[EXOFFI FREELANCE] For you

for-you-oneshot

Title : For you

Author : Sellafeb (@sellafeb)

Cast : Kim Jongdae (EXO) | Son Seungwan (RV) | Byun Baekhyun (EXO) | Kim Bona (WJSN)

Genre : Romance, Angst.

Rating : G

Length : Oneshot

Disclaimer : Ff ini murni buatan aku selaku Author. Dan ff ini pernah di post di EXO Fanfiction (facebook), berikut link-nya https://www.facebook.com/notes/exo-fanfiction/member-for-you-oneshoot-sellafeb/1089959411121442

~Now playing: Chen, Baekhyun, Xiumin – For you (Moon Lovers: Scarlet Heart Ryeo OST)~

 

Happy reading~

Diwaktu yang berbeda dan di tempat yang berbeda, tapi ia tetap menjadi cintaku. –Kim Jongdae.

Aku tidak tahu, kalau kau mulai hidup dihatiku. –Son Seungwan.

 

*****

 

Mata Jongdae hanya tertuju pada seorang gadis yang tak jauh dari tempatnya duduk. Dia terus menatap gadis yang bahkan tak ingin melihatnya itu. Gadis itu duduk bersama teman-temannya. Merasa terus ditatap sedari tadi, gadis itu menatap Jongdae. Mata mereka bertemu. Jongdae hendak tersenyum, tapi dengan cepatnya gadis itu memalingkan pandangannya dan kembali sibuk bicara dengan teman-temannya.

“Apa aku tipe orang yang mudah dilupakan?” Gumam Jongdae.

“Seungwan-ah, apa kau benar-benar tidak mengingatku?” Jongdae menggumam sambil menatap gadis itu.

 

Flashback On.

Seungwan yang lengkap dengan seragam SMA-nya berdiri di aula SMA Kyunghee. Ia terus menadahkan telapak tangannya yang terus dijatuhi oleh hujan. Siswa/I yang lain sudah berhamburan keluar menghantam hujan dengan payung mereka masing-masing.

Seungwan menghela napasnya, “Bagaimana aku bisa pulang kalau hujannya tak berhenti?” Gumamnya.

Seorang siswa lelaki dengan payung yang melindunginya dari hujan menatap Seungwan yang kebingungan menunggu hujan berhenti. Mata mereka saling menatap. Siswa lelaki itu menghampiri Seungwan.

Siswa lelaki itu berdiri disamping Seungwan, keadaannya canggung karena mereka tak saling kenal. Siswa lelaki itu menatap Seungwan, begitupun juga sebaliknya, “Kau ingin pulang?” Tanyanya.

Seungwan mengangguk. Lalu siswa lelaki itu memberikan payungnya pada Seungwan, Seungwan kaget dan hanya bisa menatapnya, “Ambil ini!” Ujar siswa lelaki itu.

“Tidak usah.” Tolak Seungwan.

“Ambil saja!” Siswa lelaki itu menggapai tangan Seungwan dan membuat telapak tangan Seungwan memegang erat gagang payung miliknya.

“Bagaimana denganmu?” Tanya Seungwan.

Siswa lelaki itu langsung memakai tudung jaket abu-abunya, “Aku duluan.” Pamitnya.

“Tunggu…” Seungwan menghentikan siswa lelaki itu.

“Namaku Kim Jongdae, kelas 10-1. Kau bisa kembalikan itu besok. Aku duluan, hati-hati dijalan.” Siswa lelaki bernama Jongdae itu melambaikan-lambaikan tangannya, kemudian berlari ditengah derasnya hujan.

“Terima kasih. Hati-hati dijalan.” Teriak Seungwan.

-Keesokan harinya-

Sepulang sekolah, Seungwan menatap Jongdae yang tengah sibuk bermain futsal di lapangan dengan teman-temannya. Seungwan memegang erat payung milik Jongdae, ia belum mengembalikannya karena sedari tadi ia tak melihat Jongdae.

Sudah 15 menit ia menunggu Jongdae, tapi ia masih berkutat dengan permainannya. Tiba-tiba saja turun hujan. Seungwan kaget, begitu juga dengan Jongdae dan teman-temannya. Jongdae panik karena tiba-tiba hujan, dia langsung berlari ke tasnya yang basah. Dia bergegas membereskan barang-barangnya di tengah hujan.

Tapi ia merasa sudah tidak ada hujan yang membasahinya, dia langsung menatap ke atas, sebuah payung ada diatas kepalanya. Jongdae menatap orang yang memegang payung.

“Kau…” Jongdae kaget melihat Seungwan yang ada didepannya.

“Ini payungmu.” Seungwan menunjuk payung yang melindungi mereka berdua dari hujan itu.

Jongdae tersenyum, begitupun juga dengan Seungwan.

“Kau… Sejak kapan…”

“Aku menunggumu untuk mengembalikan payungmu.” Ujar Seungwan.

“Kau menunggu sedari tadi? Maaf, aku tidak tahu.” Jongdae merasa tak enak hati.

“Tak apa.” Seungwan tersenyum.

Jongdae langsung membereskan barang-barangnya, kemudian memakai tasnya, “Aku akan mengantarmu pulang!” Ujar Jongdae.

“Tidak usah, aku akan pulang sendiri.” Tolak Seungwan.

“Kenapa? Kau tidak percaya padaku?” Tebak Jongdae.

“Bukan begitu. Kenapa aku harus tidak percaya pada orang yang sudah baik padaku?” Elak Seungwan.

“Begitukah? Kalau begitu, kau tidak boleh menolak.” Ujar Jongdae yang langsung mengambil alih gagang payung dari genggaman tangan Seungwan, “Biar aku yang pegang! Tanganmu bisa pegal.” Tutur Jongdae.

Seungwan tersenyum. Mereka terus berjalan ditengah hujan bersamaan dengan payung yang melindungi tubuh mereka. Jongdae menatap sesekali Seungwan yang ada disampingnya. Gadis itu kelihatan kedinginan.

Jongdae berhenti, begitupun juga dengan Seungwan, “Kenapa berhenti?” Heran Seungwan.

“Pegang ini!” Jongdae memberikan gagang payung dan tasnya pada Seungwan.

“Tanganmu pegal?” Tanya Seungwan, “Tapi kenapa menyuruhku membawa tasmu juga?” Lanjut Seungwan.

Jongdae melepas jaketnya, kemudian memasangkannya di tubuh kecil Seungwan. Seungwan membulatkan matanya sambil menatap Jongdae. Mata mereka bertemu setelah Jongdae selesai memakaikan jaketnya.

Seungwan langsung mengalihkan pandangannya, tiba-tiba wajahnya memanas. Jongdae tertawa kecil tanpa sepengetahuan Seungwan. Jongdae mengambil kembali tas dan gagang payung yang tadi ia berikan pada Seungwan.

“Ayo jalan lagi!” Ujar Jongdae.

Seungwan mengangguk tanpa menatap Jongdae.

Aku tidak tahu mengapa hatiku berdebar saat menatapmu, Kim Jongdae. –Batin Seungwan.

Sesekali Jongdae menatap Seungwan, suasana jadi canggung, Jongdae mendehem untuk mencairkan suasana.

“Ayahmu Kepala SMA Kyunghee ‘kan?” Jongdae membuka pembicaraan.

“Huh? Iya.”

“Dia kelihatan sangat bijaksana, entahlah aku hanya merasa seperti itu.” Tutur Jongdae.

“Begitukah?”

“Bagaimana sikapnya sebagai Ayah bagimu?” Jongdae penasaran.

“Dia lelaki tertangguh dan terbaik yang pernah aku kenal.” Seungwan mengukir senyumnya.

Tak lama kemudian, mereka sampai di rumah Seungwan.

“Kita sudah sampai.” Ujar Seungwan.

“Oh iya.” Seungwan melepas jaket Jongdae yang bertengger manis ditubuhnya yang dingin, “Ini! Terima kasih, Jongdae-ya.” Seungwan tersenyum saat mengucap nama Jongdae dengan santainya bak teman dekat.

Jongdae tersenyum, “Sama-sama, Seungwan-ah.”

“Dari mana kau tahu namaku? Aku ‘kan belum memberitahumu.” Heran Seungwan.

“Son-Seung-Wan.” Jongdae menatap name tag Seungwan, “Aku bisa mengetahuinya tanpa kau beritahu.”

Seungwan tersenyum canggung, “Ah iya, aku lupa kalau aku pakai name tag.”

Aku tahu tanpa kau beritahu dan juga aku tahu tanpa aku melihat name tag-mu. Aku tahu semua tentangmu, Son Seungwan. –Batin Jongdae.

“Pergilah! Hati-hati dijalan.” Ujar Seungwan.

Jongdae menganggukan kepalanya, “Masuklah! Aku akan pergi setelah melihatmu masuk.” Ujar Jongdae.

“Kenapa? Tak apa, pergilah!”

“Tidak, aku ingin melihatmu masuk dulu. Cepat!” Pinta Jongdae.

Seungwan mengangguk. Dia masuk kedalam pekarangan rumahnya dan membuka pintu rumahnya. Gadis itu langsung menatap Jongdae yang masih setia berdiri disana sambil menatapnya.

Seungwan melambaikan tangannya sambil tersenyum pada Jongdae. Perlahan pintu itu tertutup seutuhnya dan membuat Seungwan hilang dari pandangannya.

“Sampai besok, Son Seungwan.”

Flashback Off.

 

Gadis bernama Seungwan itu menundukan kepalanya perlahan. Dia menghela napasnya.

Kenapa aku harus bertemu dengannya? Aku ingin melupakan masa laluku, semuanya. –Batin Seungwan.

 

*****

 

Jongdae dan Baekhyun menikmati makan siangnya di kantin. Tak lama kemudian, Seungwan dan teman-temannya memasuki kantin. Mereka duduk tak jauh dari Jongdae dan Baekhyun. Jongdae terus menatap Seungwan, gadis itu menyadari keberadaan Jongdae, dia menatap Jongdae sebentar kemudian kembali mengacuhkannya.

Lagi? Dia benar-benar lupa atau pura-pura lupa? –Batin Jongdae.

Baekhyun menyadari pandangan mata Jongdae mengarah pada seorang gadis. Dia langsung menyenggol lengan Jongdae.

“Kau mengenalnya?” Tanya Baekhyun.

“Aku tidak mungkin melupakannya.” Jongdae masih menatap Seungwan.

Baekhyun ikut menatap Seungwan, “Aku dengar dia pindahan dari Jepang.” Ujar Baekhyun.

“Aku tahu itu. 5 tahun lalu… Dia pergi meninggalkan Negaranya dan menetap di Negara asing. Betapa tak terlupakannya hari itu.” Jongdae masih setia menatap Seungwan.

Aku tidak akan pernah melupakan hari itu, dimana kau menangis tersedu-sedu dipelukanku. –Batin Jongdae.

 

Flashback On.

Jongdae bermain futsal seperti biasa di lapangan bersama teman-temannya. Waktu istirahat ini menjadi waktu luang untuk bermain bagi para siswa/I. Semuanya sibuk dengan permainan dan obrolan mereka masing-masing.

Tiba-tiba sebuah suara sirine mengagetkan mereka. Semuanya jadi hening dan berkutat pada mobil polisi yang berhenti didepan sekolah mereka.

“Ada apa ini? Kenapa ada polisi?” Heran salah satu teman Jongdae.

Jongdae hanya menatap mobil polisi itu heran. Tak lama kemudian, polisi itu membawa Kepala SMA Kyunghee alias Ayah Seungwan. Jongdae membelalakan matanya.

“Bukankah itu pak Kepala?” Kaget mereka.

Dari dalam sekolah Seungwan berlari menghampiri Ayahnya, air matanya sudah mengalir sedari tadi. Seungwan memegang erat tangan Ayahnya.

“Ayah… Ada apa ini?” Isak Seungwan.

“Seungwan-ah, jaga dirimu baik-baik.” Ayahnya menatap putrinya itu dengan mata berkaca-kaca.

“Ayah… Ayah tidak salah ‘kan? Iya ‘kan? Katakan padaku!” Seungwan terus meneteskan air matanya.

Tak sempat menjawab, Ayah Seungwan sudah di tarik ke dalam mobil polisi. Seungwan mengejar mobil itu. Kemudian dia terjatuh, dia terduduk disana sambil menangis.

“Ayah… Ayah…” Isaknya.

Jongdae menatapnya iba, kemudian menghampirinya. Jongdae berlutut didepan Seungwan, “Seungwan-ah…” Jongdae memegang kedua lengan Seungwan.

Seungwan terus menangis disana. Jongdae menghela napasnya, kemudian ia membantu Seungwan berdiri. Jongdae merangkul Seungwan sepanjang jalan. Semua siswa/I menatap mereka. Beberapa dari mereka menatap sinis dan beberapa dari menatap iba.

“Bukankah Ayahnya koruptor? Aku pernah dengar itu.” Seorang gadis dengan name tag Kim Bona bicara dengan teman disampingnya.

Ucapan itu jelas terdengar oleh Jongdae dan Seungwan. Jongdae langsung menutup kedua telinga Seungwan, kemudian menatap tajam Bona.

“Tutup mulutmu!” Tandas Jongdae.

“Kenapa? Apa yang aku katakan itu fakta. Aku punya hak untuk bicara apapun yang aku inginkan.” Balas Bona sengit.

“Kau benar. Seperti inilah dirimu. Hanya bisa membawa kesedihan diatas kesedihan. Aku merasa prihatin pada sikap kekanakanmu ini.” Ujar Jongdae.

“Kim Jongdae! Tidak seharusnya kau berkata seperti itu padaku, kau sudah tak menganggapku?” Kesal Bona.

“Apa? Memangnya siapa dirimu? Aku sudah membuangmu jauh-jauh dari hati dan pikiranku. Ini sudah 1 tahun tapi kau masih tidak bisa move on? Jangan seperti itu! Itu hanya akan menyakiti dirimu sendiri.” Jongdae meninggalkan Bona dan membawa Seungwan pergi dari sana.

Bona menatap kesal punggung kedua orang yang baru ada dihadapannya itu, “Menjengkelkan sekali!”

Kembali lagi pada Jongdae dan Seungwan. Mereka ada di atap sekolah sekarang. Jongdae menatap Seungwan yang memunggunginya itu. Gadis itu masih menangis sedari tadi.

“Seungwan-ah…”

“Jangan seperti ini! Kau membuatku ingin bergantung padamu disaat semua orang memandangku rendah. Dengan kata-katamu itu aku bisa salah paham. Ini saatnya, jika kau ingin pergi, silahkan saja! Aku tidak bisa bergantung padamu, karena akhirnya semuanya akan hilang. Sama seperti… Ayahku.” Seungwan menundukan kepalanya.

“Kau salah, kau salah menilaiku. Kau bisa bergantung padaku kapanpun kau mau. Aku… Ada dipihakmu. Aku akan selalu bersamamu. Kata-kataku tulus, Seungwan-ah.” Seungwan menatap Jongdae yang mengatakan itu.

Jongdae menghampiri Seungwan, kemudian menghapus air mata Seungwan dengan ibu jarinya, “Percayalah padaku! Aku tidak akan membuatmu kesepian, sungguh!” Jongdae menarik Seungwan ke dalam pelukannya.

“Aku disini, Son Seungwan. Jangan khawatir!” Ujar Jongdae begitu lembut.

Seungwan kembali menangis, kemudian merespon pelukan Jongdae yang hangat itu. Jongdae mengelus surai rambut hitam milik Seungwan, “Tak apa, semuanya akan baik-baik saja.”

Flashback Off.

 

“Setelah hari itu dia pergi… Entah kemana.” Gumam Jongdae sambil menatap Seungwan.

 

*****

 

Jongdae berjalan di koridor kampusnya, didepannya Seungwan juga tengah berjalan. Tapi Seungwan kelihatan tak peduli. Mereka melewati satu sama lain, tapi tangan Jongdae menahan tangan Seungwan.

Mereka saling menatap satu sama lain, “Sampai kapan kau akan mengacuhkanku?” Ujar Jongdae.

“Lepaskan aku!” Seungwan memberontak.

“Sampai kapan kau akan pura-pura tak mengenalku? Huh, Son Seungwan!” Mata Seungwan mulai berkaca-kaca.

“Lepaskan aku! Aku mohon!” Lirih Seungwan.

“Kau hanya terus melewatiku walaupun kau sudah melihatku, aku pikir kau hanya ingin menenangkan diri. Jadi aku menunggumu. Tapi… Apa 5 tahun tak cukup untukmu? 5 tahun sudah kau mencampakanku dan meninggalkanku yang ingin jadi tempat bergantungmu. Apa kau harus melakukan ini padaku? Haruskah?” Jongdae menatap Seungwan intens.

“Kau benar. Tidak seharusnya kau bersedia untuk menjadi tempat bergantungku. Kau salah memilih gadis untuk kau lindungi.” Balas Seungwan.

Jongdae menghela napasnya, “Sejak hari itu kau meninggalkanku, aku mencarimu ke semua tempat yang mungkin kau berada, aku kira kau bersembunyi, aku kira kau tidak siap menghadapi masalah itu, aku menunggumu selalu, tapi… Kau pergi jauh ke Negara asing tanpa sepengetahuanku. Seperti inikah balasanmu setelah membuatku menunggu lama?”

“Aku tidak pernah menyuruhmu menungguku. Aku juga tidak pernah berharap bertemu denganmu lagi saat aku kembali ke Korea. Seharusnya kau jalani kehidupanmu sendiri dan berhenti mengurusi kehidupan orang lain.” Ujar Seungwan.

“Lihat aku!” Jongdae menarik tangan Seungwan, sehingga jarak mereka benar-benar dekat, “Katakan padaku untuk melepasmu! Katakan bahwa kau tidak mencintaiku! Tatap mataku!” Jongdae menatap Seungwan.

Seungwan menelan salivanya berat dan memberanikan diri menatap Jongdae, “Baiklah, lepaskan aku dan jangan menungguku! Aku… Aku tidak… Tidak mencintaimu.” Dua kata terakhirnya dengan berat ia ucapkan.

Seungwan melepas paksa tangan Jongdae yang menahan tangannya. Kemudian dia pergi dari sana, tapi dia berpas-pasan dengan wajah yang tak asing. Si pemilik wajah ialah Kim Bona, mantan kekasih Jongdae. Seungwan menatap malas Bona dan pergi dari sana.

Jongdae menatap punggung Seungwan yang terus menjauh. Bona menghampirinya, “Benar apa yang aku katakan ‘kan? Seharusnya kau dengarkan aku dan jangan pedulikan dia. Dia hanya memanfaatkanmu saja, apa kau tidak mengerti?”

Jongdae masih terus menatap punggung Seungwan dan mengabaikan Bona, “Yak, Kim Jongdae! Tolong dengarkan aku! Dia tidak mencintaimu, dia ingin menjauh darimu. Jadi untuk apa kau mengejarnya lagi? Aku… Aku disini bertahun-tahun mengharapkanmu, tapi kau terus mengabaikanku.”

Jongdae menatap Bona, “Kau benar, dia tidak mencintaiku dan ingin menjauh dariku. Aku tidak akan mengejar dan menunggunya lagi. Tapi… Bukan berarti aku akan kembali padamu. Rasa ini… Sudah hilang untukmu sejak lama.” Jongdae meninggalkan Bona yang mematung disana.

 

*****

 

Jongdae duduk diam di kursinya. Dia menjalankan tekadnya untuk tak memperdulikan Seungwan lagi. Dia tidak akan mengejar dan menunggu Seungwan lagi. Itu memang benar. Beberapa saat lalu Seungwan masuk ke dalam kelas dan menatap Jongdae, tapi Jongdae mengacuhkannya.

Rasanya masih ada yang mengganjal dihatinya, seakan dia tak bisa melakukan itu seutuhnya. Jongdae menarik-buang napasnya.

“Tenanglah, Kim Jongdae! Lupakanlah, lupakan saja!” Gumamnya.

Tiba-tiba saja Baekhyun berlari menghampiri Jongdae, “Jongdae-ya, itu… Huh, huh, huh.” Napas Baekhyun tersenggal karena berlari.

“Kenapa? Ada apa?” Heran Jongdae.

“Apa benar Ayah mahasiswi Jepang itu koruptor?”

Jongdae membelalakan matanya, “Dari mana kau tahu?” Kaget Jongdae.

“Itu ada di papan pengumuman. Orang-orang ramai membicarakannya. Mereka…” Belum selesai Baekhyun bicara, tapi Jongdae langsung pergi melesat meninggalkan Baekhyun.

“Huh, aku harus berlari lagi. Jongdae-ya, tunggu aku!” Baekhyun mengejar Jongdae.

Jongdae sudah melihat papan pengumuman itu yang sudah di kerubungi para mahasiswa/i. Jongdae berhenti disamping Bona, kemudian menatapnya tajam, “Ini ulahmu ‘kan?”

“Kau tidak boleh asal tuduh, Kim Jongdae.” Elak Bona.

Jongdae memegang bahu Bona erat, “Tidak ada yang tahu hal ini selain kau dan tidak ada satupun yang tega melakukan ini selain kau.” Bona merasa kesakitan karena perlahan Jongdae memegang bahunya dengan sangat erat.

Jongdae meninggalkannya dan sampai didepan papan pengumuman. Dia kaget Seungwan ada disana sambil menatap nanar potongan surat kabat yang tertempel disana tentang korupsi Ayahnya.

Jongdae langsung mencopot semua yang tertempel disana, kemudian menarik Seungwan keluar dari sana. Jongdae berhenti di taman kampus. Jongdae menatap Seungwan yang menunduk sambil menangis.

“Jangan menangis! Ayahmu tidak salah, seharusnya katakan pada mereka yang sebenarnya. Orang yang menempel ini hanya menempelkan kabar sebelum semua kebenarannya terungkap. Inilah yang dia ingin darimu, kau menangis dan murung lagi. Seharusnya kau tidak seperti ini, jika kau menangis orang-orang akan berpikir bahwa itu semua benar, bahwa kau putri seorang koruptor. Tapi kebenarannya bukan ‘kan? Berhentilah menangis!” Tutur Jongdae.

Seungwan menatap Jongdae, “Kau… Bukankah kau ingin berhenti menungguku? Kau sudah tak mau menatapku, Kim Jongdae. Lalu kenapa sekarang kau…”

“Kau benar. Aku memang akan berhenti menunggumu, tapi bukan berarti aku meninggalkanmu. Fakta bahwa aku mencintaimu, itu takkan bisa terhapus. Sikap dinginmu padaku, tidak akan bisa menghapus perasaanku padamu. Kau harus tahu itu, Son Seungwan.” Tutur Jongdae.

“Jongdae-ya… Kenapa…”

“Karena aku mencintaimu.” Mata Jongdae menatap lembut Seungwan.

 

*****

 

Jongdae sibuk mencari surat kabar dan juga artikel di internet lalu di cetak untuk membalas apa yang dilakukan Bona kemarin. Dia terus mencari berita dimana terbuktinya Ayah Seungwan tidak bersalah dalam kasus itu.

Kesibukannya bahkan sampai larut. Dia sampai ketiduran diatas kertas-kertas itu. Dia begitu bekerja keras untuk ini.

Sinar matahari dengan terangnya membangunkan Jongdae, sudah pukul 7 pagi. Dia langsung membereskan kertas-kertas itu dan bergegas mandi kilat.

30 menit kemudian ia sampai di kampus. Dia langsung menempel semuanya di papan pengumuman.

“Huh, untung masih sepi. Kalau aku telat beberapa menit saja, aku bisa ketahuan.” Jongdae masih sibuk menempel.

Seseorang mendekat padanya, dia berdiri dibelakang Jongdae dan melihat semua yang ditempel Jongdae. Saat sudah selesai Jongdae membalikan badannya.

“Ah, mengagetkan saja!” Kaget Jongdae saat melihat Baekhyun ada disana, “Yak! Kau mau aku kena serangan jantung, huh?” Kesal Jongdae.

“Apa ini? Kau… Kau bilang ingin berhenti mengejarnya. Dasar tidak punya pendirian!”

“Aku sudah mencoba, tapi tidak bisa. Lalu aku bisa apa, huh?” Jongdae berjalan meninggalkan Baekhyun.

Baekhyun menghela napasnya sambil menatap papan pengumuman itu, “Dia keras kepala.” Gumamnya.

 

*****

 

Semua mahasiswa/I sudah mengerubungi papan pengumuman sekarang, begitupun juga dengan Seungwan.

“Seungwan-ah… Maaf sudah sempat percaya pada hal yang kemarin.” Seorang teman Seungwan menatapnya.

“Tidak apa-apa.” Seungwan tersenyum.

“Tapi siapa yang menempel ini? Apa kau tahu?” Tanya teman Seungwan itu.

Seungwan kelihatan berpikir. Apa ini kau, Kim Jongdae? –Batin Seungwan.

Seungwan pamit pada temannya. Dia pergi ke kelasnya yang sekaligus adalah kelas Jongdae. Jongdae hanya duduk di kursinya seorang diri. Seungwan bersembunyi setelah melihat Bona masuk ke sana. Seungwan berdiri didepan kelasnya.

Bona menghampiri Jongdae, “Kau yang menempel itu semua?” Bona menatap Jongdae.

“Kalau kau bertanya aku juga akan bertanya, kau yang menempel itu semua kemarin ‘kan?” Tanya balik Jongdae.

“Kau benar, itu aku.”

“Kenapa?” Jongdae menatap Bona.

“Kau jelas tahu alasannya, karena kau juga sudah mencurigaiku. Aku benci kau masih mencintainya, walaupun dia sudah tak menganggapmu. Sedangkan aku… Aku sudah mencintaimu selama bertahun-tahun, Jongdae-ya. Tapi kau mengacuhkanku.” Mata Bona berair.

“Sepertinya kau harus memutar memorimu 6 tahun lalu saat kita putus. Siapa yang membuat hubungan kita berakhir? Kau, Kim Bona. Kau yang malah mencintai dan berkencan dengan temanku saat itu. Seharusnya kau sadar, alasan aku seperti ini padamu. Jadi lebih baik lupakan semuanya, aku tidak akan pernah mencintaimu lagi.” Ujar Jongdae, “Dan juga… Kalaupun itu semua tidak terjadi, aku tetap tidak bisa mencintaimu, karena ada seseorang dihati ini. Dan itu bukan kau, melainkan Son Seungwan.” Lanjutnya.

Seungwan mendengar itu semua, air matanya jatuh saat itu juga.

“Jongdae-ya… Maafkan aku…” Lirih Seungwan pelan.

 

*****

 

Jongdae duduk seorang diri di taman. Tiba-tiba Seungwan duduk disampingnya. Jongdae menatap kaget Seungwan, sedangkan Seungwan tersenyum manis padanya. Jongdae membalas senyuman itu.

“Terima kasih.”

“Untuk apa?” Heran Jongdae.

“Semuanya. Semua yang kau lakukan untukku.” Seungwan menatap Jongdae yang menatapnya, “Terima kasih sudah menungguku, bersedia mengejar gadis yang tak tahu terima kasih ini, bahkan sampai repot-repot membuktikan kasus Ayahku dimata anak kampus. Kau… Kau melakukan itu semua karena satu alasan ‘kan?”

“Cinta.” Mereka menyebut itu dengan kompaknya, kemudian tertawa kecil.

“Kau benar, itulah cinta.” Ujar Jongdae.

“Bersamamu, denganmu, apapun yang kita lalui dulu walaupun itu waktu yang sangat singkat tapi aku bersyukur. Aku bersyukur punya lelaki yang tepat berada disampingku, tapi aku malah mencampakannya. Bodohnya aku!” Seungwan tersenyum kecut.

Tangan Seungwan bergerak memeluk Jongdae. Jongdae tertegun, “Maafkan aku, Jongdae-ya.”

Jongdae membalas pelukan Seungwan itu, “Aku mencintaimu… Kim Jongdae.” Jongdae terdiam karena pengakuan Seungwan ini.

Jongdae menatap Seungwan yang masih ada di dekapannya. Jongdae mengelus lembut pipi Seungwan, “Aku tidak perlu mengatakan apapun, karena kau sudah tahu perasaanku.” Ujar Jongdae.

“Kenapa? Katakan saja! Aku ingin mendengarnya.” Seungwan tersenyum.

“Aku juga mencintaimu, Son Seungwan. Sangat!”

 

 

FINISH~

KOMEN JUSEYO~ KRITIK&SARANNYA JUSEYO~

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s