[Lay Birthday Project] Lay And His Day-BlueGuard

38

Lay And His Day-BlueGuard
Lay, Semua member EXO, dan Orang tua Lay || Family, Brothership, Comedy || T

‘Tringggg…’ Bunyi alarm mengisi sebuah kamar di dorm EXO, memaksa penghuni kamar -Lay- untuk bangun dari tidurnya. Lay mematikan alarm dari handphone-nya. Pria itu menguap dengan penampilan khas orang bangun tidur. Ia lalu berdiri dan meregangkan otot tubuhnya. Ia melangkah ke depan cermin dengan penglihatan yang sayup. “Tampan.” Katanya sambil tersenyum. Lalu matanya seketika terbuka sempurna saat melihat kalender kecil di atas nakas. Segera ia berlari keluar untuk menemui yang lain.
Tapi, senyum yang semula terukir luntur seketika kala mendapati member yang lain masih tertidur pulas dengan tidak elitnya.
“Lay? Kau sudah bangun?” Suara D.O mengalihkan perhatian Lay dari mereka. Ia menatap D.O penuh harap. “Lay, tolong pergilah berbelanja! Persediaan makanan semakin menipis.” Sepertinya pria normal satu ini sangat tidak peka. “Baiklah.” Pasrah dan terpaksa. Lay pun menuruti perkataan D.O. Memang siapa yang ingin kelaparan?
Saat di perjalanan, Lay yang sedang menyetir santai mobil Sehun itu mendapat sebuah telepon. ‘Annyeong haseyo. Uri-‘
“Halo.” Ia mengangkat telepon dengan lesu tanpa melihat ID penelepon.
“Halo, Lay. Ini ibu.” Ekspresinya seketika berbinar mendengar suara ibunya. Ia segera menepikan mobil dan berbicara dengan semangat.
“Halo, bu! Ada apa? Ibu ingin mengatakan sesuatu?” Katanya penuh harap.
“Iya. Ibu dengar kalian sedang cuti. Jadi, ibu ingin agar kau tidak pulang ke Cina.”
Lay mengerutkan dahinya. “Kenapa, bu?”
“Ibu dan ayah sedang di luar negeri untuk urusan yang sangat penting. Jadi, tidak ada orang di rumah.”
‘Dushh!’ Yang benar saja. Sepertinya ia sedang menang jackpot berturut-turut. “Baik, bu. Sudah dulu ya? Aku sedang menyetir.” Nada bicaranya kembali lemas.
“Baik.” ‘Pip.pip.pip.’ Panggilan pun terputus dan ia melanjutkan perjalanannya.
Di Super Market, ia hampir saja ketahuan. Beberapa orang menatapnya seperti pencuri. ‘Apa yang salah?’ Pikirnya. Ia ‘kan hanya memakai pakaian serba hitam serta masker dan topi. Tidak ada yang aneh ‘kan?
Sekitar 50 menit kemudian, ia sudah berhasil keluar dengan selamat. Ia merutuki D.O yang menyuruhnya membeli benda dan bahan-bahan yang aneh. Lilin, balon, dan bahan-bahan membuat kue, kalau ia tidak salah. Memang untuk apa semua itu? Ketika sampai di parkiran, Lay langsung tancap gas menuju dorm.
Saat di dorm, semua member telah bangun dan bersiap sarapan. Lambat sedetik mungkin akan berakibat fatal bagi Lay, bisa saja ia tidak mendapat sarapannya.
Lay menghampiri para member dan berniat duduk. “Lay, kau dari mana?” Tanya Suho sang leader. “Aku habis berbelanja.”
Baru saja ia akan duduk, D.O yang baru keluar dari dapur langsung mengeluarkan titahnya. “Lay? Kebetulan kau sudah pulang. Aku ingin minta tolong lagi, boleh? Oh, ini belanjaannya, ya?” D.O mengucapkannya dengan wajah tanpa dosa.
Sekarang ia terancam tidak dapat sarapan dan di sisi lain ia terancam oleh D.O yang tidak akan memasak lagi untuknya apabila ia tidak melakukan perintahnya. Oh, Tuhan! Apa yang harus ia lakukan. Baiklah, ia sudah memutuskan. Ia menghela nafas pelan meredakan rasa kesalnya.
“Baiklah. Apa?” D.O langsung merogoh saku apronnya. “Ini! Tolong ambil pesanan, ya? Itu juga pesanan member lain. Sekarang, pergilah!” Lay pun melangkahkan kakinya pergi tanpa seorang pun menatapnya.
“Sehun, aku pinjam mobilmu!” Perkataan Lay hampir membuat Sehun tersedak susu coklat yang ia minum. “Tidak-” “Pakai saja!” Ucapan Sehun langsung dipotong Xiumin. Sehun menatap Xiumin memohon sedangkan Xiumin menatapnya datar. Sehun menyerah. “Baiklah! Pakai sa-”
‘Broom’ Belum selesai ia bicara, mobil kesayangannya telah berlalu bersama Lay. Membuatnya seketika ingin menangis.
Lay tiba di suatu tempat yang tidak ia kenal. Terlihat seperti sebuah toko. Ingatan tentang sarapan membuatnya segera masuk ke tempat itu.
1 jam. Kali ini Lay benar-benar menghitungnya dengan stopwatch. Entah mengapa ia harus membawa pesanan mereka yang ternyata adalah kado-kado yang telah di hias lucu namun lumayan banyak itu sendirian. Oh, ia hampir lupa kalau ia adalah pria berhati malaikat. Tapi, kenapa mereka memesan kado? Padahal natal masih 3 bulan lagi. Apa mereka sengaja menyiapkannya jauh-jauh hari? Atau ada yang ulang tahun selain dirinya? Entahlah, itu urusan mereka. Jadi, ia memutuskan untuk kembali ke dorm.
Sampai di depan dorm, Lay terlihat kesulitan memindahkan kado-kado itu ke troli khusus.
Di dalam dorm, terasa sepi. Bahkan entah mengapa dorm menjadi lebih gelap. “Aku pulang!” Dan tidak ada sahutan apapun.
Lay berjalan menuju jendela besar yang masih tertutup kain putih bercorak cream. Ia pun membukanya.
‘Sreet’ “Selamat Ulang tahun!” Seru mereka semua bersama. Siapa lagi kalau bukan para member dan tamu spesial, kedua orang tuanya. Lay langsung berlari menuju mereka dan memeluk mereka satu-persatu. Ia sangat senang. Apalagi melihat balon-balon, kue tart beserta lilinnya, dan ternyata kado-kado yang ia bawa tadi adalah untuk dirinya sebagai hadiah ulang tahun. Hahaha. Pikirannya tadi sangat konyol. Padahal dari awal sudah sangat kentara rencana yang mereka buat. Ah, sudahlah. Yang penting dia sudah merayakan ulang tahunnya bersama ibu, ayah dan sahabat-sahabatnya. “Terima kasih.”

THE END

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s