[Lay Birthday Project] Train To Heaven

100

Train To Heaven – baekpear

Lay & OC | Kingdom!AU, Family, Romance | G

Lembaran angkasa menggurat kegelapan abadi petang itu. Enggan menunjukkan kemegahan malam yang sarat akan gemerlap cahaya benda langit. Ketenangan alam diusik oleh riuhnya desiran angin yang menggores ujung ranting. Meniupkan udara dingin ke arah pemukiman penduduk yang belum mendapatkan kehangatan bara api.

Gemuruh setapak kuda memecah kesunyian pada padang rumput yang nampak pekat saat itu. Garis pembatas jalan pun hampir mengabur akibat penerangan yang tak cukup memadahi. Namun hal sepele tersebut sepertinya tak mempengaruhi perjalanan sang kusir yang terus memacu langkah kudanya.

Duduk di kursi kemudi ialah, Zhang Yixing. Pemuda yang telah mengabdikan seumur hidupnya sebagai kusir Kerajaan Kaledron.  Kepercayaan penuh yang diserahkan Raja padanya adalah suatu kehormatan besar. Dimana dirinya menjadi kusir kereta kuda yang selalu ditumpangi sulung Kerajaan Kaledron,  Putri Treta.

Namun petang kali ini mungkin suatu pengecualian. Bilik yang terkait pada kekangan kuda tersebut melompong tak seperti biasanya. Jarang sekali Yixing menjalankan kereta yang tak berpenumpang karena anggota kerajaan selalu menggunakan kendaraan itu kemana pun mereka pergi. Tapi kebiasaan tersebut terusik akibat desas-desus yang mengabarkan jika ada sekelompok warga yang ingin membinasakan keluarga kerajaan.

Dua malam yang lalu Yixing mengantarkan Putri Treta pada jamuan makan malam di sanak saudaranya. Seharusnya Sang Putri telah kembali ke Istana petang ini, tetapi harus urung demi menghindari hal yang tak diinginkan. Sebagai gantinya, Yixing dikirim pulang seorang diri dengan kereta kosong sebagai umpan percobaan.

Pemuda Zhang tersebut sejenak memejam mata, lelah.

Titah tetaplah titah. Yixing yang berstatus sebagai pekerja rendah di Istana harus mengikuti perintah. Batinnya kalut. Namun ia tak ingin menebak apa yang akan terjadi nanti. Benaknya memikirkan suasana hangat ruangan sederhananya di sudut Istana sembari mengelus beberapa kuda yang dijaganya. Membayangkan hal yang akan ia temui sekembalinya dari perjalanan ini membuatnya sedikit gembira.

Belum semenit lega oleh imajinasinya, pupil sang pemuda menangkap sosok yang berada di tepian jalan. Netranya menyipit, mencari tahu lebih jelas siapa gerangan yang sudi berdiri sendirian di sabana sepi pada tengah malam. Dirinya dikejutkan dengan perawakan mungil seorang gadis kecil berpakaian selutut tengah melawan kencangan hembusan angin saat ini. Keretanya memelan.

Ragu, Yixing turun dari dudukan dan menghampiri gadis itu. Ia bersangga lutut demi mendapati air muka sang gadis kecil. “Apa yang kau lakukan disini, nona kecil?” tanyanya penasaran.

Gadis itu gelagapan menangkap suara asing yang tiba-tiba menghampirinya. “Siapa itu?”

Yixing mengatur ulang kalimatnya agar terdengar lebih bersahabat. “Paman kebetulan lewat bersama kereta kuda paman dan melihatmu berdiri sendiri disini. Kau tidak takut?”

“Ke-kereta kuda?” Intonasinya meninggi, tanda ketertarikan yang merupakan pertanda baik bagi Yixing. Pemuda itu membeberkan senyum yang kian lebar.

“Benar. Naiklah, paman akan mengantarkanmu ke tempat ibumu.” tawar Yixing riang.

Bukan sebuah reaksi kegirangan yang Yixing jumpai di raut sang gadis. Melainkan kebingungan yang terpeta jelas tatkala gadis itu menolehkan kepalanya ke segala arah, seolah mencari sesuatu. “Di-dimana keretanya?”

“Tepat di–“ kalimat Yixing tercekat. Entah kenapa nalurinya berkata untuk memperhatikan kondisi sang gadis lebih saksama. Yixing memutar lehernya perlahan. Tatapan jatuh pada paras lusuh bocah tersebut. Hatinya seolah runtuh ketika mendapati dua bola mata yang kehilangan tumpuan pandang serta bergerak tanpa arah.

Gadis itu tak mampu melihat.

Tanpa kata, Yixing meraih jemari sang gadis dan menggenggamnya erat. “Saat aku berkata lompat, kau harus lompat ya.” Sang gadis yang awalnya terkejut dengan cepat mengikuti aba-aba Yixing dan dalam waktu singkat tubuhnya telah menempati kursi penumpang.

Roda kereta kembali berputar menapaki tanah kering pada padang Kaledron. Yixing melecut kudanya agar melaju kian kencang.

“Paman, apa kereta ini menuju surga?” Sang gadis mengusik keheningan dengan sebuah pertanyaan yang menyentak Yixing dalam lamunannya.

Yixing menarik ujung bibirnya. “Tidak nona. Kereta ini menuju pasar besar Kaledron.” jawabnya sedikit berbohong. Tak ingin menempatkan sang gadis pada situasi sulit yang kini menyeruak dalam benaknya.

“Sayang sekali ya.” Gadis itu menggembungkan kedua pipi tirusnya. “Kalau begitu, Paman bisa menurunkanku di tempat yang memiliki cahaya yang sangat terang? Ibu bilang jika surga itu begitu bersinar dan gemerlapan.”

Tawa ringan Yixing berbuah ketika menilik air muka sang gadis dari sudut maniknya. “Mengapa kau terus berbicara tentang surga, nona kecil?” tanya sang pemuda gemas.

“Ibuku tinggal disana, Paman. Tiap malam ia bercerita tentang indahnya surga dalam mimpiku. Begitu jelasnya seolah-olah aku telah melihatnya sendiri.” Netra sang gadis menerawang kosong namun penuh harapan ke arah padang rumput gelap melalui jendela dalam bilik.

Dalam pengakuan sederhana tersebut, Yixing menuai kehangatan yang membalut hatinya begitu erat. Membekali kebahagiaan serta ketenangan dalam suatu kisah yang menentramkan batinnya. Sang gadis mungil bahkan bersenandung sepanjang jalan, hal yang jarang Yixing dapatkan kala menggerakan kudanya sendirian di daerah yang sepi.

“Baiklah, Paman akan mengantarkanmu sampai tujuan.”

Ketangkasan kuda asuhan Yixing sanggup membawa keretanya berlari begitu akas. Padang rumput lekas terganti pemukiman warga dengan kepulan cerobong asap. Setapaknya berdasar batu yang menghadirkan jalan halus menuju tujuan sang pemuda. Gerbang batu berobor menyala menandakan Yixing telah tiba di riuhnya pasar besar.

Pada sebuah toko lampion, Yixing menghentikan laju kereta. Lengannya terulur demi menolong gadis kecil itu memijak bumi. Pemuda itu menyejajarkan tubuhnya sembari memandang sang gadis lekat. “Nona kecil, di belakangmu kini berjajar lampion yang begitu indah dengan lukisan bunga di tiap lembarnya.”

Bahu gadis itu lekas berputar terlewat cepat. Maniknya mengedip beberapa kali. “Benarkah? Benarkah Paman? Apa mereka sangat bersinar?”

“Lebih dari cahaya bintang, aku bertaruh.” ungkap Yixing, hanyut dalam kegembiraan sang gadis. Suatu kebahagiaan tulus yang paling pemuda itu butuhkan saat ini.

Setelah merasa tugasnya telah terpenuhi, Yixing kembali merengkuh erat jemari mungil milik sang gadis. Kali ini bukan raut terkejut yang disuguhkan, hanya rupa murung yang terlihat manis bagi Yixing. “Paman harus pergi sekarang, nona. Sampaikan pada ibumu kalau paman ingin bertemu pada sosok yang membuatmu begitu pandai sekarang ini.”

Tangan kurus sang gadis menusuk udara secara bebas kosong demi mendapati bahu Yixing. Pemuda tersebut tersenyum simpul kala gadis itu menepuknya beberapa kali. “Ibu pasti juga ingin bertemu dengan paman. Jaga dirimu, paman kusir!”

Lambaian sang gadis mengantar Yixing ke kursinya. Ketika ia melecut kudanya dan memacu menjauhi bisingnya pasar besar, rentetan kisah sang gadis masih terngiang sangat jelas. Bahkan kala Yixing mulai menyusuri hutan pinus yang tak kalah gelap dengan sabana sebelumnya, atau saat sebuah panah melesat menuju ulu hatinya, Yixing terus memutar suara tersebut seolah itulah hal terakhir yang dimiliki memorinya.

Sekumpulan pemberontak tersebut benar-benar menjarah keretanya malam itu. Menggeledah bilik tempat Putri Treta seharusnya berada. Beberapa dari mereka nampak kesal akibat tak mampu melenyapkan keluarga kerajaan dan memilih menendang tubuh sang kusir yang terkulai tak berdaya demi melampiaskan amarah.

Namun Yixing, sudah terlanjur larut dalam kebahagiaan yang dititipkan sang gadis sebagai bekalnya menjemput maut.

.

.

Harum rumput basah menghampiri indra pembau Zhang Yixing. Maniknya mulai menguncup dalam hitungan detik layaknya kembang anyelir. Tubuhnya ia tegakkan demi mendapati tempatnya berada kini. Mungkin Yixing tertidur kala menemani kudanya mencari makan di lembah. Setengah sadar, ia berusaha mengingat apa yang tengah terjadi disini.

“Permisi–“

Yixing berjengit kala menemukan sosok wanita yang menghampirinya dengan busana putih tulang yang menjulur semata kaki. Keheranan menghalangi kata yang hendak tersampaikan. Akhirnya Yixing hanya membisu dalam sekon selanjutnya.

“Namaku Lean. Kau pasti paman kusir itu ‘kan? Anna banyak bercerita tentangmu.” tutur sang wanita.

“Apa?”

“Putriku sepanjang malam kemarin bercerita tentang paman kusir yang membawanya ke toko lampion. Ia mengatakan jika paman kusir itu ingin bertemu denganku dan memohon padaku agar suatu saat membawamu ke surga jua.” Wanita itu mengangkat bahu. “Tak kusangka kau akan tiba secepat ini.” lanjutnya takjub.

Tak cukup dibuat tercengang oleh presensi sang wanita yang cukup  mengejutkan, Yixing kini dibuat berpikir keras akan kenyataan yang kini dialaminya. Ingatannya mengabur, sukar ditangkap oleh nalar sang pemuda yang terbatas. Namun begitu menilik bekas luka yang bahkan tak terasa nyeri sedikit pun serta rupa bahagia sang gadis yang mengantarkannya pada suatu dunia berbeda, Yixing perlahan memahaminya.

Kenyataan jika rohnya telah memisahkan diri dari tubuhnya.

“Jadi aku di surga sekarang?” tanya Yixing tak percaya.

Sang wanita menggeleng. “Masih belum. Aku belum memastikan apakah kau benar paman kusir yang dimaksud Anna. Ia bilang paman kusir itu memiliki tangan yang hangat. Biar kulihat.” Tak butuh waktu lama saat  wanita itu berhasil menautkan jemarinya dengan milik Yixing.

Sang wanita mengangguk dua kali seolah merasakan sesuatu. Sedangkan Yixing hanya mampu bergeming kaku akibat desiran darahnya yang melonjak tanpa sebab.

“Baiklah! Kita menuju surga sekarang!”

Fin.

2 thoughts on “[Lay Birthday Project] Train To Heaven

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s