[Lay Birthday Project] Stay

57

Stay – Fang
Lay & Aku || Romance || PG-13

Suasana taman malam ini terasa sangat menyenangkan, terdengar canda tawa anak kecil yang berlarian di tepi danau Seokchonhosu, dan juga terdapat beberapa pasangan yang saling tersenyum dan tertawa di hadapan gemerlap nya kota Seoul.

Namun tidak bagi Lay, malam itu begitu menyedihkan baginya. Aku duduk di sampingnya, menatap kosong ke arah danau sambil menggenggam tangan Lay yang dingin tanpa sepatah kata yang keluar dari bibir kami. Kesunyian ini berlangsung selama 30 menit sampai akhirnya Lay menetes kan air mata dan kemudian terisak. Aku memeluknya sambil berusaha menahan air mata ku.

“Aku mohon jangan pergi, jangan tinggalkan aku” isak Lay.

“Aku minta maaf, tapi aku harus kembali ke Indonesia” jawabku, “Aku harus bekerja”

“Kamu tidak perlu bekerja, aku akan memenuhi semua kebutuhanmu, tolong jangan pergi. Aku telah mengalami masa-masa yang sulit akhir-akhir ini, dan berkat mu, aku tidak merasa susah, kamu selalu membuat ku kuat dalam menjalani semua ini. Aku sangat senang jika kau berada disampingku, bukankah kau merasakan hal yang sama?” rengeknya.

Aku dan Lay bertemu 3 bulan yang lalu, ketika aku sedang berlibur di Seoul dan Lay sedang menjalankan konsernya di kota yang sama.
Malam itu pukul 11.20, saat aku sedang bersantai di kamar hotel setelah berkeliling kota Seoul dihari pertama, seseorang mengetuk pintu kamarku sangat keras. Tanpa mengintip terlebih dahulu, aku segera membuka pintu namun tidak ada siapapun. Aku mencari sampai ke ujung lorong tanpa menyadari bahwa aku keluar kamar hotel tanpa membawa kunci dan hal itu membuat diriku terkunci di luar kamar.

“Bagus. Sekarang aku harus apa?” protesku sendiri.

Pintu seberang kamarku perlahan terbuka, dan muncul beberapa pria.

“Maaf, kami tadi yang mengetuk pintumu, kami hanya iseng, sekali lagi maafkan.” ucap salah satu dari mereka dengan bahasa korea.

“Oh jadi kalian?” tanyaku sedikit kesal dengan menggunakan bahasa inggris. “Baiklah, sekarang antarkan aku ke resepsionis dan jelaskan apa yang terjadi.”

“Wow! Apakah kamu turis? Dari mana kamu? Wah salam kenal ya, namaku Baekhyun, ini Chanyeol, dan ini Lay, Lay akan mengantarkanmu ke resepsionis. Anyong!” Dia mendorong Lay sedikit ke depan sehingga mereka, Chanyeol dan Baekhyun, dapat menutup pintu dan meninggalkan Lay bersamaku. Terlihat jelas wajah usil mereka saat berseru ‘Anyong!’, dan wajah kaget terlihat jelas di wajah Lay.

Lay menjelaskan apa yang terjadi ke resepsionis, dia menjelaskan menggunakan bahasa korea yang sedikit terbata-bata dan segera aku mendapatkan kunci cadangan.

“Hey, bisakah kau mengantarkanku ke minimarket? Aku tidak tahu daerah sini” pintaku.

“Baiklah, ayo jalan, lokasinya cukup dekat” jawabnya. “Aku Lay, boleh aku tau namamu dan asalmu?” tanyanya sambil berjalan ke arah tujuan.

“Sarah, dari Indonesia. Apa kamu dari Korea? Aku perhatikan kamu tidak terlalu lancar menggunakan bahasa korea”

“Aku dari Cina, Zhang Yixing nama asliku.”

“Bukankah ini lucu? Aku dari Indonesia, kamu dari Cina, kita berada di Korea, dan berbicara dengan bahasa Inggris” candaku.

“Hahaha aku baru menyadarinya.” Lay tertawa, “Lalu, apa yang kamu lakukan disini? Liburan?”

“Ya, liburan. Aku akan berada disini selama seminggu. Aku disini untuk mencari suasana baru untuk novelku yang selanjutnya”

“Kamu penulis? Wah! Daebak!” Lay terkagum-kagum.

“Ya, bagaimana denganmu?” tanyaku.

“Hmm apa kamu tau EXO?” tanya Lay seperti mengalihkan pembicaraan.

“Na eureurong eureurong eureurong dae” aku bernyanyi. “Aku hanya tahu lagu itu, dan satu baris itu saja. Temanku selalu menyanyikan lagu itu, cukup membuatku sakit kepala!”

“Hahahaha apa kamu hater? Apa kamu tidak pernah melihat member EXO?” Lay tertawa sambil terheran-heran. “Aku Zhang Yixing alias Lay, member EXO.” Dia mengulurkan tangannya memberi tanda salam kenal.

Aku terdiam sebentar kemudian membalas uluran tangan Lay. “Serius? Wow!” Aku tidak tahu harus berbicara apa karena aku tidak begitu tahu tentang EXO.

“Hey, aku akan memberikanmu tur kuliner korea besok, aku akan menjadi pemandunya! Bagaimana? Kemudian aku akan tampil konser besok malam, kamu boleh menontonku lewat backstage. Setidaknya kamu harus mengetahui EXO walaupun sedikit dan menonton konsernya. Oke? Aku janji ini akan menyenangkan!” serunya.

“Baiklah!” jawabku penuh semangat. “Siapa yang tidak mau? Kuliner gratis lengkap dengan pemandu, dan konser gratis lengkap dengan meet and greet” candaku.

Aku dan Lay melanjutkan perjalanan menuju minimarket sambil berbincang-bincang tentang segala hal. Aku menyimpulkan bahwa Lay adalah orang yang sangat menyenangkan karena aku menikmati obrolan kami dan begitu juga Lay. Canda tawa kami memecah sunyinya rute hotel-minimarket tengah malam.

Kuliner makanan korea bersama Lay berjalan sangat menyenangkan, kami sangat menikmatinya. Lay terlihat menakjubkan disegala kondisi, baik saat dia memberikan penjelasan, maupun disaat dia sedang makan. Begitu juga dengan konsernya, sangat luar biasa! Meskipun ada 9 dari mereka dan mereka semua terlihat hebat, tetap saja mataku tidak bisa lepas dari Lay yang dengan seksinya menari di atas panggung di antara teriakan-teriakan fans yang menggila.

“We Are One! Oppa saranghae!” seruku saat Lay berjalan diujung lorong seusai konser.

“Bukankah kamu hater?” canda Lay berjalan ke arahku.

“Tadinya,” ujarku “dimana yang lain?”

“Masih di ruang ganti, aku harus bergegas menemuimu. Kamu ingin bertemu mereka? Lain kali saja, ya! Aku akan mengenalkan mereka padamu lain kali.” jawabnya, “Aku tidak tahu kenapa, tapi rasanya aku ingin terus mengobrol bersamamu.”

“Aku lapar, ayo makan mi instan khas Indonesia, aku membawa beberapa bungkus di koperku. kamu harus merasakannya!” ajakku tidak menghiraukan perkataan Lay.

“Ayo!” Lay selalu semangat setiap kali aku mengajaknya melakukan sesuatu bersama.

Sesampainya di hotel, aku memasak mi instan rasa ayam bawang favoritku, sedangkan Lay menunggu di meja makan sambil menontonku. Saat makan, Lay tidak henti-hentinya memuji kenikmatan mi instan khas Indonesia yang penuh dengan pengawet ini dan aku tidak bisa berhenti tertawa. Setelah makan, kami menonton film bertajuk horor dan romantis, yang membuat posisi duduk kami semakin dekat.

“Tidak apa-apa, aku disini.” Lay menenangkanku. Tanpa disadari, aku telah membenamkan wajahku kepelukannya saat salah satu adegan membuatku terkejut takut.

Tersadar, segera aku menoleh ke wajahnya tanpa melepaskan pelukannya. Mata kami saling menatap, mendekat, kemudian menutup mata. Lay menciumku tepat di bibir dan aku merasakan kelembutan yang ia miliki, rasa kasih, rasa cinta, kehangatan dan perlindungan yang ia miliki, aku merasakan segalanya.

Zhang Yixing memelukku.

“Aku tahu, kita baru bertemu kemarin. Tapi rasanya aku sudah mengenalmu seumur hidupku. Aku rasa aku menyukaimu. Aku senang bersamamu” katanya sambil tetap memelukku.

“Aku juga memyukaimu, Zhang Yixing” jawabku.

Begitulah cerita bagaimana kami bertemu. Entah itu takdir atau hanya sebuah kebetulan, aku dan Lay saling mencintai, dan aku telah setia mendukung dan menemaninya disetiap saat selama tiga bulan terakhir ini.

“Sayang, tiga bulan berada di Korea sudah menjadi waktu yang cukup lama. Aku masih punya pekerjaan, teman, keluarga. Kita bukan berpisah, aku pergi, tapi bukan berarti aku tidak akan kembali. Kita bisa saling SMS, telpon, atau video call kan?” kataku sambil menenangkan Lay yang masih menangis dipelukkanku.

Lay tidak berkata apapun.

“Ayo pulang, kamu butuh istirahat, kita bisa bicarakan ini nanti. Lagipula, aku tidak ingin fans mengenalimu disini apalagi dengan kondisimu yang sedang menangis ini” ajakku.

Kami kembali ke hotel, kamar hotelku. Member EXO lainnya sudah tidak lagi di kamar seberang karena konser di Seoul sudah berakhir, saat ini mereka berada di dorm nya.

Lay masih terdiam, duduk di sofa di depan televisi.

“Lay, kamu tidak pulang ke dorm? Kamu harus istirahat. Aku akan telepon Suho untuk menjemputmu, ya?” tanyaku cemas.

“Aku akan tidur disini, aku ingin bersamamu.” jawab Lay kosong.

“Baiklah, ayo tidur.” aku mengiyakan sambil menghela napas.

Lay membanting dirinya ke kasur, kemudian menatap kosong langit-langit. Aku gemas melihatnya, Lay yang selalu seperti ini disetiap aku berencana untuk pulang.

Aku mendekat dan merebahkan diriku disamping Lay, sama-sama memandang langit-langit.

“Menikahlah denganku.” ucap Lay secara tiba-tiba.

“Bagaimana dengan fansmu? EXO? Keluargaku dan keluargamu?”

Lay bangun dan menatapku, “Fansku pasti akan mengerti, atau kita akan melakukan ini diam-diam. Bisa kan? EXO? Mereka sangat mendukungku bersamamu, mereka mengatakan bahwa kamu adalah hal yang positif bagiku, kamu membuatku tertawa, membuatku bahagia, membuatku semangat, dan yang pasti kamu adalah alasan utama kenapa aku bekerja keras. Itu sudah lebih dari cukup bagiku. Aku akan mengatakan hal yang sama ke keluargaku, dan aku akan berjanji kepada orang-tuamu untuk selalu membuatmu bahagia. Sayang, kita akan selalu bersama, dari aku dan kamu, menjadi aku, kamu, dan anak kita, kemudian aku, kamu, anak kita, dan cucu kita, kemudian menjadi aku dan kamu kembali, berdua menjadi tua bersama tanpa mengkhawatirkan anak cucu kita yang sudah memiliki kehidupan masing-masing. Aku ingin melakukan semua itu bersamamu, begitu juga kamu, kan?”

Lay menatapku dalam-dalam, kemudian menciumku dengan lembut dan penuh kehangatan. Dia menciumku cukup lama hingga akhirnya aku merasakan tetesan air matanya yang menetes ke pipiku.

“Aku mencintaimu, Sarah. Aku mohon tetaplah disini.” pinta Lay.

Aku mengecup bibir Lay sekali lagi, “Ya, aku akan menikahi mu Zhang Yixing. Berhentilah menangis, aku akan selalu ada disini untukmu.”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s