[Lay Birthday Project] As Usual

67

As Usual – nchuhae

.

EXO’s Lay x RV’s Irene | Oneshot | Romance | G

.

Bagi Lay, kopi adalah sesuatu yang spesial. Karena itu, ketika temannya mulai sibuk meniti karier di perusahaan besar, ia memilih menginvestasikan semua uangnya untuk menyewa sebuah ruko di dekat stasiun, menyulap bangunan tak seberapa luas itu menjadi sebuah kafe yang nyaman, dan tentu saja, dengan kopi sebagai  sajian utama.

Lay menyukai semua orang yang mendorong pintu masuk kafenya untuk memesan kopi, tapi pasangan yang terlihat berbagi kasih merupakan favoritnya. Tidak jarang, Lay memberi mereka kue secara gratis. Layanan konsumen, katanya. Namun, sebanyak apapun Lay menyukai pengunjung yang saling mencintai seperti itu, ada satu orang yang lebih disenanginya. Namanya Irene.

Lay mengetahui nama gadis berambut panjang itu saat pertama kali mereka bertemu. Irene memesan ice Americano kala itu. Dan selayaknya semua minuman yang dipesan untuk dibawa pulang, Lay menanyakan nama sang pembeli untuk kemudian ia tulis di gelas pemesannya. Irene mengunjungi kafe Lay hampir setiap hari. Pesanannya juga hampir selalu sama: segelas caramel latte dan dua buah kue mangkuk dengan krim vanila di atasnya.

Sembari memasang senyum manis, Lay langsung berdiri ketika gadis itu terlihat mendekat. Hari ini, Irene mengenakan sweater rajut berwarna serupa madu, celana jeans hitam, serta sepasang ankle boot cokelat tua yang sukses membuatnya tampak lebih tinggi beberapa senti. Gadis itu menyandang tas kulit bergaya klasik di bahu kirinya. Sambil mengulas senyum tipis, ia menyapa, “Selamat sore.”

Lay terkekeh pelan. Seharusnya dia yang terlebih dulu menyapa pelanggan, bukan sebaliknya. Di situlah salah satu letak perbedaan Irene dengan pelanggan lain. “Selamat sore, Irene,” sahut Lay. “Yang biasa?”

Gadis itu mengangguk. Tanpa menunggu pria di depannya menyebutkan berapa jumlah uang yang harus dibayar, ia langsung menyerahkan beberapa lembar uang won. “Seperti biasa,” ujarnya.

Setelah itu, Irene langsung melenggang menuju meja yang biasa ia tempati. Sembari menunggu pesanannya tiba, gadis itu mengeluarkan sebuah buku sketsa dari dalam tas, kemudian langsung hanyut dengan kegiatannya mengguratkan pensil di atas kertas.

Satu hal lagi yang membedakan Irene dengan pelanggan Lay yang lain adalah perlakuan pria itu terhadap pesanan sang gadis. Jika pada pelanggan lain Lay merasa cukup menghias latte mereka dengan gambar hati atau wajah orang tersenyum, maka untuk pesanan Irene, Lay mengeluarkan semua keahliannya. Kadang ia membentuk rupa kucing, bunga tulip, daun maple, burung hantu, bahkan naga. Namun seringnya, Lay menggunakan gambar kucing, berpikir bahwa hewan itu terlihat sangat mirip dengan Irene.

“Seharusnya kau menulis nomor teleponmu, bukannya malah menggambar kucing.”

Lay menoleh, hanya untuk mendapati Suho, sahabat sekaligus rekan kerjanya di kafe ini, sedang menggeleng dramatis di sampingnya. “Hubungan kalian tidak akan pernah ada kemajuan kalau begini,” kata Suho.

Tanpa mengacuhkan ocehan sahabatnya, Lay menaruh pesanan Irene di atas nampan dan membawanya ke meja gadis itu.

Di hari biasa, ketika Lay sudah meletakkan semua pesanannya di atas meja, Irene akan langsung menutup buku sketsanya kemudian menatap Lay sembari tersenyum manis dan berkata terima kasih. Tapi hari ini bukan hari biasa, maka alih-alih tersenyum dan berterima kasih, Irene malah berkata, “Apa kau membenciku?”

Lay, dengan tampang bingung yang tidak bisa disembunyikan, langsung berujar, “Huh?”

Irene menatap latte yang tersaji di atas mejanya, membuat Lay ikut melakukan hal serupa. Pria itu bertanya-tanya apa yang salah dengan gambar kucing lucu yang ia buat, tapi semuanya tampak baik-baik saja.

“Kau menggambar hati dan senyum untuk pembeli lain, kan? Kenapa untukku kau hanya menggambar binatang dan daun?”

Samar, Lay bisa mendengar Suho menghamburkan tawa puas di balik konter, seolah ingin berkata, “Kubilang juga apa!”

Berusaha tampak tidak terlalu canggung, Lay mencoba tersenyum dan berujar, “Kau ingin kopimu kuganti?”

Irene menggeleng dengan wajah nyaris tanpa ekspresi. “Tidak usah,” jawabnya. Setelah itu, ia kembali menekuri buku sketsanya, mengabaikan Lay yang tiba-tiba ingin mengutuk diri sendiri atas kebodohan yang ia lakukan.

Dalam hati, Lay mulai menyusun rencana. Kalau Irene datang lagi, ia akan mulai memperbaiki kesalahannya dengan menggambar senyum. Kemudian, ia akan memberanikan diri mengajak gadis itu mengobrol lebih banyak. Jika semuanya berjalan lancar, maka tidak lama setelah itu, ia akan mengganti senyum di kopi Irene dengan sebuah gambar hati, sekaligus menyatakan perasaannya. Rencana itu terasa begitu sempurna di benak Lay hingga wajahnya yang sempat murung bisa berangsur cerah.

Lay menunggu selama seminggu untuk melancarkan rencana hebatnya, tapi Irene tidak pernah muncul.

Dua minggu, masih sama.

Tiga minggu, Lay mulai putus asa.

Hingga sebulan kemudian, tepat di hari ulang tahu pria itu, suara Irene kembali terdengar.

“Selamat sore,” sapanya.

Lay mendongak dari mesin kasir ketika mendengar suara itu menggema, mengetuk indra pendengarannya. Pria itu bertanya-tanya apakah keinginannya untuk bertemu dengan Irene sebegitu besar hingga ketika akhirnya gadis itu muncul, Lay merasa Irene tampak jauh lebih cantik.

“Aku bekerja untuk sebuah perusahaan komik di Jepang sekarang,” ujar gadis itu.

Mata Lay membulat, penasaran apakah Irene punya kemampuan membaca pikiran atau apakah di wajahnya terpampang jelas pertanyaan “Ke mana saja kau selama ini?”

“Ini mungkin kunjungan terakhirku.”

Ada banyak hal yang ingin diungkapkan Lay kepada gadis di depannya. Semua bahan obrolan yang sudah ia rancang bermunculan, menyesaki pikirannya. Pada akhirnya, alih-alih bertanya apakah mereka bisa bertemu lagi, pria itu malah berkata, “Hari ini ulang tahunku.”

Irene terkekeh mendengar kalimat itu meluncur begitu saja dari sela bibir pria di depannya. Apalagi karena setelah itu, wajah Lay mendadak berubah seperti orang bingung, seolah menyadari apa yang baru saja ia ucapkan. Tersenyum, Irene berujar, “Selamat ulang tahun, Lay.”

Lay berdeham kemudian menunduk malu sembari mengusap tengkuknya lantaran salah tingkah, membuat Irene harus berusaha keras untuk menahan tawa. “Pesananku masih seperti biasa,” ujar Irene kemudian. Gadis itu menyerahkan sejumlah uang lalu melenggang menuju tempat duduknya yang biasa.

Mengucapkan selamat tinggal kepada Irene sama sekali tidak pernah terlintas di benak Lay. Pria itu selalu berpikir bahwa Irene akan selalu datang ke kafenya, mendahuluinya menyapa, melayangkan senyum tipis nan manis kepadanya, dan memesan segelas latte serta dua buah kue mangkuk. Seperti biasa.

Sore itu, Lay tahu bahwa ia tidak akan puas hanya dengan sesuatu yang seperti biasa. Maka alih-alih menjalankan rencana yang ia susun sejak sebulan terakhir, pria itu memilih melakukan sesuatu yang lain.

Lay bisa mendengar Suho bersiul penuh makna di belakangnya ketika melihat kopi yang dibawa pria itu ke meja Irene, tapi ia tidak acuh. Lay juga bisa melihat bagaimana Irene mendongak dan menatapnya dengan raut terkejut ketika kopi itu tersaji, tapi ia hanya tersenyum seperti biasa, seolah apa yang sedang ia lakukan bukan sebuah perkara besar.

Irene membuka mulut untuk bicara, tapi Lay sudah lebih dulu berjalan kembali ke konter. Gadis itu bisa melihat bagaimana Suho langsung memukul pelan bahu Lay sambil menyeringai nakal, juga bagaimana Lay menunduk salah tingkah karena perbuatan sahabatnya. Irene menatap ke arah Lay lebih lama lagi, tapi jelas sekali bahwa pria itu menghindari beradu pandang dengannya.

Ada sedikit rasa geli yang menghampiri diri gadis itu ketika sekali lagi ia menatap latte yang dibawa Lay. Di atasnya sudah tidak ada gambar kucing seperti yang biasa, tidak pula gambar senyum atau hati seperti yang ia minta. Di krim latte yang masih hangat itu, ada tulisan ‘Date?’ dan Irene yakin betul bahwa Lay tidak sedang menanyakan tanggal kepadanya. Kata itu bermakna lain: Lay mengajaknya berkencan.

Seperti yang biasa ia lakukan, gadis itu meraih buku sketsanya. Tapi karena hari ini bukan hari biasa, maka daripada lagi-lagi menggambar objek favoritnya, gadis itu memilih mengguratkan pensil untuk membentuk sesuatu yang lain. Dan karena hari ini bukan hari biasa, maka setelah menghabiskan kopi dan kue pesanannya, Irene tidak langsung pulang. Ia menghampiri Lay yang berdiri di balik mesin kasir, masih menatapnya dengan canggung. Irene tersenyum lebih lebar dari biasa, menyerahkan buku sketsanya, dan langsung melenggang menuju pintu keluar seusai berkata, “Sampai bertemu lagi, Lay.”

Lay mengerjap demi membantu otaknya memahami apa yang sedang terjadi. Satu kali. Dua kali.

Irene tidak menjawab ajakan kencannya.

Tiga. Empat.

Gadis itu bilang sampai jumpa, bukan selamat tinggal.

Lima. Enam.

Irene memberinya buku sketsa.

Lay membuka buku yang ia pegang. Hati-hati, ia membalik kertas putih yang di atasnya ada sketsa wajah seorang pria yang sedang meracik kopi. Dari dua puluh empat lembar yang ia buka, semua objeknya sama: wajahnya. Perbedaan terletak di halaman ke-25, di mana wajahnya tidak lagi tampak. Yang ada di sana adalah sebaris nomor telepon yang ditulis dengan sangat rapi.

Pria itu serta-merta tersenyum bodoh. Irene menerima ajakan kencannya!

End

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s