[EXOFFI FREELANCE] Regret (Chapter 14)

byunpelvis.jpg

 

Author : ByunPelvis

Cast : Byun Baekhyun, Lee Kyungra (OC/You), Kim Jong In.

Other cast : member EXO lainnya.

Genre : Hurt ,  Romance.

Rating : General.

Leght : Chapter

Disclaimer  : Cerita murni dari pemikiran saya. Maaf untuk typo J.

*

“ALLOW ME”

*

Bau wangi roti panggang meyeruak ke indra penciuman. Beberapa pasangan yang saling bergandengan tangan membuatnya iri.  Pusat kota New York sangat ramai setiap harinya, seseoramg tak ingin ketinggalan untuk menikmati hari minggu yang cukup cerah itu. Banyak anak remaja jalan-jalan diwaktu luang mereka. Sekilas ia jadi mengingat negaranya sendiri.

Lee Kyungra, warga negara Korea Selatan yang sedang hijrah untuk melakukan pengobatan berdiri di taman kota. Senyumnya tak pernah lepas sejak pagi tadi, wajah aksen asianya yang cantik mampu memikat siapa saja terkesima.

“happines” lirihnya. Ia melihat ratusan burung merpati yang hinggap ditengah jalan untuk melahap makanan.

‘duk’

Saat sedang menikmati moment santai tiba-tiba ada sesuatu yang membuat kepalanya sakit. Saat Kyungra menoleh, bibinya berdiri dengan berpangku tangan.

“ya! Imo”

“astaga Kyungra, imo mencarimu kemana-mana. Dan ternyata kau bersantai ditempat ini?”

“Waeyo? aku hanya jenuh terus diam di penginapan.”

“setidaknya beritahu aku. Kau membuatku khawatir.”

Kyungra merasa bersalah dan memeluk bibi kesayangannya itu. Senyum andalannya membuat sang bibi tak bisa kesal lagi. Senyum keibuan milik wanita paruhbaya itu membuat hati Kyungra damai.

“baiklah. Sekarang makanlah kimbab ini. Aku baru mampir restaurant Korea”

“wuah imo. Kau tau betul apa keinginanku.”

Bibi Do mengusap rambut keponakannya, selama mereka hidup disana tak pernah sekalipun Kyungra terlihat murung. Setidaknya rasa frustasi gadis itu sudah benar-benar hilang.

“Kyungra, apa kata Doctor tadi?”

“eummm… aku sangat bahagia. Doctor bilang, kurang lebih satu bulan aku tak harus memakai tongkat penyangga ini”

“benarkah?”

Kyungra mengangguk semangat, mata bibi Do berair. Beliau bisa merasakan sebuah kebahagiaan yang sama.

“Imo kenapa menangis?”

“aku terlalu bahagia nak.”

Ucapan Bibi Do membuat Kyungra tersenyum lagi, gadis itu memeluk bibinya seerat mungkin. Ia benar-benar berterimakasih pada Tuhan yang telah memberinya harapan bisa sembuh. Kyungra juga merasa berhutang budi pada bibinya, beliau sungguh tanpa pamrih menjaganya sepanjang waktu.

“terimakasih, aku menyayangi Imo”

.

.

.

“kau ku pecat!”

“apa? S-sajangnim. Maafkan saya, s-saya janji tak akan melakukan kesalahan lagi. Pertimbangkan keputusan anda”

Baekhyun menggebrak meja dan bangkit dari kursinya untuk mendekati karyawannya yang sudah bersimpuh itu.

“kau fikir kesalahanmu kecil?”

“maaf , saya-“

“Kau sudah membuat kesalahan pada laporan keuangan lebih dari dua kali. Aku tidak suka seseorang yang teledor.”

Baekhyun menyerahkan amplop tebal berisi nominal pada karyawannya sebagai pesangon. Matanya masih memancarkan kemarahan sehingga tak ada siapapun yang berani melawan. Sudah ada dua pegawai yang dipecatnya hari ini, dan penyebabnya dalah sikap emosionalnya yang tak bisa dikontrol.

Pada akhirnya karyawan tadi berdiri dan membungkuk sopan. Tak ada lagi usaha yang bisa dilakukan untuk merayu Sajangnim-nya.

“sekali lagi maafkan aku Sajangnim. Aku tak akan melakukan kesalahan ditempat lain.”

“kuakui usahamu selama ini. Sekarang  pergilah.”

“n-de”

Baekhyun kembali duduk disofa dan memijit pelipisnya karena terasa semakin pening. Akhir-akhir ini keuangan Rumah Sakit kurang stabil. Dan beberapa jam yang lalu ayahnya yang berada di China menelfonya. Tentu saja ia mendapat omelan karena kinerjanya kurang memuaskan. Setiap hari ada saja kesalahan yang mengganggu ketenangannya.

“arggg , mengapa semuanya menjadi kacau?”

Baekhyun  masih memejamkan matanya saat tiba-tiba suara ketukan pintu membuatnya tersentak.

“permisi sajangnim, ada seseorang yang ingin menemui anda”

Sekertaris pribadinya memberitau, dan  Baekhyun mengijinkan seseorang itu untuk masuk.

“anyeong Baekhyun hyung”

“Kim Jong In?”

Baekhyun menatap Jong In yang masih memiliki tatapan bersahabat, berbeda dengan dirinya yang terlihat kurang suka dengan kedatangan pria itu.
.

.

.

“Imo, ini terasa cepat”

Kyungra melihat tanggalan yang terletak dinakas meja. Disana sudah terlihat lingkaran biru yang ditandai sebagai hari untuk kembali pulang ke Seoul.

“benar, apa kau sedih?”

“tidak. Hanya saja rasanya untuk kembali aku sedikit…..”

“kau bilang sudah melupakan masa lalumu?”

Seolah tau apa yang difikirkan Kyungra, Bibi Do dengan yakinnya bertanya hal itu. Kyungra menunduk karena perkataan bibirnya memang tak salah. Untuk hal melupakan masa lalu Kyungra sebenarnya belum bisa secuilpun.

“Imo, apa Jong In sudah menelfon?”

Terlihat sekali bahwa Kyungra sedang mengalihkan pembicaraan, bibi Do menggeleng pelan dan berhasil membuat yang bertanya merengut.

“ah mwoya? Apa dia sibuk dengan konsernya?”

“jika waktunya luang dia pasti akan menelfon. Jong In pastinya juga sibuk menyiapkan persiapan pernikahan”

Kyungra mengangguk mengerti dan berdiri dari duduknya, dengan tongkat penyanggah ia melangkah. Sebenarnya ia sudah bisa berjalan tapi tongkat hanya digunakan untuk keseimbangannya yang belum pulih.

“bibi , aku ingin istirahat.”

”eum, istirahatlah. Jangan tidur terlalu malam!”

“baiklah”

Bibi Do berlalu setelah mengatakan itu, Kyungra memasuki kamarnya dan mengunci serapat mungkin. Ia sedikit kualahan saat mengambil seseuatu disebuah kotak. Sanyangnya kotak itu berada di atas lemari.

Dengan sedikit perjuangan akhirnya Kyungra bisa meraih benda itu. ia duduk diranjang dan membukanya. Ada mp3 player dan juga sebuah memori disana, Kyungra memasang benda penyimpan data itu.

Sebelum menyalakan benda itu, Kyungra memprsiapkan hatinya. Mungkin saja setelah ini ia akan menagis.

Tangannya sedikit kaku saat memasang headphone ketelinganya. Tombol play itu disentuhnya dan musik mulai terdengar.

Itu adalah lagu yang seseorang beri untuknnya, lagu yang memiliki alunan lembut dan merdu. Sungguh Kyungra di ambang kerinduan sekarang, ia munafik karena menutupi perasaan itu pada semua orang. Kyungra memendam sendiri beban hatinya, dan itu lebih sakit.

‘Sing For You’

Lagu itu masuk dalam list musik favoritnya, tapi jujur Kyungra sangat jarang mendengarkannya. Setiap ia mendengar suara itu pasti hatinya terasa teriris. Sangat sakit sampai ia selalu menangis pada akhirnya.

Kyungra memenamkan matanya dan meresapi setiap arti liriknya. Tersampaikan kata-kata maaf dan penyesalan. Ia justru menamai lagu itu ‘regret’. Ya sebuah penyesalan.

“aku jauh darimu, tapi kau masih saja brengsek. Kenapa selalu menyakitiku? Wae?” lirihnya. Kyungra tak bisa mencegah buliran bening yang sudah meluap dipelupuknya. Ia meremas mp3 player itu dan terisak kecil.

“sial, aku merindukanmu.”

.

.

.

Jong In dan Baekhyun berada di sebuah cafe, keduanya hanya saling diam hapir selama 20 menit. Tak ada yang mulai pembicaraan disuasana canggung itu. Jong In memakai topi dan pakaian serba hitam.

Baekhyun sebenarnya risih melihatnya, tapi bagamana lagi? Jong In adalah seorang dancer yang cukup terkenal dan pria itu perlu penyamaran untuk menghindari penggemar.

“ekmm, aku menemuimu hanya ingin menyampaikan sesuatu.”

Baekhyun yang tadinya melihat samping menoleh pada Jong In. Terlihat Jong In mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya.

“datanglah!. Kau masih temanku kan?”

Baekhyun hanya melihat benda yang disodorkan Jong In. Perlahan senyum miris terukir dibibirnya, rasanya ia diselimuti rasa marah sekarang. Jong In merasa tangannya pegal karena Baekhyun tak kunjung menerima pemberiannya, pada akirnya ia meletakannya dimeja.

“jadi benar kau akan menikah?” tanya Baekhyun seperti pria bodoh, jelas-jelas pria itu melihat kertas apa yang Jong In beri.

“ya. dan sebagai teman kau harus datang”

Mata sipit milik Baekhyun menatap tajam undangan yang terukir nama Jong In dan seseorang.

“Kim Jong In,aku menyesal karena menjadi seorang pengecut.” Ucapan Baekhyun terdengar kurang faham untuk Jong In.

“apa?”

“seharusnya aku tak melepaskannya semudah itu. Ha ha bukankah aku pengecut dan bodoh?”

Jong In menjadi malas berada disana, ia tak suka dengan mulut tipis Baekhyun yang bicara tentang masalah cinta masa lalu. Menurutnya Baekhyun hanya omong kosong dan tak bisa membuat tindakan dari dulu sampai sekarang.

“ya kau memang bodoh, Baekhyun Hyung”

Tangan Baekhyun terkepal dibawah meja, jika sekarang bukan berada di kafe mungkin ia akan membogem pipi Jong In sebagai tanda amarahnya. Dengan kasar Baekhyun berdiri, bahkan kursi yang didudukinya hampir terjungkal.

“mengapa kau tak bisa menjaga janjimu? Kau bilang akan selalu menjaga Kyungra huh? Kau bilang Kyungra akan bahagia denganmu? tapi kenapa? Kenapa kau menikahi gadis lain, Jong In-ah? Kau hanya peduli dengan kekasihmu sekarang hah?.”

Jong In tersenyum sinis dan ikut berdiri, keduanya menjadi tontonan tapi tak ada yang peduli.

“aku menepati janjiku. Aku selalu menjaganya dengan caraku sendiri, Hyung. Aku mencintai kekasihku tapi bukan berarti aku mengabaikan Kyungra.”

“dari awal aku tau. kau tipe orang yang mudah bosan Jong In-ah”

Jong In memejamkan mata untuk meredakan emosi hatinya. Ia berusaha tersenyum.

“jangan menilai diriku sesuka hatimu. Penilaianmu itu berlaku untuk dirimu sendiri. Termasuk Kyungra, kau hanya menjadikannya salah satu mainanmu. cih”

Baekhyun tak menjawab, tapi tatapan matanya sudah berbicara. Tangannya terangkat mencengkram kerah Jong In.

“semua orang berhak berubah. Dan aku salah satunya. Apa salah aku mencoba menjadi pria baik? apa salah aku mencintainya?”

Jong In dengan kasar melepas tangan baekhyun yang mencengkram kerahnya. Ditepuknya bahu Baekhyun.

“Baguslah jika kau berubah. Kau jadi tau bagaimana rasanya sakit hati dan ditinggalkan. Hah sudahlah mengapa kita jadi bebicara menyangkut masa lalu?”

Pria berpakaian formal itu hanya terdiam, kedua tangannya terkepal. Baekhyun merasa diinjak oleh Kim Jong In.

“sudah ya! aku banyak urusan, ku tunggu kedatanganmu. Jangan sampai kau menyesal.”  Sambungnya.Jog In tersenyum diakhir kalimatnya, lagi pria itu menepuk bahu Baekhyun sebelum pergi. Baekhyun terduduk kembali setelah Jong In pergi.  Hari ini hatinya terbebani dengan berbagai masalah, ia sungguh lelah.

“eoh? Baekhyun-ah?”

Baekhyun menoleh karena merasa namanya dipanggil. Setelah tau siapa yang enyapanya ia berdiri.

“Kyungsoo-ya?”

.

.

.

“Kapan kau kembali dari Paris?”

“sekitar 2 hari yang lalu”

Baekhyun dan Kyungsoo saling mengobrol hangat setelah bertemu. Sekarang pening dikepalanya sedikit hilang. Mulut Baekhyun kaku untuk bertanya sesuatu. Gerak matanya tak tentu arah karena bingung. Kyungsoo yang tau tersenyum tipis.

“Kyungra baik-baik saja. dia terlihat sangat bahagia akhir-akhir ini.” ucap Kyungsoo spontan. Baekhyun mendongak dan tertegun, ia tak tau kegelisahannya dapat diartikan.

“syukurlah.”

Keduanya diam, Baekhyun sebenarnya merasa badannya mulai kurang enak. Tapi sebisa mungkin ia menahannya, ia harap kesehatannya tak memburuk.

“Baekhyun-ah”

“Ne?”

“aku berterimakasih padamu. Jika bukan karenamu Kyungra pasti masih menderita.”

Baekhyun tersenyum tipis. Kyungsoo sebenarnya merasa tidak enak hati, rasanya ia ingin membalas kebaikan Baekhyun. Sekarang Kyungsoo sudah terbilang mapan dan banyak memiliki uang. Kyungsoo sangat tau biaya pengobatan Kyungra sangatlah mahal jadi ia tak enak hati jika hanya diam saja.

“tak apa Kyungsoo-ya. Jangan fikirkan soal itu.”

“baiklah. Hei, aku masih mengingat tentang ceritanya dulu. Kyungra pernah mengatakan padaku jika kaulah pria terbaik didunia. Saat kalian masih berhubungan, setiap malam Kyungra menelfonku dan menceritakan tentang hari-harinya bersamamu. Aku bisa merasakan bagaimana kebahagiaannya. Terimakasih pernah membuatnya merasakan indahnya cinta.”

Baekhyun justru sesak mendengar kata-kata Kyungsoo. Ia sadar, dulu sikapnya pada Kyungraa hanya pura-pura.

“Byun Baekhyun, menurutmu apakah dia masih mencintaimu?”

Pertanyaan itu membuat Baekhyun terpaku, sesak didada kirinya semakin menjalar hingga ke ulu hati.

“kurasa ia sangat membenciku”

“kau mau melakukan sesuatu?”

“apa?”

.

.

.

.

.

Satu minggu telah berlalu, namun hari-hari yang telah lewat terasa sama saja. Tapi bagi satu orang, hari ini adalah hari yang menyenangkan.

Bandara Icheon sungguh ramai.  Seorang gadis sedikit kerepotan menarik koper besar yang dibawanya. Hari ini adalah hari kepulangannya setelah 3 tahun lebih meninggalkan negaranya.

“dimana dia?” ucapnya setelah sampai ditempat tunggu penumpang.

“Kyungra-ya apa kau sudah mengirim Kyungsoo pesan?”

“sudah imo. Dan Kyungsoo oppa janji datang jam 08.00. Bahkan sekarang sudah hampir jam 09.00”

Kyungra yang lelah duduk dibangku, matanya menyapu keseluruhan airport, berharap menemukan orang yang dicarinya.

“mungkin saja masih dalam perjalanan.”

Kini kedua wanita itu harus rela menunggu. Jika saja ia tak meminta Kyungsoo untuk menjemput pasti Kyungra akan naik taxi. Gadis itu sungguh kerepotan karena masih harus berjalan dibantu dengan tongkat.

“Kyungra, kau tunggulah disini. Imo ingin ke toilet.”

“eum. Jangan terlalu lama”

Kyungra menggembungkan kedua pipinya lalu membuang nafas. Kakinya tak bisa berhenti berayun, itu tandanya ia sedang tidak sabar menunggu. Rasanya ingin sekali sampai diruma dan mengistirahatkan tubuhnya.

“tau begini minta jemput Jong In saja.” ucapnya penuh penyesalan. Kyungra merogoh tas selempangnya untuk mengambil ponsel. Ia terlihat kesusahan menemukan benda yang dicarinya. Ia mengacak-acak sampai isi tas meluap keluar.

“ughh ya ampun”

Karena terlalu kesal barang yang ada di tas terjatuh, Kyungra memungutnya dengan berjongkok. Gadis itu merasa kehilangan satu barang, dengan gugup ia mencari keseluruh tempat itu.

“oh tidak, kumohon jangan hilang”

Rasa takut semakin dirasakannya, benda yang bernilai berharga harus ditemukan.

Mata Kyungra berhenti pada satu tempat. Perasaanya lega sekarang karena kotak kecil berisi memori itu ada didekat bangku.

Saat hendak mengambilnya sudah ada yang mendahului. Kyungra memandang kaki seseorang dihadapannya. Perlahan kepalanya menadah keatas, sampai berakhir pada wajah orang itu.

Jantungnya berdebar sangat cepat dan kakinya terasa lemas sehingga ia tak sanggup berdiri.

“astaga Kyungra mengapa kau duduk dilantai huh?”

Kyungra tak menjawab pertanyaan bibinya yang baru saja kembali dari toilet. Tubuhnya dibantu berdiri tegak, Bibi Do menepuk rok yang dipakainya yang sedikit kotor.

“apa kau terjatuh? Ya bagaimana bi-“ kata-kata Bibi Do terpotong setelah melihat seseorang yang berdiri dihadapannya. Kyungra meremas tangannya sendiri, sungguh ini terlalu cepat untuk bertemu dengan orang yang dihindarinya. Ia tak menyanka akan melihat wajah itu dihari pertamanya tiba di Korea.

“lama tidak berjumpa , Bibi Do”

Bibi Do tersenyum , berbeda dengan Kyungra yang terus menatap bawah.

“ne. lama tidak berjumpa Baekhyun-ssi.”

.

.

.

 

 

TBC

 

Anyeong ^^.

Bagaimana ini lanjutannya?

Kependekan ya? iya banget .

Sepertinya membosankan hu hu….

.

.

Readers ini chapter pre ending lho. Satu Chapter lagi finish ^^ …

Semoga tetap betah bacanya .

Author udah gak ada ide luas lagi jadi ceritanya semakin acak adul.

Maklum udah kelas 12 nih, sibuk mulu.Tapi setiap minggunya author usahakan post ff ini.

Jadi lanjut terus sampai end ne…

See you next chapter…..

Pai pai readerdeul…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

8 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Regret (Chapter 14)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s