[Lay Birthday Project] Balasan Puisiku

85

Balasan Puisiku – WhitePingu95

Lay & Hyun Yi || Romance, Fluff || G

-BALASAN PUISIKU-

Malamku terusik oleh gelenyar asing yang mengitari rumah hatiku. Sebuah hal yang biasanya kau sebut dengan rasa. Ia datang tanpa permisi memasuki pintu yang kujaga tetap tertutup rapat.

Lay seperti magis. Ia hadir dalam bayangan yang tak pernah sekali pun kuanggap. Selama ini ia bersembunyi dalam bayangan semu. Sosoknya mampu merayu jemariku menari ke atas putihnya secarik kertas, merangkaikan sebait puisi seiring kenangan yang telah lalu terputar kembali.

Kamu

Sosok yang telah menyentuh hatiku

Di meja ketiga, aku duduk bernostalgia. Membuka laptop demi menyelesaikan tugas pungkasan sebagai organisator, karena lusa adalah hari kelulusanku. Di mana semua amanat yang kubawa di atas bahu mulai terlepas satu- satu.

“Sunbae!” pekik si anak China yang hendak menghampiriku itu. “Apa yang terjadi padamu? mukamu tampak berkerut kesal.” Ia mencuri pandang pada layar terpaku milikku. “Ah ini … Mau kubantu?”

Belum genap menyetujui tawarannya, laptopku sudah berada di bawah kendalinya. Mulai membenahi yang salah dan mengganti yang benar menjadi lebih indah. Aku tak mampu berkutik di sampingnya, hanya menatap lembar kerja yang perlahan dihiasi oleh paduan katanya yang luar biasa.

Ia sosok lelaki yang cepat mengerti medan, pikirku. Di saat aku dibekukan oleh sebuah hasil karya, kuasanya sigap bermain di atas rambutku.

“Lay! Apa yang kau lakukan?” tuduhku penuh penekanan, terkejut sekaligus heran.

Pemuda ber- shio kambing itu masih saja berkutat dengan benda kesayanganku sembari mengaku, “Jepit rambutmu berantakan, Sunbae. Hampir terlepas.”

Sial! Hanya karena jepit rambut membuatku sedekat ini dengan Lay?

“Aahh … maaf,” lirihku. Ada jeda beberapa menit sebelum kembali bertanya, “Sudah?”

Kuasa Lay mengusap sebentar rambutku, kemudian kembali ke atas papan kunci. “Sudah,” jawabnya teramat lembut dengan tak melupakan senyum manisnya.

Alasan bagiku untuk tak memejam mataku

Entah sejak kapan pria Zhang ini mampu mencandu otakku. Tak lelah berpikir tentangnya dan bahkan hampir menjadi kebiasaan setiap detik sang waktu. Dari matahari terbit hingga terbit lagi di ufuk Timur, Zhang Yixing selalu menampakkan bayangan wajahnya dalam manik mata, seolah memenuhi segala kotak penyimpanan dalam memori otak.

Sepanjang malam, berulang kali jemariku membuka aplikasi chat. Berkali- kali pula tertuju pada namanya, membaca kembali chat lama kita dari awal. Aku tersenyum, tertawa, lalu menangis kemudian. Karena Lay bercerita bahwa ia mempunyai idaman hati yang lain.

Sungguh malang nasibmu, Yi!

Mimpi- mimpi tak terwujudku

Hidup dalam kesemuan bayang- bayangku

Tanpa permisi, lelaki yang merupakan juniorku itu ikut serta dalam jalan cerita sebuah pertunjukan drama mimpiku. Memainkan peran sebagai kekasihku dengan begitu pandai hingga layak kuberikan pujian. Perlakuannya manis sekali, hingga aku tak ingin membuka mata dan mengakhiri mimpi ini.

Usapannya, genggamannya, terlebih kecupan singkat di kening membuatku mendamba. Tak cukup sebentar saja, aku ingin lebih lama. Namun ketika kubangun, semuanya telah usai begitu saja. Kembali menjadi pribadi baru yang cintanya mungkin tak terbalaskan.

Jatuh cinta sesederhana itu. Hebatnya, hanya butuh sepersekian detik rasa itu mampu mengaduk- aduk semua pikiran dan hatiku.

***

Seperti pertemuan yang memastikan perpisahan, awal pun pasti akan menemui ujung. Sama halnya diriku, kehidupan mahasiswaku telah berakhir, menyambut gembira tambahan gelar yang akan bersanding dengan namaku. Bersiap tenggelam bersama segala kepahitan soal perpisahan.

“Sunbae!” pekikan khas Lay dari kejauhan membuatku tergerak untuk menoleh ke arah datangnya suara. Ia tersenyum dengan terengah sembari berusaha membelah kerumunan manusia yang mengelilingiku, lalu menyesarkan sesuatu. “Hadiah kelulusan yang aku janjikan untukmu.”

Beberapa detik sebuket bunga serta secarik kertas yang terselip di antara mawar- mawar putih telah berpindah kuasa dalam genggamanku. Mencium harumnya sesaat sebelum berucap, “Terima kasih. Aku suka bunganya, Lay. Sangat- sangat indah, tapi … eung … isi kartunya … .”

Mati saja kau, Yi! Apa kau ingin menunjukkan bahwa kau tak bisa membaca Hanja?

“Itu puisi dari China,” sahut Lay seakan menyelamatkanku. Ia mendekat, berbisik di telinga kanan dengan lirih, “Maknanya cinta.”

Berarti … .

-SELESAI-

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s