[Lay Birthday Project] Chateau

73

Chateau – Liana D. S.

EXO Lay x miss A Fei // Fantasy, Romance // Teen and Up

credit: Little Mermaid – H. C. Andersen, Baby Don’t Cry – EXO

.

Istana di dekat tebing kawan lautan, tiap harinya terdengar tangisan dari sana, isak yang diaduk bersama rindu, rasa terima kasih, dan sesal tak berkesudahan.

***

Rumah besar tidak berarti tanpa perapian yang menyala-nyala.

“Bukankah kau menginginkan nyawaku?”

Karena itulah, Yixing mengizinkan seorang wanita bisu, yang ia namai Fei, memasuki kediamannya, istana di dekat tebing kawan lautan. Mata sayu wanita itu menarik Yixing begitu kuat hingga Yixing mengambil risiko untuk mengajaknya ke rumah, semata demi memuaskan rasa ingin tahunya akan ‘bara itu’, yang kata orang-orang berasal dari hati. Meski Fei tak banyak bicara, di luar dugaan, tindak-tanduknya lebih mampu menghangatkan jiwa Yixing dibanding api perapian. Senyumnya, tatapannya, bahkan minuman yang diraciknya, semua terasa seperti cinta dan Yixing mabuk kepayang. Tak pernah ia menyangka bahwa Fei akan membawa malapetaka; pantulan cahaya Bulan pada ujung pisau yang hendak Fei hunjamkan ke jantung Yixing kini tampak lebih mengancam dari amarah roh-roh laut.

“Kau ragu.”

Fei menggigit bibir dalamnya samar. Telapak tangan kirinya bergerak memegangi telapak kanan yang sedang menggenggam pisau, berusaha meredam getar yang enggan berhenti. Yixing cukup lama mengenal Fei untuk bisa melihat lebih jauh ke balik pintu hatinya—dan tak ada apa-apa di sana selain ketakutan. Perasaan itu menenggelamkan Fei, menyesakkannya, membuatnya tak berkutik di hadapan sang calon korban. Niat membunuh memang ada, tetapi tak pernah cukup besar untuk mengalahkan kasih yang lebih dulu bercokol.

Yixing menggenggam telapak yang gemetar itu dan mengarahkannya ke dada, senyum getirnya menyakiti Fei nyaris seketika.

“Kau butuh darah dari sini untuk kembali pada keluargamu, bukan? Penyihir itu akan mengembalikan kehidupan damaimu hanya jika kau menghabisiku, maka lakukanlah.”

Titik-titik air mata meluncur tanpa izin dari pelupuk mata Fei, jatuh ke atas pakaian tidur Yixing, pun tangannya lampai bagai kehilangan daya. Tak sanggup menguasai diri, Fei mengempaskan pisaunya ke lantai sebelum sempat melukai Yixing dan ambruk di atas tubuh si pria. Jemarinya lemah meremas baju Yixing, menyampaikan keluh tanpa suara bersama berupa-rupa emosinya.

Aku mencintaimu.

“Aku tahu.”

Tapi aku ingin kembali ke rumahku, dalam dekapan laut serta buihnya, dikelilingi riang tawa saudari-saudariku, karena aku juga mencintai mereka. Apa aku serakah? Apa aku tidak boleh mendapatkan kau dan mereka? Inikah hukuman untukku?

“Tidak, tentu saja. Manusia pada hakikatnya adalah pengejar kebahagiaan. Manusia berekor ikan seperti dirimu juga termasuk,” canda Yixing sembari menyugar surai hitam pekat Fei yang mengingatkannya pada gelombang-gelombang kecil pesisir. “Dalam diammu, kau sudah terlalu banyak terluka, jadi biarlah kali ini aku berkorban untuk kebahagiaanmu.”

Fei menggeleng kuat-kuat.

“Fei, hei, Fei. Menengadahlah.”

Memenuhi perintah tersebut, Fei merasakan sapuan ibu jari Yixing di pipinya, sangat berhati-hati namun tidak bimbang, seakan Yixing sudah punya jawaban atas masalah pelik ini. Bagaimana satu sentuhan singkat itu mampu menenangkan debur tak beraturan dalam dada Fei merupakan misteri yang belum terpecahkan sejak pertama Fei bertemu Yixing—cintakah, atau semata kebaikan hati yang tersalur sempurna?

“Aku menyukai segala tentang dirimu, tetapi senyum gembiramu saat dulu kutunjukkan lampu hias dari kerang adalah yang paling berharga.”

Ibu jari Yixing berangsur berpindah dari pipi ke bibir bawah Fei. Usapan kecil di sana mendenyutkan jantung Yixing lebih kencang hingga ia harus menghela napas dalam untuk mengendalikan gemuruh itu.

“Tunjukkanlah padaku senyum itu sekali lagi saja, Fei, jadi aku akan beristirahat dalam damai dengan membawa kenangan itu bersamaku.”

Fei masih menolak.

Bagaimana mungkin aku tersenyum bahagia bila aku harus membunuhmu untuk mencapai kebahagiaan lain? Kau inti dalam pusaran kisahku yang baru. Andai kau lenyap, Xing, lalu apa yang tersisa dariku? Yakinkah kau bahwa itu akan membuatku bahagia, atau sebaliknya kau hendak mengutukku dengan kehampaan abadi?

Jangan pergi, Xing. Bahkan jika aku harus menghilang sebagai buih di lautan dan mengenang sakitnya tangismu setelah kepergianku, aku ….

Pembelaan Fei terpotong oleh sentuhan lembab di bibirnya yang terkatup. Yixing tidak membiarkan satu celah pun terbuka supaya Fei hanya bisa menarik napas melalui bibirnya. Merasakan dirinya secara utuh. Mencoba menimbulkan senyum gembira Fei yang tulus biar caranya agak kasar. Menumpulkan sementara indera perasa Fei dan mengguyurnya dengan kasih. Fei terkejut, tetapi tidak menarik diri. Ia akui sebuah kecupan tidaklah cukup—inilah candu, sekali mencicip akan ingin lagi dan lagi. Keduanya memejam, Fei menangis sunyi dan Yixing menghapus tangisnya.

Tatkala ciuman itu diakhiri, Yixing melingkarkan kedua lengan kokohnya di sekeliling Fei.

“Aku pernah mengatakan padamu, sebuah rumah bisa jadi tidak terlihat jika orang memaknainya sebagai tempat untuk pulang. Detik ini, aku ingin tahu, ke mana kau ingin pulang: dalam pelukanku atau dalam lautan?”

Dua-duanya. Aku tidak ingin kehilangan kalian.

Aroma laut memang akrab, tetapi harum tubuh Yixing memberikan rasa aman. Biru laut boleh indah, tetapi Yixing tak kalah memesona. Ada saudari-saudari Fei di bawah permukaan air, tetapi masa depan bersama Yixing tinggal beberapa langkah saja dari jangkauan. Siapa pula yang sanggup memilih apabila dihadapkan dengan dua pilihan yang sama bernilainya?

Yixing mengerti. Kebimbangan itu masih menggema dari benak Fei, sia-sia saja memaksanya untuk memilih salah satu.

“Fei, ikut aku ke tebing.”

***

Sekarang, Yixing berdiri di hadapan Fei, sementara Fei berdiri di ujung tebing.

“Rumahku,” Sebelah lengan Yixing terangkat, menunjukkan seberapa besar istananya, “luar biasa mengagumkan, bukan?”

Fei mengangguk.

“Tapi tanpamu, tempat ini dingin. Penuh tipuan. Semu. Kemudian, kau datang sebagai sesuatu yang nyata dan apa adanya. Bisa kaubayangkan betapa bahagianya aku?”

Fei mengangguk lagi dan buncah dalam dada Yixing seakan meluap.

Senyum gembiranya ketika mengingat pertemuan pertama kami sungguh cantik.

“Tengok lautan di belakangmu,” –dan Fei berbalik—“Betapa menakjubkan, tetapi saudari-saudarimu mengatakan kau meninggalkan istana menakjubkan itu dan menukar hidup damaimu hanya demiku. Benarkah itu?”

Fei tertunduk. Yixing tertawa miris.

“Alangkah menyedihkan. Kita tidak terpisahkan sejak pertama bertemu, karena itu mari kita akhiri ini tanpa harus berpisah.

“Angkat pisaumu, Fei.”

Ini bukan pertanda baik.

“Fei.”

Ragu-ragu, pisau itu terangkat, ujung runcingnya menjauhi Fei. Sudut-sudut bibir Yixing terangkat pula, senang Fei tidak mudah curiga.

“Aku mencintaimu, Fei.”

***

Tapi setelahnya, Yixing meremukkan hati Fei berkeping-keping dengan melemparkan diri langsung ke pisau tajam yang berkilatan itu, membiarkan dirinya terluka, dan dengan beban tubuhnya mendorong Fei serta dirinya hingga terjun dari atas tebing. Tetes-tetes darah mengiringi jatuhnya sepasang kekasih itu ke dalam air, menyelimuti keduanya dengan wangi ‘rumah’—yang anyir. Wangi ‘rumah’ bagi Fei adalah laut dan Yixing. Wangi ‘rumah’ bagi Yixing adalah kayu bakar dan Fei.

Kesadaran Yixing timbul-tenggelam, tetapi dalam keadaan setengah bermimpi, ia berusaha merangkul Fei dan merasa berhasil melakukannya.

Untuk pertama kalinya, Yixing benar-benar merasa ada di rumah, merasa pulang, dan ia membawa kenangan indah itu buat menemaninya selama tidur panjang.

Bunyi ceburan keras yang menelan jeritan Fei disusul warna merah yang menyebar melingkar di air.

***

Istana di dekat tebing kawan lautan itu diliputi aura mistis, kata beberapa orang, sementara beberapa yang lain menganggapnya tempat wisata romantis. Konon, dahulu seorang pangeran kesepian yang tinggal di sana bertemu putri duyung rupawan yang telah menukar suara dan ekornya dengan sepasang kaki untuk hidup di darat. Banyak versi berkembang mengenai apa yang terjadi antara pangeran dan putri selama hidup berdua di istana, tetapi semua versi tamat dengan cara yang sama. Sang pangeran, menghendaki kebahagiaan wanita yang ia cintai, mengorbankan nyawanya untuk mengembalikan kaki sang putri menjadi ekor, kemudian memeluk sang putri agar ketika sang putri berpisah dengan daratan, setidak-tidaknya ia masih berada dalam dekapan sang pangeran, ‘rumah’ keduanya setelah lautan. Hidup damai sang putri berlanjut dengan kembalinya ekor serta suaranya, jadi banyak orang berpikir akhir kisah ini masih bahagia biarpun sang pangeran kehilangan nyawanya.

Kalaupun ada yang meragukan ‘kebahagiaan’ dari akhir cerita ini, mereka mungkin sudah mendengar tangis wanita dari dalam istana, gaung cinta masa lalu yang layu sebelum sepenuhnya dimekarkan.

TAMAT

2 thoughts on “[Lay Birthday Project] Chateau

  1. As always, ane demen sama diksi-diksi Kak Li. Dimana itu membuat ane merasa ciut. Hwhwhwhwhw.
    Meski ane nggak akrab sama cerita-cerita Disney semasa kecil, tapi cerita soal putri duyung itu salah satu cerita yang nggak ane suka😄
    Tapi kok di cerita ini ane jadi demen ya?😄 Ah, mungkin ini karena ane sudah mulai gede dan menyadari kalo “It’s not always a happy-ending”😄
    Anw, congrats Kak for the win!😉

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s