[Lay Birthday Project] Life

49

Life – andnaprlynpus
Lay as Shim Yixing & OC || Family || G

Kuangkat tubuh adik kecilku yang tengah jatuh terduduk di pinggir jalan. Bau anyir menyeruak ke dalam rongga pernapasanku. Mukanya kini penuh akan cairan merah kental yang terus menerus keluar bersamaan dengan suara tangisnya yang begitu menusuk ulu hatiku, begitu tak becusnya aku menjaganya. Ujung dahinya terbuka, kulit hingga dagingnya sobek, tergores ujung plat motor yang saat itu tanpa sengaja menyerempet adik kecilku. Waktu berjalan begitu cepat. Aku panik hingga tak bisa berpikir dengan jernih.  Kugendong adikku menuju eomma. Kejadian itu pun terjadi.

——————————
Memoriku terus menangkap kejadian mengerikan di masa lalu. Disaat aku berumur sebelas tahun dan adikku empat tahun. Bekas tanda kejadian itu masih ada di dahinya, jahitan yang lumayan panjang. Air mataku berdesakan siap untuk meluncur keluar setiap aku mengingat kejadian itu, terasa sesak ketika mengingat anak sekecil itu meraung kesakitan akibat kecerobohan kakaknya. Kutundukkan kepalaku, mengusap air mata yang ternyata telah jatuh keluar.

“Saudara Shim Yixing? Shim Chenlee sudah sadar. Silahkan jika ingin melihat,” ucap seorang lelaki dengan jas putih yang dikenakannya. Aku tersenyum kemudian masuk ke dalam ruang rawat adikku. Kini aku berada di rumah sakit. Aku membawa adikku saat aku lihat dia tergeletak lemah di lantai dapur. Jantungnya kembali kambuh.

Aku mencoba tersenyum, mencoba tegar di depannya agar semangatku (yang palsu) menyalur kepadanya. “Hyung?” suara lemahnya begitu menyayat hatiku.

Aku duduk di kursi yang telah disediakan. Kuelus lembut surai coklatnya. “Iya? Kenapa? Tenang hyung di sini. Sebentar lagi eomma dan appa juga datang. Tapi, kenapa Chenlee bisa seperti itu tadi? Bisa cerita sama hyung?” aku bertanya dengan pelan, tak memaksanya.

Chenlee mencoba mengingat kejadian yang dialaminya tadi, dahinya berkerut. “Tadi Chenlee ingin roti yang ada di rak atas, karena Chenlee masih pendek, Chenlee ambil kursi. Tapi, saat buka rak jantung Chenlee sakit kaya ada yang nusuk-nusuk. Chenlee nggak kuat terus jatuh deh.” ceritanya.

Aku kembali tersenyum walau hatiku terenyuh akan setiap kata yang terlontar dari mulutnya. Si kecil yang lemah. Ketika delapan tahun yang lalu kecelakan menimpanya, setelahnya, berita pahit datang seakan menamparnya, menamparku, dan kedua orang tuaku. Dokter berkata jika jantungnya sangat lemah, ia beruntung bisa hidup hingga sekarang walau harus terus menerus mencium bau rumah sakit, juga menahan pahitnya obat yang terus dikonsumsinya, tak lupa menahan rasa sakit ketika jantungnya kambuh. Walau dia si kecil yang lemah, hatinya lebih tegar dariku. Senyumnya selalu melekat di wajahnya.  Mata sayunya memancarkan semangat, semangat untuk berjuang hidup dan melawan takdir. Rasa sedih bergejolak di dalam diriku. Aku begitu menyayanginya.

Ceklek~ terdengar suara pintu terbuka. Kedua orang tuaku telah tiba. Aku datang untuk menyambut mereka, namun sayang, tanda merah telah lebih dulu tercetak di pipi kananku. Aku tahu itu karena rasa khawatir kedua orang tuaku kepada adikku, aku menerimanya walau panas dan pedih menjadi satu.

“Appa, jangan pukul hyung. Yang salah dan nakal itu Chenlee bukan hyung. Hyung tidak tahu apa-apa. Minta maaf sama hyung, Appa,” suara lemahnya membelaku. Aku tersenyum, kuberi isyarat tidak apa-apa kepada adikku.

Appa berbalik kearahku, kemudian memelukku dengan erat, “Benarkah? Maafkan appa, Yixing, appa salah.”

Sudah dua minggu lamanya adikku dirawat. Dan sudah dua minggu lamanya aku terus menemaninya setiap sepulang sekolah. Bercerita, bermain, dan bercanda dengan keadannya yang masih di atas tempat tidur juga tangan mungilnya yang tertancap jarum infus. Tak ada raut wajah sedih di sana, seakan ia adalah anak kecil yang normal seperti anak kecil lain seusianya. Tak ada kata mengeluh yang terucap di bibirnya, yang ada hanya senyum dan tawa. Juga tak ada perkembangan sama sekali dalam pengobatannya, yang ada hanya jantungnya yang semakin lemah. Aku tak siap ditinggalkan olehnya. Tuhan, mengapa aku begitu lemah sekarang.

Aku tersadar dari lamunanku ketika merasakan tangan mungil menggenggam tanganku, “Hyung, jangan sedih. Pasti Chenlee akan sembuh kok. Cuma tinggal abisin obat, terus dirawat sebentar lagi. Hyung doain aja ya. Tapi seandainya Chenlee emang udah nggak bisa bareng sama hyung, Chenlee akan selalu memantau hyung dari atas. Chenlee bakal datengin hyung kalo hyung nakal, nanti kan hyung pasti takut sama Chenlee, hihihi.” Aku tak tahu apa yang dipikirkannya. Aku kembali menangis.

Chenlee menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, perlahan ia mengusap air mataku dengan ibu jari mungilnya. “Hyung jelek kalo nangis. Chenlee lebih suka hyung yang dance di depan Chenlee, atau nyanyi, atau bermain alat musik. Yang ngalamin kan Chenlee dan yang memutuskan itu Tuhan. Terima aja apa yang ada hyung, hidup kan nggak selamanya kekal. Yang penting terus numpuk kebaikan aja sama apa yang diperintahkan Tuhan.”

Aku membalas senyumnya, menggenggam tangannya. Hatiku menghangat ketika mendengar ucapannya. Chenlee memang benar, namun aku yang masih belum bisa menerima kenyataan ini. “Chenlee mau lihat hyung dance apa denger hyung nyanyi sekarang?”

Senyum lebar merekah di wajahnya hingga kedua matanya menyipit tak lupa lesung pipinya yang juga tercetak di kedua pipinya, “Chenlee mau dengar hyung nyanyi aja! Chenlee suka suara hyung. Semoga Chenlee besok bisa kaya hyung yang multitalenta, nggak nyusahin kaya Chenlee sekarang ini.”

Aku tidak setuju akan ucapannya. Menyusahkan apanya? “Hush! Nggak boleh bicara seperti itu. Kata Chenlee tadi kita harus terima apapun keadaannya. Ingat ucapan hyung sekarang ya, setelah sakit dan kesengaraan itu akan muncul kebahagiaan seperti ketika pelangi yang membutuhkan hujan dan sinar matahari untuk memunculkan dirinya. Sekarang dengerin hyung yaa..” Chenlee menganggukkan kepala dengan semangat.

Sometimes you think you’ll be fine by yourself
Cause a dream is a wish that you make all alone
It’s easy to feel like you don’t need help
But it’s harder to walk on your own
You’ll change inside
When you realize
The world comes to life
And everything’s bright
From beginning to end
When you have a friend
By your side
That helps you to find
The beauty you are
When you open your heart
And believe in
The gift of a friend
The gift of a…

-Tiiittttt- tanda lurus di monitor menandakan jika sudah tak ada tanda kehidupan di sana. Aku segera memanggil dokter untuk datang dan memeriksanya. Aku belum bisa menerimanya, menerima kenyataan bahwa Chenlee sudah tak bisa menemani hari-hariku, menemaniku dengan tawanya, senyumnya. Tak ada lagi Chenlee yang selalu membanggakanku di depan teman-temannya setiap aku datang menjemputnya, tak ada lagi Chenlee yang selalu menyuruhku menyanyi, menari, bahkan bermain alat musik. Aku merasa hariku akan terasa hampa ke depannya. Suara imut yang biasanya aku anggap selalu menggangguku ketika aku tengah berkutat dengan tugas-tugasku sudah tak ada. Ia tertidur lelap selamanya dengan senyum yang masih menghiasi wajahnya. Aku teringat kata terakhirnya ketika aku bernyanyi tadi, “Hyung, aku mengantuk, aku tidur ya. Hyung, jangan lupa jika Chenlee, adik yang nakal ini menyayangimu selamanya.”

——————————-
Aku menatap pusara yang ada di depanku. Rintik hujan menemani suasana duka ini. Eomma terus menangis sambil berjalan meninggalkan pusara ini, belum bisa menerima kenyataan pahit yang merenggut nyawa salah satu putranya. Tak kupungkiri, air mataku juga meluncur keluar membasahi kedua pipiku. Air hujan mungkin tak bisa menutupi kenyataan jika aku menangis sekarang.

“Hyung, kenapa hyung yang ninggalin Chenlee? Hyung marah ya sama Chenlee? Chenlee janji nggak akan na.. kal.. hiks, lagi. Tapi kenapa hyung pergi? Kalau Chenlee yang pergi kan Chenlee bisa lihat hyung walau dari atas, tapi kalau hyung yang pergi, Chenlee cuma bisa lihat hyung dari foto sama video aja,” Chenlee terisak. Tangannya mengusap pusara yang ada di hadapannya.

Ternyata takdir berkata lain. Takdir merubah semuanya. Mungkin ini kejutan dari Tuhan. Tuhan membiarkan Chenlee untuk masih tetap hidup, dan membiarkan jantungku untuk tetap hidup bersama raga dan nyawa Chenlee. Kemarin, sesaat setelah aku memanggil dokter, aku tak sadarkan diri dan aku baru mengetahui jika penyakit ganas sudah menggerogoti tubuhku dari lama. Aku tak menyadarinya, aku acuh kepada penyakitku sendiri. Aku merasa tak ada tanda-tanda jika aku memiliki penyakit itu. Tuhan memang penuh akan rencana. Aku mendonorkan jantungku untuk Chenlee agar dia terus hidup.

Aku melayang mendekat ke arahnya, mencoba mengelus surainya walau tak akan bisa sampai kapanpun karena dunia kita berbeda. “Chenlee?” aku mencoba memanggilnya, berharap dia mendengar panggilanku.

“Hyung?” dia berbalik kearahku. Ia dapat melihat dan mendengarku walau tak dapat memelukku.

“Ini takdir yang digariskan Tuhan, Chenlee. Mungkin Tuhan menyayangi hyung dan lebih dulu memanggil hyung. Tuhan juga menyayangi Chenlee karena masih membiarkan Chenlee merasakan indahnya dunia. Perjalanan Chenlee masih panjang, Chenlee harus lebih hebat dari hyung. Terus tersenyum, dan perlihatkanlah pada dunia kemampuanmu. Hyung sangat sangat sangat menyayangi Chenlee,”

“Siap hyung! Chenlee nggak akan ngecewain hyung! Chenlee juga sangat sangat sangat menyayangi hyung. Sampai jumpa di sana, hyung. Jika besok sudah waktunya, kita akan bersama bertemu di sana.”

Chenlee tetap adik kecil yang sangat aku sayangi. Anugerah terhebat yang Tuhan berikan untuk mengisi kekosongan hariku. Hanya terus ingat jika Tuhan punya banyak rencana untuk kita ke depannya. Entah apa yang direncanakan, teruslah berdoa dan berusaha, jangan lupa terus bersyukur. Juga ingat jika pelangi membutuhkan hujan dan sinar matahari untuk memunculkan dirinya. Sampai jumpa, Chenlee!

Tamat~ keut!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s