[Lay Birthday Project] I’m Here

45

I’m Here-Hansa
Lay & Suuji (OC/YOU) || Romance || G

Summary: Lay tidak pernah sekalipun menyadari arti dari gadis itu yang selalu berada di saat-saat penting kehidupannya.

<>

Titik-Titik air yang jatuh perlahan disusul ribuan titik air lainnya, mulai menggenangi kepadatan kota Seoul. Awan kelabu bergerak pelan, menutupi laju matahari, enggan mempersilahkannya lewat. Di antara hingar-bingar perkotaan, Suuji menyeruak masuk dalam lautan manusia, melawan arus dari orang-orang yang berlari mencari tempat perlindungan, sebelum titik air itu semakin mengeras seiring waktu.

Nafas gadis itu tersengal; naik turun; tak beraturan. Sepasang maniknya bergerak gelisah, menatap hamparan langit yang makin menggelap. Kepalanya menoleh ke kanan-kiri, mencari sesosok orang yang menjadi biang kekhawatirannya. Memaksa kaki jenjangnya berlari, Suuji melangkah mantap memasuki area taman kota.

Senyumannya merekah manis, lega, saat iris hazelnya menemukan sosok itu di bangku taman.

“Lay,” Suuji memanggil.

Wajah itu mendongak perlahan, tatapannya datar namun sarat akan luka.

Meneguk salivanya, Suuji mendekatkan diri pada laki-laki yang telah lebih separuh hidupnya menjadi bagian penting dalam hidup gadis itu.

Tak ada kata yang terucap. Sunyi mulai beradu dengan hujan yang seolah ikut memberikan empatinya pada laki-laki yang baru saja kehilangan itu. Dalam guyuran hujan, keduanya terbungkam. Larut akan pemikiran masing-masing.

Hembusan nafas pelan yang meluncur dari bibir Lay memecah keheningan senja kala itu. Hujan menyamarkan air matanya yang sedari tadi menggenang di pelupuk mata.

“Terima kasih.” Suara lembut Lay mengalun.

Suuji menoleh, balas tersenyum.

Tak perlu ada kata yang terucap, perasaan itu telah tersampaikan dengan baik. Dengan kehadiran gadis itu di sampingnya, Lay tahu jika ia tidak pernah sendiri.

Suuji tidak perlu mengutarakan isi hatinya untuk menenangkan Lay, gadis itu hanya perlu duduk di sebelah Lay, memberikan Lay waktu sendiri hingga laki-laki itu terlepas akan rasa sakitnya. Keberadaannya cukup menjadi obat penenang laki-laki itu.

Keduanya lantas tersenyum lembut seraya mulai berjalan pulang, bersisian. Di bawah guyuran hujan yang ikut membawa rasa kehilangan Lay.

<>

Ibu Lay meninggal di musim panas pertama mereka di SMA, sebuah kenangan yang amat berbekas pada hati kecil Lay, namun perlahan memudar berkat kehadiran seorang gadis yang menyabet status sebagai teman kecil Lay. Gadis yang selalu ada di sisi Lay, tersenyum dan menenangkannya lewat kehadirannya.

“Suuji,” Lay memanggil.

Gadis itu menengadah, menatap tubuh atletis Lay yang terbalut seragam basket yang basah akibat keringat.

“Kau sudah selesai?” Suuji bertanya seraya menyodorkan sebotol air mineral untuk Lay.

Lay mengangguk, senyumannya mengembang, memicu lekuk kecil di pipinya. Ia berkata, “Ayo pulang.”

Rumah mereka berdampingan membuat keduanya selalu memilih pulang bersama.

Hari ini, tim basket Lay kalah telak. Bukan karena kelemahan tim mereka, tapi karena tim lawan jauh lebih kuat dan berpengalaman dibanding tim mereka yang baru dibentuk beberapa bulan yang lalu karena cetusan Lay. Mereka beruntung lolos 8 besar namun mengesampingkan pencapaian itu, itu adalah kekalahan pertama mereka. Dan sebagai kapten tim, Lay mendapat beban yang lebih berat dibanding anggota lain.

Suuji menonton pertandingan itu. Ia tahu Lay dan teman-temannya sudah berjuang keras. Untuk ukuran tim yang seluruhnya berisi kelas 1 itu, itu sudah menjadi pencapaian besar. Namun kekalahan tetap lah kekalahan.

“Ayo makan es krim,” cetus Suuji menarik baju Lay tiba-tiba.

Laki-laki itu mengernyit namun belum sempat mengeluarkan suara, tangannya sudah ditarik paksa Suuji mampir ke kedai es krim.

Lay tidak suka pedas. Suuji hapal betul seluk beluk kehidupan teman kecilnya itu membuat pilihannya jatuh pada es krim manis dan dingin.

“Kudengar, cokelat bisa membuat perasaan lebih senang,” ujar Suuji menyodorkan cone es krim ke arah Lay.

Lay tersenyum. Menerimanya dengan suka cita. Gadis itu sedang mencoba menghibur dirinya. Hanya saja, Lay tidak pernah sadar akan hal itu. Dia hanya berpikir sudah menjadi sifat alami Suuji yang suasana hatinya selalu berubah.

Hari itu, Suuji dengan alasan yang tidak dimengertinya, mengajak Lay menghabiskan waktu seharian dengan berjalan-jalan dan mengenang kejadian masa lalu mereka yang mengundang tawa. Bagi suuji, tawa Lay seperti cokelat, selalu membuatnya senang. Mengeyampingkan segala perasaan abnormal yang belakangan ini menari-nari di perutnya. Semakin lama, perasaan itu berkembang makin pesat. Dan seiring waktu, Suuji ingin Lay tidak menganggapnya hanya sebagai teman kecil. Ia hanya ingin Lay menatapnya sebagai seorang gadis biasa.

<>

Yoon Suuji adalah teman masa kecil Lay. Gadis polos dan periang yang selalu mengikuti Lay kemana-mana. Dimana ada Lay, disitu ada Suuji dan dimana Suuji berada maka Lay juga disitu. Seperti itu lah hubungan mereka. Dan bagi Lay, ia sangat menyayangi gadis itu. Seperti seorang kakak kepada adiknya. Sekalipun, selama 17 tahun hidupnya, Lay tidak pernah menatap Suuji sebagai seorang gadis. Seolah teman kecil adalah julukan yang amat pas bagi dirinya terhadap Suuji.

Yah, setidaknya itu yang dia lihat selama ini. Hingga waktu mulai memberikannya peringatan.

“Dimana Suuji?” Lay bertanya pada Mira-teman kelas Suuji.

“Dia telah pulang bersama Xiumin-sunbae,” Mira menjawab tenang.

Dan hari itu, Lay pulang seorang diri pertama kali diluar absen kelasnya, sejak 2 tahun belakangan ini. Ia tak pernah menyadari jika perasaan marah karena Suuji meninggalkannya adalah bentuk perasaan cemburunya.

Hari itu, Lay marah pada Suuji. Ia sendiri tidak mengerti alasan kemarahannya dan Suuji sendiri yang saat itu bingung harus menyikapi apa hanya mendiami Lay. Gadis itu merasa itu bukan kesalahannya, tidak sepenuhnya. Ia tentu punya alasan untuk membela diri namun Lay yang diliputi rasa cemburu yang tidak disadarinya enggan untuk mendengarkan. Suuji bungkam dengan rasa sesak di dada. Itu pertama kalinya Lay memarahinya.

Dan kedepannya, keduanya saling mendiami. Tak ada yang mau memulai, mereka tenggelam pada ego masing-masing.

Lay tidak pernah sadar jika perasaan ingin memiliki Suuji adalah bentuk rasa yang berbeda dari sekedar rasa sayang yang dianggapnya sebagai rasa sayang seorang kakak pada adiknya. Ia tidak pernah menyadarinya hingga ketidakberadaan gadis itu beberapa hari dalam hidupnya, membuat perasaannya semakin berkecamuk tidak karuan.

Perasaan yang tidak memiliki alasan dasar yang jelas….

Perlahan, walau sebentar, matanya tidak lagi menatap Suuji hanya sekedar teman kecil biasa.

Kehadiran gadis itu jauh lebih berharga dari yang dibayangkannya.

<>

Suuji tak mau memulai. Ia marah. Ia marah dan sakit hati karena bentakan Lay. Padahal, dia hanya meminta Xiumin-sunbae mengantarnya untuk membeli hadiah ulang tahun untuk Lay. Dan Lay tidak pernah tahu hal itu. Tidak sempat tahu, tepatnya.

Dalam hati kecilnya, Suuji merindukan suara lembut Lay, ia merindukan masakannya, rindu akan petikan gitarnya atau alunan pianonya, ia rindu akan ekspresi terbatas laki-laki itu, juga segala kepolosannya dan kepekaannya yang sangat rendah. Suuji tahu perasaan ini tidak boleh namun ia tak dapat menampik jika gadis itu benar-benar merindukan Lay….

Namun egonya mengalahkannya. Ia tak akan angkat bicara sebelum Lay meminta maaf!

<>

13 hari setelah acara diam-diaman itu berlangsung, Lay terluka saat bermain basket membuat penyakit kelainan darah yang dideritanya memperburuk suasana. Darahnya terus mengucur keluar, enggan berhenti. Hemofilia yang diderita Lay membuat darah pemuda itu sukar membeku. Dan siang itu, ia dilarikan sesegera mungkin ke rumah sakit.

Dulu, Suuji kecil menangis saat melihat ia terluka, di bangku sekolah dasar Suuji berteriak panik saat Lay terluka, di bangku sekolah menengah, Suuji akan memarahinya jika ia terluka. Apapun yang terjadi, wajah gadis itu lah yang selalu memenuhi benaknya.

Perlahan, Lay tersadar, Suuji selalu ada dalam setiap kegiatannya. Lay tidak pernah sekalipun menyadari arti dari gadis itu yang selalu berada di saat-saat penting kehidupannya.

Dan kini, tanpa disadarinya, Lay tidak lagi menganggap Suuji teman kecil. Baginya, Suuji adalah gadis yang selalu ada dalam hidupnya. Orang yang amat berarti setelah ibu dan neneknya.

“LAY!!!”

Lay beralih menatap pintu ruang inapnya yang dibanting tanpa perasaan. Dari arah pintu, seorang gadis dengan rambut yang tergerai menyampai punggungnya yang terlihat acak-acakan sempurna membuat senyuman Lay merekah indah.

Suuji menghambur memeluknya, melepaskan kerinduannya. Ia menyerah pada egonya, berita terluka Lay sempurna meruntuhkan tekadnya. Gadis itu ingin berteriak, marah. Namun suaranya tak kunjung keluar, ia malah mulai terisak, menyesali perbuatannya yang mendiamkan Lay. Seharusnya ia dapat mencegah hal ini.

Lay mengusap pelan wajah Suuji, tersenyum manis ke arah gadis itu sembari berkata lirih penuh ketulusan, “Maafkan aku.”

Suuji menggeleng, duduk di sisi ranjang seraya menatap kepala Lay yang terbalut perban dengan khawatir.

“Aku baik-baik saja,” Lay memberitahu, “Ini kesalahanku. Aku melamun tadi hingga tidak sadar bola itu ke arahku dan membuatku tersungkur mencium tanah,” gelaknya menertawai dirinya.

Tawa Lay mereda seiring ia akhirnya menyadari arti perasan abnormal yang kerap kali mengganggunya. “Jangan meninggalkanku lagi,” Lay berucap setengah memohon.

Senyuman suuji terukir manis. “Aku selalu disini.”

Ya, dia selalu berada di sana. Di samping Lay. Kapanpun dan dimanapun. Tanpa pernah Lay sadari

Mereka terdiam. Saling melempar tatapan penuh arti. Tanpa kata, perasaan itu perlahan tersalurkan. Genggaman tangan Lay pada tangan Suuji memperkuat semuanya. Menyampaikan rasa yang tak mampu terucap. Untuk saat ini dan kedepannya, biarkan waktu yang menjawab hubungan mereka.

-THE END-

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s