[EXOFFI FREELANCE] Without You

without-you

Without You – Rhifaery

Lay & OC || Sad || G

 

Gadis itu berjalan menyusuri lorong gedung apartemen yang tampak sepi. Pada tangannya memegang sebuket mawar merah. Bunga lambang cinta juga kebahagiaan. Hanya saja ekspresi seperti itu tidak terlihat di wajahnya. Tampak kosong. Hingga tangan kecilnya terulur membuka gagang pintu lantas masuk ke dalamnya.

Gelap dan sepi. Barangkali dirinya tak sadar, sejak kapan ia mulai terbiasa dengan itu hingga menanggalkan sifat penakutnya. Sekalipun saklar lampu ada tepat di depan mata, dia menolak menekannya. Langkahnya menuntunya pada ruangan yang tak asing baginya.

Tak ada alasan mengapa dia kembali ke tempat ini. Tempat yang dulu ia habiskan dengan penuh senyuman, kebahagiaan berkat kehadiran seseorang.

Orang itu, Hannah merindukannya sangat.

Seseorang yang kini berada di batas berbeda dengannya. Menghilang bagai kedipan mata bahkan sebelum dia mengucapkan selamat tinggal untuknya.

Benar saja, Hannah sangat membencinya. Membenci takdir yang  sengaja merengut kekasihnya, orang yang dicintainya merangkap orang yang  berarti baginya.

Zhang Yixing.

Fotonya terpajang di dinding kamar. Tersenyum lepas tanpa beban. Karena orang itu, Hannah tak dapat lagi membendung air matanya. Kesedihan yang teramat sangat juga kehilangan yang ia rasakan.

Untuk menangis, dia sudah lelah. Seseorang yang berada di tempat berbeda tentu tak bisa lagi melihatnya bukan? Lalu untuk apa dia menangis? Barangkali dia hanya menangisi garis takdir yang tak mungkin berubah.

***

Memandangnya sedekat ini, membuat hatinya terasa damai. Ia letakkan buket mawar merah itu di depan bingkai berisikan fotonya. Bukan karena Yixing menyukai bunga melainkan ini adalah hari ulang tahunnya. Pun waktu itu tak berlaku lagi baginya.

Pada detik pukul 00.01, gadis itu menyanyikan lagu ulang tahun. Meniup lilin yang berada di atas kue kecil. Seperti kebiasaan dulu-dulu yang tak pernah ia ruba.

Dulu, selepas ia menyanyikan lagu ulang tahun, seseorang akan mengecupnya, memeluknya lembut dan memakan kue bersama-sama. Hatinya mencelos saat untuk pertama kalinya dia akan memakan kue itu sendiri.

“Selamat ulang tahun Lay?” Ucapnya lirih. Tak ada sahutan, hanya hembusan angin yang bersuara mengetuk pintu-pintu jendela.

“Hey, kau tidak menciumku?” Ia bersuara lagi. Menatap bingkai foto lembut seolah dia sedang berbicara dengan seseorang.

“Baiklah, aku akan menghabiskan kue ini sendiri.”

Sudah. Hannah tak mampu lagi meneruskan ucapannya. Air matanya mulai merebak. Buru-buru ia memalingkan wajahnya dari foto itu. Lay tidak suka melihatnya menangis. Sungguh sangat membencinya. Teringat potongan memory silam yang sempat jadi bagian hidupnya.

“Kenapa menangis?” Tanya Yixing kepadanya. Bagaimana tidak, orang yang dia panggil dengan sebutan Lay itu melamarnya di jembatan Ponte Dei Sospiri yang menjadi tempat favoritnya. Memberinya cincin emas putih yang sematkan di jari manisnya.

            “Kenapa menangis?” Tanyanya lagi.

            “Bodoh, Aku menangis karena bahagia!” Tukas Hannah disertai pukulan kecil mengenai bahunya.

            Yixing menghirup napas panjang. Ia rengkuh wajah gadis itu dengan kedua tangannya, “Ada perbedaan mendasar antara kebahagiaan juga kesedian. Jadi jangan kau samakan ekspresimu saat senang maupun susah, sakit maupun sehat, menangis ataupun tertawa karena sebenarnya yang ingin kulakukan adalah melihatmu bahagia dan bisa tertawa lepas.”

            “Jadi haruskah aku tertawa keras sekarang?” Tanyanya, masih menahan agar tangisnya tak lagi keluar.

            “Ya, tertawalah sekeras mungkin.”Kata Yixing dengan mata berbinar. Lantas keduanya pun tertawa bersamaan. Di tempat favorit mereka yang  menjadi saksi bagaimana jalannya cerita ini bermula.

            Kenangan yang terlintas begitu saja seiring dengan air matanya yang tak pernah berhenti mengalir.

“Lay maaf. Hari ini aku menangis lagi.”

***

Dalam perenungannya, Yixing memandangnya prihatin. Gadis itu, yang dia cintai kini berubah menjadi seorang  yang menyedihkan. Matanya membengkak juga wajahnya yang terlihat tirus akhir-akhir ini.  Bukan berarti dia tak tahu bahwa gadis itu tidak makan selama dua hari. Dia bersamanya dan dia tahu semuanya.

Benar-benar kejam bukan, saat takdir membawamu ke alam berbeda agar kau tak bisa lagi menyentuhnya apalagi menghapus air matanya.

Pada akhirnya Yixing lah yang termakan ucapannya sendiri. Dia melarang Hannah menangis namun dia akhirnya menitikkan air mata pula. Untuk kesekian kalinya dia mencoba menyentuh wajah gadis itu. Kenyataan dia tidak akan bisa melakukan  karena tangan itu tembus begitu saja layaknya sebuah bayangan.

Tuhan bagaimana ini. Ia merintih dalam hati. Kenyataan membuatnya terisak saat  melihat orang yang kau cintai menderita sementara dirimu tak mampu berbuat apapun.

Andai saja dia tahu waktunya sependek ini, ia pasti akan membuat Hannah lebih bahagia. Tidak akan pernah ia sia-siakan hari  bersamanya. Dan mungkin ia bisa pergi dengan perasaan yang lebih baik.

“Sudah kubilang, Sehun itu sahabatku. Kita sudah berteman sejak lama harusnya kau tak perlu secemburu ini.” Ucap Hannah kesal.

            “Apa sahabat harus pergi bersama-sama, kau bahkan tidak menjawab teleponku saat bersamanya.” Bantah Yixing dengan marah.

            “Dia hanya memintahku membantu pekerjaannya, apa itu salah?”

            “Kenapa kau, apa dia tak punya orang lain lagi selain dirimu?”

            “Tidak!” Tukas Hannah tegas. “Hanya aku yang dia punya di hidupnya. Dia kehilangan ayah ibunya sejak umur 6 tahun. Selama itu akulah satu-satunya orang yang dekat dengannya.”

            Gigi Yixing bergemeletuk Begitukah? Bahkan sekarang kekasihnya lebih membela pria sialan itu dibanding dirinya.

            “Tolong jangan mengkengkangku seperti ini Lay, aku mencintaimu selamanya tidakkah itu lebih dari cukup?” Digenggamnya tangan kekar itu dengan penuh permohonan. Namun tidak seperti yang ia duga, Yixing menepisnya dengan kasar.

            “Terserahmu saja.” Ucapnya berbalik arah.

            Begitu cepat waktu berjalan hari itu, sampai akhirnya Yixing menyadari dia tidak berada di tempat sama sebelumnya. Raga dan jiwanya telah terpisah. Dirinya yang tersulut emosi, tidak menyadari truk besar yang lewat di depannya. Kecelakaan tragis pun tak terelakkan lagi. Ditatapnya tubuh yang bersimbah darah juga seorang wanita  dengan tangis yang hebat.

***

            Semua sudah terlambat. Apa yang sudah terjadi tentu tidak dapat terulang lagi. Sekalipun kesempatan kedua itu ada, itu hanya  diperuntukkan bagi yang hidup.

Bagi Yixing, memandangnya dari jarak sedekat ini merupakan kesempatan terindah yang diberikan tuhan untuknya. Sekalipun itu masih belum cukup. Namun dia bisa apa? Wujudnya hanyalah sebuah bayangan, tanpa subtansi dan hidup dalam kenangan saja.

Seketika Hannah beranjak dari tempat tidurnya. Kakinya melangkah mendekati sebuah jendela yang terbuka lebar. Tunggu, apa yang akan dia lakukan? Tidak, dia tidak boleh melakukannya. Tidak boleh!

“Haruskah aku menyusulmu Lay?” Ucapnya melemah.

“Tidak. Kau tidak boleh melakukannya sayang?” Yixing mulai takut. Percuma, seberapa banyak ia berbicara suaranya tidak akan mampu Hannah dengar. Tuhan tolong, jangan biarkan dia melakukannya.

“Aku mencintaimu Lay….”

“Aku juga, tapi tolong jangan lakukan itu. Kau tidak boleh begitu.” Sekali lagi Yixing merasa frustasi. Ia benar-benar ingin mencegah tindakan bodoh yang dilakukan gadisnya itu.

“Dan aku ingin bersamamu…-

“TIDAAKKK…!!!!”

Yixing tak tahu lagi apa yang benar-benar terjadi padanya. Tangannya sudah memegang tangan Hannah rapat. Dan anehnya ini nyata.

Kulitnya tidak lagi menembus seperti sedia kalah. Ia dapat memegangnya, menariknya hingga Hannah pun bisa selamat dari tindakan bodohnya itu.

“Lay, kau kah itu?” Tanya Hannah pelan. Entah sebuah ilusi, gadis itu  merabah wajahnya pelan. Meyakinkan diri bahwa inilah wajah orang yang sangat dicintainya. Ya, ini nyata. Yixing ada bersamanya saat ini, di depannya.

“Ini aku.” Jawabnya lirih hingga membuat tangis Hannah pecah. Kerinduhan yang dalam juga rasa cinta yang berlebih. Hannah ingin sekali memeluk sosok di depannya, namun takut jika ini hanya imajinasinya saja.

“Tolong jangan lakukan hal bodoh lagi.” Sambungnya.

Hannah menggeleng , “Aku ingin bersamamu Lay, kenapa kau tak membawaku saja, kau tahu kan aku benar-benar tak bisa hidup jika tanpamu?” Ucapnya berlinang air mata. Setahun berlalu, untuk pertama kalinya dia bisa melihatnya. Berpakaian putih juga wajah yang bersinarnya. Mungkin dia bahagia di surga dan tidak mau membagi kebahagiannya itu dengannya.

“Bukankah sudah ku bilang, aku sangat benci melihatmu menangis?” Tangan itu akhirnya menyentuh wajahnya. Sentuhan yang sama, dengan lembut dia mengusap air matanya yang mengalir lewat pelupuknya.

“Aku tidak menangis, siapa yang menangis sih?”

Yixing akhirnya tersenyum. Ia bahagia melihat sikap manja gadis itu telah kembali, “Hiduplah dengan baik setelah ini.”

Pertanyaan itu seolah memukulnya pelan. Hannah memegang erat tangan Yixing agar tidak lepas seperti sebelumnya, “Kau tidak akan meninggalkanku lagi kan?”

“Tentu saja tidak, aku disini akan bersamamu, melihatmu hidup dengan baik. Walaupun itu tidak denganku, aku ingin melihatmu menikah, melihat anak-anakmu tumbuh besar hingga rambutmu memutih.”

“Tapi aku ingin bersamamu.”

“Tidak semua yang kau inginkan akan terkabul sayang, kau tidak bisa mengendalikan waktu yang terlanjur mengambilku, tapi kau masih bisa bisa mengendalikan hidupmu sendiri.”

Perlahan bayangan Yixing mulai memudar. Ia sadar waktu yang diberikannya terbatas. Tak ingin menyiakan-nyiakan kesempatan ini Yixing melanjutkan ucapannya, “Aku mencintaimu dan itu berlaku selamanya. Jadi tolong jangan lakukan hal bodoh lagi. Kau harus hidup dengan baik mulai sekarang walaupun itu tanpa aku.”

Hannah mengangguk, terisak hebat saat bayangan itu hanya tinggal bayangan. Kini Lay benar-benar hilang. Tak terlihat, namun semua yang dia katakan sangatlah berbekas di hatinya. Dia menginginkan kehidupan yang baik untuknya tentu ia akan melakukan.

“Baiklah, aku janji akan hidup dengan baik.” Katanya lirih. Percaya bahwa Yixing masih ada di sampingnya sekalipun ia tak mampu melihatnya.

end

 

 

 

 

 

 

 

 

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s