[Lay Birthday Project] Moonlight

65

Moonlight – Maymfa10 Lay & Oc || Romance, Hurt, AU || G

Terkadang, perasaan yang kau abaikan selama bertahun – tahun, akan terus mengendap dan mengacaukan hatimu.

Tak perduli seberapa kecil perasaan itu, akan tetap bertahan walaupun tak kau tengok sekalipun.

Sama seperti perasaan pada sahabatmu. Rasa yang kau anggap sebagai rasa nyaman belaka. Rasa yang tak ada bedanya dengan perasaan pada sahabat biasa.

Rasa itu akan tetap ada. Meski tak ada seorangpun yang mengetahuinya.

Tapi tidak denganku. Perasaanku berbeda. Perasaanku tak sama dengan perasaanmu.

Aku menyadari perasaanku. Aku tak mengabaikannya. Tapi mau bagaimana lagi?. Orang yang kuinginkan, sudah mempunyai orang lain yang ia harapkan.

Malam ini sama seperti malam – malam sebelumnya. Langit malam Paris masih sama seperti malam – malam kemarin. Ramai. Dengan bulan dan bintang yang ramaikan kota metropolitan dibawahnya. Paris selalu ramai. Tak perduli seberapa larut malam yang menyelimuti.

Aku pun masih disini. Sama seperti malam yang lalu. Berdiri di balkon apartment ku sambil menatap langit malam yang kelabu. Segelap hatiku akibat perasaanku sendiri.

Aku menaikkan tanganku seolah hendak menggapai bulan diatasku. Hal yang biasanya tak ku lakukan.

“Mengapa kau begitu jauh?”

Gumamku tanpa sadar menyuarakan teriakan batinku. Rasanya aneh. Aku yang terlalu bodoh, atau dia yang memang tidak ingin tahu?.

Aku selalu berada disampingnya. Menjaganya siang maupun malam. Dampingi dia disaat terkelamnya. Menangkapnya ketika ia jatuh. Tapi mengapa dia masih saja terasa begitu jauh?. Kami berteman. Tapi mengapa rasanya hatiku sakit sekali melihatnya dengan orang lain, dan tersenyum bahagia?.

Tidak. Aku tidak seburuk itu. Iya. Setidaknya aku masih bisa tersenyum melihatnya tertawa dengan sahabatku yang lain. Tapi apa aku hanya boleh diam melihatnya terus tersakiti oleh pemuda impiannya?.

Ting Nong…

Bel apartment ku berbunyi. Tanpa perlu ditanyakan, itu adalah dia. Gadis yang selalu menjadi cahaya hatiku. Baik dulu, maupun sekarang.

Aku membuka pintu dengan sedikit tergesa. Tak ingin membiarkannya terlalu lama diluar.

Saat aku membuka pintu, aku tak terkejut lagi melihatnya tersenyum sedih dengan sebotol anggur merah ditangan kanannya.

“Boleh aku masuk?” Tanyanya sambil mengangkat botol anggur tadi. Aku tersenyum lalu mengangguk. Menggeser sedikit tubuhku dari pintu. Mempersilahkannya masuk.

Setelahnya, ia langsung masuk dan menyelinap ke dapurku. Mengambil dua gelas anggur dan menuangkan botol yang dibawanya tadi. Aku memperhatikannya sambil menyender pada dinding bufet dapurku.

Gadis itu masih mengenakan pakaian yang kulihat tadi sore di kampus. Bedanya, rambut pirang sebahunya tak lagi terkepang rapi. Rambutnya sudah tergerai, dan beberapa jatuh kedepan saat ia sedikit menunduk seperti sekarang.

Aku menatapnya tanpa berkedip untuk beberapa menit. Dia…sempurna. Wajah oriental dengan mata sipitnya yang indah, bola matanya berwarna biru, hidung mancung, dan bibir tipis merah muda. Dia…keindahan. Butuh waktu selamanya bagiku untuk menuliskan seberapa menawannya dia.

“Apa kau mau terus berdiri disitu, dan menatapku, Tuan Zhang?” Katanya menyadarkanku dari lamunan. Aku mengerjab beberapa kali sebelum terkikik geli melihatnya tengah menatapku dengan pandangan kesal.

Aku menyambar gelas anggur yang disodorkannya, dan membawanya duduk dilantai sambil menyender pada balkon apartment ku. Kebiasaan kami setiap malam. Karena, gadis ini selalu datang mengejutkanku setiap malamnya.

Li Wixian – nama gadis ini – meletakan gelasnya lalu memeluk kedua lututnya. Aku masih memperhatikan gerak – geriknya dalam diam sambil memainkan gelasku. Seperti biasa, jantungku selalu bekerja dengan tidak normal tiap kali dia didekatku. Apalagi ketika aku mampu melihat wajahnya dari dekat seperti ini.

“Sehun marah lagi padaku. Dia cemburu karena Kai yang sore tadi menemaniku keperpustakaan. Dia menyuruhku untuk tidak bersikap seperti gadis lajang. Dia juga bilang –”

“Sstt…Kau tidak perlu menceritakannya padaku,”

Aku menyela perkataannya sebelum dia menyelesaikan kalimatnya, dengan meletakan telunjuk kananku dibibirnya.

Dia seharusnya tidak usah menjelaskan apapun padaku. Dia seharusnya tidak usah mengatakan apapun tentang prianya dihadapanku. Dia seharusnya tak perlu membuka lukanya didepanku. Aku sudah mengerti. Aku sudah paham.

Dulu mungkin, aku selalu membutuhkan alasan darinya mengapa dia datang padaku selarut ini. Dulu mungkin aku akan menyuruhnya untuk menceritakan apa yang selama ini terjadi pada mereka. Dulu mungkin aku akan marah dan memaksanya untuk berhenti. Tapi tidak dengan sekarang. Aku cukup mengerti untuk tidak memaksanya. Aku cukup sadar bahwa memaksanya hanya akan menimbulkan luka baru baginya.

Aku melepaskan jariku dari lekukan indah bibirnya. Aku tatap wajah cantiknya yang bercahaya karena terkena pancaran sinar bulan. Tuhan, aku begitu mencintai Li Wixian ini.

“Kau tahu, Xing?. Terkadang aku merasa menjadi gadis paling bodoh dimuka bumi ini. Aku tahu aku terluka, tapi hatiku terus memaksa agar tetap bersamanya. Aku… begitu mencintainya. Pemuda bernama Oh Sehun itu. Aku terlalu mencintainya.”

Wixian memejamkan matanya erat. Setetes air mata menuruni wajah cantiknya. Aku menatapnya dengan pandangan sendu. Hatiku terasa sakit melihat aliran yang semakin deras itu.

Aku menaikkan tangan kananku hendak menyeka lelehan itu. Tapi kuurungkan. Aku harus sadar posisiku disini. Aku tak berhak untuk melakukannya.

“Tidak. Kau melakukan hal yang benar. Terkadang, hati dan akal sehat tidak sinkron. Dan aku tahu, mengikuti hatimu terkadang akan membawa kedamaian.”

Aku meneguk anggurku dengan kasar. Astaga.. apa yang barusan aku katakan?. Mengikuti kata hati?. Klise sekali. Namun, faktanya memang begitu. Aku saja yang terlalu pengecut untuk berterus terang pada Wixian. Aku saja yang terlalu bodoh dengan membiarkannya terus terluka disamping Sehun. Dan sialnya, Sehun adalah sahabat terbaik yang pernah kumiliki.

“Ya, mungkin kau benar. Hati dan pikiranku tidak sejalan.” Wixian tersenyum manis kearahku lalu bangkit berdiri. Aku ikut berdiri disampingnya.

“Indah ya… ” Lirihnya yang entah ditujukan pada apa. Aku hanya menjawab dengan gumaman. Aku masih terlalu sibuk mengagumi pahatan Tuhan yang sempurna pada diri Wixian.

“Xing – ah,” Panggil Wixian yang lagi – lagi hanya kutanggapi dengan sebuah gumaman. Lama dia terdiam, membuatku ikut berdiri disampingnya. Dia menoleh padaku, lalu tersenyum sangat manis. Senyuman paling indah yang pernah kulihat sepanjang hidupku.

“Kau bisa berhenti sekarang. Aku sadar, aku tak akan pernah melihatmu,”

Aku membelakan mataku terkejut. Jadi… selama ini dia tahu?. Tapi kenapa dia masih bertahan disisiku?. Untuk apa?.

Wixian menggenggam kedua tanganku dan menatap mataku dalam.”Kau sudah banyak terluka sebelum ini. Kau berhak mendapatkan gadis lain yang seribu kali lipat lebih baik dariku.”

Aku hanya menatapnya dengan tatapan sendu. Jadi begini akhirnya. Akhir dari kisahku yang entah sejak kapan dimulai. Akhir dari segala perjuanganku untuk membuatnya menjadi milikku.

Pada dasarnya, dia memang tidak pernah untukku. Hatiku memang ada padanya, tapi hati Wixian tak pernah sekalipun ada padaku.

Karena dari awal, Li Wixian memang tak akan pernah untuk Zhang Yixing. Dulu, maupun sekarang.

Hatinya adalah sebuah tempat yang tidak akan bisa kusentuh.Sebuah tempat yang tidak bisa aku tempati. Sebuah refleksi yang ternyata tidak nyata Inilah kisah sedihku tentang cinta yang tidak terpenuhi. Semakin mendekat, semakin kuat sakit yang kurasakan.

Aku memilih menyerah. Aku menatap wajahnya sekali lagi yang bersinar terkena pantulan cahaya bulan. Aku tersenyum padanya lalu mengangguk singkat. “Iya, aku mengerti. Aku pun tak berharap kau menyadariku.”

Dan sekarang semua sudah berakhir. Hatiku memang hancur, sehancur butiran debu, tetapi tajam. Sakit, tetapi tak berdarah. Namun, sejak awal aku sudah tahu akan begini.

Bagi Zhang Yixing, Li Wixian adalah seluruh dunianya. Tapi bagi Li Wixian, Zhang Yixing adalah pelariannya. Tak apa, karena Zhang Yixing akan selalu untuk Li Wixian. Meskipun Li Wixian, tak lebih dari bayangan semu tanpa bisa digapai untuk Zhang Yixing.

END.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s