[Lay Birthday Project] Don’t Go

55

Don’t go|Park93|Lay&OC|Romance, sad|PG

Dinginya angin malam menusuk hingga tulang wanita cantik yang saat ini sedang duduk di sebuah kursi roda dengan selimut tebal yang menutupi kaki hingga pingangnya

Usapan lembut dikepalanya, membuat lu xi wanita itu tersenyum bahagia.
“Sebaiknya kita masuk, udara semakin dingin”
ucap seorang pria dibelakngnya dengan penuh kelembutan

“Tidak ge, kumohon sebentar saja aku ingin menikmati angin malam sebelum aku pergi”

Yi xing atau yang di pamggi ge tersebut mendadak berhenti mengelus kepalanya, bibirnya terkatup kemudian beralih menunduk di depan kursi roda istrinya sambil mengenggam kedua tanganya

“Xi cukup, berhentilah bicara sembarangan, kau tidak akan kemana-mana ingat”
Lu xi tersenyum lembut sambil membalas gengaman di keuda tanganya.

“Jangan egois, semua yang hidup pasti akan pergi jika sudah saatnya”

“Cukup! Aku tak ingin membahasnya” Yi xing berdiri kemudian menarik kutsi roda istrinya masuk

“Tidurlah, aku akan memelukmu sampai pagi” Lu xi terseyum mendengar ucapan yi xing, perhatian dan kasih sayang yi xing selama ini adalah semangat dan motivasinya utuk bertahan, hanya suamniya, Zhang Yi Xing.

Lu xi mengkerut masuk ke dalam dekpan hangat suaminya, “Selamat malam. Wo ai ni”. Disertai kecupan di kening dan bibirnya seperti biasa, Yi xing kemudian mulai terlelap, terbang bersama mimpinya.

Lu xi masih membuka matanya, menyusuri garis wajah suaminya, mulai dari kening, Hidung, bibir sampai rahangnya yang tegas. Lu xi selalu bahagia  jika melakukan kegiatan ini, baginya Yi xing teramat sempurna, ia baik hati, penyayang, romantis dan yang terpenting menerimanya apa adanya.

“Selamat malam, aku juga mencintaimu”
…………..

Pagi mulai datang dengan cepat, sinar matahari perlahan mulai memasuki kamar tidur Yi xing yang saat ini masih mengeliat malas di atas tempat tidur, tanpa sengaja tanganya mengelus tempat di sebelahnya yang sudah kosong

Dengan keterkejutan sempurna yi xing mulai membuka matanya, Sambil turun dari ranjang ia bergegas mencari istrinya di seluruh penjuru rumah

“Lu xi kau di mana sayang?”

“Lu Xiao Xi, jangan bermain-main”

Sambil terengah-engah yi xing melihat istrinya yang sedang menata hidangan di atas meja makan sambil sesekali besenandung kecil

Grepp…

Lu xi terentak dengan pelukan tiba-tiba yi xing “Ge apa yang kau lalukan, aku terkejut”

“Justru aku yang harusnya bertanya apa yang kau lakukan?”

“Apa? Aku hanya menyiapkan sarapan”

“Sudah kubilang jangan melakukan apapun, bagunkan aku jika kau membutuhkan sesuatu”

“Aku istrimu ge, itu sudah tugas dan kewajibanku”

“Jangan melakukanya lagi”

“Apa?”

“Meningalkanku seperti barusan, demi tuhan aku akan sangat membencimu jika kau melakukanya lagi”

“Kau selalu egois, semua akan per-”

“Persetan dengan itu, jangn membicarakanya lagi”

Lu xi terseyum sambil mengusap kepala suaminya yang masih nyaman bersandar di atas pahanya

“Jangan melakukan hal berat, kau harus banyak istrirahat untuk kesembuhanmu”

“Ini tidak berat ge, aku hanya tak mau terus menerus bergantung padamu”

“Siapa yang bergantung padaku? Kau tidak sama sekali sayang”

“Baiklah”

“Kau pasti kesuliatan meyiapkan ini semua”

“Tidak, sungguh! Justru jika aku hanya berdiam dan tidak melakukan apapun tubuhku yang lain juga akan mati ge seperti kakiku sekarang, maka sebelum itu terjadi aku ingi melayanimu”

“Sudahlah, lebih baik kita sarapan”

“Tapi ge, hari ini aku ingin pergi melihat danau di belakang”
…….

Lu xi terseyum melihat pemandangan danau di depanya ia kemudian melirik suaminya yi xing yang masih berdiri di sampingnya

“ini indah bukan ge?”

“Kau lebih indah sayang”

“Jangan membual, kau perayu ulung”

“Tidak, itu memang kenyataanya”

“Ge kemarilah, udarnya semakin dingin”

“Kau ingin di peluk?”

“Emm.. ya tapi bisa juga tidak”

Yi xing terkekeh, kemudian ia mengendong istrinya dengan tiba-tiba

“Apa yang kau lakukan?”

“Aku? Aku hanya mengendong istriku”

“Tapi aku tak meyuruhmu melakukanya”

“Bagaimna aku bisa memelukmu jika kau duduk di kursi roda”

“Ya, kau benar”

“Jadi kita akan duduk di pasir dan aku akan memlukmu”

Lu xi menganguk setuju sambil terseyum

“Ini hangat bukan?”

“Ya, terimakasih ge”

“Apapun untukmu sayang”

“Ge, jika aku tak bisa bertahan kuburkan aku di sini”

“Jangan membahasnya sayang”

“Lalu kau akan mengunjungiku setiap hari, dan kau harus membawakanku mawar putih setiap hari”

“Lu xi”

“Jangan menggis jika aku pergi ge, atau aku akan marah padamu”

“..”

“Dulu saat kita pertama kali bertemu, kau adalah pianis terkenal dan tampan bukan seperti sekarang seoarang pemimpin perusahaan”

“Sayang”

“Lalu aku adalah seorang balerina di sekolah, dan kita bertemu untuk kolaborasi tema petterpan dan tingkerbell bukan?”

“..”

“Lalu kita menjadi lebih dekat setiap harinya, kau selau menungguku jika aku terlambat pulang usai latihan”

“…”

“Kau ingat? Tanggal dan bulan yang sama seperti sekarang, kau menyatakan perasaamu padaku seusai sekolah”

“Lu xi”

“Kau bilang kau petrerpan yang mencintai tingekrbell bukan wendy”

“Sayang sudahlah”

“tapi ge.. kau tahu dalam cerita tingkerbell bukan takdirnya petterpan, maka dari itu carilah wendy, wendy yang memang seharusnya untuk petterpan”

“Cukup!”

“Aku mencintaimu ge, sepenuh hatiku melebihi apapun, jika aku bisa aku tak ingin berpisah darimu selamanya, tapi kau sadar tuhan selalu berkata lain, dengan peyakit ini aku tak bisa bersamamu”

“…”

“Kau harus bahagia, kau harus mencari wendy mu, jangan terlalu terlarut dalam kesedihan jika aku pergi. Ingatlah akan suatu hal bahwa aku akan selalu menjagamu dalam diam, menemanumu di kala sepi, mengawasimu dengan sinar bulan dan mendekapmu dikala malam”

Lu xi menghirup oksigen sebanyak banyaknya mengenggam tangan suaminya untuk terakhir kali, lu xi kembali menelusuri wajah suaminya yang kini sedang terpejam, mata itu, bibirnya garis wajahya lu xi akan mengingatnya sebagai salam terakhir

“Ge, sepertinya ini sudah saatnya tingkerbell mengepakan sayapnya untuk pergi, ingat pesanku ge, hiduplah dengan baik aku selalu mencintaimu”

Yi xing membuka matanya, kemudian menghirup okisigen yang terasa sesak di sekitarnya, mencium kening dan bibir istrinya yang sudah mulai terasa dingin untuk terakhir kalinya

Kini pandanganya megarah lurus ke depan, tak ada air mata sesuai apa yang di katakan istrinya.

Biarlah hatinya yang menanggis di dalam, jadi apa yang harus ia lakukam sekarang? Merindu seorang diri? Atau terbang menyusul tingerbell yang sudah pergi?

‘Tapi bukankah petterpan tak punya sayap?’

End

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s