[Lay Birthday Project] THE HIDEOUS BIRTHDAY

66

THE HIDEOUS BIRTHDAY
By deljonginie

Starring;
Zhang Yixing (EXO)
Cho Yi Eun (OC)

Oneshoot ; PG-17 with Romance ; angst

“Faktanya, mengubah takdir merupakan hal yang tidak nalar bagi makhluk hidup seperti manusia. Baik itu buruk, maupun baik, kau hanya bisa melapangkan dadamu. Tapi, jangan melupakan fakta lainnya; kau bisa memperbaiki takdir itu.”

—-

Ah, dia lagi.

Hanya dengan melihat kilas punggung tegap berbalut kemeja hitam itu, aku sudah paham, ini terulang lagi.

Sudah lama sejak aku tidak melihatnya. Kisah tragis antara pria manis dengan lesung pipi dan wanita anggun yang memainkan peran hilang ingatannya.

Walaupun ini terulang setiap tahunnya, aku belum bisa mengingat semua adegannya. Masih ada yang masih buram di ingatanku, itu karena aku memang tidak ingin menyimpannya di ingatanku.

Ah, ini sudah mulai.

Pria itu meringis, terdengar sangat memilukan sehingga membuatku terenyah. Pasti dia ingin menangis; ingin menumpahkan semua perasaan tertahannya tentang penderitaan yang sedang ia hadapi. Namun, lihatlah luka lebam yang melingkar di mata kecilnya itu. Mungkin untuk berkedip saja, ia harus bersusah payah menahan sakitnya.

Tangannya dihiasi dengan rantai besi. Sangat adil, masing-masing tangannya mendapatkan rantainya sendiri.

Aku terus menatapnya, yang masih meringis sambil meremas kencang kemejanya sebelum High Heels hitam yang kini menjadi favorit ku itu melayang menghantam pipi bagian kiri sang pria.

Oh, itu sangat sakit. Sungguh. Tapi, pria itu tidak bergeming. Ia hanya mendongakkan kepalanya; menatap wanita itu dengan penuh makna yang tersirat. Siapapun bisa tahu dari tatapannya tersebut, ia menyimpan segudang rasa kagum, rasa sayang, dan cinta.

“Berikan sandi ponselmu. Kau akan tersiksa lebih lama, Zhang Yixing-ssi.”

Lagi, aku tersenyum saat nama itu akhirnya ia sebutkan. Kenapa aku banyak tersenyum kali ini? Tahun-tahun sebelumnya, aku yakin, aku hanya berdiri dengan tegang saat ini terulang lagi. Dulu aku akan ketakutan, dan ingin segera meninggalkan tempat ini. Tapi, sekarang, aku merasa aku harus menyaksikannya sampai akhir.

“Ulang tahunku.” Ujar si Yixing itu singkat. Terlihat dari matanya, ia ingin sekali berbicara lebih banyak dengan wanita itu. Tapi, sekali lagi, take a look of his face. Penuh dengan luka-luka jahat. Menutupi paras tampannya.

Selanjutnya.. Ah, aku ingat ini. Sesosok pria bertubuh besar memasuki ruangan, memberikan sebungkus roti pada pria itu. Bagaikan seekor serigala yang tidak mendapatkan makanannya selama beberapa minggu, si Yixing itu merampas makanan bulat berbahan gandum dengan kasar. Ironi memang, dia bahkan tidak pernah meminum air setetes pun.

Hatiku mencelos melihat apa yang selanjutnya terjadi. Ia makan seperti binatang, cepat dan berantakan. Membuat pria bertubuh besar itu menatapnya dengan jijik dan bahkan melayangkan tinjuan pada wajahnya.

Seandainya aku bisa, aku ingin membalas pukulan menyakitkan itu. Kunyahan roti yang belum halus dengan sempurna melompat keluar dari mulutnya; disertai dengan cairan darah.

“Keluarlah. Ini urusanku.” Perintah wanita itu. Ini lucu, sungguh, ketika air mata mengalir di pipinya.

Selepas kepergian pria tak berbelas kasihan itu, Yixing kembali mengambil roti yang tampilannya tidak lagi bulat. Melainkan, rata dan kempes akibat remasan kuat si Yixing.

Kulihat, tangisan sang wanita semakin deras. Kembali melihat Yixing versi binatang.

“Kumohon, berikan sajalah sandi ponselmu. Ikuti prosedurnya. Kau tahu, aku sama tersiksanya denganmu! Luka yang kita dapatkan berbeda. Kau dengan fisikmu, dan aku dengan batinku.”

Alis pria itu mengernyit. Menatap sang wanita dengan heran, tapi terlihat, ia sedang mencerna maksud dari perkataan ambigu itu secara perlahan.

Hingga air mukanya berubah; ia terkejut. Matanya membulat sempurna, tapi binar bahagia yang terpancar dapat aku lihat dengan jelas.

Aku juga mengernyitkan alisku. Bingung, berusaha mengingat adegan ini. Apakah aku benar-benar melupakannya? Ini terasa asing. Ah, mungkin aku sudah memberontak untuk keluar dari tempat ini, tahun-tahun yang lalu.

Berikutnya, kalimat wanita itu berhasil membuatku menangis.

“Aku diancam, Yixing-ah. Aku diancam. Maafkan aku, maafkan aku.”

Ternyata, aku tidak melupakan sepenuhnya. Rasa terkejut nan bahagia yang dirasakan oleh Yixing saat ini, aku mengingatnya. Rasanya seperti ada seberkas cahaya harapan menuju kehidupan baru yang lebih cerah masuk menerobos ruangan gelap itu.

“Apa maksudmu?” Suaranya terdengar sangat pilu, usahanya untuk mengucapkan sepatah kalimat pertanyaan itu sangat besar.

“Aku terbangun 1 minggu yang lalu di rumah sakit. Saat mataku terbuka, aku menemukan beberapa anak buah ayahku, walaupun yang kuharapkan hanya dirimu.” Tubuh Yixing seketika melemas. Pundaknya yang mulanya menegang, kini menjadi seperti jelly.

Sungguh, aku sekarang menyesali selalu merasa takut melihat ini. Harusnya sudah dari dulu aku menyaksikan ini sampai habis. Agar aku tidak merasa ketakutan lagi jika tahun berikutnya ini terulang lagi. Toh, kebenarannya terungkap, ‘kan?

Mulai sekarang, adegan ini menjadi favoritku.

“Aku tidak kehilangan ingatanku sedikit pun. Aku mengingat semuanya dengan jelas. Saat wajah ayahku yang terlihat sangat menakutkan. Saat tangan hinanya meraba pangkal leherku dan berusaha menjatuhkan ku di kasur. Aku ingat semuanya,”

Aku menangis melihat aliran air mata di pipinya semakin deras. Yixing masih diam mendengarkan semuanya.

“Tidak ada yang bisa kulakukan saat itu selain menghubungimu, kekasihku. Tapi, kau sangat terlambat. Ayahku berhasil membuka bajuku, tapi tidak sempat menyentuhku; karena aku segera menghunuskan pisau kecil miliknya tepat di jantungnya. Aku mendapatkan gelar baruku saat itu, sebagai Cho Yi Eun pembunuh.”

Tangan wanita itu terangkat menghapus air matanya, sebelum melanjutkan.

“Aku berterima kasih padamu yang begitu mencintaiku. Melemparku dari atas gedung agar kau menjadi tersangkanya, aku sangat berterima kasih dan merasa bersalah padamu. Kau tahu, Yixing-ah, saat aku bangun, aku meneriaki mereka semua. Dan ibuku, mengancamku akan membunuhmu jika aku melaporkan kelakuan ayahku yang–,” Ucapannya terhenti saat kesedihan dan amarah kembali menguasai dirinya. Yi Eun menangis pilu sebelum melanjutkan,

“–hina. Saat itu pun aku tahu, aku dijual untuk politik. Sengaja ayahku membuat skandal denganku. Aku tak tahu dan tak ingin tahu apa alasannya karena aku benar-benar muak dengan ini semua. Aku disuruh pura-pura menghilangkan ingatanku agar aku bisa membuatmu menjadi tersangka sepenuhnya. Tapi, tahu apa yang kekasihmu ini lakukan? Aku mengaturnya seperti yang aku hendaki.”

Yixing mengangkat tangannya, berusaha meraih tubuh Yi Eun untuk ia rengkuh. Tapi, kekuatannya tidak ada. Melihat itu, Yi Eun segera mendekatkan tubuhnya dan merengkuh Yixing dengan erat.

Mulai dari ini, aku sudah mengingatnya dengan jelas. Senyuman kini mengembang di bibirku. Aku mengedarkan pandanganku ke sekitar, menyadari bahwa sudah saatnya aku pergi dari dimensi mimpi ini; kembali ke dimensi nyata, yang dimana istriku telah menungguku. Hanya dengan melihat adegan bahagia seperti ini sudah cukup bagiku. Inilah akhir yang kuinginkan.

Karena selanjutnya yang akan terlihat hanya raut wajah terkejut dari pria bertubuh besar itu tadi. Seluruh bukti yang menyatakan Yixing bersala telah diubah oleh Yi Eun menjadi bukti milik pria bertubuh besar itu.

Semua berjalan sesuai dengan rencana Yi Eun. Dan inilah saatnya aku kembali. Menyaksikan kisah tragis ku dengan wanitaku Yi Eun memberikanku banyak pelajaran untuk hidup lebih baik di masa depan.

Aku salut padamu, diriku di masa lalu. Takdir buruk kita, bisa berubah. Zhang Yixing di masa lalu, kini kau menjadi Lay, suami Cho Yi Eun.

—-

“Sudah bangun? Kenapa menangis, Lay-ah? Lagi, ya?” Yi Eun mengecup pelipis Lay; yang dibalas dengan senyuman manis pria itu, lengkap dengan lesung pipinya.

“Memangnya apa lagi? Aku akhirnya menyaksikannya hingga akhir. Dan, aku bahagia, endingnya sangat keren. Selama ini aku berusaha untuk melupakannya, tapi melihat ending itu, aku benar-benar merasa bahagia.” Lay balas mengecup Yi Eun, mulai dari mata, hidung, dan berakhir di bibir tipisnya.

“Kini, aku tak akan menyebutnya The Hideous Birthday lagi. Ini harusnya menjadi The Happiest Birthday. Serangkaian kisah hidupku yang berawal tragis hingga menjadi bahagia, harusnya disebut The Happiest Birthday.” Lay terkekeh sembari merengkuh tubuh Yi Eun.

Tarikan napas panjang dari Yi Eun; menandakan bahwa ia sedang menghirup aroma tubuh suaminya. Ia tersenyum dalam rengkuhan Lay,

“Happy birthday, Lay-ah. Mau merayakannya di kasur?”

-END-

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s