[Lay Birthday Project] Monster

72

Monster – mssica

Lay & Exo members / Horror, Fantasy / PG-17

.

Happy Reading!

.

“Tapi kenapa mayatnya sampai remuk begitu? Seperti terlindas mobil saja”

“Tidak mungkin tenaga manusia dapat melakukannya”

“Mungkin saja dia di pukul habis-habisan oleh pembunuhnya”

Mereka bertiga sama-sama mengangguk. Jaemin, murid kelas 12-3 itu dikabarkan meninggal tadi pagi. Seluruh murid di sekolah tak henti-hentinya membicarakan kematian murid yang terkenal berandalan itu.

“Bukannya di drop out dari sekolah. Ia justru di drop out dari bumi ini” ujar Luhan, murid dengan mata rusa berkilauannya.

“Wajar saja. Dia terlalu banyak berbuat dosa, contohnya dengan menggagalkan tim basket kita untuk ikut lomba ke ajang nasional” cibir Lay. Ia masih geram akan tindakan yang dilakukan Jaemin sebelumnya.

“Tapi kematiannya tragis. Pembunuhnya pun belum diketahui” sambung Kris, pria tinggi dengan wajah datarnya.

“Sudahlah. Tidak usah terlalu peduli padanya” ujar Lay yang kemudian beranjak dari tempat duduknya seraya bel berbunyi menandakan waktu istirahat telah habis.

“Ah! Aku lupa bawa jaket! Di lab computer itu dingin. Aku tidak sanggup!” panik Luhan sambil menggosok kedua lengannya.

“Salahmu sendiri. Sudah tau kita akan memasuki musim dingin”

“Kau mau pinjam jaketku?” tawar Lay.

“Tidak! Aroma jaketmu dapat tercium dari jauh. Sungguh bau! Bau amis!” ejek Luhan dengan wajah masamnya. Alhasil ia mendapat tendangan super dari Lay yang menancap dengan pas di bokongnya, yang kemudian ditertawai oleh Kris.

“Kenapa cuma kita bertiga?”

“Yang lain tidak bisa ikut” jawab Kris. Lay dan Luhan mengangguk. Mereka pun kembali memencet bel di samping pintu rumah tersebut. Rumah seseorang yang sedang mereka jenguk.

Pintu pun terbuka, memperlihatkan wanita paruh baya yang mempersilahkan ketiga sekawan itu untuk masuk. Mereka disuruh untuk menunggu. Tak lama kemudian, keluarlah seseorang dari sebuah ruangan dengan banyak perban di tangan serta kepalanya. Tao, si kapten basket, yang kemarin sempat dibully oleh Jaemin sebelum hari kematiannya.

“Hi. Apa kabar Tao?” ujar Luhan ramah.

“Baik” Hanya itu. Ketiga sekawan itu mengangguk.

“Apa kau sudah mendengar beritanya?”

Hening sebentar. Tao pun mengangguk.

“Sebenarnya apa yang terjadi Tao?” Tanya Kris.

“Kau tau siapa pembunuhnya?” Tanya Luhan tak sabar.

Tao terdiam memandangi lantai, yang lain menunggu jawaban.

“Maaf. Aku tidak tau”

“Sudahlah. Kita tidak sedang menginterogasi nya. Ia butuh istirahat. Benarkan, Tao?” Tanya Lay tersenyum, yang dibalas tatapan kosong oleh Tao. Dari sana, ketiga sekawan itu memutuskan untuk segera pamit. Mereka pun meninggalkan rumah Tao.

“Lay, kau ditunjuk jadi kapten basket!”

“Padahal kau tidak lebih baik bermain dariku” Cibir Kris.

Mereka pun tertawa cekikikan bersama. Tawa kebahagiaan mereka ikut menghiasi kantin sekolah. Namun kemudian, semua itu teralihkan dengan;

“Hei! Tao menjadi tersangka pembunuh Jaemin!”

“Aku juga tidak percaya. Kelihatannya tidak mungkin”

“Buktinya pun belum ada”

“Ya sudah cepat tekan bel nya” Lagi, mereka mengunjungi rumah Tao. Cukup lama menunggu, akhirnya pintu terbuka dengan Tao yang langsung menyambut mereka.

“Kenapa kalian kesini?” Ketiga sekawan pun mengernyit bingung.

“Tenang Tao. Kami tau kau tak bersalah. Kami datang untuk memberi sema-“

“Apa yang kalian inginkan dariku?!” ketiga sekawan itu berjingit ngeri, mereka bingung dengan Tao yang sekarang memaki mereka tiba-tiba.

“Tao, apa maksudmu? Kami tidak menger-“

“Aku akan menuntut kalian setelah mengumpulkan semua bukti!”

“Terutama kau!” jari telunjuk Tao mengarah ke Lay. Yang ditunjuk pun kebingungan.

“Dasar pembunuh!” seru Tao geram. Raut murka tak lepas dari wajahnya. Melihat itu, Lay pun tak dapat menahan amarahnya.

“Kau gila? Apa kau baru saja menuduhku? Kami disini bermaksud baik!”

“Atau jangan-jangan kau cemburu karena gelar kaptenmu berpindah padaku? Kau marah karena kau tak lagi bisa memimpin klub dengan tangan cacatmu itu?” Tao pun menggeram. Ia mengepalkan tangannya kuat. Kris dan Luhan mencoba menenangkan keduanya.

“Kalian pergi dari sini! PERGI!” Katiga sekawan itu segera meninggalkan rumah Tao. Begitu juga dengan Tao yang segera masuk, menutup pintu dengan membantingnya keras.

‘Aku berani bersumpah! Aku bukanlah pembunuh!

Bukan aku! Tapi dia! LAY LAH PELAKUNYA!’

“Sepertinya dia sangat membencimu, Lay” ujar Kris melihat video yang kini telah tersebar luas ke penjuru sekolah itu. Tanggapan murid pun berbeda-beda akan hal itu. Ada yang bilang Tao trauma. Ada yang menyangka Tao sangat cemburu akan gelar kapten basketnya diberikan kepada Lay.

“Anak itu menyebalkan. Aku tidak habis pikir” ujar Lay dengan kesal.

“Sudahlah. Kau tau kalau kau tidak bersalah. Jadi, tidak usah dipikirkan” ujar Kris menenangkan.

“Dan katanya ada video cctv yang ditemukan polisi. Videonya terekam dua menit setelah kematian Jaemin.”

“Benarkah? Mana videonya?” Tanya Kris penasaran.

“Videonya sudah diambil alih kepolisian. Tapi saat sebelum video itu ditarik, beberapa murid sempat melihatnya. Dan pelakunya berseragam sekolah kita”

“Tapi karena terjadi dimalam hari, cctv tidak dapat menangkap jelas ciri-ciri tersangka.”

“Katanya pelakunya sedang berjalan melewati koridor dan membelakangi cctv”

“Oh, ya! Ada sobekan dan bercak darah di punggung seragamnya!”

“Sudah pasti dialah pelakunya. Tenang saja Lay. Kau di posisi aman” Luhan tersenyum meyakinkan. Lay pun mengangguk tersenyum simpul.

“Kau serius?”

“Ya. Tao diberitakan mati tadi malam”

Perut Lay serasa diaduk. Kenapa semuanya menjadi rumit? Kalau begini, tuduhan ia sebagai tersangka akan semakin kuat. Apalagi semenjak beredar video terakhir yang sempat disebar oleh Tao sebelum ia mati.

‘Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri!’

‘Ia meremukkan tubuh  Jaemin dengan gampangnya!’

‘Ia yang menghabisi Jaemin!’

‘Ia bukan manusia biasa! Dia adalah monster!’

‘LAY ADALAH MONST-‘

“Bisakah kalian berhenti menonton video itu?!”

“Aku tidak tahu apa-apa! Disini aku yang tersudutkan!” Lay mengusap wajahnya geram. Kedua temannya pun terdiam dan memilih untuk menghentikan video itu.

“Lagi-lagi video aneh itu tersebar! Kalian tahu bukan bahwa aku bukan pembunuh?”

Suara Lay yang sebelumnya tinggi pun kini merendah. Batinnya ingin berteriak menangis.

“Maaf Lay. Kami juga bingung. Bahkan aku dan Luhan pun juga diduga bersekongkol denganmu dalam pembunuhan ini”

“Kalau begitu kalian jangan diam saja! Bantu aku untuk membersihkan nama kita!” seru Lay.

“Hanya saja, ini aneh. Kenapa Tao begitu yakin kalau kau adalah pembunuhnya?”

“Kenapa setelah dia membuat video pernyataan ini, ia ditemukan mati dan bentuknya pun serupa dengan mayat Jaemin?”

“Berarti, pelakunya adalah orang yang sama, bukan?”

“Itu artinya ada yang ingin menjatuhkan aku! Dia sengaja melakukan ini supaya ia akan semakin aman dan aku semakin terpojokkan! Dengan begitu akulah yang akan terus menjadi tersangka!”

“Benar, kan?!” Tanya Lay penuh amarah bercampur dengan lirih. Namun kedua temannya itu hanya terdiam menunduk.

“Kenapa kalian diam saja?” suaranya serak. Lay memandang tajam ke arah Kris dan Luhan.

“Atau jangan-jangan kalian juga terlarut dalam kebohongan ini?” Lagi-lagi tak ada jawaban dari keduanya. Lay menghembuskan nafasnya kasar. Ia menggelengkan kepalanya tak percaya.

“Aku kecewa dengan kalian”

“Lay! Tunggu!” Namun terlambat. Teriakan Luhan tidak dapat menghentikan Lay yang sudah berlari menjauh.

Let me live inside you

Let me help you

Lets unite and begin the show

You are, a mon-

Lay terbangun dari tidurnya. Ia mengusap matanya pelan.

Ia tertidur siang untuk dua jam lamanya. Setelah kejadian yang membuat moodnya benar-benar hancur tadi siang, kepalanya terasa berat.

Ia memandang ke arah jam yang menunjukkan pukul empat sore. Ia pun memutuskan untuk mandi. Namun ia teringat dengan baju cuciannya yang belum ia antar ke laundry.

Lay mulai mengumpulkan baju-baju kotornya hingga seragam sekolahnya. Namun sesuatu mengedarkan indra penciumannya. Bau amis yang berada di seragam putihnya. Lay pun meraih baju tersebut hendak mencari tau.

Dalam sekejap matanya pun membulat sempurna. Punggung seragam yang robek dan penuh darah.

‘Ada sobekan dan bercak darah di punggung seragamnya!’

Badan Lay bergetar.

‘Aroma jaketmu dapat tercium dari jauh. Bau amis!’

Itu bau dari bajunya, bukan jaketnya! Tenggorokannya tercekat. Nafasnya sesak. Segera ia ambil baju itu dan meraih korek api lalu membawanya keluar rumah.

Dengan tangan yang dingin dan wajah yang pucat, ia membakar baju itu dihalaman rumahnya. Nafasnya terengah-engah, menyaksikan baju seragam itu yang mulai diselimuti api.

“Hai. Lay!” Untuk sepersekian detik Lay tidak dapat bernafas.

“Kami kesini untuk minta ma-“

“Lay? Apa itu?” Luhan dan Kris memandang tak percaya ke arah seragam yang tengah dibakar oleh Lay. Seragam yang sama digunakan oleh pembunuh.

“Lay, kau benar-benar..” Luhan dan Kris memandang Lay kecewa dan segera pergi meninggalkan Lay.

Lay terpaku. Bulir air mata berjatuhan bersamaan dengan rintik hujan yang mulai turun. Api pada seragam itu pun ikut padam.

Tidak! Aku bukan pembunuh!

Seketika kepulan asap hitam mulai muncul di hadapannya dan menampilkan sosok mistik yang keluar dari sana berjalan kearahnya. Sosok itu meraih bahu Lay, dan saat itu seakan ada video yang berputar dikepalanya. Video yang tak lain adalah gambaran pembunuhan Jaemin dan Tao yang pelakunya adalah dirinya sendiri. Lay lah yang membengkokkan dan meremukkan tulang Jaemin dan Tao dengan mudahnya dan tanpa ampun. Dialah dalang dibalik semua ini. Dan kemudian gambaran dikepalanya itu terhenti.

Lay terdiam dengan tatapan kosong. “Kenapa?”

Sosok berkulit tan itu tersenyum miring.

“Selamat. Kau adalah bagian dari kami”

“Kau adalah Monster ke-9”

“Ayo ikut aku” ujar sosok itu dengan meraih tangan Lay. Dan dalam sekejap mereka pun hilang menuju dimensi lain, meninggalkan asap hitam dan seragam itu dihalaman.

THE END

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s