[Lay Birthday Project] Countdown

75

Countdown – Noranitas

EXO’s Lay & OC’s Ann || Romance, Slice of Life || G

Lay sesungguhnya tidak pernah menyangka bahwa setiap ketukan di pukul tujuh pagi di tanggal tujuh oktober –ulang tahunnya- akan menuntun dirinya perlahan menuju sebuah episode baru. Menuju kisah yang di rajut sedemikian rupa oleh gadis yang berselisih umur sebanyak dua puluh empat bulan dari usia Lay. Sepuluh tahun hingga riddle itu akhirnya terpecahkan. Butuh seratus dua puluh bulan entah berapa hari –jujur saja, pemuda Changsha itu malas menghitung seratus dua puluh di kali dengan tiga puluh untuk mendapatkan total ribuan hari agar cerita ‘mereka’ berdua menemui akhir bahagia- untuk menyadari kisah ‘mereka’, dan semua itu berawal dari sebuah pagi. Pagi dimana Lay berulang tahun yang ke lima belas.

Lay tentu malas untuk beranjak dari spring bed empuknya pagi itu. Terlebih lagi di pagi hari ulang tahunnya. Wajar bukan jika sang birthday boy bangun terlambat tanpa harus menerima ocehan sang ibu yang melebihi panjangnya pidato kepala sekolah di awal tahun ajaran baru?

Ya, seharusnya memang seperti itu.

Akan tetapi bel rumah yang terus berdering menghancurkan segala fantasi bangun-agak-siang milik Lay. Hancur lebur. Ibu yang sibuk di dapur –menyiapkan sup rumput laut dan hidangan ulang tahun yang lain- juga ayah yang berkutat dengan koran pagi ditemani segelas kopi Vietnam tak mungkin sudi untuk meninggalkan bacaan rutinnya hanya untuk membukakan pintu dan menyapa tamu dibalik lembar kayu ek tersebut. Jadilah Lay –yang dengan ogah-ogahan- membukakan pintu rumah yang sudah mengeluarkan suara bel parau.

“Oh maaf jika membangunkan pagi hari liburmu. Ini donat untukmu.” ucap sang tamu –yang rupanya seorang perempuan- sejenak setelah melihat wajah Lay yang muncul dari balik pintu. Sekaligus menyodorkan piring yang berisikan tumpukan donat coklat dengan taburan gula halus di atasnya.

Lay terheran, namun perut lapar mengkomandoi tangannya agar menerima piring tersebut. Remaja Changsha tersebut hendak mengucap terima kasih, namun gadis itu dengan cepat memotong, “Ku dengar dari ibumu bahwa kau berulang tahun hari ini, bukan? Anggap saja donat itu adalah kado dari ku.” dengan cepat gadis itu menepuk bahu Lay dua tiga kali “Selamat ulang tahun ya….”

Remaja lima belas tahun tersebut hanya bisa menggeleng penuh heran atas kado yang ia terima pagi itu. Padahal dari sepiring donat itulah, sang gadis mulai merajut hati keduanya secara perlahan. Hal yang baru Lay sadari entah di ulang tahun nya yang kesekian.

***

Ann.

Nama gadis itu adalah Ann. Gadis yang selalu mengetuk pintu rumah Lay di setiap pukul tujuh di hari ulang tahun lelaki tersebut. Gadis yang memberikan kado berupa sepiring donat, sebuket bunga mawar putih segar –beserta duri yang tidak di bersihkan sebelumnya, sekantong permen batangan, bolpoin dalam kemasan suede yang menarik hingga pelembab udara.

Kebanyakan orang mungkin akan kehabisan akal jika melihat setiap kado yang diberikan Ann setiap tahunnya. Begitu pula nasib Lay. Sama bingungnya!

Bagaimana bisa ia mengabiskan sekantong penuh permen batangan tanpa perlu mengunjungi dokter gigi? Mustahil! Giginya pasti akan musnah sebelum permen-permen sialan itu habis dilahap. Lalu, bunga mawar segar yang baru dipetik. Lay harus merelakan jari telunjuknya tertusuk dua duri sekaligus. Pelembap udara yang membuat kamar Lay pengap bahkan bolpoin dengan kemasan suede berwarna  ungu tua itu perlahan membuat mata Lay perih. Motifnya terlalu old-fashioned dan Lay benci akan hal itu.

Tetapi respon negatif dari Lay –sebagai sang penerima kado- hanya di balas oleh Ann dengan sebuah senyuman lebar yang menggantung di paras pucatnya. “Kau pasti akan membutuhkan hal itu semua. Aku hanya menghadiahimu sesuatu yang berguna untukmu, Lay.”

Lagi, Lay menganggap Ann hanya seorang tetangga yang gila dan sinting. Cukup sinting untuk memberi kado-kado tidak masuk akal di setiap ulang tahunnya. Berbanding jauh dengan hadiah kekinian yang ia terima dari teman-teman sekolahnya.

***

Di ulang tahun ke dua puluh, Lay akhirnya bisa menerima kado dari Ann dengan penuh suka cita. Gadis berusia tujuh belas tahun itu memberikan sebuah novel romens best seller kepada sang pemuda Changsha.

Akhirnya perempuan ini berpikir waras juga! Ucap Lay dalam hati.

“Aku sangat menyukai plot dimana kedua tokoh utama novel itu akhirnya bersatu setelah sekian lama hidup bertetangga,” gadis itu kemudian dengan malu-malu kembali berucap, “Aku juga ingin merasakan romansa bak novel itu, Lay. Barang sekali seumur hidupku.”

Kalimat Ann tergantung. Reaksi dari Lay –yang masih terpana akan novel terjemahan tersebut- sungguh tak pernah ia duga sebelumnya. Gadis bersurai hitam legam itu mengira bahwa Lay akan menolak kadonya mentah-mentah, seperti tahun-tahun sebelumnya. Tetapi justru sebaliknya, pria berlesung pipi itu sungguh menyukai pemberian darinya.

Jauh di lubuk hati sang gadis kemudian berbisik, Inikah awal dari jawaban atas semua pertanyaan hatiku? Di saat wajah kelabu berganti penuh suka-cita? Benarkah kau sudah membuka hatimu untukku, Lay?

***

Empat tahun berlalu sejak Lay menerima novel ber genre romens dari Ann. Dan selama empat tahun pula, gadis itu semakin giat untuk memupuk perasaannya pada sang tetangga.

Pagi hari ini, tanggal tujuh oktober, bertepatan dengan ulang tahun Lay yang ke dua puluh empat, pemuda itu menemukan benda super aneh –yang diasumsikannya sebagai kado dari Ann- di depan pintu rumahnya. Sepintal benang merah diikuti dengan secarik kertas ucapan. Ann tidak terlihat di sepanjang mata Lay memindai. Lamat-lamat, sang pemuda Changsha mulai membaca tiap kata yang tertulis dengan pena biru tersebut.

Hey tetanggaku!

Selamat ulang tahun yang ke 24!

Hadiah dariku tahun ini cukup simpel, bukan?

Semoga kau bisa menemukan pemilik hatimu di ujung pintalan benang ini tahun depan.

Ann.

Ann memang  perempuan yang misterius. Namun kado nya tahun ini adalah yang paling misterius bagi Lay. Bagaimana mungkin ia bisa mencerna kemudian mengalih bahasakan keseluruhan isi dari kartu ucapan tersebut? Lay bisa gila dibuatnya.

Tidak cukup dibuat heran dengan kado di tahun-tahun sebelumnya –sweater, flash disk berisi kumpulan film klasik hingga semangkuk sup krim- sang pintalan benang merah menambah daftar panjang kado misterius yang Ann berikan pada Lay.

Apa maunya gadis itu, sih?

Lay termenung di depan pintu rumahnya. Angin musim gugur berhembus menampar lembut wajah si pemuda. Otaknya kemudian bekerja sedikit demi sedikit, hingga “Ah! Lay kau memang lelaki paling bodoh sedunia!” Lay mengumpat pada dirinya sendiri.

Semua kode tersebut akhirnya berhasil di translate kan oleh sang pemuda!

***

Tujuh oktober tahun dua ribu enam belas. Pukul setengah enam pagi. Lay sudah tersenyam senyum sendiri melihat pantulan dirinya yang ada di dalam cermin. Setelan tuksedonya pas badan. Rambut pun sudah ia tata sebagus mungkin. Lay menghentakkan kakinya dua tiga kali di atas lantai, sepatu barunya pun seolah sudah siap untuk ikut bertarung hari ini.

Bertarung untuk menyerang hati sang gadis misterius.

Hari ini Lay berniat untuk bisa mendahului gadis itu! Benar saja. Bukanlah bel pintu rumah sang pemuda Changsha yang berdering pagi ini, melainkan rumah Ann.

“Selamat pagi, Ann.” Lay bersua sejenak setelah rupa gadis berparas pucat itu muncul dari balik pintu. Ann terkejut. Hal ini tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

“Maafkan aku, Ann. Maaf karena terlalu lamban untuk memahami semua kode yang kau berikan selama sepuluh tahun ke belakang.” ucap Lay panjang lebar. Gadis itu tertegun, “Hari ini aku akan menjawab semua pertanyaan hatimu!”

Lay menarik nafas dalam. Kedua iris hazelnya sempurna tertuju pada gadis oriental tersebut. “Berawal dari donat. Kau tahu jajanan favoritku adalah donat. Lalu kau memberikanku sebuket mawar putih, atas niatan untuk menghiburku yang baru saja putus dari kekasihku. Ada lagi permen, pulpen dan sweater. Aku tahu bahwa permen yang kau berikan terlalu over, namun kau tahu bahwa tiga benda tersebut adalah barang-barang yang sangat kuinginkan dari wishlist ku-”

Kalimat sang pemuda terhenti sejenak, “-Pelembap ruangan karna kau tahu tenggorokan ku sedang dalam kondisi yang buruk tahun itu. Kumpulan film klasik untuk menghiburku. Dan terakhir benang ini….” ujung netranya kemudian mendarat pada pintalan benang merah yang sedari tadi Lay genggam. “Ujung benang ini, aku sudah mendapatkan jawabannya, Ann!”

Semilir angin musim gugur berhembus melewati keduanya. Lay mengikatkan ujung benang pada pergelangan tangan, kemudian mengikat ujung yang lain di tangan si gadis. “Maaf aku terlambat untuk mengerti semua wujud perhatianmu. Saking misterius –dan juga sinting- nya kado mu, butuh sepuluh tahun bagiku untuk paham akan perasaanmu, Ann!”

Dengan senyum mengembang, Lay mengulangi isi dari kartu ucapan yang di berikan Ann tahun lalu. “‘Semoga kau bisa menemukan pemilik hatimu di ujung pintalan benang ini tahun depan.'”

“Dan pemilik hatiku ialah kau, Ann.”

Gadis itu menangis terharu. Pelukan erat tidak bisa dihindarkan. Keduanya bertaut, menghapus segala jarak di antara keduanya. Menghangatkan diri yang sebelumnya puas di tiup angin sendu musim gugur.

Terakhir, Ann mendekatkan mulutnya ke telinga sang pujaan hati. Tersenyum kemudian berucap mesra, “Selamat ulang tahun, Lay.”

The end.

One thought on “[Lay Birthday Project] Countdown

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s