[Lay Birthday Project] When Rain’s Come

61

When Rain’s Come – Aya Park

Starring: EXO’s Lay (Yixing) & OC’s Zhang Li || Genre: Romance, Sad || Rating: PG-15

Aku selalu senang jika hujan turun. Suhu akan turun dan rintik-rintik hujan itu mulai membasahi kaca jendela. Mataku akan disuguhkan dengan pemandangan luar jendela yang seakan diberi efek blur. Setelah itu, aku akan menuliskan nama seseorang di kaca jendela itu.

Zhang Yixing

Saat itu pula kau datang, tentu saja dengan jas hujan berwarna maroon pemberianku. Kau masuk tanpa mengetuk pintu atau membunyikan bel, karena ini sudah menjadi rutinitasmu.

Langkahku menghampirimu yang tampak sibuk melepaskan jas hujan. Kedua tanganmu menenteng tas belanja. Kau terlihat kerepotan dan itu adalah salah satu momen favoritku.

“Kudengar kau terjatuh saat menaiki skuter. Benarkah?” tanyamu sembari menggantung jas hujan di balik pintu.

Aku hanya tersenyum kecil sebelum mengangguk. Helaan nafasmu cukup membuatku menundukkan kepala.

“Keseimbanganmu belum sempurna. Memangnya hal penting apa yang membuatmu menaiki skuter sendiri?”

“Aku hanya membeli buku,” jawabku pelan.

Perlahan kau menarik daguku, membuatku menatap obsidian hitammu. Senyum kau kembangkan dengan indahnya. Aku tahu, kau tersenyum agar ketakutan dan rasa bersalahku sedikit berkurang.

“Aku tidak marah. Aku hanya khawatir padamu.” Kau menarikku ke pelukkanmu, mendekapku erat, membiarkan wangi tubuhmu mengkontaminasi indra penciumanku. Aroma mint yang selalu menenangkanku.

“Aku sangat mencintaimu, Zhang Li,” katamu di ubun-ubun kepalaku. Aku tersenyum dan memejamkan mataku. Membiarkan rasa hangat menjalar di seluruh tubuhku.

“Apa ada yang terluka?” tanyamu setelah melepaskan pelukanmu. Aku menggeleng kecil, “Tidak. Aku baik-baik saja.”

Sedetik kemudian, pandanganku teralih pada tas belanja yang kau letakkan di meja. Aku menghampirinya dengan semangat. Sedangkan kau hanya tersenyum kecil melihat tingkahku.

“Apa ini?” kataku sembari mengeluarkan barang-barang yang ada di sana.

“Beberapa hari lalu kau menginginkan pancake dan milkshake coklat. Tetapi aku terlalu sibuk dan tidak bisa mengantarmu ke cafe.”

“Dan sekarang kau membawakannya ke rumahku?”

Kau hanya mengangguk. Aku memelukku lagi. Tak ada hal lain yang akan kulakukan jika senang, selain memelukmu. Seandainya kau tidak terlalu sibuk dengan pekerjaanmu, aku tak akan bingung untuk melakukan apa jika aku senang.

Dengan gerak cepat, aku menghidangkan pancake itu di atas dua piring ditemani dua gelas milkshake coklat.

“Zhang Li…” kau memanggilku, membuat seluruh perhatianku tertuju padamu.

“Jika hujan tidak reda sampai malam nanti, sepertinya aku akan tetap tinggal.”

*

Pada malam hari, aku biasanya duduk menghadap jendela, memandangi bintang-bintang yang berkelap-kelip dengan indahnya. Mereka menemaniku, membuat rasa kesepian yang ada dalam benakku hilang.

Tapi kali ini tidak ada bintang. Itu semua karena hujan. Haruskah aku menyalahkan hujan?

Tentu tidak. Aku malah harus berterima kasih pada hujan. Mungkin hujan membuat ribuan bintang itu menghilang, namun hujan membuat satu bintang favoritku terperangkap di sini. Itu kau-Zhang Yixing.

Kau tampak terlelap di sampingku, setelah cerita panjang tentang rutinitasmu. Kau tampak begitu polos. Dan paras tampanmu benar-benar tanpa cela. Itu salah satu dari sekian banyak hal yang membuatku jatuh cinta padamu.

Malam ini sepertinya aku tak bisa menutup mata, saat bintang yang paling bersinar di hidupku ada di sampingku.

*

Sinar mentari masuk melalui jendela kamarku. Itu mengusikku dan membuatku terbangun dari tidurku. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku sejenak, sebelum aku menyadari ada sesuatu yang hilang.

Kau menghilang.

Aku harus pergi karena eomma menelponku. Jaga dirimu dan selalu tersenyum, Zhang Li!

Sebuah sticky note tertempel di meja riasku. Aku menghela nafas. Aku menghela nafas. Kemarin malam aku sudah berencana membuatkan roti panggang untuk sarapan kita berdua. Tapi kau sudah pergi.

*

Jam dinding menunjukkan pukul sembilan pagi. Baru saja aku menghidupkan televisi untuk melihat ramalan cuaca hari ini. Tentu saja dengan harapan bahwa hujan akan turun dan membawa kau-Zhang Yixing-ke sini.

Tetapi sayangnya, cuaca hari ini dikatakan cerah. Tak akan ada hujan.

Aku menekan tombol power pada remote televisiku. Setelahnya, aku menjatuhkan diri di kasur, menghela nafas sembari menatap langit-langit kamarku.

Samar-samar tertangkap oleh indra pendengaranku suara pintu yang diketuk. Aku segera berlari menuju pintu utama.

“Annyeongha-”

Aku tercekat ketika mendapati seorang wanita paruh baya tengah berdiri di sana dengan angkuhnya. Ia masuk tanpa kupersilahkan, mengamati rumahku sejenak, lalu duduk di salah satu sofa.

“Rumahmu tidak cukup baik,” kata wanita itu ketika aku duduk di hadapannya. Aku menghela nafas, “Ini sudah lebih dari cukup untukku.”

Wanita itu berdecih pelan, namun masih sanggup kudengar. Aku meremas ujung sweater-ku, menahan kekesalan di benakku.

Kulihat wanita itu terdiam beberapa saat, sebelum ia mengeluarkan sebuah undangan dari tas branded-nya.

Zhang Yixing & Ming Xian

DEG!

Perlahan aku meraih undangan itu. Tanganku mulai bergetar dan air mataku sudah membendung, siap untuk turun membentuk sungai kecil di pipiku. Namun sekuat tenaga kutahan.

“Kakakmu, Yixing, akan menikah besok. Kau harus datang karena kau adik dari mempelai pria. Kau harus menemaninya,” kata wanita itu dengan nada dingin. “Lakukan dan jangan membuat masalah apapun!” lanjutnya dengan penekanan di setiap katanya.

Aku terdiam. Mulutku seakan terkunci dan kata-kataku tertahan di tenggorokanku. Hanya suara detik jarum jam dan helaan nafasku yang mampu kudengar.

“Aku-”

“Kau ingin tidak datang? Apa kau masih mencintai Yixing?” nada wanita itu meninggi, membuatku hanya mampu menundukkan kepala.

“Kau memang gila! Apa tidak ada pria lain yang bisa kau cintai selain kakakmu sendiri? Hei apa yang kau pikirkan?!”

Wanita itu berdiri, lalu melangkahkan kakinya keluar rumahku.

*

Apa yang kalian pikirkan tentangku? Gila? Tak punya akal? Bodoh?

Tetapi bagaimana jika kalian berada di posisiku?

Mungkin kalian mengira aku sudah kehabisan akal karena mencintai kakakku sendiri. Sebuah cinta terlarang yang tak seharusnya ada. Sebuah hubungan yang tak mendapat restu siapapun.

Namun aku terlanjur mencintainya. Dan dia juga mengatakan bahwa ia memiliki perasaan yang sama. Siapkah aku untuk tak terperosok dalam lubang cintanya?

Apa dayaku jika aku mencintainya?

Aku rela pergi dari rumah, agar aku bisa bertemu dengan Yixing sebagai kekasihnya, bukan adiknya. Kubiarkan Yixing mengambil hatiku. Kuabaikan akalku atau cacian orang lain.

“Hai…, Zhang Li?” kau menyapaku sore ini, dengan nada agak bertanya.

Aku tersenyum, melepaskan jas hujanmu lalu menutup pintu.

“Kau menangis, Zhang Li?” tanyamu sembari mengusap-usap pipiku. Aku menepis tanganmu lembut, “Aku baik-baik saja,” gumamku. “Apa harimu baik?”

Kau menggeleng pelan, “Tidak. Hariku tidak baik karena orang yang kucintai baru saja menutupi kesedihannya.”

Aku tidak berkata apa-apa lagi, hanya menunduk. Kau baru saja akan menarikku ke pelukkanmu, sebelum kau melihat undangan itu. undangan dari ibu akan pernikahanmu.

Kau memungutnya, lalu menatapku nanar, “Apa kau…”

Aku mengangguk pelan, “Aku akan datang.”

“Tidak!”

“Aku baik-baik saja. Ini memang akan terjadi ‘kan?” Aku memeluknya.

“Maafkan aku.”

“Tidak ada yang bersalah di sini. Mungkin hanya cinta ini yang berada di antara dua insan yang tidak tepat.”

*

Aku mengenakan gaun putih, dengan hiasan rambut yang sesuai dengan gaunku. Aku menatapmu yang tengah berdiri di altar, dengan kemeja putih dan jas warna senada, Bukankah kita akan sangat serasi?

Namun sayangnya, ada seseorang yang lebih pantas berada di sana. Ada cinta yang lebih masuk akal, yang akan menemani harimu selanjutnya. Sedangkan aku, aku akan tetap di sini, memperhatikanmu dari kejauhan.

Aku sudah menguatkan diri untuk menyaksikan dirimu mengikat janji suci dengannya. Membuat sebuah peristiwa baru dalam hidupmu yang tak akan pernah kau lupakan.

Tetapi tak bisa kupungkiri, air mataku sudah mulai membendung. Dan sebelum aku tidak bisa menahannya lagi, kuputuskan untuk menjauh dari keramaian dan duduk di taman.

“Zhang Li!”

Kudengar suaramu meneriakkan namaku. Dengan cepat aku menghapus air mataku, lalu tersenyum kepadamu.

“Kau tahu apa yang lebih indah dari matahari pagi?”

“Kejora?”

“Salah.”

“Lalu?”

“Senyummu, Zhang Li”

FIN

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s