[EXOFFI FREELANCE] Azalea – (Oneshot)

2016-09-30 22.15.40.png

[LAY BIRTHDAY PROJECT] AZALEA-Rezi Awalia- Zhang Yixing & Lee Luna (OC) || Romance, Angst || T

.

Everything always about you

.

“Aku harap itu bukanlah ucapan perpisahan”

“Is it?”

Wanita itu menolak untuk melepas tautannya dari gelas Ice Macchiato Caramel yang sudah mengembun. “Lihat. Jawabanmu meluluh lantahkanku begitu saja” Ia mati-matian untuk menyembunyikan air mata yang tengah menumpuk di balik kelopak. Telinganya berdenging seperti ditusuk ribuan jarum, sampai perihnya terasa lebih mematikan karna alunan-alunan lagu lama yang berputar di otaknya.

“Cinta lebih rumit dari yang kau bayangkan, Nona Lee” Sementara mendengar suara Luna yang kian bergetar, Yixing makin kehilangan orientasi sejenak sebelum kembali melanjutkan perkataannya. “Maafkan aku”.

Gadis itu menatap iba pada lensa coklat milik Yixing yang makin kelabu. “Terima kasih untuk semuanya Yixing-ssi” Suaranya yang bergetar seakan menolak mentah-mentah apa yang tengah ia ucap barusan. Kata perpisahan.

“Terima kasih kembali, Luna” Yixing mengatakan dengan penuh hati-hati.

“Berbahagialah meskipun tanpa aku”

“Kuharap begitu”

“Benar. Aku-pun sama” Dengan nafas tercekik, Luna menoreh senyum di bibir tawarnya yang sudah berubah menjadi pahit. ‘Karna aku sendiri tidak akan bahagia jika itu bukan kau alasannya’

Cairan coffe itu masuk lewat tenggorokkan Yixing yang tengah terluka dan memberikan sensasi terbakar. Padahal minuman itu sudah tidak lagi hangat dari tujuh menit yang lalu. Maka dengan pelan-pelan pemuda itu-pun meraup oksigen sebanyak yang ia bisa. “Maafkan aku Luna. Maafkan aku”

Luna meredam tangis di dalam paru-parunya yang kian menciut. Suara lembut itu bagaikan membuat telinganya mencuratkan darah kental. Ia bernafas namun tidak bergerak. Luna seperti mayat hidup yang bahkan tak mampu untuk bersuara.

“Aku hanya tidak ingin menyakitimu lebih dari ini” Ucap Yixing memilukan dengan wajah berkerut penuh kesedihan.

Kau sudah menyakitiku lebih banyak dari yang kau pikir, Tuan Zhang”

“Lu—“

“Apa? Kau mau bilang agar aku tidak mengatakan hal seperti itu?”

Yixing memejamkan mata, terlihat jelas bahwa kata-kata itu langsung merobek hatinya hingga berkeping-keping . Benar, dia yang salah. Yixing seharusnya bersujud untuk sebuah permintaan maaf yang tulus dari wanita yang sudah ia sakiti berkali-kali. Menangis jika perlu. Tapi dirinya belum punya keberanian yang cukup untuk melakukan hal-hal demikian.

“Nyatanya itu yang terjadi. Sayangnya kau sudah menyakitiku lebih dari ini…” Bisik Luna tanpa menoleh. “But it’s okay. Kebahagiaanmu segalanya untukku.” Gadis dengan gaun pink itu meraih jacket yang tadi menggantung pada sandaran kursi. Ia menghela nafas sebelum menatap pada kaca jendela yang basah oleh gerimis di luar sana. “Sampaikan salamku pada Ibumu.. dan juga..dia..”

“Then I guess this is a good-bye..”

“Seems like yes” Luna menatap Yixing dalam tatapan penuh arti. “Goodbye Yixing. Good luck with your love…”

..

 

Langkah berat Luna tertatih-tatih menaiki anak tangga satu persatu dengan tubuh basahnya setelah meninggalkan Yixing begitu saja.

Ia akan menyesal, Luna yakin jika dirinya akan sangat menyesal.

Telah melepaskan Yixing untuk seseorang yang bahkan tidak ia kenal.

Ia masih bertahan untuk tidak menjatuhkan bulir airmatanya, langkah gadis itu terseok-seok. Pikirannya melayang jauh menembus cakrawala. Senyum pemuda yang sudah memenuhi relungnya dalam tiga tahun terakhir, kini sudah tidak bisa lagi ia miliki.

Sirna. Hilang. Cahayanya padam. Dirinya seperti berhalusinasi, menatap dan menggapai-gapai kosong.

“— Oh tuhan! Luna!”

Luna mengangkat kepalanya yang berputar-putar karna pening. Ia menoleh ke sumber suara yang menyerukan namanya. Tiffany berlari kemudian memeluk tubuh Luna yang bergetar. Gadis itu menangis. Nyaris histeris sementara Tiffany mengusap penuh sayang punggung Luna yang basah.

“Dia meninggalkan aku, Tiff…”

Tiffany menutup matanya. Hati wanita itu berdenyut ngilu seperti ditusuk besi panas. Air mata juga ikut menggenang saat memikirkan betapa berharganya Yixing bagi Luna adalah sebuah rahasia yang tidak ia pahami.

“Dia benar-benar pergi…”

“—Pangeranku sudah pergi…”

Sesuatu yang pernah menjadi milikku telah lenyap seketika.

..

..

Kenangan musim panas yang bergulir, degub jantung tiba-tiba menghilang, semuanya sudah berbeda, tak lagi sama seperti dulu. Hyejin sadar betul tentang perubahan yang melekat pada diri Yixing. Semenjak mereka kembali merajut kasih yang pernah terputus.

“Kau menyukainya?” Yixing menggeleng dengan hidung mendengus. “Merah maron bukan pilihan yang baik”

Hyejin tertawa miris dengan mata sendu menatap Yixing, “Rekomendasikan warna lain untukku jika kau tidak keberatan?” Sebab merah maron adalah warna kesukaannya dan Yixing melupakan itu .

“Bagaimana dengan merah muda?” Pemuda keturunan China itu menunjuk salah satu dress yang berada tak jauh dari mereka “Seperti warna Azalea..” Perkataannya sukses membuat Hyejin makin naik pitam.

Yixing berhenti berkata saat menyadari kalau baru saja ia mengungkit masa lalunya dengan Luna di hadapan Hyejin. Tanpa menyadari bahwa ia telah memilih kembali pada cinta lamanya, dan meninggalkan Luna si gadis Azalea.

Azalea yang tidak lagi bersamanya

Tak sadarkah, engkau?

“Kumohon… jangan membuatku makin berdosa karna merebutmu dari dia” Ucap Hyejin bergetar sebelum berlari menjauh dari lelaki yang masih berdiri dengan kaki seperti Jelly.

Yixing mendongak sambil menarik nafas dalam-dalam. Berjalan keluar, ia terus saja menundukkan kepala sampai tak sadar jika langkahnya membawa ia ke dalam toko buku. Tanpa berpikir lebih lama lagi, Yixing merasakan hatinya berguncang dan berdebar saat jemarinya mengambil buku terbaru dari pen name yang selalu jadi favorite-nya.

Dan saat Yixing membaca judul dari buku tersebut, ia merasakan akan mati saat itu juga. Luna menulis buku tentang mereka. Bibirnya bergetar, perlahan-lahan mengucap “Azalea”

..

Oh Musim, janganlah memudar. Sekali lagi, kembalilah. Sekali lagi, datanglah.

Aku ingin menyusun kembali serpihan lama yang begitu usang. Di antara jeritan daun ginko yang daunnya akan menangis saat kuinjak. Lalu diantara aroma menyengat dari musim panas yang begitu lekat dengan tawanya.

Oh musim, janganlah memudar. Bawa aku kembali ke hari dimana aku dan dia adalah sama. Saat aku masih menggenggam tangannya. Dan saat aku bukanlah gadis bodoh yang rela kehilangannya

..

Satu bulan telah berlalu namun Luna masih merasa hidupnya seperti terombang-ambing tanpa tujuan. Ia tertawa pada takdir. Kakinya masih menginjak jalanan bersemen yang mulai terasa dingin.

“Hai..” Seseorang menyentak lamunan Luna yang mengambang di udara.

“Oh hallo” Luna membungkukkan badannya, mengucapkan salam pada wanita cantik dengan pita Cheery Blossom tersebut.

“Maaf..tapi sepertinya kau pernah menjatuhkan ini..”

Orang itu merogoh tas peach mahal miliknya, lalu seperkian detik kemudian ia mengeluarkan sebuah kalung dari dalam tas. “Aku melihatmu menjatuhkan ini saat kau keluar dari Cafe. Sekitar satu bulan yang lalu, maybe

Luna mundur satu langkah. Terkejut melihat apa yang gadis itu berikan padanya. Lagi-lagi, ia tertawa pada takdir.

“Ambil lah. Jangan sampai kau kehilangan untuk yang kedua kali”. Kedua kaki wanita itu seakan-akan bagai digerogoti jutaan rayap. Luna bergetar saat kalung dengan hiasan bunga Azalea itu menyentuh telapak tangannya.

Azalea, Yixing bilang seperti itu. Karna Luna adalah Azalea merah muda dengan filosopi kesederhanaan, cinta yang terpendam. Yixing menyebutnya seperti itu.

Memberikan kalung itu, kemudian berlalu, wanita tadi -Hyejin- meneriakkan nama tuhan keras-keras dalam hatinya setelah berjalan menjauhi Luna yang masih mematung.

Namun malapetaka datang. Luna menjatuhkan kalung tersebut hingga benda itu berputar-putar sampai ke tengah jalan. Gadis itu mengikuti kemana benda tersebut mengarah, sampai-sampai ia baru sadar jika Tifanny yang baru selesai berbelanja sedang meneriaki namanya dengan nada menyanyat hati.

“LUNA! AWAS!”

Luna menutup matanya saat suara bunyi klakson melengking. Ia tahu malaikat maut sebentar lagi akan mencabut nyawanya. Sebentar lagi dirinya benar-benar akan mati. Tapi tak apa, ia sudah mendapatkan kembali benda yang sama berharganya dengan hidup yang ia punya.

Namun saat sebuah pelukan merengkuh tubuhnya, kemudian mendorong Luna ke tepi, di sana Luna menyadari bahwa seseorang sedang menukar nyawa demi dirinya.

Lalu dalam bayang-bayang wanita itu membuka mata perlahan. Orang-orang berteriak histeris. Pekikan Tifanny maupun Hyejin mengalun-alun tidak berarti. Nafas Luna tercekat. Matanya memanas. Jantungnya bagai dihujami besi-besi tajam. Berharap bahwa ia akan sadar dari mimpinya. Namun sayang, sia-sia, Luna tidaklah tengah bermimpi. Wanita itu merangkak, lalu bersimpuh di depan Yixing yang masih tersenyum.

Ia masih tersenyum, sedangkan ia tahu bahwa hidupnya berada diambang kematian. Suara tangis yang Luna tahan makin mengoyak hatinya hingga tangis itu pecah. Tak lagi dapat ditahan. Lelaki dihadapannya mengahapus lintasan air mata yang mengalir deras dari pipi pucat milik Luna. Kemudian Yixing mengatakan..

“Aku mencintaimu,”

“Aku masih mencintaimu…”

“dan selalu mencintaimu…”

Oh Azalea ku sayang.

 

..

 

Aku bermimpi

Dalam mimpi itu, aku sedang berdiri di antara padang rumput. Tak jauh dari tempatku berdiri, disana ada sesosok wanita cantik beroriental Korea. Matanya secoklat hazel, rambutnya hitam seperti tembaga, dan bibirnya merah ranum.

Aku terpaku. Tidak hentinya-hentinya memuji hingga semuanya berubah. Setelah itu, dia…menghilang. Meninggalkan suara aneh di dalam hatiku yang masih mengulang-ulang perkataanya.

“Kembalilah padaku..”

Aku seperti ditarik begitu saja, jatuh lebih dalam.. lagi dan lagi hingga mataku terbuka . Deg! Nafas memburu melewati rongga hidungku. Aku sudah meninggalkan alam bawah sadar. Lalu suara merdu sesorang gadis begitu saja menyita segalanya.

Dia -si gadis dengan kalung Azalea- sedang tersenyum.

“Kau kembali…”

“-pangeranku sudah kembali..” Ucapnya sambil menenggelamkan diri dalam pelukanku.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s