[Lay Birthday Project] Christmas Disease

76

Christmas Disease—Endelwise

Lay, EXO members & others ǁ school life, angst ǁ PG-13

Lay memegang pisau bedah dengan gemetar layaknya penderita Parkinson yang sedang tremor. Partner penelitiannya yang lain sedang sibuk mengerjakan tugas masing-masing, acuh terhadap suasana hati Lay yang bergejolak hebat. Kyuhyun menyiapkan preparat, Seolhyun mengecek mikroskop, sementara Taeyeon membuat rancangan laporan penelitian. Tiap anggota kelompok telah mendapat jatah pembagian yang adil, dan Lay tak mungkin mengganggu mereka dengan menambah satu lagi masalah.

Tak ada yang menyeramkan dari sisi manapun benda itu dilihat. Hanya sebuah peranti serupa kuas cat air dengan bagian gagang sangat panjang dan tumpul, sedangkan bagian tajam yang berguna untuk mengiris adalah aluminium kecil yang sekilas tak tampak menakutkan karena bentuknya yang artistik. Objek itu biasa saja, tapi di tangan Lay, ia bisa tampak seperti monster bergigi tajam yang siap menelan siapapun hidup-hidup.

Bahu Lay terangkat sejenak akibat kaget seiring tepukan pada punggungnya yang sebenarnya sangat pelan. “Biar aku saja.” Sudut bibir Sehun terangkat simetris dan hal itu berefek dahsyat untuk penenangan batin Lay.

Sebelum Lay membuka mulut, tangan Sehun yang kokoh telah terlebih dahulu meraih perangkat pembedahan, dengan cekatan membuat irisan sepanjang tubuh katak yang telah disuntik liquid anestesi, menguliti dengan hati-hati hingga semua organ yang perlu diteliti bisa diamati. Katak itu tidak mati—belum, beberapa organnya masih berkedut mengisyaratkan bahwa masih ada kehidupan di sana.

Lay menghembuskan nafas dengan lega. Sehun selalu menjadi malaikat penyelamat pada saat-saat yang tepat.

Lay mungkin tak akan tenang jika ia menyadari bahwa ada sekumpulan orang yang mengamati mereka dengan antusias di pojokan sana. Berbisik dan saling melemparkan ungkapan curiga. Menemukan satu fakta baru tentang keganjilan perlakuan dua insan tadi membuat mereka bergunjing tak suka.

Lay adalah ancaman bagi mereka.

**

“Sudah kuduga, dia pasti gay.” Suara seorang pria menyeruak di antara kerumunan siswa SM High School yang sedang menikmati makan siang di kafetaria. Sementara beberapa yang lain asyik dengan makanannya masing-masing. Mereka terdiri atas tujuh pria dengan pesona luar biasa yang membuat siapapun yang melihat lupa cara mengedipkan mata.

“Kau tahu, tempo hari aku melihat dia pergi ke toilet bersama Sehun. Ah, seperti para gadis saja,” tambah Xiumin menanggapi temannya, Baekhyun, yang pertama kali membuka suara.

Lima di antara mereka mengangguk saling mendukung. Adalah Lay, seorang siswa baru yang menjadi topik utama pembicaraan kelompok populer itu. Lay berada satu kelas dengan mereka dan semenjak kemunculannya pertama kali di depan kelas untuk memperkenalkan diri, siswa itu telah menyedot atensi mereka terlalu banyak.

Kai mencondongkan dirinya, seperti akan mengatakan sesuatu yang tabu pada mereka. “Kelakuannya benar-benar mencurigakan. Aku khawatir dia termasuk agen penyebar sindrom LGBT. Kalian tahu sekarang hal itu sedang menjadi topik hangat, bukan?”

“Melihat cara Sehun menatapnya tadi, kurasa memang telah terjadi sesuatu di antara mereka.” Suho, yang tertua di antara mereka, ikut mendukung praduga terkutuk itu. “Kita benar-benar harus bergerak cepat, jangan sampai virus menjijikkan itu menjangkiti sekolah kita!” lanjutnya dengan berapi-api.

Di antara aktivitas mengunyah tteokbokki yang bersaus kental menggiurkan, D.O bertutur, “Kalian ingat siapa yang membersihkan pecahan kaca ketika sebulan lalu Lay memecahkan tabung reaksi?”

“Dia pria tulen bukan, sih? Seingatku Sehun baik-baik saja sebelum Lay datang.”

“Chanyeol benar,” tukas Xiumin sembari mengelap sudut bibirnya yang belepotan oleh saus mayonais. “Lay telah mengubah Sehun terlalu banyak. Semenjak ia datang ke sini, Sehun sudah tak pernah lagi bersosialisasi dengan teman-teman sekolah. Dia lebih sering, oh tidak, bahkan ia menghabiskan seluruh waktunya hanya untuk mengurusi Lay. Aku khawatir mereka membuat semacam sistem untuk mencuci otak para pemuda dengan paham mereka.”

“Mereka benar-benar memuakkan. Pasangan jeruk makan jeruk itu harus segera ditindak. Kita harus menghentikan mereka!”

**

Sehun akan mengajak Lay sarapan ketika ia melihat kamar pria itu telah rapi, menandakan si empunya telah pergi.

“Ahjussi, dimana Lay?” Sehun berkata dengan nada khawatir pada Park Ahjussi yang sedang menyantap sarapan di taman belakang.

“Bukankah dia ada bersama… mu?” Park Ahjussi menyadari kejanggalan dari ucapannya sendiri. Mereka bertatapan dengan intens, mengantarkan isyarat selaras dengan sang lawan bicara bahwa ada sesuatu yang tidak beres pada Lay.

Baru kali ini Lay berbohong. Tapi, apa tujuannya? Mengapa ia nekat? Di antara perasaannya yang campur aduk, Sehun lekas-lekas menyusun kepingan memori tentang ucapan Lay beberapa hari lalu. Tentang keinginannya bermain bersama teman-teman, tentang para pria yang selalu mengajaknya ini-itu, lalu… Sehun mendesah gusar sebelum mengajak Park Ahjussi menelusuri tempat-tempat dimana ada kemungkinan Lay di sana.

Park Ahjussi yang suka berkisah mendadak diam seribu bahasa ketika ia dan Sehun berada dalam kendaraan yang sama. Pria paruh baya itu merasa bersalah karena mempercayai begitu saja perkataan Lay pagi tadi tanpa bertanya lebih jauh.

Pagi ini Sehun akan mengajak Lay berkeliling kawasan Gangnam. Berjalan-jalan di akhir pekan sungguh menyenangkan. Tapi apa mau dikata, Lay malah pergi entah ke mana.

Ponsel Sehun berdering saat pemiliknya beserta sang supir nyaris putus asa dalam pencarian yang seperti tak berujung. Mereka telah menjelajahi taman kota, kedai minuman kesukaan Lay, hingga toko buku di mana pria itu senang menghabiskan waktu. Sayangnya, perjuangan mereka berakhir sia-sia.

Nama yang tertera di ponsel itu membuat dahi Sehun berlipat tiga. Panggilan dari Chanyeol, salah seorang di antara tujuh pangeran sekolah yang rasanya tak mungkin mau menghubungi siswa biasa macam Oh Sehun.

“Sehun, lekaslah ke lapangan basket sekolah. Lay dalam bahaya.”

**

Extraordinary berarti luar biasa. Tujuh di antara ratusan siswa SM High School sepakat menyebut diri mereka seperti itu sebagai harapan agar mereka selalu tampil menonjol di antara siswa lainnya. Mereka seringkali melakukan aksi bermanfaat untuk masyarakat umum, misalnya melakukan kerja sosial dengan mengecat infrastruktur yang kotor karena grafiti dari tangan-tangan tidak bertanggung jawab, atau bahkan menyediakan Food Truck gratis untuk anak-anak panti asuhan.

Kelompok Extraordinary alias EXO selalu melakukan hal-hal yang membuat orang lain berdecak kagum dan membuat para gadis meleleh—di samping visualisasi mereka yang teramat sempurna. Tapi kali ini, mereka tak bisa berbangga hati. Mereka telah melakukan perbuatan yang, selain memalukan juga sulit untuk dimaafkan.

“Sudah puas membuatnya nyaris meregang nyawa?” Sehun bertanya retoris dengan nada teramat dingin. Aura wajahnya begitu kelam dan mengintimidasi. Berbanding terbalik dengan sikap sehari-harinya yang lembut dan hangat.

Ketujuh member EXO masih setia dengan posisi awal mereka sejak sejam yang lalu. Diam, duduk, menunduk, tanpa berani menatap Sehun apalagi menyerangnya dengan kata-kata atau bogem mentah. Taji mereka lenyap dalam sekejap begitu mengetahui Lay tak sadarkan diri dan harus berakhir di tempat mendebarkan beraroma obat ini.

“Dia sepupuku. Apa salah jika aku berusaha sekuat tenaga untuk menjaganya?”

Hening.

“Dia tak bisa sembarangan melakukan aktivitas. Beberapa tahun lalu ia menjalani operasi amandel dan harus koma selama beberapa hari. Dia tak bisa seenaknya berolahraga atau melakukan aktvitas apapun yang menguras banyak tenaga, atau ia akan celaka.”

Tak ada tanggapan.

Sehun mengusap wajahnya dengan kasar, membuang nafas dengan cara yang sama, lantas berujar, “Sedikit saja goresan atau benturan di tubuhnya bisa berakibat fatal, bahkan kematian. Apa kalian mau dicap sebagai pembunuh berdarah dingin?”

Personel EXO serempak mengangkat wajah dan menggeleng cepat.

“Dia merahasiakan penyakitnya selama ini karena tak ingin membebani orang lain. Niatnya begitu baik, tapi tak kusangka pikiran kalian benar-benar picik. Apa tak ada hal yang bisa kalian bayangkan selain prasangka buruk? Apa hanya kebencian dan praduga yang menguasai benak kalian? Ah, jika kalian begitu membenci Lay, mengapa tidak membunuhnya secara langsung saja? Membunuhnya perlahan-lahan hanya akan memperlama rasa sakitnya dan membuatnya makin menderita.

“Sehun, kami sangat bersalah hingga rasanya mau menggores nadi kami sendiri. Kumohon, maafkan kami. Kita mulai dari awal. Apakah tak ada kesempatan kedua bagi kami? Bukankah semua manusia juga pernah melakukan kesalahan?” D.O yang tidak tahan dengan tekanan batinnya mulai mengajukan penawaran.

“Semudah itukah kalian melupakan kesalahan kalian? Apa karena kalian populer, kaya, dan berkuasa hingga membuat kalian gampang saja melakukan perbuatan semena-mena?”

“Sehun, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa kau kalap seperti ini? Lay hanya tertimpuk bola basket di kepalanya. Bukankah dokter dapat menyembuhkannya dengan cepat?” Kali ini pria berjuluk happy virus yang suka menganggap enteng semua masalah, ikut berbicara.

“Hanya? Dia bisa mati bahkan ‘hanya’ dengan goresan kecil di tubuhnya. Dia berada dalam bahaya kapanpun dan dimanapun. Apa kalian masih bisa mengatakan ‘hanya’ jika mengetahui fakta bahwa dia mengidap penyakit… Christmas Disease?”

END.

Jeongmal gomawoyooo udah baca FF ini sampai habis. Ohya, FF ini terinspirasi dari FAKTA bahwa Lay menderita kelainan darah (darah sukar membeku—hemofilia). Christmas disease sendiri adalah salah satu jenis hemofilia, lebih tepatnya Hemofilia B. Aku pernah menonton video youtube dimana Lay tetap melanjutkan performance meskipun tangannya mengucurkan darah dengan deras. And I’m very touched of what he did. So, keep supporting him! Let’s spread happiness to celebrate his birthday!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s