[EXOFFI FREELANCE] Saranghae Mr. Oh (Chapter 2)

161508-saranghae-mr-oh.png

SARANGHAE MR. OH

[]  CHAPTERED  []  T  []  OH SEHUN  []  JUNG NAMI  []  BYUN BAEKHYUN  []  ROMANCE  []  SCHOOL LIFE  []

[STORY BY JASONB]

|| This is my work. The cast is my mine. Sorry for typo’s. Don’t copy without my permission. Don’t judge me. Any art or story is my mine. I don’t plagiarize property of others people. ||

Chapter 1

.

.

.

Keadaan paling menyebalkan adalah ketika dirimu dihadapkan oleh situasi paling sulit yang mengharuskan dirimu menentukan pilihan antara dua kemungkinan. Yap, dilema, satu kata paling anti dalam kamus seorang Jung Nami.

.

.

.

Author Side

Hati Nami hancur berkeping-keping. Dua kenyataan yang begitu menyakitkan tiba-tiba menabraknya secara bersamaan membuat luka paling menyakitkan dan menyesakan relung batinya. Seolah ia tengah dicekik oleh tangan nakal seseorang yang membencinya, bahkan rasa ini lebih menyakitkan.

Nami benci dirinya, untuk saat ini. Keadaan seperti ini baru kali pertama ia hadapi. Ya, Nami akui ia kaget. Keadaan ini memaksanya bertingkah tidak layaknya dirinya. Fakta paling memuakan baginya adalah kemunafikan. Seolah ia telah lelah mempercayai kebaikan seseorang. Bukannya ia tak tahu namanya terima kasih, tapi ia lebih ingin waspada.

Satu kenyataan paling menyakitkan mengajarkannya pada kepercayaan. Kepercayaan itu sulit dicari, tapi satu kebohongan bisa merusaknya. Sebuah kata sederhana namun sangat berefek besar jika salah sedikit, ibarat api kecilpun bisa jadi besar.

Gadis itu – Nami – tengah menenteng sebungkus makanan dan soda. Langkahnya dibuat seperti biasanya agar tak meninggalkan kebingungan beberapa orang yang mnegenalnya. Ia tersenyum, begitu manis saat netranya menatap teman-teman satu klub-nya tengah latihan keras.

“Teman-teman! Aku bawa jjajangmyeon di sini!” serunya lantang sembari mengangkat tinggi bungkusan putihnya.

Ada aura menyenangkan dari suaranya yang dapat membius seluruh orang. Teman-temannya berbondong-bondong menghampirinya dengan raut yang berseri. Ia balas tersenyum lebar – senyuman yang selalu menjadi andalannya – walau suasana hatinya tengah buruk.

Menyembunyikan kesedihan bukan berarti kau tidak mau membaginya, tapi ada maksud dari itu. Sederhana, sebab kau tidak ingin membebaninya. Walau demikian saat kau tak mampu menampungnya sendiri saat itulah sahabat diperlukan.

Nami meninggalkan kerumunan yang tengah menyantap lahap jjajangmyeon darinya, menghampiri pelatihnya. Pemulihan cideranya mungkin pilihan yang tepat saat ini. Setidaknya bebannya sedikit berkurang – walau tak seluruhnya.

“Pelatih, apa kau sibuk?” tanyanya seraya meletakkan tanganya di belakang.

Pelatihnya mendongak kala ia duduk di bantalan kursi putarnya. “Tidak, ada yang ingin kau katakan, Nami-ah?” ia menggeleng lantas mengemasi tumpukan kertas di atas mejanya.

“Tentang pemulihan cideraku…kurasa aku akan melakukannya.”

Sang pelatih tersenyum, ia mengalun langkah mendekati Nami lantas menepuk pelan pundak gadis barbar itu.

“Pilihan yang tepat. Hanya enam bulan dan masih ada waktu yang panjang setelah kau kembali.”

“Setelah enam bulan…mungkin aku tak akan kembali. Karena klub ini aku menerima luka yang berat.” ia berujar pelan. Rasa sesak tiba-tiba meringsek masuk dalam dirinya. Membuat kabut putih bening pada area netra hitamnya.

“Jika itu pilihanmu, maka aku juga tak bisa melarangmu. Kau yang menentukan hidupmu.”

“Pelatih…tentang tadi…aku masih memikirkannya. Aku butuh waktu. Melepas sesuatu yang berarti bagiku itu sulit.”

“Kenapa suasananya jadi sedikit berubah?” pelatihnya menggaruk tengguk yang tak gatal – hendak mencairkan suasana – miliknya.

Kurva cantik tercipta pada wajah cantiknya, “Aku sedikit terharu saat pelatih mengatakan ‘kau yang menentukan hidupmu’. Kupikir kau satu-satunya yang mencoba menyemangatiku.” ujarnya lantas tertawa keras yang disusul oleh tawa keras dari pelatihnya.

“Kau temui saja teman-temanmu.” seru sang pelatih kemudian.

“Aku sedang dilema saat ini, apa yang harus aku pilih, pelatih?” gadis itu berucap memelas sambil bergelayut manja – layaknya anak kecil – pada lengan pelatihnya.

Ia masih melanjutkan ucapanya, “Apa aku harus meninggalkan klub atau memulai mencintai pelajaran matematika?”

“Pelatih tahu, ‘kan? Ibuku ingin aku belajar matematika tapi aku tidak menyukainya.”

“Mana yang lebih berat untuk kau lepaskan saat ini?”

Nami semakin merosotkan bahunya. “Aku punya alasan untuk meninggalkan klub, tapi keluar dari klub adalah alasan agar aku belajar matematika.”

.

.

.

Nami Side

“Kau itu naif atau bodoh?”

Entahlah, kenapa kata-kata itu masih dengan sangat jelas terniang dalam pikiranku, terekam begitu jelas dan sulit untuk dilupakan. Ada rasa sesak dan kesal secara bersamaan dalam diri ini.

Memangnya tidak ada yang namanya teman? Hei, aku tak pernah berfikir bahwa teman adalah senjata paling menyakitkan bagi diriku. Apa niat baikku harus dibalas dengan sebuah penghianatan?

Bahkan sekarang aku berfikir, apa aku itu naif atau bodoh? Hingga tak bisa membedakan mana yang baik dan buruk untuku? Sekarang bahkan aku meruntuki diriku sendiri.

Ah, Kim Jisoo…perempuan munafik itu ternyata memainkan perannya dengan sangat baik hingga aku tidak dapat membedakan kebaikan dan maksud terselubungnya.

Aku ingin mengumpat, tapi tidak tahu pada siapa? Pada diriku atau pada perempuan itu? Jika pada diriku, alasanya sederhana. Aku terlalu naif, mungkin. Dan pada Jisoo…mungkin karena dirinya yang telah menusukku dari belakang.

Berkaca pada kejadian tadi, aku sekarang lebih pemilih. Aku tidak ingin jatuh dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya. Bukan berarti aku harus membatasi pertemananku, tapi mungkin aku lebih pemilih setelah ini.

Terlepas dari apa makna dari pertemanan, ada yang lebih mengganjal dalam hatiku. Akhir dari sebuah hubungan. Bagiku mungkin akan berbanding terbalik dengan pemikiran orang lain. Tapi bagiku, akhir sebuah hubungan bukan berarti kita harus saling memusuhi. Sebab bagiku, yang namanya mantan kekasih itu tetap teman. Aku bukan orang dengan tipe seperti itu. Ya, aku akui hatiku sakit, tapi percuma jika aku memusuhi Baekhyun. Akan sangat banyak orang yang akan membelanya. Guru bahkan beberapa “fans” – nya akan membelanya, sebab ia murid teladan dan kesayangan para guru. Banyak cinta ia terima dari mereka.

Jadi…mungkin aku akan memutuskan untuk terus menjalin persahabatan dengannya tanpa rasa sayang maupun cinta lagi. Lagipula Baekhyun tak pernah bisa lepas dari pesonaku.

Aku duduk di atas bantalan empuk ranjang rumah sakit. Netraku menatap kaki yang terbalut oleh gips sepanjang enam inci. Sekali lagi aku ingin marah tapi entah pada siapa.

“Jangan terlalu membebani kakimu. Gips – nya akan kupasang selama enam bulan. Setiap dua minggu sekali datang dan lihat perubahannya pelan-pelan.” ucap sang dokter sembari menulis sesuatu dikertas.

“Ada obat untukmu jika tiba-tiba ada gejala sakit yang kau alami.” ia menyodorkan bungkusan putih yang mungkin berisi obat.

Kami – aku dan pelatih – keluar dari ruangan tadi, mengayun langkah menyusuri lorong rumah sakit. Sunyi, aku paling tidak suka suasana seperti ini.

“Olimpiadenya seminggu lagi, ‘kan?” ujarku memberanikan diri memulai konversasi antara kami.

Pelatih mengangguk, “Iya, Jisoo akan mengganti tempatmu di tunggal putri.”

Ah, nama itu. Aku muak mendengarnya. “Harusnya aku memilih berada di ganda campuran atau ganda putri, setidaknya aku tak akan mengalami cidera parah seperti ini.” balasku menatap kaki berbalut gips.

“Kau kan tidak suka kerjasama. Kenapa kau jadi aneh sekarang?” pelatih mengernyit sangat kentara di netraku.

Aku menggeleng, mencoba menampik kecuriagaan pelatih. “Ah, lupakan. Final nanti aku akan mendukung team sekolah.” ujarku bersemangat.

.

.

.

Aku tengah bergelayut dengan pikiranku memikirkan apa yang pas untuk kutulis di kertas kosong di pangkuanku. Otakku buntu saat ini. Aku ingin menulis surat perjanjian untukku dan Baekhyun.

Satu menit, lima menit pertama hingga lima menit kedua dengan lihai aku mulai menuliskan satu persatu kata yang ada dalam otakku.

Selesai. Aku tersenyum, akan tetapi aku tak tahu hasilnya akan seperti apa nanti. Yang aku yakini hanya satu, Baekhyun tak pernah menolak pesonaku. Tapi ingatlah, itu dulu. Sekarang? Apa pesonaku akan sangat sulit menggoda Baekhyun lagi?

.

.

.

Baekhyun Side

Jemariku tengah memegang pensil yang sedikit tumpul. Beberapa latihan soal ini begitu memuakan. Aku butuh istirahat, tapi hatiku yang lain menolaknya. Jadi aku putuskan untuk terus mengerjakanya. Ekor mataku menangkap Nami tengah berjalan – sedikit pincang – ke arahku.

Aku sedikit terenyuh melihatnya. Tadi pagi sepertinya ia masih baik-baik saja. Mencoba mengabaikanya, aku kembali fokus pada pekerjaanku. Secarik surat darinya tergelatak di sampingku yang seketika membuatku memngernyit.

“Baca saja dan jangan protes. Aku butuh jawabanmu.” ujarnya cepat saat aku hendak menanyakannya.

Kubuka pelan kertas putih yang terlipat di genggamanku. Netraku mulai fokus pada tulisan tangannya yang rapi dan cantik.

Aku bingung harus memulainya dari mana. Saat ini aku tidak tahu situasi seperti apa yang menimpaku. Intinya hal buruk yang tak pernah kubayangkan saat ini tiba-tiba menabrakku secara bersamaan. Aku tidak ingin cerita, karena salah satunya kau sudah tahu.

Sekarang ini aku bingung dan delima, harus memilih mana. Antara meninggalkan klub atau fokus pada nilai akademik-ku yang mungkin turun semester lalu. Jika kau ingin tanyakan alasanya apa, maka aku tidak bisa menjawabnya. Biarkan hal ini aku sendiri yang tahu, sebab aku tak ingin membebanimu.

Sekarang aku tidak akan memilih, tapi menjalaninya beriringan. Aku tengah fokus pada pemulihan cideraku. Itu artinya aku akan vakum – bukan keluar – dari klub. Selama itu pula, aku ingin kau mengajariku matematika, sebab aku lemah dalam pelajaran menyebalkan itu. Aku tidak ingin kau protes, karena aku butuh jawabanmu. Hanya ya atau tidak.

Sekarang setelah kau membaca surat ini, aku ingin kau menghadap ke arahku dan mengatakan jawabanmu. Secepatnya!!

Usai membacanya aku menoleh kepadanya. Aku yakin netra kali saling beradu tatap selama beberapa sekon. Ia memasang tampang memelasnya. Jika sudah seperti ini aku tidak bisa menolaknya.

Kuhembuskan nafas panjang, tanpa ragu aku mengangguk padanya. Ia melonjak senang membuat atensi seisi kelas ke arahnya. Wajahnya merah padam sekarang, ia menunduk malu lantas mendekatiku.

“Kapan kita mulai belajarnya?” ia berbisik padaku.

Aku menimbang-nimbang, sebenarnya banyak waktu luang untuknya. “Malam ini di kantin asrama, kurasa lebih cepat lebih baik.”

“Dua bulan ajari aku matematika, sekitar dua minggu kita bahas pelajaran lain.” ujarnya lantas berlalu pergi, mungkin ke klub-nya atau malah membolos.

.

.

.

Aku tengah duduk di kursi yang tertata di tengah-tengah kantin asrama. Ugh, ini sudah setengah jam namun Nami belum menunjukan batang hidungnya. Mungkinkah ia lupa? Cih, sudah kuduga, ia tidak pernah bisa konsisten dengan keputusannya. Baru beberapa jam ia memintaku mengajarinya, sekarang bahkan ia belum datang.

Ya, aku masih bisa sabar – terpaksa aku menyibukan diriku – menunggunya. Rasa bosan mulai menyelimuti diri ini. Haruskah ku telepon dirinya – sekedar menanyakan kepastian.

Suara derap langkah menyapu runguku – mengalihkan atensiku – membuatku menatap ke belakang. Ia dengan kaki gips-nya berjalan ke arahku. Jangan lupakan senyum yang selalu ia pasang di wajahnya yang entah mengapa tak bisa membuat semua orang marah padanya.

“Kau terlambat setengah jam.” ujarku saat ia menyandarkan dirinya di depanku.

Ia berdecak lantas menatapku sejenak. “Kau banyak protes,” protesnya dengan wajah yang benar-benar menggelikan.

“Kita mulai belajarnya.” ujarku cepat.

Jemariku membuka setiap lembar buku di depanku. Netra ini tak henti-hentinya meliriknya sekilas – hanya untuk melihat kelakuannya yang menggelikan – lalu terkadang beralih pada bukuku saat ia tak sengaja menatapku.

“Apa yang kau tak mengerti tentang materinya?” tanyaku kala ia mengernyit – tak paham.

Ia mengendikan bahu, menatapku dengan tatapan memelasnya. “Entahlah, kurasa materi terakhir.”

“Tentang integral tak tentu?” tanyaku memastikan.

Jemarinya sibuk memainkan bolpoinnya, otaknya mungkin tengah berfikir.

“Ah, benar. Itu,’kan materi terakhir dari guru Kim?” ia berseru mengatakan kepastian dari pertanyaanku.

.

.

.

Nami Side

Aku bosan, sangat bosan sampai rasa kantuk menjalar. Penjelasan Baekhyun benar-benar membosankan. Sudah setengah jam ia bicara, namun tak ada satupun dari ucapanya yang kumengerti.

“Hei! Sebenarnya kau sungguh-sungguh memintaku mengajarimu, tidak?” serunya seketika mengalihkan atensiku padanya. Aku sontak kaget, ini pertama kalinya ia membentakku.

“Kau pikir menyenangkan membuang waktu hanya untuk mengajarimu sementara kau tak sungguh-sungguh?!”

Aku membuang muka, sebenarnya aku ingin mengatakan bahwa wajahnya lucu saat marah. Aku menahan tawa kerasku meledak saat kulihat wajah lucunya itu.

“Kau pikir aku bisa menerima penjelasannya dalam sekali belajar? Kau tahu,’kan otakku itu tak sebesar otakmu.” balasku seraya menutup buku. Aku mendorong kursi hendak pergi dari sana, namun lengan Baekhyun mencekalku.

“Kau mau pergi kemana? Penjelasanku belum selesai.” ujarnya masih mencekal lenganku, kali ini lebih keras hingga aku merintih pelan.

“Lepaskan! Kau baca sendiri bagian terakhir yang belum kau ucapkan padaku.” sentakku ikut tersulut emosi. Aku menyibakan lengannya lalu berjalan menjauhinya.

Aku mengambil langkah yang salah. Sifatnya tak pernah aku lihat sebelumnya benar-benar menyiksaku. Bagaimana ada laki-laki kasar yang jadi pujaan oleh murid perempuan bahkan jadi murid kesayangan para guru. Aku ingin menyalahkan dunia, kenapa orang seperti itu harus ada dan yang lebih menyebalkan kenapa ia jadi bagian dari hidupku.

Satu hari saja sudah bisa menjelaskan seperti apa selanjutnya yang akan terjadi padaku jika kuteruskan belajar dengannya. Mungkin akan seperti tikus dan kucing – yang tak pernah akrab – setiap harinya.

.

.

.

TBC

2 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Saranghae Mr. Oh (Chapter 2)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s