[Lay Birthday Project] Happy (Sad) Birthday

99

Happy (Sad) Birthday- lissielahm

Lay & OC || Friendship, Angst || G

7 Oktober 2003

Zhang Yixing terlihat cemas, ia tidak bisa melepaskan pandangannya dari jam dinding kelas yang ada di depannya. “Cepatlah hari ini berakhir,” gumamnya sambil menguap.

Pak Wei, guru Bahasa Inggris, melihat Yixing mengantuk dan menegurnya dari depan kelas. “Yixing, cuci mukamu sana!” perintahnya. Dengan senang hati Yixing keluar kelas untuk mencuci mukanya karena ini kesempatan yang baik untuk mengulur-ngulur waktu sampai bel pulang sekolah berbunyi 30 menit lagi.

Yixing kembali ke kelas 5 menit sebelum bel berbunyi dengan harapan pelajaran sudah berakhir dan semua sedang berkemas untuk pulang. Yixing membuka pintu kelas dan tampak sangat terkejut dengan apa yang ia lihat sedang terjadi.

“Happy birthday, Yixing!” teriak seluruh teman sekelasnya dengan kompak. Tampak Pak Wei tersenyum lebar sambil membawa sebuah kue ulang tahun dengan lilin ke hadapan Yixing.

“Ayo Yixing, ucapkan permohonanmu di dalam hati dan tiup lilinnya,” kata Pak Wei semangat.

“Apa maksudnya ‘Happy birthday’? Tidak ada yang menggembirakan dari hari ulang tahunku. Aku tidak mau  merayakannya,” teriaknya. Yixing menghardik Pak Wei dan bergegas mengambil tasnya untuk keluar dari ruangan kelas.

Pak Wei dan semua teman sekelas Yixing terdiam seribu bahasa seakan tidak percaya apa yang barusan terjadi.

“Baru kali ini ada orang yang tidak suka diberikan kejutan ulang tahun,” Pak Wei berkata dengan heran sambil menggelengkan kepala.

“Pak Wei, Yixing meninggalkan buku catatannya di meja. Aku akan ke rumah Yixing nanti sore untuk mengembalikannya. Mungkin aku juga bisa meminta penjelasan soal tadi,” ujar Yoo Kahee, seorang murid pindahan dari Seoul yang menjadi teman sebangku Yixing.

“Baiklah Kahee. Kalau memang  menurut Yixing perbuatan kita tadi menyakiti perasaannya, tolong sampaikan permintaan maaf dari kami semua ya,” pinta Pak Wei cemas.

Yoo Kahee membalas permintaan gurunya dengan mengangguk semangat.

Kahee berada di Changsa karena kedua orang tuanya diundang oleh pemerintah Cina sebagai dokter pengajar bagi para dokter bedah plastik di Rumah Sakit Pemerintah Provinsi Hunan. Meskipun orang tua Kahee adalah ahli bedah plastik ternama, tapi tampaknya Kahee tidak memerlukan keahlian orang tuanya untuk menjadi cantik. Oleh teman-temannya sekelasnya, Kahee sering dipuji bahwa wajahnya mirip Song Hyekyo karena matanya yang besar dan kulitnya yang putih seperti porselen.

Kahee menepati janjinya untuk mengembalikan buku catatan Yixing. Ia mengetuk pintu rumah Yixing dan mendapati ibu Yixing yang membukakan pintu untuknya.

“Selamat sore, Bibi! Aku Yoo Kahee, teman sekelas Yixing di sekolah. Apakah Yixing ada di rumah? Aku mau mengembalikan buku catatannya yang tertinggal,” sapa Kahee dengan sopan.

“Halo Kahee! Senang bertemu dengamu. Kau anak pindahan dari Seoul itu kan? Yixing sering bercerita tentangmu. Sayang sekali, Yixing belum pulang. Kau bisa menitipkan catatannya padaku,” balas Nyonya Zhang ramah.

“Maksud Bibi, Yixing belum pulang sekolah dari tadi?” tanya Kahee terkejut.

“Oh bukan itu maksudku. Hari ini bertepatan 5 tahun meninggalnya nenek Yixing, jadi ia sedang pergi berdoa di kuil,” ibu Yixing menjelaskan.

Kahee makin terkejut dengan jawaban ibu Yixing. Ia mencoba menganalisa informasi dan mengaitkannya dengan reaksi Yixing tadi.

“Bibi, maaf kalau aku lancang; tapi aku ingin bercerita padamu soal kejadian di sekolah tadi,” Kahee membuka pembicaraan.

Kahee mulai menjelaskan apa yang terjadi ketika mereka ingin merayakan ulang tahun Yixing; bagaimana ia menolak merayakan ulang tahunnya dan mengatakan tidak ada hal yang menggembirakan di hari ulang tahunnya.

Ibu Yixing menarik napas panjang, ia tampak sedih dan khawatir mendengar cerita Kahee, lalu ia mulai menjelaskan alasan mengapa Yixing bersikap seperti itu. “Kahee, nenek Yixing meninggal tepat di hari ulang tahun Yixing yang ketujuh. Itulah mengapa ia tidak mau merayakan ulang tahunnya lagi,” ujar ibu Yixing dengan suara parau menahan tangis.

“Nenek Yixing sebenarnya sudah lama menderita sakit keras dan nenek tahu umurnya tidak akan lama lagi. Bahkan sehari sebelum kepergiannya, nenek sempat membuatkan  Sao Bao untuk merayakan ulang tahun Yixing. Nenek tidak mau Yixing sampai tidak merayakan ulang tahunnya. Menurut nenek, hidupnya memang akan segera berakhir, tapi tidak berarti kehidupan orang-orang yang ditinggalkannya harus berakhir juga,” ibu Yixing melanjutkan penjelasannya.

“Bibi, apa itu Sao Bao?” tanya Kahee penasaran.

“Kahee, Sao Bao itu seperti bakpao tapi warna dan bentuknya dibuat seperti buah persik. Biasanya Sao Bao digunakan sebagai kue ulang tahun untuk orang Cina karena melambangkan panjang umur,”ujar  Ibu Yixing  sambil menjukkan sebuah foto lama kepada Kahee. Di foto tersebut ada Yixing yang masih balita sedang tersenyum gembira di hadapan setumpuk Sao Bao di hari ulang tahunnya.

“Bibi, apakah aku boleh membuatkan Sao Bao untuk Yixing? Ini sebagai permintaan maafku pada Yixing,” Kahee memohon dengan tulus.

Ibu Yixing tersenyum melihat ketulusan Kahee. “Terima kasih sekali Kahee, kau sudah mau memperhatikan Yixing. Aku akan mengambilkan catatan resep Sao Bao milik nenek. Namun, perlu kau ketahui sebelumnya bahwa sejak nenek meninggal; Yixing tidak pernah mau makan Sao Bao buatan orang lain. Baginya tidak ada rasa Sao Bao yang bisa mengalahkan buatan nenek,” kata ibu Yixing.

“Tidak masalah Bibi. Aku akan berusaha keras untuk mempelajari resep nenek. Semoga aku berhasil menggerakkan hati Yixing,” balas Kahee penuh keyakinan.

Yoo Kahee belajar dengan keras untuk membuat Sao Bao agar bisa sesuai dengan resep nenek Yixing. Ia merasa bahwa hanya dengan Sao Bao, maka Yixing bisa tersadar bahwa hidupnya tidak harus berakhir seiring dengan kepergian neneknya. Nenek Yixing sudah berbahagia, Yixing juga harus berbahagia dan mensyukuri bahwa Tuhan masih memberikan umur baru di setiap hari ulang tahunnya.

14 Oktober 2003

Sejak minggu lalu, Yixing tidak masuk sekolah. Ibu Yixing mengabari pihak sekolah bahwa Yixing sedang sakit dan perlu beristirahat. Kahee yang mengetahui cerita sebenarnya di balik penolakan Yixing merayakan ulang tahun, merasa sangat khawatir dan ia ingin mengunjungi Yixing di rumah dan membawakan Sao Bao hasil buatannya. Selain itu, ada hal penting yang ingin disampaikan Kahee pada Yixing.

Sepulang sekolah, Kahee datang ke rumah Yixing. Kali ini, Yixing yang membukakan pintu.

“Yixing, benarkah kau sakit?” tanya Kahee bingung.

Yixing tertawa melihat Kahee kebingungan, kekesalan minggu lalu tampak sudah tidak ada lagi di wajahnya.

“Kahee, sebenarnya aku tidak sakit. Aku pergi ke rumah peninggalan nenekku dan menenangkan diri di sana. Aku tahu reaksiku sangat berlebihan minggu lalu dan aku benar-benar minta maaf pada kalian semua,” Yixing menjelaskan dengan nada tidak enak hati.

Sebulan setelah nenekku meninggal, orang tuaku pindah rumah karena mereka berpikir kalau aku tetap tinggal di rumah nenek; aku akan terus merasa sedih. Sebenarnya justru itu yang membuatku bertambah sedih karena kepindahan kami sangat mendadak dan aku belum sempat mengucapkan selamat tinggal kepada semua kenanganku bersama dengan nenek di sana. Jadi, aku pikir inilah saatnya aku berdamai dengan masa laluku. Aku menghadapi kenyataanku sendiri bahwa nenekku sudah berbahagia di sana dan aku harus melanjutkan hidupku,” Yixing terdengar sangat dewasa dan bijak ketika mengatakan ini.

“Jadi, kau siap untuk merayakan ulang tahunmu lagi?” ujar Kahee sambil mengeluarkan sebuah kotak biru dari tasnya.

“Kado untukku? Kau tidak perlu repot-repot Kahee. Aku yang seharusnya memberikan kado permintaan maaf untukmu,” balas Yixing.

“Bukalah dan kami semua akan memaafkanmu,” balas Kahee sambil menyodorkan kotak biru itu lagi ke hadapan Yixing.

Yixing membuka kotak biru itu dan melihat ada 8 buah Sao Bao di dalamnya. Ia tampak terkejut, “Sao Bao? Kau tahu dari mana soal Sao Bao?” tanya Yixing.

“Kau tidak perlu tahu, makan saja,” Kahee mengambil 1 buah Sao Bao dan menyumpalnya ke mulut Yixing.

Perlahan Yixing menggigit Sao Bao buatan Kahee dan rasanya sungguh sangat lezat. Sao Bao nya sangat lembut dan isi kacang merahnya juga pas, tidak terlalu manis, sesuai dengan selera Yixing. Ibu Yixing pun tidak bisa membuat Sao Bao yang seenak ini. Hanya ada satu orang lagi yang bisa membuat Sao Bao seperti ini yaitu nenek Yixing.

Sao Bao buatan Kahee telah berhasil mengingatkan Yixing bahwa meskipun nenek telah tiada, masih ada orang-orang lain yang tetap menyayangi dan memperhatikan Yixing. Ia tidak perlu merasa khawatir dan terpuruk dalam kesedihannya.

“Yixing, aku mohon pamit juga ya,” ujar Kahee lirih.

“Baiklah, kau mau mengerjakan tugas ya? Besok pagi aku salin ya di kelas,” goda Yixing.

“Bukan itu Yixing. Kedatanganku ke sini karena  aku sekalian ingin menyampaikan salam perpisahanku. Tiga hari lagi kedua orang tuaku akan mulai mengajar di Rumah Sakit Pemerintah Kota Beijing. Hari ini adalah hari terakhirku di sekolah. Besok pagi kami akan berangkat ke Beijing. Terima kasih ya kau sudah mau menjadi temanku,” Kahee mengakhiri kalimatnya sambil mengusap matanya yang berkaca-kaca.

“Aku beruntung bisa mengenalmu Kahee. Kau pasti akan punya banyak teman di Beijing. Kau jangan menangis lagi ya,” Yixing membantu mengusap air mata Kahee yang sudah menetes ke pipi.

“Yixing, berjanjilah padaku kau akan merayakan ulang tahunmu dengan gembira setiap tahunnya,” pinta Kahee sambil menyodorkan kelingkingnya.

Yixing mengaitkan kelingkingnya juga dengan tulus. “Aku janji Kahee. Asal kau juga tidak lupa selalu mengirimkan Sao Bao untukku ya setiap tahun,” goda Yixing lagi untuk menghilangkan suasana sedih di antara mereka.

Yixing kehabisan kata-kata, ia menatap Kahee lekat-lekat untuk mengabadikan momen ini di dalam kenangannya. Kemudian ia memberanikan diri untuk memberikan Kahee sebuah pelukan persahabatan yang erat.

 

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s