[Lay Birthday Project] Unrequited Love

94

Unrequited Love-mariris
Zhang Yixing (Lay), Park Chanyeol, & Han Yoori (OC) || Romance, Sad || PG-17

Jam 9 tepat. Aku mulai membereskan berkas-berkas yang berantakan di meja kerjaku. Aku hanya merapikan dan menumpuknya di sudut meja dan bersiap untuk pulang. Ah, aku hampir saja lupa untuk menengok ruang sebelah tempat Yoori bekerja. Apakah dia masih ada disana?
Aku mengintipnya dari balik jendela. Ya, Yoori masih duduk di depan meja kerjanya, menatap layar monitor, dan aku hanya bisa melihat punggungnya. Bisakah kali ini aku mendekatinya? Beranikah aku?
“Hei Lay, kenapa hanya diam disitu? Masuklah.” Aku hanya mengangguk membalas ajakan Yoori, terkejut mendengar suaranya. Dia menyadari keberadaanku disini? Aku segera masuk ke ruangannya. Tak akan aku sia-siakan kesempatan ini.
Aku mengambil tempat duduk yang berseberangan dengannya. “Kamu diminta lembur ya akhir-akhir ini? Setiap hari aku selalu melihatmu pulang di atas jam sembilan.”
“Ya begitulah. Sebenarnya aku yang meminta lembur, setelah ini aku akan mengambil cuti.” balas Yoori sambil meneguk secangkir kopi di mejanya.
Mataku membulat mendengar alasan Yoori. “Cuti untuk apa? Berapa lama?” Aku penasaran dibuatnya. Tapi hanya senyuman kecil yang dia lontarkan. Ah Tuhan, bisakah aku menyimpan senyum manis ciptaanMu ini?
“Kasih tahu nggak ya?” Yoori terkekeh. Tak lama setelah itu handphonenya berdering, satu pesan masuk ke nomornya. Dia menatap serius ke arah layar handphone dan tersenyum. Tangannya pun segera bergerilya di layar keypad. Sementara aku, merasakan aura tidak menyenangkan yang akan menghampiriku.
“Bulan depan aku akan menikah.” Aku kembali membulatkan mataku, mungkin kali ini lebih besar. Aku mematung, mati rasa ditimpa petir di siang bolong ini.
“Baru divisiku saja sih yang tahu, aku berencana menyebar undangan ke kantor minggu depan.” Yoori melanjutkan ceritanya sambil membereskan laptop serta kertas-kertas yang berserakan di meja kerjanya. Aku masih terdiam, masih tidak percaya apa yang baru saja aku dengar.
“Oh pantas aku tidak tahu.” Aku berusaha membuang rasa kagetku. Hanya saja sekarang tubuhku melemas.
“Aku sudah dijemput, kamu mau sekalian pulang kan Lay?” Aku hanya mengangguk dan segera berdiri meninggalkan tempat dudukku. Yoori mengikutiku kemudian dari belakang.
“Aku dijemput di depan lift basement. Kamu juga mau ke basement kan? Bareng ya.” Kembali Yoori melihatkan senyum manisnya di akhir kalimat.
“Oke.” Aku membalasnya singkat dan melanjutkan jalan kami ke arah parkiran mobil di basement kantor. Kami? Ah, akhirnya aku bisa merasakan lagi berdekatan dengan Yoori. Walaupun beberapa menit yang lalu aku dihantam kenyataan pahit kalau Yoori akan menikah, tapi kesempatan berdua dengannya saja saat ini cukup membuatku senang. Hanya cukup.
Ya, sebelumnya aku pernah beberapa kali berdua dengan Yoori, dan kesempatan-kesempatan itulah yang membuatku merasakan rasa yang lebih dari sekedar teman. Aku memutar kembali kenangan dari kesempatan itu.
***
-pertemuan pertama di lift-
“Tunggu.” Aku berlari menuju pintu lift yang akan tertutup. Seorang perempuan manis melihatku dan menahan laju pintu lift.
“Terimakasih.” ucapku setelah masuk ke dalam lift dan pintu lift tertutup. Perempuan itu membalas dengan senyum tipis dan mengangguk perlahan.
“Zhang Yixing. Biasa dipanggil Lay.” Dengan percaya diri aku memperkenalkan diri dan mengulurkan tangan. Perempuan itu membalas uluran tanganku.
“Yoori. Han Yoori.”
-terjebak hujan setelah pesta kantor-
Aku menghentikan mobilku di depan halte bus, dimana Yoori berdiri sambil terlihat menggigil. Aku segera mengambil payung di jok belakang, keluar dan berlari kecil ke arah Yoori.
“Aku kira kamu sudah sampai di rumah. Ayolah aku antar.” Yoori menggeleng meresponku. Tiba-tiba saja tubuh Yoori tumbang menimpa tubuhku. Aku segera menggendongnya dan membawanya pulang. Badannya panas, dia pasti demam. Aku menyelimutkan jaketku ke badannya, menggenggam tangannya, mencium pipinya.
“I love you.” Ah, aku memang bukan pemberani yang menyatakannya langsung saat dia sadar.
***
Hanya itu kenangan-kenangan yang berputar di pikiranku. Bagaimanapun, kamu sudah mencuri hatiku Yoori, biarlah kamu tetap tersimpan di hatiku. Aku menghela nafas panjang, melegakan pikiran dan hatiku. Lift sudah sampai di basement.
“Zhang Yixing.” Begitulah yang terjadi sesaat setelah pintu lift terbuka. Aku mendongakkan kepalaku dan memicingkan mataku, suaranya familiar, begitu juga wajahnya.
“Park Chanyeol.” balasku sambil memastikan apakah itu benar dia.
“Kalian sekantor? Kenapa kamu tidak bilang padaku kalau kamu sekantor dengan Yixing?” Chanyeol, teman SMA-ku, menginterogasi Yoori. Tunggu, jadi Chanyeol…
“Mana aku tahu kalau kalian saling mengenal, ya kan Lay?” Yoori mengedipkan mata padaku. Aku hanya tertawa menanggapinya.
“Jadi, kau calon suaminya Yoori?” Chanyeol tersenyum dan mengangguk dengan semangat.
“Ya, bulan depan kami akan menikah. Undanganmu menyusul ya, jangan lupa datang sekalian reunian dengan yang lain.” jelas Chanyeol bersemangat sambil merangkul Yoori. Aku mengangguk dan mengacungkan jempol tanpa berkata apapun.
“Aku duluan ya.” Aku melambaikan tangan ke Yoori, setelah itu memeluk Chanyeol.
“Jaga Yoori baik-baik.” kataku sambil menepuk punggung Chanyeol. Tak lama Chanyeol membalas menepuk punggungku.
“Pasti.” Itulah yang aku dengar dari Chanyeol sebelum kami melepas pelukan, saling menatap, dan saling menepuk bahu.
Aku langsung menuju mobilku dan masuk ke dalam. Aku melihat dari kaca spion, Chanyeol dan Yoori berjalan bersama ke mobil mereka. Terlihat bahagia.
Disini, satu persatu peluhku keluar dari ujung mata, sesak rasanya. Jadi begini rasanya cinta yang tidak terbalas. Rasanya sia-sia aku sudah mencintai Yoori. Tapi, sekarang aku bisa apa untuk mendapatkan Yoori, hatinya sudah tertambat ke seorang Chanyeol. Ya, Yoori bukan takdirku. Semoga ada Yoori yang lain, yang bisa mencuri hatiku dan memberikan hatinya untukku. Aku pun mengusap air mata yang masih terlihat di pipi, menancap gas dan pulang dengan mendung yang masih bergelayut.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s