[Lay Birthday Project] Innocently Dumb But Sweet As Cupcakes

52

Innocently Dumb But Sweet As Cupcakes – Andnsa

Lay & OC || Romance, Fluff || G

Hakikatnya, setiap cerita memiliki awal dan memiliki akhir.

Dan, Lou memulai ceritanya dalam bentuk sesosok laki-laki tampan yang kerap membuatnya berkunang-kunang setiap kali mereka bertemu. Seperti hari ini, misalnya.

Kamis sore yang berangin, Lou memaksimalkan usahanya untuk tampil cantik. Meski dalam hati Lou harus mengakui usahanya tidak akan membuahkan hasil yang gemilang kecuali dilakukan semacam operasi plastik atau apa, Lou tetap puas dengan penampilannya sore ini; jeans hitam sobek-sobek, hoodie, dan sedikit polesan bedak serta lip cream.

Hari ini, ia dan pacarnya genap satu tahun bersama. Besok, pacarnya berulang tahun. Lou tiba-tiba saja merasa keki setiap kali mengingat bagaimana pacarnya yang dianugerahi gen lugu itu berniat menyatakan cinta di hari yang sama dengan ulang tahunnya, namun gagal total karena anak itu salah memperhitungkan jam.

Lou yang sudah lima menit berdiri di halte depan kampus, menghembuskan napas panjang. Gadis itu lalu menatap kotak biru berisi cupcake yang ditentengnya harap-harap cemas.

“Dia di mana sih,” keluhnya lugu pada cupcake. Mungkin gen lugu pacarnya menular.

Tahu-tahu, sebuah mobil Mercedes-Benz GLC Classic berwarna hitam dengan songongnya berhenti melewati halte. Lou memperhatikan pintu pengemudi terbuka dan segera menarik napas tercekat saat laki-laki kurus berbalut Supreme dan Rolex di pergelangan tangannya turun.

Lou mendongak, sesaat kemudian ia berkunang-kunang.

Oh Sehun.

Sosok laki-laki tampan yang membuat Lou berkunang-kunang yang disebut-sebut di awal tadi. Pangeran kampus, arjuna setiap wanita, menantu idaman tiap orang tua, dan hal-hal sempurna lainnya yang akan menghabiskan batas maksimal karakter jika disebutkan satu persatu.

Lou sebisa mungkin melakukan terapi pernapasan saat Sehun berjalan mendekatinya. Dengan senyum manis tersungging itu, Lou menyangsikan kalau ada kaum hawa yang tidak jatuh cinta padanya.

Lou menatap Sehun dengan tatapan memuja sambil menggenggam kotak cupcake ditangannya erat-erat. Dan, saat laki-laki itu berjalan melewatinya begitu saja, Lou secepat mungkin menyadarkan dirinya. Yang benar saja. Oh Sehun tidak mengenalnya. Apalagi menjadi pacarnya.

Lou menoleh dari atas bahu, melihat Sehun melakukan highfive bersama temannya yang bernama Chanyeol yang ternyata berdiri tak jauh darinya. Lou menghembuskan napas lalu menepuk-nepuk jidatnya sambil bergumam ‘bodoh’.

Saat itulah pacar bak pahlawannya datang.

“Loudy! Loudy!” Lou menoleh ke sumber suara, setengah cengok melihat pacarnya mengayuh sepeda dengan satu tangan melambai kelewat semangat padanya. Lou hampir saja memperingati pacarnya untuk berhati-hati waktu sepeda yang dikayuh pacarnya sudah oleng duluan.

“Awas—”

Brak!

Pacarnya sudah menabrak pohon tak jauh dari halte. Lou bengong sementara Sehun dan Chanyeol melongokan kepala mencari tahu. Sesaat kemudian, Lou buru-buru menghampiri pacarnya itu.

“Ya ampun! Kau tidak apa-apa?” tanyanya, cemas bukan main.

“Hehe… aku tidak apa-apa, Lou,” jawab pacarnya, yang sudah berdiri sambil tersenyum memamerkan dua lesung pipi. Lou sudah hampir ikut tersenyum waktu tiba-tiba darah mengalir dari kening pacarnya.

Lou memejamkan mata lantas menghembuskan napas panjang. Perkenalkan, pacar yang semula berstatus sahabat yang super lugu dan seringkali mengkhawatirkan ini;

Zhang Yixing.

*

“Mungkin kita harus ke rumah sakit,” ucap Lou, ketika ia dan Yixing sudah berada di taman tak jauh dari halte. Lou mendekapkan tisu basah pada luka di kening Yixing yang sesekali meringis kesakitan.

“Hei, jangan becanda. Luka kecil begini mau di bawa ke rumah sakit? Kurang berlebihan apalagi?” sahut Yixing, sambil mengibas-ngibaskan tangan. “Sudah nanti juga sembuh sendir—”

“Bukan itu,” putus Lou, membuat Yixing mengernyit bingung—yang detik berikutnya mengaduh karena kernyitannya melukai keningnya lebih buruk lagi. “Aku penasaran ingin mengecek keluguanmu ini sudah sampai stadium berapa. Siapa tahu kau membutuhkan kemoterapi,”

Yixing bengong tapi kemudian terbahak. “Lou! Kau ini!” dan kembali tertawa. Melihat pacarnya yang sama sekali tidak tersinggung dan malah tertawa lepas itu mau tak mau membuat Lou tertawa juga. Ketika mereka sudah benar-benar berhenti tertawa, Yixing berkata;

“Kan kamu terapinya,”

Lou hampir saja menamparnya bolak-balik saking malunya. Untuk menepis niatnya itu, Lou meraih kotak cupcakenya. Baru saja Lou akan memberikannya pada Yixing, rintik hujan tiba-tiba saja jatuh ke tangan Lou. Yixing juga melihatnya, kemudian keduanya sama-sama mendongak ke langit. Rintik hujan pelan-pelan turun dan semakin banyak, semakin banyak.

“Argh! Hujan!” pekik Lou.

“Yeah, aku bisa melihatnya,” jawab Yixing buru-buru membuang tisu ke tempat sampah lantas menarik Lou berdiri. “Ayo, cepat!”

“Kemana?”

“Sudah ayo!”

Sambil sebisa mungkin melindungi diri dari hujan, Yixing dan Lou bergandengan tangan berlarian menuju halte. Lou menoleh pada sepeda Yixing yang tergeletak begitu saja di taman kemudian menatap punggung kepala Yixing penuh tanda tanya. Dia meninggalkan sepedanya begitu saja?

“Ayo, naik!” perintah Yixing ketika mereka sampai di halte dan sebuah bus datang. Bus yang akan membawa Lou pulang ke rumah. Lou tanpa banyak bertanya naik tapi kemudian panik saat Yixing tidak mengikutinya naik.

“Yixing, apa yang—”

“Kau akan kehujanan kalau pulang bersamaku,” katanya, tersenyum polos. Lou sempat termangu beberapa saat sebelum akhirnya sopir bus menutup pintu, memisahkan Lou dan Yixing yang masih tersenyum di luar sana.

“Bodoh,” gumam Lou, menjatuhkan diri di salah satu kursi kosong. “Pulang apanya? Kita bahkan belum memulai apa-apa,”

Bus berjalan memecah hujan yang turun begitu lebat. Lou menghembuskan napas, memperhatikan jalanan yang dipenuhi kendaraan dan orang-orang berpayung di trotoar. Saat bus berhenti di lampu lalu lintas, Lou tiba-tiba saja melihat siluet dikenalinya dari spion bus. Awalnya Lou ragu, tapi ketika siluet itu semakin jelas terlihat, Lou buru-buru melihat keluar jendela.

Yixing mengikutinya dari belakang. Menggunakan sepeda. Hujan-hujanan.

“Dia sedang apa sih?!” Lou misuh-misuh, tapi kemudian bus kembali melaju. Yixing tidak berusaha menyalip busnya waktu kendaraan itu berhenti di lampu lalu lintas. Ia sengaja menunggu, mengekori bus yang ditumpangi Lou menuju rumah.

Yixing tiba-tiba saja mendapati Lou sedang menatapnya walau sesaat. Anak itu tersenyum, memamerkan dua lesung pipinya sambil terus mengayuh. Lou kemudian tersadar, pacarnya itu berusaha menjaganya dari jauh.

Sebuah perasaan hangat langsung membanjiri Lou saat itu juga. Ia termenung sambil menggenggam kotak cupcake ditangannya erat-erat.

*

“Hatchuuu!”

Tentu saja Yixing jatuh sakit. Memangnya dia pikir dia ini apa? Dewa?

“Salah sendiri hujan-hujanan!” amuk Lou, tapi tak urung merapatkan selimut ke tubuh pacarnya itu. Mereka sudah ada di rumah Lou saat ini. Ibu Lou segera panik saat mendapati Yixing basah kuyup dan sekarang sedang membuatkan sup untuknya.

“Lebih baik daripada kita sakit bareng-bareng, kan?” katanya, dengan suara sengau. Kemudian bersin. Kemudian lagi tersenyum lugu.

“Ya tapi jangan begitu juga dong! Kan bisa menunggu hujan berhenti dulu baru menyusulku. Kalau begini kan jadinya repot!”

Yixing termangu, menatap Lou yang sedang mengeringkan rambut basah Yixing. Wajah gadisnya itu dipenuhi kekhawatiran yang tak berujung dan itu sedikit-banyak membuat Yixing tersentuh.

“Tapi siapa yang bakal menjagamu, Lou?” Lou seketika menghentikan kegiatannya. “Bagaimana kalau terjadi sesuatu di tengah jalan padamu dan aku tidak di sana? Aku tidak mau terapiku kenapa-kenapa, Lou. Stadium keluguanku sudah terlalu kritis,”

Wajah Lou memerah dan Yixing setengah mati berusaha untuk tidak mencubitnya. Lou mendadak saja berubah sendu lantas menghembuskan napas panjang.

“Yixing, kau benar-benar tidak perlu melakukan itu. Setahun yang lalu, kau bahkan menolak tawaran agensi musik di Korea hanya karena kau… ehem, hanya karena kau tidak ingin berhenti menjagaku—padahal saat itu status kita masih sebatas sahabat. Sampai saat ini aku masih merasa bersal—”

“Loudy sayang,” Yixing tiba-tiba menggenggam tangan Lou. Benar-benar membuat Lou ingin meledak karena malu sekaligus senang. “Ada banyak cara untuk kita menggapai cita-cita. Aku ingin menjadi seorang penyanyi terkenal, tapi aku tidak mau jika kau tidak ada disampingku saat itu terjadi. Kau mungkin akan menganggapku terlalu lugu atau bagaimana, tapi selama ini yang kulakukan itu hanya karena aku mencintaimu. Aku tidak ingin terjadi apa-apa padamu, Lou. Aku ingin menjagamu,”

Lou tahu jantungnya sudah berdetak di atas batas wajar tapi siapa peduli? Yixing masih tersenyum tapi kemudian Lou melengos. Pacarnya ini sungguh luar biasa mengagumkan. Lou mengambil kotak cupcake yang belum dibuka sama sekali itu lantas mengeluarkan isinya.

Cupcake manis berwarna merah muda yang dibuatnya semalam suntuk terlihat menggiurkan di tangannya. Lou mengeluarkan lilin kecil yang ia beli dari dalam kotak kemudian ditancapkan ke tengah-tengah cupcake. Gadis itu menghidupkan lilin dengan pematik, sebelum ia bawa ke hadapan Yixing.

“Untuk hari jadi kita dan ulang tahunmu,” kata Lou.

Yixing tersenyum lebar. “Ulang tahunku masih beberapa jam lagi.”

“Yeah, dan salah siapa kau salah memperhitungkan jam saat menyatakan cintamu padaku, huh?” sahut Lou disusul kekehan Yixing. “Ayo, ditiup lilinnya.”

Yixing memejamkan mata, berdoa. Sesaat kemudian, ia kembali membuka mata dan mengajak Lou untuk meniup lilinnya bersama-sama. Lou mengiakan dan keduanya sudah hampir meniupnya bersamaan ketika tiba-tiba Yixing bersin sampai lilin di atas cupcake padam.

Lou tersekesiap tapi lantas tertawa geli melihat kebodohan pacarnya itu.

“Happy birthday, Zhang Yixing!” ucapnya.

Dan, aku juga akan terus menjadi terapi keluguanmu.

END

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s