[EXOFFI FREELANCE] Draft (Chapter 21)

newposterdrafttt.jpg

Tittle: DRAFT
by Tyar
Chapter | School life, Friendship, Romance | T
Cast
Sehun – Irene – Kai – Seulgi – With SM Artists.
Disclaimer: Cerita ini murni terlahir dari otak tyar yang rada geser.
#Beberapa plot terinspirasi dari potongan-potongan drama korea dan anime.

Find my another story – [https://nakashinaka.wordpress.com/]

Enjoy^

List: [Prolog | Chapter 1 – Chapter 20]

-21-

Jangan tanya bagaimana anggota osis saat ini. Beberapa diantara mereka, terutama Junmyeon. Termasuk Baekhyun, merasa memiliki peluang lebih luas karna ketidak adaan Sehun di akhir setengah semester ini. Orang-orang yang selama ini iri padanya seakan-akan merdeka, menyumpahi Sehun yang mendapat hukuman berat. Para ambisius osis pun memanfaatkan kesempatan itu untuk mencari perhatian para siswa, mencoba menghapuskan nama Sehun dari predikat siswa si no. 1. Siswa yang tak satupun tak mengenalinya. Kali ini, osis yang akan mengambil seluruh perhatian publik, dan menaikkan eksistensi setiap anggotanya.

Dan Kai yang menyadari akan hal itu, sama sekali tak peduli. Memangnya, apa enaknya menjadi siswa terpopuler di seantero sekolah? Selama ini yang ia tau, Sehun hanya menjadi dirinya sendiri. Menjadi siswa berprestasi bukanlah hal aneh bagi Sehun, itu sudah seperti spontanitas hidup. Memang sudah seharusnya Sehun seperti itu.

Heol. Lihat saja nanti, sekembalinya Sehun ke sekolah, peringkat 1 itu takkan pernah terlepas lagi untuk siapapun.” Gumamnya gemas.

XxxX

 

Bel istirahat pertama berdering nyaring tepat di tengah-tengah pelajaran olahraga. Pria berbadan tegap yang dipanggil seonsaengnim itu segera menutup aktivitas dan membubarkan kelasnya dari lapangan sekolah yang luas.

Seulgi menghembuskan nafas sembari mengelap keringat dengan punggung tangannya. Sebelum ia mengangkat langkah, beberapa teman sekelasnya berjalan menabrak pundaknya, mendahului Seulgi dengan sebuah delikan. Namun gadis itu hanya diam. Membalas dengan tatapan dingin.

Kini dia kembali terdiam di tengah lapangan, lagi-lagi menghembuskan nafas. Seulgi rasa, kebencian takkan pernah berhenti mengalir untuknya. Semenjak gosip-gosip mengenai dirinya yang semakin dekat dengan Kai, orang-orang yang dulu pernah mengganggunya, kembali melakukan hal-hal yang menyebalkan. Seperti tadi, 2 teman sekelasnya menyenggol pundaknya dengan sengaja. Tapi Seulgi sudah terbiasa dengan itu.

Kakinya pun melangkah santai menuju barisan keran di pinggir lapangan. Lalu segera mencuci muka setelah memutar salah satu keran. Surai panjangnya terus saja turun mengganggu aktivitasnya, sampai ia merasakan sebuah tangan meraih seluruh rambutnya dan mengenggamnya di belakang kepala Seulgi. Dia pikir, mungkin itu Wendy. Kali ini, dengan leluasa ia pun mencuci seluruh permukaan wajahnya untuk sekedar mencari kesegaran.

Gomawo, Wen –“

S-sunbae?”

Tepat ketika ia mengangkat kepalanya dan berbalik, bukan Wendy yang ia temukan. Melainkan wajah teduh Kai yang ada di depannya kini. Pria itulah yang memegangi rambutnya barusan. Sebuah senyum pun terulas untuk Seulgi.

“Sama-sama.” Jawab Kai santai.

Beberapa detik Seulgi menjadi sedikit gugup. Jika ia tak pernah dekat dengan Kai, mungkin sekarang dia sudah mengatakan kata-kata terpedas dan menyuruh Kai pergi dari hadapannya. Namun saat ini ia tak bisa melakukan hal semacam itu, selain membalas senyum sunbaenya dengan tipis.

Kemudian terdengar hembusan nafas malas keluar dari mulut Kai. Lelaki itu kini memasukkan kedua tangannya ke dalam saku sambil menatap ke sekeliling. “Bosan sekali rasanya sekolah tanpa Sehun dan Irene.”

Seulgi diam memperhatikan. Sampai Kai kembali menatapnya.

“Orang-orang itu menganggumu lagi?”

Gadis itu mengangguk, “Menghadapi mereka bahkan lebih membosankan ketimbang tidak ada Sehun sunbae dan Irene sunbae di sekolah.”

“Mungkin mengurus mereka akan cukup menyenangkan?”

Seulgi terkekeh, “Jangan coba-coba. Biarkan saja mereka, atau aku yang akan membuat sekolah semakin menyebalkan bagimu.”

Kai tertawa, “Baiklaah. Akan kubiarkan kali ini. Tapi jika terjadi sesuatu yang diluar batas, katakan padaku, oke?”

Seulgi mengedikkan bahu kemudian mulai melangkah meninggalkan Kai, “Aku bukan pengadu, sunbae.” Balasnya santai, membuat Kai hanya tertawa ringan.

XxxX

 

Di dalam kamar, Sehun tak bisa berhenti memikirkan Irene, meskipun sejak tadi beberapa buku dan catatan-catatan penting sudah mencoba menarik perhatiannya. Dia khawatir dengan keadaan gadis itu saat ini. Pasalnya, pagi tadi dia menemukan beberapa artikel berita online yang membicarakan Irene dan ayahnya. Ya, sebuah berita mengenai anak seorang Direktur Bae yang tak pernah tereskpos media. Selama ini kebanyakan orang-orang penting itu tau bahwa beliau memiliki seorang putri yang masih berstatus pelajar SMA. Tapi, tak satupun tau bahwa putrinya itu bukanlah anak berprestasi seperti anak-anak partner kerjanya yang lain. Mengenai isi berita-berita itu, apalagi jika bukan tentang Irene yang ketahuan menginap di apartemen teman laki-lakinya? Oh, itu menjadi kalimat yang buruk bagi Sehun kini. Juga berita itu pun membuat nama baik Bae sajangnim mulai tercoreng. Itu sesuatu yang cukup buruk bagi netizen-netizen nyinyir di luar sana. Itu mengerikan. Jika ayah Irene tak segera memberi klarifikasi, mungkin Irene akan benar-benar di anggap anak yang buruk. Dan Sehun tak bisa membayangkan betapa sedihnya Irene jika gadis itu tau mengenai hal ini.

Sehun meletakkan pulpen yang di genggamnya ke atas meja. Kemudian meraih ponsel dan mengecek pesan. Sejak semalam, dirinya tiba-tiba mengambil peran Irene sebagai pengirim pesan text terbanyak. Mulai dari mengirim satu baris kalimat tanya, mengulang pertanyaan, memanggil Irene, sampai mengirim beberapa baris kalimat tak penting. Namun satupun balasan tak kunjung diterimanya. Matanya beralih melirik angka jam di ujung kanan layar ponsel. Sebentar lagi jam makan siang, dia pun berdiri. Memutuskan untuk pergi ke suatu tempat.

“Kau akan pergi kemana, doryeonim –tuan muda? Kau perlu diantar?” seorang penjaga sekaligus supir pribadi keluarga Kim, menyambut Sehun di pintu depan. Dia pun menggelengkan kepala.

“Tidak, terima kasih. Aku hanya akan ke panti asuhan, tidak jauh dari sini.”

Pria paruh baya berseragam rapih itu hanya membungkuk dengan sopan dan membiarkan Sehun meninggalkan kediaman keluarga Kim sendirian. Sehun merapatkan jaket jinsnya sembari melangkah menyusuri jalan menuju halte. Sesekali ia mengetik sesuatu di dalam ponsel seperti, “Siang ini aku akan pergi ke panti asuhan, dan bermain bersama anak-anak. Aku akan segera mengirim sesuatu setelah sesampainya di sana. Irene, hwaiting.”

Kakinya kembali melangkah kala sebuah bus menuju tujuannya berhenti untuk menampung penumpang. Sepanjang perjalanan, yang dilakukannya hanya memandangi luar jendela. Seperti kebiasannya setiap naik bus. Beberapa waktu lalu, kadang-kadang Irene ikut duduk disampingnya kemudian mengoceh hal-hal tak penting dengan antusias meskipun dirinya tak banyak merespon. Kadang pula, Kai ada bersama mereka, menjadi perespon terbaik untuk Irene. Lalu keduanya hanya akan berbicara ini itu tanpa mengabaikan dirinya. Kalimat Kai tempo lalu mungkin ada benarnya, Irene lebih sering bersamanya. Dan semenjak itu pula dirinya lebih sering bersama Irene ketimbang Kai. Dia pikir, posisi keduanya sama. Tapi sepertinya berbeda.

Setengah jam kemudian, Sehun sudah sampai di halaman rumah sederhana panti asuhan yang selalu dikunjungi Seulgi. Dia diam di depan pintu yang terbuka lebar, tampak anak-anak tengah bernyanyi bersama dengan salah satu ahjumma pengurus. Sebelum mereka menyadari keberadaanya, Sehun mencoba menarik ujung bibirnya, ingin tersenyum untuk mereka. Namun nihil, rasanya kaku sekali. Dia merasa seperti sudah tersenyum, namun ketika memperhatikan layar ponsel yang mencerminkan wajahnya, nyatanya ekspresi Sehun masih datar.

Oppa!” gadis kecil imut itu berlari kecil menghampirinya. Begitu juga dengan ahjumma. Wanita itu tersenyum padanya dengan ramah.

“Aeri-yaa.” Balas Sehun hangat, meski tanpa ekspresi.

“Sendiri? Teman-temanmu mana?” tanya wanita itu, belum sempat Sehun menjawab dia kembali menyahut, “Eh? Bukankah ini masih jam sekolah?”

“Aku sedang mendapatkan hukuman. Karna aku bosan, jadi aku datang kemari.”

“Ah, begitu.” Wanita itu mengangguk. Kemudian segera mengajak Sehun masuk kedalam rumah. “Kau bisa temani mereka? Aku akan memasak untuk makan siang.”

“Oh, tentu saja. Dengan senang hati.”

Ahjumma tersenyum semangat menyambut bantuan Sehun yang tampak tulus, kemudian pergi meninggalkan ruang tengah besar itu.

“Kau tidak datang bersama yang lainnya, hyung?” setelah Sehun duduk melingkar bersama anak-anak, salah satunya bertanya dengan jenaka.

Sehun menggeleng, “Mereka semua masih di sekolah.”

Oppa? Kau bolos?”

Sehun menghela nafas, dia hampir tertawa, namun gagal lagi. “Aku sedang mendapat libur khusus karna aku siswa terpintar di sekolah.” Jawabnya asal. Anak-anak di hadapannya berdecak kagum. Percaya saja dengan omong kosong Sehun.

“Makanya, jika kalian semua sudah sekolah nanti, kalian harus jadi siswa terpintar di sekolah. Supaya guru-guru menyayangi kalian,”

“Dan kami boleh meminta libur? Jinjja?” salah satu anak melotot antusias.

“Hm. Lihat saja nanti. Apakah mereka akan memberinya, atau tidak.”

“Waaa. Aku harus seperti Sehun hyung. Supaya bisa mendapat libur khusus dari guru-guru.”

Sehun lagi-lagi nyaris tertawa. Namun gagal. Dia menyerah. Rupanya tak satupun bisa menyembuhkannya kecuali Irene.

Satu jam kedepan, Sehun dan anak-anak panti asuhan itu bermain bersama. Bermain apapun yang Sehun bisa lakukan. Petak umpet, bernyanyi, teka-teki sederhana, menggambar sampai bermain boneka tangan. Dia tak pandai melakukan semua hal itu. Namun anak-anak selalu saja berhasil tertawa dibuatnya, karna Sehun seringkali melakukan kesalahan dalam bermain.

Sampai jam makan siang datang, mereka semua bersama ahjumma menyantap makan siang yang sederhana itu bersama. Suasananya terasa amat hangat bagi Sehun, namun tak sedikitpun ia berhasil tersenyum.

Setelah semua selesai, ahjumma menggiring semua anak asuhnya untuk tidur siang. Sementara Sehun merapihkan ruangan, merapihkan apapun yang berantakan. Membersihkan sesuatu dengan santai. Selayaknya seperti apa yang sering ia lakukan sendiri di apartemennya, dulu.

Sehun kini melintasi seluruh ruangan sampai ke ujung belakang rumah. Ia menemukan sebuah kolam kecil yang tenang. Kakinya pun melangkah mendekat. Duduk di sebuah bangku kayu yang panjang di hadapan kolam itu. Kemudian menyilakan kedua kaki ke atas, dan memandanginya dengan tatapan kosong. Keberadaan keluarga Kim adalah satu-satunya keberuntungan luar biasa yang Sehun miliki di dunia ini. Lihat anak-anak itu, jauh lebih kecil dari usianya dulu ketika kehilangan orang tua. Sementara mereka harus menghadapi kenyataan pahit itu sedini ini. Dan tinggal di sebuah panti yang terus mengharap banyak uluran tangan. Sejauh ini, dirinya mampu hidup layak, karna keluarga Kim. Sampai hari ini, bahkan dirinya mungkin sudah dianggap seperti anak adopsi di rumah itu. Namun tetap saja, sesuatu selalu membuat dirinya merasa bersalah berada di sana. Bahunya seperti semakin membopong beban dan hutang yang tak sedikit.

“Kupikir kau anak yang terlalu berprestasi untuk menerima hukuman seperti ini.” Suara ahjumma menyahut dari belakang, kemudian duduk di sampingnya. Sehun menoleh.

“Kesalahan yang sudah kulakukan ini, memang kesalahan terburuk selama aku menjadi pelajar.”

“Separah itukah? Sampai-sampai semua prestasimu tidak cukup untuk membantu. Seulgi pernah membicarakan kalian semua satu-persatu. Dan dia mengatakan dengan takjub bahwa kau tidak terkalahkan. Selalu mendapat peringkat 1 di tingkat satu sekolah.”

Sehun mengangguk samar, kemudian menatap kembali permukaan kolam. “Tengah semester kemarin, peringkatku turun menjadi nomor 2. Sebelumnya, aku sudah mendapat peringatan… Hm, 2 kali seingatku. Dan inilah yang terburuk.”

Heol. Sampai kapan kau dihukum?”

“Sampai semester ini selesai. Aku hanya diperbolehkan mengikuti UAS. Hanya nilai UAS yang sempurna tanpa cacat yang benar-benar bisa menyelamatkanku untuk naik kelas.”

“Waw. Itu lebih dari 3 minggu lagi, benar? Bagaimana reaksi orang tuamu? Jika aku menjadi mereka, aku mungkin –“

“Aku tidak memiliki mereka.”

“Eh?”

“Aku sama seperti anak-anak asuhmu disini. Tak punya keluarga, satu pun. Kecuali keluarga Kai yang mengurus banyak kebutuhan hidupku. Aku merasa sangat berhutang banyak pada mereka.”

Ahjumma diam beberapa saat. Nyaris bertanya lagi hal-hal yang ia ingin ketahui. Namun dirinya paham betul, itu bukan pertanyaan yang akan mudah dijawab begitu saja. Maka dia pun tersenyum hangat. “Aku harap anak-anak disini bisa seberuntung kau, Sehun. Mendapat satu keluarga yang bisa menganggap mereka seperti anak kandung sendiri.”

“Ya, aku harap juga begitu.”

Ahjumaaa?“ sebuah sahutan terdengar dari dalam rumah, kemudian semakin mendekat. “Ahjumma kau –“

Sehun dan wanita disampingnya menoleh kebelakang, kemudian mendapati Seulgi sedang berdiri menatap Sehun terkejut. “S-sunbae?”

Oh? Seulgi-ah.”

Omo. Kau jadi membawa pesananku?” ahjumma segera berdiri semangat ketika melihat Seulgi membawa sesuatu dalam sebuah kantung keresek. “Gomawo, Seulgi­-ah.” Wanita itu mengambil alih kantung yang dibawa Seulgi lalu tersenyum padanya. Gadis itu membalas lalu mengangguk.

“Sama-sama, ahjumma.”

“Aku tinggal dulu, ya.”

Seperginya ahjumma dari sana, Seulgi lantas menghampiri Sehun kemudian duduk di sampingnya dengan posisi yang sama –menyilakan kaki keatas.

“Kau sedang apa disini, sunbae?” tanya Seulgi ramah.

Sehun mengedikkan bahu, “hanya mengisi kebosanan.”

Seulgi terkekeh pelan, “Kau tidak memberitahu Kai sunbae dan mengajaknya kemari?”

“Dan membuat kalian pulang bersama, begitu?” cibir Sehun, membuat Seulgi tersedak dengan ludahnya sendiri. “Aku berniat pulang sebentar lagi, sampai kau datang.”

Seulgi menganggukkan kepala. Lengang beberapa saat. Pandangan Sehun masih terpaku pada genangan kolam yang amat tenang. Sesekali beberapa ikan tampak melewati pandangannya.

“Apa kau tau sesuatu tentang Irene?” tanyanya tiba-tiba. Sedetik kemudian Sehun merasa menyesal. Dia pikir pertanyaan itu hanya terucap dalam benaknya, namun ternyata bibirnya tak mampu menahan itu.

“Eh? Tau sesuatu? Seperti?”

“Ng.. Entahlah. Kupikir, kau mungkin punya sesuatu yang bisa diceritakan soal Irene.” Sehun menggaruk kepalanya salah tingkah.

Seulgi tertawa, “Kau merindukannya, iya, kan?”

“Aish. Kau ternyata sama saja seperti Kai.”

Seulgi masih tertawa pelan, “Sebenarnya ada –“

“Sejujurnya aku penasaran karna sebelum final dance competition kau dan Irene terlihat sering mengobrol berdua. Intens seperti membicarakan rahasia paling rahasia.”

“Itu memang rahasia yang paling rahasia.” Balasnya dengan nada menggoda.

Sehun berdecak, “Ah, ya. Dan kenapa pula aku menanyakan rahasia para wanita?”

“Kau… menyukainya, sunbae?” tanya Seulgi tiba-tiba, namun mencoba hati-hati.

“Menyukainya? Menyukai apa?” balas Sehun tak paham.

“Ck. Irene sunbae. Kau menyukai Irene sunbae atau tidak?”

Oh. Sehun diam sejenak, pertanyaan macam itu lagi. Bagaimana bisa ia mengabaikan hal itu jika pertanyaan serupa lagi-lagi menghadapnya.

“Menurutmu, kelihatannya bagaimana?”

“Kenapa kau bertanya padaku?” cibirnya meledek.

“Jawab saja bagaimana menurutmu, Seulgi-ssi.”

Tawa Seulgi langsung meledak melihat tanggapan Sehun yang gemas seperti itu. “Aku tidak bisa menyimpulkan dengan semudah itu, sunbae. Tapi orang-orang selalu menyangka bahwa kau dan Irene sunbae pacaran.”

Sehun mendesah, “Ah jinjja. Apakah mereka terlalu banyak menonton drama? Kenapa sok tau sekali dalam menyimpulkan.”

“Itu salah kalian berdua yang selalu terlihat bersama. Dan berita terakhir, itu yang memperparah semua rumor kalian berdua.”

“Astaga.” Sehun menghembuskan nafas, “aku jadi tidak yakin bisa kembali menginjakkan kaki di tempat itu lagi.”

“Tapi kalian… benar-benar tidak –“

“Apa? Jangan berpikir yang macam-macam. Kita cuma teman, Seulgi. Cuma-teman. Semua orang pasti menyangka aku dan Irene tidur bersama, begitu? Aish. Pelajar seperti kami mana bisa diperbolehkan seperti itu?” gerutunya gemas.

“Nah, itu tau. Lantas kenapa masih mengizinkannya menginap?” ledek Seulgi lagi.

“Aku menyesal, kau puas?”

Seulgi lagi-lagi tertawa dibuatnya. “Sebenarnya kau selalu terlihat seperti laki-laki yang sedang jatuh cinta padanya, asal kau tau.”

“Eh?” Sehun segera menoleh cepat, “Benarkah?”

“Aku yakin Kai sunbae akan mengatakan hal yang sama.”

“Dia sudah mengatakan hal yang hampir serupa sebelumnya.”

“Lalu?”

Sehun diam lagi, mencari jawaban. “Lalu kupikir kau juga tidak mengerti dengan perasaanmu sendiri terhadap Kai, benar?” balas Sehun balik meledek. Kemudian ia berdiri dari tempatnya. “Ya sudah. Aku akan pulang sekarang sebelum Kai terlalu bersemangat menyusul kemari.”

Lawan bicaranya diam. Membisu gegara kalimat Sehun sebelumnya, namun kemudian ia menganggukkan kepala.

“Terima kasih sudah menemaniku membicarakan hal tidak jelas seperti ini. Aku duluan. Dah.” Sehun mengangkat satu tangannya kemudian melangkah meninggalkan Seulgi disana.

XxxX

 

SMA khusus putri itu tampak seperti sekolah-sekolah lainnya di Korea. Ketat, bosan juga melelahkan. Tapi beberapa peraturan yang baru pertama kali Irene temui, membuatnya mulai muak. Salah satunya adalah, penyitaan ponsel yang hanya boleh di ambil setiap 2 hari sekali dalam batas waktu 3 jam saja. Juga peraturan-peraturan asrama lainnya yang amat ketat dan disiplin. Irene merasa hampir gila, dia seperti tengah berada di dalam kerajaan kejam yang mendidiknya harus menjadi putri super anggun dengan segudang talenta. Dan satu hal lagi yang membuat Irene semakin muak; tak ada club dance.

Tak satupun mau berteman dengannya, termasuk teman sekamar di asrama. Paling tidak, teman sekamarnya masih bisa diajak berbicara jika ada hal-hal yang penting. Namun tetap saja, kesalahan dan pelanggaran yang Irene telah lakukan selama berada disana, membuat semua siswi menjaga jarak dengannya. Dan jangan tanya soal geng yang sok berkuasa. Hal semacam itu selalu saja ada di manapun, termasuk di sekolah sedisiplin itu.

“Oh, appa jebal.” Bisik Irene di ujung koridor asrama, ketika ia sedang mendapat kesempatan memegang ponsel. Dia tak menyia-nyiakan itu untuk menelepon sang ayah, memohon dengan sememelas mungkin.

“Aku yakin kau pasti bisa menghadapinya.”

“T-tapi –“

“Kita bicarakan lain kali, aku harus pergi.”

Irene menggerutu menatap layar ponsel. Ia rasa ayahnya benar-benar jadi amat kejam baginya saat ini. Jarinya pun beralih mengusap menu dan memilih pesan untuk membuka puluhan kotak masuk yang belum ia buka. Wajahnya seketika berbinar kala mendapati nama Sehun memimpin pesan masuk. Irene membaca semuanya dengan terharu, hingga seluruh rindu dari dalam dirinya ikut membuncah. Sampai di pesan terakhir, terdapat satu video pendek dari Sehun. Dia pun membukanya.

“Unni!”

“Nuna!”

“Kami harap kau selalu sehat di sana. Makan dengan banyak, istirahat yang cukup, dan ingat kami selalu.”

“Sehun oppa bilang, unni harus bertahan sedikit lagi. Kau pasti bisa menghadapinya. Jangan bersedih, dan tunggulah sampai waktu yang tepat mempertemukanmu dengan teman-temanmu.”

“Kami akan merindukanmu.”

Pelupuk mata Irene hampir basah, ia tak henti-hentinya tersenyum tersentuh melihat wajah-wajah malaikat panti asuhan itu. Sesuatu seperti memenuhi isi dadanya. Sampai sosok Sehun muncul di akhir video dengan wajah datar seperti biasa, wajah yang amat dirindukannya meski belum lama berpisah.

“Percayalah semua akan baik-baik saja. Telepon aku jika kau sudah melihat semua pesan ini.”

Video itu pun berakhir. Tanpa berpikir panjang, ia segera menelepon Sehun, sesuai dengan apa yang dimintanya.

Dengan perasaan rindu yang terus meluap, Irene dengan setia mendengarkan nada sambung yang nyaring sampai sebuah sahutan berat menyapanya dengan hangat.

“Irene.”

“Sehun-aaaaah.” Serunya dengan nada merengek.

“Merindukanku?”

“Tentu saja! Aku mungkin saja tidak akan serindu ini jika sekolah baruku bisa membuatku lebih nyaman. Tapi kenyataannya ini sangat buruk! Aku benar-benar seperti di dalam penjara.”

Tak ada balasan beberapa detik, membuat Irene ikut diam dan bertanya apakah Sehun masih disana. Namun tanpa dia ketahui, Sehun kini tengah tersenyum disebrang sana. Mendengar kembali suara mengomel Irene yang akhir-akhir ini menghilang dari kehidupannya.

Nee. Aku masih disini.

“Sehun­-ah, gomawo. Untuk semua pesan-pesanmu itu. Juga untuk videonya. Rasanya pasti sangat menyenangkan jika bisa bermain bersama kalian semua lagi. Kau membuatku benar-benar semakin merindukan kota Seoul.” Rengeknya lagi dengan suara memelas.

“Tenang saja. Sehabis UAS nanti, kita akan bertemu.”

“Ah, soal itu,” Irene mengigit bibirnya, tidak yakin. “Ayah meminta Kepala Sekolah untuk tidak memberiku libur kenaikan kelas. Itu artinya aku akan menjalani liburan di sini. Di penjara ini.” Lirihnya, merasa sangat kecewa mengingat kembali keputusan ayahnya itu.

Lawan bicaranya kembali diam, lantas lelaki itu bergumam. “Jika kau yang tidak bisa menemuiku, maka aku yang akan menemuimu.”

Oh? Maksudmu?”

XxxX

 

Sekolah masih berjalan sama beberapa hari selanjutnya. Setelah jam pelajaran terakhir, kelas Seulgi harus menghadiri jadwal tes renang bulanan. Semua berjalan biasa saja. Lancar tanpa sesuatu yang menyebalkan terjadi. Sampai 2 jam kemudiam tes itu berakhir, dan seluruh siswa dibubarkan dari ruang kolam renang. Seulgi harus tertahan di tempat itu, ketika menyadari resleting kantong bajunya terbuka. Saat ia periksa, rok seragamnya sudah tak ada disana. Seulgi menghembuskan nafas kesal, seseorang pasti sudah menjahilinya.

“Kehilangan sesuatu?” seseorang menyahut dibelakangnya, dan benar saja dugaan Seulgi. Saat dia berbalik, pandangannya menemukan 4 orang teman sekelasnya tengah berdiri dengan tatapan meledek. Salah satunya –yang paling sok berkuasa, mengangkat rok seragam Seulgi diudara tepat di atas air yang menggenang di dalam kolam.

Seulgi diam ditempat dengan mata dingin. “Apa yang kau inginkan?”

Wanita berparas menawan namun licik itu, tersenyum kecut. “Na? Aku hanya ingin membuatmu jera.”

“Jera?” satu alis Seulgi terangkat menantang, “Ini pasti soal Kim Kai, benar?”

Lawan bicaranya semakin tersenyum kecut. Kini ekspresinya tampak semengerikan nenek sihir bagi Seulgi.

“Sadarlah, kau tidak tau siapa yang sedang kau hadapi ini.” Ucap gadis itu ketus. Beberapa detik kemudian, ia melepaskan genggamannya dan membiarkan rok seragam Seulgi mengambang di dalam kolam renang kemudian tenggelam.

“Kau pikir aku akan peduli?” kali ini Seulgi yang tersenyum kecut. Mengeluarkan seluruh sisi terdinginnya untuk pertahanan. Dia cukup pintar untuk membaca rencana geng tak berguna itu. Rok hanyalah umpan, target sebenarnya adalah dirinya. Mereka ingin menenggelamkan Seulgi. Dia pun segera menutup resleting tasnya, kemudian menjinjingnya ke arah pintu keluar.

Menyadari rencana jahatnya gagal. Si ketua geng segera melangkah menyusul Seulgi, dengan tenaga yang cukup besar, ia menyenggol tubuh itu dan mendorongnya dengan satu telunjuk sampai gadis itu tercebur ke dalam kolam. Tak puas dengan apa yang sudah dilakukannya, ia pun memberi isyarat kepada 2 temannya untuk menyusul Seulgi ke dalam kolam sebelum dia mengelurakan diri dari air. Kedua kaki Seulgi segera ditarik dari dalam, menenggalamkannya dengan paksa. Membuatnya kesulitan bernafas dan bergerak dengan benar. Sekeras apapun ia mencoba untuk meraih daratan, tubuhnya tetap ditahan di dalam. Tidak, tidak hanya ditahan. Namun ditarik, digiring agar membuatnya kehilangan keseimbangan kemudian membiarkannya tenggelam di dalam sana.

Untuk pertama kalinya, ia mengharap Kai datang. Meskipun kemungkinannya tidak banyak. Hatinya berharap Kai akan datang dengan ajaib, menarik tubuhnya untuk menemukan keseimbangan, dan menyelamatkan dirinya dari kehabisan nafas ini.

Sunbae. Tolong aku.

XxxX

 

Byuurr’

Irene merasakan sekujur tubuhnya seketika basah kuyup. Dari atas, sampai sepatunya, semua basah. Juga dingin. Irene diam menundukkan kepala. Jantungnya berdetak kencang. Cemas, dan menahan panik. Sebuah hukuman baru saja diberikan kepadanya setelah ia melakukan satu pelanggaran yang ia yakini bukanlah kesalahannya.

“Ini sudah hampir dua minggu, Bae Irene. Sikapmu seharusnya sudah mulai berubah!” tegur wanita paruh baya dihadapannya dengan keras.

Kini dirinya tengah berdiri di halaman belakang sekolah yang luas. Masih dengan seragam yang lengkap membalut tubuhnya, salah seorang guru yang bertugas menjaga kedisiplinan siswi, mengguyurnya dengan satu ember air segar dari kamar mandi.

Irene ketakutan. Tak ada celah untuk membela. Buktinya sudah jelas. Hari ini, ponsel miliknya ditemukan berada di dalam laci mejanya di kamar asrama. Padahal ia yakin, dia sudah mengembalikan ponselnya ke kantor penyitaan. Dia sangat-sangat yakin, seseorang tanpa alasan sudah menjahilinya. Mengambil ponsel miliknya dan menyimpannya dengan sengaja di asrama. Dan jelas-jelas bukanlah kesalahan dirinya.

Alhasil inilah yang ia dapat; basah dan dingin. Juga malu.

“Berdiri disini sampai jam makan malam kau baru boleh kembali ke asrama. Mengerti?!” seru wanita itu tanpa ampun.

Irene semakin merunduk, suaranya menjawab pelan. “Y-ye. Algetseubnida.

Air mata segera turun dari pipinya, menyatu dengan buliran-buliran air yang baru saja membasahi permukaan wajahnya. Dia kesal, semakin tertekan. Dia ingin marah, tapi tak memiliki siapapun di tempat itu. Apa kesalahnya sampai-sampai seseorang melakukan ini padanya? Dia hanya membuat pelanggaran yang hanya merugikan dirinya sendiri, tidak pernah mencari masalah dengan orang lain.

“Sehun-ah. Aku sudah tidak tahan lagi.” Lirihnya parau. “Tolong aku.”

<<to be continued>>

 (gak) penting:

Yah tebece. Padahal sebenernya masih ada lanjutannya masih bisa dimasukin. Tapi tanggung ini tebece enak nih kalo disimpen di mari. /plak/

Slow update banget ya si tyar? TENGGELAMKAN SAJA AKU BERSAMA SEULGI DI KOLAM RENANG. Pffftt. Sejak hiatus, atau bahkan sebelum hiatus aku jadi slow update. Dulu-dulu bisa rajin update, bahkan satu minggu bisa sampe 2 chapter, itu karna ceritanya udah siap, atau emang diketiknya dari hari-hari sebelumnya. Tapi semua berubah sejak negara api menyerang. Semester ini tugas dan hafalan makin numpuk boook. Pusing pala ane (malah curcol). Jadi cuma bisa ngetik tiap weekend doang. Itu pun harus berebut komputer dengan bebenyit-bebenyit tak terkalahkan. Lol. INTINYA MAH MENTOK SIH WKWKWK /ditendang/. Makanya ceritanya ada yang berbelok dari shirotol mustaqim. /plak plak plak/

Silahkan tinggalkan jejak, meskipun kayanya udah bosen ngomen ngomen wkwkwkwk tapi aku harap penikmat masih ingin menikmati draft sampai beres /halah/. See ya muach

41 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Draft (Chapter 21)

  1. Baru baca chapter ini. Kok sedih ya liat Irene tertekan sampai hampir meneteskan air mata😢 *okeinilebay*. Yg jailin seulgi sebenernya siapa sih thor? Moga kai segera menolong seulgi yg sedang dalam bahaya. Buat sehun moga diberi kesabara dalam menjalani hukuman ini wkwk gajelas ah 😝

  2. “Jika kau yang tidak bisa menemuiku, maka aku yang akan menemuimu.” gue suka kalimat ini entah kenapa. gue bener2 sukaaaa.
    gue bener2 suka tulisan lu, ini udah chapter 21 dan gue masih gak bisa nebak bagaimana ini akan berlanjut. gue tunggu untuk chapter2 berikutnya thor, fighting ya😀

  3. Ahhh Makin greget sama ff iniiii
    Selgi gimna ???kai datang ga buat nyelamtinya ???
    Irene kasian bangettt ;( sehunnn tolong irenee !!!
    Nexttt

  4. Akhirnya update juga..tau gak thor aku tuh selalu nungguin ff ini, tiap hari ngecek udah update apa belom
    Pengen banget kalo Sehun itu nyatain perasaannya yang sebenernya ke Irene
    Next chap cepetan ya thor panjangin juga😜^^

  5. kenapaa yaa ampunn? seulgi irene tidak ada kah yang nolong mereka? kai sehun? kalian dimana? huhuhuhu sedih juga kalo mereka kayak gituu yaa ampun. mereka semua memendam rasa sendiri2, kecuali Kai. nyesek banget jadinya😥

  6. Ya Allah… Hatiku nyess nyessss krenyesssss😥 sedih hehh.. Hikseu… Miris amat ya kisah sehun-irene. Kasian mereka sama2 tersiksa. Hayati nggak kuat bang~ ini terlalu sedih, terlalu baper.. Meski ada kata2 sehun yang manis banget kayak gula jawa. Tapi nggak menutup kemungkinan kalau ini baper abis..itu juga siapa yg nenggelemin seulgi sok cantik banget dihh……………….
    Aaaaahhhkkk…!!! Aku nggak kuat nunggunya
    kak tyar.. Pokokny harus segera di update.. Tanggung jawab loh kak bikin anak orang nangis. . Hikseu. ..😥 semangat buat kakak ngetiknya dan real life nya semoga nggak membebani dalam menulis ff favorit ini… Wkwkwk

    • Lebih mirisan juga hidup ane 😂 /plakplak/ wkwkwkwkk ugggh yang kuat yah nunggunya wkwk ff ini gak ngebebani ko alhamdulillah semoga aku bisa segera update thanks yaa 😆💕

  7. Ya Allah… Hatiku nyess nyessss krenyesssss😥 sedih hehh.. Hikseu… Miris amat ya kisah sehun-irene. Kasian mereka sama2 tersiksa. Hayati nggak kuat bang~ ini terlalu sedih, terlalu baper.. Meski ada kata2 sehun yang manis banget kayak gula jawa. Tapi nggak menutup kemungkinan kalau ini baper abis..itu juga ………………..
    Aaaaahhhkkk…!!! Aku nggak kuat nunggunya
    kak tyar.. Pokokny harus segera di updet

  8. Ya Allah… Hatiku nyess nyessss krenyesssss😥 sedih hehh.. Hikseu… Miris amat ya kisah sehun-irene. Kasian mereka sama2 tersiksa. Hayati nggak kuat bang~ ini terlalu sedih, terlalu baper.. Meski ada kata2 sehun yang manis banget kayak gula jawa. Tasi nggak menutup kemungkinan kalau ini baper abis..itu juga siapa lagi yg nyeburin seulgi sok cantik banget..
    Aaaaahhhkkk…!!! Aku nggak kuat nunggunya
    kak tyar.. Pokokny harus segera di updet

  9. aku,aku disini setia,dan ga bosen bosenya ma Sehun/ hehee DRAFT…! emg tbc tuh pengen ane tendang ke planet pluto..biar nyasar pulangnya,,tp sayang ya tbc tuh punya Tyar,,jd ane pasrah aj dah,,padahal lg greget ma Sehun,,duh chapter ni,,cewe cewe ko pd basah basahan c,kai pasti punya ikatan batin donk,,tolongin Seulgi, tuh,,,atw Krystal gtu dateng…atw joonmyeon yg tau tau suka ma seulgi,,saingan ma Kai,biar rame/ngarang/. apapun itu moga Authornim Tyar selalu SEMANGAT, buat nulis DRAFT,so see ya!

  10. Tuh kan Author bikin greget. Pinter aja lagi cari TBC yg bikin penasaran dimana. Kan jadi minta segera di-update. Iya, jarak chapter yg satu ke yg lain nya lama bgt. Contoh nya chapter ini sama chapter 20 nyaris 3mgu pembaca nunggu. Tapi ga apa2, dimaklumi karena jg Author pasti sibuk di dunia nyata. Hehe
    Dibikin greget sama Hunrene kapan ungkapin perasaan nya. Gemes baca nya. Mending Kai & Seulgi seenggak nya Kai lebih menunjukan sikap suka nya ke Seulgi. Inti nya mereka berdua lebih terlihat kayak org pacaran ketimbang Hunrene yg masih malu2 kucing. Hehe *gemes*
    Sedikit typo masih ada. Itupun kecil. Ga terlalu terlihat. Pokok nya tetep setia nunggu kelanjutan nya sampe habis.

    Btw ngomong2 soal ff POL kan Irene bikin buku The Clan, nah The Clan itu sendiri hasil imajinasi Author atau memang sebenar nya Author punya niatan utk bikin cerita The Clan?

    • Oh ya ada 2 hal lg. Pertama, ku suka bagian dimana Sehun pergi ke panti terus memikirkan Irene. Jd pengirim sms terbanya ke Irene. Dan suka waktu Sehun kirim video anak panti beseŕta dirinya. Sama suka kata2 Sehun yg bilang kalo “Jika kau yang tidak bisa menemuiku, maka aku yang akan menemuimu.”. Suka banget kata2 itu. Feel nya dapet bgt

      Yg kedua, ku mohon sama Author di-update kelanjutan nya secepat nya ya. *maksa*
      Ga sabar nunggu. Soal nya ff ini bagus bgt jd pengen baca lg dan lg.

    • HUAHAHAHAH OOO YA DOOONG sengaja banget nyimpen tebece disitu dan sukses bikin penasaran wkwk. Duuh makasiya atas pengertiannya aku akan usahakan gaakan lama lama updatenya kkkk yeay thanksthanksthanks komen kamu bikin aku terhura /lap ingus/ wkwkwkwkk 😂
      The clan itu diambil dri judul albumnya monsta x (suka monsta x juga) wkwk ceritanya juga spontanitas mungkin klo pumya rejeki ide bakal aku tulis fiksinya beneran hueheheheheh 😆

      • Iya jgn lama2 ya Author. Ditunggu kelanjutan nya *teteup* 😆
        Btw memang aku jg pernah mikir kesana waktu Irene bikin buku The Clan. Aku pikir jg Author pasti terinspirasi judul buku nya dari album nya Monsta X. Terus Monsta X kan mau konser di Indonesia, apa Author ikut nonton?

      • Udah ada ko bisa di cek hihi 😆
        Kalo dompetku setebel kamus dan izin gaperlu nangis nangis sih aku mau nonton konser exo aja 😂 /plak/

  11. yaa aku jg sangat” nunggu kemunculan ff ini…
    kok irene gk nglawan, apa gk ada sehun kai dia jadi lemah…appanya jg kok cuek kebangetan gtu, sebellll

    aku harap kedua pangeran dari antahberantah itu menyeamatkan keduanya…toh sehun lg dskors, harusnya bisa nemuin irene…dan kai dia itu kaya punya radar GPS, ato dia itu cenayang yg tau bngt keadaan seulgi apapun yg terjadi..

    ahhh…gk sabar sama kelanjutannya

  12. Semuanya menyedihkan irenexsehun ga bisa ktemu, seulgi tenggelam. Dan yang paling parah kenapa ga di lanjuut kenapa malah tbc????????????
    Ga apapa deh pokonya lanjuut terus ka .. Fighthing!!💪

  13. Ahhh itu nasibnya seulgi gimana? Cepat datang dong kai kasian seulgi dikerjain sama orang orang jahil huhu.. Aku sedih liat sehun irene pisah gini mana irene masuk asrama lagi hftt
    Selaluu ditunggu ya kak next chapternya uda penasaran bgt ini ><

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s