[EXOFFI FREELANCE] Inspiration

inspiration

Inspiration – Felicia Rena

Lay & OC || General || G

Inspiration

Suara tetesan hujan terdengar semakin kencang diluar sana. Dalam hitungan detik, hujan sudah berhasil membasahi jalanan Kota Seoul. Orang-orang kini sibuk menaikkan payung mereka untuk melindungi diri dari guyuran air.

Seorang lelaki duduk di sudut kafe. Secangkir kopi yang sudah dingin dimejanya nampak belum tersentuh. Begitu juga dengan selembar kertas putih di atas meja. Kedua mata lelaki itu sibuk menjelajah keramaian diluar sana. Tetesan air membentur tanah, berkumpul menjadi genangan kecil, menciptakan suara cipakan ketika ada orang yang menginjaknya. Zhang Yixing—atau yang lebih dikenal dengan Lay—membiarkan dirinya hanyut dengan pemandangan diluar jendela kafe, sampai seorang gadis berdiri tepat diluar jendelanya, menghalangi pandangannya ke arah jalanan.

Lay mendesah pelan. Ia menatap selembar kertas putih di hadapannya. Ia mengangkat pensilnya, meletakkan ujungnya di kertas itu dan kembali mendesah ketika menyadari tidak ada hal yang bisa dituliskannya.

“Aargh! Apa yang harus kulakukan?” desahnya frustasi.

Lay adalah seorang pianis dan pencipta lagu yang cukup terkenal. Ia bekerja sama dengan sahabatnya, Luhan, yang seorang penyanyi. Lay akan membuat lagu, dan Luhan yang akan menyanyikannya. Mereka sudah melakukan hal itu sejak masih berada di sekolah menengah sampai akhirnya seorang pencari bakat menemukan mereka dan mengajak mereka untuk bergabung dalam agensinya. Saat ini ia sedang dikejar waktu untuk memproduksi lagu baru. Ia benar-benar membutuhkan inspirasi.

Ia menoleh ke arah jendela dan menyadari gadis itu masih berdiri disana, berteduh. Lay memperhatikan baju gadis itu yang basah dan sedikit kotor terkena cipratan air, tetapi si gadis nampaknya tidak ingin repot-repot membersihkan bajunya. Ia terus menundukkan wajahnya menatap trotoar.

Lay mengerjapkan kedua matanya ketika menyadari airmata mengalir dari kedua mata gadis itu. Gadis itu menyeka kedua matanya, tetapi cairan bening itu masih terus mengalir membasahi wajahnya yang memang sudah basah karena hujan.

Gadis itu kini menjadi objek pandang Lay. Ia mengamati setiap gerak-gerik gadis diluar jendelanya itu. Kedua alis Lay bertaut heran. Rasa penasarannya timbul. Ia menerka-nerka apa yang terjadi pada gadis itu sampai membuatnya berurai airmata.

Lay tersentak kaget ketika tiba-tiba gadis diluar jendela itu berlari pergi. Lay terus mengawasi si gadis yang berlari semakin jauh. Dengan cepat ia membereskan barang-barangnya dan ikut berlari keluar.

Hujan masih turun dengan deras, tetapi Lay tidak memedulikannya. Ia berlari mengikuti arah kemana gadis itu berlari tadi. Tidak peduli pada bajunya yang basah kuyup, juga tubuhnya. Ia bahkan tidak tahu mengapa ia mengejar gadis itu. Memangnya apa yang akan ia lakukan jika ia menemukan gadis itu? Entahlah, mungkin ia akan memikirkannya nanti. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, tetapi gadis itu tidak juga ditemukannya.

Lay mengusap wajahnya. Ia kembali tersentak kaget ketika sebuah alunan melodi terngiang di telinganya, seolah ada yang memainkan melodi tersebut untuknya. Ia berbalik dan berlari menuju mobilnya. Ia harus kembali ke apartemennya secepat mungkin.

Biasanya diperlukan waktu setengah jam dari kafe tempatnya berada tadi sampai ke apartemennya. Tetapi kali ini Lay berhasil mempersingkat waktu sepuluh menit lebih cepat. Ia membuka kunci apartemennya dengan sedikit tergesa-gesa dan berlari masuk, membanting pintu menutup dibelakangnya. Luhan menatapnya kaget.

“Astaga! Lay! Kau mau membuatku jantungan?” protes Luhan yang diabaikan oleh Lay.

Ia menghampiri pianonya yang berada di sebuah ruangan khusus. Luhan menatapnya bingung.

Ya! Kenapa kau basah kuyup seperti itu? Ganti dulu bajumu!” teriak Luhan yang sekali lagi diabaikan oleh Lay.

Lay memejamkan kedua matanya. Jemarinya bersiap-siap di atas tuts piano. Perlahan ia menekan tuts-tuts piano sampai mendentingkan sebuah melodi yang persis seperti yang terngiang di kepalanya tadi. Ia memainkan beberapa nada, lalu menuliskannya di selembar kertas. Begitu seterusnya sampai berlembar-lembar kertas habis ia gunakan sampai akhirnya ia bisa mengalunkan melodi tersebut dengan sempurna.

“Lagu baru?” Luhan berjalan mendekati Lay dan mengambil salah satu kertas di antara tebaran kertas lainnya.

Lay mengangguk singkat dan kembali memainkan pianonya.

“Bagaimana menurutmu?” tanya Lay.

Luhan mengangkat dua jempolnya. “Bagus sekali!”

Lay tersenyum puas, lalu membereskan kertas-kertas yang berserakan.

“Ngomong-ngomong,“ Luhan menatap Lay heran, “lagu ini terdengar berbeda dari lagu yang biasanya kau buat. Katakan, siapa yang memberimu inspirasi untuk menulis lagu ini?”

Luhan menatap Lay dengan penasaran, tetapi lelaki dengan lesung pipi itu hanya tersenyum kecil.

~

Alunan piano Lay berhenti menandai berakhirnya penampilannya dengan Luhan malam ini. Tepuk tangan dari penonton terdengar bergemuruh di dalam studio. Luhan menariknya berdiri dan bersama-sama, mereka memberikan salam dan mengucapkan terima kasih pada penggemar yang hadir.

“Lagumu benar-benar bagus, Lay!” puji Luhan. ”Aku penasaran siapa yang memberimu inspirasi untuk menulis lagu itu.”

“Aku juga berharap bisa bertemu dengannya lagi,” sahut Lay.

Luhan menoleh dan melihat seorang gadis berdiri tidak jauh di depan mereka.

“Oh! Bukankah itu Yejin? Sudah lama aku tidak melihatnya,” gumam Luhan sambil memperhatikan gadis yang kini beranjak pergi.

Lay mengikuti arah pandang Luhan. Ia ikut memperhatikan Yejin sampai gadis itu tidak terlihat lagi. Lay tidak mungkin salah mengenalinya. Ia—Yejin—adalah gadis di luar jendela kafenya hari itu.

“Aku menemukannya,” bisik Lay.

“Apa? Apa maksudmu? Memangnya kau kehilangan apa?” Luhan mengerutkan keningnya tidak mengerti, namun juga khawatir mengingat sifat pelupa sahabatnya yang memang sering kehilangan barang itu.

“Aku menemukannya,” ulang Lay sambil tersenyum. “Inspirasiku.”

~

Kenapa ia tidak pernah menyadari kalau selama ini ia berada dalam satu agensi yang sama dengan gadis itu? Mungkin memang benar yang diucapkan oleh Luhan kalau selama ini ia hidup di dalam gua bersama dengan pianonya. Lay mengakui kalau ia memang tidak pernah memberikan perhatian lebih pada hal-hal yang terjadi di sekitarnya.

Lay sedang berjalan menuju studionya ketika ia melewati ruang musik dan mendengar denting piano dari dalam ruangan tersebut. Mengikuti rasa penasarannya, Lay mengintip dari balik pintu yang sedikit terbuka. Yejin berada di dalam dan tengah memainkan alunan nada yang dikenali Lay sebagai salah satu karya Yiruma.

“Permainan pianomu sangat bagus,” puji Lay ketika Yejin telah menyelesaikan permainannya.

Yejin terlonjak kaget ketika menyadari kehadiran Lay yang kini berada di belakangnya. Lay menatap Yejin dengan tatapan meminta maaf karena telah mengagetkan gadis itu.

“Maaf, aku tidak bermaksud untuk mengagetkanmu. Aku sedang melewati ruangan ini dan sepertinya aku terpesona pada permainan pianomu,” ucap Lay sambil tersenyum.

Yejin nampak tersipu mendengar pujian yang dilontarkan oleh Lay. “Aku tidak ahli memainkannya, tapi aku tertarik untuk belajar bermain piano,” katanya.

“Kurasa kau bermain dengan sangat bagus untuk ukuran orang yang tidak ahli bermain piano.” Lay memutuskan dalam hatinya kalau ia suka melihat gadis itu tersipu.

“Namaku Zhang Yixing, tetapi kau bisa memanggilku Lay.” Lay mengulurkan tangannya pada Yejin.

Yejin tersenyum dan menyambut uluran tangan Lay. “Aku Yejin. Han Yejin.”

“Aku sering melihatmu di televisi sebelumnya,” lanjut Yejin. “Kau dan Luhan. Aku sangat menyukai permainan pianomu.”

“Benarkah?” Lay mengangkat kedua alisnya.

Yejin menganggukkan kepalanya. “Aku sangat menyukai lagu baru kalian. Kau yang menciptakannya kan? Lagu itu sangat bagus.”

Terima kasih untukmu,’ sahut Lay dalam hatinya.

“Kau bilang kalau kau ingin belajar bermain piano?” tanya Lay.

“Ya. Sejak dulu aku ingin sekali belajar bermain piano, tetapi aku tidak pernah punya kesempatan.” Yejin mengiyakan.

“Kalau kau mau, aku bisa mengajarimu,” kata Lay.

Yejin membulatkan kedua matanya terkejut. “Benarkah? Apakah kau tidak sibuk?” ucapnya ragu.

Lay menggelengkan kepalanya. “Masa promosi untuk lagu baru kami sudah berakhir, jadi kurasa aku memiliki banyak waktu luang.”

Secercah senyum muncul di wajah Yejin. Senyum yang baru pertama kali ini dilihat oleh Lay.

“Tentu saja aku mau. Suatu kehormatan bagiku untuk bisa mendapatkan pelatihan dari seorang pianis terkenal sepertimu, Lay-ssi. Ah, bolehkah aku memanggilmu seperti itu?” ujar Yejin.

“Tidak apa-apa. Kau boleh memanggilku seperti itu,” sahut Lay.

Yejin masih tersenyum padanya. Gadis itu lalu mengecek jam tangannya. “Oh, sepertinya aku harus pergi sekarang. Aku memiliki jadwal lain setelah ini.”

“Bolehkah aku meminta nomormu? Supaya aku bisa menagih janjimu untuk mengajariku bermain piano,” tambah Yejin.

Lay terkekeh, tidak mengira jika kalimat tersebut justru keluar dari mulut Yejin dan bukan dirinya. Ia memberikan nomornya pada Yejin dan meminta nomor gadis itu sebagai gantinya. Ia menatap Yejin yang masih sibuk dengan ponselnya. Kedua matanya tidak lagi redup seperti yang terakhir diingat oleh Lay, tetapi bersinar penuh semangat. Sepertinya gadis itu memang sangat menyukai piano.

“Kalau begitu, aku pergi dulu, Lay-ssi.” Yejin berpamitan pada Lay sambil tersenyum dan berlalu.

Lay mengangkat tangannya dan membiarkan jemarinya menyapu tuts-tuts piano di depannya. Ia duduk di kursi dan perlahan mulai menekan beberapa tuts. Ia memutuskan kalau ia lebih suka melihat Yejin tertawa daripada melihatnya murung. Ia memutuskan kalau ia lebih suka melihat kedua mata Yejin bersinar daripada melihat sinarnya redup. Ia memutuskan kalau ia tidak akan membiarkan Yejin menangis lagi.

Lay memainkan sebuah melodi. Sepertinya ia sudah siap membuat lagu baru lagi.

END

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s