[Lay Birthday Project] Crystallize

36

Crystallize – popeyeee | Zhang Yixing, Jung Soojung | Slight romance, slight fantasy, angst | PG

Saat aku melebur dengan putihnya salju, kembali menjadi pecahan-pecahan kristal kaleidoskop, dapatkah bunga tumbuh dan mekar di atasnya?

Jumpa pertama Zhang Yixing, salah satu Psikiater terbaik Rumah Sakit ternama di Changsha, dengan Jung Soojung, pasien asal Korea Selatan yang memiliki mental disorder, tidak terasa seperti jumpa pertama pada umumnya;

[JUNG SOOJUNG] – Medical Logs
Seoul, Korea Selatan. 23 tahun. Perempuan.
# Schizophrenia – umur 6 tahun, sudah 8 kali menjalani pengobatan medis, belum ada perkembangan.
# Panic Attack – semakin sering muncul, bertahan 10-15 menit.
NOTES: Pernah mencoba bunuh diri.

Catatan terakhir yang sedang Yixing baca membuat matanya melebar tak percaya. Mengingat profesinya yang sudah dia jalankan selama 5 tahun (setelah lulus kuliah, Yixing bekerja selama 2 tahun di Seoul sebagai asisten Psikiater sampai akhirnya diakui sebagai Psikiater terbaik di Changsha selama 3 tahun terakhir), dimana pasien dipicu sampai ke tahap ‘menghilangkan diri sendiri’ bukan kali pertama terjadi, tapi kenyataan itu jelas membuat Yixing terdiam beberapa saat, sebelum pandangannya kembali kepada Soojung; duduk terpaku di sofa, kedua tangannya terlipat rapi di atas paha, postur elegan.

Seperti efek statis, seorang wanita yang menari di tanah bersalju terlihat—

“—Percuma,” Soojung berbicara. Suara itu semakin memicu sesuatu yang kental di dalam pikiran Yixing. Statis. “tidak peduli kau sekalipun, Psikiater terbaik apalah, semuanya akan sia-sia saja.”

—‘Tidak peduli kau Healer terbaik atau bukan, kau tak akan pernah bisa… tak akan pernah bisa menghapusnya’—

Nyut! Kepala Yixing berdenyut kuat sekali. Sudah lama dia tidak merasakannya lagi, pecahan kristal bagaikan kaleidoskop itu. Yixing beranjak berdiri setelah menutup Medical Logs milik Soojung. Dia berjalan mendekati perempuan cantik yang begitu pucat itu, kantong matanya terlihat jelas.

“Katakan, Jung Soojung… saat ini, apa yang sedang kau lihat, dan dengar…?”

Soojung mendongak dan membuka mulutnya, tapi tak ada sepatah katapun yang terucap, seolah menunggu reaksi Yixing sebelum pinggir bibirnya tertarik, menyeringai. “…Kalau seharusnya aku mati.”

—Seorang wanita yang persis seperti Soojung, samar-samar, mengatakan hal yang sama. Bedanya, wanita itu memakai gaun era Medieval, rambutnya berwarna pirang panjang, bola matanya berwarna biru tajam seperti warna es kristal yang terpantul ke langit bersalju—

Pecahan ingatan itu sudah seperti sewajarnya ada, sejak bertahun-tahun lamanya, yang memacu Yixing untuk menjadi seorang Psikiater. Dia sendiri tidak yakin apakah ingatan itu benar-benar miliknya, atau ‘seseorang’ di dalam dirinya. Hanya satu yang bisa dipahami oleh Yixing; kerinduan, yang diselimuti penyesalan amat dalam. Matanya mulai memanas, air mata serasa ingin tumpah saat itu juga;

“Krystal…?” Gumam Yixing, tangannya terjulur untuk meraih tangan Soojung.

Soojung terlonjak kaget, dia langsung beranjak dan menepisnya, tepat saat itu mata mereka saling bertemu. Ketakutan memenuhi kornea matanya.

“Bagaimana kau bisa tahu… nama wanita itu…?” tanya Soojung, suaranya gemetar. Keringat dingin mulai mengalir dari dahi dan lehernya. Matanya mulai mengarah ke sisi lain, seperti melihat sesuatu yang tak bisa dilihat Yixing. “…NAMA PENYIHIR TERKUTUK ITU?!”

Soojung mulai berteriak-teriak (“JANGAN MENDEKAT! AKU BUKAN KAU! TUBUH INI MILIKKU!”), mencengkram erat kepala dan rambutnya. Beberapa dokter dan suster yang mendengar jeritan itu lantas berhamburan masuk ke ruangan untuk menahan Soojung. Salah satu menyuntik Soojung, salah satu memborgol tangan dan kakinya. Air mata mengalir dari mata kanan Yixing yang terbelalak.∆

Malam itu, Yixing bermimpi.
Mimpi mengenai seorang wanita yang persis seperti Soojung dan seorang pria yang persis seperti dirinya, berbaring di atas rerumputan, bergandengan tangan.

“…Kupersembahkan sihir terakhir dariku, untukmu, Lay…”

Di atas pulau terkutuk, dimana hanya sang Penyihir dan sang Healer yang masih hidup, keajaiban berupa salju turun dari langit kelabu. Begitu indah, seperti tangisan perpisahan. Perlahan warna hijau berganti menjadi putih;

“Krystal…” Tangan kiri Lay yang bebas mengelus lembut pipi Krystal yang mulai dingin dan pucat. Krystal menangis, tak akan bisa lagi merasakan kehangatan tangan Lay. “jangan tinggalkan aku… aku masih belum…” Lay menarik Krystal ke pelukannya. “Aku datang ke pulau ini untuk menyelamatkanmu, tapi aku…!”

“Ini sudah tugasku, dan aku bangga bisa menyelesaikannya sampai akhir…” kata Krystal parau. “Kau pun sudah berjuang keras…” Tubuh Krystal melebur dengan putihnya salju. “Aku mencintaimu, Lay…”

“…Aku mencintaimu juga, Krystal…”

Ketika Krystal menjadi pecahan kristal kaleidoskop, di atas tanah bersalju yang membuktikan bahwa Krystal pernah ada itu; keturunan Penyihir terakhir yang rela menyandang segala kemalangan, dosa dan kutukan penduduk desa di atas pulaunya; Yixing berharap agar Krystal kembali hidup. Agak bisa bertemu sekali lagi, terlahir kembali, tak peduli seberapa lamapun… Dan saat roda takdir kembali berputar, dia tak akan lagi melepas sang Penyihir Agung dari pelukannya.

Terapi ke terapi, obat ke obat, bulan ke bulan, musim ke musim. Musim dingin yang mengingatkan Yixing akan sosok Penyihir bermata biru. Krystal sudah cukup menunjukkan peningkatan dalam mengatasi Panic Attack-nya, tapi masih belum cukup menyembuhkannya dari kenyataan bahwa, meskipun terlahir kembali, Soojung masih dihantui oleh ‘kutukan’ berupa sosok ‘Krystal’ yang mencoba untuk mengambil alih dirinya, seperti ingin menjatuhkan malapetaka ke dunia ini sekali lagi;

Soojung sudah selesai terapi hari itu, dan dia ingin berjalan-jalan melihat salju turun di taman Rumah Sakit. Tidak jauh dari Yixing, sebuah bunga tumbuh dan mekar di atas tanah bersalju. Dia memetiknya, memberikannya pada Soojung. “Bunga yang mekar hanya pada saat musim dingin, pada saat salju turun… bunga ini untukmu, Soojung.”

“Ah, terima kasih…” Soojung tersenyum lembut, menerimanya dengan senang hati. “Yixing…”

Yixing tertegun.
Benar juga. Saat ini, dia adalah Zhang Yixing, dan wanita yang berhadapan dengannya, adalah Jung Soojung. Kali ini, Yixing tidak mau dikalahkan sang waktu. Setiap detik yang dihabiskan dengan Soojung sangat berharga baginya. Ya, asalkan Yixing bisa melihat Soojung tersenyum lagi seperti saat ini, dia rela mengorbankan segalanya.

[END]

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s