[Lay Birthday Project] The Star

90

The Star-Cedarpie24

Lay and OC ; Angst ; G

.

Ia memulai segalanya dari sini.

Bersama gadis itu, dalam balutan pakaian sederhana berupa kemeja dan celana jeans belel. Sebelah tangannya menenteng gitar tua kesayangan, sementara tangannya yang lain ia gunakan untuk menggenggam tangan gadis itu.

Seulas senyum mewarnai wajah tampannya kala ia berujar pada si gadis, “Asalkan bersama, kita pasti bisa melewati ini. Kau percaya padaku, ‘kan, Suyin?”

Sejenak ia bisa menemukan sejumput ragu membayangi manik gadis itu. Sebelum akhirnya si gadis mengangguk, dan mengulas senyum lebar. “Tentu saja. Aku percaya padamu, Yixing.”

Bahkan setelah tahunan berlalu, Zhang Yixing masih tak mampu menghapus kenangan itu dari benaknya. Bagai rekaman yang diputar berulang-ulang, bayangan akan dirinya dan gadis itu yang mencoba memulai langkah pertama mereka terus bermain di kepalanya. Bayangan akan ia, dan Wang Suyin.

Sama seperti saat itu, Yixing kembali melangkah di gedung audisi ini. Bukan sebagai peserta, melainkan duduk di belakang meja juri. Ia yang namanya telah bersinar terang, kini bukan lagi pemuda miskin tak dikenal. Zhang Yixing, penyanyi sekaligus komposer yang dicintai begitu banyak orang.

“Kalau tidak salah kau juga sempat melakukan audisi di tempat ini, ‘kan?” Zhou Jia, salah satu juri yang duduk di sampingnya bertanya sembari membuka botol minum. Wanita pertengahan empat puluh itu meliriknya sekilas sebelum meneruskan, “Dari yang kudengar kau memulai sebagai duo bersama seorang perempuan. Tapi juri tidak memilih kalian.”

“Dengar, sebenarnya kau punya kemampuan luar biasa dan penampilan yang mendukung. Semua orang akan mencintaimu, dan kau akan memiliki banyak penggemar. Tapi tidak jika dengan perempuan itu. Kemampuannya tidak sebagus milikmu, dia hanya akan jadi benalu untukmu. Karena itu, juri yang lain tidak meloloskan kalian.”

Ia bahkan masih bisa mengingat kalimat yang disampaikan Produser Hong kala audisinya telah usai. Satu kalimat, yang lantas mengubah seluruh hidupnya.

“Tapi aku percaya kau bisa sukses jika mulai debut sebagai solois. Kau tidak akan berhasil bersama perempuan itu.”

Yixing tersenyum kecil lalu mengangguk atas pertanyaan Jia tadi. “Ya, benar.”

“Wah, menarik sekali. Kira-kira bagaimana kabar perempuan itu? Dia pasti menyesal tak ikut debut bersamamu jadi penyanyi.”

Menyesal?

Tidak. Wang Suyin tidak mungkin menyesal. Akan lebih mungkin jika Suyin membencinya setengah mati. Karena Yixing, telah memilih menjadi si egois yang meneruskan mimpinya seorang diri.

Setelah sekian lama, Suyin menemukan dirinya kembali berdiri di gedung ini.

Gadis itu menggigit bibirnya, berusaha menekan rasa sakit yang entah bagaimana mulai menyerang ulu hatinya. Melihat tempat ini hanya kembali mengingatkannya pada sosok pemuda itu. Kalau bukan karena Wenqian yang memintanya mengantar kemari, mungkin ia takkan pernah mau menginjakan kakinya lagi ke sini.

Bicara soal Wenqian, gadis belia itu kini tengah duduk di sampingnya dengan wajah ditekuk. Rautnya murung, dan Suyin tak perlu bertanya mengapa untuk tahu alasannya. Audisinya gagal, ia tak berhasil lolos ke tahap selanjutnya.

“Hei, jangan sedih begitu. Mungkin kali ini kau hanya kurang beruntung,” ujar Suyin berusaha membesarkan hati. “Kau masih punya banyak kesempatan di lain hari.”

Wenqian mengembuskan napas berat. “Jiejie tidak tahu bagaimana perasaanku. Aku sudah berlatih berbulan-bulan, menghindari makanan berminyak dan minuman dingin agar suaraku tetap stabil. Tapi bahkan di langkah pertama meraih mimpiku aku sudah gagal.”

Tentu saja Suyin tahu benar bagaimana perasaan Wenqian saat ini. Ia sangat mengerti. Mengorbankan banyak hal demi mimpinya, namun berakhir bertemu kata gagal. Dahulu Suyin pernah ada di posisi yang nyaris sama seperti Wenqian.

Ya, nyaris sama.

“Aku tak mengerti, bukankah kita telah berjanji untuk menjalani semua ini bersama? Bukankah kita akan menjadi penyanyi bersama-sama?” Suaranya tercekat di kerongkongan ketika ia bicara. Ditatapnya pemuda di hadapannya dengan tak percaya. “Bagaimana mungkin kau berniat menerima tawaran produser itu untuk debut seorang diri?”

“Dia bilang aku punya potensi besar untuk jadi penyanyi terkenal, Suyin. Aku bisa mewujudkan mimpiku jika aku mengikuti keinginan produser itu!” Yixing menyahut dengan antusias, seakan tak menyadari rasa sakit yang perlahan menyelimuti Suyin.

“Kau tahu mimpi yang kau miliki juga merupakan mimpiku,” tukas Suyin sementara matanya mulai membasah. “Kau tega membuangku demi meneruskan mimpi kita berdua? Kau tega melanjutkan mimpi itu seorang diri? Bagaimana bisa-”

“Aku tidak akan bisa berhasil jika bersamamu, Suyin!” Yixing menyambar perkataan Suyin dengan cepat. “Karenanya produser itu memilihku untuk debut sebagai solois dan bukannya duo bersamamu.”

Apa?

Suyin sempat berpikir telinganya telah menipu dirinya sendiri. Tak sangka hal seperti itulah yang akan dikatakan Yixing, sahabat baiknya sejak lama sekali.

“Tapi … tapi kenapa?”

Sesaat Yixing terdiam. Memikirkan kata yang sekiranya takkan menyakiti Suyin lebih dalam lagi. “Mungkin kita memang tak ditakdirkan untuk berhasil bersama-sama,” ujarnya, menghindar menatap mata Suyin. “Maaf, Suyin.”

Tanpa menunggu respons apa pun ia berbalik, dan menjauh meninggalkan Suyin seorang diri.

“Lalu bagaimana dengan perkataanmu saat itu? Bukankah kau bilang kita bisa melaluinya asalkan bersama?” Gadis itu berbisik pilu pada udara kosong di hadapannya.

Rupanya waktu sekalipun tak mampu menghapuskan rasa sakit yang pernah Suyin dapatkan. Sakit itu, masih terasa begitu nyata.

“Jiejie? Melamun, ya?”

Suara Wenqian berhasil menyadarkan Suyin kembali. Gadis Wang itu tersentak kecil, lalu menatap Wenqian yang kini berdiri dari duduknya.

“Tadi gege menelepon. Katanya dia akan segera tiba dan menjemput kita,” ujar Wenqian. “Aku mau ke toilet dulu. Jiejie di sini saja.”

“Ah, baiklah. Hati-hati, Wenqian.”

Sepeninggal Wenqian, Suyin menemukan dirinya kembali melamun. Ia menyandarkan kepalanya pada jendela besar di sampingnya, yang menyuguhkan pemandangan di luar gedung ini. Hujan masih belum juga reda, alasan yang membuatnya dan Wenqian tak segera pulang dan memilih menunggu di sini.

“Suyin?”

Kepalanya dengan cepat menyentak begitu mendengar suara familier tadi. Kedua matanya melebar, menemukan sesosok pemuda jangkung tengah berdiri di samping kursinya, memberinya tatapan tak terbaca.

Zhang Yixing. Pemuda itu Zhang Yixing.

“Ternyata memang benar kau,” gumam Yixing. Tanpa permisi ia mendudukan dirinya di samping Suyin. Beberapa saat keduanya hanya bungkam. Seakan sama-sama bingung harus mengatakan apa setelah lama tak bertemu. Hingga akhirnya, Yixing memulai, “Bagaimana kabarmu?”

Suyin nyaris mendengus mendengar pertanyaan ini.

“Baik. Seperti yang kau lihat,” sahutnya singkat.

“Kau … bagaimana bisa ada di sini?” Pemuda itu kembali bertanya.

“Mengantar adikku yang ikut audisi.”

Yixing menghadiahinya tatapan terkejut. “Adik? Tapi kau tak punya adik, bagaimana …?”

Senyum tipis merupakan jawaban yang lantas Yixing terima. Suyin kemudian menghela napas dan memijat pelipisnya yang terasa berat.

“Kita sudah lama sekali tidak bertemu. Ada begitu banyak hal yang ingin kutanyakan, tapi di saat bersamaan aku juga berpikir untuk memendamnya saja. Karena kupikir aku bisa terluka jika mendengar jawabanmu.” Seperti apa yang terjadi dahulu. “Meski begitu kurasa aku tak bisa mengubur pertanyaan ini setelah kita bertemu.”

Yixing menunggu, membiarkan Suyin meneruskan perkataannya.

“Kau, apakah kau bahagia dengan apa yang kau miliki saat ini?”

Apakah kau bahagia dengan apa yang kau dapat setelah menyingkirkanku demi mimpi itu?

Yixing terdiam mendengar ini. Semua orang yang melihatnya, mungkin mengira ia bahagia dengan apa yang dimilikinya. Pekerjaan yang bersinar, dan ribuan penggemar yang selalu menyayanginya sebagai seorang entertainer. Namun mereka tak pernah tahu, ada lubang besar dalam hatinya. Lubang menganga yang membuatnya merasa begitu sepi. Satu lubang hampa, yang ditinggalkan oleh Suyin.

Sejatinya ia hanyalah sosok pengecut yang tengah menipu dirinya sendiri dengan berpura-pura berbahagia akan hidupnya.

“Boleh aku berbohong?” Yixing berbisik, menatap Suyin sedih. “Aku bahagia. Sangat bahagia.”

Seulas senyum asimetris menghias bibir Suyin setelahnya. “Kau tahu? Setelah menciptakan satu luka di hati seseorang, kurasa kau pantas mendapatkan itu.”

“Maafkan aku,” ujar Yixing, kali ini kedengaran begitu tulus. “Maafkan aku atas semua yang telah kulakukan.”

Suyin tersentak kecil mendengar ini. Ia menatap Yixing lamat-lamat, hanya untuk menemukan penyesalan dalam manik matanya.

Baru saja ia membuka mulut, Wenqian telah kembali menghampirinya. Gadis itu terkesiap, mendapati Yixing duduk tepat di samping Suyin.

“Jiejie-”

“Oh, Wenqian, sudah selesai?” Suyin bergegas bangun dari duduknya, dan menggandeng tangan Wenqian. Ia menoleh pada Yixing yang masih bungkam, lalu berujar, “Yixing, kenalkan ini Li Wenqian, adik iparku.”

Kedua mata Yixing membola mendengar ini. “Adik ipar?”

“Ah, maafkan aku beberapa bulan lalu tak mengundangmu ke pesta pernikahanku. Kupikir kau terlalu sibuk dengan pekerjaanmu. Jadi mungkin jika kuundang kau juga tak bisa datang.” Suyin berujar cepat, memaksakan senyum di bibir. “Kalau begitu aku pulang dulu, ya.”

Ia telah mengambil beberapa langkah menjauh, namun kembali berbalik ketika teringat sesuatu.

“Oh, dan Yixing, tak perlu merasa bersalah lagi setelah ini. Bukan karena aku memaafkanmu, tapi seperti yang kau lihat, kini aku telah memiliki hidup yang sempurna walau aku tak bisa meraih mimpiku.”

Setelah itu ia benar-benar pergi, meninggalkan Yixing yang terduduk di tempatnya dengan perasaan kosong.

Kini ia berdiri di tempat yang sama seperti kali pertama segalanya dimulai.

Namun hari ini, tak ada gadis itu di sisinya.

Sebab ia telah membuat Wang Suyin pergi menjauh, dan enggan untuk sekadar memandangnya kembali.

FIN

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s