[EXOFFI FREELANCE] Promise (Oneshot)

PROMISE.jpg

[LAY BIRTHDAY PROJECT] PROMISE – CHEONSA

Zhang Yi Xing & Kang Hye Shin (OC) || Sad Ending || G

 

5 Oktober 2016

Aku memandang daun musim gugur yang berwarna kemerahan jatuh tepat di ujung sepatuku. Daun itu terlihat rapuh dibeberapa bagian. Bahkan tulang daunnya tampak sedikit mengering. Aku saat ini tengah duduk di sebuah bangku panjang di taman kota sambil melakukan kegiatan rutinku, menulis diary. Aku tidak tahu, kenapa aku harus melakukan ini. Yang jelas, aku mempunyai sedikit gangguan dengan daya ingatku. Benar, aku adalah orang yang mudah melupakan sesuatu yang baru saja terjadi.

Tatapanku beralih kepada gadis yang berjalan dengan riang jauh di sana. Aku mengulum senyum simpul. Meski terkadang aku membuatnya kesusahan karena hal yang mungkin saja kulupakan, tetapi orang itu masih bersedia untuk menyumbangkan senyuman termanisnya. Bagiku senyuman itu sangat mengesankan. Hatiku sangat tenang meskipun hanya karena sebuah senyuman.

Beberapa detik yang lalu, orang itu masih girang dengan indahnya daun maple yang sedang berjatuhan. Aku tahu, dia sangat menantikan hal ini tiba setiap tahunnya. Itulah mengapa aku harus mencatatnya di buku diary-ku, agar aku tidak melupakan sesuatu yang membuat senyumannya terus merekah. Oh, sekarang kakinya yang ramping mulai berjalan dengan ringan mendekatiku. Di kedua tangannya ada dua helai daun maple yang dipungutnya dari jalan. Rambut pendeknya yang mulai panjang tergerai bebas sebatas bahu, membuat anak rambut di belakang telinganya berhamburan keluar. Dengan mengenakan dress berwarna pastel menutupi lututnya, gadis itu benar-benar sangat menawan.

***

Pria yang duduk santai di bawah jajaran pohon maple itu segera menghentikan aktivitasnya menulis sesuatu di sana. Tangannya segera menutup buku yang menyimpan kesehariannya tersebut, tatkala seorang gadis berkulit putih dengan senyuman lebar menghampirinya untuk duduk di sandingnya. Gadis itu masih menyunggingkan senyuman cerianya sejak tadi. Gadis manis itu memperlihatkan dua helai daun maple yang digenggamnya kepada pria yang sepertinya sangat dekat dengannya. Bukan hanya sekedar dekat, tetapi masing-masing dari mereka memiliki perasaannya sendiri. Tidak perlu untuk saling mengungkapkan, hanya perlu memberikan perhatian dan rasa nyaman itupun sudah cukup. Keduanya sama-sama saling memahami. Bukankah seharusnya seperti itu kata cinta yang sesungguhnya?

“Zhang Yi Xing. Lihat, mereka sangat cantik, kan?” gadis itu tersenyum sendiri dengan dua helai daun maple di tangannya.

“Sepertinya kau benar-benar menyukai ‘paket liburan’ yang ku jadwalkan untukmu.” Pria yang dipanggil Zhang Yi Xing itu tersenyum menanggapi. “Kau harus segera membayar biayanya kepadaku.” Ucapnya di sela tawa kecilnya. Gadis itu hanya tersenyum menanggapi.

“Hye Shin-ah

“Ya”

“Bagaimana jika nanti aku tidak bisa mengingat lagi?” suara Yi Xing memudar, setelah tawanya tegantikan oleh air muka yang tidak dapat ditebak. Tiba-tiba sekali pertanyaan semacam itu meluncur dari bibir seorang Zhang Yi Xing.

“Apa yang sedang kau bicarakan? Kenapa kau tidak bisa mengingat lagi? Kau ini ada-ada saja.” Hye Shin tertawa hambar. Sejujurnya, itu adalah hal yang sangat tidak ingin Hye Shin dengar selama ini.

Berbicara tentang ingatan, sebenarnya sesuatu telah terjadi hingga membuat orang yang sekarang duduk tenang di bangku taman tersebut mengalami sedikit gangguan pada ingatannya. Mungkin Hye Shin sudah lama menantikan hari-hari dimana ia bisa berdiri di atas altar bersama Yi Xing. Namun, sebuah kebakaran besar sukses menghanguskan apartemen yang menjadi tempat tinggal pria ber-dimple itu dua tahun silam. Hari itu adalah hari yang paling sakral bagi keduanya untuk melangsungkan pernikahan.

Dengan perasaan yang tidak bisa didefinisikan, Hye Shin segera menghambur ke dalam apartemen Yi Xing sebelum api semakin besar. Rasanya hampir gila jika mengingat bagaimana seseorang berharga baginya itu tengah meringkuk ketakutan di sudut ruangan dalam kobaran api. Untung saja keadaannya baik-baik saja, meskipun dokter yang menangani harus mengatakan jika Yi Xing mengalami amnesia disosiatif. Amnesia yang disebabkan oleh trauma atau stress yang menghasilkan ketidakmampuan untuk mengingat informasi pribadi yang penting. Itulah alasan mengapa pria manis itu selalu mencatat kegiatannya setiap saat.

“Kau bilang, kita hampir saja mengadakan upacara pernikahan. Tapi, aku bahkan tidak bisa mengingatnya sama sekali. Mianhae Hye Shin-ah.” Sesalnya.

Gadis di sisinya itu hanya menghembuskan napasnya pelan sembari mengusap lembut rambut kecokelatan milik Yi Xing. Sudut bibirnya tertarik sedikit, membentuk sebuah kurva indah yang menenangkan. Tatapan yang teramat dalam, yang selalu membuat Hye Shin rindu senyuman yang terukir di bibir pria tersebut.

“Kau bilang pernikahan kita gagal karena kebakaran itu, kan?” tanyanya memastikan. “Aku akan melamarmu tepat di hari ulang tahunku nanti.” lanjutnya.

Hye Shin hampir saja tidak menyangka jika pria yang tengah tersenyum kepadanya itu melontarkan pernyataan yang cukup mengejutkan. Hal ini membuat mata Hye Shin memanas dan perlahan meneteskan satu per satu butiran bening dari kelopak matanya. Jari-jari lentiknya segera merengkuh pria di sisinya itu sambil sedikit terisak karena terharu.

***

6 Oktober 2016

Kalau aku tidak salah, aku mengatakan kepada Hye Shin jika aku akan melamarnya ketika hari ulang tahunku tiba. Itu adalah janji yang sudah lama kurencanakan sebelum memberitahukannya. Aku tidak terlalu percaya diri dengan apa yang baru saja ingin ku mulai. Semuanya terlalu sulit untuk mengembalikan ingatanku. Yang ada hanyalah rasa ketakutan beserta secuil kilas balik yang membuatku semakin terpuruk. Sekeras apapun aku berusaha, pada akhirnya semua terasa seperti menulis di atas air.

Hari ini, aku bermaksud membeli sebuket bunga tulip favorit Hye Shin. Tentu saja aku sudah mencatatnya berkali-kali. Sejujurnya, aku sedikit gugup untuk memberikannya pada Hye Shin. Selama ini aku telah banyak membuatnya terbebani. Mengenai kondisiku saat ini, aku tidak ingin melupakan semuanya yang telah hilang begitu banyak. Ingatanku tentang diriku dua tahun lalu belum juga membuatku menjadi seseorang yang cukup berarti. Bahkan aku selalu saja melupakan apa yang baru saja kulakukan. Sungguh menyedihkan. Mungkin sangat menyakitkan baginya untuk sekedar menunggu pria sepertiku. Maafkan aku Kang Hye Shin. Aku telah banyak menyusahkanmu.

***

Tidak seperti biasanya, pria yang sekarang tengah mengenakan setelan jas berwarna putih itu duduk dengan pandangan terfokus pada deretan tuts yang tertata secara berurutan. Alunan nadanya begitu indah mengalun, hingga membuat gadis yang setia duduk di sisinya itu bergumam kecil mengikuti nada yang beradu di gendang telinganya. Selesai memainkan pertunjukan singkat itu, Yi Xing hanya menatap manik mata gadisnya itu dalam, tanpa sepatah katapun yang terlontar dari bibirnya. Hye Shin juga melakukan hal serupa. Di tangan kanannya ada sebuket bunga yang Yi Xing berikan kepadanya.

Beberapa menit berselang, hingga pada akhirnya Yi Xing lah yang memulai percakapan. “Hye Shin-ah. Selama ini aku mencoba untuk belajar mengingat segalanya. Tapi, aku mencobanya terlalu keras dan hasilnya pun bisa kau lihat sendiri, kan?” Nadanya melemah.

“Bukankah sudah kutakan padamu. Meskipun tidak bisa membuatmu ingat akan masa lalu, paling tidak kau bisa mengingatku saja sudah cukup bagiku.” Hye Shin tersenyum simpul.

“Karena bagiku, mengingatmu saja tidak cukup Hye Shin-ah. Kau tahu, bagaimana seseorang bisa menghafal rumus tanpa mengetahui cara mengerjakannya?”

“Zhang Yi Xing”

***

 

 

7 Oktober 2016

Hari ini, aku bangun pagi-pagi sekali. Oh, bukankah hari ini adalah hari bertambah tuaku? Setelah beranjak dari tempat tidur, aku segera menyiapkan segala sesuatu yang sekiranya sesuai dengan rencanaku. Benar. Nantinya aku ingin mengajak Hye Shin piknik, karena cuacanya benar-benar cerah. Aku memintanya untuk membuat banyak makanan lezat untuk kami berdua. Selangkah lagi, aku akan segera menebus semua rasa susahnya karena merawatku.

Beberapa detik yang lalu, aku mengamati sebuah kalung yang ku ketahui dalam buku catatanku adalah kalung yang dulu sempat akan bergantung di leher jenjang Hye Shin. Sangat cantik, pikirku. Namun, itu hanyalah sebuah pemikiran yang belum terlaksana. Seperti yang kutahu, tidak ada ruang untuk kata menyesal.

***

Seseorang dengan pakaian serba hitam berdiri di hadapan Hye Shin dengan senjata api di tangannya. Tunggu. Orang itu adalah orang yang sempat Hye Shin lihat ketika terjadi kebakaran di apartemen Yi Xing. Hye Shin mundur beberapa langkah ke belakang. Pria itu tidak boleh menemukan Yi Xing. Dengan cepat tangan kekar pria jangkung itu sudah berhasil mencapai leher Hye Shin. Gadis itu menjerit tertahan. Tak kuasa menghirup udara di sekitarnya. Ia tahu, jika orang itu mengincar aset perusahaan keluarga Yi Xing.

“Hye Shin-ah, ayo kita be–”

Yi Xing terperanjat melihat Hye Shin bersama pria berpistol tersebut. Ia sama sekali tidak mengerti dengan isyarat yang Hye Shin berikan. Pria yang tidak dikenalnya itu bergerak cepat menyerang pertahanannya. Kepalanya tiba-tiba berdenyut sakit dengan sekelebat ingatannya yang bergerak cepat. Ia tidak menyadari jika pria misterius itu tengah menjadikannya sasaran empuk.

“Zhang Yi Xing!!”

Suara teriakan Hye Shin melemah ketika desingan timah panas terdengar berkali-kali di telinga Yi Xing, sebelum tubuh gadis itu limbung ke lantai. Pria itu segera menghilang setelah membuat Hye Shin terluka dengan beberapa tembakan.

“Zhang Yi Xing, mianhae…” ucap Hye Shin lemah. Setelah itu kedua kelopak matanya benar-benar menutup dengan sempurna.

Yi Xing yang menyaksikan hal itu hanya bisa diam sambil menahan isak tangisnya. Bagaimana bisa ia kehilangan seseorang yang sangat penting di hari ulang tahunnya? Ia bahkan belum menepati janjinya untuk melamar Hye Shin.

“Hye Shin-ah” suaranya bergetar. “Kumohon, maafkan aku. Maafkan aku Hye Shin-ah

~ Paling tidak kau bisa mengingatku saja sudah cukup bagiku ~

~ Karena bagiku, mengingatmu saja tidak cukup Hye Shin-ah ~

END

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s