[Lay Birthday Project] Blind

74

(Blind-Virgo)

Lay & OC || Romance, Angst || PG-15

Yian mematung di tempatnya. Tangannya dingin, tubuhnya dingin, bahkan hatinya pun dingin. Sedingin es, sedingin salju. Setidaknya itulah yang ia rasakan saat ini.

Ia menunduk, memandang pantulan wajahnya dari atas sungai. Tiba-tiba rasa sakit itu menjalar ke seluruh tubuhnya. Tubuhnya bergetar, matanya memanas. Perlahan ia merasakan air mata mulai membasahi pipinya.

Sejahat itu kah aku? Seburuk itu kah aku selama ini? Pertanyaan itu terus berkecamuk di kepalanya. Seolah tidak membiarkan sedetik pun ia melupakannya.

Rasa sakit semakin menguasai tubuhnya. Air matanya pun menetes semakin deras. Ia sudah tidak bisa menahannya lagi. Ia ingin segera mengakhiri rasa sakit ini. Secepatnya.

Ia menjulurkan kakinya ke depan. Mencoba merasakan dingin yang semakin menusuk. Dalam hati ia berkata, “Apakah rasa sakit ini akan hilang setelah aku melompat?” . Ia menghembuskan nafasnya perlahan, memejamkan mata, lalu mencoba melompat dari atas pagar pembatas sungai.

Sebelum seseorang menariknya dari belakang. Mencegahnya melakukan bunuh diri. Yian merasakan seseorang memeluknya sekarang. Memeluknya dengan erat, seolah tidak mau melepaskannya.

“Jangan lakukan hal seperti ini lagi! Kau tahu aku tidak bisa hidup tanpa melihatmu. Jadi jangan biarkan dirimu sendiri melakukan hal-hal yang membuatku tidak bisa melihatmu.”

Kalimat itu, suara itu, orang itu. Entah kenapa selalu membuatnya tenang. Sesulit apapun masalah yang sedang dihadapinya, ia selalu melupakannya saat bersama orang ini, bersama Yixing.

Yian makin membenamkan wajahnya pada tubuh Yixing, mencari kehangatan disana. Ia bahkan bisa mendengar detak jantung Yixing yang berdetak dengan cepat. Sama seperti miliknya.

“Sejahat itu kah aku? Seburuk itu kah aku selama ini?” Tanya Yian lirih. Terdengar suaranya sedikit serak. Bahkan nyaris tak terdengar.

Yixing makin mengeratkan pelukannya. Ia merasakan tangan pria itu bergetar. Tapi ia tidak berniat untuk melepaskan pelukannya.

Yian menyerah. Ia melepaskan diri dari pelukan Yixing. Yian menatap mata pria itu dalam-dalam dan berkata, “Katakan saja padaku!”

“Sudahlah! Lupakan hal itu!”

“Bagaimana bisa kau menyuruhku melupakannya? Sementara aku yang menyebabkan semua ini. Aku yang membuat Jia menderita selama ini.” Teriaknya.

Ia tidak peduli ia terlihat seperti orang yang tidak waras sekarang. Nyatanya pun memang seperti itu. Bagaimana bisa ia disebut waras saat ia mengkhianati sahabatnya sendiri?

“Itu bukan salahmu. Aku sudah mengatakannya berulang kali. Dan sebanyak apapun aku berpikir, kau memang tidak bersalah.” Ujar Yixing sambil menatap mata Yian lekat-lekat.

Gadis itu menunduk. Ia meremas-remas ujung bajunya. Merasakan hawa dingin yang makin menusuk.

“Tapi Jia menyukaimu. Andaikan saja saat itu aku tidak berkata bahwa aku menyukaimu, mungkin Jia tidak akan melakukan hal itu.” Ucapnya lirih.

Yixing menghela nafasnya. Ia tidak tahu apa lagi yang harus ia katakan untuk membuat Yian berhenti menyalahkan dirinya sendiri. Ia sudah melukakan segala cara namun selalu gagal. Gadis itu sudah terlanjur hidup dengan rasa bersalah yang amat dalam.

Yixing kembali membawa Yian dalam pelukannya. Mendekapnya erat, sangat erat. Sampai ia merasakan gadis itu mulai terisak lagi dalam pelukannya.

“Apapun itu yang kau lakukan pada Jia. Dia juga pasti tidak akan suka melihatmu seperti ini. Aku tahu dia. Dia gadis yang baik.”

Yixing menghela nafasnya, lalu berkata, “Aku mohon, hiduplah tanpa memikirkan apa yang telah kau lakukan di masa lalu. Sesulit apapun itu, hiduplah dengan bahagia. Aku akan selalu disini untuk menjagamu, mengingatkanmu seandainya kau mulai merasa bersalah lagi. Dan aku mohon, jangan berusaha bunuh diri lagi. Aku takkan bisa bernafas lagi jika kau melakukan itu.”

Yixing merasakan Yian mengangguk dalam pelukkannya. Isakannya pun berhenti.

Ia berjanji dalam hati, ia tidak akan pernah membiarkan Yian hidup seperti itu lagi. Ia akan terus menjaga gadis itu. Karena ia tidak akan bisa melihat gadis itu menderita.

***

Yixing bersiul sambil memantul-mantulkan bola basket di sepanjang koridor. Hatinya sedang berbunga-bunga hari ini. Untuk pertama kalinya setelah hari itu, Yian mengucapkan selamat pagi untuknya. Terdengar sangat klise memang. Tapi ia lega karena akhirnya gadis itu telah kembali. Gadis itu sudah menjadi Yian yang dulu.

Sebelumnya ia yang selalu mengucapkan selamat pagi lebih dulu. Membangunkannya dari mimpi buruk yang selalu menghantuinya, lalu mengatakan bahwa ia bisa melewati harinya tanpa beban.

Tapi hari ini berbeda. Gadis itulah yang mengucapkannya lebih dulu. Ia bahkan tidak percaya dia melompat-lompat di atas kasurnya ketika menerima pesan dari Yian tadi pagi. Dan jangan lupakan juga kenyataan bahwa sekarang ia sedang tersenyum-senyum mengingatnya.

Apakah seperti ini rasanya jatuh cinta?

Pria itu masih bersiul-bersiul sampai senyumnya kembali merekah. Ia berlari ke pinggir balkon. Dari atas ia bisa melihat Yian sedang bercanda dengan temannya di bawah pohon bunga sakura. Gadis itu benar-benar sudah kembali sekarang. Dan Yixing sangat bahagia dengan kenyataan itu.

Yixing terus memandangi gadis itu sambil tersipu-sipu. Dia tersenyum, masih tidak berniat untuk memanggil gadis itu. Mungkin nanti saja setelah teman-temannya pergi. Yixing masih memandangi gadis itu. Rasanya menyenangkan sekali melihat Yian bisa tertawa lepas seperti itu.

Ia melihat teman-teman Yian satu-persatu pergi. “YIAN.” Teriaknya dengan keras dari atas balkon. Sebenarnya ia tidak perlu berusaha seperti itu, karena sebenarnya jarak balkon dan tempat Yian berada tidak jauh. Dekat malah. Ia bahkan bisa mendengar apa yang dibicarakan gadis-gadis itu tadi.

Tidak ada jawaban. Gadis itu masih bergeming di tempatnya. Mungkin dia tidak mendengarnya.

“YIAN.” Panggilnya lagi.

Masih tidak ada respon. Gadis itu masih terdiam mematung di tempatnya. Yixing heran, tidak ada tanda-tanda Yian mendengar suaranya.

Ia langsung berputar arah, berlari ke halaman belakang, tempat Yian berada.

Ia bisa melihat gadis itu dari kejauhan. Gadis itu sedang menerawang entah kemana. Tatapannya kosong, sendu. Ia terlihat sangat menyedihkan. Dan demi apapun di dunia ini, Yixng tidak mau melihat Yian seperti itu lagi.

“Hey!” Panggilnya lirih.

Gadis itu menoleh. Ia langsung tersenyum melihat ada yang datang.

“Sedang apa disini?” Tanya Yixing.

“Sedang ingin menghirup aroma bunga sakura. Rasanya menenangkan sekali. Duduklah disini, temani aku!” Pinta Yian sambil menepuk-nepuk ruang kosong di bangku panjang yang ia duduki.

Yixing menurut. Ia mengambil tempat di samping Yian dan mulai menatap gadis itu lembut.

Jika ditanya apa yang membuatnya menyukai Yian, dia tidak tahu. Yian adalah gadis pendiam, pesimis, dan kadang terlalu perasa. Bukan tipe yang mudah untuk didekati. Tapi dia menemukan sesuatu dari gadis itu. Ia ingin melindungi gadis itu.

“Bisakah kau menjawab pertanyaanku dengan jujur?” Tanya Yixing. Gadis itu mengangguk.

“Apakah kau bahagia?”

Gadis itu terdiam. Matanya langsung berubah sendu. Ia menunduk, tangannya gemetar.

Sebenarnya Yixing tidak mau membicarakan masalah ini jika bukan Yian sendiri yang membahasnya. Tapi sekarang, Yixing benar-benar harus membantu gadis itu keluar dari masalahnya. Atau gadis itu akan menderita seumur hidupnya.

“Yian?”

“Aku tidak bahagia. Aku berusaha melupakannya seperti apa katamu. Tapi tidak bisa. Setiap aku sendiri, aku selalu melihat bayangan Jia. Dan itu membuatku menderita.”

Yian mulai terisak lagi. Air mata mengalir dari pelupuknya.

“Jia menderita selama ini. Dia menyembunyikan penyakit dan perasaannya. Itu pasti sangat menyakitkan.”

Yian berhenti sejenak. Ia menghirup udara sebanyak-banyaknya dan menghembuskannya perlahan. Namun yang keluar adalah bulir-bulir air mata.

“Setiap hari aku selalu mendesaknya untuk mendekatkanku denganmu. Jika saja aku tahu bahwa dia juga menyukaimu. Mungkin aku tidak akan melakukan hal itu. Seharusnya aku menyadarinya dari dulu. Aku memang bodoh. Bodoh….” Ujar Yian sambil memukuli kepalanya sendiri.

Yixing meraih tangan Yian, lalu menggenggamnya erat. Memberinya kekuatan.

“Dia mengalah demi aku. Dia menyembunyikan perasaannya demi aku. Bahkan sampai akhir hayatnya, ia masih menyimpan perasaannya padamu.”

Yixing tahu betul cerita itu. Yian dan Jia adalah sahabat, sangat dekat. Mereka selalu bersama. Dan entah mengapa mereka menyukai pria yang sama pula. Yian-lah yang terlihat tertarik dengan Yixing lebih dulu. Dia menanyakan segala hal tentang Yixing pada Jia, karena Jia dan Yixing sudah berteman sejak SMP. Singkat cerita, akhirnya Yian dan Yixing berpacaran.

Suatu hari, Yian mengetahui bahwa Jia juga menyukai Yixing, jauh sebelum ia mengenal pria itu. Dan sejak saat itu ia mulai menjauhi Jia. Entah apa yang ada dipikirannya saat itu.

Beberapa minggu kemudian, Jia meninggal. Dokter memvonisnya terkena leukimia. Selama ini dia menyembunyikan penyakitnya dari semua orang, bahkan orang tuanya sendiri. Yian sangat terpukul akan hal itu.

Setelah itu Yian terlihat sering murung, sering melamun dan linglung. Dia berkata bahwa ia bisa merasakan apa yang Jia rasakan. Dadanya sesak sampai sulit bernapas setiap ia mengingat Jia. Puncaknya adalah malam itu. Saat ia mencoba melompat dari pagar pembatas sungai. Saat itu ia berpikir, “Apakah dosaku akan terhapus? Apakah Jia akan bahagia disana jika aku begini?”

Yixing membelai rambut Yian. Mengusapnya penuh kelembutan. Ia berkata, “Jia tidak akan suka melihatmu seperti ini. Aku yakin itu. Hiduplah dengan bahagia denganku, demi Jia. Demi semua pengorbanannya selama ini.”

Gadis itu terdiam. Lalu kemudian memeluk Yixing dengan erat.

“Aku akan hidup bahagia. Untuk Jia.”

~~~END~~~

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s