[EXOFFI FREELANCE] MY STRONG DADDY#4

my-strong-dady4

Author                         : Angestita

Tittle                            : My Strong Daddy #4

Length                         : Chaptered

Genre                          : Family, romance and angst

Rating                         : PG – 13

Main cast                    : Oh Sehun – Leo William – Kim Na Na

Summary                     : Na Na ikut mengantar pulang Leo ke rumahnya. Kejadian itulah yang membuat konflik batin di hati Sehun dan dirinya sendiri muncul. Apalagi setelah mendapat telefon dari pria musim dinginnya.

Disclaimer                   : FF ini murni dari pikiranku aku tidak mencontoh karya orang lain jadi aku harap kalian tidak melakukan hal yang sama. Apabila ada kesamaan alur, tokoh dan tempat kejadian itu mutlak unsur ketidaksengajaan. Cerita ini adalah FanFiction. Bukan cerita nyata dan tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan idol. Karya ini dibuat untuk menghibur. Aku berharap kalian berkenan meninggalkan jejak. Terimakasih atas waktu yang kalian berikan untuk membaca karya ini.

Oh Sehun tidak pernah mengajak seseorang datang ke rumah barunya itu apalagi jika itu adalah seorang wanita yang masih asing seperti Kim Na Na. Tentu saja dia merasa kurang nyaman. Ada bagian dari hatinya yang ingin bergerak melindungi batas-batas privasi kehidupannya. Tetapi apa yang Sehun mampu lakukan apabila yang meminta itu adalah Leo? Manusia kecil nan rapuh yang menggantungkan hidup hanya kepada dia seorang diri itu adalah alasan mengapa kejadian ini dapat terjadi.

Saat jam kepulangan Leo, anak laki-laki semata wayangnya itu merengek meminta diantar oleh Na Na juga. Na Na sudah membujuk Leo tetapi dia tetap kepada keputusannya mengajak Na Na ikut pulang ke rumah mereka. Setelah bersitegang selama dua puluh menit dan berakhir dengan Leo yang menangis, Sehun dengan berat hati mengajak Na Na pulang.

Wanita itu terlihat sekali terkejut dengan apa yang baru dia ucapkan. Ini adalah keputusan akhir yang Sehun buat mau Na Na ingin atau tidak, Sehun akan mengajak wanita itu ke rumahnya. Selama perjalanan menuju rumahnya, hanya suara Leo yang berkicau, mengatakan banyak hal yang sesekali dikomentari oleh mereka berdua. Baik dia maupun Na Na tampaknya tidak ingin memulai pembicaraan. Sehun memutar kemudi, memasuki jalan mulus yang sepi. Ini adalah satu-satunya jalan menuju rumah mereka. Bangunan bercat putih yang terletak paling ujung.

Sehun tidak tahu apa Na Na sudah pernah datang ke rumahnya atau belum, tetapi melihat wanita itu biasa saja memandang bangunan rumahnya, Sehun yakin Na Na pernah datang ke tempat itu sebelumnya. Dua orang penjaga gerbang membukakan pintu untuk mereka. Dari raut wajah ke dua pria tersebut, Sehun tahu bahwa mereka terkejut dengan kedatangannya apalagi bersama wanita.

Sehun hendak mengambil Leo dari gendongan Na Na, tetapi anak kecil itu menolak dia mentah-mentah. Sehun sedikit jengkel dengan kelakuan manja Leo, setahunya anaknya itu tidak pernah bertindak demikian sekalipun dengan Irene. Dia akan tetap berjalan dengan kakinya sendiri. Tapi entah mantra apa yang digunakan Na Na, Leo enggan lepas dari wanita itu.

Sehun mengabaikan Leo sebentar, dia menatap Na Na yang terlihat canggung. “Ini rumah kami. Masuklah terlebih dahulu. Leo butuh istirahat.” Sehun berkata dengan nada datar. Setelah mengatakan itu, Sehun berjalan terlebih dahulu, membuka pintu dan membiarkannya tetap terbuka sekalipun Na Na dan Leo sudah masuk. Sehun sepertinya tidak ingin terjebak kecanggungan dengan Na Na.

Setelah masuk ke dalam rumah Leo baru mau lepas dari gendongan Na Na. Dia berlari menuju ruang keluarga tempat dimana dia menghabiskan waktunya untuk bermain, meninggalkan Sehun dan Na Na berdua.

Na Na terlihat canggung setengah mati menghadapi ayah dari anak didik kesayangannya itu, dia merasa tatapan Sehun kepadanya tidak terdefinisikan. Saat ia ingin meminta izin untuk pulang, Sehun terlebih dahulu berkata, “Tunggulah di ruang keluarga, sepertinya Leo masih ingin bermain denganmu. Aku akan ke kamar berganti baju dulu.” Ucap pria itu dengan suara yang lebih bersahabat.

Na Na menghembuskan nafas lega, dia tersenyum tipis dan mengikuti ajakan Sehun. Selama berjalan bersisihan dengan pria itu, dia menyempatkan diri memandangi foto-foto yang tertempel nan manis di dinding. Foto-foto itu semua milik Leo dengan berbagai expresi di wajah cute nya.

Leo yang melihat kedatangan kedua orang dewasa itu, bersorak bahagia. “Papa-bunda, ayo main dengan Leo disini. Kita main rumah-rumahan ya. Papa jadi ayah, bunda Na Na jadi ibu, Leo jadi anaknya.” Laki-laki berusia enam tahun itu berceloteh riang.

Baik Na Na dan Sehun, merasakan ada gelombang dashyat nan syahdu menerpa hati mereka. Na Na merasakan pipinya mulai memanas ketika angannya mulai menampilkan bayangan-bayangan dia dan Sehun melakukan adegan suami istri yang sedang bahagia dengan Leo sebagai anaknya. Oh, indahnya dunia andai kata itu terwujud. Namun bayangan itu mulai memudar tertiup badai ketika mendengar ucapan lembut Sehun.

“Leo sayang, besok saja ya main-mainnya. Leo kan baru saja pulang dari rumah sakit, ingatkan sama yang dikatakan dokter Baek?” Sehun berkata dengan suara yang sarat akan kesabaran dan kasih sayang. Pria itu kini bahkan sudah berlutut di hadapan putranya. Membuat Na Na masih ada seseorang di hati Sehun yang membuat pria itu tak ingin Na Na semakin dalam mencampuri kehidupannya. Na Na tersenyum lebar ketika mata bulat Leo memandanginya dengan tatapan memohon.

Leo kembali menatap mata ayahnya dengan pandangan merajuk, seolah menguji kesabaran Sehun. “Tapi papa, Leo bosan tiduran terus.” Bujuk anak manis itu dengan suara lirihnya.

Sehun tersenyum tipis, “Nah, kalau Leo bosan tiduran terus makanya Leo istirahat biar sembuh dulu. Kalau Leo udah sembuh, Leo nggak perlu tiduran lagi. Terus Leo bisa main dengan papa.”Sehun berkata pelan. Leo terlihat berfikir lama sebelum mengangguk setuju. Sehun memberikan ciuman di dahi anaknya dan berkata dengan gembira, “Anak papa Sehun emang anak baik. Leo ganti baju dulu ya sebelum tidur.” Leo mengangguk, kini dia sudah berada di gendongan papanya.

Sehun sedikit terkejut melihat tatapan Na Na yang berkaca-kaca.  Dia mencoba tersenyum lebar untuk menghibur wanita itu. “Bunda Na Na, ikut Leo ganti baju yuk. Nanti Leo tunjukin deh rumah yang papa dan Leo buat di atas. Rumahnya besar lho, lebih besar dari rumah yang disini. Ada fotonya bunda Irene juga.”

Na  Na tersenyum tipis mendekati bapak dan anak tersebut. Tangannya meraih tangan Leo yang mengibas-ngibas udara. “Besok ya, bunda Na Na pulang dulu. Nanti, kalau Leo mau main sama bunda, bunda tunggu di sekolah.” Kata Na Na. Suaranya syarat akan perasaan sayang kepada bocah itu. Sehun hanya diam, tak berniat menghimbuhi ucapan Na Na.

Leo semakin cemberut namun untung saja tidak lagi merajuk, dia mengangguk pasrah. “Tapi, bunda Na Na harus janji dulu sama Leo, kalau besok bunda mau main sama Leo lagi. Janji?” Leo, anak manis itu mengacungkan kelingkingnya di wajah Na Na.

“Iya, anakku, bunda janji.” Otak Na Na sudah penuh dengan bayangan Leo dan ayahnya, hingga dia tak sadar dengan apa yang baru dia ucapkan. Memanggil Leo dengan anakku adalah tindakan gila yang dia lakukan untuk hari itu. Namun dia bergegas memperbaiki ke adaan dengan berkata lembut pada Leo, “Leokan anak didik bunda Na Na jadi bunda Na Na sebisa mungkin menepati janji.” Na Na mengaitkan kelingkingnya. Dia berjanji. Ini adalah janji ke dua yang dia buat dengan putra Oh Sehun.

Sehun tersenyum, “Leo, berpamitan dengan bunda dulu.” Sehun segera menurunkan putranya dari gendongan, anak laki-laki itu membungkuk memberi hormat sebagai salam perpisahan. Na Na membalas tingkah lucu Leo dengan melakukan hal yang sama tetapi ada tawa kecil yang keluar dari bibir tipisnya. Diam-diam senyum yang Sehun miliki kian lebar.

“Bunda pulang dulu ya, yang nurut ya dengan papa Sehun.” Pesan Na Na setelah mencium kedua pipi Leo. Leo mengangguk mantap, senyum kian lebar ketika Na Na memujinya. Setelah ikut mengantar Na Na hingga pintu depan, Leo kembali naik ke gendongan Sehun dan menuju lantai dua.

Sehun membantu putranya berganti baju sebelum mengajak Leo tidur. Anak kecil itu patuh-patuh saja disuruh Sehun. Dia tidak membantah sama sekali dengan apa yang Sehun perintahkan. Kini Leo sudah berbaring dengan manis dibalik selimut kuning dengan motif pesawat terbang miliknya. Siap mendengarkan cerita yang akan Sehun bacakan. Sehun terkekeh geli melihat kelakuan Leo yang mendadak jadi anak patuh. Dia tak henti-hentinya mencium kening putranya sayang.

“Leo, sebentar ya, tunggu papa selesai mengirim pesan ini dulu ya.” Tidak ada jawaban dari bibir manis putranya tetapi dia dapat melihat Leo mengangguk. Sehun mengalihkan pandangannya ke arah ponsel yang sedang dia pegang. Tangannya cekatan mengetikkan sebuah pesan. Selang tiga menit kemudian dia sudah mendapat balasan dari orang tersebut. Setelah memastikan semuanya selesai, Sehun baru ikut bergabung dengan Leo. Dia merebahkan tubuh gagahnya disamping tubuh mungil itu.

Pria itu mengambil sebuah buku yang ada di atas kepala putranya, dengan senang hati Sehun membacakan cerita anak-anak itu. Suara beratnya kadang berubah cempreng, tertatih-tatih, dan bisa seperti seorang wanita. Sehun benar-benar totalitas membacakan cerita itu. Sekalipun kadang-kadang suara beratnya terdengar aneh didengar ketika menirukan suara tertentu, seperti saat itu ketika dia membacakan cerita tentang kancil dan buaya. Sehun tidak pernag mendengar suara kancil apalagi mendengarnya bahkan bertemu binatang cerdik itu saja dia tak pernah. Yang terjadi ketika dia disuruh menirukan suara kancil adalah suara katak yang keluar. Jauh sekali larinya. Leo saja sampai tertawa terpingkal-pingkal mendengar suara itu.

Tapi begitulah Sehun, dia semakin menjadi menirukan suara-suara aneh jika itu dapat membuat Leo tertawa terpingkal-pingkal. Sehun senang bisa membuat anaknya tertawa. Setelah tertinggal satu lembar kertas di buku itu, Leo sudah tidur terlebih dahulu. Anak laki-lakinya, tidur dengan sangat nyenyak membuat Sehun tersenyum bahagia.  Jemarinya dengan lembut mengusap rambut hitam Leo yang menutupi keningnya.

Dalam diamnya dia berdoa semoga saja kehidupan nanti, ia dan Leo dapat berhasil menghadapi masalah dengan tetap bergandeng tangan. Sehun bersyukur Leo ada. Sekalipun hatinya terampas habis oleh mendiang istrinya. Perlahan kepingan itu kini menjadi satu. Membuat pola yang lebih indah dan erat. Inikah perasaan ayah kepada putranya? Perasaan yang Tuhan kirimkan tanpa ada dusta. Perasaan yang paling murni. Jika demikian adanya, Sehun tak akan pernah menyesal menikah dengan Irene.  Tak pernah menyesal menelan rasa pahit itu. Jika akhirnya Leo datang disini.

Lamunannya terhenti ketika ada sebuah suara halus dari ponselnya. Sehun segera mengambil benda panjang itu. Ada satu pesan. Dari paman Choi. –Tuan Oh Sehun, saya sudah membawa Nona Na Na pulang dengan selamat- Sehun tersenyum tipis melihat nama wanita yang tertulis di dalam pesan itu. Ingatannya berlari ke kejadian dua jam yang lalu.

“Jika Leo adalah anakmu, apakah aku juga suamimu?” bisik Sehun iseng dari dalam hati.

Na Na tidak tahu jika Oh Sehun masih punya hati kepadanya. Pria itu mengirim seorang sopir untuk mengantarnya pulang. Tindakan sederhana yang mampu membekas di dalam ingatan dan menghangat bersama degupan jantungnya. Na Na tidak tahu perasaan canggung diantara mereka tak membuat pria itu lantas menghindarinya. Padahal, tindakan yang dia perbuat dua hari terakhir ini sudah lebih dari batas wajar. Seharusnya Sehun marah dan membuat tembok tebal untuk menghalangi dia masuk ke dalam kehidupan pria itu dan putranya. Tapi apa yang Sehun perbuat semakin menariknya ke dalam lubang hangat nan nyaman. Membuianya untuk terlelap  disana untuk waktu yang lama.

Na Na memejamkan matanya sekali lagi, membiarkan air kran itu jatuh diatas kelopak matanya yang indah. Turun menghiasi setiap lekukan wajahnya sebelum jatuh membawa angan liarnya dan terbuang. Dia seharusnya menyudahi tindakannya itu, ini sudah sore hari dan udara di luar tidak bersahabat. Bermain air sama saja merencanakan besok pagi dia tidak datang ke sekolah. Tetapi setiap mengingat Sehun, duda ganteng yang menarik sisi liarnya keluar, Na Na melakukan tindakan itu lagi, berharap air kran dapat membawa Sehun pergi dari ingatannya. Seharusnya dia sadar apa yang dia lakukan tidak baik. Selama ini dia salah, tapi kakinya pun tak sanggup bergerak mundur. Na Na mematikan kran dan mengambil handuk. Dia mengusap wajahnya kemudian keluar dari kamar mandi.

Saat itulah sebuah telefon masuk ke dalam ponselnya, dengan gerakan pelan dia mengambil ponselnya. Matanya melebar saat sebuah nama terpampang dengan jelas di layar itu. Nama asing yang satu minggu ini tak menghubunginya. Na Na merasa angin dingin tengah bertiup ke arahnya. Dengan gerakan kaku ibu jari tangannya menggeser warna hijau ke kanan.

Sebuah suara menyambut pendengaran Na Na. Suara yang amat sangat familiar. Suara yang sudah lama berteman dengan kesepian di hatinya. Na Na tak tahu angin apa yang membuat laki-laki itu terlebih dahulu menghubunginya. Biasanya dia yang lebih dahulu bertindak. Apa telah terjadi sesuatu di eropa sana? Yang Na Na pasti tahu degupan di jantungnya semakin menjadi dan bayangan Sehun mulai tergantikan.

Semudah itukah hati Na Na terbawa pergi?

 

 

 

 

 

 

25 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] MY STRONG DADDY#4

  1. Ouwhh., aku suka sama tingkah kakinya Leo.. Sehun oppa juga sayang bangettt dehh sama Leo😊😊😊

    Geu namja nugu?

    Aku telat bcanya^^

  2. leo tuh ya ada” aja sikapnya yg bikin gregetan… sehun jg kenapa malah ngomong “kalo leo anakmu, apa aku jg suamimu?” lah ini maksudnya apa coba..kan gemes jadinya too
    siapa yg telfon nana, pacarkah? kekasihkah? gebetan? atau jangan” tunangannya???
    okeee you know what..aku makin penasaran…

  3. Astagaa ketinggalan jauhh buka exoffi fanfic ini tenryata uda chapter4 aku ngebut nih bacanya hehe
    Waah aku makim suka nih sama nana karakternya keibuan banget leo nya lucuu sehun jugaa ih ><
    Ditunggu yaa kak next chapternya ^^

  4. Cie… udah terpesona aja tuh Nana sama Sehun.. trus siapa yg nelpon Nana yh??? Pacarnya kah??? Semiga saja iya… soalnya Sehun ga mau buka hatinya… dia terlalu tertutup

  5. Ciee bunda nana, kayanya makin terpesona sama sehun yaaa?? Sampe mandi aja gak bisa nglupain semua tentang sehun, uhhh makin geregetan sama mereka berduaaa… Siapa tuh yang nelphone nana? Jangan-jangan pacarnya lagii

  6. Si Leo nya manja banget sama nana, dan semoga apa yg sehun ucapin dalam hati itu terkabul!!! Terus Siapa orang yg telphone nana? Penasaran, lanjutt!!!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s