[Lay Birthday Project] Together Forever

47

Together Forever – ujimintz
Zhang Yixing & Yoo Hyeil (OC) || Family, Sad || G

Aku, Zhang Yixing. Aku punya seorang adik perempuan, Yoo Hyeil namanya. Aku dipertemukan dengan Hyeil saat usianya 7 tahun. Walau bukan adik kandung, tapi aku sangat menyayanginya. Hyeil yang cantik, periang, juga penyuka hal-hal manis. Dia hanya anak polos yang selalu jujur, apa adanya, dan tak mengenal malu-malu untuk melakukan hal konyol demi menghibur siapapun yang bersedih.

Dia masih seorang gadis cilik yang periang, hingga umurnya sepuluh tahun. Suatu waktu, Hyeil pergi ke sebuah Sekolah Dasar yang tak jauh dari rumah kami, itu tanpa sepengetahuanku. Alasan Hyeil pergi ke sana karena ia ingin punya teman. Hyeil memang tak bersekolah di sekolah umum layaknya anak sebayanya, dia home-schooling. Aku tahu mengapa orang tua kami melakukan itu untuknya, hanya satu hal, dia berbeda bagi ukuran orang normal.

Namun seketika itu, harapan Hyeil untuk memiliki teman sirna ketika murid-murid sekolah tersebut mengatakan hal yang terasa menohok hatinya yang bahkan masih suci dari dosa.

“Hey teman-teman, lihat! Dia berbeda dengan kita!”

“Dia tak punya tangan kiri!”

“Apa dia ke sini ingin sekolah dengan kita?”

“Seharusnya dia tak usah punya keinginan seperti itu kalau dia tahu dia umh, cacat?”

“Kalaupun sekolah di sini, aku tak ingin berteman dengan si cacat itu!”

“Aku juga!”

Itu memang fakta. Hyeil memang mempunyai lengan kiri yang kurang sempurna sejak lahir.
Dan setelah kejadian itu, Hyeil pulang ke rumah dan tak pernah ingin keluar rumah lagi. Aku tahu semua cerita itu dari Bibi Park tetangga kami yang sengaja mengikuti kemana Hyeil pergi saat itu dan beliau tahu semua yang terjadi padanya.

Usianya sekarang tiga belas tahun, aku enam belas. Dan dia tumbuh menjadi perempuan cantik namun pendiam, juga tak secerah dahulu. Umurnya sudah pantas untuk masuk Sekolah Menengah Pertama. Ayah memutuskan untuk memasukannya ke Sekolah Luar Biasa. Awalnya aku protes dan ingin agar Ayah memasukkan Hyeil ke sekolah umum biasa, aku hanya menentang karena Hyeil menurutku tak cacat, hanya lengan kirinya yang tidak seperti orang kebanyakan. Tetapi Ayah tetap pada pendiriannya dan kali ini Ayah memberitahuku bahwa Hyeil memiliki telinga kanan yang tidak berfungsi dengan baik dan terakhir aku mengetahui bahwa semakin dewasa Hyeil semakin berbicara dengan cara yang aneh. Aku mengalah. Dan akhirnya aku mengusulkan agar Hyeil bersekolah di Sekolah Luar Biasa yang dekat dengan sekolahku supaya aku bisa selalu melihatnya kemudian Ayah menyetujuinya.

Kali pertama Hyeil menginjakkan kaki di luar rumah setelah tiga tahun tak pernah keluar, ia bersembunyi di punggungku. Aku sadar ia menangis. Dan aku tahu, ia sudah besar dan mengerti arti tatapan orang-orang yang tertuju padanya.

Sampai di sekitar sekolah Hyeil, aku tak langsung mengajaknya masuk. Kami duduk di taman. Hyeil menunduk, ia menyembunyikan lengan kirinya di punggungnya.

“Tak usah disembunyikan, angkatlah kepalamu, jangan membuatmu terlihat seperti enggan menatap duniamu, masa depanmu dan juga aku,” Aku berbisik di telinga kirinya membuatnya mendongak menatapku.

“Kak, a-ak-ku tak pu-nya lengan kiri yang sem-purna. Ba-gaima-na bisa ak-aku me-me-natap masa depan-ku? Masa depan ma-cam a-pa yang bis-sa menerima-ku yang cacat i-ni?”  Ia kembali menangis. Aku mengusap air matanya.

“Kau adikku. Kau segalanya bagiku. Jangan pernah berkata seperti kau sendirian. Aku bisa melakukan apapun untuk membantumu memiliki masa depan yang baik. Coba kau lihat anak itu,” Aku menunjuk pada murid Sekolah Luar Biasa yang sedang berjalan menuju sekolah dan menyapa setiap orang yang ditemuinya sepanjang jalan. Dan anak itu sampai pada kami lalu menyapa kami dengan riangnya.

“Hao, se-amat pagi,” Anak itu kekurangan dalam berbicara namun itu tak jadi alasan untukku tak menyapanya kembali.

“Halo, selamat pagi juga, semoga harimu menyenangkan!” Dan anak itu tersenyum mendengar jawabanku kemudian melambai pergi. Aku menunjuk lagi pada beberapa murid Sekolah Luar Biasa yang berjalan bersama-sama sambil bernyanyi menuju sekolah. Mereka bahkan tak memperdulikan tatapan aneh orang-orang di sekitarnya dan tetap bernyanyi dengan gembira.

“Lihat mereka, mereka juga berbeda, tapi mereka tak pernah sembunyi. Mereka tak peduli dengan apa yang orang lain katakan karena mereka adalah mereka. Tetap bersyukur dan berjalan dalam garis takdir Tuhan. Tak peduli apa yang kurang padamu, dimataku kau adalah adikku yang sempurna. Jadi, tataplah masa depanmu, tataplah duniamu, tunjukkan pada semua orang kalau kau adalah adikku, Yoo Hyeil yang hebat dan tak pernah bersembunyi karena sesuatu yang ada pada dirinya, buatlah mereka berbalik menjadi bangga padamu karena aku akan membantumu mewujudkan impianmu. Kita bersama, selamanya.”

Dan dari sekian banyak tujuan hidupku, yang benar-benar ingin kulakukan adalah membuat adikku bahagia tanpa bersembunyi dan bangga menjadi dirinya sendiri.

END.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s