka kembali diam. Jongin merutuk sendiri dalam hatinya. Tadi itu pertanyaan bodoh, jongin. Seharusnya ia tahu apa yang harus pertama kali ia lakukan saat ini, tapi sayangnya jongin bukan anggota organisasi kesehatan sekolah seperti yixing ataupun luhan yang tahu apa yang dilakukan pertama kali untuk menghadapi seseorang yang mimisan. Jongin merutuk lagi. Kenapa ia tidak bisa menjadi penolong untuk gadis yang ia sukai seperti yang dilakukan pria pria lain di drama romantis? Bukan malah menjadi pria yang kikuk tiba tiba seperti sekarang. Ia pasti kelihatan bodoh dimata jiae sekarang, dasar tidak berguna.

 

“Bisa bantu aku?”

 

Suara jiae memecah keheningan diruangan itu. kepala jongin yang sempat tertunduk murung ditempatnya segera mendongak lagi menatap jiae dengan wajahnya yang dibuat baik baik saja, mungkin kesempatan akan datang lagi bagi jongin.

 

“Ya?”

 

Aku akan melakukan apapun untukmu, lanjut jongin dalam hati.

 

“Belikan aku minuman dingin dikantin.” Ucap jiae dengan tampang memelas. Demi apa jongin sangat ingin mencubit apapun yang berada disampingnya saat itu, atau mungkin pipi gadis itu juga boleh.

 

“Baiklah.” Sahut jongin yang dibuat buat sebiasa mungkin, padahal dalam hati ia sangat senang.

 

“Terimakasih.”

 

Jiae mengukir senyum yang dibuat buat, jongin tahu itu. Tapi bisa ia bayangkan suatu saat nanti gadis itu pasti akan memberinya sebuah senyum tulus, hanya untuknya.

 

**

 

Lima menit kemudian jiae mendapati pintu ruang kesehatan dibuka oleh jongin. Pria itu langsung berjalan kearahnya sembari menyodorkan sebotol minuman dingin bersoda dan dua buah plester luka berwarna pink pada jiae, membuat gadis itu menyerngit bingung. Pertama, bagaimana bisa jongin thau minuman dingin kesukaannya. Dan kedua, untuk apa plester luka itu?

 

“Err… untuk apa plester luka itu?” tanya jiae tak yakin.

 

“Untuk mencegah darah keluar lebih banyak.”

 

Jiae sungguh ingin tertawa saat mendengar penuturan bodoh nan polos dari jongin itu, tapi ia menahannya agar tidak menyakiti perasaan jongin. Tapi mungkin ia akan tertawa setelah menceritakan hal ini pada namjae dikelas nanti.

 

“Aku tidak terluka, jongin.” Balas jiae sembari tersenyum geli, jongin sempat terpana melihat senyum gadis itu.

 

“Tapi kau mengeluarkan darah.” Balas jongin lagi, tak mau kalah argumentasi.

 

“Jadi jika aku menstruasi dan mengeluarkan darah kau juga akan memberiku plester luka seperti sekarang?” tanya jiae menahan tawa.

 

Blush…

 

Pipi jongin menghangat akibat perkataan jiae yang bisa dikategorikan tidak cocok untuk dikatakan pada seorang pria, jongin terdiam dengan wajah memerahnya.

 

Ditengah senyum penuh rasa gelinya jiae melirik sebentar kearah lengan kanan jongin yang lengan blazernya digulung, sebuah luka gores kecil berada disana dan jongin sepertinya tidak menyadari hal itu. dengan masing mempertahankan ekspresi yang sama gadis itu membuka salah satu bungkus plester luka ditangannya, menarik tangan kanan jongin dan langsung menempelkan plester luka tersebut pada luka ditangan jongin. Pria yang tengah melamun itu langsung memekik terkejut saat tiba tiba rasa perih menyambangi permukaan kulitnya.

 

“Ah! Apa yang kau lakukan?!” tanya jongin panik.

 

“Tenanglah, aku sedang menutupi lukamu.” Balas jiae acuh.

 

“Luka?”

 

Jongin melirik permukaan lengan kanannya yang ditutupi plester berwarna pink itu, terlihat bingung juga karna kenapa bisa ada luka yang tiba tiba muncul disana.

 

“Kau habis terbentur apa? Makanya jangan melakukan sesuatu dengan terburu buru.” Ucap jiae sembari meminum minuman dinginnya pelan hingga tersisa setengah.

 

Nafas jongin ternyata masih terengah engah, ia baru saja berlari bolak balik dari kantin dan kembali lagi keruang kesehatan dengan sangat cepat seperti orang kesetanan agar jiae tidak menunggunya terlalu lama karna bisa saja gadis itu tidak suka menunggu. Dan ia baru ingat bahwa dikantin tadi lengannya sempat bersinggungan dengan pinggiran meja, jadi mungkin itulah penyebab lengannya terluka.

 

“Minum ini, maaf hanya sisa setengah. Salahmu hanya membelinya satu.” Ucap jiae sembari menyodorkan botol berisi minuman itu pada jongin.

 

Jongin menatap ragu botol itu, gadis pujaannya benar benar diluar dugaan. Dan ini pertama kalinya mereka bicara secara langsung hanya berdua. Kalau jongin ikut minum dari botol itu, maka secara tidak langsung mereka telah berciuman walaupun melalui perantara mulut botol tersebut. Tanpa pikir panjang lagi pria itu segera menyambut botol itu, meminum isinya hingga habis.

 

“Kau terlihat sangat kehausan, ya?” ucap jiae yang ternyata memperhatikan acara minum jongin sedari tadi.

 

Jongin langsung tersedak karna terkejut, beruntung minumannya tidak sampai tersembur keluar.

 

“Maaf aku menghabiskan minumanmu.” Ucap jongin menyesal setelah melihat hasil perbuatannya pada minuman jiae.

 

“Santai saja, jong.” Balas jiae.

 

“Mimisanmu sudah berhenti?” Tanya jongin kemudian.

 

“Sudah, sekarang aku hanya perlu memikirkan bagaimana cara membuang tisu tisu ini tanpa membuat orang lain khawatir.” Balas jiae sembari menendang nendang udara kosong dibawah kakinya.

 

“Tunggu sebentar.”

 

Jongin mengambil selembar tisu dari kotak disamping tubuh jiae, menyapukan tisu itu kesekitar hidung milik jiae. Perlakuan itu sungguh spontan dan membuat mereka tiba tiba dilanda kesunyian, jiae berusaha mengalihkan kecanggungan itu dengan tertawa renyah sembari jongin membersihkan wajahnya. Dan entah kenapa tawa jiae itu menular pada jongin.

 

“Aku baru tahu kalau hidungmu itu lucu, aku menyukainya.” Ucap jongin.

 

“Jangan menyindir, jongin. Aku tahu aku pesek.” Ucap jiae sembari melanjutkan tawanya.

 

“Tidak, aku benar benar menyukainya.” Ungkap jongin.

 

“Ternyata kau ada disini.” Ucap seseorang yang sepertinya sangat familiar ditelinga jiae dan jongin.

 

Mereka berdua serempak menoleh kearah pintu masuk, disana ada joonmyeon yang datang bersama namjae dengan wajah khawatir masing masing. Joonmyeon semakin khawatir saat melihat ada jongin bersama adiknya. Wajah pria itu langsung berubah pucat pasi saat melihat tumpukan mengerikan tisu yang dibaluri darah diatas meja, dia langsung mengecek keadaan adiknya dari atas hingga bawah dengan cara paling dramatis yang ia bisa.

 

“Ayo kita pulang, kau sepertinya perlu perawatan.” Ucap joonmyeon, ini yang dibenci jiae.

 

“Aku baik baik saja, jongin menjagaku sejak tadi.” Ucap jiae bohong agar ia tidak dibawa pulang.

 

Joonmyeon segera menatap jongin dengan tatapan anehnya. Kau mengambil langkah terlalu lebar, Kim Jongin. Dia tidak suka ada pria yang mendekati adiknya secara sengaja, sekalipun jongin yang notabene adalah rekan timnya sendiri.

 

“Kau yakin?” Tanya joonmyeon lagi, dan jiae segera mengangguk.

 

“Baiklah, sekarang aku akan membantumu kembali ke kelas. Ucapkan selamat tinggal pada jongin.” Ucap joonmyeon ketus sembari membantu adiknya turun dari meja. Jiae tak menyadari nada ketus joonmyeon.

 

Sampai jumpa lagi, jongin.” Jiae menoleh kebelakang dan berbisik pelan untuk jongin sambil tersenyum.

 

Dan jongin hanya menatap kepergian gadisnya dengan sebuah senyum yang ditularkan oleh gadis itu.

 

**

 

Sudah hampir seminggu ini jiae mendapatkan berbagai surat dari pengirim yang sama diloker mejanya, dan isinya selalu membuat jiae meleleh. Tapi itu tidak boleh, kalimat kalimat manis seperti itu tidak akan mempan untuk jiae. Ia sudah bersumpah.

 

Dan hari ini ia bukan hanya mendapatkan sebuah surat namun juga sebuah karangan bunga diatas mejanya, tentu saja itu membuat seisi kelas beramai ramai mengodanya. Mau tidak mau ia membuang bunga itu tepat ditong sampah yang berada didepan kelas yang membuat seisi kelas menyayangkan  perlakuan jiae itu. Sekarang gadis itu hanya duduk ditempatnya dengan wajah tertekuk saat jam pelajaran kosong. Terlalu malas untuk bergerak.

 

Ponsel gadis itu bergetar diatas meja, membuat jiae melirik dengan malas kearah nama pemanggilnya. Kris. Kebingungan langsung terbersit dibenaknya, kalau bukan untuk mengejek dan mengata ngatainya pasti ada suatu hal yang penting yang ingin disampaikan pria jangkung itu.

 

‘Bagaimana karangan bunganya?’ sambar kris langsung setelah jiae menjawab telpon itu.

 

“Jadi kau yang mengerjaiku? Aku akan mematahkan kakimu Kris Wu!” ucap jiae kesal.

 

‘Slow, miss. Bukan aku tapi jongin, dia yang menyukaimu sejak awal jadi kurasa dialah yang pantas untuk dipatahkan kakinya.’ Kris cekikikan sendiri diseberang sana.

 

“Apa maksudmu?! Jangan menjadikan orang lain sebagai kambing hitam.” sahut jiae ketus.

 

‘Ini sungguhan. Jongin. Dia. Menyukaimu.’ Kris menekankan kata katanya.

 

“Apa tim basket akan latihan sore ini?” Tanya jiae.

 

‘Ya, tentu saja. Memangnya ada apa?’

 

“Ada seseorang yang ingin aku telan hidup hidup.”

 

**

 

Jiae merajut langkah besar menuju gymnasium tempat tim basket biasa berlatih. Tampangnya sungguh menyeramkan saat ini. Setelah sampai dipinggir lapangan ia langsung berjalan kearah kris yang tengah sibuk berbincang dengan yang lain, melemparkan semua surat yang berada ditangannya kewajah pria jangkung itu dan membuat keadaan menjadi tegang.

 

Harusnya seseorang memberi peringatan pada kris untuk tidak pernah berurusan dengan gadis seperti jiae, tubuhnya mungkin kecil dan terlihat seperti bocah kelas 7 namun dia adalah pemegang sabuk hitam karate yang tidak pernah segan untuk mematahkan kaki orang.

 

“Kau pikir ini lelucon?!” ucap jiae dengan nada tinggi. Semua memperhatikan gadis itu dalam diam, termasuk jongin.

 

“Apa maksudmu?” tanya kris bingung.

 

“Bagus sekali. Kau belagak seperti orang bodoh meskipun kau tahu bahwa kau telah mengerjaiku.” Ucap gadis itu sarkastis.

 

“Wait, kau salah paham. Surat itu bukan untuk main main, itu sungguhan. Semua isinya sungguhan.” Ucap kris.

 

“Jadi kau ingin mengatakan bahwa kau jatuh cinta padaku, begitu?” tanya jiae lagi.

 

“Sudah kubilang bukan aku tapi jongin, lagipula aku sudah memiliki kekasih dan tidak perlu repot repot jatuh cinta padamu. Kau bukan tipeku.” Ucap kris yang ikut kesal.

 

Setelah puas melihat pertengkaran didepannya jongin berdiri dari tempatnya semula dan menyelip diantara kedua orang itu, tepat dihadapan jiae. Kris menepuk punggung jongin pelan, membiarkan pria itu yang sekarang mengambil alih. Mereka saling pandang untuk sesaat, ekspresi kesal masih belum hilang dari wajah jiae dan itu membuat jongin tidak enak.

 

“Yang kris hyung katakan itu benar.” Ucap jongin pelan.

 

“Jangan membual, jongin.” Ucap jiae jengah sembari membuang muka dan bersedekap dada. Antara ingin tertawa dan menyesal telah datang ketempat ini.

 

“Tidak, aku benar benar menyukaimu. Jadi kau menganggap itu bualan?” Tanya jongin serius.

 

“Jongin!” joonmyeon hampir berdiri dari duduknya namun segera ditahan oleh baekhyun dan chanyeol yang sedang tegang tegangnya menonton adegan didepan mereka.

 

“Aku memiliki banyak alasan untuk menolakmu.” Ucap jiae.

 

“Aku bisa membuktikan bahwa semua alasanmu salah.” Balas jongin.

 

“Kau pengecut yang hanya bisa memberitahukan rasa sukamu lewat surat.”

 

“Tenang, aku akan membuktikan bahwa aku tidak sepengecut itu setelah kita menikah nanti. Lagipula soal surat itu adalah ide kris hyung.”

 

Yang lain hanya menggeleng menahan tawa mendengar jawaban jongin itu, mereka bisa menebak bahwa krislah dalang dibalik jawaban itu. walau sebenarnya tidak juga.

 

“Kudengar kau itu mesum.”

 

“Well, itu lebih tepat disebut sebagai seksi. Pria yang seksi selalu menarik untuk dikencani, tidak seperti pria sok suci yang mencap dirinya sebagai kakakmu dan tidak merestui hubungan kita. Dia bahkan tidak benar benar suci.” Jongin sedang mengeluarkan semua unek uneknya.

 

“Aku hampir lupa, Joonmyeon tidak merestui hubungan kita.”

 

“Yang terpenting adalah restu orangtua.”

 

Joonmyeon meneriakkan kata kata tidak jelas ditempatnya.

 

“Menurut yang lain kau menyukai Do Kyungsoo.”

 

“Aku masih normal, titik.”

 

“Aku tidak mau bahagia sebelum namjae, kami harus bahagia bersama sama.”

 

“Sehun akan pergi berkencan dengan namjae malam ini, kau tidak tahu itu?” Tanya jongin.

 

Sehun hanya tersenyum malu ditempatnya, dan minseok segera melemparkan tatapan tajam untuk sehun.

 

“Aku sudah berjanji pada namjae untuk melakukan kencan ganda.”

 

“Tenang, kau bisa melakukan kencan ganda paling romantis dalam hidupmu nanti.”

 

Riuh rendah segera mengisi gymnasium.

 

“Aku punya obsesi aneh.”

 

“Aku mencintaimu apa adanya, lagipula aku juga memiliki obsesi tersendiri terhadapmu.” Balas jongin lagi.

 

“Aku tidak yakin dengan obsesi ini, tapi aku ingin melakukannya sekarang.”

 

“Lakukanlah selama itu membuatmu bahagia.”

 

Jiae tersenyum senang.

 

“Baiklah. Jongin, apa kau mau menjadi kekasihku?” Tanya jiae serius.

 

Tawa baekhyun langsung pecah, sedangkan joonmyeon membuat huruf ‘O’ besar dimulutnya.

 

“Beruntung aku merekam momen ini.” Ucap luhan gemas.

 

Joonmyeon sudah tidak tahan sehingga ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk bisa lepas dari cengkraman baekhyun dan chanyeol. Pria itu langsung menghampiri jongin dan jiae, berdiri tepat diantara kedua orang itu dengan wajah marahnya. Yang lain sudah angkat tangan untuk berusaha melerai, toh bagi mereka joonmyeon dan jongin sudah sama sama dewasa untuk mengontrol emosi masing masing.

 

“Kau akan menyesal telah menyukai adikku, dia tidak semanis wajahnya.” Joonmyeon mendorong dada jongin kesal.

 

“Justru itu daya tariknya.” Balas jongin acuh.

 

“Dia agak liar, jongin. Aku tidak yakin dia mampu untuk kau kendalikan nantinya.” Ucap joonmyeon lagi tanpa menyerah.

 

“Aku tahu aku bukan superman atau apa, tapi aku memang tidak berniat untuk mengendalikan jiae sejak awal. Aku suka adikmu apa adanya. Walaupun kau bilang dia adalah gadis tomboy dan bukannya gadis polos yang suka diam seperti anak baik, ataupun gadis liar yang susah diatur. Lagipula ia sama sepertiku, dan sepertinya kami akan menjadi pasangan yang serasi.” Jelas jongin sembari mengedipkan matanya pada joonmyeon.

 

“Itulah masalahnya, kalian berdua sama sama manusia yang sulit diatur. Apa jadinya adikku jika dia jadi kekasih orang sepertimu, yang ada kalian akan selalu membuat masalah setiap hari.”

 

“Pokoknya tidak ada restu untuk kalian. Titik.”

 

-FIN-

 

AILANA’s Note.

 

First of all, ini Ff pertama saya yang dipublish(Dimomen tertentu ini memang pertama AILANA publish ff), fluff bukan keahlian saya. Satu lagi, takutnya ada yang bingung dengan Pen Name AILANA itu. biar saya luruskan, saya cewe. Mungkin takutnya nanti ada yang ngira saya cowo, gak deng becanda/Eh! Tapi beneran!/. Saya memiliki banyak kekurangan, jadi mohon koreksinya dan harap gunakan kolom komentar dengan bijak/Kayak yang sendirinya bijak aja ih!/ udah deh pokoknya gak muluk muluk kok, abis baca tinggal komen. Gak, saya gak gila komen kok /Mungkin gila beneran//Gak juga tuh/. But really, Thanks for read my fanfiction, hope you enjoy with my story.

 

Ps : OCnya itu pinjeman semua, hehe.

 

One thought on “[EXOFFI FREELANCE] I’m not a Superman, but… (Kai Version)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s