[Lay Birthday Project]Purpose

91

Purpose – Shannellerush

Cast :
Zhang Yixing (EXO) & Zhang Mei Li (OC)

Family – Hurt – Slice of Life

General

Inspirated from Justin Bieber – Purpose

Nyanyian para burung berhasil menyambut sang surya dari peraduannya. Sahutan titik embun ikut andil dalam mengisi pagi. Celah-celah pepohonan sediki demi sedikit diisi oleh paparan sinar surya. Pagi hari di musim gugur di bulan Oktober, hari yang paling sempurna. Sayupan angin berhembus dingin. Meski hanya sayupan, tapi dedaunan berhasil di tarik pergi dari pucuk pohon. Warna kuning kecoklatan dari daun melambangkan musim gugur yang sesungguhnya. Aroma musim gugur ternyata telah menyebar ke penjuru Kota Paris. Rasanya begitu damai.  Langit pagi berubah menjadi jingga layaknya sore hari. Inilah musim gugur Kota Paris, langit-langit akan menjadi jingga seolah ikut serta dalam merayakan musim gugur.

Zhang Yixing dan Zhang Mei Li. Kakak beradik ini pagi-pagi buta sudah menapaki aspal jalanan. Tangan kanan sang kakak degan erat memegang sebuket bunga krisan, sementara tangan yang satunya tak kalah erat memegang tangan kanan sang adik yang kira-kira berusia lima tahun.

Sang adik hanya bisa mengikuti langkah kakaknya, ke manapun Zhang Yixing membawanya. Ia sendiri masih asyik makan roti miliknya. Bahkan, ia tak tahu mengapa sang kakak mengajaknya pergi di pagi hari, membeli roti dan bunga. Ini benar-benar tak biasa. Rutinnya, ia dan sang kakak tidak pernah pergi ataupun membeli sesuatu di pagi hari. Ada banyak pertanyaan di otak gadis kecil ini, tapi ia tak bisa mengutarakannya jika sedang makan roti. Maka dari itu, ia memutuskan untuk menghabiskan roti miliknya.

Di sebuah persimpangan jalan, tepat saat mereka menyebrang dan roti milik Mei Li sudah habis dimakan. Akhirnya, Mei Li dapat bertanya.

“Kak Yixing, kemana kita akan pergi pagi-pagi begini?”

Yixing menjawabnya tepat saat mereka sudah berada di seberang jalan, “kita akan ke tempat Kak Selene.”

“Kak Selene?” Tanyanya dengan nada riang. “Asyik! akhirnya kita bertemu dengan Kak Selene. Aku benar-benar rindu pada Kak Selene.” Lanjut Mei Li, tidak sabaran.

Yixing tersenyum getir melihat tingkah sang adik. Yixing tidak tahu apakah ini pertanda baik atau tidak, pasalnya ia takut melihat sang adik bersedih jika tahu yang sebenarnya. Jadi, ia hanya tersenyum penuh getir demi membalas perkataan sang adik.

“Kak Yixing.”

Yixing pun menoleh, “ya, ada apa?”

“Apa bunganya untuk Kak Selene?”

“Ya, ini untuk Kak Selene.” Sahut Yixing sambil melirik bunga krisan di tangannya.

“Sini! biar aku yang bawa.” Pinta Mei Li pada sang kakak sembari mengulurkan tangan untuk mengambil bunga di genggaman Yixing.

“Tidak usah, biar kakak saja yang bawa. Nanti bunganya jatuh. Kalau sudah sampai disana, kamu bisa memberikan ini pada Kak Selene.” Ucap Yixing degan lembut. Sang adik pun mengangguk dan kembali ke posisi awalnya, berjalan sambil menatap jalanan.

Sekitar lima belas menit berjalan, mereka pun sampai di sebuah tanah bak sabana dengan hiasan beberapa batu nisan di atasnya. Setelah memasuki area tersebut, Yixing dan Mei Li berjalan menyusuri tanah pemakaman, mencari nisan dengan ukiran ‘Selene’ di atasnya.

“Kak Yixing, katanya mau bertemu dengan Kak Selene, tapi kenapa kita ke sini?” Ujar Mei Li bertanya.

“Sekarang rumah Kak Selene ada disini.”  Sahut Yixing ragu. Hatinya masih sedih lantaran kehilangan Selene.

“Apa Kak Selene tidak takut rumahnya ada disini? Disini kan sepi, seram lagi.” Gerutu Mei Li sedikit bergidik.

Yixing menaikkan sudut bibirnya. Terkadang, adiknya ini mampu menetralisir kesedihan hatinya dengan guyonan-guyonan khas anak kecil. Mungkin Mei Li tidak menganggap ini sebagai guyonan, maklum umurnya masih lima tahun dan ia belum mengerti apapun tentang kerasnya hidup di dunia.

“Nah, kita sudah sampai.” Ujar Yixing setelah menemukan nisan berukir nama Selene. Yixing lantas berjongkok, menyamakan tingginya dengan sang adik. Tangan kanannya terulur, memberikan bunga krisan tadi pada Mei Li. Ini sudah waktunya. Pikir Yixing.

“Ini bunganya. Sekarang berikan ini pada Kak Selene, ya.”  Senyum Yixing terpasang lagi kali ini senyumnya berbeda dari senyum sebelumnya.

Mei Li menerima sebuket bunga dari tangan kakaknya. Ia senang akhirnya bisa memberikan bunga putih ini pada calon kakaknya. Tanpa menunggu aba-aba, Mei Li langsung meletakkan bunga itu di atas nisan Selene.

“Kak Selene, aku datang dengan Kak Yixing.” Seru Mei Li sambil menunjukkan deretan giginya. Matanya terlihat sipit saat tersenyum.

Yixing mengelus puncak kepala sang adik. Kentara sekali kalau ia gemas pada adiknya.

“Kak Selene tahu tidak? Kak Yixing sering melamun sekarang. Kata ibu, Kak Yixing merindukan kakak. Hm… Sebenarnya aku juga sih.” Mei Li menyengir. Dan itu membuat Yixing semakin gemas dengan sang adik.

“Kak Yixing.” Mei Li langsung menoleh pada sang kakak.

“Ada apa?”

“Kak Yixing, kenapa Kak Selene bisa ada disini?”

Zhang Yixing memghela napas sambil tersenyum kecil. “Kak Selene sekarang sudah menjadi namanya.”

Mei Li mengerutkan dahinya. Ia tidak mengerti dengan maksud kakaknya. “Maksud kakak apa?”

Yixing menatap langit pagi di atasnya. Ternyata rembulan masih tampak meski sang surya sudah sedikit meninggi.

“Kak Selene sudah menjadi dewi bulan, sesuai namanya.”

“Oh begitu.” Sahut Mei Li sambil mengangguk-angguk.

Atensi Yixing kini beralih pada sang adik. Mata Yixing menatap iris mata Mei Li. Ia tak percaya jika adiknya hidup karena Selene. Gadis itu berhasil menyelamatkan setengah bagian hidupnya. Yah.. Hanya setengah. Pasalnya setengahnya lagi adalah Selene sendiri. Gadis itu dengan entengnya memberikan bagian hidupnya untuk Mei Li. Saat itu kecelakaan yang terjadi hampir merenggut sang adik dari hidupnya, tapi Selene yang waktu itu sedang mengalami masa-masa perjuangan, malah memberikan hidupnya untuk orang lain. Ini benar-benar gila. Namun, semuanya sudah terjadi dan Zhang Yixing hanya bisa mengenang Selene Angela dalam mesin waktu di kepalanya.

“Tapi tenang saja. Sekarang, Kak Selene ada di jantungmu.”

“Di jantung ku?” Ucap Mei Li sambil memegang dada kirinya.

Zhang Yixing mengangguk.

“Apa aku mengambil jantung Kak Selene? Kalau begitu sekarang aku kembalikan saja, mumpung kita sedang bertemu dengan Kak Selene.”

Yixing terkekeh mendengar ucapan sang adik. Gadis kecil yang masih polos dan belum mengerti apapun. Ia sendiri juga bingung akan menjawab apa untuk yang satu ini. Rasanya sedih dan menggelitik. Yixing pun lantas mengelus rambut sang adik dengan senyum yang tak henti-hentinya keluar dari bibir Yixing.

Kini obsidian Yixing menatap nisan di hadapannya. Rasanya begitu sesak, pedih, perih, nyeri. Semua penyakit seakan berkumpul menjadi satu.

Kota Paris ini memang indah, apalagi di musim gugur. Sayangnya, keadaan tidak mendukung kesempurnaan Sang Mahakuasa. Sepertinya keindahan itu perlu di berikan sedikit coretan kelam, suram dan menyedihkan.  Sama halnya dengan kisah cinta Zhang Yixing. Kisahnya benar-benar mengharukan layaknya film dalam bioskop.  Sebenarnya ia tidak akan pernah bisa hidup tanpa Selene Angela. Bernapas saja ia tidak bisa, apalagi hidup. Tapi seiring waktu yang bergulir, semuanya dapat di netralisir. Adanya Mei Li dalam hidup Yixing membuat ia sedikit demi sedikit meninggalkan masa lalunya. Meski baru sedikit. Guyonan-guyonan kecil yang di lontarkan gadis kecil itu setidaknya mampu membuat Yixing lebih hidup.

Sekarang, Yixing bisa merasakan nikmatnya oksigen walau tanpa sang dewi bulan.

-FIN-

Ps : Dalam Mitologi Yunani, Selene itu digambarkan sebagai dewi bulan.

Nggak tau ini apaan, mohon reviewnya ya ^^

One thought on “[Lay Birthday Project]Purpose

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s