[Lay Birthday Project] Kamu

37

Kamu- Real Choco

Zhang Yixing (EXO), Jung Chae Yeon (I.O.I), Kim Ji Soo (Black Pink) || Romance, Family, Angst || PG-16

Lalu lalang di jalan asing seolah-olah aku mengetahuinya
Setelah angin kencang bertiup duniaku berhenti dan kau satu-satunya untukku
Saat aku menemukanmu, aku akan bersinar lebih terang aku akan menjadi orang yang beruntung
(Lucky One)

Lelaki yang datang hari ini, lebih tua enam tahun dariku. Sebenarnya aku bingung untuk memanggilnya dengan sebutan apa. Yang jelas ia datang dan sekarang duduk di hadapanku. Tiada lelah ia terus bercerita. Aku mendengarnya.

Ini tentang kisahnya di masa lampau. Sebenarnya aku tak tahu jelas, siapa yang sedang diceritakannya. Tapi kupikir sebagian besar alur kisahnya sudah ia ungkapkan.

“Kau akan terus bercerita? Kalau memang begitu, aku akan mengambilkanmu air.” Aku keluar sebentar, mau mengambilkannya segelas air.

Author Pov.
Lima tahun lalu

“Oppa, kau akan menamainya siapa?”
“Aku pasti akan memberi ‘Zhang’ untuk nama depannya.”

“Lalu, setelah itu?”
“Soo In. Aku membuatnya mirip dengan namamu.”

“Zhang Soo In?”
“Ya, untuk perempuan. Kalau dia laki-laki?” tanyanya.

Pegal gas mobilnya ditekan. Lampu lalu lintas sudah membolehkan mobilnya melaju sekarang.

“Untuk laki-laki? Aku yakin, kau akan punya anak perempuan.”

Ada sebuah truk melaju dengan kencang. Menabrak tiada ampun ke arah mobil yang baru saja melaju itu. Mobil itu bagai terbang, lalu terbalik di tengah jalan. Seluruh badan mereka berdua berlumuran darah. Terkena pecahan kaca depan mobil yang berserakan. Kesadaran sang sopir belum sepenuhnya hilang. Ia ingin menggapai Ji Soo, namun badannya malah terlempar keluar dari mobil. Ia terjerembab di atas jalan. Sedangkan Ji Soo tidak bergerak sama sekali dan masih terikat dengan sabuk pengaman.

Dengungan keras masuk ke dalam liang telinganya. Begitu sakit. Terus menerus menutup semua suara. Termasuk sirine ambulance yang menghampiri mereka. Ia tak kuasa menahan sakit pada telinganya, kesadarannya menghilang. Hingga ia harus terbaring di dalam rumah sakit selama tiga hari. Tanpa dapat membuka matanya.

“Oppa!”
“Oppa, kau sudah sadar?” Tanya Jie Qiong. Ia terus menggoyangkan badan Yixing.

“Jie Qiong, tolong panggilkan dokter.”
“Baik, Bu.” Jie Qiong langsung berlari keluar dari ruangan itu.

“Bu.” Itu kata pertama yang keluar dari mulut Yixing, saat dilihatnya hanya sosok ibunya yang ada disampingnya.

“Bu, dimana Ji Soo?” Yixing akhirnya menanyakan Ji Soo, perempuan yang sangat dikasihinya.

“Ji Soo? Dia baik-baik saja. Kau harus membaik. Baru kau bisa menemuinya.”
“Syukurlah Ji Soo baik-baik saja.”

“Dokter akan segera kemari.” masuklah Jie Qiong ke dalam kamar lalu duduk dan memegang erat tangan kakaknya.

“Jie Qiong, Ibu akan keluar sebentar untuk mengambil minum. Kau, jagalah kakakmu sampai dokter datang memeriksanya.”

“Oppa, kau tidak merasakan pusing kan?” tanya Jie Qiong sembari mengeluakan handphone-nya dari saku seragamnya.
“Kau mau apa?”
“Aku mau cari bagaimana cara memastikan orang akan baik-baik saja setelah mengalami koma.”
“Aku koma?” Tanya Yixing.
“Kau pikir, kau hanya pingsan?” ocehnya.

“Aku yakin aku baik-baik saja. Aku mendengarmu mengoceh, jelas sekali. Tidak ada yang berubah.”
“Oppa, kau sedang mengejekku?” Jie Qiong kembali meninggikan suaranya.

Syukurlah, belum ada yang berbahaya dari benturan yang dialami Yixing dalam kecelakaan itu. Walau ia masih harus terduduk di atas kursi roda. Ibunya mendorong kursi itu, hingga sampai di sebuah ruangan yang dibatasi kaca yang cukup besar. Ada sebuah kotak inkubator disana. Ada seorang bayi perempuan yang terlihat tenang.

“Itu anakmu, Yixing.”
“Kau mau beri nama keponakanku siapa?” tanya Jie Qiong masih dengan mulut yang mengunyah permen karet.
“Aku beri nama Zhang Soo In.” tambahnya.
“Nama yang lumayan.” komentar Jie Qiong.

“Dimana Ji Soo?”
“Eonni? Dia…” Jie Qiong sulit untuk menjawab pertanyaan Yixing barusan.
“Ya. Dimana dia?” tanya Yixing lagi.

Ibunya menghadapkan Yixing kepadanya. Lalu ia sedikit berjongkok untuk bisa melihat wajah anaknya dengan jelas.

“Dengarkan baik-baik Yixing.”
“Ji Soo sudah bertahan cukup lama agar bisa menyelamatkan Soo In. Ji Soo sudah tak kuasa lagi. Benturan yang mengenai kepalanya cukup berat. Ji Soo tak bisa diselamatkan.” Tetes air mata perlahan jatuh di atas pipi ibunya.

“Aku tahu. Anakku adalah ayah yang baik.” Ibunya menggenggam telapak tangan Yixing.
“Yakinlah, kau bisa merawatnya dengan baik.”

“Ibu.” ucap Yixing pelan.
“Aku ingin pergi sebentar.”

“Oppa, aku akan menemanimu.”
“Tidak perlu, Jie Qiong. Aku ingin sendiri.” Yixing menjauh.

“Ibu, bagaimana?”
“Biarkan dia sendiri.”

Yixing masih terus menyendiri. Ia hanya duduk di atas tempat tidurnya. Ia tak kuasa untuk menangis. Hatinya ingin terus menguatkan perasaannya. Untuk bisa terus hidup, dan merawat anaknya. Zhang Soo In yang memiliki mata seperti Ji Soo. Jernih dan sebuah ketulusan.

Paginya, Yixing masih mendapati kamar rumah sakit tempat dimana ia masih dirawat. Tidak ada keanehan, hingga Jie Qiong datang dan berbicara panjang lebar. Mulutnya terbuka, sesekali lidahnya ikut keluar. Tidak ada yang didengarnya satu kata pun. Malah dengungan keras itu datang lagi, membuat Yixing harus kesakitan dan berkeringat dingin.

“Oppa, kau tak apa?”
“Oppa.” Panggilnya. Tak berpengaruh, Yixing benar-benar tak mendengar apapun.

“Yixing kehilangan kemampuan untuk mendengar. Ternyata benturan aat kecelakaan mempengaruhi saraf pendengarannya.”

Dengan perlahan, Jie Qiong meletakkan alat pendengaran pada telinga Yixing. Tentu dengan isakan yang tak bisa didengar Yixing, hanya bisa melihat tetes air mata jatuh perlahan di wajah adiknya.

“Sudahlah. Sepertinya aku yang sakit. Bukan kau.” Canda Yixing.

Sekolah yang penuh dengan teriakan anak-anak. puluhan deret gigi selalu terlihat. Sebagian besar, semuanya tersenyum dan tertawa terbahak-bahak. Ayunan dari permainan menggantung itu sedang dinaiki seorang gadis kecil yang dikucir satu ikatan. Lengkap dengan ikat rambutnya yang berwarna merah muda.

“Na Rin.” aku memanggil namanya.
“Bibi Chae Yeon.” Ia segera berlari dan menghampiriku.

“Kau mau menunggu bibi sampai selesai bekerja?”
“Eoh. Aku akan menunggu bibi sampai sore.”
“Kalau begitu, ayo kita beli makanan terlebih dahulu.”

“Bibi.” Na Rin menarik tanganku.
“Kenapa?”

“Bisakah bibi menemui temanku? Ia selalu menangis, hari ini ia malah berteriak sendiri.”
“Temanmu?”
“Iya.”

“Baiklah.” aku menuruti ke arah mana ia menarikku. sebuah kelas yang sudah tak ada muridnya. Yang terlihat hanyalah beberapa guru yang sedang mencoba berbicara dengan gadis itu.

Aku melepas genggaman tangannya. Menyuruhnya untuk tetap berdiri di sana dan menungguku. Aku berjalan perlahan ke arahnya.

“Akan kucoba menenangkannya.” aku memberitahu salah satu gurunya.
“Aku seorang psikolog. Biasa menangani hal seperti itu. Bolehkah aku mencoba menenangkannya?”
“Ya, baiklah. Silahkan.”

Aku berjongkok di depannya. Ia baru saja berteriak entah pada siapa. Lingkar matanya sedikit menghitam. Matanya sembab. Ia baru saja menangis.

“Aku bibi dari Na Rin. Kau mengenalnya?” tidak ada jawaban darinya. Baiklah, aku akan mencoba jurus jitu. Aku memegang tangannya. Menyuruhnya untuk mengambil napas dalam-dalam memintanya tenang, lalu menangis terisak dalam pelukanku.

“Tak apa. Kau bisa menceritakannya pada Bibi.” tawarku.
“Aku rindu pada Eomma.”

“Kau rindu?”
“Nde. Tapi dia sudah pergi lebih dulu. Aku baru mengetahuinya sekarang.”
“Kau tinggal dengan ayahmu?”
“Nde.”

“Apa bibi boleh tahu, siapa namamu?”
“Zhang Soo In.”

“Kau bukan asli Korea?” tanyaku, hanya sedikit pensaran. Aku belum pernah mendengar marga itu.
“Ya. Ayahku bukan orang Korea asli.” Ia mau terbuka padaku.
“Kau mau pulang? Mau bibi antar?” dia mengangguk.

“Aku membutuhkan ijin dari ayahnya. Aku mau dia ikut terapi.” Aku berbisik pada gurunya.

Tiap harinya, Soo In lebih terbuka. Semakin lama, banyak cerita yang ia ungkapkan. Sekarang ia juga lebih tenang sekarang. Setelah kejadian itu, ayahnya membolehkan Soo In untuk ikut terapi. Setiap harinya kami bermain. Membuatnya untuk lupa akan tekanan yang dipikirkannya terlalu berlebihan. Lalu akhirnya, ditengah kesibukannya. Ayah Soo In datang untuk pertama kalinya.

“Bukankah kau satu kampus denganku dulu?”
“Tahun berapa?” Aku bertanya.

“Ya. Benar, kau adik kelasku.”
“Benarkah? Ah, maaf aku tidak mengetahuinya, Sunbae.”

“Aku hanya sesekali melihatmu.” aku tidak menjawab, bingung harus berkata apa.

Hingga ia lebih sering datang ke ruanganku. Sekedar untuk bertanya keadaan anaknya lalu berterima kasih. Setelah itu, ia tak segan untuk selalu bercerita. Kalau memang ia butuh sebuah kata yang menenangkan, aku memberikannya. Toh itu pekerjaanku.

“Kau sudah mencoba semaksimal mungkin melakukan yang terbaik untuk Soo In, aku yakin. Kau sudah cukup hebat.” ucapku.

“Jangan pernah berpikir jika kau jauh, sendiri. Kau masih punya banyak sesuatu yang bahkan tidak dimiliki orang lain.” tambahku.

“Sunbae.” Aku memanggilnya, tapi tak ada jawaban. Aku menatap kepadanya. Pandangannya tertuju pada tepian meja yang ada di hadapanku. Aku melihat sekeliling lagi. Sesuatu yang menggantung di telinganya sepertinya lepas.

Aku berdiri dari kursi kerjaku. Tanganku entah mengapa lagsung terjulur dan menyentuh telinganya tanpa sengaja saat aku membenarkan alat pendengarannya.

“Maaf.” Aku merasa ini terlalu berlebihan. Tak ada jawaban darinya. Ia masih terus memandangku. Suasana menjadi sedikit lengang. Aku mencoba mencairkan suasana.

“Sunbae, kemarin Soo In menggambar di sebuah kertas. Sebentar, aku akan mengambilkan gambarnya.” Aku memberikannya sebuah kertas yang sudah berwarna dengan pensil warna. Ia malah mengatakan hal yang cukup mendadak.

“Menikahlah denganku, jadilah Ibu untuk Soo In. Benarkan alat pendengaranku selalu, Chae Yeon.” Ucapnya.

Lalu, bagaimana dengan jawabanku?

“Ya, Zhang Yixing.”

END

One thought on “[Lay Birthday Project] Kamu

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s